friends
Sunday, June 7, 2009 4:59:24 AM
Tanpa memandang virtual atau nyata, tiap-tiap pertemanan selalu berdampak pada jiwa kita.
Tulisan ini sekadar cara saya untuk mengekspresikan apa yang saya rasakan tapi sulit disampaikan secara lisan pada semua teman-teman yang telah hadir dalam hidup saya. Yang dulu pernah singgah kemudian entah kemana, yang masih senantiasa di sisi saya, maupun yang baru mulai “duduk dan minum” bersama saya.
(Diblog ini penggunaan kata ganti orang pertama diusahakan konsisten menggunakan “saya”, tetapi khusus untuk tulisan ini perkenankan saya menggunakan kata ganti orang pertama “aku” semata-mata untuk mendapatkan gambaran yang lebih akrab) Adalah suatu saat, dahulu ketika masih kuliah, aku sengaja melibatkan diri dalam berbagai kegiatan kampus. Mulai dari kegiatan yang serius hingga yang sifatnya fun. Seiring dengan beragamnya aktivitas, jumlah temanku pun bertambah. Majemuk, heterogen, itu kata kuncinya. Sungguh menyenangkan. Aku bergaul dengan berbagai kelompok, mulai dari yang “ijo”, “abangan”, hingga yang tak bertuhan sekalipun dengan spirit pertemanan. Sebenarnya, seringkali mereka berusaha menarikku agar condong dan memiliki idealisme yang sama, tapi aku tak bergeming, dan pada akhirnya mereka semua bisa memahami. Ada kalanya, kegiatan yang kulakukan berbenturan, mandeg, dan terancam gagal hingga membuat “down” dan terhimpit pada stress yang luar biasa berat untuk ukuranku waktu itu. Tiba-tiba mereka yang jarang berbaur bersama, aku temukan duduk berama-ramai mengelilingiku, mengeluarkan kata-kata penghiburan, seolah semuanya ingin “memeluk” dan menenangkan bahwasanya aku akan baik-baik saja dan mereka bersedia total membantu dengan segenap daya demi keberhasilan kegiatanku itu, walau mereka bukanlah bagian dari kepanitian, dan mereka memiliki kesibukan masing-masing.Beberapa kali aku mengalami hal seperti ini. Tak perlu kuceritakan bagaimana perasaanku pada saat itu karena rasanya tidak ada kalimat di dunia ini yang bisa tepat mengapresiasikan ketulusan dan kebaikan mereka. Ah sobat, dimanakah kalian kini? Tahukah kalian, itulah pertemanan terbaik yang pernah kurasakan. Beranjak dari bangku kuliah dan memasuki dunia kerja, di sebuah kota yang sisi gelap terangnya belumlah kukenali dengan baik, memberikan pengalaman yang lain tentang pertemanan. Timbul kesadaran, hidup bukan sekedar hitam dan putih. Hal-hal yang absurd dan ajaib mewarnai kehidupan pertemananku. Aku belajar menanggalkan baju kenaifanku. Tidak semua orang ingin memulai pertemanan, tidak semua orang mau berteman dengan semua orang, tidak semua orang seperti itu juga. Ada orang yang tidak ingin didekati walaupun untuk sekedar pertemanan biasa, dan hanya bersedia bergaul secara professional, ada pula yang memang membatasi diri dari segala bentuk pertemanan pribadi walau duduknya hanya berjarak selembar partisi. Namun, ada juga seseorang yang dalam diamnya sudah memancarkan ketenangan, persahabatan, dan kasih saying. Makin lama, aku makin terasah untuk merasakan orang mana yang enak diajak berteman dan siapa yang termasuk sulit, dan aku belajar untuk tidak memaksakan pertemanan. Mungkin memang beginilah lazimnya kehidupan pertemanan di dunia kerja. Aku beruntung bisa menikmati dunia kerja yang penuh kekeluargaan dengan segala kekurangan dan kelebihannya yang kemudian memperkaya pengalamanku. Melalui internet aku menemukan pertemanan-pertemanan jenis baru. Dimulai dari keisengan melongok berbagai mailing list (milis), kemudian blog-blog yang mulai diminati, tidak serta merta membuatku eksis dan terlibat aktif di dunia virtual. Bertahun-tahun aku memilih menjadi phantom dan menemukan kegairahan dalam membaca isi milis dan blog-blog itu. Tidak itu saja, terkadang perasaanku bisa terhanyut dan merasakan dinamika blog tertentu yang kerap aku jelajahi. Setelah bosan menjadi phantom dan atas hasutan seorang sahabat akhirnya aku membuat blog yang kuniatkan isinya lebih penting daripada siapa di balik blog tersebut. Sekali lagi aku menjadi phantom tapi kali ini mendapatkan pengalaman yang berbeda. Aku phantom yang lebih nyata. Aku menemukan pengalaman baru yang menyenangkan. Menemukan teman-teman untuk berdiskusi-yang kadangkala bisa menerbitkan rasa rindu bila lama tidak “menjumpai” mereka, atau rasa cemburu ketika mengetahui mereka terlihat sempat mampir dan berkomentar diblog lain sementara tidak diblog ku dan berbagai perasaan lainnya yang kerap timbul selayaknya dalam pertemanan nyata, dan terkadang pertemanan virtual ini berlanjut di media lain yang lebih personal ranahnya. Sungguh tak disangka, entah bagaimana kalau aku membuka statusku sebagai phantom dan menulis dengan lebih baik, apakah aku akan mendapatkan teman lebih banyak?
Ada satu hal yang belum berani aku lakukan saat ini yaitu kopi darat (kopdar). Aku belum nyaman, mungkin tergantung siapa teman yang mengajakku, ada beberapa nama yang aku tidak akan menolaknya tapi jangan ditanyakan ya biarkan itu untuk diriku sendiri.
Semua teman, baik yang mengenalku secara fisik, yang menyapaku melalui tulisannya, yang menyapaku lewat suarannya, mereka adalah teman jiwaku. Naik turunnya pertemanan menimbulkan jejak di hatiku, menyita pikiran dan waktuku. Keberadaan mereka memberikan santapan bagi jiwaku dan sebaliknya aku juga ingin menjadi teman jiwa yang baik untuk mereka. Tak kurang, kebahagiaan yang muncul karena kehadiran seorang teman menjernihkan pikiran yang keruh, menghangatkan hati yang dingin, dan menerbitkan keceriaan dan kasih sayang. Beberapa diantara mereka menjadi sumber inspirasi yang tak pernah surut, yang lain menyediakan bahu tempat bersandar ketika rusuh.
Ada satu teman yang baru kukenal, dengannya aku lebih terbuka dalam usia perkenalan yang masih muda, banyak hal positif yang kudapat, hingga tiap pergantian hari aku bersyukur bahwasanya kami masih saling bersilahturahmi.
Mungkin aku bisa dibilang beruntung. Iya aku bersyukur walau tak semua pertemananku berjalan lancar, tetap saja aku menganggap mereka teman jiwaku. Dalam hidup yang tidak statis ini, kerap pula aku sendirian tanpa teman, berdiam dalam “dimensi” yang kuciptakan untuk menjaga “api” dihatiku agar tetap menyala, menghangatkan hati dan menjaganya agar aku tetap bahagia didalam sunyi dan sepi yang melanda.
Teman, apa jadinya dunia ini tanpa kita, tanpa silahturahmi di antara kita. ps. mungkin tulisan ini akan berlanjut dengan tulisan mengenai pertemanan lainnya.












