Tuesday, 3. March 2009, 11:19:40
Bismillah,
Alhamdulillah berkat inayah Allah pagi tadi kami keluarga besar PKU & PDU MUI DKI Jakarta melaksanakan acara wisuda dan pengukuhan mahasiswa PKU & PDU di gedung Balai Kota DKI Jakarta.
Turut hadir dalam acara tersebut para pimpinan dan keluarga besar MUI, dosen, Bpk. Efendi Anas (Walkot Jakut) mewakili Gubernur DKI serta Prof. Ali Mustofa Ya'kub (Ketua MUI Pusat) sebagai pemateri yang memberikan orasi ilmiahnya dalam acara tersebut.
Yang menarik adalah orasi ilmiah dari Prof. Ali Mustofa Ya'kub ketika beliau berguyon kepada para wisudawan dan mahasiswa baru bahwa di saat seperti ini mereka masih berani menjadi kader-kader ulama. Betapa tidak demikian, karena saat ini ulama sedang di uji oleh berbagai macam fitnah. Fitnah yang mencoba menggoyang kredibelitas ulama di mata masyarakat.
Yang masih hangat adalah Ijtima' Ulama di Padang berapa bulan yang lalu, yang menghasilkan beberapa fatwa yang diantaranya adalah haramnya rokok dan golput. Pasca fatwa tersebut menurut beliau terlihat jelas usaha-usaha untuk menggrogoti kredibelitas ulama di mata masyarakat. Ada beberapa pihak yang mencoba membuat tandingan dari fatwa tersebut, turut serat dalam usaha tersebut bebera media yang menfasilitasi mereka, bahkan media tersebut tidak sungkan mewawancarai seorang tukang beca untuk memberikan kesan tandingan terhadap fatwa tersbut.
Ini sudah jelas pembunuhan karakter ulama, penggrogotan kridebilitas mereka. Betapa tidak! Kapasitas pihak-pihak tersebut tidak berada dalam posisi penanding ulama secara logika maupun agama, walaupun mereka selevel kapasitas ulama, mereka yang bisa dihitung dengan jari itu tak akan mungkin menandingi kesepakatan 750 ulama yang hadir di ijtima' tersebut, apalagi hanya seorang tukang beca...!!!
Ulama Pewaris Nabi."ketika Allah menurunkan kitab suci pasti Allah menyertainya dengan seorang Nabi. Namun sebaliknya tidak setiap Nabi diutus dengan disertai kitab suci, akan tetapi ia hanya melanjutkan tongkat estafet kitab suci dari Nabi sebelumnya"
Kitab suci saja tidak dapat membangun PERADABAN UMAT kan tetapi dibutuhkan orang yang dapat menerjemahkan dan mengejahwantahkan kitab suci tersebut kepada umat dan orang tersebut adalah para nabi dan rosul
`alaihim as-sholatu was salamu. Namun silsilah kenabian telah berhenti dengan diutusnya Rosulullah Muhammad s.a.w. Mereka para nabi tidak mewariskan harta akan tetapi meninggalkan ILMU. Maka pasca silsilah kenabian para ulama lah yang mendampingi risalah kitab suci (al-Qur`an) merekalah yang denagan legal diberikan hak tersebut, Rosulullah bersabda: "Ulama adalah pewaris para nabi".
Tidaklah heran dengan apa yang terjadi sekarang ini, musuh-musuh islam selalu berupaya memisahkan umat islam dari al-Qur`an, mereka tidak akan membakar al-Qur`an, melarang peredarannya atau merubah isinya, karena tindakan ini hanya akan mendapatkan reaksi yang dapat memobilitas jutaan semangat umat muslim di dunia, dan hal ini berbahaya sekali bagi mereka

. Cara licik yang mereka lakukan adalah bagaimana caranya memisahkan Ulama dengan umat karena pada hakikatnya memisahkan ulama dari umat adalah memisahkan umat dari al-Qur`an, memisahkan mereka dari kejayaan islam menuju keterpurukan hawa nafsu dan kesesatannya.
Sejatinya dibutuhkan usaha yang tidak sedikit untuk memahami umat dari bahaya ini, kesadaran bahwa ini adalah tanggung jawab bersama adalah kunci utama memulai usaha tersebut.
"tak ada gading yang tak retak" ulama juga manusia mereka tidak terpelihara dari kesalahan (ma`sum) seperti para nabi, namun bukanlah sikap yang bijak jiakalau mencari-cari kesalahan mereka apalagi menyelisih sesuatu yang telah menjadi kesepakatan mereka, akan tetapi, sikap ilmiah, tabayun dan loyal kepada kepentingan bersama (umat) adalah sikap utama dalam menyikapi segala hal yang masih kita perselisihkan,
demi Izzatul Islam wal muslimin..........

windie 09