My blog

Tentang sepakbola dari seluruh dunia

Subscribe to RSS feed

Dimana rasa malu itu?

Malu. Itulah reaksi saya saat melihat Timnas kita kalah. Melawan tim myanmar, tim yang negaranya dalam kondisi tak stabil, kita harus menelan kekalahan pahit. Pemain2 Myanmar,terlepas dari dukungan suporter tuan rumah, yang usianya lebih muda dari Timnas,mampu mengalahkan Indonesia. Inikah gambaran Tim Indonesia saat ini? Hanya segitukah kemampuan pemain-pemain Indonesia, yang dikontrak sangat besar dalam satu musim kompetisi,bahkan mencapai milyaran, yang tak jua mampu mempersembahkan gelar juara bagi negeri kita tercinta?

Kalau dibandingkan dengan pesepakbola jaman dahulu,wajarlah jika saya malu. Dulu, saat sepakbola Indonesia berjaya, pemain kita bisa dibilang hidupnya sangatlah pas2an. Bahkan saat berlaga di luar negeri pun,mereka harus rela tidur beralas tikar dan hanya makan seadanya. Namun soal prestasi? nyaris lolos ke olimpiade dan menembus semifinal asian games, bahkan juara sea games adalah sekelumit prestasi yang tertoreh. Kenapa dengan fasilitas yang lebih baik, kehidupan yang lebih baik,gaji selangit, sepakbola kita saat ini tak jua mampu berprestasi?

Jawaban saya sederhana yaitu malu. Bisa dibilang rasa itu tak dimiliki oleh pengurus,pelatih maupun pemain saat ini. Malukah mereka saat timnas kita kalah? Pernahkah mereka merasa malu jika membandingkan gaji yang mereka terima tak sebanding dengan kontribusi mereka untuk negara saat berlaga membela negara? Malukah pengurus sepakbola kita saat prestasi tak kunjung diraih? Jawabannya adalah tidak.

Karena itu,jika mau maju,tumbuhkan dulu rasa malu tersebut. Malu jika melakukan tindakan-tindakan tak terpuji, malu digaji mahal namun tak mampu berkontribusi maksimal. Namun pertanyaannya sekali lagi adalah...

Dimana rasa malu itu? Punyakah mereka rasa tersebut??

Jawabannya...

Tanyakan saja pada diri mereka...

My first post

Ini tulisan g yang pertama. Terserah deh mau dibilang tulisan, ulasan, atau apalah, tapi yang jelas ini yang pertama buat gua, karena g juga baru nyoba.

saat sekarang ini, ga laki, perempuan,orang biasa sampe petinggi negara, tentunya yang suka bola, pasti lagi demam-demamnya nonton piala eropa 2008. Ajang prestisius di daratan eropa yang diselenggarakan tiap 4 tahun sekali ini sudah pasti bakal menghasilkan juara baru. baru dalam arti, karena sang juara 4 tahun lalu, yunani, dah ngepak koper alias pulang duluan.

Yang mau g ulas disini bukan sepak terjang tim-tim yang performanya bagus, kayak Belanda, Spanyol, Turki atau bahkan Kroasia, tim favorit g. Tapi yang mau bahas disini adalah sepak terjang Prancis, khususnya setelah ditinggal sang maestro Zinedine Zidane. Apakah bakal melaju terus kayak piala dunia 2006 atau malah melempem kayak pas piala dunia 2002 dan piala eropa 2004? Jawabannya pasti dah tau semua yaitu melempem, kayak kerupuk yang kena angin.

Pertanyaannya adalah kenapa? bagaimana mungkin Prancis, yang diperkuat pemain-pemain kelas satu, gabungan pemain sarat pengalaman dengan pemain-pemain muda penuh talenta, harus terpuruk?
Gua sendiri punya beberapa alasan kenapa Prancis bisa gagal.

Yang pertama tentu aja faktor Zidane. Diakui atau tidak,peran Zidane selama kurang lebih 10 tahun malang melintang di timnas Prancis menimbulkan bahaya tersendiri. Bagaimana tidak? Sederhananya, kalau Zidane main, hampir pasti Prancis bakal menang. Tapi kalau Zidane ga maen? jawabannya hampir bisa dipastikan Prancis bakal maen ga normal, kalau ga mau dibilang hampir pasti kalah. Emang gua ga punya data statistik berapa kali Prancis menang pas ada Zidane, jadi terserah kalo ada pendukung Prancis yang ga terima.

Yang kedua tentu aja faktor harmonisasi. Faktor nonteknis yang sering diabaika, padahal penting banget buat keberlangsungan suatu tim. Hal ini yang ga dimiliki Prancis juga. Gimana ga,kalo pemain satu tim ga saling nyapa, gimana bisa kompak pas maen bareng? belum lagi kalo berita yang gua baca bener kalo benzema diserang secara verbal sama makelele. Coba, apa akibatnya? Liat aja sendiri. Permainan Prancis sama sekali ga jelas, bingung, dan akibatnya saling menyalahkan satu sama lain.

Yang terakhir tentu aja faktor sang pelatih. Soal kapasitas, ga meragukan karena track recordnya emang cukup baik.Namun masalah utama dia, sering banget mengeluarkan ucapan kontroversial dan saking bencinya sama Italia, sampe-sampe nutup mata ke pemain Prancis yang main di Italia.
Mungkin si pelatih mau niru gaya Jose Mourinho, yang emang banyak omong tapi bisa dibuktiin. Tapi dia? maaf aja, bis dibilang kayak tong kosong nyaring bunyinya. Yang lebih ga enak lagi,timnya disingkirin sama Italia,tim yang paling dia benci. Apa ga kayak nimpuk orang pake batu, eh batunya malah kena kepala sendiri. Kan ga enak.

Tulisan ini bukan karena saya benci Prancis, tapi semata untuk mengingatkan bahwa kesombongan tu ga ada gunanya. udah kebukti kan kan gabungan faktor diatas ditambah kesombongan, cuma menghasilkan nestapa. Sekian tulisan g, semoga kapan-kapan gua bisa ngasih ulasan yang laen lagi.

May 2012
M T W T F S S
April 2012June 2012
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31