Kejujuran Seorang Ustadz.
Monday, April 2, 2012 2:40:17 PM
Selain itu, ustadz muda ini hanya mengenakan peci, bukan kopyah seperti saat ceramah, maka wajar jika penyamarannya ini kian membuat identitasnya tersembunyi.
20 menit kemudian, setelah bus melaju dari terminal dengan mengangkut penumpang yang memenuhi hampir seluruh kursi bus, seperti biasa, kondektur bus mulai bergerilya untuk menarik ongkos dan membagikan karcis. Satu persatu penumpang, dihampiri oleh kondektur berbaju merah muda itu.
Setelah ia tepat berdiri di samping tempat duduk Ustadz Fulan, si kondektur bertanya, "Turun dimana, Mas?".
"Malang", jawab Ustadz Fulan sambil menyerahkan selembar uang senilai 50.000 rupiah.
"Malang....., 20.000 rupiah", kata si kondektur sambil mengambil uang yang diserahkan Ustadz Fulan.
Sejurus kemudian, Pak Kondektur mencoret karcis dengan spidolnya, lalu menghitung segepok uang di tas pinggangnya. Setelah itu, ia menyerahkan uang kembalian kepada Ustadz Fulan.
"Terima Kasih, Pak", kata Ustadz Fulan yang lalu mulai menghitung uang tersebut. Sementara itu, si kondektur telah balik ke tempat duduknya di dekat sopir.
Betapa terkejut hati Ustadz Fulan, usai ia menghitung uang kembalian itu, ternyata jumlahnya 35.000 rupiah. Artinya, lebih 5.000 rupiah. "Barangkali, si kondektur salah hitung sehingga terselip selembar uang lima ribuan. Seharusnya, uang kembalian itu Rp 30.000,- Atau, jangan-jangan harga tiket belum naik, atau bisa saja khusus saya dapat diskon", pikir si ustadz.
"Wah, bagaimana ini? Apakah ini sudah menjadi rizeki saya yang tak terduga-duga, atau memang si kondektur itu yang salah?".
Lama sekali, Ustadz Fulan memikirkan uang kembalian yang lebih hanya 5.000 rupiah. "Ah, mending tidur aja", pikir ustadz muda itu.
Sekitar 2 jam kemudian, bus berhenti di terminal kota Malang. Semua penumpang mulai turun satu persatu. Sementara itu, Ustadz Fulan masih tetap di tempat duduknya.
Setelah bus kosong, Sang Ustadz tidak langsung turun, tapi justru maju ke barisan bangku di bagian depan. Ia hendak menghampiri si kondektur yang saat itu sedang asyik menghitung uang dari dalam tas pinggangnya.
"Assalamualaikum", sapa Ustadz Fulan.
"Waalaikum salam. Ada apa ya, Mas?", jawab si kondektur berkumis tebal itu.
"Maaf, Bapak. Saya bermaksud mengembalikan uang kembalian yang setelah saya hitung, ternyata lebih 5.000 rupiah. Mungkin tadi, Bapak salah hitung. Ini, Pak", kata Ustadz Fulan sambil menyerahkan selembar uang bernilai 5.000 rupiah.
"Terima kasih, Ustadz", kata si kondektur.
Kontan saja, Ustadz Fulan agak terkejut dengan panggilan "ustadz" dari si kondektur.
"Loh, Bapak kenal saya?", tanya Ustadz Fulan.
"Iya, Ustadz. Jumat lalu, kebetulan saya shalat Jumat di kampung.Saya lihat, khatibnya adalah Ustadz Fulan", jawab si kondektur.
"O..begitu. Baiklah, Pak. Saya turun dulu ya", kata si ustadz.
"Sebentar, sebenar, Ustadz. Saya ingin mohon maaf", kata si kondektur.
"Iya, ada perlu apa, kok minta maaf segala", kata si ustadz.
Kondektur itu pun, akhirnya menyampaikan unek-uneknya.
"Sebelumnya, saya mohon maaf, bila tanpa izin, telah menguji Ustadz".
"Maksud Bapak apa? Saya kok belum mengerti ya", tanya Ustadz Fulan.
"Begini, Ustadz. Sebenarnya, kelebihan uang kembalian sebanyak 5.000 rupiah tadi, sengaja saya lakukan untuk mengukur kejujuran Ustadz. Bukankah pada Jumat yang lalu, Ustadz telah berkhutbah bahwa tanda kesempurnaan iman adalah kejujuran.? Jujur dalam segala hal, termasuk kepada diri sendiri. Sekarang, saya melihat indahnya kejujuran itu di dalam diri Ustadz. Mohon maafkan kekhilafan saya", kata si kondektur, panjang lebar.
"Tidak apa-apa, Pak. Semua ini atas izin Allah. Tanpa hidayah-Nya, kita akan tersesat, baik sengaja maupun tidak", kata Ustadz Fulan.





