Friday, October 2, 2009 10:57:17 PM
Yang dinamakan kekerasan itu,... ternyata ia bukanlah semata ancaman secara fisik. Juga merupan sebuah ancaman serius terhadap psikologis seseorang. Benarlah Jean Paul Sarte itu, demi keberadaan yang lain ia membutuhkan tumbal dari keberadaan lainnya. Tetapi masih sesuaikah itu? Di tengah-tengah demokrasi pula? Hmm, demikianlah dahulunya aku bahkan bisa tetap santai dimeja makan. Pada Cafe ataupun di rumah sendiri, dengan sebuah koran ditangan berisikan berita-berita pembunuhan atas laki-laki, perempuan, dan terhadap kanak-kanak Sambil menyesap sebatang kretek dan menikmati secangkir kopi didalam keramik dari Negeri Tiongkok. Menonton berita dilayar kaca pada beragam stasiun televisi yang menyuguhkan hal-hal yang menunjukan kepada siapapun, bahwa dalam kemajuan-kemajuan yang berhasil dicapai oleh umat manusia, ternyata manusia masih doyan daging sesamanya. Hingga kemudian sebuah badai kecil terjadi dalam secangkir kopi pahit. Cara pandang seseorang yang telah merubah cara pandangku tentang dunia ini. Ya, pelahan mataku terbuka, bahwa sisa-sisa kanibalisme itu masih hidup. Bahkan didalam peradaban yang sudah sangat maju, sisa-sisa kanibalisme itu tetap survive. Kanibalisme hidup disekeliling kita. Bagaimanakah perasaanya menjadi korban dari kekejaman bangsa sendiri? Tentaranya? Sistemnya? Kebudayaanya? Strukturalnya? Bagaimanakah perasaanya dikhianati rekan seperjuangan? Bagaimanakah perasaannya dicerai-beraikan dari rumah, anak dan istri, dan orang-orang tercinta? Bagaimanakah perasaanya dianaktirikan? Bagaimanakah perasaanya dipenjarakan tanpa proses pengadilan yang benar? Bagaimanakah rasanya hidup dalam keterasingan? Bagaimanakah perasaanya dijual seharga dibawah tiga puluh keping perak yang pernah diterima Yudas? Bagaimanakah perasaanya, jika kita bahkan mesti mengeluarkan uang demi memperoleh keadilan dan kebenaran yang sebenarnya adalah hak kita untuk mendapatkannya secara cuma-cuma? Bagaimanakah perasaanya? Ya, bagaimanakah perasaanya? Jadi korban kanibalisme modern ini? Tentu para Tapol/Napol O P M juga termasuk orang-orang yang memiliki kesan-kesan dan pesona yang jauh lebih kuat- jauh lebih nyata dibandingkan pendapatku tentang sisa-sisa kanibalisme yang masih survive di alam modern ini. Aku bangkit dan menutup jendela, setelah memandang ke atas langit, konon diatas sana ada sebuah pengadilan yang dapat menyelesaikan masalah-masalah secara adil dan kebal sogok pula. Setidaknya ada banyak manusia yang meyakini, bahwa pengadilan itu bukanlah di dunia ini, dunia yang dipenuhi tipu muslihat dan sekaligus menyembah kepada dua Tuhan,Tuhan yang di langit dan tuhan-tuhan kecil berdarah-daging yang berdaulat secara politik dan ekonomi. Mustahil memang, sebuah kamus beredar dipasaran tanpa ada penulisnya, namun tetap saja masalah Tuhan adalah masalah individual. Mengapakah sampai harus menunggu sesuatu datang dari langit? Haruskah untuk entah berapa kalinya, ketidakpedulian terhadap sebap-sebap penderitaan sampai melumpuhkan kapasitas manusia untuk merubah takdirnya? Bukankah manusia seharusnya mampu membuat lompatan tertingginya? Lompatan yang jauh melampaui batas yang ditetapkan selama ini? Adakah semua ini adalah merujuk kepada ideal asketisme? Entahlah, aku masih membutuhkan lebih banyak refrensi lagi. Sebuah peristiwa sederhana, ketika aku kembali lagi membaca, CATATAN HARIAN ORANG GILA, dari Lux Tsun. Pengarang ini telah merubah cara pandangku tentang dunia ini. " Pertanyaanya kemudian, masih adakah anak semua bangsa dari generasi paling baru yang belum dirasuki hawa jahat kanibalisme itu? Barangkali ada. Maka, selamatkanlah mereka.....", Lux Tsun, April 1918. Demikianlah suatu pagi itu, menjadi suatu saat yang tidak bisa aku lupakan. Bahwa diluar sana ada banyak mulut yang siap mengunyah daging sesamanya dan juga masih ada mulut yang enggan mengunyah daging sesamanya. Bagi sebuah keberadaan yang lain, dibutuhkan tumbal dari keberadaan lainnya.
Filep I S Mambor.
Friday, September 11, 2009 11:32:55 PM
Makar juga semestinya jangan hanya dilihat sebatas suatu masalah yang menyangkut aksi politik ( a matter of political action) dimana akhirnya yang menjadi sasaran suatu aksi politik ( casu quo negara dan pemerintah) jadi berpatokan pada naluri senang-tidak senang kepada pihak yang telah melakukan aksi politik ( pelaku makar). Hal ini mengakibatkan banyak dimensi masalah yang terabaikan. Dengan kemenangan demokrasi, maka makar juga hendaknya disikapi sebagai suatu masalah yang berhubungan dengan resepsi politik ( a matter of political reception). Sehingga yang perlu diselidiki, bukan saja para pelaku makar yang dianggap membahayakan integrasi bangsa, yaitu stabilitas nasional, melainkan juga modus yang mempengaruhi persepsi dan resepsi politik dari pelaku makar. Pengadilan sama sekali bukan tempat yang benar untuk mengurusi perasaan orang ( luka secara psikologis). Ada corak permasalahan yang sangat penting untuk segera dicarikan jalan keluarnya yang menjadi inti penyebap pribumi Papua berpotensi makar. Harapan-harapan yang tidak terpenuhi, tekanan-tekanan sosial,politik dan ekonomi telah memberikan frustasi-frustasi yang mendalam pada seluruh lapisan masyarakat. Terlebih lagi penyaluran-penyaluran politik dan ekonomi tidak dan kurang diberikan. Seumpama balon yang ditiup, jika melampaui daya tampungnya, maka jangan kaget jika ia meledak.
Menangkapi semua pelaku makar dan mengadili mereka dengan pengadilan yang berat sebelah, sama sekali tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang lebih fundamental. Maka sebenarnya merupakan langkah yang sangat bijak, jika terhadap para pelaku makar, disamping suara mereka sebaiknya dijadikan bahan masukan untuk mengoreksi sistem pemerintahan, mereka pun berhak mendapatkan bukan saja fasilitas kesehatan yang memadai saat mereka membutuhkannya. Yang mesti dihidupkan adalah sikap mau menghargai para pelaku makar, orang-orang yang telah memilih untuk berada disimpang kiri jalan. Karena makar di Papua juga adalah partisipasi masyarakat dalam membetulkan keadaan yang dianggap kurang beres.
O P M tidak lain adalah pribumi Papua itu sendiri, orang-orang yang oleh suatu tabir politik - sebuah kegilaan ekonomis telah berganti menjadi orang asing yang tidak asing diatas negeri leluhurnya sendiri.
Adalah hal yang lumrah terjadi pada setiap pribumi dimanapun yang negerinya berlimpahkan susu dan madu.
Apapun yang dialami Pak Filep Karma dan para Tapol/Napol lainnya, sebenarnya bukan saja adalah hal yang menyedihkan namun juga adalah hal yang sangat menyakitkan perasaan keadilan. Kemanusiaan mesti dikedepankan dalam penyelesaian masalah-masalah di Papua. Sudah terlalu kuno, jika beranggapan jaman J P Van Coen belum berakhir. Makar adalah tuaian dari apa yang pernah ditabur oleh Jakarta. Kita boleh tidak setuju terhadap ideologi maupun aliran politik yang ditempuh seseorang atau kelompok tertentu demi memperjuangkan keadilan, persamaan, atau apa saja impian terindah mereka. Namun tetap saja perasaan keadilan pada diri seseorang adalah sesuatu yang layak dihargai dengan tetap mengedepankan kemanusiaan. Manusia dilahirkan, sama sekali bukan untuk diberangus secara sosial,politik, budaya maupun ekonomi.
Pancasila dan U U D 1945 memang sangat menjanjikan sebuah dunia yang jauh lebih baik dibandingkan keadaan negara manapun di muka bumi ini. Namun sayangnya...... belum diperuntukan bagi semua warga negara RI. Dan terlebih khusus lagi, bukan untuk Tapol/Napol O P M. Sebuah utopia memang, dan utopia yang satu ini layak untuk diperjuangkan.
Filep I S Mambor.
Exclusion = istilah yang pernah digunakan Anthony Giddens," kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses kepada
mainstream sosial - kelompok masyarakat yang tersingkirkan melalui proses marginalisasi sehingga tidak lagi memiliki akses kepada sumber daya sosial".
PAT = Pramoedya Ananta Toer.
Thursday, September 10, 2009 9:16:56 AM
Semua ini dapat disingkat menjadi, masih mengalami deskriminasi rasial, dipaksa mati pelahan-lahan secara sosial-politik-bahkan ekonomi. Saya besar dan tumbuh dalam keluarga yang telah dicorengi stigma O P M, sehingga benar-benar paham bahwa Pancasila dan U U D 1945 adalah sesuatu yang layak diperjuangkan demi mengikis status warga negara kelas 2 di Papua. Karena Pancasila dan U U D 1945 berisikan kemanusiaan yang universil, jaminan bahwa siapapun tidak boleh diperlakukan sebagai ternak, tidak boleh diberangus secara sistematik. Hingga sekarangpun keindahan Pancasila dan kecantikan U U D 1945 masih membius saya.
Kembali kepada persoalan Pak Filep Karma, maka terlihat bahwa naluri senang atau tidak senang terhadap seseorang maupun kelompok masih sering dikedepankan dalam menangani suatu masalah. Pada alam demokrasi yang belum juga lama dalam mengecap kalah atau menang adalah soal biasa, maka naluri inilah yang telah membawa kita kepada suatu keadaan dimasa silam. Zaman kerajaan desa, versi Ken Arok cs, dimana ada pihak yang merasa dirinya paling jago lantaran punya barisan panjang pembunuh dan tukang pukul bayaran plus ilmu kebal. Sehingga beraninya cuma main gebuk melulu ( ironisnya,... terhadap pelaku makar Jakarta telah mengambil langkah-langkah yang barangkali tepat demi mempertahankan basis integrasi nasional kita, hanya saja, mengapakah terhadap para koruptor di Papua, Jakarta tidak dapat mengambil cara yang sama tegasnya? Korupsi yang merajalela di Papua juga merupakan salah satu penyebap terkini rapuhnya basis integrasi di Papua. Masalah sosial adalah dijawab pula dengan jawaban sosial, bukan dengan terus-terusan memberikan jawaban teknis dan taktis ). Apakah kemanusiaan bagi orang Papua barulah jadi" pasar amal" kalau mendapat tekanan dunia Internasional?
Kepemimpinan SBY memang telah membawa banyak perubahan, hanya saja belum berhasil mencairkan kebekuan antara pemerintah Pusat dan exclusion* di Papua.
Kasus Makar di Papua adalah hal yang tidak terlepas dari : intrik-intrik politik kotor era Soekarno dan Soeharto. Kesalahan struktural dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi. Sistem yang menindas, dimana pada sekian dekade tidak mejadi soal pelik yang dapat mengguncang acara minum tehnya Jakarta, berapa banyak pribumi Papua yang mati karena sakit penyakit, bencana alam, kemisikinan, kelaparan atau bahkan karena tidak mampu membeli pil malaria. Dan jangan dilupakan masa dimana SDA di Papua dijadikan sapi perahan. Masih banyak lagi sederetan hal yang dapat dijadikan fokus pikiran, mengapakah selalu saja ada diantara pribumi Papua yang tetap makar sekalipun OTSUS telah diberikan.
Dalam taraf inilah saya hendak mengajak untuk melihat, bahwa makar di Papua mestilah dipandang dari jendela hati yang paling jernih. Bahwa tidak pernah ada penindasan bangsa atas bangsa, kelompok atas kelompok, mayorita terhadap minorita atau sebaliknya, yang tidak melahirkan pemberontakan alam bawah sadar pada kaum yang merasa sedang ditindas secara politik dan tengah mengalami tekanan ekonomi.
Sun Yat Sen dalam bukunya San Min Chu-i, mengatakan, bahwa : " Umumnya manusia lebih lekas sadar dan memberontak karena menderitakan tekanan politik, sebaliknya tidak sadar sedikitpun kalau ditindas dengan kekuatan ekonomi." Papua bukanlah sebuah pulau yang seringkali dilupakan oleh ilmu bumi dan karena itu pula terpencil dari globalisasi, Papua pun telah menampung bermacam-macam ide, dan nilai-nilai baru dan impiannya, dari penjuru dunia yang datang menggempurnya. Perkenalanan dengan segala segala jalan pikiran baru, yang bahkan tidak mampu dibendung oleh Orang Papua sendiri. Perkembangan teknologi, terutama informasi (revolusi digital) dan trnasportasi, telah memecah pranata masyarakat dari tingkat dusun terpencil hingga ke global. Perkembangan informasi yang sedemikian pesat telah memungkinkan siapapun bukan saja sekedar berteman dengan seorang di ujung dunia, melainkan pula membuka peluang demi mendapatkan orang-orang yang sepaham. Pluralisme semakin menggejala dan kompleks, bukan saja dalam budaya maupun ethnik, melainkan juga kelompok-kelompok baru.
Maka komunitas masyarakat tidak lagi dihubungkan oleh kesamaan geografis atau budaya. Dampaknya, kesadaran politik atas hak-hak politik pada Orang Papua sudah sedemikian meluasnya. Hal yang sama pun sedang dan tengah dialami pribumi manapun. Siapapun jadi mampu untuk membedakan, mana tangan yang hampa yang datang memeluk sembari mengelus punggung. Apalagi terhadap watak dan kesukaan penjajah: melarang dan menindas. Tentang dua hal ini , saya kutipkan " Rumah Kaca" dari PAT* (alm) pada awal Bab 8, yang secara sangat ekspilisit melukiskan kenikmatan dari tuan besar kolonial, adakah melenceng dari penyebap luka secara psikologis yang tengah kami deritakan??? " Melarang adalah kesukaan kolonial yang memberikan kenikmatan tersendiri. Rasa-rasanya diri menjadi lebih penting dan lebih berkuasa. & menindas adalah juga watak kolonial. Kenikmatan yang dihasilkan oleh perbuatan menindas lebih mendalam daripada hanya melarang. Dan orang-orang Eropa yang berasal dari masyarakat demokratis itu, begitu menghirup udara kolonial, enam bulan saja, akan segera kecanduan melarang dan menindas, menikmati hak-hak raja Pribumi yang mereka sendiri ejek dan hinakan. Aku benarkan tulisan si Gadis Jepara tentang ini."
<masih lanjut>
Wednesday, September 9, 2009 3:18:55 PM
Telah lama mendengar nama Pak Filep Karma, sedikit banyak tahu seputar masalah seperti yang dituduhkan dan mesti ditanggung oleh salah satu tokoh O P M (Organisasi Papua Merdeka) dari sayap politik ini. Tahun 2003 tepatnya, saat saya bertemu dengan beliau dan kami menjadi akrab. Pak Filep Karma jauh lebih tua dari saya. Saya memanggilnya "om" tanpa adanya pertalian darah sama sekali. Selain, " kami sama-sama adalah korban dari kesalahan struktural pada bidang sosial, politik, dan ekonomi." Kesalahan fatal yang pada akhirnya telah berandil dalam melahirkan sistem yang menindas dan mesti dialami oleh setiap pribumi Papua di masa sentralistik dahulu sebagai warisan kepemimpinan Bung Karno. Celakanya, sistem setani- sistem amanusiawi ini malah masih pula diagung-agungkan sebagai berdemokrasi. Maka tidak heran, bahkan dengan kemenangan demokrat sekalipun, mengeluarkan pendapat baik secara lisan maupun tulisan, oposan masih dianggap sebagai budaya yang bakal mencemari sarang sendiri. Terlebih lagi jika itu berasal dari orang Papua, sekalipun yang disuarakan adalah kegawatan eksistensinya sebagai pribumi. Sudah barang tentu saya pun merasa perlu membela " orang-orang yang sengaja dilumpuhkan".
Kemiskinan, keterbelakangan pada beragam bidang kehidupan, tuna aksara, pelanggaran HAM ringan dan berat yang penyelesaiannya tidak tuntas-tuntas juga, korupsi yang merajalela, masalah pendidikan dan kesehatan, serta sederetan masalah sosial yang diberitakan oleh pers maupun yang ditulis oleh para penulis dan para pengarang, baik dari pribumi Papua sendiri maupun yang berasal dari saudara-saudara non Papua yang menaruh peduli terhadap tanah Papua dapat memberikan kepada siapa pun gambaran-gambaran tentang exclusion* di Papua. Mata saya sudah sangat dewasa untuk melihat realitas-realitas kotor dan menjijikan diatas negeri leluhur saya, maka atas nama segudang pengalaman pahit yang setiap tahun akan terus bertambah saya sulit untuk menerima pendapat manapun yang seenak perut mengatakan bahwa OTSUS sudah memberikan perubahan berarti terhadap bidang kehidupan dari pribumi Papua.
Kalau pun ada maka itu hanyalah terjadi dan diperuntukan bagi orang-orang yang senang memperjualbelikan semangat kebangsaan rakyat Papua. Masyarakat adalah juga "karunia tiada tara", terutama bagi golongan pengusaha, pedagang dan tengkulak rakyat, dan mereka yang senang mempasarloakan idealisme, semangat kebangsaan, kemalangan dari saudara-saudaranya sendiri demi mengeruk sebesar-besarnya keuntungan buat sang pribadi. Inilah akar sejati dari setiap praktek kejahatan dimanapun juga. Tuduhan yang bukannya tanpa kajian historis dan sosiologis, maka itu ia tidak pernah bakal meleset.
Saya berlangganan kode etik tertentu yang saya buat sendiri, semenjak merasa perlu menggunakan pena untuk berbaur bersama rekan-rekan yang tengah berusaha membangun sebuah dunia yang jauh lebih baik untuk anak-anak kami. Yang pada intinya, saya berseberangan dengan mereka yang membangun kemapanan diatas tanah Papua tanpa penerapan puritan secara tradisional: bertradisi kerja keras, hemat dan sederetan cara dimana seorang boleh membangun kehidupannya dialam merdeka
ini dengan tidak
" hidup menumpang di kecurangan."
Sebuah keadaan dimana kami secara bebas dan bertanggung-jawab boleh menikmati hak-hak kewarganegaraan kami selaku WNI seperti yang menjadi cita-cita para pendiri negara ini. Tulisan ini berkiblat kepada Pancasila dan UUD 1945.
Tahun 2009 kembali bertemu Pak Karma, pada resepsi pernikahan adik perempuan saya. Saat itu kami sempat foto bersama dan saya menanyakan kesehatan beliau. Dengan stylenya yang ramah, beliau mengatakan bahwa beliau baik-baik saja. Itulah pertemuan terakhir kami. Dan praktis saya hanya mendengar kabar Pak Karma lewat berita-berita di internet. Hingga kemudian seseorang menginformasikan bahwa Pak Karma telah meninggalkan L P ( Lembaga Pemasyarakatan ) Abepura - Jayapura untuk dirawat di R S ( Rumah Sakit) Dok 2 Jayapura- Papua ,lantaran sakit yang diderita. Sangat kaget ketika membaca bagaimana beliau harus menahan rasa sakit selama seminggu terlebih dahulu sebelum mendapatkan perawatan medis seperti layaknya yang menjadi hak setiap manusia yang memang sangat membutuhkan penanganan seorang dokter. Bahkan beliau disuruh berolahraga dan memijiti sendiri tempat yang terasa sakit. Dengan kata ajaib, " nanti juga sembuh sendiri!" Suatu contoh dan bukti bahwa orang Papua hidup hanyalah untuk menjadi kelinci percobaan.
Adanya perbedaan penanganan terhadap para Tahanan/Narapidana Politik O P M adalah hal yang telah saya cermati secara pribadi. Semenjak berusia 14 tahun, dengan mata kepala, saya melihat bagaimana ayah saya digelandang ke balik terali besi oleh satuan intel atas tuduhan melakukakan kegiatan subversif. Sekarang usia saya 33 tahun. Kesimpulannya, " tidak banyak yang berubah!" Yang sudah hitam maka selamanya adalah hitam.
Para pelaku makar, pelaku subversif atau apapun " kambing hitamnya" yang diberikan pemerintah telah menerima berbagai macam perlakuan. Baik dari pelekatan istilah makar, O P M, G P K, hingga yang lebih sering adalah lewat bahasa perbuatan : caci-maki, tendangan, siksaan, penjara tanpa pengadilan yang jelas, hingga eksekusi mati ditempat jika tidak ada saksi mata.
< Masih lanjut >
Monday, September 7, 2009 4:10:42 PM
Shanty, Dialah wanita yang memberikan ciuman mesra dibibirku. Menyusul lumatan bergairah diantara desahan nafas kami berdua yang memburu. Aku bahkan tak kuasa menolak keinginannya untuk singgah di rumahnya. Hanya sekedar buat bercinta diatas sofa coklat. Kami mengulang kisah di masa lalu. Dia adalah bagian dari masa silam ku. Seorang yang pernah mengisi hari-hari disaat aku masih didalam seragam biru-putih. Dan wanita itulah penyebap insiden kecil di pagi hari itu.
Biar bagaimana pun aku ingin mengucapkan kebenarannya. Hanya,.... rasanya itu mustahil. Aku masih mencintai wanita ini. Sekalipun ia telah menyisakan suatu luka dan aib buat seorang lelaki. Ia berkhianat dan pergi bersama sahabat karibku, Kini memang sebuah jalan telah terbuka. Ia resmi seorang janda. Lakinya itu pergi setelah menghabiskan harta warisan ayahnya. Setahuku, ia sekarang resmi menjadi wanita panggilan kelas atas. Wajahnya memang masih cantik. Cuma perubahan besar telah terlihat, bahwa ia sudah tidak selugu dahulu. Masa-masa terindah yang selalu ingin aku selami bersamanya kembali. Namun,... apa tanggapan orang? Aku terduduk diujung tempat tidur.
" Aku mengenalimu ! Kau tidak akan jatuh cinta kecuali seorang itu punya suatu peran penting pada masa lalumu. Itulah penyakitmu, tidak ada yang bisa kau lakukan selain mencoba menguburnya. Ingatlah masa depan Dony anak kita. Bagiku pernikahan bukan sekedar legitimasi untuk persetubuhan semata. Buat menghindari gosip asusila, dengan beban ekonomi yang mesti dipikul seorang suami jika seorang anak lahir ke dunia. Aku bekerja karena memang orangtuaku telah menyekolahkanku untuk jadi seorang wanita yang mesti meniti karier. Kupikir,.. aku pun berandil jika masalahnya adalah soal menafkahi keluarga kita. Tetapi biarpun begitu, tetap tidak pada tempatnya kau berselingkuh lantaran kau adalah kepala keluarga. Di malam hari saat aku kecapean pun engkau masih aku layani dengan gairah seorang gadis remaja. Kupikir tak ada yang salah dan kurang disini. Dan kalaupun ada, itu artinya engkau yang belum dewasa!"
Aku masih terduduk disisi ranjang. Menekuri satu-persatu ucapannya. Kupikir diam adalah kata serta langkah yang tepat untuk dilakukan pada saat seperti ini.
TAMAT
Filep I S Mambor.
Manokwari, 07-03-2006
Sunday, September 6, 2009 1:56:58 PM
Alangkah kagetnya aku, ketika cermin itu menampilkan sosok istriku. Diam-diam memandangi perbuatanku. Ia duduk di kursi kecil, di sudut yang lain, kamar tidur kami. Tentu sudah lama di sana, pikir ku detik itu. Menungguku bangun sambil memperhatikan setiap detail kehidupan yang dapat diungkapkannya dari cara tidur ku.
" Aku yang menghapusnya !"
Hening.
" Tentu kau tidak merasakannya. Karena kau mabuk sekali semalam!"
" Kau tidak kerja?", aku beranikan diri untuk berbicara.
Istriku masih mengenakan baju sehari-hari. Seingatku itu adalah daster yang dipakainya semalam. Ia menggeleng. Sebersit iba dan perasaan bersalah mulai mengguncangku. Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca dan memerah. Boby anak kami sedang bermain di ruang tamu. Salah tingkah atau sejenisnya telah membuatku jadi bisa mendengar suara satu-satunya anak kami, dengan lancar menirukan beberapa kalimat dari film karton.
" Apakah engkau tidak bisa menatap aku, saat aku berbicara?", istriku mulai lancarkan kemarahannya.
" Ku pikir tak ada pengaruhnya, seorang mendengar memakai telinganya dan bukannya dengan mata!", aku mulai kehilangan akal. Segera menggerayangi laci lemari. Aku keluarkan kotak kecil berisi peralatan mencukur. Lalu mulailah aku bercukur. Berusaha menyibukan diri, sekalipun aku rasa, itu perbuatan yang sia-sia saja.
Ini adalah pertengkaran kedua, lebih tepatnya bakal menjadi yang kedua semenjak kami berumah tangga. Dan aku takut. Sedikit bergemetar juga awak agaknya. Tepatnya, takut kepada ancaman mertuaku yang perempuan. Ia pernah mengancam akan membawa pulang istriku, jika kami ketahuan bertengkar lagi. Tentunya para pembaca dapat membayangkan bagaimana susahnya sebuah keluarga untuk menjadi dewasa, tanpa melalui pertengkaran-pertengkaran.
" Tentu! Telinga! Ya! Telinga! Para penipu dan pembual juga memakai telinga untuk membuat bualan mereka agar jadi lebih hidup lagi ditelinga orang ! Kau tidak lebih baik dari mereka ! Kau tidak mau memandang kepadaku karena keangkuhanmu yang semakin menjadi-jadi belakangan ini. Aku memperhatikannya. Perubahanmu itu. Kau telah menunjukan bahwa aku sudah bukan apa-apa lagi dalam kehidupanmu. Engkau benar-benar seorang yang patut dikasihani !!!"
" Tentu kau mengira lipstik itu berasal dari seorang wanita atas dasar tarif tertentu, memberikan ekspresi kepuasannya bukan? Sekali-kali kukatakan tidak. Itu berasal dari seseorang yang mengagumi suaraku!"
Kulihat pada wajahnya, ada sesuatu yang lain. Ia tersenyum sinis. Istriku sendiri. Tersenyum sinis kepadaku.
" Dahulunya,.... sebelum engkau memiliki beberapa hal dalam hidupmu,...kau masih memiliki dirimu sendiri. Saat itu engkau masih memiliki suaramu. Sekarang sudah lain. Suaramu, keahlianmu bermain gitar telah melahirkan popularitas, engkau sekarang menghamba kepada mereka. Begitulah yang senantiasa terjadi, yang mengawali masa kininya para penjahat. Dahulunya, mereka adalah orang-orang sederhana, penyantun dan ramah kepada siapa-siapa. Setelah memiliki banyak uang, banyak teman, kenalan dan saudara. Rumah dibanjiri berkodi-kodi tamu, menerima banyak sanjungan dan pujian, mereka jadi lupa diri dan berubah menjadi bangsat-bangsat yang rakus.
Itu bukti dari perubahanmu akhir-akhir ini. Semenjak CB kalian bertemu seorang sponsor yang bersedia menanggulangi kekurangan uang kalian untuk masuk dapur rekaman. Kalian mendapat sukses yang menurutmu sukses besar. Semula aku sependapat. Kini aku ragu. Mengapa? Karena setahuku, suatu sukses bukanlah sebuah jurang,...melainkan anak tangga. Dan itulah awal keruntuhan dari seorang yang sangat aku cintai!"
Istriku mulai menangis dengan caranya yang membuatku jadi semakin takut.
"Kreet",bunyi ini membuat aku segera menoleh ke samping kanan. Sebuah kepala mungil menyembul di pintu setengah terkuak. Doni anak kami memandang ke dalam. Sepasang matanya menatap tegas-tegas ke arah ku.
" Mengapa mama menangis?", katanya. Sepasang mata yang polos itu seakan datang untuk menghakimiku. Wajahnya menyiratkan minta pertanggungjawaban dari diri ku. Tentu saja ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak aku harapakan
untuk terjadi. Aku jadi terpukul. Pemandangan ini seharusnya belum boleh ditonton oleh anak kami. Tapi semua sudah terlanjur. Tentu ia akan selamanya menyimpan suatu dendam khusus untuk ku. Suatu kecemasan yang aneh yang bakal jadi rahim segala ide pemberontakannya kepadaku. Aku cuma bisa menyesali.
Apa pun yang pernah terjadi di masa lalu, ia tidak menghilang begitu saja. Sebuah kehidupan yang tidak penting sekalipun, memiliki fondasinya sendiri. Segala peristiwa yang lenyap dari rabaan panca indera, ia tidak menghilang begitu saja. Melainkan masuk dalam fondasi keberadaan seseorang yang kemudian menjadi apa yang dinamakan pengalaman hidup. Semua itu ibarat bongkahan-bongkahan batu yang turut menyusun fondasi. Dan inilah pokok permasalahannya.
Aku sering jadi korban dari sebentuk perasaan cemas. Merasa cemas lantaran hidupku ini tidak sesuai dengan impian terindah yang pernah aku miliki di masa remaja. Pelahan aku sadar, bahwa hidup terkadang menjadi sebatas segala macam ide yang ditanamkan oleh orang tua saat masih kanak. Bagaimanapun aku berusaha untuk lari dari masa laluku, jawabannya adalah itu tidak mungkin. Karena semuanya telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari diriku.
.
< masih lanjut>
Wednesday, September 2, 2009 7:33:36 AM
Kekurangan uang untuk membiayai hidup keluargaku, itulah pokok permasalahannya. Aku jadi menggantungkan diriku pada kehidupan malam di salah satu pub cukup terkenal di kota kami. Pemiliknya seorang berkeyakinan bahwa dunia hiburan bagi kehidupan malam merupakan ladang uang yang perlu digarap secara baik. Sekalipun begitu, aku sama sekali belum pernah melihatnya. Ia nyaris adalah perintah-perintah yang di suarakan oleh pengelola pub. Seorang yang kerap dipanggil Mamie. Usianya sekitar 40-an. Wanita ini masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikannya di masa mudanya dahulu. Seorang yang sangat menjaga kesopanan, baik tutur kata maupun dalam perbuatan. Konon Mamie adalah perempuan peliharaan pemilik pub. Sebagian berkata, Mamie menguasai hampir setengah dari modal yang ditanamkan untuk pub. Sebagian lagi berkata, bahwa Mamie adalah sepupu jauhnya pemilik pub. Entah mana yang benar. Yang ku tahu cuma, Mamie selalu baik kepada ku. Beberapa cerita yang sampai ke telingaku tentang masa lalu Mamie yang gelap membuatku sering bertanya : apakah seorang yang memiliki keanggunan wanita kelas atas seperti Mamie, punya reputasi sejelek itu? Aku terkadang ragu. Tapi setiap orang punya masa lalu. Aku tidak lebih baik dari Mamie juga Mamie tidak jauh lebih baik dari ku. Titik. Ku pikir inilah jalan tengahnya agar tidak tergelincir ke arah sinisme.
Mamie selalu berpesan agar kami memberikan pelayanan jauh diatas pelayanan yang biasa diberikan pub-pub lainnya.
Ringkasnya pub kami harus memberikan suatu suasana saat seorang duduk disalah satu bangkunya sambil menikmati sekaleng minuman non alkoholpun, dan setelah meninggalkan pintunya, adalah tentang pub-pub kelas atas di kota Jakarta. Suatu strategi pemasaran yang kupikir cukup baik.
Pub ini memiliki banyak pelanggan tetapnya. Disamping juga banyak didatangi wajah-wajah baru yang akhirnya menjadi wajah yang selalu hadir saat malam hari.
Pub ini menyajikan live musik sebagai menu tetap untuk menemani para pengunjung minum. Mereka ngobrol ngarol-ngidul dan juga melakukan transaksi seks. Aku mengantongi beberapa nama wanita yang diam-diam bisa dibocking dengan tarif tertentu. Juga beberapa nomor handphone lelaki yang menjalankan profesi gigolo. Mengenal baik beberapa tante girang yang pernah aku tolak ajakan tidur mereka, lantaran pengaruh suaraku yang konon mirip Oscar Haris. Juga menjadi jembatan bagi om-om yang doyan daun muda. Untuk semua jasa ini, mereka memberikan imbalan yang lumayan.
Seringkali terpikir olehku, tentang dosa. Hanya saja, kalau aku persangkutkan dengan dosa ataukah tidak dosa, terutama di kota besar seperti kotaku yang mulai pandai bersolek, maka hidupku dapat dipastikan akan berakhir diemperan toko. Persaingan hidup dan segala yang nyaris serba uang membuatku hampir menjadi mesin. Aku sering merasa yakin, bahwa dunia seluruhnya baik-baik saja. Sekalipun banyak yang berkata optimismeku ini terlampau berlebihan. Ada imbalan terhadap setiap bentuk perjuangan demi hidup. Sebuah keyakinan yang hingga detik inipun masih sulit kukebas dari benak: bahwa kekeliruan dalam hidup yang dilakukan seseorang, pada akhirnya akan masuk akal juga.
Pendek kata, di siang hari aku adalah warga negara yang baik, warga masyarakat yang baik, ayah dan suami yang baik. Malam hari aku adalah mahkluk malam yang melengkapi komunitas mahkluk-mahkluk malam. Di rumah selama lima tahun lebih istriku cuma tahu bahwa aku adalah pemain bas yang handal dan seorang bersuara merdu. Ia tak tahu bahwa suaminya adalah seorang vokalis yang baru akan nyanyi jika sudah berada dibawah pengaruh minuman keras.
Tiga tahun silam aku resmi bekerja pada kelompok band yang dipi
mpin Doni. Ia adalah kawan sekelasku dahulu. Aku bertemu dengannya di Pub Paradiso tempat sekarang aku bekerja. Ia menerima tawaranku dan setuju dengan upah yang kuminta. Kebetulan ia butuh seorang pemain bas menggantikan Rino pemain bas CB mereka yang telah beralih menjadi karyawan di sebuah bank. Sesekali ia masih sering berkunjung. Dan bermain bersama kami. Ia akan kembali pada posisi lamanya sedangkan aku akan beralih ke keyboard. Cuma anehnya ia selalu menolak upah. Barangkali ia hanya menyalurkan bakat dan hobi semata. Ada banyak orang memang membutuhkan suasana selingan dalam kehidupan seharian mereka yang hanya terdiri dari sedikit warna.
Sebelumnya aku secara paruh waktu menjadi pengisi musik pada sebuah home industri yang bergerak di bidang jasa iklan.
Sebelum bermunculan usaha sejenis, semuanya baik-baik saja. Kemudian aku cuma setengah hari saja bekerja di sana. Sebenarnya usaha itu nyaris bangkrut. Lantaran persaingan tidak sehat yang dipraktekan. Pemiliknya hanya menghubungi ku seandainya ada pekerjaan. Tapi lebih banyak aku di rumah saja. Lewat setahun, ia berhenti menghubungiku. Ku pikir usaha itu sudah gulung tikar.
Aku memang teramat pandai menyembunyikan sebagian diri ku dibalik topeng kemunafikan. " Sepandai-pandainya tupai meloncat, akhirnya akan jatuh ke tanah." Sebuah pribahasa kuno yang akhirnya jadi sebuah kanvas kecil yang mesti aku lukisi sendiri.
Pagi itu aku bangun kesiangan. Pengaruh minuman yang semalam kutegak dengan cara sedikit gila menyisakan rasa pusing di pagi hari. Aku menuju cermin untuk melihat apakah masih tersisa lipstik di dagu. Untunglah sebelumnya aku sudah menghilangkan beragam petunjuk tentang kehadiran orang ketiga. Sehelai sapu tangan sudah menghuni ruang kecil di bawah jok Kharisma merah ku.
< lanjut>
Wednesday, September 2, 2009 7:00:53 AM
Sejarah adalah jendela masa lalu.
Bisa dijadikan cermin atau buat meneropong
ke depan maupun ke belakang.
Cermin diperlukan bukan saja untuk berias
digunakan juga buat membenahi diri,
menyingkirkan debu
atau
mengenal kebajikan dan kesalahan leluhur.
Namun
sejarah telah menjadi aib
telah menjadi pintu yang di tutup
dengan cara di banting sekeras mungkin.
Ketika ada yang berusaha meluruskan
apa yang oleh kepentingan
telah dibengkokan ke sana ke mari
mereka malah di tangkap.
Di tuduh ini dan itu.
Malah ada yang di eksekusi mati karena tanpa saksi mata.
Mulailah mengalir belada sedih pribumi
sebagian dijadikan penghuni sel pengap tanpa proses pengadilan yang wajar.
Dijadikan terdakwa seumur hidup
tanpa pernah kaki menginjak ruang pengadilan.
Dulunya sih sukur sukur mendapatkan rasa manusiawi.
Dulunya sih sukur sukur di perlakukan sebagai manusia.
Dulunya sih sukur sukur tidur di balik trali besi dan keluarga boleh datang menjenguk.
Orang-orang yang sengaja dilumpuhkan.
Orang-orang yang pada kening mereka
telah dicorengi arang hitam.
Dilumpuhkan tanpa sentuhan kehidupan berdemokrasi
di atas negeri leluhur sendiri.
Filep I S Mambor.
Monday, August 24, 2009 9:15:01 AM
Langit mendadak kemerahan
dari tanah yang tiba-tiba basah menyemburat
pelangi yang tidak lazim.
Di huni warna merah
aroma amis bertebaran
juga terdengar jerit dan tangisan kesakitan.
Segudang doa terpaksa lahir prematur
di sudut yang paling kecil.
Sedangkan bagian bawahnya yang lebih lebar :
adalah pintu pintu terkunci rapat.
Kembali seperti biasa, suara-suara hanya membentur dinding karang kering
tanpa di huni satupun yang bisa di katakan mahluk hidup.
Atau barangkali,
ada mendengar namun tanpa dua telinga, melihat namun tanpa sepasang mata.
Di kejauhan pada tempat yang sangat gelap, enam pasang mata.
Mungil, molek tengah menonton drama.
Anak anak yang masih senang bermain di bawah hujan.
Dalam baju seadanya mewakili tangan takdir yang memang pantas buat di kutuk.
Sekalipun sebagian orang lebih senang menciumnya.
Tak banyak yang menarik, selain enam pasang mata telah di halau ke luar dari rumah masa kecil.
Ketiganya di payungi panji-panji kebesaran yang bukan berasal dari masa ini.
Setiap pribadi adalah akan di susui masanya, angkatannya,
dan tempat di mana ia akan tumbuh untuk berkembang.
Mata mereka telah memberikan ayat hafalan yang paling cantik
untuk di kenang sepanjang hayat.
Sebuah baris : A B C D F G H I dan seterusnya.
Sederetan angka : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 dan seterusnya.
Lengkap dengan perkalian, pembagi dan pengurang.
Mereka mencongak dan belajar dari papan tulis butut.
Di mana barisan guru dalam seragam hijau-hijau
tengah membantai : ayah, ibu, dan orang-orang tercinta.
( Mereka hanyalah korban dari kekejaman dunia, karena terlahir di West Papua )
Filep I S Mambor.
Sunday, August 23, 2009 5:13:59 AM
Rumah terlalu sempit dimana ia harus kerjakan semuanya seorang diri. Dan wajahnya, ah, aku bahkan tidak mampu membedakan lagi antara pucat dan berseri-seri. Tetapi semua orang berusaha keras untuk hidup, tentunya karena masih merasa hidup ini indah. Sekalipun rumah yang kami huni terlalu sempit dan berdempetan. Sehingga nyaris ia senantiasa harus menahan tangisan kedua anak kami. Atau bahkan suara tawa sendiri. Tak bisa marah agar yang lain boleh menikmati ketenangan. Juga agar yang lain tidak tersinggung. Aku telah hadir dalam hidupnya dengan cinta yang mengekang. Barangkali aku masih teman hidup yang menarik jika saja ia tetap memandang cinta adalah hal yang cukup bagi sepasang hati. Tetapi, ah.... apakah tidak terlalu naif konsep hidup ku? Dan cara pandang seperti ini konon sudah tertinggal jauh di belakang. Seandainya dahulu aku tidak mengusiknya dengan cinta, maka ia senantiasa aman di rumah orang tuanya. Bahkan mungkin berhasil menemukan seorang pria yang mampu melimpahinya dengan kemewahan. Aku hanya menjerumuskan orang lain memikul apa yang sendiripun tak bisa ku tanggung. Mataku nanar memandang ke luar jendela yang belum di tutup. Lampu di jalanan sana dengan cahaya yang terlihat suram itu berusaha menghalau jubah kegelapan. Hanya sedikit menolong laron-laron yang mengerumuninya. Ketiganya telah selesai makan. Istriku mulai membenahi meja makan. " Sudah mulai musim penghujan!", katanya seakan hanya kepada dirinya sendiri. Ia lalu memunguti satu-persatu laron-larun yang jatuh di meja makan. Kedua anak kami menuntut aku melanjutkan dongengan kemarin malam. Kisah tentang prajurit timah dari H C Andersen.
" Ya, tapi tidak malam ini!", kata ku datar. Keduanya terlihat sangat kecewa.
Menarik kursi lalu berdiri. Pelahan melangkah ke kamar. Diamnya tak bisa aku artikan ia tidak berdaya serang lagi. Terpaksa menghindari perkataan yang tentu akan semakin membuatku jadi tersudut. Di kamar, aku berbaring. Wajah ku tenggelam ke atas bantal. Sepotong-sepotong kehidupan sepupuku yang ku lihat sendiri maupun yang pernah aku dengar, kini menjadi satu. Membentuk sepasang jemari serigala berkuku runcing lalu aku mulai di cabik-cabiknya. Segera berubah menjadi serpihan-serpihan daging segar berdarah amis. Lalu pelahan dibatinku mengiang gema suara dari seorang kawan : " suatu saat kita hanya akan tangisi ketololan diri sendiri!" Seakan sungai berhasil menemukan jalannya yang baru, terasa bantal menjadi basah. Ya, aku telah menemukan jawabannya. Entah benar entah tidak. Bahwa kami harus memiliki sebuah kehidupan yang baru, sebuah kehidupan yang belum pernah kami alami. Sebuah dunia yang jauh lebih baik untuk anak cucu kita.
TAMAT
Filep I S Mambor.
Manokwari : 17-04-2008
1 2 3 Next »