Ainul Wafa "Sang Mata Hati"; mendengarkan suara hati...

membaca dan mendengar sebelum berbicara

Subscribe to RSS feed

Nyanyi Sunyi Malam Lailatul Qadar

dalam ketakjuban aku bertafakur
menusuk ke jantung malam
mempesona jiwa melayang
melintasi alam berongga tanpa batas

semakin tenggelam dalam
berjuang merasakan Mu, memaknai kebesaran Mu
Allah Azza wa Jalla
semuanya tertunduk
malu di hadapan Mu
merasa tak suci di hadapan Engkau "Subhanahu wa Ta'ala"

tiada kata terucap
dari bibir yang kadang dusta
berbuih berlumur takabbur
seraya terkunci
nyanyi sunyi

bulan bintang bersaksi
jibril dan semua penghuni langit
pun bersaksi
mengamini setiap do'a
hamba sahaya yang penuh keihklasan
bermunajat mengharapkan ridho Nya
di Malam Lailatul Qadar

Lailatul Qadar malam seribu bulan
hanya ada dalam jiwa
jiwa yang sunyi dalam shalat
jiwa yang sunyi dalam berpuasa
jiwa yang sunyi dalam berzakat
tiada riya' berharap
sunyi dan ikhlas


18 Agustus 2010 (8 Ramadhan 1431 H)

Kasih, Mengertikah Kamu

kasih
lama sekali aku menunggumu
tak pernah lelah
terus menunggumu


mengandaikanmu di sisiku saat ini
tumpahkan rindu yang bergelora
bercerita apa saja
tentang kisah kita

kasih
aku tahu saat ini
kau tak menghendakiku lagi
meski ku tak tahu mengapa

sungguh tak mudah bagiku
menafikanmu, melupakanmu
mungkin aku bodoh
terus berharap cinta darimu
aku tak mengerti, aku tak peduli

jika aku dapat memainkan mimpi
mengubah takdir
menghadirkanmu dalam setiap nafasku
akan kulakukan itu

sulit kusirnakan
bayangmu dalam hidupku
kasih
mengertikah kamu???
[/FONT]

Jalan

kembali aku lintasi jalan ini
jalan saat aku pegang kemudi
ditingkahi candamu yang tak pernah basi
beiby beiby...

kita memang pernah tersesat
telusuri jalan dalam gulita
meski kuyakini ini tak kan mampu
membenamkan cinta yang begitu kuat
dalam hati ini

kembali aku lewati jalan ini
jalan saat kuutarakan janji
habiskan waktu untuk berbagi
tetap kita susun rencana itu
walau kabur dan tanpa arah

tibalah aku di persimpangan
kembali aku ragu
jalan mana yang akan kutempuh
semua buram
meski kutahu
tiada perjalanan tanpa akhir

kini
semua terserah kamu
aku
hanya menunggu...

Sketsa Alam

di kaki langit aku berdiri
luas hamparan samudera
bergelora jiwa mengembara
tak kan terbendung walau terkungkung

inilah mimpiku
mimpi yang tiada bertepi
hanya ada garis cakrawala
semu dan buram
seperti tiada bertepi

tapi...

lihatlah ke dalam sana
terumbu karang merana
dicabik tangan-tangan durjana
pongah tak kenal iba

lihatlah di seberang sana
hutan tak lagi asri
pilu
merintih dicaci maki
kaki dan gigi besi

lihatlah
gunung dan bukit terluka
dirobek jantungnya ditelanjangi
bulat tak ada sisa
mesin mesin murka


tengoklah sebentar
ada yang terlupa
ozon sudah tak perawan lagi
bumi tak nyaman lagi
matahari terus meludahi
manusia tak bugar lagi

di kaki langit aku masih berdiri
samudera tak elok lagi
sampah sumpah serapah
kotor tak berbudi
[/ALIGN]

Kangen

kuhela nafas
dalam…
kuhembuskan lagi
terbayang sosokmu
ikhlas bersahaja

ayah
entah mengapa aku kangen
kangen yang tak bisa kulukiskan
entah berapa jarak waktu
entah berapa jarak tempat
kita dapat bertemu
kembali
tak ada yang bisa menjawab
semua misteri

ayah
saat ini aku menangis
tangis yang selalu kutahan
agar tak terlihat cengeng di depanmu
seperti selalu kau katakan
bahwa
aku laki laki
tak boleh gampang menangis

kini
yang kulihat hanya pusaramu
diam tenang tak ada kata
lagi
aku menangis
sesal
terlalu cepat kau pergi

ayah
aku kangen
doa
selalu untukmu

Taman Pemakaman Umum
Dusun Lemah Dhuwur, Desa Linggapura, 13 Juni 2010[/FONT]


Pasrah

haruskah aku hidupkan lagi
rasa dan asa yang telah mati
mati, merayap ke dinding hati

kurasakan bekas cakarmu
tajam tinggalkan luka
duka kian menganga
lebur dalam deru angkuhmu

baiklah,
aku tak akan lupa
lekat lengket di pikiranku
sudahlah,
itukah yang kau mau
bukan itu, yang aku mau

sudahlah,
memang ini takdirku
tak boleh terus menerus menangis
walau hati perih tersayat
aku akan tegar

mungkin ada saat lain
malaikat- malaikat menjemput di pintu surga
menggelar permadani dan untaian mutiara
menyambut kepasrahan
keikhlasan tanpa pamrih
kelak akan tertuai indahnya

"Dia" hanya menyuruhku untuk menjadi pemaaf
dendam tak boleh terus membara
matikan bara itu
tenanglah
serahkanlah dan
pasrahlah....

Matahari di Bukit Kintamani

Claudia...
kau ulurkan tanganmu
berbalut rambut yang tak rapi
kusut kemerahan bak tembaga

Sore mulai menyusup
bersembunyi di ketiak malam
angin pelan, mengalun buluh perindu
gembala pulang ke kandang

lusinan perempuan berbondong
memanggul kembang di atas kepala
kaki kaki tak bersepatu
riuh riang menyambut senja

Claudia...
esok kita kan kembali
menapaki terasering sawah berpetak-petak
kakimu yang putih mulus
disapu embun rumput pematang
sampai di sela jari lentiknya

matahari enggan ke peraduan
awan berebut membungkusnya
menenggelamkannya hingga tak terlihat lagi

dingin menusuk ke tulang
matahari tenggelam ditelan awan
lalu bersembunyi
di bukit kintamani

Seperti katamu
hari ini adalah awal hari esok
hari esok berganti lusa
hanya kesejatian yang tak kan pernah berganti
seperti kesejatian cintamu

Matahari perlahan tenggelam
di bukit kintamani
Tapi cintamu
tak pernah tenggelam, Claudia...

Pitakmu, Aku Sebel...

apa yang kamu pikirkan
kamu anggap aku apa?
ingat pitak di kepalamu
tiada tumbuh rambut, dikelilingi uban

muak
aku melihat kelakuanmu
jangan bodoh
orang lain mempermainkanmu

aku tak sudi
aku tak rela
kamu campuri urusanku

ingat pitak di kepalamu
yang akan meledak sebentar lagi
ingat umurmu
yang sudah tak muda lagi
sebel....
[/FONT][/FONT]

"Boleh Bicara Apa Saja tapi Mengertilah Apa yang Dibicarakan"

Saat ini, di era demokratisasi ini, semua orang boleh bicara. Hak berbicara ini dijamin oleh Undang Undang Dasar 1945 sebagai sumber perundangan tertinggi dalam ketatanegaraan Republik Indonesia. Namun demikian, kebebasan berbicara ini seyogyanya diimbangi dengan kualitas dan pengetahuan yang memadai agar apa yang dibicarakan dapat dipertanggungjawabkan baik di masyarakat maupun di hadapan Tuhan.