Skip navigation.

FaUZaLEeNA

Aloneliness...

Larangan berlomba-lomba dalam urusan duniawi

, , , ...

Allah berfirman, “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir,” (Yunus: 24).
Dan Allah juga berfirman, “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan,” (al-Kahfi: 45-46).
Allah Ta’ala juga berfirman, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu,” (al-Hadiid: 20).
Allah SWT berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah,” (Faathir: 5).
Dan Dia berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui,” (al-Ankabuut: 64).
Diriwayatkan dari Amr bin Auf r.a, bahwasanya Rasulullah saw. mengutus Ubaidah bin al-Jarrah ke Bahrain untuk mengambil harta jizyah. Maka diapun datang dengan membawa harta dari Bahrain. Maka orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah. Merekapun mengerjakan shalat fajar bersama Rasulullah saw. selesai shalat beliau berpaling. Merekapun mendatangi beliau. Rasulullah saw. tersenyum ketika melihat mereka seraya berkata, ‘Aku kira kalian telah mendengar bahwasanya Abu Ubaidah datang dengan membawa harta dari Bahrain?’ Mereka menjawab, ‘Benar wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Sambutlah kabar gembira dan haraplah apa-apa yang membuat kalian senang. Demi Allah, bukan kekafiran yang aku takutkan atas kalian. Akan tetap yang aku takutkan adalah bila dunia dibentangkan atas kalian, sebagaimana dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian berlomba-lomba di dalamnya sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba-lomba. Lalu kalian binasa sebagaimana hal itu telah membinasakan mereka’,” (HR Bukhari [3158] dan Muslim [2961]).
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. duduk di atas mimbar dan kamipun duduk di sekeliling beliau. Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya diantara perkara yang aku takutkan atas kalian sepeninggalku adalah kemegahan dan perhiasan dunia yang dibukakan bagi kalian’,” (HR Bukhari [1465] dan Muslim [1052]).
Dan diriwayatkan dari Abu Sa’di al-Khudri r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan Allah menyerahkannya kepada kalian. Agar Dia melihat apa yang kalin perbuat. Berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita. Sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa bani Israel adalah fitnah wanita,” (HR Muslim [2742]).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Ketahuilah bahwsanya dunia ini terlaknat. Dan terlaknat apa-apa yang ada di dalamnya kecuali dzikrullah dan apa-apa yang mendekatkan diri kepada-Nya, seorang alim dan orang yang menuntut ilmu’,” (Shahih lighairihi, HR at-Tirmidzi: 2322]).
Kandungan Bab:
1. Dunia itu cepat hilangnya. Dan berpegang pada dunia adalah fatamorgana. Sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi yang tidak akan hilang dan habis.
2. Peringatan bagi siapa yang dibukakan dunia kepadanya dari buruknya akibat dan fitnah yang ditimbulkannya. Maka janganlah ia pernah merasa tenang dengan kemegahannya.
3. Berlomba-lomba dalam urusan dunia akan menyeret manusia kepada kerusakan agama dan dunia. Karena harta itu sangat menggiurkan hingga jiwapun suka untuk mencarinya. Ia merasa nikmat dengannya. Dan itu dapat memicu timbulnya permusuhan, pertumpahan darah, dan menyeret kepada kebinasaan.
4. Seorang mukmin tidaklah merasa tenang kepada harta dan tidak pula tenggelam di dalamnya. Karena harta itu tidaklah ada nilainya di sisi Allah meski hanya seperti sayap nyamuk. Oleh karena itu seorang mukmin hidup di dunia seperti hidupa alam penjara. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi orang kafir,” (HR Muslim [2956]). Ia merasa rindu dengan kampungnya yang pertama di surga yang abadi. Semoga Allah merahmati Ibnu Qayim al-Jauziyah yang mengatakan, “Marilah bersegera menuju jannah Adn, karena ia adalah tempatmu dan di dalamnya ada tempat tinggal. Akan tetap kita tawanan musuh. Apakah menurut pandanganmu kita bisa kembali ke kampung kita dengan selamat? Keterasingan siapa lagi yang lebih hebat dari keterasingan kita. Yang mana musuh-musuh menguasai kita. Mereka mengira bahwasanya orang yang asing adalah yang jauh dari tempat tinggalnya dan tidak merasa nikmat. Karena itulah seorang hamba tidaklah merasa nikmat meskipun hanya sesaat dari umurnya. Kecuali setelah ia merasakan sakit.”
5. Karena itulah selayaknya menjadikan dunia sebagai tempat lintas menuju kampung akhirat. Karena dunia ini akan binasa dan bukan kampung abadi. Tempat lintas bukan tempat menetap. Sungguh baik orang yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang bijak. Mereka meninggalkan dunia dan takut fitnah. Mereka melihat dan memperhatikannya. Maka setelah mereka mengetahui, bahwa dunia ini bukanlah tempat tinggal untuk hidup, maka mereka menjadikannya sebagai samudra, dan amal shaleh sebagai bahteranya.”
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 3/393-421.

Selain itu

, ,

Adakah hal lain yang lebih baik daripada meminta maaf dan memaafkan?

Orang munafik akan menjawabnya dengan, "Ada, yaitu dengan membuat sebuah perhitungan!"

Shahih Muslim No. 114

, , , ...

Hadis riwayat Abdullah bin Umar يضر هللا هنع :
ia berkata:Dari Rasulullah یلص هللا هيلع ملسو
beliau bersabda: Wahai kaum wanita,
bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istigfar
(memohon ampun). Karena aku melihat kalian
lebih banyak menjadi penghuni neraka. Seorang
wanita yang cerdik di antara mereka bertanya:
Wahai Rasulullah, kenapa kaum wanita yang lebih
banyak menjadi penghuni neraka? Rasulullah یلص
هللا هيلع ملسو menjawab: Kalian banyak
mengutuk dan mengingkari kebaikan suami. Aku
tidak melihat kurangnya akal dan agama yang
lebih menguasai manusia dari kalian. Wanita itu
bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah
kekurangan akal dan agama itu? Rasulullah یلص
هللا هيلع ملسو menjawab: Yang dimaksud
dengan kurang pada akal adalah karena dua
orang saksi wanita sama dengan seorang saksi
laki-laki. Ini adalah kekurangan akal. Wanita
menghabisi waktu malamnya tanpa mengerjakan
salat dan tidak puasa di bulan Ramadan (karena
haid), ini adalah kekurangan pada agama

The Enlightenment

, , , ...

1. Saya memperhatikan manusia, lalu saya
dapatkan setiap mereka mencitai manusia sebagai
kekasihnya. Namun saat kekasihnya dihantar ke
kubur, ia meninggalkannya… Sebab itu, aku
jadikan hasanat (amal sholeh) sebagai kekasihku…
Saat akau nanti masuk kubur, pasti kekasihku
masuk pula bersamaku..
2. Aku renungkan firman Allah : “Adapun orang
yang takut akan maqoh Tuhan Penciptanya, dan
mengendalikan diri dari hawa nafsu, maka
Syurgalah tempat tinggalnya”. (Q.S.79 :40) Maka
aku bermujahadah (berjuang keras) untuk
menundukkan hawa nafsuku, sehingga hatiku
tenang dan khusyuk dalam ketaatan pada Allah…
3. Aku perhatiakan manusia, setiap mereka yang
memiliki harat dan benda-benda berharga lainnya
mereka jaga dengan baik agar tidak hilang…
Kemudian aku renungkan firman Allah : “Apasa
yang yanag kamu miliki pasti akan lenyap dan
apa saja yang di sisi Allah pasti kekal”. (Q.S.16 :96)
Karena itu, setiap akau mendapatkan kebaikan
harta, sebesar apapun nilainya, segera aku titipkan
pada Allah agar Dia simpan di sisi-Nya..
4. Aku perhatikan manusia, maka aku lihat setiap
mereka berbangga-bangga dengan harta,
kedudukan dan keturuan. Kemudian aku
renungkan friman Allah : “ Sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu adalah yang pailing
taqwa..” (Q.S. 49:13). Maka akau berupaya
melakukan berbagai amal yang menyampaikan
aku ke tawqa agar aku mulia di sisi Allah…
5. Aku perhatikan manusia. Mereka saling
melukaian dan saling melaknat satu dengan yang
alainnya. Akau tahu asal perkara ini adalah hasad
(iri hati atas kebaikan yang dicapai orang lain
dengan cara yang baik dan halal). Kemudian aku
reningkan firman Allah : “ Kami yang membagi-
bagikan ma’isyah (rezki) dalam hidup di dunia ini”.
(Q.S.43 :32). Lalu aku tinggalkan sifat hasad dan
menjauh dari manusia-manusia (tidak menjilat)
karena aku tau jatah kehidupan ini Allah yang
membagi-bagikannya, maka hasadpun menjauh
datiku.
6. Aku perhatikan manusia saling membenci,
menzalimi dan bahkan sebagian mereka
memerangi sebagian yang lain. Lalu aku
renungkan firman Allah : “Sesungguhnya setan
itu bagimu adalah musuh, maka jadikanlah ia
sebagai musuh..” (Q.S. 35 : 6). Dengan demikian,
aku hanya memfokuskan diri memusuhi setan
dan meninggalkan memusuhi manusia….
7. Aku lihat manusia begitu bernafsu mengejar
kehidupan dunia dengan mencurahkan semua
tenaga, fikiran dan waktunya hanya untuk
memperoleh dunia, bahkan tak peduli lagi halal
dan haram… Aku renungkan firman Allah : “ Tidak
ada makhluk melata di atas muka bumi ini kecuali
Allahlah yang member rezkinya..”(Q.S. 11 : 6).
Melaui ayat itu, aku tahu bahwa aku adalah salah
satu makhluk melata itu. Karena itu, aku fokuskan
menunaikan kewajibanku terhadap-Nya, dan
biarlah Dia mencurahkan karunia-Nya atasku…
8. Sesungguhnya aku melihat manusia saling
bertawakkal (menerahlan diri dan nasib) kepada
sesama mereka… Yang ini bertawakkal pada
hartanya.. yang lain lagi bertawakkal pada
pangkat, kedudukan, kesehatan atau bahkan pada
status sosialnya.. Lalu aku reninglan firman Allah :
“ Siapa yang bertawakkal pada Allah, niscaya
Allah akan cukupkan keperluannya..”. (Q.S. 65 :
3).
Maka akupun tinggalkan tawakkal pada manusia
dan bersungguh-sungguh bertawakkal hanya
pada Allah…

Sebuah cita-cita

, , , ...

Ada satu cita-cita yang mana Saya berkeinginan kuat untuk mewujudkannya, yaitu: Menjadi seorang suami yang baik bagi seorang istri.

Insya Allah, di bulan November ini Saya akan benar-benar menjadi seorang suami bagi kekasihku: Lina.

Saya mencintai keislamannya, dan Saya suka akan kesederhanaannya yang jarang Saya temukan pada wanita-wanita lain.

Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Visi dari Masa Lalu yang Kelam

, , , ...

Vision From The Dark Past
Music by Thulcadra (Wahyu), Lyrics by Lord Goghor (FaUZaLEeNA)


The blackened heart of a cursed man,
Feeling so dead and rotting his brain-mind,
Driven by the sorrow and misery,
At past he was a king of betrayal

...

Vobiscum Satanas

, , , ...

Music by Lord Ahriman. Lyrics by E. M. Caligula


Vobiscum Satanas.
Cursed nazarene, impotent king.
Behold great Satanas.
As he drives his nails deeper
Into thy hands.

The weak fugitive god eyes,
Cries holy tears of blood.
As the evil one, press down
His crown of thorn.

Ego vos benedictio.
In nomine magni dei nostri satanas.
Ave Satanas.
Ave domini inferi.

Oh, crusified nazarene,
Where are your powers now.
When you are facing, thee greater force.

Cursed nazarene, impotent king.
Behold thee, great Satanas.

Taubat - At-Tawwab

, , , ...

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-
hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan
dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Asy-
Syura: 25)

“Bahwa Allah membentangkan tangan-Nya di
malam hari untuk menerima taubat orang-orang
yang berbuat jelek di siang hari dan
membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk
menerima taubat orang-orang yang berbuat jelek
di malam hari sehingga matahari terbit dari arah
barat.” (Shahih, HR. Muslim dari sahabat Abu
Musa z)

Taubat Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap
hamba-Nya ada dua macam:
Pertama: bahwa Ia memberikan ilham dan taufiq-
Nya untuk bertaubat kepada-Nya serta untuk
menelusuri syarat-syarat taubat baik berupa
penyesalan (dari perbuatan dosa), istighfar, dan
menanggalkan maksiat, bertekad untuk tidak
kembali kepada dosanya serta menggantikan
dosanya dengan amal shalih.
Kedua: bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala juga
menerima taubat hamba-Nya, menyambutnya,
serta menghapuskan dosanya, karena taubat
yang murni dan benar-benar itu akan melebur
kesalahan-kesalahan sebelumnya.

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman
dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan
mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan
adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Al-Furqan: 70)

Tujuh Golongan

, , , ...

“Ada tujuh golongan yang Allah naungi dalam
naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali
naungan-Nya. Mereka adalah imam (pemimpin)
yang adil, pemuda yang tumbuh dalam
beribadah kepada Allah, lelaki yang hatinya selalu
terikat/terpaut dengan masjid-masjid, dua orang
yang saling mencintai karena Allah mereka
berkumpul karena Allah dan berpisah karena
Allah, (kemudian) seorang lelaki yang diajak
berzina oleh seorang wanita yang punya
kedudukan dan kecantikan namun ia berkata,
“Sungguh aku takut kepada Allah.” (Yang
berikutnya) seorang yang bersedekah lalu ia
menyembunyikannya sampai-sampai tangan
kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh
tangan kanannya dan seseorang yang berzikir
(mengingat) Allah dalam keadaan sendirian lalu
mengalir air matanya.” (HR. Al-Bukhari dan
Muslim)

Perkara Lisan

, , ,

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan
suatu kata yang Allah ridhai dalam keadaan tidak
terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang
akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut
berakibat sesuatu, ternyata dengan kata tersebut
Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan
sungguh seorang hamba mengucapkan suatu
kata yang Allah murkai dalam keadaan tidak
terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang
akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut
berakibat sesuatu ternyata karenanya Allah
melemparkannya ke dalam neraka
Jahannam.” (HR. Al-Bukhari no. 6478)