Friday, April 20, 2012 6:03:59 PM
Tibet, sebuah negeri yang juga berada di lokasi geografis tertinggi di bumi dengan elevasi rata rata 4900 meter dari permukaan laut. Jauh lebih tinggi dari gunung semeru (3676mdpl) puncak tertinggi di pulau Jawa. Dengan ketinggian itu menjadikan Tibet sebagai kawasan tertinggi di planet bumi. Wajar bila kemudian Tibet disebut sebagai Negeri di atap Dunia. Tibet beribukota di Lhasa. Kota yang menjadi rumah bagi Masjid Agung Lhasa yang akan kita bahas dalam artikel ini.
Tibet dulunya merupakan sebuah Monarki dengan agama Budha sebagai agama negara, pemimpin negaranya juga merupakan pemimpin tertinggi agama Budha, bergelar Dalai Lama. Negeri dengan bangunan bangunan megah peninggalan Sang penguasa negeri atap dunia. Kota Lasha kadang kadang juga dijuluki sebagai “tempat bersemayam-nya para dewa”. Sebuah bangunan istana monumental menjadi landmark dan tujuan wisata utama di jantung kota Lhasa, Istana Potala namanya. Bangunan istana yang menyandang predikat sebagai istana kuno dengan lokasi geografis tertinggi di muka bumi. Istana tempat bertahtanya Dalai Lama pertama hingga Dalai Lama terahir.
Lokasi Tibet Autonomous Region - China
Di tengah negeri yang kental dengan tradisi Budha ini, Islam telah eksis sejak hampir seribu tahun lalu. Masjid Agung Lasha yang akan kita ulas dalam artikel ini merupakan salah satu bukti eksistensi Islam di Tibet umumnya dan di kota Lasha khususnya. Lokasinya yang berada di kota tertinggi di bumi menjadikan masjid Agung Lasha sebagai masjid yang juga terletak di lokasi tertinggi di Bumi. Masjid di atap dunia. Arsitektural masjid ini begitu unik dalam kesederhanaannya memadukan arsitektural Islam dengan arsitektural tradisonal asli Tibet dengan sentuhan tradisional Hui.
Tahun 1950 pasukan merah China menginvasi Tibet dan di musim gugur tahun 1951 pasukan merah China berhasil menduduki kota Lhasa. Pada tanggal 17 Maret 1959 Pemimpin tertinggi Tibet, Dalai Lama berhasil meloloskan diri dari tangkapan pasukan merah China dan hidup di pengasingan bersama keluarga serta pengikut setianya di Dharamsala, India, dan membentuk semacam pemerintahan di pengasingan. Dalai Lama yang sekarang adalah Dalai lama ke 14 atau Tenzin Gyatso. Tahun 1965 pemerintah China menjadikan Tibet sebagai salah satu propinsi di Republik Rakyat China dengan status otonomi Khusus bernama resmi Tibet Autonomous Region atau Xizang Autonomous Region.
Alamat Masjid Agung Lasha
Wengduixingka Road No.3, Hui Community
Southeast of Hebalin, Old Town, Lasha
Tibet (Xizang) Autonomous Region, China
Koordinat geografi : 29°39'3"N 91°8'12"E
View Masjid Agung Lasha in a larger map
Sejarah Masjid Agung Lasha
Masjid Agung Lhasa juga dikenal dengan nama Masjid Hebalin, karena lokasinya yang berada di kawasan Hebalin, di pusat kota Lasha. Masjid yang menjadi pusat komunitas muslim Hui di Tibet. Masjid ini pertama kali dibangun tahun 1716M dimasa pemerintahan Kaisar Kangxi dari dinasti Qing. Pertama kali dibangun masjid Agung tersebut hanya seluas 200 meter persegi. Bangunan masjid pertama itu kemudian diperluas tahun 1793M ketika banyak tentara muslim yang menetap di Lhasa. Bangunan masjid tersebut hancur dalam kebakaran di tahun 1959 dan kemudian dibangun lagi ditahun yang sama. Bangunan yang kini kita lihat di pusat kota Lasha adalah bangunan setelah renovasi terahir tersebut.
Di bulan Maret tahun 2008, kawasan muslim quarter di Hebalin termasuk Masjid Agung Lhasa ini sempat dirusak massa pendemo anti China di Tibet. Kawasan Hebalin dan Masjid Agung mengalami kerusakan disana sini akibat rusuh massa. Polisi setempat sempat menutup kawasan tersebut, melarang siapapun masuk kesana kecuali warga asli Hebalin dan muslim dari area lain yang akan menunaikan sholat di Masjid Agung.
Masjid Agung Lasha dengan gerbang nya yang sangat khas (foto dari flikr.com)
Secara tradisional kota Lhasa mengenal dua jenis masjid, “Masjid Besar” dan “Masjid Kecil”. Masjid Agung Lasha merupakan masjid besar, dikelola oleh muslim Hui, masjid ini memang dibangun oleh muslim etnis Hui, meskipun sebenarnya etnis manapun boleh menggunakan masjid ini. namun karena letaknya yang berada di tengah tengah komunitas muslim Hui di kota Lasha, masyarakat umum lebih mengenalnya sebagai masjidnya muslim Hui.
Masjid lainnya disebut masjid kecil (Lhasa Small Mosque) adalah masjid yang dibangun untuk para muslim pendatang dari Kashmir. Masjid kecil, pertama kali dibangun tahun 1863M. Masjid ini berukuran 130 meter persegi dilengkapi dengan bangunan sekolah Islam dibangun tahun 1952 dan menginduk ke sekolah Islam di masjid Agung Lhasa. Di sekitar Masjid Kecil, ada 63 keluarga yang tinggal disana termasuk 11 keluarga warga asing dengan total populasi sekitar 315 jiwa. Masjid Kecil Lasha terletak di Balang Steet, Hebalin, Chengbing District, Lhasa.
Fasad depan Masjid Agung Lasha dengan
ornamen khas etnis Hui (foto pbase.com)
Arsitektural Masjid Agung Lhasa
Masjid Agung Lasha dibangun dalam arsitektural tradisional Tibet dengan bentuk bentuk lengkungan sirkular dan dua menara kecil menyatu dengan atap masjid di atap sisi depan masjid. Dekorasi masjid didominasi oleh ukiran dan lukisan bunga bunga dan flora, dalam sentuhan warna biru. Arsitektur masjid ini cukup sederhana namun cukup menyolok diantara bangunan bangunan lain di pusat kota Lasha. dua menara dan Kubah utama di atap masjid terlihat sampai jauh, memberikan nuansa lain di kota Lasha.
Masjid Agung Lasha memiliki tiga pintu masuk menuju halaman tengah nya. Seperti kebanyakan bangunan relijius di Tibet Masjid Agung Lasha juga dilengkapi dengan sebuah pintu gerbang besar menuju halaman masjid. Gerbang dengan arsitektural khas Tibet, mirip seperti gerbang sebuah vihara Budha. Ornamen gerbang ini didominasi polesan warna merah, lukisan floral, dan atap khas yang terdiri dari tiga undakan atap. Pembedanya dengan bangunan relijius lainnya adalah sebuah papan nama besar yang bila di Indonesia-kan artinya adalah “Masjid Agung Lasha di Tibet”, yang ditulis dengan tiga aksara sekaligus. Aksara dan bahasa arab serta dua aksara setempat.
Keseluruhan bangunan masjid ini menempati area seluas 2600 meter persegi termasuk bangunannya seluas 1300 meter persegi. Bangunan utama nya terdiri dari ruang sholat utama, dan bangunan penunjang termasuk bangunan bunker, menara air, kamar mandi, tempat wudhu dan lain lainnya. Ruang sholat masjid ini seluas 285 meter persegi terdiri dari ruang inti, dan ruang terbuka. Gedung bunker atau gedung Xuanli, merupakan bangunan utama masjid ini.
Salah satu menara masjid Agung Lasha
(foto dari pbase.com)
Interior nya sederhana, lantainya terbuat dari kayu yang ditutupi permadani berwarna merah berpola shaf demi shaf sholat. Di kanan kiri mimbar terpampang gambar Masjidil Haram dalam ukuran besar. Satu hal yang unik dari masjid ini adalah adanya Tasbih yang banyak bertebaran di permadani disediakan oleh pengurus masjid untuk para jemaah, kebiasaan muslim Tibet bertasbih dengan suara yang agak keras tidak seperti di Indonesia yang biasanya bertasbih dengan suara yang nyaris tak terdengar. Jemaah masjid Agung Lhasa yang sebagian besar adalah muslim Hui yang hadir di masjid dengan pakaian khas muslim Tibet ; Jas dan celana warna hitam lengkap dengan peci putih.
Selain Masid Agung Lasha dan Masjid Kecil Lhasa, masih ada dua Masjid Lagi di Kota Lasha, yakni dua masjid yang dikelola oleh Muslim Khasmir, biasa disebut masjid Khasmiri (masjidnya muslim Kharsmir) yang berada di Gyangda Linka (taman Muslim) dan Masjid Khasmiri di pusat kota Lasha. Masjid Khasmiri dan muslim Khasmir di Lasha memiliki sejarah yang unik, karena Gyangda linka (Taman Muslim) yang menjadi kampung muslim Khasmir pertama di Lasha merupakan hadiah dari Dalai Lama ke-5 untuk muslim Khasmir. Di seluruh wilayah Tibet ada 6 Masjid, selain dari 4 yang sudah disebutkan tadi masih ada satu masjid di Shigatze dan satu masjid di Changdu di bagian Timur Tibet.
Sejarah Islam Di Tibet
Saudagar muslim dari negara negara Arab sudah mencapai Tibet pada sekitar abad ke 8 ~ 9 masehi. Perkembangan Islam menyebar disebelah barat Tibet dan Kashmir pada abad ke 11 masehi. Di abad ke 12M kelompok saudagar muslim dari Kashmir dan Ladakh masuk ke Tibet dan menetap di Lasha. Pernikahan antara pria muslim pendatang dengan wanita Tibet serta interaksi sosial diantara muslim dan warga asli mengukuhkan eksistensi mereka disana. Bahkan bahasa Tibet memiliki kosa kata sendiri untuk menyebut Muslim, dengan kata Kha-che. Masjid pertama di Tibet dibangun pada tahun 1716M dimasa pemerintahan Kaisar Qing dari dinasti Kangxi. Masjid pertama itu yang kini dikenal sebagai Masjid Agung Lasha.
Interior Masjid Agung Lasha
(foto dari pbase.com)
Islam menyebar di Tibet dari dua arah. Dari arah utara dan timur. Bergerak dari semenanjung Arabia melalui Persia dan Afganistan, Islam mencapai China di abad ke 7 masehi melalui jalur perdagangan kuno yang kini kita kenal sebagai jalur sutera (silk road) yang melintasi kawasan Asia tengah. Dari propinsi utara Ningxia dan titik lain di china, islam kemudian bergerak ke selatan masuk ke kawasan Tibet.
Muslim China di Tibet merupakan Muslim dari marga Hui, secara berkesinambungan mereka tinggal di Suing dan Kawasan Kokonor di bagian barat Tibet, dan menjalankan perdagangan dengan Tibet Tengah. Sebagian dari mereka merupakan pedagang dan tinggal secara permanen di kawasan timur Tibet, keturunan mereka masih dapat ditemui hingga kini, beberapa diantaranya juga datang dari barat secara berkesinambungan kemudian pindah ke Lhasa. Menetap disana mempertahan akidah dan persaudaraan yang erat satu sama lainnya.
Berbagai sumber di Tibet menunjukkan bahwa penguasa Tibet pernah menguasai kawasan luas di Asia Tengah sebelah barat hingga ke Persia di abad ke 8 dan 9 Masehi, dimasa ketika Persia, Uigur, Turk dan Tibet berlomba untuk menguasai kawasan tersebut terutama dari penguasa Kabul, yang semula merupakan pengikut raja Tibet namun kemudian berganti keyakinan dari Budha dan masuk Islam di sekitar tahun 812 – 814M, dan tunduk kepada Khalifah Al-Ma’mun dari dinasti Abbas.
Sebagai suatu penghormatan kepada khalifah Islamiyah, raja Kabul kala itu memberi hadiah kepada Al-Ma’mun berupa kepingan emas yang merupakan hasil dari peleburan patung emas Budha. Kepingan emas tersebut kemudian dikirimkan kepada khalifah. Itu sebabnya Kawasan yang kini kita kenal sebagai Afganistan dan beberapa Negara baru di kawasan asia tengah merupakan kawasan yang tak tersentuh oleh pengaruh Tibet selama beberapa abad.
jemaah sholat jum’at di Masjid Agung Lasha (peopledaily.com.cn)
Bagian lain dari arus masuknya Islam ke Tibet ini berasal dari Turkistan, Baltistan (Pakistan) dan Kashmir melalui Ladakh (India) kemudian menyebar ke Tibet hingga ke Lhasa. penyebaran Islam tersebut tak lepas dari dua orang ulama besar yang telah disinggung di dua tulisan sebelumnya yakni Ali Hamadani dan putranya Bakhsh Muhammad Nur yang berhasil menyebarkan Islam di kawasan Baltistan di Abad ke 14M.
Kha-Ce, Masjid Chota dan Gya Kha Che, Masjid Bara
Komunitas muslim di Lhasa saat ini terdiri dari dua kelompok yang berbeda, keduanya menjadi warisan budaya di masyarakat China (Tibet), Khasmir, Nepal, Ladakh, Sikh atau bahkan bagi masyarakat non China. Komunitas kecil muslim kurang dari 1000 jiwa yang kini disebut Kha-Che merupakan merupakan keturunan dari para pedagang muslim di abad ke 12M. Sedangkan orang Muslim China dari marga Hui dipanggil Gya Kha Che, jumlah mereka ada sekitar 2000 jiwa.
Masing masing komunitas kecil tersebut menggunakan dan mengelola masjid mereka sendiri. Muslim Khasmir (Khasmiri) dan muslim non China menggunakan Masjid Chota atau Masjid Kecil, sedangkan Orang Hui menggunakan Masjid Bara atau Masjid Besar. Masing masing komunitas memiliki pemuka agama dari kalangan mereka sendiri, mengola sekolah Islam, mengurus administrasi mereka masing masing kepada pemerintah lokal Tibet, hingga pemakaman umum yang mereka sebut Kygasha, lokasinya sekitar 15Km diluar kota Lhasa.
gerbang Masjid Agung Lasha (cnr.cn)
Sebagian besar Muslim Hui berpropesi sebagai tukang jagal hewan ternak atau petani sayur mayor. Sama seperti muslim Khasmir (Khasmiri), muslim Hui juga bermazhab ke Mazhab Hanafi. Tukang jagal hewan menjadi salah satu profesi yang sangat dibutuhkan masyarakat Budha Tibet, karena ajaran mereka melarang penyembelihan binatang. Hal terebut membuka peluang bisnis bagi muslim disana untuk menjadi pemasok daging bagi warga Tibet yang membutuhkannya.
Hadiah Lahan “Sejauh Jangkauan Anak Panah”
Meskipun para saudagar muslim pendatang sudah lama hadir di Lhasa dan kota kota lain di Tibet, namun baru pada saat naiknya Dalai lama ke lima (1617-1682) menjadi titik balik bagi Islam di Tibet. Berdasarkan sejarah lisan disebutkan bahwa beberapa ulama Islam yang hidup di Lhasa pada masa itu selalu melaksanakan sholat di bukit bukit terpencil di pinggir kota. Dalai Lama menjumpai mereka saat mereka sholat setiap hari, sampai suatu hari beliau bertanya tentang apa yang mereka lakukan. Salah satu Ulama kemudian menjelaskan bahwa mereka sedang melaksanakan sholat sesuai dengan ajaran Islam, dan mereka melaksanakannya di bukit terpencil karena ketiadaan masjid di pusat kota untuk mereka jadikan sebagai tempat sholat berjamaah.
Terkesan dengan penjelasan tersebut, Dalai Lama kemudian mengutus seorang pemanah ke bukit dimana kaum muslimin sering sholat berjamaah disana dan memerintahkannya untuk menembakkan anak empat panahnya ke empat penjuru mata angin. Dari tempat dimana dimana anak panah dilepaskan hingga ke tempat dimana ke empat anak panah tersebut jatuh, seluas itulah lahan yang kemudian diberikan oleh Dalai Lama ke-5 kepada kaum muslimin untuk mendirikan Masjid dan sebagainya. Tempat tersebut kemudian dikenal sebagai “sejauh jangkauan anak panah” yang kemudian menjadi tempat bagi bangunan masjid dan lahan pemakaman muslim pertama di kota Lhasa hingga kini.
prasasti di Muslim Park kota Lasha , dalam 4 bahasa, mengenang
kebaikan Dalai Lama ke-5 yang memberikan lahan bagi
kaum muslimin di tahun 1650 (cnr.cn)
Dalai lama ke Lima tidak saja memberikan lahan tanah kepada kaum Musimin Khasmir, tapi beliau juga memberikan perlindungan resmi dari Negara kepada 14 tokoh masyarakat dan 30 pemuda muslim yang merupakan penghuni awal lahan tersebut. Sikap positif Dalai lama ke Lima tersebut sepertinya menjadi bagian dari kebijakan pemerintah untuk mendorong tumbuhnya ke aneka ragaman etnis, budaya dan memacu pertumbuhan ekonomi di Tibet ketika itu. Kebijakan yang dalam bahasa Tibet disebut sebagai mi sna mgron po atau “undangan kepada masyarakat”. Selain itu ummat Islam juga diberi kebebasan untuk mengurus masalah hukum sesuai aturan Islam bagi komunitas mereka sendiri, bahkan dibebaskan dari pajak atas segala usaha perdagangan mereka.
Kini, lahan yang dihadiahkan oleh Dalai Lama Ke-Lima tersebut dikenal sebagai Che Kha Gling Ga atau Taman Muslim (Muslim Park) yang digunakan oleh komunitas muslim sebagai tempat piknik. Sebuah bangunan berbentuk lengkungan khas Tibet (sgo) dibangun untuk menandai di masjid pertama yang dibangun tempat itu sekaligus untuk mengenang kebaikan Dalai Lama ke Lima.
Sampai kemudian masjid baru bagi muslim Khasmir (masjid kecil / chota masjid) dibangun di pusat kota Lhasa. Dulunya masjid di Kha Che Gling Ga (taman muslim / muslim park) merupakan satu satunya tempat bagi Muslim Khasmir untuk berkumpul melaksanakan sholat Jum’at secara rutin. Muslim dari komunitas Khasmir ketika itu harus berjalan cukup jauh beberapa kilometer setiap hari Jum’at untuk mencapai masjid dari rumah mereka di pusat kota menuju masjid di Kha Che Gling Ga dan kemudian berbagi roti bersama jemaah yang lain setiap bakda sholat Jum’at. Sebagian dari roti yang tidak habis disantap kemudian dibawa kembali ke pusat kota dibagikan kepada mereka yang tidak dapat hadir di masjid hari itu sebagai “tshogs” atau roti berkat.
jemaah Masjid Agung Kota Lasha, (foto dari booked1.blogspot)
Kini Chota Masjid di pusat kota menjadi masjid utama untuk sholat lima waktu bagi muslim Khasmir, masjid di Che Kha Gling Ga atau Taman Muslim (Muslim Park) masih digunakan untuk acara acara khusus seperti sholat dua hari raya dan sebagainya. Tak jauh dari masjid di Che Kha Gling Ga terdapat kediaman bagi Imam muslim Khasmiri, Habibullah Bat. Paska tahun 1959 setelah Dalai Lama Terahir melarikan diri dari Tibet, Muslim Khasmir di Tibet mengajukan gugatan kewarganegaraan kepada pemerintah India berdasarkan asal usul nenek moyang mereka yang berasal dari Khasmir (India). Setahun setelah itu pemerintah India menyatakan bahwa seluruh Muslim Khasmiri di Tibet adalah warga Negara India.
Sebagaimana masyarakat Tibet lainnya, muslim Tibet pun mengalami masa masa sulit sejak pencaplokan wilayah Tibet oleh tentara China. Meskipun situasinya kini sudah berangsur angsur membaik dari sebelumnya. Kini mereka sudah sedikit menikmati kebebasan untuk menjalankan agamanya dibandingkan masa masa sebelumnya. Namun begitu pasukan merah China senantiasa mengawasi semua aktivitas warga Tibet dalam upaya mencegah segala bentuk upaya separatisme kemerdekaan Tibet dari China. Tentara menjaga setiap sudut kota Lhasa termasuk di kawasan Masjid Agung Kota Lhasa.
interior lantai-1 Masjid Agung Lasha (foto dari Panoramio)
Penutup
Tibet dengan ibukotanya Lhasa, selama berabad abad menjadi tempat yang penuh misteri bagi para petualang karena ketertutupannya dari dunia luar. Tempat yang begitu terpencil di ketinggian pegunungan Himalaya ini menjadi salah satu perlintasan sepanjang jalur sutera di abad pertengahan. Sampai kemudian Tibet takluk dibawah kekuasaan China tahun 1950 Tibet mulai terbuka dan dikenal secara luas oleh dunia Internasional. Jalur kereta api yang dibangun pemerintah China melintas di kawasan Tibet dari wilayah China lainnya menjadi lintasan kereta api di tempat tertinggi di bumi. Proyek proyek pembangunan berskala raksasa diluncurkan pemerintah China di kawasan itu.
Kehadiran Islam, muslim dan masjid di kota Lhasa, ibukota Tibet itu membuka mata kita, bahwa di negeri atas langit yang mayoritas penduduknya beragama Budha itu ada saudara saudara kita sesama muslim. Meski berbeda suku bangsa, berbeda warna kulit, bahasa dan budaya, tapi Islam mempersatukan kita dalam satu ikatan ukhuwah. Semoga Islam semakin bersemi di negeri istananya para dewa itu dan menjadi rahmat bagi Tibet dan China secara keseluruhan. Amin.
Friday, April 20, 2012 5:47:47 PM
Para pendaki gunung mengenang Nepal dengan puncak tertinggi di dunia dipegunungan Himalaya yang berdiri kokoh diperbatasan Negara tersebut dengan China. Sherpa salah satu suku bangsa yang hidup di Nepal secara tradisi merupakan para pemandu ulung bagi para penakluk puncak Himalaya. Nepal merupakan wilayah yang terkunci dari wilayah laut berada di ketinggian Himalaya menjadikannya sebagai Negara dengan letak geografis tertinggi di Bumi. Kathmandu, Ibukota Nepal berada sebuah lembah di ketinggian rata rata 1400 meter dari permukaan laut.
Nepal, Negara republik paling baru terbentuk setelah selama 250 tahun berbentuk monarki Hindu dibawah pimpinan seorang raja. Nepal merupakan tanah kelahiran Sidharta Budha Gautama tokoh paling penting agama Budha, Sidharta Budha Gautama lahir di Nepal pada tahun 563SM, Agama Budha pernah menjadi agama mayoritas di Nepal dan menjadi agama Negara. Sampai kemudian berubah menjadi Kerajaan Hindu di tahun 200SM paska invasi dinasti Gupta dari India utara yang beragama Hindu ke wilayah Nepal. Dan sejak tahun 2008 lalu Nepal mengesahkan dirinya sebagai sebuah Negara Republik Demokratik Federal, seiring dengan jatuhnya kekuasaan Raja Nepal terahir Raja Gyanendra shah.
Di negeri dengan penduduk mayoritas Hindu ini, Islam hadir sejak lebih dari 480 tahun yang lalu. Di kota Kathmandu kini berdiri dua masjid besar bersejarah yang lokasinya berada di kawasan bergengsi dipusat kota Kathmandu tak jauh dari (bekas) Istana Raja Nepal. Dua masjid besar tersebut adalah Masjid Kashmiri Taqiya yang akan kita ulas dalam artikel ini dan Jama Masjid Kathmandu. Dua masjid berada di kawasan yang sama dan hanya terpisah beberapa blok bangunan.
Wilayah Negara Nepal seluas 140.800km2, sedikit lebih kecil dari luas propinsi Kalimantan Barat (147.800km2). Beriklim dingin menyengat di bagian utara dan sedikit hangat di bagian selatan, berbatasan dengan dua negara besar, Cina dan India. Berpenduduk lumayan padat, sekitar 27.676.547 orang, terdiri dari berbagai suku, antara lain Brahman, Chetri, Newar, Gurung, Magar, Tamang, Rai, Limbu, Sherpa dan Tharu, mayoritas menganut agama Hindu (86,2%), Budha (7,8%), Islam (3,8%) dan lainnya 2,2%.
Lokasi dan Alamat Masjid Kashmiri Taqia - Nepal
Dunbar Marg, Ratna Park, Kathmandu, Nepal
Telepon : 0097-98415373657
Islam di Nepal
Merujuk kepada hasil sensus penduduk Nepal tahun 1991 penduduk muslim di Nepal menempati urutan ke 3 dengan jumlah populasi sebesar 591,340 jiwa dibawah pemeluk agama Hindu dan Budha. Setara dengan 3.8% dari keseluruhan penduduk Nepal. Angka tersebut ditengarai jauh lebih kecil dari angka sebenarnya.
Secara garis besar muslim Nepal dibagi ke dalam 4 etnis besar masing masing adalah Muslim India, Khasmir (Khasmiri), Tibet (Tibetan) dan Muslim asli Nepal (Nepali). Selain itu masih ada lagi muslim Nepal gunung yang memang tinggal di kawasan pegunungan, mereka merupakan keturunan dari orang tua campuran dan rata rata merupakan keturunan dari ibu yang merupakan orang Nepal gunung. Perbedaan etnis tersebut secara kasar dapat terlihat dari penampilan fisik mereka, bahasa sehari hari yang digunakan, budaya dan juga mereka memang tidak berbaur satu dengan yang lainnya.
sholat jum’at di masjid Khasmiri Taqia Kathmandu, 5 Agustus 2011
(foto dari sawbeirut.com)
Islam pertama kali diperkenalkan di Nepal oleh para saudagar Arab di abad ke 5 Hijriah/11 Masehi yang datang ke lembah Kathmandu untuk berniaga. Setelah itu sebagian tentara muslim dari pasukan Ikhtiyar Uddin Muhammad bin Bakhtiyar Khilji yang menginvasi Tibet di tahun 1206 pernah menjejakkan kaki di Nepal untuk beberapa waktu, Ikhtiyar Uddin adalah panglima pasukan Sultan Qutb uddin Aybak dari Kesultanan Delhi, yang menguasai kawasan barat laut India berpusat di Delhi.
Sedangkan muslim Kashmir (India) dipercaya sebagai muslim pertama yang bedomisili di Nepal. Gelombang pertama muslim Khasmir masuk dan menetap di Nepal pada masa kekuasaan Raja Ratna Malla (1482-1520) dari dinasti Malla. Mereka merupakan para saudagar yang melakukan perdagangan dengan Tibet lalu juga berdagang di Nepal. Barang dagangan mereka berupa karpet, bahan bahan kulit binatang dan bahan bahan yang terbuat dari woll.
sholat jum’at di masjid Khasmiri Taqia
5 Agustus 2011 (foto dari ccoro.org)
Kini muslim Khasmir di Nepal dikenal sebagai kalangan muslim terpelajar dan masuk dalam kelasnya para pebisnis sukses. Beberapa dari mereka bahkan sudah masuk ke dalam jajaran birokrasi dan politik. Muslim khasmir bahkan memiliki lahan pemakaman yang khusus diperuntukkan bagi muslim Khasmir (khasmiri) di daerah Shayambhu.
Kasta Masyarakat Nepal Paling Bawah
Gelombang kedua muslim India masuk ke Nepal dan tinggal di di wilayah Terai (perbatasan India dan Nepal) pada abad ke 19 tepatnya di tahun 1857M. Tahun 1857 wilayah Terai diakuisisi oleh Nepal di bawah Perdana Menteri Jung Bahadur bersama kerajaan Inggris. Hal tersebut sebenarnya upaya Inggris agar muslim tidak terkonsentrasi di India yang semakin membahayakan penjajahan Inggris atas India. Di bawah tekanan penjajah Inggris, Muslim di daerah perbatasan mengungsi ke wilayah Terai yang dijadikan wilayah Nepal. Sejak saat itu Muslim tunduk pada undang-undang Kerajaan Nepal tahun 1853 sebagai warga Negara dengan kasta terendah.
Sebagian besar muslim di wilayah Terai tersebut bukanlah pendatang namun menjadi bagian muslim Nepal karena 4 distrik territorial mereka yang tadinya merupakan wilayah India utara dimasukkan ke dalam teritori Nepal oleh Inggris sebagai hadiah untuk raja Nepal yang membantu Inggris dalam perang terhadap kerajaan Nawab dari Oudh yang ingin merdeka.
Muslim dari Tibet masuk ke Nepal awalnya juga untuk berdagang dan kemudian menetap di Nepal. Dalam sebuah kunjungan kenegaraan Raja Ratna Malla ke Lhasa, beliau juga mengundang para pengusaha muslim Tibet untuk membuka usaha di Kathmandu. Dan muslim pendatang dari Tibet bertambah di era 1960-an sebagai akibat gejolak politik di Tibet. Kini muslim Tibet yang ada di Nepal sudah berbaur dengan warga setempat baik bahasa, budaya hingga cara berpakaian merekapun sudah seperti orang Nepal. Muslim keturunan Tibet rata rata sukses, mereka masih melanjutkan bisnis dengan Tibet tanah leluhur mereka dan tentunya dengan China yang kini berkuasa di Tibet.
jemaah masjid Khasmiri Taqia
di halaman tengah (flickr)
Ketika Angin perubahan berhembus
Selama berabad abad lamanya muslim Nepal hidup dalam ketertindasan penguasa dan mengalami ketertinggalan hampir disegala bidang salah satu sebabnya adalah status sosial mereka yang berada di kasta paling bawah menyebabkan mereka tak memiliki akses ke dunia pendidikan hingga politik. Tahun 1951 kekuasaan rezim dinasti Rana Berahir. Raja baru kurang bersimpatik dengan Muslim karena dianggap orang orang dekatnya dinasti sebelumnya. Perubahan kondisi politik mulai terjadi di tahun 1959 dengan keluarnya konsitusi baru dan pembentukan pemerintahan yang dipilih secara demokratis dengan B.P. Koirala sebagai perdana menteri, namun kemudian sistim pemerintahan yang baru terbentuk ini dibubarkan oleh raja Mahendra setahun kemudian Dan menggantinya dengan sistim monarki terpimpin yang baru.
Namun sejak tahun 1960 itu pula tersebut raja Mahendra menghapus Undang undang tahun 1853 dengan menerbitkan undang undang baru yang mengangkat status kewarganegaraan muslim setara dengan warga negara lainnya. Meskipun UU tahun 1963 ini memberikan kebebasan beragama namun tetap melarang perpindahan agama (dari Hindu ke Islam) dan tetap melarang perceraian sebagaimana diatur dalam UU tahun 1853. Pelanggaran terhadap aturan tersebut akan dikenakan penjara selama 3 tahun. Raja Mahendra juga mengangkat satu orang wakil dari muslim untuk duduk di Dewan Perwakilan Nasional (Panchayat) dan tidak ada larangan bagi pendirian madrasah.
Sisi lain masjid Khasmiri Taqia (foto source)
Perubahan politik Nepal terjadi lagi ketika Nepal bertransformasi dari system monarki Hindu kepada system demokrasi multi partai di tahun 1990 Perubahan tersebut juga memberi perubahan signifikan bagi muslim Nepal. Dengan keluarnya undang undang kesetaraan tanpa diskriminasi agama, ras, jenis kelamin, kasta, suku ataupun ideologi. Dan dengan sendirinya mengahapus superioritas Hindu selama berabad abad di negeri itu.
Hasilnya adalah 31 pemimpin muslim dapat ikut serta untuk pertama kali dalam kancah politik Nepal dengan ambil bagian dalam pemilu tahun 1991 dan lima dari mereka berhasil terpilih. Tiga dari mereka masuk dalam jajaran anggota kongres Nepal (dari partai komunis dan partai Sadbhavana) sedangkan Sheikh Idris yang menjadi anggota kongres juga masuk ke dalam jajaran kabinet.
Salah satu bangunan di Masjid Jami Khasmiri Taqia (source)
Muslim Nepal kini sedang berjuang mendapatkan hak atas 10% jatah kursi di dewan perwakilan, kursi di parlemen dan meminta pengesahan hari besar Islam sebagai hari libur nasional. Lebih radikal lagi sekelompok muslim disana berjuang untuk mendapatkan identitas tersendiri bagi muslim Nepal. Segera setelah terjadi perubahan konstitusi tersebut, imam Masjid Jami Kathmandu memimpin satu delegasi menghadap Perdana Menteri K.P. Bhattarai mengajukan 14 poin permintaan.
18 Mei 2006 Parlemen Sementara Nepal mengesahkan undang undang baru yang secara tegas menyebutkan bahwa Nepal merupakan sebuah Negara merdeka, berdaulat dan Sekuler. Undang undang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam Konstitusi Sementara di bulan Mei tahun 2007 yang menyatakan bahwa Nepal adalah sebuah negara yang Independen, invisible, berdaulat, sekuler dan inklusif serta Negara yang berdemokrasi secara penuh. Dewan perwakilan yang terpilih dalam pemilu di tahun tersebut harus mengesahkan hal teresebut.
Massa ummat islam berdemo di hadapan jenazah Faizan, sekjen
persatuan Islam Nepal yang terbunuh di depan masjid Jami
Kathmandu sesaat setelah sholat di masjid tersebut (demotix.com)
Ancaman Terhadap Pimpinan Organisasi Islam Nepal
Salah satu organisai Islam di Nepal yang berupaya meningkatkan pendidikan ummat Islam Nepal adalah Persatuan Islam (islami Sangh), Sekretaris Jendral organisasi ini bernama Faizan Ahmad Ansari pada tanggal 26 September 2011 silam menjadi korban penembakan oleh dua orang pria bersenjata tak dikenal dan nyawanya tak tertolong. Kala itu beliau baru saja selesai menunaikan sholat di masjid yang lokasinya justru di depan pos polisi di kawasan metropolitan Kathmandu. Di bawah guyuran hujan deras dua pria berjas hujan memberondong beliau dengan peluru hingga tewas. Pembunuhan itu memicu protes dan kemarahan dari pendukung dan keluarga beliau. Beliau bukan satu satunya pemimpin muslim yang menjadi korban pembunuhan di Nepal, sebelumnya seorang pengusaha media muslim setempat, Jamin Sahah juga mengalami nasib serupa dalam waktu yang tak berselang terlalu lama.
Serangkaian pembunuhan dan percobaan pembunuhan terhadap tokoh tokoh muslim di Nepal mengundang kecaman dari berbagai pihak termasuk dari tokoh tokoh agama selain Islam di Nepal. Peristiwa tersebut berujung kepada pencopotan kepala kepolian Kathmandu dan pembentukan komisi penyidik kasus pembunuhan tersebut namun tak membuahkan hasil. Lebih jauh ummat Islam Nepal kini menuntut pengunduran diri wakil Perdana Meteri dan Menteri dalam Negeri Nepal sebagai bentuk tanggung jawab atas serangkaian pembunuhan terhadap tokoh tokoh Islam di negeri tersebut.
Al Qur’an berbahasa Nepal
Muslim Nepal kini bisa memiliki kitab suci Al Qur’an terjemahan bahasa Nepal sebagai upaya penyebaran dakwah di kalangan umat Islam di sana. Terjemahan Al-Quran berbahasa Nepal mencakup 1.168 halaman, ditulis dengan tulisan Nepal dengan menyertakan ayat-ayat Al-Quran yang diterjemahkan dalam tulisan Arab. Untuk tahap pertama, terjemahan Al-Quran berbahasa Nepal dicetak lebih dari 5.000 eksemplar, 2.500 diantaranya dikirim ke New Delhi (India), Buthan, dan Myanmar hingga kemudian semakin banyaklah Muslim Nepal yang mengenal kembali Islam lewat ayat-ayat Al Qur’an dalam bahasa yang mereka pahami.
Masjid Khasmiri Taqia yang terbakar saar rusuh massa 1 September
tahun 2004 lalu (theage.com.au)
Sejarah Masjid Khasmiri Taqia - Nepal
Masjid Khasmiri Atau Masjid Khasmiri Pancha Taqia dibangun pertama kali oleh seorang ulama Islam Khasmir pada tahun 1524M di masa kekuasaan raja Rama Malla (1484-1520). Masjid ini merupakan masjid pertama dan terbesar di Nepal. Keturunan beliau dan para pengikutnya kini masih eksis di Kathmandu. Beliau merupakan salah satu dari pedagang khasmir yang sukses di Kathmandu, menjalankan bisnis perdagangannya dengan Tibet dan India dengan berpusat di Kathmandu.
Beliau dan para pegadang Khasmir lainnya ketika itu mendapatkan izin dari raja untuk berdagang dan menetap di Kathmandu dengan satu syarat agar tidak menyebarkan Islam kepada pemeluk agama Hindu. Masjid yang dibangun hanya untuk kepentingan ibadah bagi muslim yang ada dan tidak untuk dijadikan sebagai pusat pengembangan Islam kepada pemeluk agama Hindu.
Masjid yang sudah berumur lebih dari 480 tahun ini sempat mengalami kerusakan parah akibat serangan sekitar 4000 massa pada tanggal 1 September 2004 lalu. Serangan tersebut menyusul terjadinya insiden terbunuhnya 12 pekerja Nepal yang diculik oleh milisi bersenjata di Iraq. Warga Nepal kemudian melampiaskan kemarahan atas insiden tersebut dengan menyerang Masjid Khasmiri Takiya. Merusak dan menyeret keluar perabotan masjid dan membakar ruangan utama masjid Khasmiri.
Sholat idul adha 7 November 2010 yang lalu (jafrianews.com)
Beruntung aksi tersebut berhasil dibubarkan oleh pasukan polisi anti huru hara Nepal hingga tindak anarkis tersebut tak meluas. Polisi juga sempat menutup kawasan tersebut yang tak jauh dari (bekas) istana Kerajaan Narayanhity dan memberlakukan jam malam selama beberapa waktu, melarang penduduk keluar rumah di malam hari dan mengeluarkan perintah tembak di tempat bagi pelaku kerusuhan lanjutan. Kelompok massa yang sama sebelumnya juga telah mendemo dan merusak lusinan kantor perusahaan pengerah tenaga kerja yang dipersalahkan karena telah mengirim warga Nepal ke Iraq. Kerusuhan ini dikenal dengan sebutan black Wednesday di kupas tuntas dalam tabloid nepali times edisi 10-16 September 2004.
Meski masjid ini dibangun dan dikelola oleh muslim khasmir, namun terbuka untuk semua kalangan. Khutbah jum’at disampaikan dalam bahasa Arab. Jabatan Imam saat ini dipegang oleh Ali Manzar. Di saat penyelenggaraan sholat jum’at dan dua sholat hari raya masjid ini penuh sesak oleh jemaah pria sampai ke atap dan areal sekitar masjid.
Bangunan utama Masjid Khasmiri Taqia, dihalaman tengah masjid Khasmiri Taqia (foto source)
Arsitekrual Masjid Kashmiri Taqia - Nepal
Bangunan utama Masjid Khasmiri Taqia merupakan bangunan masjid yang sangat kental dengan sentuhan India utara sebagai tanah leluhur dari muslim Khasmiri di Nepal. Menara menara kecil menghias atap masjid. Tiga kubah batu menghias atap bangunan utama. Sentuhan seni dinasti Mughal terlihat disini dan pada menara menara kecilnya.
Masjid Khasmiri Taqia dilengkapi denga halaman tengah yang cukup luas. Bangunan koridor berlantai tiga mengitari halaman tengah ini. bangunan koridor ini memiliki daya tampung jauh lebih besar dibandingkan dengan bangunan utama masjid. Halaman tengah masjid ini juga difungsikan sebagai areal tempat sholat. Bangunan koridor yang mengitari halaman tengah masjid ini memiliki seni bangunan yang khas. Dengan lengkungan yang tidak biasa. Lengkungan yang biasa kita kenal adalah sebuah lengkungan lengkungan yang rata. Namun lengkungan di masjid ini dibentuk sedemikian rupa dengan lengkungan yang lebih kecil.
Yang lebih menarik adalah disedikannya sebuah tempat khusus untuk muazin mengumandangkan azan. Bangunan seperti menara tapi tidak terlalu tinggi, di salah satu penjuru bangunan koridor. Dan bila didengarkan video di bawah ini, kumandang azan di masjid Nepal ini sangat jauh berbeda langgamnya dengan kumandang azan yang biasa kita dengar di Nusantara hingga kawasan semenanjung Malaya.
Azan di Indonesia biasanya dilantunkan dengan lafaz yang panjang dan mendayu dayu merdu. Di Masjid Khasmiri Takiya azan nya lebih datar meski lafaznya juga panjang panjang. Namun tentu saja kumandang azan seperti ini terdengar asing bagi muslim Indonesia dan Muslim Nusantara. Bagaimanapun lain lubuk lain ikannya, lain laing lain pula belalangnya. Tapi justru itu salah satu letak indahnya keragaman. Menambah khazanah dunia Islam.
Thursday, April 19, 2012 6:20:05 PM
Kemunculan Islam di Ethiopia dan penetrasinya yang mendalam ke seluruh kawasan, begitu pula masuknya Islam ke Afrika, adalah satu dari sekian episode sejarah yang terabaikan, kecuali bagian tentang kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di wilayah tersebut, dan itu pun hanya sekilas. Para sejarawan Arab abad pertengahan tidak memedulikannya. Paragraf-paragraf yang mencurigakan dalam buku-buku sejarah dan tulisan orang-orang Barat lebih menyoroti wajah Kristen Ethiopia. Kedudukannya semacam benteng bagi misi Kristen di tengah-tengah lautan bangsa dan negara-negara Islam. Beberapa buku karya penulis Arab malah menjadikan tulisan-tulisan orang Barat sebagai referensi penelitian mereka.
Kita tahu bahwa sampai saat ini belum ada kajian dan penelitian serius tentang sejarah, situasi, dan realitas umat Islam masa lalu dan sekarang di Ethiopia. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu, yang paling utama adalah kelangkaan referensi yang netral sebagai konsekuensi dari kelalaian dan penggelapan yang disengaja atas masalah itu dalam buku-buku sejarah, dan ketidaktahuan tentang peninggalan-peninggalan Islam yang berakar dan hidup di Ethiopia, cerita-cerita kepahlawanan perjuangan kaum Muslimin di Ethiopia dan Afrika, dan perjuangan yang tak kenal menyerah demi menjaga agama dan identitas Islam.
Umat Islam Ethiopia menghadapi serangan ganas dari tentara salib di masa lalu dan tipu daya mereka di masa kini. Mereka benar-benar terisolasi dari saudara-saudara muslim di sekeliling mereka. Pemerintahan dan kekuatan sekutu tentara salib yang silih berganti secara sengaja menyembunyikan potret Islam di Ethiopia. Mereka juga sengaja menghilangkan simbol-simbol Islam yang antik dan bernilai sejarah, yaitu dengan menghancurkan masjid-masjid kuno yang bersejarah, simbol-simbol yang menunjukkan keberadaan pemerintahan Islam yang dibangun oleh Bani Umayah, Bani ‘Uqail al-Hasyimi, dan Bani Makhzum yang datang dari pesisir Arab dan mendirikan pemerintahan Islam di Harar, Afar, Bale, Jima, Shewa, dan Dire Dawa. Pemerintahan salibis juga menghancurkan makam dan masjid, serta merusak manuskrip-manuskrip kuno.
Haile Selassie mengalokasikan anggaran khusus untuk memusnahkan arkeologi Islam. Dia mendatangkan ahli-ahli dari Barat untuk menghilangkan dan merusak landmark arkelogis dan memerintahkan pendirian gereja di atas reruntuhan landmark Islam untuk menunjukkan kepada dunia bahwa negara itu adalah negara Kristen. Proyeknya mendapat sokongan kuat dari tentara salib yang fanatik. UNESCO World Foundation, yang sebagian besar anggotanya berasal dari negara-negara Islam, telah berkontribusi besar dalam melestarikan warisan Kristen. Dalam sejumlah laporannya UNESCO menekankan harusnya mempertahankan landmark-landmark Kristen yang palsu, dan mengabaikan arkeologi Islam yang antik, padahal mereka mengetahui keberadaan arkeologi Islam yang nyaris punah.
Di era Menelik II, ayah Haile Selassie, Gubernur Provinsi Harar, merobohkan sebuah mesjid kuno, lalu membangun sebuah gereja di atas reruntuhannya untuk menunjukkan atau memberikan kesan bahwa Harar adalah negara Kristen. Semua gubernur yang ditugaskan oleh kaisar Menelik II juga berbuat serupa. Mereka menghapus landmark arkeologis Islam, mengubah nama-nama kota, mendirikan gereja di kampung-kampung dan kota-kota yang dulunya Islam, semisal Jima, dan Agaro di bagian Barat Ethiopia, Shewa di Ethiopia Tengah. Peninggalan Daulah Umawiyah, Makhzumiyah, dan Hasyimiyah di Ethiopia Timur juga dihancurkan.
Dari aspek penulisan sejarah negara Ethiopia, para penulis dan sejarawan cenderung menonjolkan wajah Kristen dan mengagungkan sejarahnya. Semua upaya dilakukan demi Kristen. Negara dijadikan benteng pertahanan dan lain sebagainya bagi Kristen. Buku dan media massa juga secara fokus mendistorsi sejarah Islam dan kaum Muslimin di kawasan. Bahkan raja Negus yang memeluk Islam—semoga Allah merahmatinya—juga tidak luput dari upaya-upaya pemalsuan, distorsi, dan pengabaian. Tidak ada satu pun penulis atau sejarawan asli Ethiopia maupun peneliti Barat yang menceritakan sejarah raja yang satu ini. Sejarah Raja Negus ditelantarkan, tetap tidak dikenal dan tidak diceritakan, bahkan hingga saat ini. Pemerintahan lokal Tigray baru-baru ini mengizinkan untuk mengungkap sejarah raja pertama sebelum Islam ini setelah didesak oleh umat Islam di wilayah tersebut. Mereka membuat makam untuk Raja Negus dan membangun sebuah masjid yang juga dinamai dengan namanya.
Sontak pihak gereja marah dan mengecam keputusan tersebut. Mereka menyangkal keberadaan raja Ethiopia sebelum Islam. Uskup Agung yang keras kepala mengecam keputusan pemerintah lokal Tigray. Dia menyangkal keras keberadaan Raja Negus. Dia bersikukuh kepada keyakinan gereja yang tidak mengakui peristiwa semacam ini. Tindakannya tersebut didukung oleh semua lembaga Kristen, sejarawan lokal, dan sejarawan Barat. Lembaga Studi Ethiopia semi resmi dan para guru besar Universitas Adis Ababa, yang mayoritas menganut Kristen, juga menyangkal bahkan mengutuk keputusan tersebut.
Pada saat upacara yang diselenggarakan oleh kaum Muslimin di Tigray dalam rangka pembukaan masjid dan pembangunan makam khusus untuk Raja Negus dan para sahabat mulia yang meninggal di sana, Uskup Agung mengatakan bahwa Ethiopia adalah negara Kristen dan umat Islam bukanlah warga negara asli Ethiopia. Dia menjelaskan kepada para pengunjung bahwa 70 % penduduk Ethiopia adalah umat Kristen dan 30 % yang lainnya adalah umat Islam dan kaum pagan yang tinggal di negara tersebut.
Semua media bersikeras dan senantiasa fokus menampilkan wajah Kristen melalui program radio, televisi, penerbitan, dan media cetak, dan emoh menampilkan landmark Islam secara keseluruhan. Sebagai contoh adalah penerbitan milik Perusahaan Ethiopian Airlines yang membagi-bagikan fitur-fitur landmark Kristen di atas pesawat kepada penumpang supaya para turis atau pengunjung yakin bahwa Ethiopia adalah negara Kristen, agar mereka terpengaruh dan menanggapinya.
Prof. Haga, sejarawan Israel, memberikan kuliah umum pada tahun 1997 di Universitas Adis Ababa yang dihadiri banyak penulis, sejarawan, cendekiawan dan tokoh masyarakat lainnya. Kuliah yang disampaikannya mengambil judul Timur Tengah dan Islam. Dia mengatakan bahwa Timur Tengah tidak lagi murni Islam dan Kairo bukan lagi ibu kota Islam. Dia memberikan analisis atas pernyataannya dengan mengatakan bahwa situasinya secara keseluruhan telah berubah. Kontrol Islam terhadap kawasan ini sudah berakhir dengan munculnya negara Israel dan kontrol orang-orang Kristen atas Eritrea. Juga dengan adanya negara Ethiopia yang Kristen sejak dulu dan munculnya entitas Kristen di Mesir sebagai kekuatan yang berpengaruh di wilayah itu. Orang-orang Koptik bisa saja mendirikan negara Kristen di Delta Nil kapan pun mereka mau mengingat jumlah mereka yang terus bertambah, kebersamaan dan superioritas mereka dalam bidang pengetahuan.
Saat berbicara tentang Ethiopia, Haga mengatakan bahwa Ethiopia nyaris jatuh ke dalam kendali umat Islam pada era pertama kerasulan, karena masuk Islamnya Raja Negus—dialah dosen pertama yang mengakui masuk Islamnya Raja Negus—akan tetapi kesadaran kalangan gereja dan kalangan istana serta kemarahan mereka terhadap Raja Negus, di samping pengasingan Raja Negus sendiri di luar ibukota kerajaannya dan kematiannya di pengasingan telah menyelamatkan Ethiopia dan mengembalikan eksistensi Kristennya. Dengan demikian, Ethiopia adalah negara pertama yang mengalahkan Islam di era pertama pemerintahannya. Ethiopia juga negara pertama yang mengalahkan kekuatan Mesir yang berupaya menguasai sumber-sumber Nil.
Pada abad ke-16 Ethiopia juga berhasil mengalahkan kekuatan Imam Ahmad bin Ibrahim Sang Penakluk yang dijuluki si kidal, yang menaklukkan Ethiopia untuk Islam. Kemudian Haga memprediksikan bahwa Ethiopia bakal mengalahkan Islam di akhir zaman dan menghancurkan Ka‘bah. Dia merujuk sebuah hadis yang dihubungkan kepada Rasulullah Saw bahwa orang-orang Ethiopia bakal menghancurkan Ka‘bah pada akhir zaman. Dia juga merujuk hadis lainnya, “Tinggalkanlah orang-orang Ethiopia sebagaimana mereka meninggalkan kalian.” Kita jadi bertanya-tanya, apakah Isaias berencana menghancurkan Ka‘bah ketika mencaplok Kepulauan Hanis, Yaman, dekat pantai barat dengan bantuan Barat?
Demikianlah, Prof. Haga dan orang-orang yang seide mempersiapkan orang-orang Ethiopia, memobilisasi, menumbuhkan keberanian, dan memotivasi mereka agar suatu saat nanti siap menghancurkan Ka‘bah yang mulia, semisal dengan kuliah yang penuh kedengkian dan kebencian terhadap Islam tersebut. Dari waktu ke waktu orang-orang Ethiopia dicekoki oleh kuliah-kuliah semacam itu. Para pembicara dari Barat dan Israel silih berganti mengarang sejarah palsu dan menjejali pikiran orang-orang Kristen dengan aneka kebatilan.
Oleh karena itu, studi yang objektif dan mendalam tentang peninggalan Islam di Ethiopia dan berbagai hal yang tersimpan dalam memori rakyatnya tentang kehidupan para ulama Ethiopia, kaum sufi yang gigih dan patriotik, para pemimpinnya, dan umat Islam pada umumnya pada gilirannya akan menyingkirkan kabut tebal yang mengelilingi sejarah Islam Ethiopia yang terabaikan. Dengan tulisan ini saya bermaksud:
1. Meluruskan pemahaman yang salah kepada umat Islam dan umat Kristen bahwa Ethiopia adalah negara bagi umat Islam dan umat Kristen secara sama-sama. Keduanya telah hidup berdampingan selama berabad-abad. Nasib mereka sama dan masa depan mereka tergantung kepada koeksistensi yang damai. Ethiopia berhutang kepada Islam dan begitu juga sebaliknya.
2. Menunjukkan eksistensi Islam di Ethiopia kepada dunia tentang sejarahnya yang terabaikan, kebudayaannya yang terlupakan, dan peranan Islam dalam memajukan peradaban dan perekonomian Ethiopia karena berhubungan dengan pantai Islam, dan peran aktif lainnya yang diperankan oleh umat Islam dalam mendorong ke arah kemajuan ekonomi dan kebudayaan di Ethiopia.
3. Menunjukkan peran umat Islam dalam menjaga eksistensi dan perjuangan mereka dalam membela agama dan memelihara kemerdekaan negara.
Oleh karena itu, saya menyeru lembaga-lembaga Islam, semisal Organisasi Pendidikan dan Kebudayaan Islam, Organisasi Pendidikan dan Kebudayaan Arab, dan organisasi lainnya untuk fokus dan memperhatikan wilayah ini dan mengkaji secara fokus aspek-aspek sejarah Islam di Ethiopia yang terabaikan. Caranya adalah dengan mengkaji hal-hal berikut:
a. Raja Negus, hijrah para sahabat Rasulullah Saw yang pertama dan kedua ke Ethiopia beserta motif dan tujuannya, peninggalan dan nasib Raja Negus, dan nasib umat Islam di sekitarnya.
b. Peran para dai dan kaum sufi dalam menyebarkan agama Islam di Ethiopia sejak kemunculannya di pantai Islam, di pantai barat Laut Merah di Jeddah, dan di pantai timur, di pelabuhan Zeila dan pelabuhan Adulis.
c. Konflik pemerintahan Islam dengan raja-raja Kristen Ethiopia dan kemunculan Imam Ahmad Sang Penakluk pada puncak konflik tersebut; kemenangan Imam Ahmad atas kekuatan Kristen, upayanya dalam menaklukkan Ethiopia selama lima belas tahun kepada hukum Islam, dan faktor-faktor yang menyebabkan kekalahannya.
Kekuatan Kristen dunia bergabung melawan Islam dan umatnya di Ethiopia. Mereka menundukkan pemerintahan Islam kepada Ethiopia menghapus landmark-nya. Ketabahan umat Islam menghadapi serangan brutal yang dilancarkan oleh para raja dan kaisar Ethiopia Kristen terhadap umat Islam selama berabad-abad.
d. Umat Islam di era Tewodros sang penumpah darah, raja Ethiopia pada abad sembilan belas Masehi, dan ketabahan mereka menanggung derita penyiksaan, peperangan, pembunuhan massal, penghancuran masjid, pengusiran umat Islam di tangan penumpah darah ini.
e. Umat Islam di era tentara salib yang busuk, Yohanes IV, raja Ethiopia pada abad sembilan belas, serta pembantaian, kekejaman, dan genosida yang dilakukan oleh penjagal ini terhadap umat Islam. Dia memaksa umat Islam masuk Kristen dan menyalib para ulama yang gigih memegang teguh keyakinan. Dia mengeluarkan larangan seorang muslim memiliki sebidang tanah di bumi Ethiopia seraya mengatakan, “Ethiopia adalah bumi orang-orang Kristen. Silakan umat Islam pergi ke Makkah bila menolak memeluk agama Kristen.
f. Umat Islam pada era Menelik II pada abad kedua puluh yang mengumumkan perang terhadap pemerintahan Islam yang berdampingan dengan Ethiopia. Dia berhasil mendudukinya satu persatu berkat bekerja sama dengan negara-negara salibis, terutama Inggris, Prancis, Rusia, dan Italia. Dia menghancurkan masjid dan membangun gereja di atas reruntuhannya.
g. Haile Selassie dan Umat Islam. Haile Selassie dikenal sebagai antek-antek Barat dan terkenal dengan penipuan dan konspirasi busuknya terhadap Islam dan umatnya, serta perlakuan buruknya terhadap umat Islam dan bangsa Arab. Dia menghilangkan pelbagai peninggalan Islam dan mengubah berbagai fitur yang menunjukkan keberadaan landmark Islam di negara tersebut. Dia menganggap remeh umat Islam dan bisa dihilangkan kapan saja. Tanah-tanah milik umat Islam dinasionalisasikan dan dijadikan milik para pemimpin, tentara, dan umat Kristen pada umumnya. Dia memerintah pada dekade ketiga abad kedua puluh hingga dekade ketujuh pada abad yang sama. Era para raja ini merupakan periode terburuk bagi umat Islam di Tanduk Afrika. Pada periode ini pemerintahan Islam kehilangan kedaulatannya dan dianeksasi oleh kerajaan Ethiopia. Kaum muslimin disiksa, dihinakan, dan dianiaya oleh para raja Ethiopia. Penelitian apa pun seputar situasi kaum Muslimin pada saat itu niscaya akan melenyapkan debu-debu yang menutupi kejahatan para tiran tersebut terhadap umat Islam.
h. Manuskrip Islam kuno yang ada di berbagai tempat dan terancam punah atau rusak.
i. Masjid, makam kuno, pusat pendidikan, dan kewajiban untuk mempertahankannya;
j. Para ulama dan para dai dan penindasan yang mereka dapatkan dari para kaisar dan raja Ethiopia. Mereka berjuang dengan gigih dalam mengajarkan pemahaman Islam.
4. Menampilkan peran para dai dan para sufi dalam memelihara semangat jihad, mempertahankan iman, dan melindungi umat Islam, meskipun pada akhirnya mereka menderita kekalahan dan pendudukan. Telah muncul tokoh-tokoh penting yang senantiasa dikenang di wilayah Islam di Ethiopia, antara lain:
a. Syaikh Abadir yang dikenal dengan Syaikh Umar Razi—semoga Allah merahmatinya (Harar).
b. Syaikh Hasyim bin Abdil ‘Aziz, pengarang buku Fath al-Rahmân—semoga Allah merahmatinya (Harar).
c. Syaikh al-Kabir Nur Husain—semoga Allah menyucikan jiwanya (Barat Daya Ethiopia).
d. Syaikh Hasan Injam, pejuang besar—semoga Allah merahmatinya (Bale).
e. Para syaikh dan ulama terkenal dari Wollo, semisal Syaikh al-Syaukani, penulis buku-buku keislaman yang tulisannya belum sempat dicetak, Syaikh al-Ani, dan Syaikh Dana—semoga Allah merahmati mereka (Tenggara Ethiopia).
f. Syaikh al-Kabir Hamzah—semoga Allah merahmatinya (Aussa—Afar).
g. Syaikh Umar, seorang sufi dan pemilik gua yang terkenal dan dinamai dengan namanya sendiri—semoga Allah merahmatinya (Bale).
h. Syaikh Yahya, seorang sufi—semoga Allah merahmatinya (Harar).
i. Abdullah Hasan, pejuang besar yang terkenal dengan sebutan al-Mahdi, yang memerangi empat negara sekaligus: Inggris, Italia, Prancis, dan Ethiopia—semoga Allah merahmatinya (Ogaden, Timur Ethiopia).
j. Syaikh Thalhah Abu Saba, pejuang besar yang menghadapi para raja Kristen—semoga Allah merahmatinya (Wollo—Timur Laut Ethiopia).
k. Al-Amir Nur, pejuang besar—semoga Allah merahmatinya (Harar).
l. Al-Amir Umar Din—semoga Allah merahmatinya (Harar).
m. Amir Abullah, gubernur Harar terakhir, yang terlibat dalam pertempuran Chelenqo—semoga Allah merahmatinya (Harar);
n. Para pemimpin yang mulia dari kalangan Ahlul Bait r.a. yang berperan besar dalam menyebarkan Islam dan berpartisipasi dalam mempertahankannya. Mereka berjuang dan berjihad dalam menaklukkan Ethiopia seperti halnya Imam Ahmad Ibrahim sang penakluk.
o. Abu Jafar, Sultan Jima, berjuang dalam memelihara eksistensi Islam di Jima (Barat Ethiopia).
p. Rakyat muslim Afar yang berjuang dengan gigih dalam memelihara akidah dan identitas Islam. Mereka membela Islam dan lambang-lambang kesuciannya selama berabad-abad (Timur dan Selatan Ethiopia);
5. Terakhir, melakukan penelitian yang mendalam seputar umat Islam saat ini dan cara membangkitkan mereka secara budaya, ekonomi, dan sosial.
Menampilkan sejarah umat Islam di Ethiopia menjadi salah satu tugas yang sangat penting, karena generasi muda muslim Ethiopia merasa tersia-siakan. Mereka bertanya tentang sejarah, eksistensi, dan perjuangan leluhur mereka. Sebab, yang dapat dia baca hanyalah heroisme dan prestasi orang-orang Kristen terhadap ekspansi Islam, peperangan, dan lain-lain. Saya menyeru lembaga-lembaga Islam yang punya perhatian terhadap warisan Islam agar berinisiatif mengungkap sejarah yang terabaikan dan terkubur ini, serta berupaya memelihara berbagai peninggalan Islam dari kerusakan dan kepunahan.
Thursday, April 19, 2012 6:14:30 PM
Burkina Faso - dulu dikenal dengan nama Upper Volta - adalah sebuah negara kecil di dataran tinggi Afrika Barat, termasuk dalam untaian negara-negara Sahel, berbatasan dengan Mali, Niger, Benin, Togo, Ghana dan Pantai Gading. Luas wilayahnya hanya 274.200 km2. Tak berpantai, namun total penduduknya sekitar 13.574.820 orang, terdiri dari 60 suku, sehingga Burkina Faso dijuluki sebagai ‘negara banyak suku’.
ImageDi antara suku yang tergolong besar adalah suku Mossi (anak suku bangsa Volta), Mande dan Fulani. Suku Mossi dan Mande terbagi dalam puluhan anak suku yang tersebar di seluruh wilayah negara itu. Pantas saja kalau bangsa ini mempunyai sejarah panjang untuk bersatu dan merebut kemerdekaan. Kepadatan penduduk yang tinggi disertai sumberdaya alam yang minim, membuat banyak penduduknya bermigrasi ke luar negeri.
Burkina Faso beriklim tropis dan kering, mempunyai dua musim, yaitu musim kering (Nopember-Mei), dan musim hujan (Juni-Oktober). Agama Islam dianut sekitrar 60% penduduk, Kristen 20% dan animis 20%. Bahasa nasional mereka adalah Perancis, di samping bahasa setempat, yaitu Moore, Dioula dan Peul.
Ekonomi
Burkina Faso dikategorikan sebagai negara termiskin di dunia, dan sangat bergantung pada pertanian. Sumber daya alam dengan volume sangat sedikit, antara lain berasal dari emas, perak, bauxite, batukapur, tembaga, mangan, marmer, seng dan posfat. Karena ekonomi domestik tak berkembang dengan baik, Burkina Faso mendevaluasi mata uangnya pada Januari 1994 dan 1996, dengan rata-rata 5,9%.
Karena kesulitan ekonomi ini pula, banyak Burkinabe - sebutan bagi penduduk Burkina Faso - bermigrasi ke luar negeri, terbanyak bekerja di perkebunan-perkebunan Pantai Gading. Pada gilirannya, para Burkinabe yang mayoritas Muslim mendominasi dan mendesak pendu-duk asli Pantai Gading terutama di bagian utara, sehingga menyulitkan hubungan kedua negara bertetangga itu.
Angka pertumbuhan ekonomi ratarata minus 5,2% dan inflasi 1,9%, angkatan kerja 5 juta orang, 90% diserap oleh sektor pertanian, sisanya di bidang industri dan jasa. Hasil pertanian berkisar pada kapas, kacang, wijen, sorgum, beras, jagung dan ternak. Sedangkan hasil industri berkisar pada kain katun, minuman, produk pertanian, sabun, rokok, tekstil dan emas.
ImageMasjid Kota Bobo Dioulasso, Burkina Faso, terbuat dari tanah liat (pengaruh arsitektur Sudan). Komoditi ekspor adalah kapas, ternak dan emas, dengan tujuan ekspor Singapura, China, Thailand, Italia, India, Colombia, Ghana, Perancis, dan Niger. Sedangkan komoditi impor berasal dari Perancis, Pantai Gading, Togo dan Belgia, berupa bahan bakar, bahan makanan, dan alat-alat produksi (capital good). Indonesia belum memanfaatkan peluang apa pun di dalam hubungan ekonomi dengan negara ini.
Sejarah Pemerintahan
Republik Burkina Faso terbagi dalam 45 propinsi, dengan ibukotanya Ouagadougou (baca: Uagadugu). Selama sembilan abad (abad 11-19), Burkina Faso didominasi oleh kerajaan Mossi, salah satu suku terbesar yang dapat mempertahankan kepercayaan animismenya terhadap agama yang dianut suku-suku pendatang dari utara.
Perancis mulai menancapkan kukunya di Burkina Faso pada tahun 1896, ketika Voulet Charmoine, orang Perancis pertama menaklukkan negara tersebut. Pada tahun 1904, Burkina Faso dijadikan koloni Perancis dan diintegrasikan dengan dua negara lainnya yaitu Senegal dan Niger, dengan nama Haut-Senegal-Niger. Pada tahun 1919 koloni ini pecah dan Haul menjadi Upper Volta, yang pada 11 Desember 1958 menjadi Republik Upper Volta, serta akhirnya mendapatkan kemerdekaan dari Perancis pada 5 Agustus 1960. Presiden pertama adalah Maurice Yaneogo, seorang pejuang dan tokon partai Voltaic Democratic Union yang berkuasa selama enam tahun.
Pihak militer gonta-ganti melakukan kudeta di bawah komando mulai dari pangkat jenderal sampai kapten. Dalam kurun waktu dua dasawarsa terjadi tak kurang dari lima kali kudeta. Kudeta pertama (3 Januari 1966) dipimpin Jenderal Abubakar Sangoule Lamizana dan enam bulan kemudian ia menjadi Presiden kedua, berkuasa selama 15 tahun lebih (4 Juni 1966 - 25 Nopember 1980). la diturunkan lewat kudeta berdarah (kudeta kedua) yang dilakukan oleh Kolonel Saye Zerbo. Kolonel ini nanya bertahan selama dua tahun, dikudeta lagi oleh Mayor Dr. Jean-Baptiste Ouedraogo pada 7 Nopember 1982 (kudeta ketiga). Lagi-lagi pemerintahan Ouedraogo tak berumur panjang, sebab para perwira muda beraliran Marxist yang dikomandoi oleh Kapten Thomas Sankara melakukan kudeta keempat pada 4 Agustus 1983. Thomas Sankara dianggap oleh bangsa Burkina Faso sebagai pemimpin yang karismatik, karena pada tanggal 4 Agustus 1984, ia mengubah nama Upper Volta menjadi Burkina Faso, yang berarti ‘negara bebas dan didiami orang bermartabat dan gagah perkasa’. Namun pemerintahan Sankara hanya bertahan selama 3 tahun, karena ia tewas dalam kudeta kelima yang dipimpin oleh Kapten Blaise Compaore pada 15 Oktober 1987. Presdien Blaise Compaore akhirnya membangun demokrasi dan masih bertahan sampai sekarang.
Perkembangan Islam
Islam datang ke Afrika Barat dalam tiga gelombang. Pertama, abad ke-9 ketika bangsa Berber Afrika Utara menyebarkan Islam ke kerajaan Ghana. Kedua, abad ke-13, ketika kerajaan Mali terbentuk dan menyebarkan Islam ke seluruh Sabana di Afrika Barat hingga abad ke-18. Terakhir, abad ke-19 ketika seorang pahlawan Muslim asal Mali, Samore Toure, menyebarkan Islam ke arah selatan Afrika.
Islam masuk ke Burkina Faso pada gelombang kedua melalui berbagai upaya yang dilakukan oleh warga suku bangsa Fulani, baik dengan cara damai maupun cara kekerasan - penulis Barat menyebutnya ‘kombinasi perang dan perdagangan’ - karena pada kenyataannya Mossi sebagai suku terbesar di Burkina Faso memang sangat gigih mempertahankan kepercayaan animism hingga abad ke-19. Para pemimpin ini sangat menentang penyebaran I; namun pada akhirnya sebagian besar mereka memeluk Islam. Hal ini terbukti sensus penduduk yang dilakukan pada 1996, komposisi penganut agama di Burkina Faso adalah Islam 60%, Kristen 20%, dan animisme tinggal 20%.
Banyak tokoh yang berperan penting dalam pemerintahan dan kemajuan Islam di Burkina Faso. Yousouf Ouedraogo Menteri Luar Negeri Burkina Faso, termasuk tokoh yang disegani. Islam makin berjaya di Burkina Faso ketika terjadi kekisruhan di Pantai Ga pada tahun 2002, karena salah tokoh kunci pihak oposisi adalah Allasane Dramane Ouattara tengarai masih keturunan bangsa Burkina Faso, dan beragama Islam serta sangat cerdas. Akibat kisruhan tersebut, sekitar 350. Burkinabe yang mayoritas muslim lari ke Burkina Faso.
Sekurang-kurangnya ada hal dua yang diperjuangkan oleh umat Islam di Burkina Faso. Pertama, mengembalikan kejayaan Islam di tingkat pemerintahan pusat. Kedua, membendung kegiatan misionaris Kristen yang sangat agresif memurtadkan warga Muslim, antara lain dengan cara mendirikan stasiun radio di seantero Burkino Faso. Sasaran utama mereka adalah suku Fulani, yang dikenal sangat taat memegang teguh ajaran Islam.
Lembaga keagamaan di Burkina Faso The Ahlul Barr Society, mempunyai peran penting untuk membendung kegiatan kristenisasi tersebut. Beberapa di antaranya adalah EI-Hajj Oumarou Kanazae seorang pengusaha terkenal, Souleymane Kore, Mamadou Sawaidogu dan Al-Haji Sakande, tercatat sebagai tokoh Muslim Burkinabe yang aktif mengibarkan kejayaan Islam di Burkina Faso. ***
Thursday, April 19, 2012 6:07:09 PM
Dengan masjid yang dihadiri banyak jamaah dan generasi muda yang melihat Islam sebagai landasan identitas mereka, Chechnya mulai memperlihatkan kebangkitan Islam setelah dua dekade perang dengan Rusia.
"Generasi ini kehilangan masa kanak-kanak untuk perang," Imam Yasrayel Ayubov dari desa Serzhen-Yurt, dekat ibukota Chechnya Grozny, mengatakan kepada USA Today pada hari Kamis, 22 Maret.
"Pendidikan mereka terganggu, dan mereka tumbuh dalam semalam.
"Namun ketika datang Islam, orang muda jauh lebih berpendidikan dan jeli dari generasi sebelumnya."
Masjid di seluruh propinsi sekarang dipenuhi dengan jamaah setiap hari. Desa Serzhen-Yurt, misalnya, memiliki sembilan masjid untuk melayani 5.000 penduduknya.
Jilbab juga menjadi populer di kalangan wanita Chechnya, terutama generasi muda. Masjid dan pusat Islam sekarang sedang dibangun dengan cepat.
Stasiun TV lokal juga meningkatkan volume pemrograman yang ditujukan untuk identitas Islam Chechnya.
Ajaran Islam sekarang menjadi subjek wajib di sekolah Chechnya, yang kini memiliki ruang ataupun bangunan untuk beribadah.
"Chechnya kini aktif memposisikan diri tidak hanya sebagai bagian dengan hubungan otonom dari Rusia tapi juga sebagai pusat Muslim," kata analis Rusia Nikolai Petrov dari Carnegie Moscow Center.
Identitas Islam
Setelah menyaksikan kengerian perang di masa kecil mereka, Chechen muda sekarang melihat Islam sebagai landasan identitas mereka.
Misalnya remaja 15 tahun, Seda Makhagieva, berjuang dalam keluarganya untuk meyakinkan mereka untuk mengenakan jilbab.
"Keluarga saya tidak mengijinkan saya untuk memakainya pada awalnya," ujar gadis mungil Chechnya, mengenakan jilbab berwarna pastel, mengatakan kepada USA Today.
"Mereka bilang aku masih terlalu muda. Ibuku memukuli saya dan kakak saya setiap hari, tapi aku tidak peduli.
"Saya seorang Muslim dan itu adalah tugas saya untuk memakainya."
Pada generasi sebelumnya, wanita yang telah menikah di Chechnya menutupi rambut mereka dengan syal kecil berbentuk segitiga sebagai tanda hormat dan kesopanan.
Tapi sekarang, wanita Chechen muda mengenakan pakaian Muslim. Sekarang, setengah dari anak perempuan teman Seda di kelas sembilan di desa Serzhen-Yurt mengenakan jilbab, tata cara berpakaian wajib bagi wanita dalam Islam.
"Saya tidak ingin mereka memakai jilbab," kata ibu Seda, Rosa Makhagieva, 45 tahun, merujuk pada ketiga putrinya.
"Saya marah, berteriak dan bahkan memukul mereka.
"Suami saya bertentangan dengan saya. Dia berkata, 'Jika kamu tidak mengijinkan mereka untuk memakainya, saya akan memaksamu memakainya.'"
Tetapi beberapa Chechnya berpandangan berbeda mengenai tren positif ini, karena sekolah juga menganjurkan muridnya untuk memakai jilbab. Kritikus mengatakan pemerintah sekarang memaksa semua siswi, terlepas dari agama mereka, memakai penutup kepala, lengan panjang, dan rok di bawah lutut di sekolah umum dan bangunan pemerintah. Mereka yang menolak akan menjadi sasaran kritik.
"Tidak semua orang bereaksi dengan baik," kata guru Malika Taramova, 20 tahun, yang memiliki pandangan berbeda.
"Sekarang ada rumor bahwa semua guru harus memakai jilbab. Orang tua saya mengatakan kepada saya mereka akan membuat saya berhenti bekerja jika itu terjadi."
Thursday, April 19, 2012 5:40:03 PM
Jumlah polulasi masyarakat muslim di chile tidak sampai satu persen, negara bekas jajahan spanyol ini mayoritas masyarakatnya beragama roma katolik. Penduduk muslim berjumlah sekitar 3.000 orang (sensus tahun 2002), diperkirakan saat ini berjumlah sekitar 4.000. Diantara organisasi islam di chile, termasuk masyarakat muslim chili di mesjid as-salam di Santiago masjid bilal di iquique, dan pusat kebudayaan islam mohammed VI di kota Coquimbo.
Masjid yang pertama dibangun di chile adalah mezquita as-salam (masjid as-salam), dibangun pada tahun 1988 diprakarsai oleh syekh taufiq rumie, seorang pedagang berasal dari suriah yang disebut telah memimpin komunitas muslim sekitar 60 tahun. Tahun 1996 pembangunan mesjid selesai dan mulai digunakan oleh masyarakat muslim. Ada yang menyebut masjid as-salam di santiago merupakan salah satu dari tiga masjid terbaik di amerika latin setelah masjid di venezuela dan brasil . Masjid ini terdiri dari tiga lantai, memiliki ruang baca, ruang serba guna dan ruang untuk para tamu. Lantai tiga kebanyakan digunakan untuk jamaah wanita pada hari-hari tertentu seperti sholat jum’at, sholat idul fitri maupun sholat idul adha.
Sedangkan masjid dan madrasah di iquique pada awalnya adalah tanah yang dibeli sekelompok pengusaha dari pakistan pada tahun 1997 kemudian dibangun masjid dan madrasah yang rampung pada tahun 1999. Masjid Bilal merupakan masjid kedua yang dibangun di Chili, dan terletak di kota Iquique. Pada tahun 1997 sekelompok pengusaha Pakistan yang tinggal di ibukota Daerah Tarapacá membeli tanah untuk pembangunan masjid dan sebuah madrasah di kota Iquique. Masjid Bilai selesai dibangun pada tahun 1999. (liputan dan fotos mengenai masjid ini belum dapat dilakukan, karena saya belum berkesempatan mengunjungi masjid bilal di kota iquique… )
Masjid yang agak unik ada di coquimbo. Nama masjid adalah pusat kebudayaan islam Muhammed VI (the mohammed VI center for dialogue of civilization). Pendirian masjid dimaksud digagas oleh walikota pedro velasquest yanga beragama katholik pada tahun 2004. Luas masjid 722 meter. Masjid diresmikan pada 2007 oleh oscar pereira, walikota pengganti sang walikota yang penggagas, dihadiri oleh wakil dari kerajaan maroko, dubes maroko, kalangan pemerintah dan masyarakat muslim setempat. Masjid di Coquimbo ini berdiri diketinggian kota dengan menara setinggi 40 meter, terletak di puncak bukit villa dominant. Menara masjid disebut sebagai replika dari menara masjid koutobia di marrakech, kerajaan maroko. Menara yang bersegi empat dan ornamen masjid sangat cantik yang dikerjakan oleh pengrajin dari marokko yang dipimpin langsung oleh faissal cheradi, arsitek dari maroko.
Pembangunan masjid dimaksud merupakan sumbangan dari keluarga kerajaan maroko. Bila di masjid as-salam santiago seluruh pengurusnya adalah muslim, maka dua penjaga masjid, seorang setengah baya dan seorang anak muda adalah orang chile (chileno) yang beragama katolik. Masjid ini menjadi land mark bagi kota coquimbo, letaknya yang di puncak bukit menjadikan masjid ini dapat dilihat dari seluruh penjuru kota coquimbo, dan saat saya berkesempatan menaiki menara masjid dengan nafas terengah-engah, maka dari ketinggian menara terlihat jelas kota coquimbo. Mesjid ini terbuka untuk umum, kecuali ruang sholat hanya diperuntukkan bagi muslim, karena disamping sebagai sarana ibadah, masjid ini juga diperuntukan bagi pusat kebudayaan.
1307298902637482042
bagian dalam mesjid as-salam, santiago, chile
1307372157231935313
masjid as-salam, santiago
13073722971138269039
suasana sholat di masjid as-salam
13072927471829148558
penjaga masjid di coquimbo, chile
13073089581688024528
masjid agung di kota coquimbo
Thursday, April 19, 2012 5:29:40 PM
Sumber kantor berita Nouakchott di kota Gao, Mali telah melaporkan bahwa Amir jama'ah Ansar Al-Din Syaikh Iyad Ag Ghaly dan seorang komandan dari Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM) Mukhtar Bal'Mukhtar alias Ba'lawar telah tiba di kota Gao untuk melanjutkan misi penerapan Syari'at Islam setelah menerapkan Syari'at di kota Timbuktu.
Kota Gao telah dibebaskan oleh Mujahidin bulan lalu sebelum membebaskan kota Timbuktu. Sekarang di Gao, ada dua pihak yang mengontrol wilayah Gao, Gerakan Nasional Pembebasan Azawad (MNLA) dan jama'ah Al-Tauhid waj Jihad berbagi kontrol di wilayah Afrika Barat ini.
MNLA telah memproklamasikan Gao sebagai ibukota dari yang mereka sebut "Wilayah Independen Azawad", namun hal ini ditolak oleh Ansar al-Din. Ansar Al-Din mengatakan bahwa pembebasan kota-kota di Mali bukanlah untuk sekedar independensi melainkan untuk Islam, untuk menerapkan Syari'at Islam secara Kaffah (integral). Dalam sebuah pernyataan, Amir Ansar Al-Din menegaskan bahwa "perang kami bukanlah untuk independensi, ini untuk Islam".
Kedua petinggi jihad tersebut tiba di kota Gao setelah berbenah di kota Timbuktu yang sekarang telah dikontrol penuh oleh Mujahidin dari jajaran Ansar Al-Din dan AQIM dan telah dimulainya penerapan Syari'at di kota besar Mali ini.
Meski dua pemimpin itu meninggalkan Timbuktu, mereka telah mempercayakan amanah (urusan umat di Timbuktu) kepada Mujahidin AQIM yang ditunjuk sebagai walikota Timbuktu Yahya Abu Al-Humam dan Sanda Ould Bouamama Al-Timbukti sebagai wakilnya.
Thursday, April 12, 2012 5:11:58 PM
Sebuah laporan PBB mengatakan populasi dunia mencapai tujuh miliar jiwa pada hari Senin (31/10/2011) kemarin.
Laporan tersebut memandang tonggak populasi tujuh miliar sebagai tanda kelangsungan hidup lebih lama dan peningkatan tingkat kelahiran bayi yang hidup. Para ahli mengatakan laporan PBB memperlihatkan perbedaan jumlah penduduk negara-negara di dunia.
Salah seorang penulis studi tersebut, Richard Kollodge, seperti dikutip BBC mengatakan banyak negara berpenghasilan rendah di sub-Sahara Afrika dan beberapa negara di Asia telah melihat pertumbuhan populasi melampaui tingkat pertumbuhan ekonomi.
Penduduk Asia sebesar 4,2 miliar merupakan wilayah dengan jumlah penduduk paling padat di dunia. Sementara itu, tingkat pertumbuhan penduduk di Afrika diperkirakan tiga kali lipat menjadi 3,6 miliar pada awal abad berikutnya.
Tingkat kehamilan di negara-negara Eropa dan Jepang turun di bawah tingkat pergantian penduduk, hal ini menyebabkan keprihatinan akan kekurangan tenaga kerja dan produktivitas yang dapat mengancam kualitas hidup.
Muslim dua kali lipat
Sebelum ini, sebuah lembaga survey juga memprediksi, jumlah penduduk muslim dunia akan bertambah dua kali lebih cepat dibandingkan penduduk non muslim dalam 20 tahun ke depan.
Hasil sebuah penelitian ini juga memprediksi bahwa dalam satu generasi mendatang penduduk muslim dunia akan mencapai lebih dari seperempat total populasi dunia.
Pew Forum on Religion and Public Life pernah memproyeksikan bahwa tingkat pertumbuhan penduduk muslim dunia adalah 1,5 persen per tahun, sementara penduduk non muslim hanya tumbuh 0,7 persen per tahun.
Penelitian bertitel "The Future of the Global Muslim Population" pernah memproyeksikan bahwa jumlah penduduk muslim pada 2030 akan mengambil 26,4 persen dari total populasi dunia yang diperkirakan akan mencapai 8,3 miliar jiwa. Itu menandakan penduduk muslim saat ini yang mengambil porsi 23,4 persen dari total penduduk dunia yang sekarang mencapai 6,9 miliar, mengalami peningkatan 3 persen.
Lebih dari enam dari setiap 10 pemeluk agama Islam tinggal di kawasan Asia Pasifik pada 2030. Di Afrika, populasi penduduk muslim di Nigeria yang adaalah negara sub-sahara, akan melampaui jumlah penduduk muslim Mesir pada 20 tahun mendatang, ungkap penelitian tersebut.
Di Eropa, Pew memprediksi bahwa jumlah penduduk muslim akan meningkat hampir sepertiga dari jumlah sekarang pada 20 tahun ke depan, dari 44,1 juta orang atau enam persen dari total penduduk Eropa pada 2010, menjadi 58,2 juta orang atau delapan persen dari total penduduk Eropa pada 2030.
Sementara itu jumlah penduduk muslim AS diperkirakan akan tumbuh dari tingkat sekarang yang kurang dari 1 persen menjadi 1,7 persen pada 2030.*
Thursday, April 12, 2012 4:20:27 PM
Perpustakaan Kuno Tanoh Abee terdapat di Desa Tanoh Abee, di kaki Gunung Seulawah, Aceh Besar. Perpustakaan Tanoh Abee terletak di dalam kompleks Pesantren Tanoh Abee yang didirikan oleh keluarga Fairus yang mencapai klimaks kejayaannya pada masa pimpinan Syekh Abdul Wahab yang terkenal dengan sebutan Teungku Chik Tanoh Abee. Ia meninggal pada tahun 1894 dan dimakamkan di Tanoh Abee. Pengumpukan naskah (manuskrip) Dayah Tanoh Abee telah dimulai sejak Syekh Abdul Rahim, kakek dari Syekh Abdul Wahab. Naskah yang terakhir ditulis pada masa Syekh Muhammad Sa’id, anak Syekh Abdul Wahab yang meninggal dunia pada tahun 1901 di Banda Aceh, dalam tahanan Belanda.
Tuesday, March 6, 2012 5:58:32 PM
Dr. Tagata Tejasen mengucapkan Laa Ilaaha IllAllah Muhammad Rasul Allah!
Dia menyatakan kesaksiannya (syahadah) dan menyatakan bahwa dia menjadi seorang Muslim. Hal ini terjadi pada waktu Konferensi Kedokteran Saudi Ke-8 yang diselenggarakan di Riyadh. Dia adalah Profesor Tejatat Tejasen, Ketua Departemen Anatomi di Universitas Chiang Mai, Thailand. Sebelumnya, dia adalah Dekan Fakultas Obat pada universitas yang sama.
Kami tunjukkan kepada Profesor Tejasen beberapa ayat Al-Quran dan Hadits yang berhubungan dengan kekhususannya dalam bidang anatomi. Dia berkomentar bahwa mereka juga mempunyai (yang serupa) dalam kitab Budha mereka penjelasan yang sangat akurat tentang tahap-tahap perkembangan embrio. Kami memberitahu dia bahwa kami sangat tertarik sekali dan ingin melihat deskripsi-deskripsi (dalam kitab Budha, pent.) tersebut dan mempelajari kitab-kitab itu. Setahun kemudian, Profesor Tejasen datang ke Universitas King Abdul Aziz sebagai pemeriksa luar. Kami mengingatkan dia tentang pernyataan yang dibuatnya setahun yang lalu, akan tetapi dia minta maaf dan mengatakan bahwa sebenarnya dia mengatakan pernyataan tersebut tanpa mempelajari terlebih dahulu permasalahan yang sebenarnya. Akan tetapi, ketika dia memeriksa Kitab-Kitab Budha, tidak juga ditemukan referensi yang berhubungan dengan masalah yang dijadikan bahan penelitian.
Kemudian, kami menunjukkan kepadanya sebuah ceramah yang ditulis oleh Profesor Keith Moore tentang kecocokan antara embriologi modern dengan apa yang ada di dalam Al-Quran dan Sunnah dan kami menanyakan Profesor Tejasen apakah dia mengenal Profesor Keith Moore. Dia menjawab bahwa tentu saja dia mengenalnya, dengan menambahkan bahwa Profesor Moore adalah salah seorang saintis yang terkemuka di bidangnya.
Ketika Profesor Tejasen mempelajari artikel ini, dia juga sangat tercengang. Kami menanyakan kepadanya beberapa pertanyaan di bidang spesialisasinya. Salah satu pertanyaan yang berkenaan dengan penemuan modern dalam ilmu tentang kulit (dermatology) tentang karakteristik (sifat-sifat) kulit dalam menerima sensor. Dr. Tejasen merespon: Ya, jika terbakarnya dalam.
Telah dinyatakan kepada Dr. Tejasen, Anda akan tertarik untuk mengetahui apa yang ada dalam buku ini, Buku yang Suci - Al-Quran, telah ada referensinya 1400 tahun yang lalu berkenaan dengan saat penghukuman kepada orang-orang yang tidak percaya dengan api neraka dan dinyatakan bahwa ketika kulit mereka dihancurkan, Allah membuat kulit yang lain lagi untuk mereka agar mereka merasakan hukuman dari api neraka itu lagi, mengindikasikan pengetahuan tentang '?? akhir urat syaraf??' (nerve ending) di dalam kulit, dan ayat tersebut adalah sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS An-Nisaa' (4) :56).
Kami bertanya: Apakah Anda setuju bahwa ini adalah salah satu referensi akan pentingnya ??'akhir urat saraf' (nerve endings)?? pada sensasi kulit, 1440 tahun yang lalu? Dr. Tejasen merespon: Ya, saya setuju.
Pengetahuan tentang sensasi kulit ini telah diketahui jauh hari sebelumnya (dalam Al-Quran, pent.), karena dikatakan bahwa jika seseorang melakukan suatu kesalahan, maka dia akan dihukum dengan cara membakar kulitnya dan kemudian Allah akan menggantikan kulit yang baru lagi, dan menutupinya, untuk membuat dia mengetahui lagi bahwa siksaan itu sangat pedih. Hal ini berarti bahwa mereka telah mengetahui beberapa tahun yang lalu bahwa penerima sensasi sakit pasti ada di kulit, maka mereka meletakkan sebuah kulit bari lagi di atasnya.
Kulit (Lihat Gambar) adalah pusat kepekaan rasa panas. Maka, jika kulit telah terbakar api seluruhnya, maka akan lenyaplah kepekaannya. Karena itulah maka Allah akan menghukum orang-orang yang tidak percaya akan Hari Pembalasan dengan mengembalikan kulit mereka waktu demi waktu, sebagaimana Dia, Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, berfirman dalam Al-Quran:
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS An-Nisaa' (4) :56).
Kami menanyakan dia pertanyaan berikut: 'Mungkinkah ayat ini datang kepada Nabi Muhammad SAW dari sumber manusia?' Profesor Tejasen memberikan pengakuan bahwa hal ini tidak mungkin datang dari sumber manusia. Akan tetapi dia masih menanyakan tentang sumber pengetahuan tersebut dan kemungkinan tentang dari mana Muhammad SAW menerimanya.
Kemudian dia menanyakan: 'Akan tetapi siapakah Allah ?'
Kami menjawab: 'Dialah Sang Pencipta semua yang ada.' Jika Anda menemukan kebijaksanaan, maka hal itu karena dia datang dari Yang Maha Bijaksana. Jika Anda menemukan pengetahuan dalam pembuatan alam semesta ini, hal itu karena alam semesta ini adalah ciptaan dari Dia yang memiliki segala pengetahuan. Jika Anda menemukan kesempurnaan dalam susunan dari ciptaan-ciptaan ini, maka itulah bukti bahwa itu adalah ciptaan dari Dia yang mengetahui segala kebaikan, dan Jika Anda menemukan kemurahan hati, maka hal ini memperlihatkan bukti pada fakta bahwa ini adalah ciptaan dari Dia Yang Maha Pemurah. Sama halnya jika Anda memahami ciptaan sebagai sesuatu yang tersusun secara utuh dan terkait satu sama lain dengan kuat, maka itulah bukti bahwa itu adalah ciptaan dari Sang Pencipta, Yang Maha Agung dan Maha Mulia.
Profesor Tejasen menyetujui apa yang kami katakan padanya. Dia kembali ke negaranya di mana dia membawakan beberapa kuliah tentang pengetahuan dan penemuan barunya. Kami diberitahu bahwa lima dari murid dia berpindah ke Islam sebagai hasil dari kuliahnya. Kemudian, pada Konferensi Kedokteran Saudi ke-8 yang diselenggarakan di Riyadh, Profesor Tejasen mengikuti serangkaian ceramah pada tanda-tanda yang ada dalam Al-Quran dan Sunnah yang berhubungan dengan pengetahuan Medikal.
Profesor Tejasen menghabiskan empat hari dengan beberapa sarjana, Muslim dan non-Muslim, membicarakan tentang fenomena yang ada dalam Al-Quran dan Sunnah ini. Pada akhir acara, Profesor Tejasen berdiri dan mengatakan:
Pada tiga tahun terakhir saya sangat tertarik dengan Al-Quran, yang dihadiahkan oleh Syaikh Abdul-Majiid Az-Zindani. Tahun lalu, saya mendapatkan skripsi terakhir dari Profesor Keith Moore dari Syaikh. Dia meminta saya untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Thailand dan mengadakan beberapa ceramah kepada ummat Muslim di Thailand. Saya telah memenuhi permintaan dia. Anda bisa melihatnya pada video tape yang diberikan Syaikh sebagai hadiah. Dari penyelidikan saya dan dari apa yang telah saya pelajari selama konferensi ini, saya yakin bahwa segala yang terekam dalam Al-Quran 1400 tahun yang lalu pastilah suatu kebenaran, hal ini bisa dibuktikan dengan ilmu sains. Karena Nabi Muhammad SAW tidak bisa membaca dan menulis, Muhammad SAW pastilah seorang utusan yang telah menyampaikan kebenaran ini yang telah diwahyukan kepadanya sebagai cahaya dari Dia Yang Maha Pencipta. Pencipta ini pastilah Allah, atau Tuhan. Oleh karena itu, saya fikir inilah saat yang tepat untuk mengucapkan 'Laa ilaaha ilaallaah', bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah, 'Muhammadar rasuulullaah', bahwa Muhammad adalah utusan Allah...
Saya tidak hanya telah mempelajari dari pengetahuan sains di konferensi ini, akan tetapi juga memperoleh kesempatan besar untuk menemui banyak ilmuwan baru dan membuat persahabatan baru dari semua pengikut konferensi. Hal paling berharga yang saya peroleh dengan mendatangi konferensi ini adalah kalimat 'Laa ilaaha illallaah, Muhammadar rasuulullaah', dan menjadi seorang Muslim.
Kebenaran sungguh datang dari Allah yang telah berfirman dalam Al-Quran:
Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Quran Surat 34:6)
1 2 3 4 5 ... 12 Next »