Skip navigation.

Goresan kalam

Pengingat

Peribahasa

Ada dua peribahasa yang kubaca beberapa hari yang lalu, dan pada waktu membacanya, aku jadi tersenyum. Sepertinya memang dirancang utk menyentil dan mengingatkan, tapi juga bisa menyegarkan. Peribahasa ini berasal dari Persia, atau Iran sekarang. Berikut ini yang pertama :

Ia yang tidak tahu, dan tidak tahu bahwa dia tak tahu, adalah orang bebal, hentikan dia.

Ia yang tidak tahu, tapi tahu bahwa dia tak tahu, adalah seorang anak kecil, ajar dia.

Ia yang tahu, tapi tak tahu bahwa dia tahu, adalah orang yang tertidur, bangunkan dia.

Ia yang tahu dan tahu bahwa ia tahu, adalah orang bijaksana. Ikuti dia.

Yang kedua lebih pendek,

Orang bijaksana bisa mengenal orang yang bodoh, karena ia pernah bodoh sebelumnya, tetapi orang bodoh tidak bisa mengenali orang bijaksana, karena ia tak pernah jadi bijaksana sebelumnya.

Kesimpulannya, jangan merasa sudah pintar dan bijaksana. Karena masih ada yang lebih bijaksana dan lebih pintar, dan kita akan tampak bodoh di mata mereka.

Sebuah Renungan di Suatu Sore

Pulang kerja agak awal hari ini. Tak banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku naik motor dengan santai melewati jalan yang biasa kulewati. Banyak orang pulang dari tempat kerja, jalanan ramai. Mereka masing2 pulang, entah apa yang menanti mereka di rumah. Yang jelas mereka tampak senang.

Aku juga pulang. Apa yang menantiku di rumah? Ada anak dan istri, tapi mungkin juga istri dan anak. Beristri juga rupanya aku ini. Orang yang dulu paling takut dengan wanita, yang kuper dan takut pacaran. Betapa keadaan berubah, hidup berubah, orang makin matang, makin dewasa, dan yang menyedihkan, makin tua dan makin dekat ajal. Itulah hidup, sebagai manusia di zaman ini. Manusia, darah dan daging. Aku teringat sebuah buku dalam Alkitab, "Manusia, yang dilahirkan wanita, singkat umurnya dan kenyang dengan keresahan."

Orang2 yang kelihatan senang, apakah mereka benar2 senang? Apakah mereka benar2 berbahagia? Apakah kebahagiaan mereka nyata atau semu? Aku tak tahu...

Tiba2 aku teringat dengan sebuah judul lagu yang pernah kudengar. Sebagian liriknya begini : ajar kami menghitung hari kami, agar kami riang selalu. Ya, banyak dari kita mungkin akan hidup kurang dari 36.500 hari. Apa yang akan terjadi jika ajal tiba besok? Penyesalan kah yang timbul? Atau sukacita karena telah hidup seperti yang digariskan yang Mahakuasa? Aku tak ingin lupa lirik lagu tersebut, agar aku tak menyimpang. Tapi..sanggupkah aku? Aku tak yakin aku sanggup, tapi aku yakin Yang Mahakuasa sanggup memberi aku kekuatan yang melampaui apa yang normal utk tidak menyimpang dari yang telah digariskan-Nya.

Tak terasa, aku sudah di depan rumah. Anakku berlari menyambutku. Mukjizat yang menghiasi hidupku, yang kusaksikan kelahirannya. Sungguh, hidup itu indah.

December 2009
S M T W T F S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31