Catatan Mini dengan OperaMini 4.2

Live Free or Die Hard....

Sebuah Perjalanan Panjang

, ,

Ini catatan yang barangkali terlambat. Tapi agaknya, layak untuk aku simpan sebagai kenangan di hari kelak. Ini semua tentang dunia baru, tempat baru, pekerjaan, dan lingkungan baru yang tentu saja sama sekali asing bagiku........



casinos counter

Flashback:
03 Oktober 2009
Pukul 17:00 WIB, KM. Sirimau yang akan membawaku ke Larantuka tiba di pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Aku berdesak-desak, berebut kesempatan dengan penumpang-penumpang lain untuk menjadi yang terdahulu masuk ke perut kapal.

Dan ternyata kapal ini amat sesak. Para penumpang berceceran di segala tempat di kapal. Di tangga-tangga, di geladak, di kamar-kamar, di lorong-lorong, di segala sudut yang mungkin diduduki orang pun duduk, dan menggelar tikar.

.......................................

Sejauh mata melayangkan pandang, yang kulihat hanya wajah laut. Air. Jutaan kubik air. Mungkin rasanya asin, aku tak sempat mencicipinya. Bergerak bergelora. Ombak. Bergulung-gulung. Saling lebur-melebur. Berkelindan. Lalu buih pun menyerpih. Dan hilang....

Tapi tak kulihat pulau. Tak kulihat daratan.Tak kulihat tanah. Hanya air, dan air. Lautan. Tak bisa kubayangkan seandainya kapal yang kutumpangi tenggelam. Siapa yang akan datang menolong? Ke mana meminta tolong?? Oh, aku merasa betapa kecil, betapa lemah, dan takut menghadapi laut.....


04 Oktober 2009
Saat menuruni tangga dari dek 4, aku melihat peta.Kusaksikan di sana Pekanbaru, yang pada 27 September 2009 kemarin aku tinggalkan. Dan, itu hari Minggu. Jam 12:00 tepat.
Kulihat pula kota Semarang, yang kutinggalkan dengan kapal Sirimau pada pukul 17:00 WIB, tertanggal tiket 03 Oktober 2009. Dan juga, tentu saja, Flores. Tempat yang tak pernah kutahu rupa-bentuk-wujud tanahnya. Aku sedang menuju ke sana.......

.......................................

kelana ini akan panjang
Kembara ini akan lama
Dan, jauh. Amat jauh.
Tak pernah kubayangkan bahwa pada akhirnya petualangan ini kutempuh. Tentu saja, aku memang terlahir sebagai seorang penjelajah. Rasa penasaran, sifat yang selalu menghendaki rasa bebas, kehendak untuk selalu tahu hal dan tempat baru, hati yang senantiasa bertanya, jiwa yang muda dan tak henti-henti bergolak; aku. Itu aku.

Aku adalah laut. Aku tak pernah lelah beriak berombak bergejolak. Aku selalu dalam. Aku tenang dalam ombak-ombak yang gelisah. Aku diam dalam sunyi yang menyentuh karang-karang tegar. Aku bisu di palung-palung terdalam, aku laut aku air aku asin aku gelombang aku beriak berombak bergejolak.

Ini hidup tak lagi berwarna abu-abu. aku cinta petualangan dan perjalanan-perjalanan panjang, dan jauh. Dengan segala sejarah waktu dan reruntuhan masa yang pernah kutapaki, kisahku akan menjadi menarik, basah, asyik, dan kuharapkan akan ada cahaya yang tetap menyala di segala gelap. Aku mencari. Walau tak tahu pasti apa yang ingin kutemui... Walau tak tahu apa yang nanti kudapati di kelak hari....

......................................

05 Oktober 2009
Kutanyakan pada penumpang di sebelah dan ia menjawab; jam setengah tiga: 02:30 WITa. WOW !! Kapal bersandar di Pelabuhan Batulicin. Dan tiba-tiba, nyaris setengah dari penumpang kapal turun keluar. Hampir-hampir sunyi. Aku pindah ke geladak. ke tempat di mana udara bisa kusapa leluasa, di mana laut bisa kutatap dengan mesra....

Jam dinding kapal menunjuk angka 19:23 ketika angin tiba-tiba menjadi deras menerpa. Di geladak, tiupan udara amat terasa kencangnya. Seakan-akan ingin menampar wajahku sekuat hembusnya

Aku merasa mulai muak pada kapal yang kunaiki ini. Ia bagai keong merayap dalam gelap. Begitu pelan. Amat pelan. Seolah-olah kapal sial ini teramat takut melindas karang yang tak pernah kelihatan. Perjalanan ini jadi makin panjang. Alih-alih menyenangkan, aku ternyata lebih cepat bosan dari yang kuperkirakan.

Tetapi baiklah, segala pilihan memang menyembunyikan konsekuensi di belakang, suka atau tidak suka. Dan untuk pilihanku pada kapal ini, dengan senang hati kuterima segala rasa yang memualkan....

......................................

Malam ini aku melihat dua ekor ikan lumba-lumba di bawah haluan kanan kapal, agak ke depan. Ikan itu berenang cepat, melompat, dan lalu hilang. Itu terjadi pukul 20:15 Waktu di Atas Kapal.

......................................

......................................

16.30 Waktu di Atas Kapal.

Aku duduk di haluan kanan-depan kapal yang akan membawaku ke Larantuka. Di bangku besi itu aku melihat biru langit, awan, ombak, sebuah pulau yg tak pernah kuketahui namanya, sebuah perahu nelayan di kejauhan yang nampak bergoyang-goyang, dan matahari yangg sedang berkemas untuk melenyap. Kusaksikan pula burung-burung laut yangg terbang rendah di atas air, seolah-olah ia tak ingin berpisah denggan laut dalam jarak lebih dari sejengkal.
Burung-burung itu terbang dengan gesit, cepat, lalu menukik tajam dan menyelam untuk tujuan yg kuduga; ia mencari makan. Sungguh, aku takjub pada burung-burung laut itu. Ia amat merdeka terlihat, dan riang. Dan bebas terbang, tanpa beban. Apakah ia punya tujuan atau sedang dalam suatu perjalanan? Aku sama sekali tak tahu. Tetapi amat mengherankan akalku, bagaimana mungkin kawanan burung itu bisa bertahan hidup di tempat yang sejauh mata memandang ke kanan ke kiri ke depan ke belakang yang ada hanya laut, laut, laut lagi, dan lagi-lagi laut. Air. Tiada daratan. Tiada tempat bersangkar.
Maka menjadi sauau pertanyaan yang menggelisahkan hati mengamati burung-burung hebat itu: apakah mereka tidak pernah tidur? Apakah mereka tidak pernah mengenal rasa kantuk dan lelah?? Lalu kalau mereka memang tidur juga sekali waktu, di mana mereka tidur dan dengan cara bagaimana??? Sedang aku tak melihat daratan sejauh mataku mampu memandang lautan... Apakah mereka selalu terbang dan menyelam sepanjang siang sepanjang malam? Aku tak akan menemukan jawab dari teka-teki alam itu dalam waktu dekat, kuyakin...

Matahari kian turun di 30 derajat kiri buritan kapal dari tempat aku duduk. Warnanya yang tua tak mengurangi kewibawaanya sebagai pusat edar benda-benda angkasa semacam bumi. Senja makin meluruh. Warna surya berubah mengemas sedetik demi sedetik. Ia semakin turun di ufuk sana, dan makin jauh. Dan, oh, menatap matahari yang hampir menghilang sungguh-sungguh membuat aku teringat pada kenyataan bahwa hari ini akan segera berakhir, bahwa hari esok tak pernah kutahu dengan pasti apakah masih bisa kutemui, dan bahwa ada kehidupan lain yg diam-diam menanti di sana --entah di mana tapi aku yakin ADA--, dan bahwa hidup ini memang fana, sementara. Apa yang aku lakukan hari ini, kuyakin kelak di 'kehidupan lain' itu akan ada balasannya, baik atau buruk....

Senja nyaris sempurna. Matahari bulat penuh, berwarna emas, dan masih tetap tersenyum mesra, entah untuk siapa. Kusaksikan ia hilang segaris demi segaris, entah awan entah laut entah keduanya atau entah bukan keduanya yang menelan bola cahaya itu. Tapi matahari memang kemudian benar-benar tak lagi kulihat. Hanya awan kemerah-merahan yang kini kusaksikan. Dan adzan dari pengeras suara menggema di seluruh ruang kapal. Maghrib menyapa. Aku bangkit dan turun. Tapi aku dengar kabar mengejutkan: ada penumpang melakukan percoban bunuh diri....!!!

...........................................

Tapi kabar itu salah, kutahu kemudian. Yang benar: ada penumpang mengamuk dan melukai beberapa korban.....

07 Oktober 2009, pukul 05.55 Waktu HP.
Aku tidak ingat untuk melihat jam di dinding dalam kapal maupun jam di handphone-ku. Tetapi bisa kuperkirakan mendekati tepat, bahwa KM. Sirimau yang aku naiki merapat dan bersandar didermaga Larantuka pada pukul 05.15 Waktu di Atas Kapal. Aku mel0ngoke k bawah dan kulihat puluhan polisi, sebuah ambulance, sebuah mobil pengangkut brimob, sepasukan polisi bertopi DALMAS, puluhan lelaki berpakaian seragam warna merah jambu bertuliskan 'porter', dokter, suster, provost, dan barangkali juga para penjemput, serta para penumpang yang akan berangkat dari Pelabuhan Larantuka itu.

Tapi aku dan para penumpang lain tidak bisa segera turun melewati tangga-tangga kapal yang ada. Kami semua menunggu, mengantri dan menanti di geladak. Polisi-polisi bersenjata api laras panjang bertopi 'DALMAS' memposisikan diri mereka dan brsiaga. Aku tahu, mereka akan melakukan tugas menangkap penjahat yang telah melakukan penyerangan kemarin sore di dek 3 depan. Dan benar, hampir 30 menit kemudian setelah kapal bersandar, aku melihat dari pagar kapal di dek 5, penjahat yang melakukan aksi penusukan membabi buta itu digiring ke dalam mobil dengan dikawal ketat para polisi bersenjata. Aku tak syak lagi bahwa lelaki itu pasti berbahaya. Aku melihat juga turut mengiringkan laki-laki penusuk berdarah dingin itu seorang berkaus putih tetapi warna putih kausnya penuh dengan merah, darah.

Aku yakin ia salah seorang korbn, sekaligus saksi. Dan kupikir, ia harus bersyukur karena masih diberi umur panjang. Naas memang, 1 dari 6 korbn penusukan itu harus melepas nyawa dalam keadaan yang tragis....
Seusai penjahat itu dibawa polisi dengan mobil dan dikawal ketat, para korbn segera dibawa turun dan diangkut dengan ambulance yang telah menanti di bawah. Lalu dengan agak berdesak-desak, para penumpang yang mengakhiri perjalanan di Larantuka mulai menuruni tangga-tangga dan keluar dari perut kapal.

Finally, my long trip is over.... Say welc0me 2 me, in the Fl0res Island....

My Life My AdventureSibuk

Write a comment

New comments have been disabled for this post.