Sunday, 28. June 2009, 23:32:03
Prolog.
Ini adalah cerpen yg akan mulai saya tulis hari ini, sebab selalu ada ide tapi males nulisnya, atau di tulis tapi belum rampung kemudian males melanjutkannya, jadi walaupun belum rampung, setiap ide akan saya post di blog.
Bismillah.
Awalnya aku tak pernah sedikit pun berfikir untuk menghijabi rambut indahku ini dengan kain panjang yang menjuluri mahkotaku hingga punggung lentikku, yang jika matahari sedang terik-teriknya serasa ribuan jarum kecil menusuk-menusuk kepala. Pun aku tak pernah berkeinginan mengurung elok lekuk tubuhku dengan model baju mirip daster ibu-ibu ketika masa kandungannya masuk hitungan ke 5 bulan. Atau berfikir membaluti manisnya kuku jemari kakiku dengan kaos kaki layaknya lansia yang kena penyakit panas dingin menahun.
Tidak pernah dan tak pernah sedikitpun semua itu terbetik, terlintasi dan ternalarkan oleh alam fikiranku, kecuali sampai saat dia masuk dalam kehidupanku.
Pertama aku melihatnya, batinku berkata "dia pasti orang nyasar di kampus ini". Ia turun dari sebuah "city car" dg pakaian gelap yang terlihat hanya dua telapak tangan dan dua bola matanya. "Aneh...!" itu saja kesanku ketika melihat orang sepertinya berada di lingkungan kampus tekhnologi.
Kali kedua aku melihatnya lebih mengejutkan lagi, ia berdiri depan kelas dan memperkenalkan diri sebagai dosen teknologi fisika yang akan menemani kami sepanjang duduk kami di kampus ini, namun kali ini ia tak mengenakan cadarnya
dan ternyata ia lebih cantik darh yang kubayangkan.
Aku masuk ITB dengan membawa nilai 8.2, nilai yang memang sudah ku targetkan agar aku bisa bergabung kedalam Fakultas Teknik Industri. Ayahku ingin aku menjadi seorang sarjana teknik industri karena ia mempunyai banyak relasi di bidang itu.
Namanya Sofiyah, para mahasiswa biasa memanggilnya "Doktor Sofi", berkeluarga dengan dua putra dan putri, Rif'at dan Sabila. Suaminya seorang insinyur teknik yang bekerja di sebuah perusahan industri. Temen-temen di LDK bilang bahwa Dr. Sofi dan keluarganya bermanhaj "wahabiy". Dulu sebelum ikut-ikutan ngaji bareng temen-temen yang di cap wahabiy, nisbah wahabiy mengesankan sebuah manhaj minor yang gurem

, terkadang ku tanyakan kepada teman-teman LDK tentang hakikatnya namun tak satupun yang memuaskan, tak lebih dari sikap apriori yang diwariskan secara turun temurun.
Sebagai mahasiswi teknik yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ilmiyah, maka aku tak puas dengan sebatas budaya lisan yang menyebar di kalangan "non wahabiy", maka aku harus menelaah langsung. Dan diantara kepenasaranku terhadap wahabiy adalah Dr. Sofi, tidak ada cacat kepribadian pada dirinya. Dia tersenyum dan ramah kepada siapa saja, berbicara dengan siapa saja. Tentu ada yg berbeda darinya, khususnya tentang batasan antara pria dan wanita, Dr. Sofi tak memberikan konsultasi face to face terhadapa mahasiswa, pertanyaan dan konseling mereka hanya disampaikan di kelas atau di masjid. Adapun mahasiswi kapan pun mereka mendapatkan masalah mata kuliah, Dr. Sofi siap memberikan waktunya. Terlepas dari kebijakan tersebut, sepanjang pengabdiannya jarang mahasiswanya kena remedial.