internet sehat V
Wednesday, March 16, 2011 11:38:33 PM
(9) Ujilah tingkat pengamanan pada PC Anda.
Agar Anda benar-benar yakin bahwa software yang telah terinstal masuk kategori aman (susah diserang oleh cracker), serta jaring pengaman yang dipasang pada PC benar-benar berjalan sebagaimana yang diharapkan, maka ada baiknya Anda mengujinya terlebih dahulu. Untuk kepeluan ini, Anda dapat menggunakan software ‘PC Security Test’ (www.pc-st.com) atau Secunia Personal Software Inspector (www.secunia.com). Jalankan program PC Security Test, lalu klik “Standard Tests>Start”. Jika ada peringatan dari firewall dan antivirus, hal ini menandakan kedua program tersebut berjalan baik dalam mencatat serangan cracker atau virus simulasi. Namun jika tidak, mungkin saja database antivirus dan firewall tidak up-to date atau malware menyamar sebagai file sistem. Kasus seperti ini bisa Anda atasi dengan sebuah anti-rootkit.
Sedangkan pada Secunia Personal Software Inspector (SPSI), program ini akan membandingkan nomor versi aplikasi terinstalasi dengan database Secunia. Apabila di Secunia ditemukan versi aplikasi yang lebih baru, Software Inspector akan menawarkan kepada Anda untuk mendownloadnya. Apabila dukungan untuk sebuah aplikasi dihentikan, program akan mengklasifikasi aplikasi tersebut sebagai program yang berpotensi membawa bahaya. Mengapa? Hal ini karena jika dalam program ditemukan adanya celah, celah tersebut tidak akan ditutup. Jika keadaannya demikian, sebaiknya Anda mencari aplikasi pengganti. Setelah instalasi selesai dan program ini dijalankan di PC, SPSI akan menscan aplikasi pada PC dan membandingkannya dengan database Secunia. Untuk itu dibutuhkan koneksi internet yang stabil. Selanjutnya, dari daftar program yang ditemukan, Anda bisa mengupdatenya dengan mengklik tanda download (tanda panah ke bawah).
Untuk program yang sulit diupdate, SPSI menawarkan sebuah asisten. Namun, biasanya masalah ini terpecahkan dengan mendownload versi terbaru dari aplikasi tersebut. Untuk pengguna tingkat lanjut, Anda dapat mengaktifkan mode “Advanced” yang berada di pojok kanan atas program. Dengan mode ini, saat scan berlangsung, program akan menampilkan daftar yang lebih panjang dan lengkap. Apabila semua aplikasi telah di-update, Anda dapat berselancar di web dengan tenang.
Selain PC Security Test dan SPSI, periksa pula Windows dengan menggunakan Eset SysInspector. Eset SysInspector (http://www.eset.com/download/sysinspector) dapat memeriksa 4 poin yang paling sering diserang dalam system keamanan Windows. Program ini juga dapat menginformasikan ancaman keamanan melalui sebuah file log. Tool ini juga tidak membutuhkan instalasi, sehingga dapat dijalankan dari UFD. Eset SysInspector akan menganalisis entri registry, proses, program autorun, dan koneksi internet. Jika tes sudah selesai, atur slider “Filtering” di “Risk Level 7 to 9”. Apabila Anda masih menemukan file-file yang ditandai merah dalam ‘directory tree’, catat cabang registry tersebut beserta nama-nama filenya. Hal ini perlu Anda lakukan, karena program Eset SysInspector tidak dapat menyingkirkan malware secara otomatis. Selain itu, untuk meyakinkan Anda apakah file yang ditemukan berupa malware atau bukan, silakan kunjungi situs www.runscanner.net.
Untuk melengkapi hasil pengujian dari PC Security Test, SPSI, serta Eset SysInspector, maka Anda dapat pula menggunakan program Microsoft Baseline Security Analyzer (http://technet.microsoft.com/en-us/security/cc184924.aspx), dan Attack Tool Kit (http://www.computec.ch/projekte/atk/). Khusus untuk browser, lakukan pula pemeriksaan melalui website http://bcheck.scanit.be/bcheck untuk memeriksa keberadaan exploit yang dapat memicu buffer-overrun. Buka alamat situs tersebut. Secara otomatis website akan menampilkan jenis browser dan sistem operasi yang Anda gunakan. Info ini sangat penting bagi cracker. Option “Only test for bugs specific to my type of browser” merupakan pilihan yang tepat untuk menguji browser. Klik “Start the test” untuk menjalankan serangan. Prosesnya bisa membuat browser crash. Apabila tidak ditemukan masalah, Anda akan mendapatkan konfirmasi setelah tes. Jika browser crash, tampilkan website sekali lagi untuk melihat hasil tes dan celah-celah yang ada.
Untuk menganalisis proses berbahaya dan boros resource, dapat ditemukan dengan tool ‘Security Task Manager’ dari Neuber (www.neuber.com). Singkirkan proses yang bertanda merah dan tidak dikenal. Apabila Anda tidak yakin untuk menghapusnya, gunakan fungsi karantina, agar sewaktu-waktu proses tersebut dapat diaktifkan kembali jika memang diperlukan.
Selain dengan cara-cara diatas, ada baiknya pula jika Anda mencoba untuk menjadi hacker yang baik, agar gerakan cracker yang berniat jahat dapat dipersempit bahkan dihilangkan sama sekali. Caranya yaitu dengan mempelajari kelemahan suatu program atau sistem, dimana nantinya bila Anda telah menemukan celah keamanan pada program atau sistem itu, maka Anda dapat mengumumkannya kepada khalayak, sehingga pihak pembuat software tersebut dapat menambal celah keamanan yang Anda temukan tadi.
Cara paling sederhana untuk melihat kelemahan sistem adalah dengan cara mencari informasi dari berbagai vendor misalnya di : http://www.sans.org/ tentang kelemahan dari sistem yang mereka buat sendiri; disamping memonitoring berbagai mailing list di internet yang berkaitan dengan keamanan jaringan.
Namun sebagai langkah awal, carilah tool (software) yang dapat digunakan untuk mulai belajar hacking. Untuk itu, silakan kunjungi situs-situs berikut untuk mendapatkan tool-tool tersebut :
• http://www.hackingexposed.com
Selanjutnya, pelajarilah tentang sistem keamanan jaringan. Berbagai hal mengenai jaringan dan teknik pengamannya dapat diperoleh secara mudah di internet, antara lain di :
~ http://www.linuxfirewall.org/,
~ http://www.cerias.purdue.edu/coast/firewalls/, dan
Sebagian dari teknik ini berupa buku-buku yang jumlahnya ratusan halaman yang dapat diambil secara cuma-cuma (gratis). Beberapa Frequently Asked Questions (FAQ) tentang keamanan jaringan bisa diperoleh di :
http://forums.iis.net, dan http://www.v-one.com/documents/fw-faq.htm.
Untuk mempermudah proses penelitian Anda, maka Anda dapat menggunakan program / script yang sudah jadi. Beberapa script / program yang sudah jadi dapat diperoleh di :
~ http://www.redhat.com/support/docs/tips/firewall/firewallservice.html, dan
~ http://bastille-linux.sourceforge.net/.
(10) Awasilah suhu CPU komputer Anda setiap saat.
Panas yang berlebihan dapat menyebabkan komputer crash bahkan rusak secara permanen. Tentu saja hal ini berakibat seluruh data yang ada dalam hard disk menjadi hilang. Untuk mengantisipasinya, awasilah suhu komputer Anda menggunakan program seperti HDD Health (www.panterasoft.com) serta PC Wizard (www.cpuid.org). Kedua program tersebut dapat menampilkan suhu hard disk atau CPU secara real-time. Idealnya, suhu CPU tidak lebih dari 55 derajat dan suhu hard disk tidak lebih dari 45 derajat.
Pada PC Wizard, kliklah gambar ‘Voltage, Temperature, and Fans’. Disitu ditampilkan suhu prosesor dan suhu hard disk. Jika Anda mengklik tanda minimize (-) di bagian atas, maka PC Wizard akan menampilkan kecepatan, temperatur, dan beban CPU secara real-time. Untuk menonaktifkannya, klik saja lambang PC Wizard di systray, lalu klik tanda close (x) pada bagian atas.
(Gambar: Tampilan program PC Wizard)
Program HDD Health bekerja dengan bantuan fungsi SMART (Self Monitoring Analysis & Reporting Technology) dari hard disk yang memberitahukan BIOS mengenai status atau kondisinya. HDD Health menampilkan nilai-nilai tersebut pada Windows dan membunyikan alarm begitu sebuah batas kritis yang ditetapkan terlampaui. Setelah HDD Health diinstal, akan terlihat sebuah icon pada taskbar. Sebuah klik akan menampilkan informasi produsen dan suhu operasi aktual hard disk. Informasi lebih detail tersedia pada tab ‘Extended Info’. Pada data ‘Start/Stop Count (Power on Count)’, Anda dapat mengetahui berapa kali hard disk telah dimatikan/dihidupkan.
Informasi yang lebih menarik terdapat dalam tab S.M.A.R.T. Apabila Anda mendapat laporan peringatan pada bagian ‘Spin Up Time’, hard disk start terlalu lambat. Ini dapat disebab-kan oleh rusaknya motor hard disk. Nilai yang penting (bergantung tipe hard disk) adalah ‘Ultra ATA CRC Error Count’ atau ‘Ultra DMA CRC Error Count’. Nilai ini menunjukkan kecepatan transfer data. Apabila kecepatan hard disk terlalu lambat, mungkin karena ada masalah kabel rusak, kontak yang kotor, atau driver yang cacat.
(Gambar: Tampilan HDD Health)
Dari pantauan penulis, kebanyakan pengguna yang mengalami kerusakan CPU akibat panas berlebih adalah akibat dari pemaksaan pemasangan graphic card pada spesifikasi komputer yang rendah. Sekedar info, bahwa pemasangan graphic card eksternal, seperti jenis PCI Express rata-rata memerlukan daya yang besar dan spesifikasi komputer yang tinggi, serta solusi pendinginan yang bagus. Banyak dari pengguna PC yang ingin bermain game kelas berat, terkadang tidak menyadari hal ini dengan seenaknya saja memasang graphic card pada mainboardnya yang tergolong berisi komponen-komponen berspesifikasi rendah. Seharusnya mereka melakukan upgrade terlebih dahulu terhadap komputer mereka.
Selain masalah graphic card tadi, kerusakan komponen CPU akibat panas berlebih juga diakibatkan oleh pemaksaan meng-overclock sistem tanpa pengetahuan yang memadai. Cukup banyak pengguna PC yang mengalami problem seperti ini. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan mereka sangat beresiko dan dapat mengakibatkan tidak berlakunya masa garansi komponen komputer mereka.
Bagi Anda yang tetap nekad melakukan overclock, sebaiknya Anda menguji terlebih dahulu kestabilan sistem dan jangan langsung menaikkan clock secara drastis. Untuk menguji kestabilan sistem, Anda dapat memakai program Heavyload (http://www.jam-software.com/freeware/index.shtml), OCCT (http://www.ocbase.com/perestroika_en/) {untuk menguji kestabilan prosesor}, MemTest (http://www.memtest.org/) {untuk menguji kestabilan memori}, dan 3Dmark (http://www.futuremark.com/) {untuk menguji kartu grafis}, serta Monitor Tester (http://freeware.info.pl/software.html) yang dapat digunakan untuk memeriksa kinerja layar CRT dan LCD yang Anda pakai.
Khusus OCCT, ia memiliki database internal yang akan dibanding-kan dengan performa sistem kita. Selain itu, program ini juga bisa berjalan bergandengan dengan program pendeteksi panas seperti MBM [Motherboard Monitor] (http://www.softpedia.com/get/System/System-Info/Motherboard-Monitor.shtml) dan Speedfan (http://www.almico.com/speedfan.php); sehingga Anda dapat mendeteksi panas prosesor ketika melakukan tes kestabilan. Sedangkan dengan Heavyload, seluruh source PC Anda akan dijalankan secara penuh (heavy load). Caranya dengan menuliskan file berukuran besar ke dalam temporary folder sehingga virtual dan physical memory terpakai secara penuh. Selain itu, penggunaan CPU ditingkatkan sampai kurang lebih 100%. Indikator stabil atau tidaknya PC dapat dilihat dengan menjalankan software ini selama beberapa jam. Jika tidak terjadi terminated, berarti PC Anda berjalan dengan stabil. Software ini didukung dengan grafik CPU Usage dan Free Memory yang membantu Anda memantau pengujian. Software juga dapat dijalankan tanpa perlu di install ke PC. Namun setelah digunakan, disarankan untuk merestart PC, agar memory terbebas dari swap file yang besar.
Jika Anda menginginkan program benchmark dalam satu tampilan, maka PC Wizard cukup layak dijadikan pilihan.
(11) Gunakanlah software Virtual PC bila memungkinkan.
Virtual PC terutama memiliki kelebihan bagi 2 kelompok pengguna :
(a) Peselencar Internet.
Bagi setiap pengguna internet, PC virtual merupakan sarana ideal. Apabila malware atau cracker berhasil menyusup ke dalam sistem virtual, keduanya tidak dapat mengakses sistem asli karena berfungsi terpisah. Antara PC virtual dan sistem asli memang dapat melakukan pertukaran file, tetapi malware tidak mendapat kesempatan untuk melakukan sesuatu. Anda dapat menyimpan dokumen-dokumen di PC asli dan untuk berselancar menggunakan PC virtual. Jika PC virtual terinfeksi, Anda dapat memerintah-kan virtualizer untuk mengembalikan sistem ke kondisi awal sebelum terinfeksi. Begitu Anda mengaktifkan konfigurasi optional tersebut, dengan sekali klik, proses restore selesai hanya dalam beberapa detik.
(b) Kolektor Software.
Sistem virtual juga tepat bagi semua pengguna yang gemar mencoba software baru. PC virtual dapat Anda jejali dengan software tanpa memperlambat PC sebenarnya. Bila tiba saatnya Anda membutuhkan sistem virtual baru, Anda cukup melakukan beberapa langkah. Instalasi ulang tidak diperlukan.
Program “VirtualBox” (www.virtualbox.org) adalah pilihan terbaik bagi Anda yang hanya ingin mencoba software terbaru atau berselancar dengan aman di internet. Sementara bagi Anda yang banyak berkutat dengan jaringan, VMware Server http://www.vmware.com/products/server/) adalah pilihan yang paling tepat, karena memiliki banyak fungsi baru yang dapat digunakan dalam sebuah LAN besar. Selain itu, tool ini juga dapat menjalankan program LiveView (http://liveview.sourceforge.net/) yang dapat membackup sistem asli Anda dalam sebuah image. Sedangkan bagi Anda seorang pemula yang sekedar ingin mencicipi kemampuan virtual PC, program Microsoft Virtual PC (http://www.microsoft.com/windows/virtual-pc/support/virtual-pc-2007.aspx) merupakan pilihan yang bijak. Software ini memiliki fungsi Wizard yang dirancang untuk memudahkan proses konfigurasi PC virtual.
(Gambar: Dengan Virtual PC, beberapa sistem operasi sekaligus dapat berjalan secara bersamaan. Nampak dalam gambar terlihat OS Windows XP, Vista, dan Linux Ubuntu bekerja paralel dalam window tersendiri.)
Walau demikian, software Virtual PC memiliki kelemahan. Dalam penggunaannya, program virtual PC harus mengerahkan banyak perintah CPU dan RAM-code kepada sistem operasi asli untuk diteruskan ke CPU dan RAM. Hal ini tentunya membuat PC berjalan dengan lambat. Oleh sebab itu sebaiknya Anda menggunakan prosesor yang telah mendukung teknologi virtualisasi, seperti pada Intel Core2 Duo terbaru atau AMD Dual-Core terbaru. Dengan teknologi Vanderpool Intel dan Pasifica AMD, program dapat langsung mengakses hardware. Kalkulasi perintah yang memakan waktu tidak lagi diperlukan. Di masa depan, teknologi virtualisasi dapat mengontak lebih banyak komponen hardware secara langsung. Namun perlu tetap diperhatikan bahwa jika Anda lebih banyak bekerja dengan PC virtual, berikan 90% kapasitas RAM yang tersedia pada sistem virtual. Bila Anda hanya membutuhkannya untuk berselancar, cukup 20%. Untuk Vista dibutuhkan sekurangnya 512 MB.
Apabila dasar untuk PC virtual sudah dibuat, Anda perlu membangun kerangka yang tepat agar proses instalasi dapat berjalan dengan lancar. Disini yang penting adalah konfigurasi yang seimbang antara setiap komponen. Apabila PC virtual mendapat resource hardware yang terlalu sedikit atau yang satu sama lain tidak diatur dengan tepat, XP akan menolak instalasi atau berfungsi dengan sangat lambat.
Untuk konfigurasi pada VirtualBox, klik pada entri “New” dalam menu. Pada sebuah window yang terbuka, masukkan nama untuk sistem baru Anda. Di bawah kolom input tersedia menu drop down dengan berbagai pilihan sistem operasi. Input ‘OS-Type’ yang tepat sangat penting, agar VirtualBox dapat menyesuaikan dengan arsitektur sistem operasi yang bersangkutan. Langkah berikutnya, masukkan ukuran memori. Sediakan setengah dari resource hardware bagi PC virtual. Jangan dibawah 256 MB, karena XP tidak dapat diinstalasi dengan benar. Apabila kurang, Anda membutuhkan RAM yang lebih besar. Sebuah keping memori 512 MB kini dapat diperoleh dengan harga yang bersahabat.
Setelah Anda mengoptimalkan ukuran RAM, kini konfigurasilah hard disk virtual. Di ba-wah ‘Boot Hard disk’ klik entri ‘New’ dan aktifkan boks ‘Dynamic Growth’. Pilihan ini memiliki kelebihan, sistem virtual hanya menggunakan sejumlah kapasitas yang diperlukan dan tidak akan melampaui nilai maksimal yang Anda berikan. Ukuran hard disk tergantung pada tujuan aplikasi. Kurang dari 4 GB tidak ada artinya, karena hampir tidak tersisa tempat untuk program sendiri. Ukuran yang telah teruji adalah 10 GB, yang menyediakan cukup banyak ruang gerak untuk tes software dan pekerjaan lainnya.
Setelah menetapkan sejumlah setting dasar, kini kita masuk ke tahap akhir. Klik menu ‘PC’, lalu ‘Change’. Sebuah jendela popup akan terbuka. Di bawah ‘General’ cantumkan ukuran memori grafik dan jangan kurang dari 64 MB. Kecepatan optimal dapat Anda peroleh pada jumlah 128 MB. Lebih dari ini tidak ada gunanya karena aplikasi 3D tidak berfungsi atau berfungsi buruk dalam lingkungan virtual. Agar dapat melakukan proses booting dari CD, di bagian ‘CD/DVD-ROM’ aktifkan boks di samping ‘Integrate Drive’, pilih sebuah drive pada ‘Host CD-DVD-drive’, dan klik ‘Activate Passthrough’. Mulailah image yang tersimpan di hard disk dengan memasukkan path file yang bersangkutan di bawah ‘ISO-image’. Agar sistem virtual dapat menghasilkan bunyi, hidupkan audio output dalam ‘Sound-Settings’.
Setelah kerangka sudah jadi, kini konstruksi area tes software dimulai. Masukkan CD instalasi ke dalam drive yang terintegrasi ke dalam VirtualBox. Jalankan PC virtual dan ikuti panduan asisten konfigurasi XP. Apabila loading berlangsung terlalu lama atau hanya layar gelap yang tampak, mungkin hardware virtual terlalu lemah. Untuk kasus ini, cobalah cari setting yang tepat. Selaraskan ukuran graphic card dan RAM, serta ujilah setiap langkah. Terkadang perubahan minimal sudah cukup. Selama Anda memiliki Windows XP versi penuh, maka instalasinya akan terasa mudah. Soalnya banyak pengguna membeli lisensi Windows dan PC dalam satu paket penjualannya. Paket ini biasanya tidak berisi Windows secara utuh. Produsen hanya melengkapi PC mereka dengan versi recovery yang dirampingkan. Versi XP semacam ini berfungsi hanya dengan hardware tertentu saja, sehingga tidak dapat diinstalasi pada PC lain.
Apabila Anda memiliki sebuah Windows versi OEM tidak berarti Anda harus pasrah begitu saja. Atasi blokade ini dan dapatkan versi penuh Windows dengan beberapa klik. Bahkan, apabila perlu dengan semua program yang dibutuhkan. Agar konversi juga berfungsi, XP dari produsen harus terinstalasi pada PC Anda. Masukkan CD ke dalam drive dan copy seluruh data ke dalam hard disk. Untuk membuka versi recovery, dibutuhkan tool seperti XP-ISO-Builder (http://winfuture.de/xpisobuilder3_en). Klik tombol ‘Convert Recovery-CD’ dan masukkan versi Windows Anda, misalnya “Windows XP Home Service Pack 2” ke dalam window berikutnya. Cantumkan path ke data yang baru dicopy dan ke folder ‘i386’ yang terinstalasi. Agar Anda tidak perlu mencari-cari sendiri di dalam hard disk, pihak produsen telah mengintegrasikan sebuah fungsi pencari. Bila konversi selesai, cari sebuah image pada hard disk yang tidak lagi terkoneksi hardware. Dengan demikian tepat untuk instalasi pada PC virtual. Anda juga dapat menggunakan ISO-Builder untuk menambahkan program sendiri sebagai image, misalnya tool-tool office, multimedia, dan security. Namun hal ini hanya menguntungkan apabila Anda sangat sering menginstalasi ulang sistem. Apabila tidak, Anda tidak perlu melakukannya, karena pada instalasi baru akan ada lebih banyak pekerjaan untuk meng-update dan menyingkirkan program yang tidak berguna bagi Anda.
(Gambar: Tampilan xp Iso-Builder)
Melalui analisa yang cermat, seringkali ditemukan beberapa program yang diduga adalah malware. Selain itu, banyak versi beta yang penuh dengan celah keamanan. Bahkan sebagian sangat kritis dan terkadang melumpuhkan sistem. Namun dengan sebuah PC virtual hal tersebut tidak menjadi masalah. Walau demikian, tes yang lengkap merupakan sebuah kewajiban. Apabila sebuah malware beraksi dalam VirtualBox, ia tidak bisa menembus isolasi lingkungan virtual. Akan tetapi, begitu Anda menggunakan lebih lanjut data atau software yang tersimpan disana atau memindahkannya ke hard disk atau USB flash disk, pintu dan gerbang terbuka lebar bagi malware sehingga PC Anda beresiko terinfeksi.
Sebelum Anda mengkonfigurasi program, buatlah sejumlah backup dalam VirtualBox. Lakukanlah selalu aktivitas tersebut setiap Anda menginstalasi software. Dengan demikian, dalam PC virtual, Anda akan bebas dari masalah. Terlebih, apabila setelah beberapa eksperimen sistem tidak lagi dapat distart atau tidak berfungsi dengan baik. Untuk itu, dalam tab ‘Backup-Points’ klik icon kamera atau tekan tombol kombinasi [Ctrl]+[Shift]+. Isolasikan sistem untuk mencegah datangnya malware, misalnya dengan menggunakan Avira AntiVir dan Ad Aware.
Alternatif lain membuat PC virtual selain menggunakan tool khusus seperti VirtualBox, adalah dengan menggunakan OS Linux. Linux sudah membawa serta semua tools penting untuk berselancar, mendownload, dan bekerja. Bahkan, tes program windows dan analisa virus bukan masalah. Apabila Anda tidak memiliki CD Windows atau tidak ingin menginstall, Linux adalah pilihan yang tepat untuk PC virtual. Untuk menjalankan browser, tools office, atau aplikasi grafis, cukup jalankan image ISO. Distribusi Linux telah memiliki semua program penting terintegrasi dan bahkan melindungi Windows Anda dari bahaya.
Dalam hal ini, kita coba menggunakan Sidux (www.sidux.com). Langkah pertama, copylah image ke hard disk apabila Anda menstart sistem tanpa CD-drive. Dalam menu, klik “Computer, Change, CD/DVD-ROM” dan periksalah apakah boks pada ‘ISO-image’ aktif. Masukkan path ke file Sidux atau bakarlah image dan mulailah seperti instalasi Windows dari CD-drive. Perhatikan, agar program bakar Anda mendukung image. Apabila Anda tidak yakin, gunakan tools ImgBurn. Tariklah image ke dalam program yang terbuka, kemudian selebihnya akan ditangani oleh ImgBurn.
(Gambar: Tampilan Sidux)
Sidux juga tepat untuk menguji beberapa program Windows. Untuk itu, Anda membutuhkan tool Wine. Tool ini harus diinstalasi melalui konsol. Carilah tombol terminal yang bersangkutan pada sisi kiri bawah layar. Disini jalankan ‘Shell’ dan login dengan ‘su’ sebagai administrator. Selanjutnya lakukan sebuah update dengan memasukkan ‘apt-get update’. Installah Wine dengan ‘apt-get install wine’. Konfirmasi pilihan Anda dan logout sebagai administrator dengan ‘exit’. Tampilan Wine dapat Anda konfigurasi dengan perintah “winedfg”. Instal dan jalankan program-program Windows dengan memasukkan “wine nama program.exe”. Wine mendukung banyak tool Windows, namun beberapa program masih mengalami masalah. Agar Anda terhindar dari virus, periksalah software Windows yang Anda download dengan ClamAV. Lakukan instalasi seperti pada Wine: “apt-get install clamav”. Untuk tampilan grafis dan interface, Anda juga dapat menginstall ‘’klamav”.
Khusus untuk membuat drive virtual, tersedia program teamdrive (http://www.teamdrive.com/index.php). Teamdrive membuat sebuah drive virtual dengan fungsi yang jauh lebih banyak dibanding drive jaringan Windows. Pertukaran file dilakukan secara terenkripsi. Selain itu, tool ini juga melakukan sinkronisasi data setiap kali dilakukan koneksi ulang. Sebelum dapat menggunakan Teamdrive, Anda perlu mendaftar ke layanan “Prime Sharing”. Pertama, jalankan ‘Teamdrive Explorer offline’ dan isi formulirnya. Setelah itu, Anda akan mendapatkan sebuah email untuk melakukan proses aktivasi. Sementara jika Anda ingin memainkan musik atau film di PC Virtual, kini tersedia VMWare Player dari http://www.vmware.com/products/player/.
(Gambar: Contoh Tampilan TeamDrive)
(12) Baca seluruh perjanjian lisensi dengan cermat.
Begitulah anjuran yang baik saat Anda menginstalasi software. Namun tampaknya hanya para ahli hukum yang membaca sebuah EULA sampai baris terakhir. Tanpa pengetahuan mengenai UU EULA dan malasnya orang menghabiskan waktu untuk membacanya secara lengkap, membuat beberapa pihak menyisipkan peraturan yang jahat dalam EULA. Oleh karena itu, ada EULA yang secara terang-terangan menyetujui instalasi spyware.
Untuk mencegah spyware masuk ke PC, sebaiknya Anda hanya menginstalasi freeware dari portal pilihan, seperti www.nonags.com. Pengelola website ini terinspirasi oleh EULA dan menguji kemampuan tool-tool yang ditawarkan. Untuk perjanjian lisensi dalam bahasa Inggris, Anda dapat mencoba program EULAlyzer (http://download.cnet.com/EULAlyzer/3000-2086_4-10464852.html) yang dapat digunakan untuk menganalisis teks EULA yang dapat menimbulkan masalah.
(Gambar: Tampilan EULAlyzer)
(13) Sering-seringlah membaca berita seputar keamanan PC.
Hal ini bertujuan agar Anda dapat mengetahui lebih dini mengenai ancaman terbaru sekaligus menemukan penangkalnya. Kalau perlu, Anda dapat berlangganan melalui RSS. Situs yang bagus untuk Anda kunjungi mengenai hal itu, yakni : www.securityfocus.com dan http://secunia.com, serta situs-situs milik produsen antivirus terkemuka, seperti www.symantec.com, www.kaspersky.com, dan www.f-secure.com, serta http://www.pctools.com/. Untuk situs dalam negeri, situs milik majalah Chip (www.chip.co.id) dan http://vaksin.com cukup layak dijadikan sebagai bahan rujukan.
(14) Hindarilah mengunjungi situs-situs porno dan money game, karena kedua jenis website terse-butlah yang paling banyak menyebar malware. Selain itu, jauhi pula website seperti cracks.am dan versi-versi windows yang tidak jelas, sebab software-software yang disediakan oleh website-website seperti itu biasanya berisi banyak backdoor yang dapat digunakan cracker untuk mengendalikan PC Anda.
(15) Jangan mudah terkecoh dengan pesan di PC yang meminta Anda menginstalasi program antivirus. Bisa jadi itu adalah malware yang akan menyerang PC Anda. Salah satu contoh antivirus gadungan tersebut, yakni : Rogue Scanner, Advance Antivirus, dan Scareware.
(16) Jangan sekali-kali mengisi data di situs-situs yang tidak Anda kenal baik, sebelum Anda yakin dan memastikan bahwa situs tersebut memang tidak berbahaya dan tidak akan mengganggu kerjaan Anda nantinya.
(17) Jika Anda ingin meletakkan website Anda pada penyedia web hosting, pilihlah web hosting yang menyediakan dukungan protokol SSL, sehingga Anda dapat terhindar dari aksi cracker yang mencoba menembus website Anda dengan tools berkategori “web-spider”, seperti : Intelli-Tamper. Website yang diproteksi seperti itu dapat dikenali dengan https:// pada awal alamatnya.
(18) Konfigurasikan dalam Windows sebuah account dengan hak-hak terbatas melalui “Start, Settings, Control Panel, User Accounts”, yang akan digunakan hanya untuk berselancar, sehingga bila sebuah malware sampai ke hard disk, ia tidak dapat berbuat apa-apa di sana karena tidak memiliki hak yang dibutuhkan.
Agar aturan pengguna terbatas tidak dilanggar, partisi hard disk dalam sistem harus diformat ke dalam NTFS. Apakah hard disk Anda telah menggunakan sistem file NTFS? Untuk mengetahuinya, klik kanan hard disk yang bersangkutan dan pilih Properties. Pada baris File System seharusnya tertulis NTFS. Jika sebelumnya telah melakukan instalasi Windows XP atau Vista pada partisi FAT 32, Anda masih dapat mengubah partisi tersebut ke dalam sistem file NTFS. Sebelumnya, backup terlebih dahulu semua data penting yang Anda miliki. Setelah backup data selesai dilakukan, buka layar Windows Command Prompt. Jika Anda bekerja di Vista, klik kanan icon input-prompt dan pilih Run as admin. Lalu, masukkan perintah : convert c: /fs:ntfs. Perhatian: Lamanya proses konversi bergantung ukuran partisi hard disk.
Bila partisi sistem telah dikonversi ke dalam format NTFS, langkah berikutnya adalah pilih “Start | Control Panel | User Accounts” dan buat account administrator baru. Setelah itu, ubah account yang biasa Anda gunakan menjadi account pengguna terbatas. Namun, timbul sebuah masalah. Ada beberapa program yang mengakses resources yang sebenarnya hanya disediakan untuk administrator dan sistem. Bisanya, hal ini terjadi ketika Anda melakukan proses instalasi sebuah program. Solusi untuk pengguna dengan hak terbatas dapat memulai proses instalasi melalui Run as … yang tersedia dalam menu konteks. Selanjutnya, pilih administrator dan ma-sukkan passwordnya. Bila tidak berhasil, konfigurasi program yang bersangkutan dalam account administrator untuk semua pengguna dan kembali ke account Anda yang biasa. Bila langkah ini juga gagal, ada dua pilihan yang dapat Anda lakukan. Pertama, Anda terpaksa menggunakan account administrator. Caranya, cukup memilih Switch User di “Start | Log Off”.
Selain dengan cara diatas, cara lainnya adalah dengan memanfaatkan program Process Monitor (www.microsoft.com/technet/sysinternals/utilities/processmonitor.mspx). Tools ini akan membantu Anda menelusuri beberapa bagian aplikasi yang bermasalah di dalam sistem. Jalankan Sysinternals Process Monitor melalui Run as … dengan hak pengguna administrator. Selanjutnya, buka program yang bermasalah. Begitu gangguan muncul, masuk ke dalam program Sysinternals Process Monitor dan hentikan proses yang sedang berjalan dengan tombol [Ctrl]+[E]. Untuk menyaring bagian yang diinginkan, tekan [Ctrl]+[L] dan pilih filter dengan Result, contains, Access Denied. Selanjutnya, tekan tombol Add dan OK. Kini program hanya menampilkan akses yang ditolak. Selanjutnya, klik kanan pada sebuah entri dan pilih perintah Jump to. Anda akan disuguhkan layar yang menampilkan folder atau file registry dari program yang bermasalah. Klik kanan folder yang bersangkutan, pilih Properties dan pilih tab Security. Dalam Group or user names, pilih nama pengguna dan cantumkan tanda centang yang dibutuhkan dalam boks Permissions for. Hak akses yang diberikan akan terlihat langsung pada program Sysinternals Process Monitor dalam kolom Operations. Untuk memberikan hak akses terhadap sebuah file, langkahnya sama dengan memberikan hak akses terhadap sebuah folder. Dengan perintah Jump to Anda dapat pindah ke cabang registry yang tepat. Selanjutnya, klik kanan aplikasi yang bersangkutan dan pilih Properties. Lalu, melalui tab Security, Anda dapat mengatur hak akses yang dibutuhkan untuk aplikasi yang bersangkutan.
(19) Hilangkan informasi tersembunyi pada file foto, pdf, dan word.
(a) Pada Foto : Dengan sebuah klik, kamera digital akan merekam informasi tambahan seperti model kamera dan setting dalam data Exif. Hal ini sangat menarik bagi banyak fotografer, karena bisa memberikan informasi penting seperti setting diafragma dan durasi exposure. Namun, tidak semua orang perlu mengetahui informasi tersebut. Dengan program ‘Exif Tag Remover’ (www.rlvision.com) informasi-informasi tersebut dapat disingkirkan dengan mudah, bahkan dengan fungsi batch. Anda cukup jalankan program, tambahkan foto dengan “Add”, dan program akan menghapus metadata.
(Gambar: Tampilan Exif Tag Remover)
(b) Pada file PDF : File-file PDF juga dapat mengungkap sejarah filenya, seperti siapa yang membuat file, berapa kali file diedit, dan program apa saja yang digunakan untuk mengedit. Dengan program ‘BeCyPDFMetaEdit’ (www.becyhome.de), Anda dapat menghapus metadata yang tidak perlu dari file. Buka sebuah dokumen ke dalam program lalu edit semua kolom seperti “author” atau “created with”, dan hapus isinya.
(c) Pada file Word : Untuk melindungi privasi, Microsoft menawarkan sebuah program yang mengintegrasikan diri ke dalam Word dan menyingkirkan metadata. Program ‘Remove Hidden Data’ (http://www.microsoft.com/downloads/details.aspx?familyid=144e54ed-d43e-42ca-bc7b-5446d34e5360) bisa Anda gunakan untuk menghapus informasi dalam file dokumen. Sayangnya, program ini hanya befungsi dalam Office 2003. Pada versi Office lain, Anda harus melakukannya secara manual. Buka dokumen dalam word dan klik “File, Properties”. Dalam setiap tab, Anda bisa menemukan informasi tersembunyi. Anda juga bisa menemukannya di dalam “Tools, Options, User Informations”. Hapus informasi yang ada di dalamnya.
(20) Backup-lah data Anda
Backup sangat penting dilakukan, karena selain masalah malware, bisa saja secara tidak sengaja kita menghilangkan file yang justru masih sangat kita perlukan. Selain itu, hard disk untuk menyimpan datapun dapat rusak dengan tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.
Untuk melakukan backup, ada beberapa cara yang dapat ditempuh, yaitu :
(a) Menggunakan sistem restore dan ASR yang disediakan Windows.
Ini merupakan recovery tool untuk mengembalikan kondisi PC ke kondisi sebelum masalah terjadi. Kondisi normal tersebut sebelumnya mesti ditandai sebagai restore point, yang juga bisa diciptakan lewat System Restore. Karenanya, rutinlah membuat restore point saat kondisi PC masih dalam keadaan normal. Ini akan menjadi patokan untuk melakukan proses pengembalian kondisi sebagai solusi ketika sistem menjadi crash.
System restore bisa Anda aktifkan lewat [Start]>[All Programs]>[Accessories]> [System Tools]>[System Restore].
Jalur tercepat untuk mengakses utility ini adalah melalui menu “Help and Support” yang ada di dalam menu “Start”. Pada window “Help and Support”, klik pilihan “Undo Changes to your computer with System Restore”. Setelah itu akan muncul window wizard yang akan membantu Anda dalam membuat restore point baru maupun merestore sistem Anda ke restore point yang telah dibuat sebelumnya. Sebelum membuat restore point maupun melakukan restorasi, pastikan Anda login ke sistem Windows dengan menggunakan user account yang memiliki priviledge “Adiministrator”.
(Gambar: Tampilan System Restore pada Windows)
Selain membuat restore point secara manual, sebenarnya System Restore juga dapat membuat restore point secara otomatis. Restore point akan dibuat di setiap interval waktu yang teratur atau pada kejadian-kejadian khusus, misalnya pada saat menginstall program-program tertentu. Namun sayangnya, Anda tidak dapat mengandalkan fitur tersebut sepenuhnya. Coba Anda amati check point yang tertera pada kalender System Restore, Anda akan menemukan selang waktu yang lama antar restore point. Hal ini disebabkan restore point akan dibuat secara otomatis oleh System Restore apabila komputer berada dalam kondisi idle dalam waktu tertentu.
Yang patut dicermati, bahwa secara default, utility ini akan mengalokasikan 12% dari total kapasitas setiap partisi hard disk. Oleh sebab itu, bila Anda sudah merasa tidak memerlukannya, Anda dapat menonaktifkannya. Untuk melakukannya, klik kanan tombol mouse pada icon “My Computer”, kemudian klik “Properties”. Setelah itu akan muncul window “System Properties”, klik tab “System Restore”. Klik dialog box pada “Turn off System….”. Walau demikian, setting ini tidaklah direkomendasikan karena dapat menurunkan tingkat keamanan sistem Anda. Oleh sebab itu, cara paling moderat adalah membuat restore point dalam keadaan tertentu, yaitu :
(1) Pada saat Anda akan menginstalasikan software dengan menggunakan Win-dows-Installer atau program instalasi lainnya.
(2) Sebelum instalasi update yang diperoleh melalui Windows-Update secara otomatis dari internet.
(3) Sebelum penginstalasian file-file driver yang tidak tersertifikasi.
(4) Sebelum proses restorasi yang dilakukan oleh program-program backup.
(5) Ketika Anda melakukan proses restorasi menggunakan sistem restorasi pihak ke-3. Hal ini dimaksudkan supaya jika terjadi hal yang tidak diinginkan setelah restorasi dilakukan, Anda masih mempunyai kesempatan untuk kembali ke kondisi sebelumnya.
Perlu diketahui bahwa di Windows XP, System Restore hanya tersedia pada versi Professional saja. Namun utility ini sebenarnya dapat digunakan pada versi Home. Syaratnya, Anda harus menginstal secara manual terlebih dahulu. Untuk itu, masukkan CD Windows XP, kemudian masuk ke folder “valueaddmsftntbackup” dan klik ganda file “ntbackup.msi”. Anda akan menemukan utility ini di “Start>Accessories>System Tools” dan dengan nama “Backup”.
Cara termudah untuk melakukan restorasi sistem adalah lewat Recovery Console. Fitur ini dapat diakses lewat CD Windows. Namun apabila Anda hanya mendapatkan CD Recovery dari vendor PC Anda, ada cara lain untuk dapat mengakses recovery console tersebut, yaitu lewat utility Windows XP Setup boot disk. Utility ini dapat Anda peroleh di :
(b) Membuat restore point dari software pihak ke-3.
Kelemahan dari sistem restore pada Windows adalah titik restore tersebut dibuat oleh System Restore sesuai keinginan program. Dengan freeware SysRestorePoint (www.dougknox.com), Anda dapat membuat sendiri restore point untuk backup.
Untuk melakukannya, aktifkan program SysRestorePoint terlebih dahulu. Pada sistem yang rawan, sebaiknya Anda disarankan untuk menyimpan program dalam folder “Startup”. Dengan demikian, Anda bisa memiliki restore point yang lebih banyak lagi.
(c) Menggunakan software backup yang andal.
Perlu diketahui bahwa dalam melakukan tugasnya, System Restore hanya akan membuat backup file-file yang berhubungan dengan sistem saja. File-file yang bersifat pribadi, terutama yang tersimpan dalam folder “My Documents”, “Desktop”, dan file-file dokumen umum seperti file-file berakhiran ekstensi “doc” atau “xls” tidak akan dibuat backup-nya.
Solusi sederhana untuk mengatasi masalah ini adalah menyimpan file-file tersebut pada CD/DVD atau UFD. Agar proses backup ke media CD/DVD dapat berjalan mulus, maka sebaiknya Anda terlebih dahulu memeriksa kualitas dan kemampuan CD/DVD milik Anda. Salah satu cara terbaik untuk maksud tersebut adalah dengan memakai tool-tool dari Nero yang dapat di download di www.softpedia.com. Berikut ini adalah tool-tool yang dimaksud:
(1) Nero Info Tool
Tool ini memberikan informasi mengenai sistem, drive, dan media yang ada dalam drive. Sebagai contoh, ia dapat menunjukkan format apa saja yang dapat dibaca dan ditulis oleh sebuah drive, kecepatan bakar berapa saja yang didu-kung, pada port IDE mana drive terkoneksi, dan codec audio/video apa yang terinstalasi pada sistem.
(Gambar: Nero Info Tool)
(2) Nero CD-DVD Speed
Program ini mampu menguji kecepatan baca/tulis drive, menunjukkan waktu akses, dan mengukur beban CPU pada berbagai kecepatan baca. Selain itu, ia juga memberikan info mengenai media dalam drive serta memeriksa kualitas keping dan kondisi cacatnya.
(Gambar: Nero CD DVD Speed)
(3) Nero DriveSpeed
Dengan Nero DriveSpeed, Anda dapat menetapkan kecepatan baca sebuah drive agar tidak gagal baca serta sekaligus mengurangi tingkat kebisingannya.
(Gambar: Nero Drive Speed)
Solusi penyimpanan lain yang lebih bagus daripada CD/DVD dan UFD adalah dengan menyimpan data pada flash memory card yang dapat bertahan hingga ratusan tahun. Namun perlu dicermati bahwa memory card sebaiknya tidak sering ditulisi seperti halnya pada UFD, karena dapat mengakibatkan kerusakan pada media tersebut. Mungkin dengan alasan ini, produsen “SanDisk” meluncurkan memory card yang hanya dapat ditulisi sekali yang disebut WORM-card (Write Once, Read Many) yang diberi garansi hingga 100 tahun. Bagusnya lagi, harga WORM ini terbilang murah, sehingga sangat menarik bagi Anda yang ingin menyimpan datanya dengan ukuran yang relatif tidak besar.
Sekedar tips, pilihlah memori flash baru dengan Single Level Cells (SLC). Berbeda dengan chip Multi Level Cells (MLC), chip SLC mampu bertahan sampai 100.000 siklus tulis/baca. Kontroler cerdas yang dapat mematikan sektor tak berguna dapat meningkatkan angka ini hingga beberapa juta siklus. Sementara bagi peminat UFD, sebaiknya Anda membeli UFD dari merk pabrikan ternama, seperti Crucial dan Transcend yang berani memberi garansi produknya hingga 30 tahun. Sedangkan bagi Anda yang tetap nekad ingin menggunakan CD/DVD sebagai media backup, pilihlah keping buatan produsen ternama dengan lapisan emas tahan karat dan permukaan anti gores, misalnya Emtec CD-R Gold atau TDK ScratchProof DVD. Untuk pembuatan arsip pada DVD, sebaiknya gunakan DVD-RAM. Keping jenis ini memiliki manajemen kerusakan yang lebih baik. Manajemen kerusakan pada DVD-RAM dapat mengenali sektor yang rusak dan menghindari penulisan data pada sektor tersebut seperti yang dilakukan pada hard disk. Dengan cara ini, kemungkinan kesalahan sudah diminimalisasi ketika menulis.
Khusus terhadap UFD, Anda dapat melengkapinya dengan tool-tool pengaman, seperti Cryptainer LE (www.cypherix.com) dan Remora USB File Guard (http://www.softpedia.com/get/Security/Encrypting/Remora-USB-File-Guard.shtml). Kedua aplikasi itu telah menerapkan metode enkripsi untuk melindungi data Anda. Pada Cryptainer, pilihlah option Tool lalu klik Install Cryptainer Mobile, maka dengan demikian Anda langsung dapat menggunakan Cryptainer via UFD tanpa perlu menginstalnya ke dalam hard disk. Selain berfungsi mengamankan data pada UFD, Anda juga bisa membuat virtual drive di dalam hard disk yang isinya akan terlindungi dengan software ini, sebab untuk membuka virtual drive tersebut, Anda harus memasukkan password. Namun sayang, kita hanya bisa membuat virtual drive dengan kapasitas maksimal hanya sebesar 25 MB. Untuk itu, sebaiknya Anda mengumpulkan file-file yang benar-benar bersifat ‘top secret’ dalam satu folder, agar dapat dilindungi oleh Cryptainer. Agar lebih maksimal, kompreslah file-file tersebut terlebih dahulu. Agar data-data dalam UFD tersimpan lebih aman, aktifkanlah fitur autoplay script yang dapat langsung mengakses Cryptainer, sehingga begitu UFD ditancapkan, maka ia langsung meminta password.
(Gambar: Tampilan Cryptainer LE)
Walau Cryptainer dapat pula melindungi file satu per satu, namun untuk hal ini paling bagus jika Anda menggunakan Remora USB File Guard (RUFD). Berikut ini trik maksimal mengamankan data Anda menggunakan RUFD :
(a) Pertama-tama enkripsilah data Anda menggunakan AxCrypt. Pakailah fitur Encrypt copy to .EXE-nya agar data dapat pula dibuka di komputer lain yang tidak terinstal program AxCrypt.
(b) Setelah itu, jalankanlah program RUFD yang telah terinstal dalam UFD; maka di system tray akan nampak ikon dari program. Kliklah 2x ikon tersebut, maka akan nampak display dari RUFD.
(c) Kliklah ‘ZIP Encrypt File’, agar file disimpan dengan keadaan terkompres [dalam format .zip]. Ini berguna untuk menghemat kapasitas UFD Anda.
(d) Setelah itu, kliklah tab ‘Import’ untuk melakukan enkripsi data. Setelah data yang ingin dienkripsi telah terpilih, centanglah tulisan ‘Delete selected file(s) when copy to USB disk’, agar file tersebut hanya nampak di program RUFD; lalu klik Add.
(e) Untuk membuka file, lakukan langkah (c); lalu klik tab ‘Export’ atau klik 2x file yang dituju. Setelah itu, pilihlah tempat dimana file tersebut akan dibuka.
(Gambar: Tampilan Remora USB File Guard)
Mungkin Anda bertanya, mengapa mesti memakai AxCrypt terlebih dahulu, tidak langsung saja menggunakan RUFD ?. Hal ini bertujuan agar bila proteksi pada RUFD dapat ditembus oleh penyusup (walaupun hal ini sebenarnya hampir mustahil terjadi), maka cracker itu harus membongkar lagi password yang tersimpan dalam AxCrypt. Untuk itu, gunakanlah password yang berbeda pada kedua program tersebut. Namun, jangan melakukan hal ini jika Anda termasuk orang yang sering lupa (tidak memiliki ingatan yang kuat).
Kembali ke media backup. Bagi Anda yang memiliki data dalam jumlah besar atau menginginkan memindahkan seluruh isi hard disk ke media eksternal, maka jalan terbaik adalah memindahkannya ke HDD Eksternal atau NAS (Network Attached Storage). Dalam memilih HDD Eksternal, pilihlah yang memakai koneksi SATA atau SATA2. Namun sebaiknya Anda melakukan hal ini jika motherboard Anda menyediakan koneksi External SATA. Koneksi jenis ini memiliki kecepatan lebih tinggi daripada koneksi USB atau Firewire. Sedangkan untuk NAS, pilihlah yang memiliki fasilitas paling lengkap, seperti : RAID, Hot Swap, Web Server, FTP Server, Print Server, Backup Server, dan Gigabit Ethernet. Namun tentunya sesuaikan pula dengan keinginan, kebutuhan, serta dana yang Anda miliki, karena disini biasanya berlaku pameo : ‘Ada Rupa, Ada Harga!!’
Pada paket penjualannya, biasanya media-media eksternal tersebut telah dilengkapi dengan software backup yang memudahkan Anda untuk mentransfer data. Jika tidak ada, maka Anda dapat mencoba software HD Clone (http://www.miray.de/products/sat.hdclone.html).
Selain HD Clone, tool ‘Paragon Drive Backup’ (http://www.drive-backup.com/) juga dapat diandalkan. Berkat fitur Hot Processing Technology-nya, Paragon Drive Backup dapat langsung membackup partisi sistem Windows. Namun sayang, fasilitas backup otomatis hanya disediakan pada versi komersialnya.
Selain HDClone dan Paragon Drive Backup, Anda dapat pula mencoba SelfImage (http://www.softpedia.com/get/System/Back-Up-and-Recovery/SelfImage.shtml) dan GimageX (http://www.windowsreference.com/free-utilities/gimagex-a-graphical-user-interface-for-the-imagex-tool/). Program SelfImage dapat menyimpan sebuah file image dari drive yang di-mount dan juga merestorenya. Dengan program ini, boot record dapat disimpan berikut dengan tabel partisinya. Jadi, apabila sistem Anda crash dan seluruh data masih tersimpan di dalamnya, Anda dapat mengembalikan semuanya dengan SelfImage.
Kelebihannya, program ini dapat menghemat ruang dan hanya menyimpan sektor yang digunakan saja. Apabila Anda hanya membutuhkan ruang sebesar 100 GB dari kapasitas 500 GB yang tersedia, image yang dihasilkan pun tetap berukuan 100 GB. Cara menggunakannya, jalankan tool ini dalam Windows sebagai “Administrator”. Pilih hard disk melalui “Input | Drive” dan tentukan metode kompresi melalui “Compressing Method | gzip”. Cara ini akan memperkecil ukuran file. Selanjutnya, tentukan target drive dari “Output | Output Location” dan konfirmasikan dengan tombol “Start”. Durasinya bergantung pada jumlah data yang diproses. Untuk kapasitas 100 GB, diperlukan waktu sekitar satu jam. Kalau untuk backup di-recovery adalah dengan cara berikut: “Carilah file IMG melalui “Input | File” dan pilih target drive melalui “Output | Drive”. Sekarang, klik tombol “Start” dan data segera ditransfer kembali.” Catatan: Pada website mereka, SelfImage disediakan sebagai Plug-in untuk Bart PE. Jadi, Anda dapat membuat sebuah Boot-CD yang berisi solusi backup ini.
(Gambar: Tampilan SelfImage)
Sedangkan pada GImageX, data-data dapat disimpan dalam format WIM-Image. Prinsip praktisnya, program ini dapat menyimpan beberapa image sekaligus dalam sebuah file. Incremental backup juga dapat dilakukan sehingga image dapat di-update dengan data-data yang berubah saja sejak backup terakhir. Format ini juga sangat hemat ruang dan tidak hanya dapat membackup seluruh hard disk, partisi atau folder tertentu. Program ini dapat membackup semuanya berikut dengan seluruh sistemnya. Namun, proses ini hanya dapat dilakukan dengan Windows XP. Microsoft sendiri tidak menyarankan sistem backup berjalan di Vista. Untuk menggunakan program ini, Anda memerlukan tool “Windows Automatic Installation Kit” (WAIK). Tool berukuran hampir 1 GB ini bisa di-download dari website Microsoft (http://www.microsoft.com/downloads/details.aspx?FamilyID=c7d4bc6d-15f3-4284-9123-679830d629f2). Selanjutnya, ketikkan kata kunci “WAIK” dalam bagian “Search”. Download tool tersebut. Selanjutnya, bakar CD-Image yang telah di-download dengan program pembakar dan install software tersebut. Langkah berikutnya, Anda membutuhkan tool GImageX, sebuah graphical interface untuk program backup. Pada tab “Capture”, pilih folder yang ingin di backup melalui “Source”. Dengan mengklik “Destination”, tentukan lokasi penyimpanan dan berikan nama-nya. Pada baris “Description”, berikan informasi pendukung backup, misalnya tanggal backup untuk mempermudah Anda dalam memilih backup data nantinya. Kolom lainnya dapat Anda abaikan. Untuk membuat backup pertama, Anda klik “Create”. Apabila Anda ingin membuat backup lanjutan untuk folder tersebut, pilih setting yang sama, tetapi Anda klik “Append”. Dengan begitu, image yang dihasilkan secara otomatis akan di-update ke dalam backup pertama.
Untuk penggunaan standar, OS Windows menyediakan tool khusus untuk proses backup yang bernama ‘Backup’. Tool ini mampu membackup seluruh data yang berada di PC atau hanya data-data tertentu saja sesuai pilihan kita. Setelah kita memilih jenis proses backup yang kita inginkan, maka tool ini menyediakan opsi untuk memilih drive tujuan backup, apakah backup tersebut akan disimpan di hard disk, atau di media eksternal, seperti CD, DVD, UFD, dan lain-lain.
(Gambar: Tampilan program backup yang disediakan Windows)
Fungsi yang mirip dengan ‘Backup’ namun memiliki fitur yang sedikit lebih bertenaga, dapat Anda temukan pada ‘IdleBackup’ (<a href="http://












