Dimana rasa malu itu?
Wednesday, November 26, 2008 8:23:33 AM
Malu. Itulah reaksi saya saat melihat Timnas kita kalah. Melawan tim myanmar, tim yang negaranya dalam kondisi tak stabil, kita harus menelan kekalahan pahit. Pemain2 Myanmar,terlepas dari dukungan suporter tuan rumah, yang usianya lebih muda dari Timnas,mampu mengalahkan Indonesia. Inikah gambaran Tim Indonesia saat ini? Hanya segitukah kemampuan pemain-pemain Indonesia, yang dikontrak sangat besar dalam satu musim kompetisi,bahkan mencapai milyaran, yang tak jua mampu mempersembahkan gelar juara bagi negeri kita tercinta?
Kalau dibandingkan dengan pesepakbola jaman dahulu,wajarlah jika saya malu. Dulu, saat sepakbola Indonesia berjaya, pemain kita bisa dibilang hidupnya sangatlah pas2an. Bahkan saat berlaga di luar negeri pun,mereka harus rela tidur beralas tikar dan hanya makan seadanya. Namun soal prestasi? nyaris lolos ke olimpiade dan menembus semifinal asian games, bahkan juara sea games adalah sekelumit prestasi yang tertoreh. Kenapa dengan fasilitas yang lebih baik, kehidupan yang lebih baik,gaji selangit, sepakbola kita saat ini tak jua mampu berprestasi?
Jawaban saya sederhana yaitu malu. Bisa dibilang rasa itu tak dimiliki oleh pengurus,pelatih maupun pemain saat ini. Malukah mereka saat timnas kita kalah? Pernahkah mereka merasa malu jika membandingkan gaji yang mereka terima tak sebanding dengan kontribusi mereka untuk negara saat berlaga membela negara? Malukah pengurus sepakbola kita saat prestasi tak kunjung diraih? Jawabannya adalah tidak.
Karena itu,jika mau maju,tumbuhkan dulu rasa malu tersebut. Malu jika melakukan tindakan-tindakan tak terpuji, malu digaji mahal namun tak mampu berkontribusi maksimal. Namun pertanyaannya sekali lagi adalah...
Dimana rasa malu itu? Punyakah mereka rasa tersebut??
Jawabannya...
Tanyakan saja pada diri mereka...
Kalau dibandingkan dengan pesepakbola jaman dahulu,wajarlah jika saya malu. Dulu, saat sepakbola Indonesia berjaya, pemain kita bisa dibilang hidupnya sangatlah pas2an. Bahkan saat berlaga di luar negeri pun,mereka harus rela tidur beralas tikar dan hanya makan seadanya. Namun soal prestasi? nyaris lolos ke olimpiade dan menembus semifinal asian games, bahkan juara sea games adalah sekelumit prestasi yang tertoreh. Kenapa dengan fasilitas yang lebih baik, kehidupan yang lebih baik,gaji selangit, sepakbola kita saat ini tak jua mampu berprestasi?
Jawaban saya sederhana yaitu malu. Bisa dibilang rasa itu tak dimiliki oleh pengurus,pelatih maupun pemain saat ini. Malukah mereka saat timnas kita kalah? Pernahkah mereka merasa malu jika membandingkan gaji yang mereka terima tak sebanding dengan kontribusi mereka untuk negara saat berlaga membela negara? Malukah pengurus sepakbola kita saat prestasi tak kunjung diraih? Jawabannya adalah tidak.
Karena itu,jika mau maju,tumbuhkan dulu rasa malu tersebut. Malu jika melakukan tindakan-tindakan tak terpuji, malu digaji mahal namun tak mampu berkontribusi maksimal. Namun pertanyaannya sekali lagi adalah...
Dimana rasa malu itu? Punyakah mereka rasa tersebut??
Jawabannya...
Tanyakan saja pada diri mereka...







