Tawur Pelajar Vs Wartawan
Wednesday, September 21, 2011 6:47:06 AM
"Marilah kita sadar, bahwa anak- anak didik itu hanya korban dampak dari kebiasaan orang- orang dewasa, yang suka melakukan tindakan anarkis jika melakukan aksi turun jalan, jadi anak- anak itu meniru cara- cara orang dewasa. Sehingga dalam hal ini yang lebih tua/ dewasa dan waras megalahlah".
Eleh eleh.. kok bisa- bisanya, antara pelajar dengan wartawan pada berantem. Anak pelajar seperti SMA6 Jakarta itu, tak ubahnya dengan anak- anak pelajar lain di kota manapun juga. Sama- sama ndablegnya. Jika lalu ada anak didik menjadi beringas itu, yang salah jelas para pendidiknya. Karena apa, biasanya kalau ada anak- anak didik bertingkah tak lazim, pendidiknya tidak tahu. Kalaupun tahu, mereka para pendidik pura- pura tidak tahu.
Disiplin sekolah diterapkan hanya sekedar formalitas yang zakleg. Banyak peserta didik yang sikap perilakunya kelewatan tak ditangani secara serius. Penanganan secara profesional dunia pendidikan. Semisal guru pembimbing yang ada tidak maksimal kinerjanya. Kebanyakan melakukan jalan pintas dengan tindakan menghukum. Pendekatan kemanusiaan secara biopsikososiospiritual yang komprehensif jauh dari harapan. Mengakibatkan anak- anak tumbuh cenderung liar dan bertindak semaunya.
Apalagi pada usia- usia pubertas, dimana anak sedang mencari figur idolanya. Hal ini tidak didapatkan, malah yang ditemukan kebanyakan adalah peristiwa- peristiwa atau kejadian- kejadian yang keras dan lalu diserapnya begitu saja. Semisal budaya demonstrasi atau unjuk rasa yang dilakukan oleh orang dewasa yang sering terjadi, secara langsung ataupun tak langsung merasuk disanubari anak- anak didik.
Kalau diamati benar, disetiap ada demo atau aksi turun jalan, melalui siaran/ tayangan Tv bisa tampak yang banyak adalah anak- anak remaja usia sekolah. Jadi dengan kata lain, anak- anak pelajar SMA kita tampaknya sudah kenal betul dengan apa yang disebut bentrokan masal atau tawuran masal.
Ketika ada mengetahui seorang temannya terlibat perkelahian, rasa solidaritasnya muncul spontan. Sifat seperti ini seharusnya diantisipasi oleh orang- orang dewasa. Bukan malah beramai- ramai mendatangi tempat sekolahnya dan menerjang Pintu gerbang sekolah.
Kejadian tawuran antara anak SMA6 dengan para wartawan kemaren itu patut disayangkan. Semestinya hal tersebut tidak perlu terjadi. Memang tidak menutup kemungkinan ada fihak ketiga mengail diair keruh. Tapi kalau saja para wartawan tidak merangsek kesarang anak- anak sekolah, bentrokan itu mungkin bisa dicegah.
Marilah kita sadar, bahwa anak- anak didik itu hanya korban dampak dari kebiasaan orang- orang dewasa, yang suka melakukan tindakan anarkis jika melakukan aksi turun jalan, jadi anak- anak itu meniru cara- cara orang dewasa. Sehingga dalam hal ini yang lebih tua/ dewasa dan waras megalahlah. Anak- anak itu perlu ditangani tersendiri oleh yang berwajib, seperti guru, orang tua murid dan penegak hukum beserta jajarannya.




