Sticky post
Saturday, May 14, 2011 4:43:54 PM
Taiwan, Randublatung, TKI, Mandarin
...
Aku bekerja sebagai perawat jompo(caregiver) sejak akhir Januari 2011. Aku menjaga seorang nenek berumur 90 th, punya 3 orang anak perempuan dan 3 orang anak laki-laki. Cucunya 15 orang, aku tidak tau pasti jumlah cicitnya. Masalah yang aku hadapi adalah perbedaan bahasa. Kenapa? Karena aku TKW di Taiwan. Aku mesti bisa 2 bahasa, yaitu bahasa mandarin nasional Taiwan(國語:guo yi)dan bahasa hokkien Taiwan(台語:tai yi). Ada kesamaan bahasa guo yi dengan bahasa Cina daratan, sedang bahasa tai yi hampir mirip dengan bahasa pecinan di Indonesia. Aku bilang hampir mirip karena meskipun sama, tapi ada perbedaan dialeg, seperti bahasa melayu dan bahasa Indonesia gitu lho... Aku belajar keras sekali untuk belajar kedua bahasa Taiwan dan belajar baca tulis huruf mandarin. Kesulitanku dalam belajar adalah dalam pengucapan kata dan nada bicara, untung aja keluarga nenek maklum banget :d:d. Kalau baca aku sedikit bisa, menulis aku menggunakan pinyin/ejaan internasinal jadi lebih mudah ketimbang menggunakan bopomofo(alphabet huruf mandarin). Lho saya ini mau nulis apa kok malah kayak guru bahasa.
Begini, nenek atau dalam bahasa mandarin disebut ama(ama:panggilan kepada nenek kandung dari bapak, dalam silsilah keluarga cina memang agak ribet). Hah udah jangan bahas bahasa dulu.
Jadi ama 90 tahun udah lumpuh separo, hampir semua kegiatan seperti makan, minum, gosok gigi, dll aku yang bantu. Ama udah gak mau ngomong, meskipun masih bisa tapi lebih banyak diam. Bahasa yang ama pakai bahasa tai yi/ hokian. Nah, ada lagi bahasa yang hanya kami berdua yang mudeng deng deng, yaitu bahasa janggut hahahaha... Memang aneh tapi begitu memang. Sampai orang bilang aku aneh, jaga ama bisu. Whatever yang penting kerja digaji.
Semangat!!
Sticky post
Monday, April 18, 2011 2:37:34 AM
indonesia, pasar, Indosuara, Blora
Tulisan ini saya tulis ulang, juga saya kirimkan di Indosuara(semoga dimuat).
Tentang sebuah pasar di pinggiran kota di Indonesia. Sejenak setelah pagi hampir usai di suatu hari.
Dari jauh saja
khalayaknya riuh gaduh. Tampak sangat panas,
sesak. Pintu masuknya
entah dimana. Ibu-
ibu muda dan tua,
tumpah ruah berjejal
merayapi, mencari,
menawar dan menawar
lagi dengan luwes
menghabiskan uang
suaminya; dan atau uang
majikannya.
Dari
beberapa sudut, alunan
live musik dari penjaja
CD-VCD bajakan
membaur di angkasa. Langit-langit pasar jadi
meriah. Tentu sangat Indonesialah. Dangdut yang
katanya koplo berteriak-
teriak heboh menggoda.
Langgam jawa yang
santai tapi entah artinya
kemana, tinggal sedikit orang yang tahu maknanya. Yang laris tetap
saja pop melayu cengeng yang
terisak menebar rindu
jauh di rantau. Sangat sendu, membuatmu bersenandung pilu. Rasa rindu pun jadi komoditas pasar.
Para kuli panggul, buruh-
buruh pasar, menunggu
teduh di sudut warung
nasi "anti basi". Menyesap kopi dingin kemudian
menyembulkan asap
rokok kreteknya ke
udara. Seolah
memerdekan diri dari
beban hidup yang tajam. Berharap jadi juragan
suatu saat nanti, tapi
entah kapan.
Wangi sampah takkan
enyah meski sebagian
nyawa pasar tengah
pulas. Aromanya sangat
hidup, sangat bermutu
untuk singgah semua
najis, ngengat dan
lalat. Bahkan saat aku atau siapapun melewati
gunungan sampah itu,
akan pasti menahan
napas. Setelah terus
meninggi dan busuk, harumnya
menebar ke seluruh penjuru. Nyata bahwa dunia
semakin padat dan
kehabisan sedikit tempat
untuk benda bernama "sampah".
Menjelang tengah malam di bawah redup cahaya lampu-lampu.
Pasar yang akan lebih bingar hingga
waktu subuh tersingkap. Para tengkulak, gerobak-gerobak, buah, bumbu, sayur mayur dan
bangkai-bangkai. Inilah
pasar shift malam, atau
pasar kaget tanpa
kejutan. Remaja dengan
potongan rambut ala
band ternama dan berkalung gelang rantai sangat norak. Dan setumpuk karung penuh beban
dipanggulnya mesra. Bersenandung lagu cinta untuk
menekan kantuk dan
rindu-rindu. Sangat
berharap kekasihnya
menyusul. Lalu bernyanyi menari bersama seperti film-film
India. Keduanya akan sangat bahagia tanpa kompromi. Tapi secuil mimpi pun tak bisa jadi nyata dengan menutup mata.
Pasar yang sejatinya juga akan selalu
kumuh. Disinilah para
jelata berpesta do'a
untuk sebuah harga pada
negara tanpa surga.
Aroma pasar hanya wangi
peluh yang teramat
lusuh dan atau tanpa
keluh. Kehidupan sudah
mengutuk pasar tanpa kehangangatan cocktail dari brandy dan kecanggihan kartu kredit. Hanya segelas kopi dan semangkok indomi, bisa dibayar bahkan saat kau lupa kapan makan dan lupa rasanya.
Dan antara
di sebentuk pasar, manusia
menjalin hidup sampai
suatu nanti. Semoga pasar tak akan habis
dan nyaris kekal. Bahkan
jika semua sudut kota
dan kampung akan
berdiri supermarket-
supermarket yang
benderang dan full AC. Pasar tetap pasar yang
penat penuh peluh. Kemudian keluh susah
menjadi do'a-do'a.
Semoga lapak tak dikenai palak. Semoga tak datang pamong praja. Semoga dagangan laris dan cepat kaya raya. Semoga tidak ada lagi yang jadi tumbal penguasa penguasa. Semoga hujan emas di negeri sendiri, tak selalu melulu di negeri orang.
Semoga sang gemah ripah loh jinawi mau kembali pulang, kembali memayungi tanah air tercinta. Semoga sejahtera.
-Amini Nugroho-
Saturday, July 31, 2010 6:39:46 AM
Meskipun tidak sesuai jadwal, prosesi akad nikah agak telat tp alhamdulillah lancar. Dan tepat jam 9 malam hari sabtu tanggal 30 bulan Juli 2010 saya resmi jd Bu Ari

.
Aku tergolong manusi yg gak bisa diam, nyeletuk dan agak slengekan. Nah sebelum ijab ada ritual ''midodareni'', aku tu pake kebaya sendiri. Nah aku lupa, saat jalan mesti halus, tp alamak, ancurnya....

asesorisku smp nyangkut ke payung tukang photo

Udah yah... Lg rame di rumah. Udah mulai ni seni tayub di rumahku
Tuesday, June 29, 2010 9:23:38 AM
Ketika sesuatu yang biasa terjadi di facebook. Bulan-bulan pertama aku punya akun fb, seperti punya rumah kecil baru. Bebas untuk apa saja di sana. Dari bangun sampai menjelang tidur, atau bahkan terbangun tengah malam menyempatkan waktu menengok rumah kecil itu. Sangat biasa, saat aku membuka beranda dan ada permintaan teman yang entah siapa.
Aku sangat tidak peduli siapapun yang ingin menjadi temanku. Aku hanya mainkan fbku, aku buat status, aku mengomentari status, aku mencari teman-teman lamaku dan mendapat lebih banyak teman baru.
Iya fb, salah satu rumah besar di dunia maya. Dunia yang lebih dari dunia antah berantah, aku bisa menjadi apa saja dan mengerjakan apapun yang aku mau lalu merubah hidupku.
(...)
NB: insya alloh, buku kecilku dalam rencana awal pengerjaan, terimakasih untuk mbak Puput yang bersedia jadi editor buku kecil untuk suamiku.
Thursday, June 24, 2010 7:00:36 PM
Hm, saya lupa waktu terakhir aku nulis, rasanya sudah lama sekali. Tenggelam di rutinitas seorang pengangguran, bangun siang, tidur siang, begadang dan bonus omelan. aku pikir tidak begitu sibuknya. Tapi aku tidak sempat menulis. Oh Alloh, ini parahhh... Ya sangat menganggurnya, sampai tidak bisa mengolah pikiran saya, ide-ide kegoblokanku dalam menulis menguap begitu saja..
Ada rencana mengubah subtitle blog saya ini. Tapi kalau saya ubah sekarang, saya pikir terlalu cepat. Rasanya terlalu berlebihan kalau saya juga merencanakan waktu yang pas untuk merenovasi blog saya. Hanya mengganti subtitle dan oh aduh!! Sabar deh, saya sudah buat konsep yang lebih Amini lagi, benar-benar saya. Saya berusaha menulis dalam bahasa yang seringan mungkin. Tapi, dalam situasi tertentu yang berkenaan dengan hati dan jiwaku ck ck ck ck... Saya jadi lebih lembek dan sok dramawati..
Ya, saya sering bingung membaca tulisan sendiri, di berbagai suasana hati dan waktu. Dalam beberapa tulisan saya, saya menemukan begitu banyak sisi hidup saya. hmm.. Pertama saya sangat berlebihan, kedua saya lebay. Dan ketiga rupanya saya ini kelebihan lebay,

Sudahlah saya hanya menulis, apa-apa yang saya rasakan. Saya menerima masukan buat tulisan saya. Tapi saya tidak mau menerima kritikan.. hehehe.. Finaly saya suka menulis tentang apa saja. Saya sedang belajar menulis untuk menjadi penulis atau pengarang. Semangat!! Semangat!! Buat mamakku, suamiku, adek2ku, tanteku, cacaku.
Thursday, June 10, 2010 4:35:39 PM
Tadi, aku sedang menikmati makan malamku, sambel pecel bekal dari nenekmu dan tahu goreng. Hampir saja kubuang separuh makanku. Sore tadi aku memberatkan perasaanmu, tidak peduli keluhmu. Egoku yang penuh emosi dan kurang lapangnya hatiku sering menyakitimu. Meskipun aku tidak pernah menginginkan kesakitanmu karena aku.
Aku teringat sebuah masa yang sangat menyakitkanku, hampir saja tadi menganggapmu sama saja kejinya. Tapi aku salah besar, menyalahkanmu malah membuatku sangat sadar untuk terus berpikir dan mengolah tuduhan atasmu. Rasa sesal, memaksaku dengan ikhlas meminta maafmu.
Aku tidak bercanda ketika aku bilang bahwa aku berharap mengenalmu lebih awal, sehingga mengerti banyak tentangmu. Sekarangpun aku selalu berdo'a agar bisa bersamamu lebih lama, sampai seumur hidupku nanti. Aku ingin dirimu bahagia denganku dan dengan segala kekuranganku.
Ingatlah dirimu dulu berusaha sangat keras menghapus air mata dan segala kesusahanku. Dirimu bersusah payah mengumpulkan hatiku yang remuk dan hancur, mengaitkan perlahan dan menyatukan dengan hatimu.
Aku selalu meninggikanmu, semua rasa yang kau curahkan adalah penyejukku. Dirimu bukan pecundang. Jiwamu selalu kuat untukku. Bahwa otakmu selalu berusaha memberiku yang terbaik. Hatimu penuh sabar membimbingku. Jika dirimu sempat membaca catatanku, sungguh ini tidak sama dengan menilaimu dan menghargaimu. Aku sangat menyayangimu dan ini bukan pura-pura.
Aku sudah belajar banyak pada hidupku, tapi belum cukup untuk melengkapi hidupku hanya dengan diriku sendiri. Aku ingin menangis kali ini, tapi aku malu untuk membiarkan air mataku mengalir. Bahwa rasa indah yang sulit aku ungkapkan memenuhi hatiku. Kuendapkan saja itu sampai aku menemuimu entah besok.
Wednesday, June 9, 2010 9:40:48 AM
Lalu cinta berlalu menuju jalang penuh ketus
Patri besi meliuk menetas beranda sawah-sawah
Bebunga rantai berdaun tembaga, aroma ngengat madu pori insani
Cinta, aku tak ingin pergi, lalu diam menyudut merajut rindu-rindu
Lengah hari dalam pandang dan buai senja
Aku merindumu, tiap nafas dan tiap kedip mataku
Aku mencintaimu, lebih dari sekedar mengenalmu
Wednesday, May 26, 2010 4:51:03 AM
Begini ya, lama-lama jadi pesantren(pengangguran santai tapi keren). Tiap hari bangun siang dan gak jelas juntrungannya. Gak ada duit sendiri, malu kan mau minta minta orang rumah, tapi karena perlu ya gak apalah.

Aku pengen cepet kerja lagi, punya duit sendiri. Yah shopping, yah walking-walking and everything lah.. Amin amin amin ya Alloh [-0<
Tuesday, May 25, 2010 3:11:17 AM
Akhirnya bisa menulis lagi;
Kemarin Jum'at tanggal 21 Mei 2010, ada tlp bahwa joblistku udah turun dan tinggal apply visa. Alhamdulillah... Aku pasti akan kerja lagi.
Aku pernah jadi TKI dan rasanya pengen lagi. Kecanduan kerja yang jauh dan gaji tinggi. Aku memang gak begitu dengan keluargaku, tak berarti aku tak butuh keluargaku, karena mereka hartaku dan tempatku bernaung. Nyatanya, aku lebih dekat dengan kehidupanku sendiri, semua hal yang aku kerjakan pastinya sangat aku suka. Bukan semata-mata kehidupan yang bebas, tapi lebih ke kemandirian dan diriku sendiri.
Aku sangat dekat kesendirian, aku suka hal-hal yang berkenaan dengan egoku. Tak apa aku terkesan tidak peduli dengan apa-apa di luar kehidupanku. Aku tidak suka terlibat konflik atau masalah. Hidupku adalah kebanggaanku. Aku akan menghadapi semuanya. Aku lebih suka mewaspadai hidupku, menjaga diriku sendiri. Aku tidak ingin disakiti atau menyakiti. Semua orang pernah sakit hati dan bermasalah dengan pikiran, aku pun juga sama.
Aku dan keluargaku yang pernah trauma. Aku pernah merasa gagal menjadi diriku sendiri. Sedikit kesenangan masa remajaku dan keterasingan latar belakang. Aku malu menjadi diriku dan kerinduan pada hangat keluarga yang menguap. Aku juga manusia biasa yang sangat ingin dimanja dan dipuja. Akhirnya masa-masa yang berasa pahit, harus kunikmati juga.
Aku merasa tumbuh dewasa penuh kecacatan, tapi aku tidak pernah merasa menderita. Ada sesuatu yang jumlahnya tak terhingga dalam pemikiranku yang memicu kekuatanku. Bahwa aku adalah kehidupan yang akan terus hidup sampai tak terbatas apapun dan mati.
Aku hanya tidak ingin diperbudak pikiranku. Menjadi diriku yang berkodrat. Aku dan pikiran yang terus berkembang, hati yang menimbang dan kakiku yang menopang. Menjadi pribadi yang menempati ruang dengan baik. Segala sesuatuku yang aku niati dengan baik akan baik, meski jalan yang tertempuh tidak selalu sesuai harapan. Dan semua akan terlewati pada laju waktu. Aku, diriku dan rancangan indah-Nya.
hmmmm
Saturday, May 22, 2010 2:36:28 PM
Kalau aku bisa, aku hanya ingin diam saja dalam menanggung rindu
Rasanya diam itu menyenangkan ketika rasa itu penuh dalam nuraniku
Lalu medengarkan letupan bingar, dan bersegera ingin berlari menatap rona wajahnya
Melafalkan senyumnya dan menikmati binar matanya
Rasa yang terlarut pada jarak siang dan malam
Rasa yang akan membingkai seluruh rasa
Rasa yang menguap saat menyebut namanya
Rasa yang kuat saat memandang bayangnya di sudut-sudut mataku
Rasa ini dalam senandung di ruas-ruas langit
Atau aku yang luruh dalam rasa yang berpijak di hatiku
Aku menikmati kebaikan dan kekurangan rasa ini
Hati ini telah terjaga untuknya
1 2 3 4 5 6 Next »