Sunday, March 28, 2010 6:03:07 AM
dakwatuna.com – Waktu adalah ladang amal. Allah
swt. menyediakannya agar kita menggunakannya
sebagai modal penting menggapai ridha-Nya.
Keutamaan seseorang di sisi Allah, selain
ditentukan oleh keimanan dan amal shalihnya
adalah faktor keterdahuluannya dalam keimanan
dan amal shalihnya. Tidaklah sama antara orang-
orang yang terdahulu masuk Islam -As-Sabiqunal
Awwalun- dan orang-orang yang belakangan.
Tidak sama antara jamaah yang berada di shaf
awal dalam shalat dengan yang berada di barisan
paling belakang. Berbeda derajat orang yang hadir
di shalat Jumat paling awal dengan yang paling
akhir.
Saudaraku…
Menyegerakan amal, itulah ajaran Islam kepada
ummatnya. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah
saw. menasihati para sahabatnya untuk selalu
menyegerakan amal saleh, kendati mereka itu
manusia-manusia yang teruji keimanannya. Kata
Nabi kala itu,
اوُرِداَب ِلاَمْعَأْلاِب اًنَتِف
ِعَطِقَك ِلْيَّللا ِمِلْظُمْلا ُحِبْصُي
ُلُجَّرلا اًنِمْؤُم يِسْمُيَو اًرِفاَك
ْوَأ يِسْمُي اًنِمْؤُم ُحِبْصُيَو
اًرِفاَك ُعيِبَي ُهَنيِد ٍضَرَعِب ْنِم
اَيْنُّدلا
“Bersegeralah melakukan amal-amal saleh
(kebajikan). (Sebab) sebuah fitnah akan datang
bagai sepotong malam yang gelap. Seseorang
yang paginya mukmin, sorenya menjadi kafir. Dan
seseorang yang sorenya bisa jadi kafir, paginya
menjadi mukmin. Ia menjual agamanya dengan
harga dunia. ” (H.R. Muslim)
Demikian pesan Nabi saw. mulia itu juga
disampaikan untuk kita. Adakah di antara kita yang
selama sehari semalam penuh menjadi seorang
mukmin sejati? Bisakah dan mampukah kita
selama 24 jam tidak melakukan dosa dan sikap
kufur, sekecil apapun kepada Allah Taala? Padahal
ketika Allah swt. memberikan waktu 24 jam sehari,
transaksinya adalah untuk dipersembahkan kepada
Allah swt. semuanya. Pada setiap shalat kita selalu
mengumandangkannya kepada Allah.
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan
matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta
alam. ” (Al-An’am: 162)
Bukankah ketika kita tidak berempati atas nasib
kaum lemah dan tertindas adalah bentuk kekufuran
terhadap nikmat? Bukankah di saat kita tidur dan
bangun tidur tanpa mengingat Allah, tanda kita
lupa kepada-Nya? Bukankah lupa adalah bagian dari
kekufuran kita kepada Sang Khaliq?
Saudaraku…
Sesungguhnya fitnah itu lebih cepat bergerak.
Sekali kita membiarkannya maka selanjutnya ia
akan bersemayam dan berkembang dalam tubuh
kita. Begitu cepat dan samarnya sampai
menjadikan orang pindah agama,
menggadaikannya dengan sedikit kesenangan
dunia
Wajar jika sampai-sampai Rasulullah saw.
mengingatkan para sahabatnya itu, walau Nabi
tahu keimanan para sahabat itu tak akan tertandingi
oleh orang-orang sesudahnya.
Dengan apa kita menutup pintu fitnah? Ya, dengan
amal shaleh. Apa saja dalam hidup orang beriman
bisa menjadi amal kebaikan. Kita membuang
sampah pada tempatnya itu amal baik. Berniat
tidak bohong itu amal mulia. Mengucapkan salam
kepada kawan itu amal yang terpuji. Mendo ’akan
saudara seiman kendati mereka tak tahu juga amal
shaleh. Dan masih banyak lagi amal shaleh, amakl
kebajikan yang bisa kita lakukan, sekalipun kita tak
memiliki sesuatu.
َبَهَذ ُلْهَأ ِروُثُّدلا ِروُجُأْلاِب
َنوُّلَصُي اَمَك يِّلَصُن َنوُموُصَيَو
اَمَك ُموُصَن َنوُقَّدَصَتَيَو ِلوُضُفِب
ْمِهِلاَوْمَأ َلاَق َوَأ َسْيَل ْدَق
َلَعَج ُهَّللا ْمُكَل اَم َنوُقَّدَّصَت
َّنِإ ِّلُكِب ٍةَحيِبْسَت ًةَقَدَص
ِّلُكَو ٍةَريِبْكَت ًةَقَدَص ِّلُكَو
ٍةَديِمْحَت ًةَقَدَص ِّلُكَو ٍةَليِلْهَت
ًةَقَدَص ٌرْمَأَو ِفوُرْعَمْلاِب
ٌةَقَدَص ٌيْهَنَو ْنَع ٍرَكْنُم ٌةَقَدَص
يِفَو ِعْضُب ْمُكِدَحَأ ٌةَقَدَص اوُلاَق
اَي َلوُسَر ِهَّللا يِتأَيَأ اَنُدَحَأ
ُهَتَوْهَش ُنوُكَيَو ُهَل اَهيِف ٌرْجَأ
َلاَق ْمُتْيَأَرَأ ْوَل اَهَعَضَو يِف
ٍماَرَح َناَكَأ ِهْيَلَع اَهيِف ٌرْزِو
َكِلَذَكَف اَذِإ اَهَعَضَو يِف ِلاَلَحْلا
َناَك ُهَل اًرْجَأ
“Orang-orang kaya pergi mendapatkan pahala.
Mereka shalat sebagaimana kita shalat, mereka
puasa sebagaimana kita puasa. Namun mereka
bersedekah dengan kelebihan harta mereka. ”
Rasulullah bersabda, “Bukankah Allah telah
menjadikan bagi kalian apa bisa kalian sedekahkan?
Sesungguhnya satu tasbih adalah sedekah, setiap
takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah
sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amar ma ’ruf
adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan
pada hubungan (dengan istri) kalian adalah
sedekah. ” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah
seseorang mendatangi istrinya karena
syahwatnya, apakah ia mendapatkan pahala?”
Beliau bersabda, “Apa menurut kalian kalau dia
meletakkannya pada yang haram. Bukankah
baginya dosa? Demikian pula jika diletakkan pada
yang halal, padanya ada pahala. ” (Bukhari Muslim)
Allah swt. dengan keadilan-Nya memberikan
peluang amal kepada masing-masing hamba-Nya.
Baik orang miskin maupun kaya, masing-masing
memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan
kebajikan dan mendapatkan ridha Allah. Lebih dari
itu, suatu amal tidak dilihat dari kuantitasnya, tapi
dilihat dari motivasi dan niatnya. Kualitas amal
seseorang tergantung kepada motivasi dan
niatnya.
Saudaraku…
Boleh jadi infak seorang buruh sebesar 1000
rupiah, itu sama nilainya dengan infak seorang
direktur sejumlah Rp. 1.000.000.000,00. Seorang
murid barangkali lebih mulia dengan seorang
gurunya, karena si murid lebih sungguh-sungguh
dalam menuntut ilmu. Sementara sang guru
merasa cukup dengan ilmunya.
Menyegerakan amal kebajikan tentu akan memberi
nilai tambah bagi pelakunya sendiri. Menyegerakan
berbuat baik berarti mempercepat dirinya
mendapatkan ampunan (maghfirah) dari Allah.
Kenapa? Sebab, kita telah berupaya menutup pintu-
pintu kemungkaran dan kebatilan. Dengan
demikian pula, Allah akan membukakan
kebahagiaan, yakni, surga. Itu semua hanya bisa
dilakukan oleh orang-orang yang bertaqwa.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas
langit dan bumi yang disediakan untuk orang-
orang yang bertakwa. ” (Ali Imran:133)
Mengapa kita mesti menyegerakan amal?
1. Karena asset waktu yang kita miliki hanyalah saat
ini. Apa yang terjadi nanti dan esok hari kita tidak
tahu. Kemarin bukan lagi milik kita, ia telah berlalu
dan tidak akan kembali lagi. Kebaikan dan
keburukan yang kita kerjakan kemarin tidak bisa
kita ulang lagi. Ia menjadi kenangan saat ini. Jika
kebaikan, bersyukurlah kita, dan jika keburukan
menyesallah bersama orang-orang yang
menyesal. Masih beruntung jika kita bersyukur hari
ini, bukan saat di mana penyesalan tidak ada
artinya lagi. Esok hari juga belum menjadi milik
kita, ia ada di alam gaib yang hanya Allah swt.
yang tahu. Kita tidak tahu apakah esok hari masih
bisa menghirup udara pagi?
2. Karena amal kita tidak mungkin dikerjakan orang
lain. Masing-masing orang akan datang kepada
Allah dengan amal perbuatan yang dikerjakannya
sendiri di dunia. Keshalihan orang tua tidak bisa
diandalkan anaknya. Seorang suami tidak akan
selamat dari murka Allah karena amal perbuatan
istrinya. Kita boleh bangga terhadap pemimpin,
orang tua, anak, guru, dan suami atau istri kita
karena keshalihan mereka. Kebanggaan kita tidak
bisa berbicara banyak di hadapan pengadilan Allah
swt.
3. Karena kemuliaan derajat seseorang di sisi Allah
swt. disebabkan oleh kesungguhannya dalam
merespon seruan kebajikan dan mengamalkannya.
Orang tua akan senang jika menyuruh anaknya
mengerjakan sesuatu lalu dikerjakan segera.
Sebaliknya ia akan marah jika si anak menunda-
nunda mengerjakannya. Demikian pula Allah
Ta ’ala. Seruan kebajikan dikumandangkan untuk
segera diamalkan.
4. Karena setiap waktu ada momentnya sendiri.
Setiap waktu ada tuntutan amalnya. Banyak sekali
amal perbuatan yang sangat terkait dengan waktu.
Yang ketika waktunya berakhir, berakhir pula
kesempatan untuk mengerjakannya. Seperti shalat,
puasa, haji, berkurban, dan lain sebagainya.
5. Kesempatan beramal juga diberikan kepada
seseorang pada waktu-waktu tertentu. Orang kaya
diberi kesempatan beramal dengan kekayaannya.
Orang berilmu diberi kesempatan beramal dengan
ilmunya. Seorang pimpinan diberi kesempatan
beramal dengan kekuasannya. Jangan sampai Allah
swt. mencabut kesempatan itu dan tidak bisa lagi
berbuat. Kesehatan, waktu luang, hidup, masa
muda, dan kekayaan adalah kesempatan untuk
beramal.
Saudaraku…
Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Saat inilah
waktumu. Segeralah beramal sesuai dengan
tuntutan waktunya. Kejarlah kebajikan sampai ke
liang lahat. Wallahu A ’lam.
Friday, March 26, 2010 4:19:03 PM
Dalam hadist yang diriwayatkan dari Anas bin Malik
dikisahkan.
Ada seorang sahabat yang berdiri disamping
Rosulullah Shollalahu Alaihi Wa Sallam, lalu
seorang sahabat lain lewat dihadapan keduanya.
Orang yang berada disamping Rosulullah itu tiba-
tiba berkata "Ya Rasulullah, aku mencintai Dia."
"Apakah engkau telah memberitahukan
kepadanya ?“, tanya Nabi.
"belum" jawab orang itu.
Rosulullah berkata, "Nah, kabarkanlah kepadanya!“.
Kemudian orang itu segera berkata kepada
sahabatnya. "Sesungguhnya aku mencintaimu
karena Allah. “
Dengan serta merta orang itu menjawab, 'Semoga
Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku
karena-Nya “. (HR. Abu dawud)
Rasulullah sering menganjurkan para sahabat
untuk menyatakan rasa kasih sayang terhadap
sahabat lainnya. Suatu ketika Beliau bersabda,
"apabila seorang muslim mencintai saudaranya
(karena Allah) hendaklah dia memberitahukan
(kepadanya )“ (HR. Abu dawud dan Tarmidzi)
Membicarakan cinta sangatlah luas maknanya.
Cinta itu artinya suka atau senang. Orang betawi
bilang “demen”. Mengapa seseorang itu kita
senangi? Kerena dia pasti berkenan di hati kita.
Karena hati merasa terkontak. Jadi standard cinta
itu ada di hati. Cinta bersumber dari ketakjuban.
Jika ketakjuban ini berlandaskan karena Allah
alangkah indah rasanya.
Sayang kebanyakan kita telah salah persepsi
dengan cinta, dimana makna cinta telah bergeser
kepada birahi atau syahwat. Bila kata “cinta”
diungkapkan, persepsi kita langsung
menggambarkan hubungan antara laki-laki dan
perempuan yang belum menikah. padahal tidak
semua cinta berorientasi syahwat, bahkan ada
cinta yang merupakan suatu yang syar ’i, suci, dan
imani yaitu mencintai orang lain karena Allah dan
iman kepada-Nya.
Ajaran islam menghendaki agar cinta antara
sesama manusia dapat berlangsung karena
mencintai dan mengimani Allah. Standardises cinta
ditentukan oleh iman dan amal sholeh dari orang
yang dicintainya itu. Semakin tinggi keimanan
seseorang, semakin untuk dicintai. Untuk itu, Allah
telah mewujudkan bahwa iman itu sebagai sesuatu
yang indah di hati orang-orang mukmin.
Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Salam bersabda,
“ Janganlah kalian menganggap sepele dari kebaikan
sedikitpun, Walaupun hanya dengan menyapa
saudaramu dengan muka manis ” (HR. Muslim)
“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada
Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam
beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat
kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta'
kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu
indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu
benci kepada kekafiran, kefasikan, dan
kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang
mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan
nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana. ” (Al-hujarat :7-8)
Memiliki rasa cinta kepada iman dan orang-orang
mu ’min merupakan rahmat dan karunia Allah yang
besar. Ini merupakan kasih sayang Allah kepada
setiap insan Mu ’min. rasulullah bersabda, “ Tiang
yang paling kokoh dan iman adalah mencintai
karena Allah dan membenci karena Allah" (HR.
Muslim)
Karena itulah mencintai sesama muslim
merupakan salah satu diantara parameter
keimanan seseorang. Untuk memperkokoh
parameter cinta karena iman ini, para sahabat nabi
sering berdoa dengan ungkapan. “Ya Allah
jadikanlah kami mencintai iman, dan jadikanlah
iman itu indah didalam hati kami. Dan bencikanlah
kami kepada kekafiran kefasikan dan kedurhakaan.
Dan jadikanlah kami tergolong orang-orang yang
benar".
Berlandaskan cinta kepada iman inilah setiap
muslim wajib mencintai saudaranya sesama
mu ’min. Rasulullah Shollalahu Alaihi wasalam
bersabda “Tidak beriman salah seorang kamu
sehingga mencintai saudaranya (sesama muslim)
seperti mencintai dirinya sediri." (HR. Muslim)
Iman kepada Allah dan Rasul serta cinta kepada
sesama muslim tak mungkin terpisah. karena
seluruhnya merupakan satu kesatuan. Dengan
landasan cinta inilah persaudaraan (ukkuwah) itu
terbentuk diantara sesama muslim.
Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah
akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih
sayang."
(Al Quran Al Karim Surah Maryam ayat 96)
"Orang-orang beriman itu sesungguhnya
bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudaramu itu dan
takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat
rahmat". (Al-Hujarat : 10)
Kecintaan seorang muslim terhadap muslim
lainnya tentu bukan disebabkan nafsu syahwat
yang memuncak dalam perasaannya, tetapi karena
kesadaran terhadap ukhuwah dan peningkatan
iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kecintaan
terhadap akhlaq yang mulia atau ketaatan dan
ketakwaannya kepada Allah. Karena itu, ungkapan
cinta mereka bukan merupakan pernyataan
gombal diantara mereka seperti halnya ungkapan-
ungkapan cinta oleh orang-orang sekarang yang
mengikuti dari golongan non muslim yang hanya
disampaikan setiap hari valentine saja. Tapi
haruslah mengungkapkannya seperti yang
disunnahkan oleh Rasululah.
Islam membimbing kita agar mengutarakan
perasaan cinta ini dengan terus terang yaitu
uhibbuka fillah atau uhibbuki fillah. Ungkapan ini
membedakan antara cinta yang dilandasi iman
dengan cinta yang berdasarkan syahwat. manakala
seorang muslim menerima perkataan ini maka ia
hendahnya menjawab Ahabbakallah lima
ahbabtani iyyahu (semoga Allah mencintai anda
disebabkan kecintaan anda kepadaku kepada Dia).
Ungkapan mesra seperti ini akan menambah
eratnya tali ikatan ukkuwah diantara sesama
muslim.
Akhir kata, tak ada kata cinta untuk Valentine,
melainkan kata "Aku Mencintaimu Kamu karena
Allah" mulai hari ini hingga selamanya.
Thursday, March 25, 2010 2:54:15 AM
Sebagai ajaran Rabbani Islam memang lengkap
dan sempurna. Islam mengatur segenap urusan
kehidupan manusia dari perkara yang paling kecil
hingga perkara yang paling besar. Dari urusan
yang bersifat individual hingga urusan sosial.
Salah satu tuntunan Islam ialah perkara bertegur
sapa antara seorang beriman dengan Muslim
lainnya. Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa
sallam mencontohkan bahwa bila seorang Muslim
berjumpa dengan Muslim lainnya, maka hendaklah
ia mengucapkan sapaan khas Islam yaitu As-
Salamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh,
artinya Salam damai untukmu dan semoga
Rahmat dan Keberkahan Allah menyertaimu.
Subhanallah...! Begitu indahnya tegur-sapa yang
diajarkan agama Allah kepada hamba-hambaNya
yang beriman.
Bahkan dalam suatu kesempatan Nabi shollallahu
’ alaih wa sallam menggambarkan tindakan
mengucapkan salam sebagai bentuk ajaran Islam
yang lebih baik. Menebar salam disetarakan dengan
memberi makanan kepada orang yang dalam
kesusahan.
َّنَأ اًلُجَر َلَأَس َّيِبَّنلا ىَّلَص
ُهَّللا ِهْيَلَع َمَّلَسَو ُّيَأ
ِماَلْسِإْلا ٌرْيَخ َلاَق
ُمِعْطُت َماَعَّطلا ُأَرْقَتَو
َماَلَّسلا ىَلَع ْنَم َتْفَرَع ْنَمَو
ْمَل ْفِرْعَت
Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: “Manakah ajaran
Islam yang lebih baik?” Rasul shollallahu ’alaih wa
sallam bersabda: ”Hendaklah engkau memberi
makanan dan mengucapkan salam kepada orang
yang kamu kenal dan yang tidak. ” (HR Bukhary)
Dalam hadits yang lain Nabi shollallahu ’alaih wa
sallam menjelaskan korelasi antara mengucapkan
salam dengan saling mencinta antara satu Muslim
dengan Muslim lainnya. Kemudian korelasi antara
saling mencinta dengan keimanan. Kemudian
akhirnya korelasi antara beriman dengan izin dari
Allah untuk masuk surga, negeri keabadian yang
penuh dengan kesenangan abadi.
ْنَع يِبَأ َةَرْيَرُه َلاَق َلاَق ُلوُسَر
ِهَّللا ىَّلَص ُهَّللا ِهْيَلَع َمَّلَسَو
اَل َنوُلُخْدَت َةَّنَجْلا ىَّتَح
اوُنِمْؤُت اَلَو اوُنِمْؤُت ىَّتَح
اوُّباَحَت اَلَوَأ
ْمُكُّلُدَأ ىَلَع ٍءْيَش اَذِإ
ُهوُمُتْلَعَف ْمُتْبَباَحَت اوُشْفَأ
َماَلَّسلا ْمُكَنْيَب
Berkata Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bersabda
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Kalian tidak
akan masuk surga sehingga kalian beriman. Kalian
tidak beriman secara sempurna sehingga kalian
saling mencinta. Maukah kalian aku tunjukkan
suatu perkara bila kalian lakukan akan saling
mencinta? Biasakanlah mengucapkan salam di
antara kalian (apabila berjumpa). ” (HR Muslim)
Dengan kata lain Nabi shollallahu ’alaih wa sallam
ingin menjelaskan bahwa kumpulan Muslim yang
tidak suka saling menebar salam maka tidak akan
saling mencinta. Bila atmosfir saling mencinta tidak
ada, maka keimanannya diragukan keberadaannya.
Dan jika keimanannya diragukan, maka
kemungkinan masuk surga-pun menjadi kecil.
Saudaraku, marilah kita berlomba untuk masuk
surga dengan jalan senantiasa menebar salam satu
sama lain di antara sesama kaum muslimin.
Sungguh sederhana, namun sebagian kita enggan
melakukannya. Padahal akibat yang
ditimbulkannya menjadi idaman setiap Muslim:
Masuk surga...! Bukankah ini bentuk kompetisi
satu-satunya yang dibenarkan Allah untuk
diperebutkan di antara sesama Muslim?
اوُعِراَسَو ىَلِإ ٍةَرِفْغَم ْنِم
ْمُكِّبَر ٍةَّنَجَو اَهُضْرَع
ُتاَوَمَّسلا ُضْرَأْلاَو ْتَّدِعُأ
َنيِقَّتُمْلِل
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas
langit dan bumi yang disediakan untuk orang-
orang yang bertakwa, ” (QS Ali Imran ayat 133)
Ya Allah, aku mohon kepadaMu akan RidhaMu dan
SurgaMu dan aku berlindung kepadaMu dari
MurkaMu dan NerakaMu.
Wednesday, March 24, 2010 9:02:52 PM
Aku bertanya pada alam semesta tentang arti
“ CINTA”, lalu satu demi satu mereka menjawab…
Bumi menjawab:
“CINTA adalah hamparan tempat tumbuh segala
bahagia dan harapan akan itu. Ia memang diinjak
dan dihinakan, tetapi ia tak peduli. Pikir Cinta hanya
memberi, dan itu sajalah inginnya. ”
Air menjawab:
“CINTA adalah hujan yang menumbuhkan benih-
benih rasa kesukaan, kerelaan akan keterikatan,
kerinduan dan kesenduan, atau samudera kasih
yang luas sebagai naungan segala perasaan
Api menjawab:
“CINTA adalah panas yang membakar segala, ia
memusnahkan untuk dapat hidup dan menyala.
Demi merasakannya, makhluk rela terbakar dalam
amarah dan kedurhakaan. ”
Angin menjawab:
“CINTA adalah hembusan yang menebar sayang
tanpa tahu siapa tujuannya. Orang bilang ia buta,
sebab itu inginnya. Ia tak terlihat, tapi tanpanya
segala raga akan hampa. ”
Langit menjawab:
“CINTA adalah luasan tanpa batas. Luasnya tiada
makhluk yang tahu. Kecuali bahwa cinta itu
bahagia yang biru, atau derita kelam yang kelabu
Matahari menjawab:
“CINTA adalah hidup untuk memberi energi
kehidupan dan cahaya harapan. Ia tak akan lelah
memberi sampai ia padam dan mati. ”
Pohon menjawab:
“CINTA adalah akar yang menopang segalanya. Ia
tulus hingga tak perlu terlihat dan dikenal. Tapi ia
terus memberi agar batang bahagia tetap kokoh
abadi, berbuah dan berbunga indah. ”
Gunung menjawab:
“CINTA adalah rasa yang menjulang tinggi. Rasa itu
demikian tenang dan menyejukkan. Namun saat
gundah, Ia akan meleburkan sekelilingnya dengan
lautan lava cemburu yang membara. ”
Lalu, Aku bertanya pada CINTA:
“Wahai CINTA, apakah sebenarnya arti dirimu??”
CINTA menjawab:
“CINTA adalah engkau patuh terhadap-Nya, meski
kau tak melihat-Nya. Engkau tidak mencium-Nya
atau meraba-Nya, tapi engkau patuh karena
engkau merasa akan hadir-Nya. Sebab CINTA
bukan indera, tapi adalah rasa. ”
“CINTA adalah engkau takut akan amarah-Nya, dan
takut jika Ia meninggalkanmu. Takut jika Ia tak
menyukaimu lagi. Lalu engkau mencari-cari alasan
untuk selalu dekat dengannya, bahkan jika engkau
harus menderita, atau yang lebih mengerikan dari
itu. ”
“CINTA adalah engkau menyimpan segala harapan
pada-Nya dan tidak pada yang lain. Engkau tidak
mendua dalam harapan, dan demikian selamanya.
Cinta adalah engkau setia menjadi budak-Nya,
yang engkau hidup untuk-Nya dan mati untuk
kesukaan-Nya akan dirimu, hidup dan mati untuk
Dia. Engkau berusaha sekerasnya agar engkau
diakui, hanya sebagai budak, sebagai hamba.”
“Diatas segalanya, CINTA adalah engkau merasa
kasih sayang yang tunggal yang tidak engkau
berikan pada yang lain, selain pada-Nya. Engkau
rindu akan hadir-Nya dan melihat-Nya. Engkau
suka apa yang Ia sukai dan benci apa yang Ia
benci, engkau merasakan segala ada pada-Nya dan
segala atas nama-Nya. ”
Aku lantas bertanya pada CINTA:
“Bisakah aku merasakannya?”
Sambil berlaru CINTA menjawab:
“Selama engkau mengetahui hakikat penciptaanmu
dan bersyukur dengan apa yang Dia beri, maka itu
semua akan kau rasakan, percayalah padaku
tambahnya ….”
Aku pun Berteriak, “Wahai KAU SANG MAHA
PECINTA terimalah cintaku yang sederhana ini,
izinkanlah aku merasakan cintaMu yang Maha
Indah …”
Wednesday, March 24, 2010 7:30:20 AM
Oleh Suherman Pks Hari ini jam 19:38
Oh Ikhwan
ikhwan sejati, muslim
Oh.. Ikhwan
Apa bedanya dengan Si Marwan
Si Ali, Paijo atau Si Iwan
Oh ternyata Cuma beda sebutan
Oh.. Ikhwan
Walaupun tidak terlalu rupawan
Alias modal tampang pas-pasan
Tetep aja tebar senyuman
Oh.. Ikhwan
Gayanya sih bisa ketebak dan ketahuan
Jenggot melambai, baju koko & mata kaki keliatan
Kalo ngomong pake ane, antum, afwan-afwan
Oh.. Ikhwan
Sudah banyak yang bertebaran
Ada di masjid, kampus bahkan perkantoran
Sering kali ada yang getol nyari penghasilan
Ngga taunya nyari modal buat walimahan
Oh.. Ikhwan
Kalo lagi aksi, semangatnya nggak diragukan
Pekikan takbir selalu di kumandangkan
Ngomong2… kamar dikosan kok berantakan?
(Aduh.. pulang jangan lupa diberesin Wan!)
Oh.. Ikhwan
Sepekan sekali ikut kajian
Hujan dan badai nggak jadi halangan
Juga ngga ketinggalan tiap acara kepartaian
(Tapi.. cuci dulu tuh baju rendeman..!)
Oh.. Ikhwan
Pagi-pagi jarang sarapan
Alesannya males masak atau belum dapet kiriman
Akhirnya kena sakit magh sama panuan
( Kok yang terakhir nggak nyambung Wan!)
Oh.. Ikhwan
Jarang banget yang mata duitan
Demi dakwah, hati ikhlas tanpa harap imbalan
Walau kerasa, nih perut keroncongan
( Laporan aja Wan! Sama anggota dewan)
Oh.. Ikhwan
Anehnya kalau lagi jalan
Ngukurin tanah ape nyari duit jatoh sih wan?
Ooohh.. ternyata dia lagi jaga pandangan!!
Hati-hati Wan, awas nginjek gituan!!
Ikhwan… ikhwan….
Lucunya kalo ada akhwat berpapasan
Langsung minggir! Nunduk, acuh tak acuh kaya
musuhan
( Gubrak..!! Suara apaan tuh Wan? )
Eh.. si ukhti jatuh, kagak ngeliat ada selokan
Ikhwan… ikhwan…
Uniknya kalo lagi rapat gabungan
Pake pembatas alias hijab biar nggak bisa lirik-
lirikan
Sering juga rapatnya peke SMSan
Kadang SMSnya malem2 sambil bangunin
tahajudan
Upppss.. Yang ini cuma sesama ikhwan kan..??
Oh.. Ikhwan
Badannya ade yang keker mirip binaragawan
Oh ternyata dia instruktur kepanduan
Biar di keroyok sama pereman
Kagak bakal panggil bantuan
( Abis.. udah ga bisa lari sih Wan! )
Oh.. Ikhwan
Jarang juga yang suka jajan
Mendingan nabung buat masa depan
Sekarang duitnya sudah banyak dalam celengan
(Eh, itu utang dibayar dulu Wan!)
Oh.. Ikhwan
Merasa sepi di tengah keramaian
Merindukan hadirnya bidadari penyemangat iman
Temen sekosan terasa sudah membosankan
Ditambah bisikan-bisikan setan yang kedengeran
Hemmm.. Istigfar Wan!
Oh.. Ikhwan
Pengen dapet istri yang wajahnya mirip artis di
iklan
Yang nggak malu-maluin kalo diajak kondangan
Terus mulutnya yang nggak rame kaya petasan
Tiap 3 hari khatam Al Quran
Kelompok yang dibina udah lebih dar 20an
Setia sampe mati dan nggak mata duitan
Dan… setuju aja kalau suami mau cari istri
tambahan
Oh.. Ikhwan
Tapi, seringnya harapan tidak sesuai kenyataan
Abis, nyari istri yang sempurna gitu kan kagak
gampangan!
Apalagi kalo modalnya serba pas-pasan
Ya.. Murobbi juga nyariinnya bakal itung-itungan
Sabar deh Wan! Percaya aja sama yang Maha
Rahman!
Oh.. Ikhwan
Nggak sengaja, liat ukhti minta bantuan
Jatoh dari motor masuk paretan
Hati berdebar mungkin ada harapan
Eeehh… taunya si Ukhti istrinya temen satu Liqo’an
(Gubrak..!! sungguh kasihan )
Huuhhh… Dasar Ikhwan!!!
Afwan ya Wan!! Cuma mainan
yang nulis juga ikhwan...^^
Wednesday, March 24, 2010 3:49:38 AM
Tak bisa disangkal, manusia akan selalu
bersentuhan dengan cinta. Sementara kecintaan
memberikan buah kerinduan. Orang yang
mencinta akan rindu kepada orang yang
dicintainya.
Kerinduan kepada kekasih, seringkali
membekaskan duka. Karena sudah tahu bahwa
pacaran bukanlah jalan yang halal untuk ditempuh,
maka nikahlah satu-satunya yang jadi pilihan.
Padahal si pria belum mampu memberi nafkah
lahir. Wanita pun masih muda dan dituntut oleh
orang tua untuk menyelesaikan sekolah atau
meraih gelar. Akhirnya, karena tidak kesampaian
untuk nikah, maka pacaran terselubung sebagai
jalan keluar karena tidak kuat menahan rasa rindu
pada si dia. Lewat chatting, inbox FB atau sms jadi
jalur alternatif.
Inilah yang dialami pemuda masa kini. Mungkin
juga dialami para aktivis dakwah. Agar dikira tidak
melalui pacaran, maka sms dan chatting yang jadi
pilihan. Seharusnya rasa rindu ini bisa dipendam
dengan melakukan beberapa kiat yang akan kami
utarakan[1]. Semoga Allah senantiasa memberi
taufik.
Terapi dari Rasa Rindu dengan Segera Nikah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَي َرَشْعَم ِباَبَّشلا ِنَم َعاَطَتْسا
ُمُكْنِم َةَءاَبْلا ْجَّوَزَتَيْلَف
ُهَّنِإَف ُّضَغَأ ِرَصَبْلِل ُنَصْحَأَو
ِجْرَفْلِل ْنَمَو ْمَل ْعِطَتْسَي
ِهْيَلَعَف ِمْوَّصلاِب ُهَّنِإَف ُهَل
ٌءاَجِو
“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki
baa-ah[2], maka menikahlah. Karena itu lebih akan
menundukkan pandangan dan lebih menjaga
kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka
berpuasalah karena puasa itu bagai obat
pengekang baginya. ”[3]
Yang dimaksud dengan syabab (pemuda) di sini
adalah siapa saja yang belum mencapai usia 30
tahun. Inilah pendapat ulama-ulama Syafi ’iyah.[4]
Secara bahasa, baa-ah bermakna
jima ’ (berhubungan suami istri). Sedangkan
mengenai makna baa’ah dalam hadits di atas
terdapat ada dua pendapat di antara para ulama,
namun intinya kembali pada satu makna.
Pertama: makna baa-ah adalah sebagaimana
makna secara bahasa yaitu jima ’. Sehingga makna
hadits adalah barangsiapa yang mempunyai
kemampuan untuk berjima ’ karena mampu
memberi nafkah nikah, maka menikahlah.
Barangsiapa yang tidak mampu berjima ’ karena
ketidakmampuannya memberi nafkah, maka
hendaklah ia memperbanyak puasa untuk
menekan syahwatnya dan untuk menghilangkan
angan-angan jeleknya.
Pendapat kedua: makna baa-ah adalah
kemampuan memberi nafkah. Dimaknakan
demikian karena konsekuensi dari seseorang
mampu berjima ’, maka tentu ia harus mampu
memberi nafkah. Sehingga makna hadits adalah
barangsiapa yang telah mampu memberi nafkah
nikah, maka hendaklah ia menikah. Barangsiapa
yang tidak mampu, maka berpuasalah untuk
menekan syahwatnya.
Jadi maksud dari dua pendapat ini adalah sama
yaitu harus punya kemampuan untuk memberi
nafkah. Sehingga inilah yang menjadi syarat
seseorang (khususnya pria) untuk membina
rumah tangga dengan kekasih pilihan, yaitu ia
memiliki kemampuan untuk memberi nafkah
keluarga. Hal ini yang banyak disalahpahami
sebagian pemuda. Mereka ngebet minta nikah pada
ortunya. Padahal sesuap nasi saja masih ngemis
pada ortunya. Hanya Allah yang memberi taufik.
Dari sini, barangsiapa yang memiliki kemampuan,
maka segeralah untuk menikah guna
memadamkan rasa rindu yang ada. Menikah di sini
tidak mesti dengan orang yang selalu dirindukan.
Boleh jadi, juga dengan orang lain. Karena nikah
telah mencukupkan segala kebutuhan jiwa di
samping dalam nikah akan ditemui banyak
keberkahan. Jika memungkinkan menikah dengan
orang yang dirindukan, maka menikahlah
dengannya. Ini merupakan terapi manjur.
Berusaha untuk Ikhlas dalam Beribadah
Ikhlas adalah obat manjur penyakit rindu. Jika
seseorang benar-benar ikhlas menghadapkan diri
pada Allah, maka Allah akan menolongnya dari
penyakit rindu dengan cara yang tak pernah
terbetik di hati sebelumnya. Cinta pada Allah dan
nikmat dalam beribadah akan mengalahkan cinta-
cinta lainnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
“ Sungguh, jika hati telah merasakan manisnya
ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya,
niscaya ia tidak akan menjumpai hal-hal lain yang
lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik
daripada Allah. Manusia tidak akan meninggalkan
sesuatu yang dicintainya, melainkan setelah
memperoleh kekasih lain yang lebih dicintainya.
Atau karena adanya sesuatu yang ditakutinya. Cinta
yang buruk akan bisa dihilangkan dengan cinta
yang baik. Atau takut terhadap sesuatu yang
membahayakannya. ”
Hati yang tidak ikhlas akan selalu diombang-
ambingkan nafsu, keinginan, tuntutan serta cinta
yang memabukkan. Keadaannya tak beda dengan
sepotong ranting yang meliuk ke sana kemari
mengikuti arah angin.
Banyak Memohon pada Allah
Setiap do’a yang kita panjatkan pasti akan
bermanfaat. Boleh jadi do’a tersebut segera
dikabulkan oleh Allah. Boleh jadi sebagai simpanan
di akhirat. Boleh jadi dengan do ’a kita tadi, Allah
akan menghilangkan kejelekan yang semisal.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« ام ْنِم ٍمِلْسُم وُعْدَي ٍةَوْعَدِب
َسْيَل اَهيِف ٌمْثِإ َالَو ُةَعيِطَق
ٍمِحَر َّالِإ ُهاَطْعَأ ُهَّللا اَهِب
ىَدْحِإ ٍثَالَث اَّمِإ ْنَأ َلَّجَعُت
ُهَل ُهُتَوْعَد اَّمِإَو ْنَأ
اَهَرِخَّدَي ُهَل ىِف ِةَرِخآلا اَّمِإَو
ُْنَأ َفِرْصَي ُهْنَع َنِم ِءوُّسلا
اَهَلْثِم «. اوُلاَق ًاذِإ ُرِثْكُن. َلاَق
» ُهَّللا ُرَثْكَأ »
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada
Allah selama tidak mengandung dosa dan
memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen)
melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah
akan segera mengabulkan do ’anya, [2] Allah akan
menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3]
Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang
semisal. ” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau
begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allahu
akbar (Allah Maha besar).”[5]
Ketika seseorang berada dalam kesempitan dan dia
bersungguh-sungguh dalam berdo ’a, merasakan
kebutuhannya pada Allah, niscaya Allah akan
mengabulkan do ’anya. Termasuk di antaranya
apabila seseorang memohon pada Allah agar
dilepaskan dari penyakit rindu dan kasmaran yang
terasa mengoyak-ngoyak hatinya. Penyakit yang
menyebabkan dirinya gundah gulana, sedih dan
sengsara. Oleh karena itu, perbanyaklah do ’a.
Memenej Pandangan
Pandangan yang berulang-ulang adalah pemantik
terbesar yang menyalakan api hingga terbakarlah
api dengan kerinduan. Orang yang memandang
dengan sepintas saja jarang yang mendapatkan
rasa kasmaran. Namun pandangan yang berulang-
ulanglah yang merupakan biang kehancuran. Oleh
karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan kita untuk menundukkan
pandangan agar hati ini tetap terjaga. Dari Jarir bin
Abdillah, beliau mengatakan,
ُتْلَأَس َلوُسَر ِهَّللا -ىلص هللا هيلع
ملسو- ْنَع ِرَظَن ِةَءاَجُفْلا
ىِنَرَمَأَف ْنَأ َفِرْصَأ ىِرَصَب
“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas
(tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar
aku segera memalingkan pandanganku.”[6]
Mujahid mengatakan,
ُّضَغ ِرَصَبْلا ْنَع ِمِراَحَم ِهَّللا
ُثِروُي َّبُح ِهَّللا
“Menundukkan pandangan dari berbagai hal yang
diharamkan oleh Allah, akan menimbulkan rasa
cinta pada Allah. ”[7]Berarti menahan pandangan
dari wanita yang bukan mahrom akan
menimbulkan rasa cinta pada Allah. Menundukkan
pandangan yang dimaksud di sini ada dua macam
yaitu memandang aurat sesama jenis dan
memandang wanita yang bukan mahram.
Tiga faedah dari menundukkan pandangan telah
disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[8].
Pertama: Akan merasakan manis dan lezatnya
iman. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena
Allah, Dia akan memberi ganti dengan yang lebih
baik.
Kedua: Akan memberi cahaya pada hati dan akan
memiliki firasat yang begitu cemerlang.
Ketiga: Akan lebih menguatkan hati.
Lebih Giat Menyibukkan Diri
Dalam situasi kosong kegiatan biasanya seseorang
lebih mudah untuk berangan memikirkan orang
yang ia cintai. Dalam keadaan sibuk luar biasa
berbagai pikiran tersebut mudah untuk lenyap
begitu saja. Oleh karena itu, untuk memangkas
kerinduan seseorang hendaknya menyibukkan diri
dengan hal-hal yang bermanfaat baik untuk dunia
atau akhirat. Hakikat dari rasa rindu adalah
kesibukan hati yang kosong. Di kala sepi sendiri,
tanpa aktivitas muncullah bayangan sang kekasih,
wajah, gerak-gerik, dan segala yang berkaitan
dengannya. Seluruhnya hanya sekedar bayangan
dan khayalan yang berakhir dengan kesedihan diri.
Tiada manfaatnya sedikit pun bagi kehidupan kita.
Ibnul Qayyim menyebutkan nasehat seorang sufi
yang ditujukan pada Imam Asy Syafi ’i. Ia berkata,
َكُسْفَنَو ْنِإ اَهْتَلَغْشَأ ِّقَحلاِب
َّالِإَو َكْتَلَغَتْشا ِلِطاَبلاِب
“Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang
baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal
yang sia-sia (batil). ”[9]
Menghindari Nyanyian dan Film Percintaan
Nyanyian dan film-film percintaan memiliki andil
besar untuk mengobarkan kerinduan pada orang
yang dicintai. Apalagi jika nyanyian tersebut
dikemas dengan mengharu biru, mendayu-dayu
tentu akan menggetarkan hati orang yang sedang
ditimpa kerinduan. Akibatnya rasa rindu kepadanya
semakin memuncak, berbagai angan-angan yang
menyimpang pun terbetik dalam hati dan pikiran.
Bila demikian, sudah layak jika nyanyian dan
tontonan seperti ini dan secara umum ditinggalkan.
Demi keselamatan dan kejernihan hati. Sehingga
sempat diungkapkan oleh beberapa ulama
nyanyian adalah mantera-mantera zina.
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Nyanyian
menumbuhkan kemunafikan dalam hati
sebagaimana air menumbuhkan sayuran.”
Fudhail bin Iyadh[10] mengatakan, “Nyanyian
adalah mantera-mantera zina.”
Adh Dhohak[11] mengatakan, “Nyanyian itu akan
merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan
Allah. ”[12]
Imam Asy Syafi’i berkata, “Nyanyian adalah suatu
hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena
nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja
yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian,
maka persaksiannya tertolak. ”[13]
Bayangkan Kekurang Si Dia
Ingatlah selalu, orang yang engkau rindukan
bukanlah pribadi yang sempurna. Ia sangat banyak
kekurangan, sehingga tidak layak untuk dipuja,
disanjung atau senantiasa dirindukan. Orang yang
dirindukan sebenarnya tidak seperti yang
dikhayalkan dalam lamuman.
Ibnul Jauzi berkata, “Sesungguhnya manusia itu
penuh dengan najis dan kotoran. Sementara orang
yang dimabuk cinta senantiasa melihat kekasihnya
dalam keadaan sempurna. Disebabkan cinta ia tidak
lagi melihat adanya aib. ”
Kita bisa menghukumi sesuatu dengan timbangan
keadilan sedangkan orang yang sedang kasmaran
tengah dikuasai oleh hawa nafsunya sehingga tak
dapat bersikap dengan adil. Kecintaannya menutupi
seluruh aib yang dimiliki oleh pasangannya.
Para ahli hikmah berkata, “Mata yang diliputi oleh
hawa nafsu akan menjadi buta.”
Semoga Allah memberi taufik. Segala puji bagi
Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan
menjadi sempurna.
Tuesday, March 23, 2010 6:16:37 AM
Abu ‘Ashim Hisyam bin Abdul Qadir ‘Uqdah
Mencintai sesama mukmin dan mengikat tali
ukhuwah (persaudaraan) merupakan suatu
perbuatan yang amat mulia dan sangat penting.
Allah SWT menyatakan persaudaraan sebagai sifat
kaum mukminin dalam kehidupan di dunia dan di
akhirat, seperti dalam firman-Nya :
اَمَّنِإ َنوُنِمْؤُمْلا ٌةَوْخِإ
اوُحِلْصَأَف َنْيَب ْمُكْيَوَخَأ
اوُقَّتاَو َهَّللا ْمُكَّلَعَل
َنوُمَحْرُت
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah
bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya
kamu mendapat rahmat ” (Al Hujuraat : 10)
Persaudaraan yang terjalin di antara kaum mukmin
sesungguhnya merupakan anugrah nikmat yang
sangat besar dari Allah SWT. Sebagaimana firman-
Nya :
اوُرُكْذاَو َةَمْعِن ِهَّللا ْمُكْيَلَع
ْذِإ ْمُتْنُك ًءاَدْعَأ َفَّلَأَف َنْيَب
ْمُكِبوُلُق ْمُتْحَبْصَأَف ِهِتَمْعِنِب
اًناَوْخِإ
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika
kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan,
maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang
yang bersaudara ” ( Ali Imran : 103)
َوُه يِذَّلا َكَدَّيَأ ِهِرْصَنِب
َنيِنِمْؤُمْلاِبَو . َفَّلَأَو َنْيَب
ْمِهِبوُلُق ْوَل َتْقَفْنَأ اَم يِف
ِضْرَأْلا اًعيِمَج اَم َتْفَّلَأ َنْيَب
ْمِهِبوُلُق َّنِكَلَو َهَّللا َفَّلَأ
ْمُهَنْيَب ُهَّنِإ ٌزيِزَع ٌميِكَح
“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-
Nya dan dengan para mu’min, dan yang
mempersatukan hati mereka (orang-orang yang
beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua
(kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu
tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan
tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka ” ( Al-
Anfaal : 62-63)
Seiring perjalanan waktu, tali ukhuwah yang telah
terjalin terkadang bisa mengendur, bahkan putus
sama sekali dikarenakan virus-virus yang
berjangkit di hati, antara lain :
1. Tamak akan kenikmatan dunia
Banyak kasus dua orang sahabat yang saling
mencintai dengan tulus sehingga masing-masing
merasa berat untuk berpisah dari kawannya, tiba-
tiba sikap mereka berubah ketika tergiur dengan
gemerlap dunia dan berlomba-lomba untuk
mendapatkannya. Apa yang akan kita lakukan
seandainya ada peluang rizki di mana kita dan
saudara kita sama-sama membutuhkan? Sering
terjadi dua orang sahabat saling bersaing, saling
jegal demi mendapatkan satu pekerjaan. Di sinilah
sifat itsar (mendahulukan saudara) kita diuji.
Sebaik-sebaik sifat itsar adalah yang seperti
dilakukan oleh kaum Anshar terhadap kaum
Muhajirin sebagaimana diabadikan dalam Al Hasyr :
9 berikut ini.
َنيِذَّلاَو اوُءَّوَبَت َراَّدلا
َناَميِإْلاَو ْنِم ْمِهِلْبَق َنوُّبِحُي
ْنَم َرَجاَه ْمِهْيَلِإ اَلَو َنوُدِجَي
يِف ْمِهِروُدُص ًةَجاَح اَّمِم اوُتوُأ
َنوُرِثْؤُيَو ىَلَع ْمِهِسُفْنَأ ْوَلَو
َناَك ْمِهِب ٌةَصاَصَخ ْنَمَو َقوُي َّحُش
ِهِسْفَن َكِئَلوُأَف ُمُه َنوُحِلْفُمْلا
“Dan orang-orang yang telah menempati Kota
Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum
(kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai
orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka
tiada menaruh keinginan dalam hati mereka
terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka
(orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan
(orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri.
Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka
berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran
dirinya, mereka itulah orang-orang yang
beruntung ” (Al-Hasyr:9)
2. Tidak santun dalam berbicara
Hal ini merupakan pintu yang paling leluasa bagi
setan untuk masuk menebar bibit-bibit perselisihan
dan permusuhan di antara sahabat. Banyak yang
beranggapan, hubungan istimewa yang terjalin
dengan sahabatnya membebaskannya dari tutur
kata yang sopan.
Contoh gaya bicara kepada saudara kita yang
harus dihindari adalah :
a. Berbicara dengan nada suara tinggi dan
menggunakan kata-kata kasar
Di dalam Al Qur’an, Allah mengisahkan wasiat
Luqman dalam mendidik anaknya :
ْضُضْغاَو ْنِم َكِتْوَص َّنِإ َرَكْنَأ
ِتاَوْصَأْلا ُتْوَصَل ِريِمَحْلا
“Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (Luqman :
19).
Ali bin Abu Thalib berkata : “barangsiapa lembut
tutur atanya, niscaya manusia suka dengannya”.
b. Tida k mendengar saran saudaranya, enggan
menatap ketika berbicara atau memberi salam,
tidak menghargai keberadaannya.
Seorang ulama salaf berkata : “Ada orang yang
memberitahuku tentang suatu hadits, padahal saya
telah mengetahuinya sebelum ia dilahirkan, namun
kesopanannya mendorongku untuk tetap
mendengarnya hingga selesai. ”
Kemuliaan akhlak Rasulullah membawa beliau
untuk tetap mndengar dan tidak memotong kata-
kata seorang musyrik bernama ‘Utbah. Ketika
berhenti, Rasulullah bertanya kepadanya : “Apakah
engkau sudah selesai, hai Abul-Walid (panggilan
‘ Utbah)?”
c. Bercanda secara berlebihan
Canda ringan dalam batas kesopanan dan tidak
keluar dari ruang lingkup yang benar akan
menambah kelenturan dan kehangatan hubungan
ukhuwah. Sebaliknya, canda yang berlebihan dan
melampaui batas kesopanan akan mempercepat
kehancuran ukhuwah.
d. Sering mendebat dan membantah
Sering mendebat dan membantah diikuti oleh
dampak begatif lainnya seperti menganggap
unggul ide, sering mengkritik ide sahabat, sok
tahu, menggunakan kata-kata pedas yang bernada
merendahkan pemahaman, cara berpikir, dan
kekuatan penguasaannya terhadap suatu masalah.
Sesungguhnya salah satu faktor paling signifikan
yang dapat memicu rasa benci dan dengki antara
sahabat adalah kebiasaan berselisih/berbantah-
bantahan yang seringkali tanpa didasari oleh
ketulusan dalam upaya mencari kebenaran.
Perselisihan juga terkadang menjebak keduanya
dalam pembicaraan mengenai masalah yang
masih samar, tanpa dalih argumen yang jelas.
Perselisihan juga mendorong salah seorang di
antara kedua sahabat tersebut terus berbicara,
kendati tiada hasil yang dicapai, selain
memperburuk hubungan dan mengubah sikap.
Sabda Rasulullah :
َّنِإ َضَغْبَأ ِلاَجِّرلا ىَلِإ ِهَّللا
ُّدَلَأْلا ُمِصَخْلا
“Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh
Allah adalah orang yang sangat keras kepala dan
suka membantah ” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i,
Tirmidzi, Ahmad)
اَم َّلَض ٌمْوَق َدْعَب ىًدُه اوُناَك
ِهْيَلَع اَّلِإ اوُتوُأ َلَدَجْلا
“Tiada kaum yang menjadi sesat setelah mendapat
petunjuk kecuali karena mereka suka saling
berbantah-bantahan ” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu
Majah)
اَنَأ ٌميِعَز ٍتْيَبِب يِف ِضَبَر
ِةَّنَجْلا ْنَمِل َكَرَت َءاَرِمْلا
ْنِإَو َناَك اًّقِحُم
“Aku adalah penghulu (kepala) rumah di taman
surga – yang diperuntukkan – bagi orang-orang
yang menghindari perdebatan (perselisihan) ,
sekalipun dalam posisi yang benar ” (HR. Abu
Dawud)
e. Kritikan keras yang melukai perasaan
Salah satu faktor yang dapat merusak suasana
pembicaraan dan hubungan ukhuwah adalah
menyerang dengan kritikan bernada keras atau
kritikan yang tidak argumentatif. Seperti ungkapan :
“ Semua yang kamu katakan adalah salah, tidak
memiliki dalil yang menguatkan.” Atau : “Kamu
berseberangan dengan saya.”
Jika antum seorang yang beretika baik, seharusnya
yang antum katakan adalah : “Beberapa sisi dalam
pendapatmu itu perlu dipertimbangkan lagi”,
“Menurut hemat saya….”, “Saya mempunyai ide
lain, harap antum menyimaknya dan memberi
penilaian ”, dan ungkapan-ungkapan serupa
lainnya.
3. Sikap Acuh/tidak care atau cuek
Ukhuwah yang tidak dihiasi dengan kehangatan
perasaan dan gejolak rindu, adalah ukhuwah yang
kering. Ia akan segera gugur dan luntur.
Imam Ahmad dalam bukunya az-Zuhd dan Ibnu
Abi Dunya dalam bukunya al-Ikhwan,
menceritakan bahwa pada suatu malam Umar bin
Khaththab teringat kepada seorang sahabatnya,
dan ia terus bergumam lirih : “Mengapa malam ini
terasa begitu panjang.” Maka setelah menunaikan
shalat Subuh, Umar segera menemui sahabatnya
itu dan memeluknya dengan erat.
Subhanallah …..Itulah perasaan yang membuat
seseorang merindukan saudaranya, sehingga
berangan-angan agar tidak berpisah darinya, baik
di dunia maupun di akhirat.
Berempati atas semua musibah dan penderitaan
yang dialami saudara atau sahabat serta
memperhatikan keperluan-keperluannya
merupakan salah satu hal yang bisa mempererat
ukhuwah. Seorang ulama salaf berkata : “Jika
seekor lalat hinggap di tubuh sahabatku, aku
benar-benar tidak bisa tinggal diam (Abu Hayyan
at-Tauhidi, al-Mukhtar minash Shadaqah wash-
Shadiq, hlm. 143).
Perasaan yang tulus juga akan mendorong
seseorang untuk mendoakan sahabatnya ketika
berpisah dan menyebut namanya dalam waktu-
waktu terkabulnya do ’a.
Sabda Rasulullah :
“Doa seorang muslim untuk kebaikan saudaranya
yang dilakukan dari kejauhan, niscaya akan
dikabulkan ”. (HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad)
4. Mengadakan Pembicaraan Rahasia
اَمَّنِإ ىَوْجَّنلا َنِم ِناَطْيَّشلا
َنُزْحَيِل َنيِذَّلا اوُنَمَآ
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah
dari setan, agar orang-orang yang beriman itu
berduka cita ” (Al-Mujadilah : 10)
Dalam riwayat Ibnu ‘Umar ra dinyatakan bahwa
Rasulullah saw bersabda :
اَذِإ ْمُتْنُك ًةَثاَلَث اَلَف ىَجاَنَتَي
ِناَنْثا َنوُد ِثِلاَّثلا اَّلِإ
ِهِنْذِإِب َّنِإَف َكِلَذ ُهُنِزْحُي
“Jika kamu bertiga, maka janganlah dua di antara
kamu membuat pembicaraan rahasia , kecuali jika
orang ketiga mengizinkan, karena perbuatan itu
dapat membuatnya sedih ”. (Ahmad)
5. Keras kepala, enggan menerima nasihat dan
saran
Sikap keras kepala dan enggan mnerima nasihat,
membuat seorang sahabat merasakan adanya
dinding pemisah antara diri antum dan dirinya. Ia
merasa sulit untuk terbuka dalam setiap
pembicaraan dengan antum, bahkan -mungkin-
menganggapmu sombong.
Rasulullah saw sering didatangi oleh para sahabat
dan istri-istri beliau untuk memberikan ide dan
saran dalam berbagai hal. Beliau mau menerima
dan menuruti saran mereka dengan senang hati,
sekalipun dalam bentuk pernyataan keberatan,
kritik, atau sekedar pertanyaan.
6. Sering membantah, berbeda sikap dan bersikap
sombong dan kasar
Untuk menambah kehangatan ukhuwah, dua
orang yang bersahabat mesti memiliki beberapa
kesamaan sifat, kebiasaan, dan watak. Pepatah
mengatakan : “Burung-burung bergerombol
dengan sesama jenisnya.”
Malik bin Dinar berkata : “Dua insan tidak akan
terikat dalam jalinan ukhuwah, kecuali jika masing-
masing memiliki sifat yang sama dengan
sahabatnya. ”
Karena itu, betapa banyak orang yang berjumpa
sekilas dalam perjalanan, kemudian berubah
menjadi teman yang sangat dekat. Hal tersebut
biasa terjadi karena antum menemukan beberapa
kesamaan perasaan, kesenangan, pemahaman,
dan ide.
Di antara faktor yang dapat menambah keakraban
ukhuwah sekaligus menjaganya dari kehancuran
adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan
beberapa kebiasaan sahabat. Sebaliknya, sering
berseberangan dengan sahabat dapat mengurangi
keakraban. Tetapi tentunya semua itu dilakukan
dengan syarat tidak melanggar aturan syari’at
agama.
Terhadap saudara atau sahabat, kita juga harus
bersikap lembut dan tidak sombong. Anas bin
Malik, pelayan Rasulullah saw pernah menceritakan
tentang kelemah-lembutan Rasulullah. Kata beliau :
“ Aku menjadi pelayan Rasulullah saw selama 10
tahun, dan selama itu beliau tidak pernah
mengeluh atau mengomentari pekerjaanku, seperti
mengatakan, ‘Kenapa kamu lakukan ini?’, juga tidak
pernah berkomentar ketika aku tidak melakukan
sesuatu, seperti mengatakan ‘Kenapa kamu tidak
melakukan ini?’.
7. Memberi teguran di depan orang lain
Salah satu hak ukhuwah terhadap saudara kita
adalah memberi nasihat apabila ia melakukan
kemungkaran, maksiat atau kesalahan, dengan
tujuan agar ia kembali pada kebenaran sekaligus
terhindar dari ancaman kemurkaan dan siksa Allah
SWT.
Namun demikian, nasihat tidak boleh dilakukan
secara terbuka di tengah keramaian umum, kecuali
dengan alasan yang mendesak, karena merupakan
sifat manusia, dia tidak suka jika keburukan-
keburukan nya dibuka di depan umum. Lebih dari
itu, menasihati atau menyebut kesalahan
seseorang di muka umum merupakan penyebab
cepat pudarnya rasa cinta dan mudah tertananam
bibit-bibit permusuhan karena merasa dicemarkan
dan dihina, juga dapat menimbulkan sifat keras
kepala dan nafsu untuk membalas dendam.
Lain halnya bila seseorang dikritik atau dinasihati
dalam keadaan menyendiri, ia akan lebih
menerima, mampu memahami permasalahan
dengan jelas, dan tertarik kepadamu karena
merasa telah diberi pertolongan dan diingatkan
akan kesalahan yang telah dilakukan.
Terkadang ada orang yang memberi nasihat ingin
melihat hasil dari usahanya secepat kilat, sehingga
berharap agar orang yang dinasihatinya berubah
seketika. Jika tidak demikian, ia berasumsi bahwa
nasihatnya telah gagal, atau terus berupaya
menekan orang yang dinasihati, sehingga lebih
mirip sebuah pemaksaan kehendak daripada
menasihati. Ia juga beranggapan bahwa orang
yang dinasihati itu tidak mengerti nasihat yang
diberikannya, atau belum menerima nasihat itu.
Pandangan seperti itu adalah tidak benar, karena
sudah menjadi tabiat umum manusia, mereka
enggan mengakui kesalahan secara langsung,
melainkan membutuhkan rentang waktu untuk
berpikir, atau mencari kesempatan untuk kembali.
8. Sering menegur, tidak toleran dan cenderung
negative thinking serta enggan memaafkan
Sikap sering menegur dan menekan sahabat dapat
mengakibatkan terpuruknya tali ukhuwah, karena
sahabatmu beranggapan bahwa Anda tidak dapat
menerima kekurangannya sekecil apapun, atau
menganggapmu selalu diliputi prasangka buruk
terhadapnya. Jika Anda terus menggunakan cara
bergaul seperti ini, tentu Anda tidak akan
mendapatkan seorang sahabat yang bebas dari
kekurangan. Artinya, Anda tidak akan pernah bisa
menjalin ukhuwah.
Dalam memilih teman atau sahabat, kita perlu
menentukan kriteria ideal, misal : akhlaqnya bagus,
karena kita memang dianjurkan untuk bergaul
dengan orang-orang yang shalih. Akan tetapi perlu
diingat juga bahwa tidak ada sahabat yang bebas
dari kekurangan, sebagaimana Anda pun tidak
lepas dari kekurangan. Maka terimalah
kekurangannya sebagaimana ia menerima
kekuranganmu. Fudhail bin ‘Iyadh berucap : “Siapa
mencari sahabat tanpa cacat, niscaya sepanjang
hidupnya tidak mendapat sahabat. ”
Salah satu ciri ukhuwah yang tulus lainnya adalah
suka memaafkan dan lapang dada terhadap
kesalahan. Hasan bin Wahb berkata : Di antara hak-
hak ukhuwah adalah memaafkan kesalahan
sahabat dan terbuka atas segala
kekurangannya. ”Suatu kesalahan yang dilakukan
oleh sahabat tidak boleh menjadi alasan untuk
menjauhi atau putus darinya. Rasulullah saw
bersabda :
َسْيَل ُلِصاَوْلا ِئِفاَكُمْلاِب
ْنِكَلَو ُلِصاَوْلا يِذَّلا اَذِإ
ْتَعِطُق ُهُمِحَر اَهَلَصَو
“Penyambung persaudaraan bukanlah orang yang
membalas kebaikan yang pernah diterimanya,
namun penyambung persaudaraan adalah yang
diputus hubungannya, lalu dia menyambungnya
kembali. ” (Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi)
Dalam untaian bait puisinya, Imam Syafi’i berkata :
Ketika aku memaafkan dan tidak menyimpan iri di
hati # Jiwaku tenteram bebas dari tekanan rasa
permusuhan
Kuucapkan salam di saat berjumpa lawan # Agar
manahan bibit permusuhan
Dengan ucapan salam # Kutampakkan wajah
berseri kepada orang yang kubenci
Seakan berbunga hatiku penuh kecintaan #
Manusia adalah penyakit
Penawarnya dengan cara mendekati # Jika
menjauhi berarti mengabaikan cinta sejati
Jika sahabatmu menyakiti atau berbuat kesalahan
kepadamu, maka sikapilah dengan lapang dada
dan maafkanlah jika sanggup memafkannya
dengan penuh ketulusan. Namun jika tidak,
tegurlah dengan baik, seperti yang dianjurkan oleh
Abu Darda ’ ra : “menegur saudaramu atasa
kesalahannya adalah lebih baik, daripada harus
berpisah. Adakah yang sanggup menunjukkan
kepadamu seorang sahabat yang sempurna ?”
9. Mudah percaya hasutan orang-orang yang
mendadu domba dan memendam dengki
Merupakan kesalahan besar jika Anda mudah
mempercayai isu yang berkembang mengenai
sahabatmu, atau menuduhnya telah melakukan
perbuatan yang menyakitkan, hanya berdasarkan
kepada kabar burung dan isu yang diterima.
Waspadalah, karena banyak orang yang dengki
kepada orang-orang yang terikat dalam jalinan
ukhuwah. Para pendengki tersebut mempunyai
kecemburuan yang sangat tinggi. Mereka tidak
suka melihat hubungan tulus yang begitu kuat
mengikat hubungan orang2 yang bersahabat,
mereka tidak tenang selama tali ukhuwah tersebut
belum tercerai-berai.
Oleh karena itulah, orang2 yang dipertemukan oleh
Allah SW dalam sebuah jalinan ukhuwah harus
yakin bahwa satu sama lainnya saling mencintai
karena Allah, saling mencintai dengan penuh
ketulusan yang muncul dari nurani yang paling
dalam. Dengan demikian, sekuat apapun para
pendengki memusuhi, tetap tidak akan mampu
menggoyahkan kokohnya konstruksi ukhuwah.
Firman Allah SWT :
َفَّلَأَو َنْيَب ْمِهِبوُلُق ْوَل
َتْقَفْنَأ اَم يِف ِضْرَأْلا اًعيِمَج اَم
َتْفَّلَأ َنْيَب ْمِهِبوُلُق َّنِكَلَو
َهَّللا َفَّلَأ ْمُهَنْيَب ُهَّنِإ
ٌزيِزَع ٌميِكَح
“dan -Allah- yang mempersatukan hati mereka
(orang-orang yang beriman)[622]. walaupun kamu
membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di
bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan
hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan
hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi
Maha Bijaksana ”.(Al Anfal : 63)
10. Membuka Rahasia
Salah satu faktor yang dapat mempertahakankan
ukhuwah adalah menjaga rahasia sahabat agar
tidak tersebar. Rasulullah saw bersabda :
اَذِإ َثَّدَح ُلُجَّرلا ِثيِدَحْلاِب
َّمُث َتَفَتْلا َيِهَف ٌةَناَمَأ
“Jika seseorang diberitahu oleh sahabatnya
mengenai suatu hal, lalu ia pergi, maka hal tersebut
telah menjadi amanat (rahasia yang harus dijaga)
baginya. ” (Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad)
Sebagian ulama membuat ilustrasi mengenai
sahabat yang membawa malapetaka jika dekat
dengannya, yaitu orang yang jika dekat, ia
berusaha mengetahui rahasia, mengumpulkan
data-data yang berhubungan dengan kita,
memperhatikan kesalahan dan kekurangan,
menghitung kesalahan-kesalahan kecil yang tidak
disengaja, menghafal saat-saat kita tergelincir
ucapan atau perbuatan spontan dalam keadaan
biasa maupun sedang marah, atau di dalam
pembicaraan terbuka dan lepas yang siapapun sulit
terhindar dari kelalaian, kemudian ia menjadikan
semua itu sebagai senjata untuk menjatuhkan
sahabtanya di kala terjadi perselisihan ”. Semoga
kita semua terhindar menjadi sosok sahabat yang
seperti ini. Naudzubillah mindzalik.
11. Mengikuti prasangka
Mempunyai prasangka bahwa sahabatmu
menyembunyikan sesuatu darimu juga dapat
menyakitinya. Apalagi jika Anda sudah
membangun sikap-sikap tertentu berdasarkan
prasangka tersebut. Selain bisa menyakitinya, hal
ini juga betul-betul akan menyakiti dirimu sendiri,
karena prasangka buruk dapat merusak ketulusan
perasaan hatimu terhadapnya.
Oleh karena itu, ketulusan hati dan prasangka baik
(husnuzhzhan) merupakan salah satu faktor yang
dapat mempertahankan hubungan ukhuwah.
Dengan alasan tersebut Allah dan Rasul-Nya
melarang kita berburuk sangka (su ’udzdzan) dan
mengikutinya.
اَي اَهُّيَأ َنيِذَّلا اوُنَمَآ
اوُبِنَتْجا اًريِثَك َنِم ِّنَّظلا َّنِإ
َضْعَب ِّنَّظلا ٌمْثِإ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa. ” ( Al-Hujuraat :
12)
Sabda Rasulullah :
ْمُكاَّيِإ َّنَّظلاَو َّنِإَف َّنَّظلا
ُبَذْكَأ ِثيِدَحْلا
“Hindarilah prasangka (buruk), karena prasangka
(buruk) adalah ucapan yang paling
dusta. ” (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)
Prasangka buruk dapat mendorong kepada
perbuatan tajassus (mencari-cari kesalahan) yang
dilarang oleh agama. Juga dapat mendorong untuk
menjelek-jelekkan sahabat. Betapa jauh dari cinta
dan makna ukhuwah, orang yang jika marah
terhadap sahabatnya, ia langsung berprasangka
buruk atau mengejeknya di hadapan orang lain.
12. Mencampuri masalah pribadi
Termasuk dalam hal mencampuri urusan pribadi
adalah mencari-cari kesalahan, mencuri
pendengaran, serta turut campur dalam masalah
yang tidak ada gunanya bagi kita.
Sabda Rasulullah :
اَلَو اوُسَّسَحَت اَلَو اوُسَّسَجَت اَلَو
اوُدَساَحَت اَلَو اوُرَباَدَت اَلَو
اوُضَغاَبَت اوُنوُكَو َداَبِع ِهَّللا
اًناَوْخِإ
“Jangan mencari-cari kesalahan (tajassus), mencuri
pendengaran (tahassus), saling bermusuhan dan
saling menjauhi. Jadilah hamba-hamba Allah yang
bersaudara. ” (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)
ْنِم ِنْسُح ِماَلْسِإ ِءْرَمْلا ُهُكْرَت
اَم اَل ِهيِنْعَي
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah
meninggalkan hal-hal yang tidak berguna
baginya. ” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
Dalam sirah sahabat Nabi dikisahkan, ada seorang
sahabat Nabi yang sakit. Ketika para sahabat dan
kerabat menjenguknya, mereka merasa heran
ketika melihat wajah sahabat yang sakit tersebut
begitu ceria. Lalu mereka bertanya mengenai sebab
keceriaannya. Ia menjawab : “ Ada dua amalan
yang benar-benar kuyakini pahalanya sangat
besar, yaitu aku tidak pernah berbicara mengenai
hal-hal yang tidak berguna, dan hatiku bersih dai
segala perasaan kotor terhadap sesama kaum
muslim. ”
13. Egois, arogan, tidak berempati dengan
penderitaan saudara dan tidak memperhatikan
masalah serta kebutuhannya
Suatu pelajaran yang indah dapat kita petik dari
cerita Harun bin Abdillah ra ketika ia berkata : “Pada
suatu saat, Ahmad bin Hambal mengunjungiku di
tengah malam. Kudengar pintu diketuk, maka aku
bertanya : “Siapa di luar sana ?” Ia menjawab :
“Aku, Ahmad”. Segera kubuka pintu dan
menyambutnya. Aku mengucapkan salam dan ia
pun demikian. Lalu aku bertanya : “Keperluan
apakah yang membawamu kemari?” Ahmad
menjawab : “Siang tadi, sikapmu mengusik
hatiku.” Aku bertanya : “Masalah apakah yang
membutmu terusik, wahai Abu Abdillah?” Ahmad
menjawab : “Siang tadi aku lewat di samping
halaqoh-mu, ketika engkau sedang mengajar
murid-muridmu, engkau duduk di bawah bayang-
bayang pohon sedangkan murid-muridmu secara
langsung terkena terik matahari dengan tangan
memegang pena dan catatan. Jangan kau ulangi
perbuatan itu di kemudian hari. Jika engkau
mengajar maka duduklah dalam kondisi yang
sama dengan murid-muridmu. ”
Dalam kisah di atas, setidaknya ada dua catatan
yang layak direnungkan.
1. yang bercerita bukan pihak yang memberi
nasihat, melainkan orang yang dinasihati dan ia
tergugah dengan nasihat tersebut,
2. kelembutan dan kehalusan gaya nasihat Imam
Ahmad. Ia menyampaikannya secara sembunyi di
tengah malam, dengan menggunakan kata-kata
“ Sikapmu mengusik hatiku”, benar-benar suatu
ungkapan yang lembut. Ia tidak mengatakan,
misalnya “Kamu telah menyakiti manusia….”
Faktor lain yang dapat memperkokoh ukhuwah
adalah berempati terhadap penderitaan saudara
dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan nya.
Sabda Rasulullah :
ْنَمَو َناَك يِف ِةَجاَح ِهيِخَأ َناَك
ُهَّللا يِف ِهِتَجاَح ْنَمَو َجَّرَف ْنَع
ٍمِلْسُم ًةَبْرُك َجَّرَف ُهَّللا ُهْنَع
ًةَبْرُك ْنِم ِتاَبُرُك ِمْوَي
ِةَماَيِقْلا ْنَمَو َرَتَس اًمِلْسُم
ُهَرَتَس ُهَّللا َمْوَي ِةَماَيِقْلا
“Siapa yang mencukupi kebutuhan saudaranya,
niscaya Allah mencukupi kebutuhannya Siapa yang
menolong seorang mukmin dari suatu kesusahan,
niscaya Allah akan menolongnya dari salah satu
kesusahan pada hari kiamat. Siapa yang menutupi
aib seorang muslim, niscaya Allah menutupi
aibnya pada hari kiamat. ” (HR. Bukhari, Muslim,
Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad)
Dalam hal mencukupi kebutuhan saudara kita;
- Skala paling rendah adalah sebatas mencukupi
kebutuhannya ketika diminta dan kita mampu, dan
bantuan tersebut diberikan dengan syarat hati
merasa senang dan bahagia.
- Skala pertengahan adalah mencukupi
kebutuhannya tanpa ia minta.
- Skala yang tertinggi adalah mengutamakan
kebutuhan saudara kita daripada kebutuhan kita
sendiri.
Sahabat di saat senang selalu banyak jumlahnya #
namun ketika susah hanya sedikit yang tersisa
Maka jangan terpedaya dengan kebaikan seorang
sahabat # namun ketika musibah menimpa tiada
yang mengiba
Semua sahabat menyatakan dirinya setia # namun
tidak semua berbuat seperti ucapannya
Kecuali sahabat yang penuh derma dan taat agama
# itulah sahabat yang berbuat sama dengan kata-
katanya
14. Menutup diri, berlebihan, membebani dan
menghitung-hitung kebaikan
Jika Anda ingin membuat hati seorang sahabat
menjadi senang dan bersikap terbuka apa adanya,
maka hindarilah menutup diri dan jangan
membuatnya merasa terbebani, jangan
menghitung-hitung kebaikannya kepadamu,
jangan memberatkannya agar melayanimu, dan
bersikaplah rendah hati.
Dalam hal ini, cara pandang yang paling baik
adalah kamu menganggap dirimu lebih layak
melayani daripada dilayani, dengan demikian kamu
cenderung menganggap dirimu sebagai pelayan.
Barangkali Umar bin Khaththab adalah sosok yang
bisa dijadikan contoh. Beliau berbuat baik kepada
siapa saja, tidak hanya sahabat dekat, melainkan
juga budak-budaknya.
Menurut Aslam, salah seorang pelayan Umar, pada
suatu malam terkejut mendapati Umar sedang
mengurus kuda-kuda pelayannya dan kudanya
sendiri, seraya melantunkan puisi :
Jangan biarkan malam ini membuat hatimu resah
# Hiasilah ia dengan sehelai baju dan sorban
Jadilah sahabat baik bagi Naif dan Aslam #
Layanilah mereka
15. Enggan mengungkapkan perasaan cinta,
enggan membela sahabat ketiak aibnya disebut
Tentang menyatakan cinta pada saudara Rasulullah
bersabda:
“Jika seorang di antara kamu mencintai saudarnya
karena Allah, maka kabarkanlah kepadanya, karena
hal itu dapat mengekalkan keakraban dan
memantapkan cinta. ”
Di antara hak ukhuwah adalah membela dan
mempertahankan nama baik sahabat. Rasulullah
bersabda :
ُمِلْسُمْلا وُخَأ ِمِلْسُمْلا اَل
ُهُمِلْظَي اَلَو ُهُمِلْسُي
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim
yang lain, tidak boleh menzhalimi dan
menyerahkannya. ” (Bukhari, Ahmad)
16. Melupakannya karena sibuk mengurusi orang
lain dan kurang setia
Di antara gambaran akhlaq buruk dalam
berukhuwah adalah ketika kita mendapatkan
seorang sahabat baru lantas meninggalkan sahabat
yang telah kita kenal dalam jangka waktu lama.
Salah satu penyebab kekecewaan sahabat adalah
ketika ia berusaha sekuat tenaga untuk dekat
denganmu dan selalu mengutamakanmu dari
siapapun juga, ia justru mendapatimu tidak setia
dan tidak menghargainya.
Tidak setia terhadap sahabat juga dapat
memutuskan tali ukhuwah. Tanda-tanda kesetiaan
terhadap sahabat di antaranya adalah :
- berdoa untuknya dari kejauhan, baik selama ia
hidup atau setelah kematiannya, berbuat baik
kepada orang yang dicintainya juga keluarganya.
- konsiten dengan sikap tawadhu’ (rendah hati)
terhadap sahabat, sekalipun kedudukan ataupun
ilmu Anda lebih tinggi darinya.
17. Mengingkari janji dan kesepakatan tanpa alasan
yang jelas
Sifat buruk ini akan menumbuhkan anggapan
dalam diri sahabat Anda bahwa Anda tidak
memperhatikannya, karena orang yang
mengingkari janji atau kesepakatan berarti telah
meninggalkan sesuatu yang dianggap kurang
penting demi meraih sesuatu yang dianggap lebih
pening. Alasan ini sudah cukup kuat untuk
membuat sahabatmu sedih, menodai cinta dan
merusak ukhuwah.
18. Selalu menceritakan perkara yang menyedihkan
dan suka menyampaikan berita yang membuat
resah
Ibnu Hazm ra bekata : “Jangan sampaikan
beritayang membuat saudaramu sedih atau tidak
bermanfaat baginya, karena itu adalah perbuatan
orang-orang kerdil. Dan jangan menyembunyikan
berita yang bisa membahayakannya jika ia tidak
tahu, karena itu merupakan pekerjaan orang-orang
jahat. ”
Yahya bin Mu’adz berkata : “Jadikanlah tiga hal
berikut ini sebagai sikapmu terhadap orang-orang
mukmin; jika tidak bisa memberi manfaat, maka
jangan membahayakannya; jika tidak bisa
membahagiakannya, maka jangan membuatnya
sedih; Jika tidak memujinya, maka jangan
mencacinya. ”
19. Terlalu cinta
Maksudnya adalah menghindari hal-hal yang
berlebihan, seprti ketergantungan atau rasa suka
terhadap sahabat, membebani diri dengan beban
yang terlalu berat dalam upaya melayani atau
mendekatinya.
Rasulullah saw bersabda :
“Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa
tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti.
Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin,
siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu
saat nanti. ” (Bukhari, Tirmidzi)
Abul-Aswad berkata :
Cintailah kekasihmu dengan cinta yang sederhana
# Karena kamu tidak tahu kapan ia menjauhimu
Jika harus benci, maka bencilah # Tapi jangan
menjauhi
Karena kamu tidak tahu # Kapan harus kembali
Mencintai sahabat secara berlebihan malah akan
melemahkan persahabatan. Lebih baik cinta yang
terus merangkak namun menanjak daripada cinta
yang melonjak namun lekas surut. Namun
demikian, jadikanlah cintamu kepada sahabat lebih
besar dari cintanya kepadamu, agar mendapat
fadhilah (keutamaan) dari Allah melalui sabda
Rasul-Nya :
“Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena
Allah, kecuali orang yang lebih besar cintanya
adalah yang lebih utama di antara
keduanya. ” (Bukhari)
Jadikan tulisan dalam buku ini sebagai bahan
instrospeksi, menilai diri sendiri untuk memperbaiki
kadar ukhuwah dan menunaikan hak ukhuwah
saudaraku. Jangan jadikan tulisan dalam buku ini
sebagai bahan untuk menilai sahabat-sahabat
Anda, karena jika itu dilakukan, Anda pasti akan
lebih memilih untuk ‘uzlah atau menyendiri.
Wallahu’alam.
Tuesday, March 23, 2010 6:08:55 AM
Abu ‘Ashim Hisyam bin Abdul Qadir ‘Uqdah
Mencintai sesama mukmin dan mengikat tali
ukhuwah (persaudaraan) merupakan suatu
perbuatan yang amat mulia dan sangat penting.
Allah SWT menyatakan persaudaraan sebagai sifat
kaum mukminin dalam kehidupan di dunia dan di
akhirat, seperti dalam firman-Nya :
اَمَّنِإ َنوُنِمْؤُمْلا ٌةَوْخِإ
اوُحِلْصَأَف َنْيَب ْمُكْيَوَخَأ
اوُقَّتاَو َهَّللا ْمُكَّلَعَل
َنوُمَحْرُت
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah
bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya
kamu mendapat rahmat ” (Al Hujuraat : 10)
Persaudaraan yang terjalin di antara kaum mukmin
sesungguhnya merupakan anugrah nikmat yang
sangat besar dari Allah SWT. Sebagaimana firman-
Nya :
اوُرُكْذاَو َةَمْعِن ِهَّللا ْمُكْيَلَع
ْذِإ ْمُتْنُك ًءاَدْعَأ َفَّلَأَف َنْيَب
ْمُكِبوُلُق ْمُتْحَبْصَأَف ِهِتَمْعِنِب
اًناَوْخِإ
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika
kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan,
maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang
yang bersaudara ” ( Ali Imran : 103)
َوُه يِذَّلا َكَدَّيَأ ِهِرْصَنِب
َنيِنِمْؤُمْلاِبَو . َفَّلَأَو َنْيَب
ْمِهِبوُلُق ْوَل َتْقَفْنَأ اَم يِف
ِضْرَأْلا اًعيِمَج اَم َتْفَّلَأ َنْيَب
ْمِهِبوُلُق َّنِكَلَو َهَّللا َفَّلَأ
ْمُهَنْيَب ُهَّنِإ ٌزيِزَع ٌميِكَح
“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-
Nya dan dengan para mu’min, dan yang
mempersatukan hati mereka (orang-orang yang
beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua
(kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu
tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan
tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka ” ( Al-
Anfaal : 62-63)
Seiring perjalanan waktu, tali ukhuwah yang telah
terjalin terkadang bisa mengendur, bahkan putus
sama sekali dikarenakan virus-virus yang
berjangkit di hati, antara lain :
1. Tamak akan kenikmatan dunia
Banyak kasus dua orang sahabat yang saling
mencintai dengan tulus sehingga masing-masing
merasa berat untuk berpisah dari kawannya, tiba-
tiba sikap mereka berubah ketika tergiur dengan
gemerlap dunia dan berlomba-lomba untuk
mendapatkannya. Apa yang akan kita lakukan
seandainya ada peluang rizki di mana kita dan
saudara kita sama-sama membutuhkan? Sering
terjadi dua orang sahabat saling bersaing, saling
jegal demi mendapatkan satu pekerjaan. Di sinilah
sifat itsar (mendahulukan saudara) kita diuji.
Sebaik-sebaik sifat itsar adalah yang seperti
dilakukan oleh kaum Anshar terhadap kaum
Muhajirin sebagaimana diabadikan dalam Al Hasyr :
9 berikut ini.
َنيِذَّلاَو اوُءَّوَبَت َراَّدلا
َناَميِإْلاَو ْنِم ْمِهِلْبَق َنوُّبِحُي
ْنَم َرَجاَه ْمِهْيَلِإ اَلَو َنوُدِجَي
يِف ْمِهِروُدُص ًةَجاَح اَّمِم اوُتوُأ
َنوُرِثْؤُيَو ىَلَع ْمِهِسُفْنَأ ْوَلَو
َناَك ْمِهِب ٌةَصاَصَخ ْنَمَو َقوُي َّحُش
ِهِسْفَن َكِئَلوُأَف ُمُه َنوُحِلْفُمْلا
“Dan orang-orang yang telah menempati Kota
Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum
(kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai
orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka
tiada menaruh keinginan dalam hati mereka
terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka
(orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan
(orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri.
Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka
berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran
dirinya, mereka itulah orang-orang yang
beruntung ” (Al-Hasyr:9)
2. Tidak santun dalam berbicara
Hal ini merupakan pintu yang paling leluasa bagi
setan untuk masuk menebar bibit-bibit perselisihan
dan permusuhan di antara sahabat. Banyak yang
beranggapan, hubungan istimewa yang terjalin
dengan sahabatnya membebaskannya dari tutur
kata yang sopan.
Contoh gaya bicara kepada saudara kita yang
harus dihindari adalah :
a. Berbicara dengan nada suara tinggi dan
menggunakan kata-kata kasar
Di dalam Al Qur’an, Allah mengisahkan wasiat
Luqman dalam mendidik anaknya :
ْضُضْغاَو ْنِم َكِتْوَص َّنِإ َرَكْنَأ
ِتاَوْصَأْلا ُتْوَصَل ِريِمَحْلا
“Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (Luqman :
19).
Ali bin Abu Thalib berkata : “barangsiapa lembut
tutur atanya, niscaya manusia suka dengannya”.
b. Tida k mendengar saran saudaranya, enggan
menatap ketika berbicara atau memberi salam,
tidak menghargai keberadaannya.
Seorang ulama salaf berkata : “Ada orang yang
memberitahuku tentang suatu hadits, padahal saya
telah mengetahuinya sebelum ia dilahirkan, namun
kesopanannya mendorongku untuk tetap
mendengarnya hingga selesai. ”
Kemuliaan akhlak Rasulullah membawa beliau
untuk tetap mndengar dan tidak memotong kata-
kata seorang musyrik bernama ‘Utbah. Ketika
berhenti, Rasulullah bertanya kepadanya : “Apakah
engkau sudah selesai, hai Abul-Walid (panggilan
‘ Utbah)?”
c. Bercanda secara berlebihan
Canda ringan dalam batas kesopanan dan tidak
keluar dari ruang lingkup yang benar akan
menambah kelenturan dan kehangatan hubungan
ukhuwah. Sebaliknya, canda yang berlebihan dan
melampaui batas kesopanan akan mempercepat
kehancuran ukhuwah.
d. Sering mendebat dan membantah
Sering mendebat dan membantah diikuti oleh
dampak begatif lainnya seperti menganggap
unggul ide, sering mengkritik ide sahabat, sok
tahu, menggunakan kata-kata pedas yang bernada
merendahkan pemahaman, cara berpikir, dan
kekuatan penguasaannya terhadap suatu masalah.
Sesungguhnya salah satu faktor paling signifikan
yang dapat memicu rasa benci dan dengki antara
sahabat adalah kebiasaan berselisih/berbantah-
bantahan yang seringkali tanpa didasari oleh
ketulusan dalam upaya mencari kebenaran.
Perselisihan juga terkadang menjebak keduanya
dalam pembicaraan mengenai masalah yang
masih samar, tanpa dalih argumen yang jelas.
Perselisihan juga mendorong salah seorang di
antara kedua sahabat tersebut terus berbicara,
kendati tiada hasil yang dicapai, selain
memperburuk hubungan dan mengubah sikap.
Sabda Rasulullah :
َّنِإ َضَغْبَأ ِلاَجِّرلا ىَلِإ ِهَّللا
ُّدَلَأْلا ُمِصَخْلا
“Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh
Allah adalah orang yang sangat keras kepala dan
suka membantah ” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i,
Tirmidzi, Ahmad)
اَم َّلَض ٌمْوَق َدْعَب ىًدُه اوُناَك
ِهْيَلَع اَّلِإ اوُتوُأ َلَدَجْلا
“Tiada kaum yang menjadi sesat setelah mendapat
petunjuk kecuali karena mereka suka saling
berbantah-bantahan ” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu
Majah)
اَنَأ ٌميِعَز ٍتْيَبِب يِف ِضَبَر
ِةَّنَجْلا ْنَمِل َكَرَت َءاَرِمْلا
ْنِإَو َناَك اًّقِحُم
“Aku adalah penghulu (kepala) rumah di taman
surga – yang diperuntukkan – bagi orang-orang
yang menghindari perdebatan (perselisihan) ,
sekalipun dalam posisi yang benar ” (HR. Abu
Dawud)
e. Kritikan keras yang melukai perasaan
Salah satu faktor yang dapat merusak suasana
pembicaraan dan hubungan ukhuwah adalah
menyerang dengan kritikan bernada keras atau
kritikan yang tidak argumentatif. Seperti ungkapan :
“ Semua yang kamu katakan adalah salah, tidak
memiliki dalil yang menguatkan.” Atau : “Kamu
berseberangan dengan saya.”
Jika antum seorang yang beretika baik, seharusnya
yang antum katakan adalah : “Beberapa sisi dalam
pendapatmu itu perlu dipertimbangkan lagi”,
“Menurut hemat saya….”, “Saya mempunyai ide
lain, harap antum menyimaknya dan memberi
penilaian ”, dan ungkapan-ungkapan serupa
lainnya.
3. Sikap Acuh/tidak care atau cuek
Ukhuwah yang tidak dihiasi dengan kehangatan
perasaan dan gejolak rindu, adalah ukhuwah yang
kering. Ia akan segera gugur dan luntur.
Imam Ahmad dalam bukunya az-Zuhd dan Ibnu
Abi Dunya dalam bukunya al-Ikhwan,
menceritakan bahwa pada suatu malam Umar bin
Khaththab teringat kepada seorang sahabatnya,
dan ia terus bergumam lirih : “Mengapa malam ini
terasa begitu panjang.” Maka setelah menunaikan
shalat Subuh, Umar segera menemui sahabatnya
itu dan memeluknya dengan erat.
Subhanallah …..Itulah perasaan yang membuat
seseorang merindukan saudaranya, sehingga
berangan-angan agar tidak berpisah darinya, baik
di dunia maupun di akhirat.
Berempati atas semua musibah dan penderitaan
yang dialami saudara atau sahabat serta
memperhatikan keperluan-keperluannya
merupakan salah satu hal yang bisa mempererat
ukhuwah. Seorang ulama salaf berkata : “Jika
seekor lalat hinggap di tubuh sahabatku, aku
benar-benar tidak bisa tinggal diam (Abu Hayyan
at-Tauhidi, al-Mukhtar minash Shadaqah wash-
Shadiq, hlm. 143).
Perasaan yang tulus juga akan mendorong
seseorang untuk mendoakan sahabatnya ketika
berpisah dan menyebut namanya dalam waktu-
waktu terkabulnya do ’a.
Sabda Rasulullah :
“Doa seorang muslim untuk kebaikan saudaranya
yang dilakukan dari kejauhan, niscaya akan
dikabulkan ”. (HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad)
4. Mengadakan Pembicaraan Rahasia
اَمَّنِإ ىَوْجَّنلا َنِم ِناَطْيَّشلا
َنُزْحَيِل َنيِذَّلا اوُنَمَآ
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah
dari setan, agar orang-orang yang beriman itu
berduka cita ” (Al-Mujadilah : 10)
Dalam riwayat Ibnu ‘Umar ra dinyatakan bahwa
Rasulullah saw bersabda :
اَذِإ ْمُتْنُك ًةَثاَلَث اَلَف ىَجاَنَتَي
ِناَنْثا َنوُد ِثِلاَّثلا اَّلِإ
ِهِنْذِإِب َّنِإَف َكِلَذ ُهُنِزْحُي
“Jika kamu bertiga, maka janganlah dua di antara
kamu membuat pembicaraan rahasia , kecuali jika
orang ketiga mengizinkan, karena perbuatan itu
dapat membuatnya sedih ”. (Ahmad)
5. Keras kepala, enggan menerima nasihat dan
saran
Sikap keras kepala dan enggan mnerima nasihat,
membuat seorang sahabat merasakan adanya
dinding pemisah antara diri antum dan dirinya. Ia
merasa sulit untuk terbuka dalam setiap
pembicaraan dengan antum, bahkan -mungkin-
menganggapmu sombong.
Rasulullah saw sering didatangi oleh para sahabat
dan istri-istri beliau untuk memberikan ide dan
saran dalam berbagai hal. Beliau mau menerima
dan menuruti saran mereka dengan senang hati,
sekalipun dalam bentuk pernyataan keberatan,
kritik, atau sekedar pertanyaan.
6. Sering membantah, berbeda sikap dan bersikap
sombong dan kasar
Untuk menambah kehangatan ukhuwah, dua
orang yang bersahabat mesti memiliki beberapa
kesamaan sifat, kebiasaan, dan watak. Pepatah
mengatakan : “Burung-burung bergerombol
dengan sesama jenisnya.”
Malik bin Dinar berkata : “Dua insan tidak akan
terikat dalam jalinan ukhuwah, kecuali jika masing-
masing memiliki sifat yang sama dengan
sahabatnya. ”
Karena itu, betapa banyak orang yang berjumpa
sekilas dalam perjalanan, kemudian berubah
menjadi teman yang sangat dekat. Hal tersebut
biasa terjadi karena antum menemukan beberapa
kesamaan perasaan, kesenangan, pemahaman,
dan ide.
Di antara faktor yang dapat menambah keakraban
ukhuwah sekaligus menjaganya dari kehancuran
adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan
beberapa kebiasaan sahabat. Sebaliknya, sering
berseberangan dengan sahabat dapat mengurangi
keakraban. Tetapi tentunya semua itu dilakukan
dengan syarat tidak melanggar aturan syari’at
agama.
Terhadap saudara atau sahabat, kita juga harus
bersikap lembut dan tidak sombong. Anas bin
Malik, pelayan Rasulullah saw pernah menceritakan
tentang kelemah-lembutan Rasulullah. Kata beliau :
“ Aku menjadi pelayan Rasulullah saw selama 10
tahun, dan selama itu beliau tidak pernah
mengeluh atau mengomentari pekerjaanku, seperti
mengatakan, ‘Kenapa kamu lakukan ini?’, juga tidak
pernah berkomentar ketika aku tidak melakukan
sesuatu, seperti mengatakan ‘Kenapa kamu tidak
melakukan ini?’.
7. Memberi teguran di depan orang lain
Salah satu hak ukhuwah terhadap saudara kita
adalah memberi nasihat apabila ia melakukan
kemungkaran, maksiat atau kesalahan, dengan
tujuan agar ia kembali pada kebenaran sekaligus
terhindar dari ancaman kemurkaan dan siksa Allah
SWT.
Namun demikian, nasihat tidak boleh dilakukan
secara terbuka di tengah keramaian umum, kecuali
dengan alasan yang mendesak, karena merupakan
sifat manusia, dia tidak suka jika keburukan-
keburukan nya dibuka di depan umum. Lebih dari
itu, menasihati atau menyebut kesalahan
seseorang di muka umum merupakan penyebab
cepat pudarnya rasa cinta dan mudah tertananam
bibit-bibit permusuhan karena merasa dicemarkan
dan dihina, juga dapat menimbulkan sifat keras
kepala dan nafsu untuk membalas dendam.
Lain halnya bila seseorang dikritik atau dinasihati
dalam keadaan menyendiri, ia akan lebih
menerima, mampu memahami permasalahan
dengan jelas, dan tertarik kepadamu karena
merasa telah diberi pertolongan dan diingatkan
akan kesalahan yang telah dilakukan.
Terkadang ada orang yang memberi nasihat ingin
melihat hasil dari usahanya secepat kilat, sehingga
berharap agar orang yang dinasihatinya berubah
seketika. Jika tidak demikian, ia berasumsi bahwa
nasihatnya telah gagal, atau terus berupaya
menekan orang yang dinasihati, sehingga lebih
mirip sebuah pemaksaan kehendak daripada
menasihati. Ia juga beranggapan bahwa orang
yang dinasihati itu tidak mengerti nasihat yang
diberikannya, atau belum menerima nasihat itu.
Pandangan seperti itu adalah tidak benar, karena
sudah menjadi tabiat umum manusia, mereka
enggan mengakui kesalahan secara langsung,
melainkan membutuhkan rentang waktu untuk
berpikir, atau mencari kesempatan untuk kembali.
8. Sering menegur, tidak toleran dan cenderung
negative thinking serta enggan memaafkan
Sikap sering menegur dan menekan sahabat dapat
mengakibatkan terpuruknya tali ukhuwah, karena
sahabatmu beranggapan bahwa Anda tidak dapat
menerima kekurangannya sekecil apapun, atau
menganggapmu selalu diliputi prasangka buruk
terhadapnya. Jika Anda terus menggunakan cara
bergaul seperti ini, tentu Anda tidak akan
mendapatkan seorang sahabat yang bebas dari
kekurangan. Artinya, Anda tidak akan pernah bisa
menjalin ukhuwah.
Dalam memilih teman atau sahabat, kita perlu
menentukan kriteria ideal, misal : akhlaqnya bagus,
karena kita memang dianjurkan untuk bergaul
dengan orang-orang yang shalih. Akan tetapi perlu
diingat juga bahwa tidak ada sahabat yang bebas
dari kekurangan, sebagaimana Anda pun tidak
lepas dari kekurangan. Maka terimalah
kekurangannya sebagaimana ia menerima
kekuranganmu. Fudhail bin ‘Iyadh berucap : “Siapa
mencari sahabat tanpa cacat, niscaya sepanjang
hidupnya tidak mendapat sahabat. ”
Salah satu ciri ukhuwah yang tulus lainnya adalah
suka memaafkan dan lapang dada terhadap
kesalahan. Hasan bin Wahb berkata : Di antara hak-
hak ukhuwah adalah memaafkan kesalahan
sahabat dan terbuka atas segala
kekurangannya. ”Suatu kesalahan yang dilakukan
oleh sahabat tidak boleh menjadi alasan untuk
menjauhi atau putus darinya. Rasulullah saw
bersabda :
َسْيَل ُلِصاَوْلا ِئِفاَكُمْلاِب
ْنِكَلَو ُلِصاَوْلا يِذَّلا اَذِإ
ْتَعِطُق ُهُمِحَر اَهَلَصَو
“Penyambung persaudaraan bukanlah orang yang
membalas kebaikan yang pernah diterimanya,
namun penyambung persaudaraan adalah yang
diputus hubungannya, lalu dia menyambungnya
kembali. ” (Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi)
Dalam untaian bait puisinya, Imam Syafi’i berkata :
Ketika aku memaafkan dan tidak menyimpan iri di
hati # Jiwaku tenteram bebas dari tekanan rasa
permusuhan
Kuucapkan salam di saat berjumpa lawan # Agar
manahan bibit permusuhan
Dengan ucapan salam # Kutampakkan wajah
berseri kepada orang yang kubenci
Seakan berbunga hatiku penuh kecintaan #
Manusia adalah penyakit
Penawarnya dengan cara mendekati # Jika
menjauhi berarti mengabaikan cinta sejati
Jika sahabatmu menyakiti atau berbuat kesalahan
kepadamu, maka sikapilah dengan lapang dada
dan maafkanlah jika sanggup memafkannya
dengan penuh ketulusan. Namun jika tidak,
tegurlah dengan baik, seperti yang dianjurkan oleh
Abu Darda ’ ra : “menegur saudaramu atasa
kesalahannya adalah lebih baik, daripada harus
berpisah. Adakah yang sanggup menunjukkan
kepadamu seorang sahabat yang sempurna ?”
9. Mudah percaya hasutan orang-orang yang
mendadu domba dan memendam dengki
Merupakan kesalahan besar jika Anda mudah
mempercayai isu yang berkembang mengenai
sahabatmu, atau menuduhnya telah melakukan
perbuatan yang menyakitkan, hanya berdasarkan
kepada kabar burung dan isu yang diterima.
Waspadalah, karena banyak orang yang dengki
kepada orang-orang yang terikat dalam jalinan
ukhuwah. Para pendengki tersebut mempunyai
kecemburuan yang sangat tinggi. Mereka tidak
suka melihat hubungan tulus yang begitu kuat
mengikat hubungan orang2 yang bersahabat,
mereka tidak tenang selama tali ukhuwah tersebut
belum tercerai-berai.
Oleh karena itulah, orang2 yang dipertemukan oleh
Allah SW dalam sebuah jalinan ukhuwah harus
yakin bahwa satu sama lainnya saling mencintai
karena Allah, saling mencintai dengan penuh
ketulusan yang muncul dari nurani yang paling
dalam. Dengan demikian, sekuat apapun para
pendengki memusuhi, tetap tidak akan mampu
menggoyahkan kokohnya konstruksi ukhuwah.
Firman Allah SWT :
َفَّلَأَو َنْيَب ْمِهِبوُلُق ْوَل
َتْقَفْنَأ اَم يِف ِضْرَأْلا اًعيِمَج اَم
َتْفَّلَأ َنْيَب ْمِهِبوُلُق َّنِكَلَو
َهَّللا َفَّلَأ ْمُهَنْيَب ُهَّنِإ
ٌزيِزَع ٌميِكَح
“dan -Allah- yang mempersatukan hati mereka
(orang-orang yang beriman)[622]. walaupun kamu
membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di
bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan
hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan
hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi
Maha Bijaksana ”.(Al Anfal : 63)
10. Membuka Rahasia
Salah satu faktor yang dapat mempertahakankan
ukhuwah adalah menjaga rahasia sahabat agar
tidak tersebar. Rasulullah saw bersabda :
اَذِإ َثَّدَح ُلُجَّرلا ِثيِدَحْلاِب
َّمُث َتَفَتْلا َيِهَف ٌةَناَمَأ
“Jika seseorang diberitahu oleh sahabatnya
mengenai suatu hal, lalu ia pergi, maka hal tersebut
telah menjadi amanat (rahasia yang harus dijaga)
baginya. ” (Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad)
Sebagian ulama membuat ilustrasi mengenai
sahabat yang membawa malapetaka jika dekat
dengannya, yaitu orang yang jika dekat, ia
berusaha mengetahui rahasia, mengumpulkan
data-data yang berhubungan dengan kita,
memperhatikan kesalahan dan kekurangan,
menghitung kesalahan-kesalahan kecil yang tidak
disengaja, menghafal saat-saat kita tergelincir
ucapan atau perbuatan spontan dalam keadaan
biasa maupun sedang marah, atau di dalam
pembicaraan terbuka dan lepas yang siapapun sulit
terhindar dari kelalaian, kemudian ia menjadikan
semua itu sebagai senjata untuk menjatuhkan
sahabtanya di kala terjadi perselisihan ”. Semoga
kita semua terhindar menjadi sosok sahabat yang
seperti ini. Naudzubillah mindzalik.
11. Mengikuti prasangka
Mempunyai prasangka bahwa sahabatmu
menyembunyikan sesuatu darimu juga dapat
menyakitinya. Apalagi jika Anda sudah
membangun sikap-sikap tertentu berdasarkan
prasangka tersebut. Selain bisa menyakitinya, hal
ini juga betul-betul akan menyakiti dirimu sendiri,
karena prasangka buruk dapat merusak ketulusan
perasaan hatimu terhadapnya.
Oleh karena itu, ketulusan hati dan prasangka baik
(husnuzhzhan) merupakan salah satu faktor yang
dapat mempertahankan hubungan ukhuwah.
Dengan alasan tersebut Allah dan Rasul-Nya
melarang kita berburuk sangka (su ’udzdzan) dan
mengikutinya.
اَي اَهُّيَأ َنيِذَّلا اوُنَمَآ
اوُبِنَتْجا اًريِثَك َنِم ِّنَّظلا َّنِإ
َضْعَب ِّنَّظلا ٌمْثِإ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa. ” ( Al-Hujuraat :
12)
Sabda Rasulullah :
ْمُكاَّيِإ َّنَّظلاَو َّنِإَف َّنَّظلا
ُبَذْكَأ ِثيِدَحْلا
“Hindarilah prasangka (buruk), karena prasangka
(buruk) adalah ucapan yang paling
dusta. ” (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)
Prasangka buruk dapat mendorong kepada
perbuatan tajassus (mencari-cari kesalahan) yang
dilarang oleh agama. Juga dapat mendorong untuk
menjelek-jelekkan sahabat. Betapa jauh dari cinta
dan makna ukhuwah, orang yang jika marah
terhadap sahabatnya, ia langsung berprasangka
buruk atau mengejeknya di hadapan orang lain.
12. Mencampuri masalah pribadi
Termasuk dalam hal mencampuri urusan pribadi
adalah mencari-cari kesalahan, mencuri
pendengaran, serta turut campur dalam masalah
yang tidak ada gunanya bagi kita.
Sabda Rasulullah :
اَلَو اوُسَّسَحَت اَلَو اوُسَّسَجَت اَلَو
اوُدَساَحَت اَلَو اوُرَباَدَت اَلَو
اوُضَغاَبَت اوُنوُكَو َداَبِع ِهَّللا
اًناَوْخِإ
“Jangan mencari-cari kesalahan (tajassus), mencuri
pendengaran (tahassus), saling bermusuhan dan
saling menjauhi. Jadilah hamba-hamba Allah yang
bersaudara. ” (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)
ْنِم ِنْسُح ِماَلْسِإ ِءْرَمْلا ُهُكْرَت
اَم اَل ِهيِنْعَي
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah
meninggalkan hal-hal yang tidak berguna
baginya. ” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
Dalam sirah sahabat Nabi dikisahkan, ada seorang
sahabat Nabi yang sakit. Ketika para sahabat dan
kerabat menjenguknya, mereka merasa heran
ketika melihat wajah sahabat yang sakit tersebut
begitu ceria. Lalu mereka bertanya mengenai sebab
keceriaannya. Ia menjawab : “ Ada dua amalan
yang benar-benar kuyakini pahalanya sangat
besar, yaitu aku tidak pernah berbicara mengenai
hal-hal yang tidak berguna, dan hatiku bersih dai
segala perasaan kotor terhadap sesama kaum
muslim. ”
13. Egois, arogan, tidak berempati dengan
penderitaan saudara dan tidak memperhatikan
masalah serta kebutuhannya
Suatu pelajaran yang indah dapat kita petik dari
cerita Harun bin Abdillah ra ketika ia berkata : “Pada
suatu saat, Ahmad bin Hambal mengunjungiku di
tengah malam. Kudengar pintu diketuk, maka aku
bertanya : “Siapa di luar sana ?” Ia menjawab :
“Aku, Ahmad”. Segera kubuka pintu dan
menyambutnya. Aku mengucapkan salam dan ia
pun demikian. Lalu aku bertanya : “Keperluan
apakah yang membawamu kemari?” Ahmad
menjawab : “Siang tadi, sikapmu mengusik
hatiku.” Aku bertanya : “Masalah apakah yang
membutmu terusik, wahai Abu Abdillah?” Ahmad
menjawab : “Siang tadi aku lewat di samping
halaqoh-mu, ketika engkau sedang mengajar
murid-muridmu, engkau duduk di bawah bayang-
bayang pohon sedangkan murid-muridmu secara
langsung terkena terik matahari dengan tangan
memegang pena dan catatan. Jangan kau ulangi
perbuatan itu di kemudian hari. Jika engkau
mengajar maka duduklah dalam kondisi yang
sama dengan murid-muridmu. ”
Dalam kisah di atas, setidaknya ada dua catatan
yang layak direnungkan.
1. yang bercerita bukan pihak yang memberi
nasihat, melainkan orang yang dinasihati dan ia
tergugah dengan nasihat tersebut,
2. kelembutan dan kehalusan gaya nasihat Imam
Ahmad. Ia menyampaikannya secara sembunyi di
tengah malam, dengan menggunakan kata-kata
“ Sikapmu mengusik hatiku”, benar-benar suatu
ungkapan yang lembut. Ia tidak mengatakan,
misalnya “Kamu telah menyakiti manusia….”
Faktor lain yang dapat memperkokoh ukhuwah
adalah berempati terhadap penderitaan saudara
dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan nya.
Sabda Rasulullah :
ْنَمَو َناَك يِف ِةَجاَح ِهيِخَأ َناَك
ُهَّللا يِف ِهِتَجاَح ْنَمَو َجَّرَف ْنَع
ٍمِلْسُم ًةَبْرُك َجَّرَف ُهَّللا ُهْنَع
ًةَبْرُك ْنِم ِتاَبُرُك ِمْوَي
ِةَماَيِقْلا ْنَمَو َرَتَس اًمِلْسُم
ُهَرَتَس ُهَّللا َمْوَي ِةَماَيِقْلا
“Siapa yang mencukupi kebutuhan saudaranya,
niscaya Allah mencukupi kebutuhannya Siapa yang
menolong seorang mukmin dari suatu kesusahan,
niscaya Allah akan menolongnya dari salah satu
kesusahan pada hari kiamat. Siapa yang menutupi
aib seorang muslim, niscaya Allah menutupi
aibnya pada hari kiamat. ” (HR. Bukhari, Muslim,
Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad)
Dalam hal mencukupi kebutuhan saudara kita;
- Skala paling rendah adalah sebatas mencukupi
kebutuhannya ketika diminta dan kita mampu, dan
bantuan tersebut diberikan dengan syarat hati
merasa senang dan bahagia.
- Skala pertengahan adalah mencukupi
kebutuhannya tanpa ia minta.
- Skala yang tertinggi adalah mengutamakan
kebutuhan saudara kita daripada kebutuhan kita
sendiri.
Sahabat di saat senang selalu banyak jumlahnya #
namun ketika susah hanya sedikit yang tersisa
Maka jangan terpedaya dengan kebaikan seorang
sahabat # namun ketika musibah menimpa tiada
yang mengiba
Semua sahabat menyatakan dirinya setia # namun
tidak semua berbuat seperti ucapannya
Kecuali sahabat yang penuh derma dan taat agama
# itulah sahabat yang berbuat sama dengan kata-
katanya
14. Menutup diri, berlebihan, membebani dan
menghitung-hitung kebaikan
Jika Anda ingin membuat hati seorang sahabat
menjadi senang dan bersikap terbuka apa adanya,
maka hindarilah menutup diri dan jangan
membuatnya merasa terbebani, jangan
menghitung-hitung kebaikannya kepadamu,
jangan memberatkannya agar melayanimu, dan
bersikaplah rendah hati.
Dalam hal ini, cara pandang yang paling baik
adalah kamu menganggap dirimu lebih layak
melayani daripada dilayani, dengan demikian kamu
cenderung menganggap dirimu sebagai pelayan.
Barangkali Umar bin Khaththab adalah sosok yang
bisa dijadikan contoh. Beliau berbuat baik kepada
siapa saja, tidak hanya sahabat dekat, melainkan
juga budak-budaknya.
Menurut Aslam, salah seorang pelayan Umar, pada
suatu malam terkejut mendapati Umar sedang
mengurus kuda-kuda pelayannya dan kudanya
sendiri, seraya melantunkan puisi :
Jangan biarkan malam ini membuat hatimu resah
# Hiasilah ia dengan sehelai baju dan sorban
Jadilah sahabat baik bagi Naif dan Aslam #
Layanilah mereka
15. Enggan mengungkapkan perasaan cinta,
enggan membela sahabat ketiak aibnya disebut
Tentang menyatakan cinta pada saudara Rasulullah
bersabda:
“Jika seorang di antara kamu mencintai saudarnya
karena Allah, maka kabarkanlah kepadanya, karena
hal itu dapat mengekalkan keakraban dan
memantapkan cinta. ”
Di antara hak ukhuwah adalah membela dan
mempertahankan nama baik sahabat. Rasulullah
bersabda :
ُمِلْسُمْلا وُخَأ ِمِلْسُمْلا اَل
ُهُمِلْظَي اَلَو ُهُمِلْسُي
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim
yang lain, tidak boleh menzhalimi dan
menyerahkannya. ” (Bukhari, Ahmad)
16. Melupakannya karena sibuk mengurusi orang
lain dan kurang setia
Di antara gambaran akhlaq buruk dalam
berukhuwah adalah ketika kita mendapatkan
seorang sahabat baru lantas meninggalkan sahabat
yang telah kita kenal dalam jangka waktu lama.
Salah satu penyebab kekecewaan sahabat adalah
ketika ia berusaha sekuat tenaga untuk dekat
denganmu dan selalu mengutamakanmu dari
siapapun juga, ia justru mendapatimu tidak setia
dan tidak menghargainya.
Tidak setia terhadap sahabat juga dapat
memutuskan tali ukhuwah. Tanda-tanda kesetiaan
terhadap sahabat di antaranya adalah :
- berdoa untuknya dari kejauhan, baik selama ia
hidup atau setelah kematiannya, berbuat baik
kepada orang yang dicintainya juga keluarganya.
- konsiten dengan sikap tawadhu’ (rendah hati)
terhadap sahabat, sekalipun kedudukan ataupun
ilmu Anda lebih tinggi darinya.
17. Mengingkari janji dan kesepakatan tanpa alasan
yang jelas
Sifat buruk ini akan menumbuhkan anggapan
dalam diri sahabat Anda bahwa Anda tidak
memperhatikannya, karena orang yang
mengingkari janji atau kesepakatan berarti telah
meninggalkan sesuatu yang dianggap kurang
penting demi meraih sesuatu yang dianggap lebih
pening. Alasan ini sudah cukup kuat untuk
membuat sahabatmu sedih, menodai cinta dan
merusak ukhuwah.
18. Selalu menceritakan perkara yang menyedihkan
dan suka menyampaikan berita yang membuat
resah
Ibnu Hazm ra bekata : “Jangan sampaikan
beritayang membuat saudaramu sedih atau tidak
bermanfaat baginya, karena itu adalah perbuatan
orang-orang kerdil. Dan jangan menyembunyikan
berita yang bisa membahayakannya jika ia tidak
tahu, karena itu merupakan pekerjaan orang-orang
jahat. ”
Yahya bin Mu’adz berkata : “Jadikanlah tiga hal
berikut ini sebagai sikapmu terhadap orang-orang
mukmin; jika tidak bisa memberi manfaat, maka
jangan membahayakannya; jika tidak bisa
membahagiakannya, maka jangan membuatnya
sedih; Jika tidak memujinya, maka jangan
mencacinya. ”
19. Terlalu cinta
Maksudnya adalah menghindari hal-hal yang
berlebihan, seprti ketergantungan atau rasa suka
terhadap sahabat, membebani diri dengan beban
yang terlalu berat dalam upaya melayani atau
mendekatinya.
Rasulullah saw bersabda :
“Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa
tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti.
Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin,
siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu
saat nanti. ” (Bukhari, Tirmidzi)
Abul-Aswad berkata :
Cintailah kekasihmu dengan cinta yang sederhana
# Karena kamu tidak tahu kapan ia menjauhimu
Jika harus benci, maka bencilah # Tapi jangan
menjauhi
Karena kamu tidak tahu # Kapan harus kembali
Mencintai sahabat secara berlebihan malah akan
melemahkan persahabatan. Lebih baik cinta yang
terus merangkak namun menanjak daripada cinta
yang melonjak namun lekas surut. Namun
demikian, jadikanlah cintamu kepada sahabat lebih
besar dari cintanya kepadamu, agar mendapat
fadhilah (keutamaan) dari Allah melalui sabda
Rasul-Nya :
“Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena
Allah, kecuali orang yang lebih besar cintanya
adalah yang lebih utama di antara
keduanya. ” (Bukhari)
Jadikan tulisan dalam buku ini sebagai bahan
instrospeksi, menilai diri sendiri untuk memperbaiki
kadar ukhuwah dan menunaikan hak ukhuwah
saudaraku. Jangan jadikan tulisan dalam buku ini
sebagai bahan untuk menilai sahabat-sahabat
Anda, karena jika itu dilakukan, Anda pasti akan
lebih memilih untuk ‘uzlah atau menyendiri.
Wallahu’alam.
Tuesday, March 23, 2010 6:01:36 AM
“Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap
siaga, yang telah saling mengenal maka ia
(bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka
akan saling berselisih (dan saling mengingkari )”.
(HR. Muslim)
Inilah karakter ruh dan jiwa manusia, ia adalah
tentara-tentara yang selalu siap siaga,
kesatuaannya adalah kunci kekuatan, sedang
perselisihannya adalah sumber bencana dan
kelemahan. Jiwa adalah tentara Allah yang sangat
setia, ia hanya akan dapat diikat dengan kemuliaan
Yang Menciptakanya,. Allah berfirman yang artinya:
“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-
orang yang beriman). Walaupun kamu
membelajakan semua (kekayaan) yang berada
dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan
hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan
hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana ”. (QS. 8:63)
Dan tiada satupun ikatan yang paling kokoh untuk
mempertemukannya selain ikatan akidah dan
keimanan. Imam Syahid Hasan Al Banna
berkata: “Yang saya maksud dengan ukhuwah
adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan
aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan
semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya
keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara
kembarnya kekufuran ”. (Risalah Ta’lim, 193)
Sebab itu, hanya dengan kasih mengasihi karena
Allah hati akan bertemu, hanya dengan
membangun jalan ketaatan hati akan menyatu,
hanya dengan meniti di jalan dakwah ia akan
berpadu dan hanya dengan berjanji menegakkan
kalimat Allah dalam panji-panji jihad fi sabilillah ia
akan saling erat bersatu. Maka sirami taman
persaudaraan ini dengan sumber mata air
kehidupan sebagai berikut:
1. Sirami dengan mata Air Cinta dan Kasih sayang
Kasih sayang adalah fitrah dakhil dalam jiwa setiap
manusia, siapapun memilikinya sungguh memiliki
segenap kebaikan dan siapapun yang
kehilangannya sungguh ditimpa kerugian. Ia
menghiasi yang mengenakan, dan ia menistakan
yang menanggalkan. Demikianlah pesan-pesan
manusia yang agung akhlaqnya menegaskan.
Taman persaudaraan ini hanya akan subur oleh
ketulusan cinta, bukan sikap basa basi dan
kemunafikan. Taman ini hanya akan hidup oleh
kejujuran dan bukan sikap selalu membenarkan. Ia
akan tumbuh berkembang oleh suasana nasehat
menasehati dan bukan sikap tidak peduli, ia akan
bersemi oleh sikap saling menghargai bukan sikap
saling menjatuhkan, ia hanya akan mekar bunga-
bunga tamannya oleh budaya menutup aib diri
dan bukan saling menelanjangi. Hanya ketulusan
cinta yang sanggup mengalirkan mata air
kehidupan ini, maka saringlah mata airnya agar
tidak bercampur dengan iri dan dengki, tidak keruh
oleh hawa nafsu, egoisme dan emosi, suburkan
nasihatnya dengan bahasa empati dan tumbuhkan
penghargaannya dengan kejujuran dan keikhlasan
diri. Maka niscaya ia akan menyejukkan pandangan
mata yang menanam dan menjengkelkan hati
orang-orang kafir (QS.48: 29).
2. Sinari dengan cahaya dan petunjuk jalan
Bunga-bunga tamannya hanya akan mekar
merekah oleh sinar mentari petunjuk-Nya dan akan
layu karena tertutup oleh cahaya-Nya. Maka
bukalah pintu hatimu agar tidak tertutup oleh sifat
kesombongan, rasa kagum diri dan penyakit
merasa cukup. Sebab ini adalah penyakit umat-
umat yang telah Allah binasakan. Dekatkan hatimu
dengan sumber segala cahaya (Alquran) niscaya ia
akan menyadarkan hati yang terlena, mengajarkan
hati yang bodoh, menyembuhkan hati yang
sedang sakit dan mengalirkan energi hati yang
sedang letih dan kelelahan. Hanya dengan cahaya,
kegelapan akan tersibak dan kepekatan akan
memudar hingga tanpak jelas kebenaran dari
kesalahan, keikhlasan dari nafsu, nasehat dari
menelanjangi, memahamkan dari mendikte,
objektivitas dari subjektivitas, ilmu dari kebodohan
dan petunjuk dari kesesatan. Sekali lagi hanya
dengan sinar cahaya-Nya, jendela hati ini akan
terbuka. “Maka apakah mereka tidak merenungkan
Al Quran ataukah hati mereka telah terkunci”. (QS.
47:24)
3. Bersihkan dengan sikap lapang dada
Minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan
maksimalnya adalah itsar ( mementingkan orang
lain dari diri sendiri) demikian tegas Hasan Al
Banna. Kelapangan dada adalah modal kita dalam
menyuburkan taman ini, sebab kita akan
berhadapan dengan beragam tipe dan karakter
orang, dan “siapapun yang mencari saudara tanpa
salah dan cela maka ia tidak akan menemukan
saudara ” inilah pengalaman hidup para ulama kita
yang terungkap dalam bahasa kata untuk menjadi
pedoman dalam kehidupan. Kelapang dada akan
melahirkan sikap selalu memahami dan bukan
minta dipahami, selalu mendengar dan bukan
minta didengar, selalu memperhatikan dan bukan
minta perhatian, dan belumlah kita memiliki sikap
kelapangan dada yang benar bila kita masih selalu
memposisikan orang lain seperti posisi kita,
meraba perasaan orang lain dengan radar
perasaan kita, menyelami logika orang lain dengan
logika kita, maka kelapangan dada menuntut kita
untuk lebih banyak mendengar dari berbicara, dan
lebih banyak berbuat dari sekedar berkata-kata.
“ Tidak sempurna keimanan seorang mukmin
hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai
dirinya ”. ( HR. Bukhari Muslim)
4. Hidupkan dengan Ma’rifat
Hidupkan bunga-bunga di taman ini dengan
berma ’rifat kepada Allah dengan sebenar-benar
ma’rifat, ma’rifat bukanlah sekedar mengenal atau
mengetahui secara teori, namun ia adalah
pemahaman yang telah mengakar dalam hati
karena terasah oleh banyaknya renungan dan
tadabbur, tajam oleh banyaknya dzikir dan fikir,
sibuk oleh aib dan kelemahan diri hingga tak ada
sedikitpun waktu tersisa untuk menanggapi ucapan
orang-orang yang jahil terlebih menguliti kesalahan
dan aib saudaranya sendiri, tak ada satupun masa
untuk menyebarkan informasi dan berita yang
tidak akan menambah amal atau menyelesaikan
masalah terlebih menfitnah atau menggosip orang.
Hanya hati-hati yang disibukkan dengan Allah yang
tidak akan dilenakan oleh Qiila Wa Qaala (banyak
bercerita lagi berbicara) dan inilah ciri kedunguan
seorang hamba sebagaimana yang ditegaskan
Rasulullah apabila ia lebih banyak berbicara dari
berbuat, lebih banyak bercerita dari beramal, lebih
banyak berangan-angan dan bermimpi dari beraksi
dan berkontribusi. “Diantara ciri kebaikan Keislaman
seseorang adalah meninggalkan yang sia-sia”.
( HR. At Tirmidzi).
5. Tajamkan dengan cita-cita Kesyahidan
“Pasukan yang tidak punya tugas, sangat potensial
membuat kegaduhan” inilah pengalaman medan
para pendahulu kita untuk menjadi sendi-sendi
dalam kehidupan berjamaah ini. Kerinduan akan
syahid akan lebih banyak menyedot energi kita
untuk beramal dari berpangku tangan, lebih
berkompetisi dari menyerah diri, menyibukkan
untuk banyak memberi dari mengoreksi, untuk
banyak berfikir hal-hal yang pokok dari hal-hal
yang cabang. “Dan barang siapa yang meminta
kesyahidan dengan penuh kejujuran, maka Allah
akan menyampaikanya walaun ia meninggal diatas
tempat tidurnya ”. ( HR. Muslim)
“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui
bahwa hati-hati ini telah bersatu berkumpul untuk
mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu,
bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam
rangka menyeru (dijalan)-Mu, dan berjanji setia
untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan
pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih
sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah
dengan cahay-Mu yang tidak pernah redup,
lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan
keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah
dengan ma ’rifat-mu, dan matikanlah dalam
keadaan syahid di jalan-mu. Sesungguhnya
Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik
penolong ”.
Amin…
Tuesday, March 23, 2010 5:55:52 AM
Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak
dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa
cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal.
Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan
berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan
sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia.
Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta
seorang hamba kepada Rabb-nya.
Definisi Cinta
Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena
tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba
dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan:
“Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan
bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu)
melainkan menambah kabur dan tidak jelas,
(berarti) definisinya adalah adanya cinta itu
sendiri. ” (Madarijus Salikin, 3/9)
Hakikat Cinta
Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan
terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta
tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah,
maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika
tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi
perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah
ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan
menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai
Allah yaitu kesyirikan.
Cinta kepada Allah
Cinta yang dibangun karena Allah akan
menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan
berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin
(3/22) berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa
suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu
Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:
“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka
ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai
kalian. ” (Ali ‘Imran: 31)
Mereka (sebagian salaf) berkata: “(firman Allah)
‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah
isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah
serta faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada
Allah) adalah mengikuti Rasulullah , faidah dan
buahnya adalah kecintaan Allah kepada kalian. Jika
kalian tidak mengikuti Rasulullah maka kecintaan
Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan
hilang.”
Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan
cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan
mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah.
Rasulullah bersabda dalam hadits yang
diriwayatkan dari Anas bin Malik :
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada
dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya
iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai
daripada selain keduanya, dan hendaklah dia
mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya
melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci
untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah
selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia
benci untuk dilemparkan ke dalam neraka. ” (HR. Al-
Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-
sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh
perkara:
Pertama, membaca Al Qur’an, menggali, dan
memahami makna-maknanya serta apa yang
dimaukannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan
amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap
keadaan.
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas
kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan
sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan
segala nikmat-Nya.
Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah .
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam
bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke
langit dunia).
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang
memiliki sifat cinta dan jujur.
Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang
akan menghalangi hati dari Allah . (Madarijus
Salikin, 3/18, dengan ringkas)
Cinta adalah Ibadah
Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah
satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan
tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah
yang lain. Allah berfirman:
“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada
keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam
hatimu. ” (Al-Hujurat: 7)
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada
Allah.” (Al-Baqarah: 165)
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang
Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-
Nya. ” (Al-Maidah: 54)
Adapun dalil dari hadits Rasulullah adalah hadits
Anas yang telah disebut di atas yang dikeluarkan
oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim:
“ Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai
daripada selain keduanya.”
Macam-macam cinta
Di antara para ulama ada yang membagi cinta
menjadi dua bagian dan ada yang membaginya
menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin
‘ Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul
Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan
bahwa cinta ada empat macam:
Pertama, cinta ibadah.
Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-
Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.
Kedua, cinta syirik.
Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah
berfirman:
“Dan di antara manusia ada yang menjadikan
selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi
Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan
tersebut seperti cinta mereka kepada Allah. ” (Al-
Baqarah: 165)
Ketiga, cinta maksiat.
Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang
melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan
meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya.
Allah berfirman:
“Dan kalian mencintai harta benda dengan
kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20)
Keempat, cinta tabiat.
Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan
perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini
sebatas cinta tabiat. Allah berfirman:
“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis
salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai
oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf: 8)
Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan
dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga
meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka
berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat
ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-
benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita
kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini
berubah menjadi cinta syirik.
Buah cinta
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan:
“Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati
menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan
harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan
cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan
didapatkan di dunia dan di akhirat. ” (Majmu’
Fatawa, 1/95)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di menyatakan:
“Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam
mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan
landasan penyembahan dan peribadatan kepada-
Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah.
Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan
seorang hamba kepada Rabbnya juga
sempurna. ” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)
Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada
selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan
haram dengan spontan atau mengatakan boleh
secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.
Pertama, bila dia mencintai selain Allah lebih besar
atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini
adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.
Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah
menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka
cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.
Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang
seperti ini diperbolehkan.
Wallahu a’lam.
1 2 3 4 5 Next »