SangPengadil
Sunday, January 11, 2009 6:06:22 PM
Jemari kehidupan menari,dawai-dawai takdir di tabuh
irama kenangan jalin-jemalin, seperti abad-abad kenangan di lautan sejarah di gugahnya.
Lubang-demi lubamg ter-raba seperti mengusap luka saja,
ketika baju lusuh itu di taruh rasanya kita lupa ,bahwa kita adalah pengadil yang ter-aniaya
Kita adalah penggali yang 'lah lupa dengan kedalaman lubang yang kita gali,sehingga untuk pulang pun jauh melampaui malam dan semua kidung.
Kita pengadil yang lupa mengadili diri kita sendiri ,kar'na asik bermain di jeruji usia dan tak pernah sadar kalau ternyata kita tak dapat kembali ke masa silam.
Wahai mata-mata dari jutaan mata yang berderet di tiap jalan
temukanlah satu mata tajammu...
untuk mengadili dirimu sudahkah adil diri kita,
kepada kita,
kepada teman-teman kita dan
Kepada lingkungan kita.
Mungkin jemari kita akan meraba mata kita, lalu hati kita, dan seraya terhenyak ketika tahu bahwa jarak antara mata dan hati begitu dekat.
Jarak mata dan hati begitu nikmat
,begitu cialat....
''Banyak mata yang tak punya hati'',hanya menilai,mem-fonis,menghukum,mengadili tanpa tau ada apa, atau apa yang terjadi di balik kejadian yang itu
''Atau hati yang tak punya mata
'',yang mementingkan isi hatinya ,kepentingan hatinya tanpa mau membuka mata ,apa yang terjadi di balik tindakan kita. Mengapa jarak yang dekat''mata-hati''tak menyatu kan keduanya
Dan jemari-jemari sang-kehidupan tak pernah usai meraba berkelana hingga titik ter-ujung dari pertanyaan terdalam manusia
Dan sampai akhirnya kita lelah ,kalah. Terlempar menyerah
Oh...,terompet malam yang merajai samudra raya dari sungai kecil kehidupan adakah kau pun pengadil bagi riak kecil yang rindu berkelana
Atau api yang melahap batang-batang bambu yang menjepit jiwa dengan beban nafsu yang teramat berat.
Akankah jalanmu ketukan terakhir atas selaksa pintu.
Atau masih ada lagi pagi yang membawa nyanyian setelah ini
Aku tunggu di sini....Padamu
irama kenangan jalin-jemalin, seperti abad-abad kenangan di lautan sejarah di gugahnya.
Lubang-demi lubamg ter-raba seperti mengusap luka saja,
ketika baju lusuh itu di taruh rasanya kita lupa ,bahwa kita adalah pengadil yang ter-aniaya
Kita adalah penggali yang 'lah lupa dengan kedalaman lubang yang kita gali,sehingga untuk pulang pun jauh melampaui malam dan semua kidung.
Kita pengadil yang lupa mengadili diri kita sendiri ,kar'na asik bermain di jeruji usia dan tak pernah sadar kalau ternyata kita tak dapat kembali ke masa silam.
Wahai mata-mata dari jutaan mata yang berderet di tiap jalan
temukanlah satu mata tajammu...
untuk mengadili dirimu sudahkah adil diri kita,
kepada kita,
kepada teman-teman kita dan
Kepada lingkungan kita.
Mungkin jemari kita akan meraba mata kita, lalu hati kita, dan seraya terhenyak ketika tahu bahwa jarak antara mata dan hati begitu dekat.
Jarak mata dan hati begitu nikmat
,begitu cialat....
''Banyak mata yang tak punya hati'',hanya menilai,mem-fonis,menghukum,mengadili tanpa tau ada apa, atau apa yang terjadi di balik kejadian yang itu
''Atau hati yang tak punya mata
'',yang mementingkan isi hatinya ,kepentingan hatinya tanpa mau membuka mata ,apa yang terjadi di balik tindakan kita. Mengapa jarak yang dekat''mata-hati''tak menyatu kan keduanya
Dan jemari-jemari sang-kehidupan tak pernah usai meraba berkelana hingga titik ter-ujung dari pertanyaan terdalam manusia
Dan sampai akhirnya kita lelah ,kalah. Terlempar menyerah
Oh...,terompet malam yang merajai samudra raya dari sungai kecil kehidupan adakah kau pun pengadil bagi riak kecil yang rindu berkelana
Atau api yang melahap batang-batang bambu yang menjepit jiwa dengan beban nafsu yang teramat berat.
Akankah jalanmu ketukan terakhir atas selaksa pintu.
Atau masih ada lagi pagi yang membawa nyanyian setelah ini
Aku tunggu di sini....Padamu






