My Opera is closing 1st of March

Hary4n4

Izzy Cham Poor Cham Poor

Subscribe to RSS feed

Pesona Gunung Sibayak, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara

Mengukir Kenangan dengan Susunan Batu Pegunungan Bukit Barisan yang berderet memanjang dari ujung ke ujung Sumatera seakan menjadi tulang punggung pulau tersebut. Tidak heran, pulau yang juga disebut Andalas dan Harapan itu menyajikan pesona wisata alam pegunungan. Salah satunya Gunung Sibayak di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara. Gunawan S., Berastagi --- Salah satu andalan wisata Jawa Timur adalah Gunung Bromo yang menawarkan panorama matahari terbit jika tidak terhalang mendung. Panorama sekelas itulah yang ditawarkan kepada wisatawan yang mengunjungi Gunung Sibayak di Tanah Karo. Bedanya, perjalanan menuju Gunung Bromo relatif lebih mudah karena sudah ada akses jalan yang bisa dilewati kendaraan bermotor sampai mendekati puncak dan kawahnya. Untuk menuju puncak dan kawah Sibayak, hanya tersedia jalan setapak. Namun, justru itulah tantangan sekaligus daya tarik bagi penggemar wisata alam. Perlu waktu sekitar dua jam dengan jalan mendaki untuk mencapai puncak dan kawah Sibayak dari perhentian terakhir kendaraan umum di kaki gunung tersebut. Karena itu, jika ingin menikmati panorama matahari terbit di puncak, harus mulai mendaki saat dini hari. Harus diperhitungkan bahwa sampai di puncak gunung tersebut sebelum pukul 04.00. Sebab, saat itulah detik-detik matahari terbit mulai terlihat. Tersedia beberapa jalur untuk menggapai puncak gunung tersebut. Yang terbiasa mendaki gunung bisa memilih rute alami dengan menembus hutan yang masih lebat. Untuk yang tipe itu, harus dipikirkan mengajak pemandu yang paham rute tersebut. Sebab, hutan di lereng Sibayak yang masih tergolong perawan itu cukup lebat dan berisiko menyesatkan. Bagi yang tidak terbiasa mendaki atau ingin aman, telah disediakan jalan setapak yang berundak-undak. Sensasi pendakian masih terasa oleh rimbunnya pohon di kanan kiri jalan setapak tersebut. Selain itu, kemiringan jalan memaksa wisatawan untuk mengangkat lutut lebih tinggi. Berbeda dengan Gunung Bromo, kawah Sibayak tidak berada di puncaknya. Lokasinya berada di lereng gunung sebelum sampai puncak. Setelah menapaki ratusan undakan di jalan setapak tersebut, terlihat kawah yang luasnya sekitar 40.000 meter persegi itu. Aroma belerang langsung tercium di antara dinginnya udara di sekitar kawah. Kisaran suhu udaranya 17-20 derajat Celsius. Dari bibirnya, ada bagian kawah yang berbentuk hamparan pasir. Di hamparan pasir tersebut, tersusun batu-batu kecil yang membentuk tulisan. Sebagian besar batu-batu itu menyusun nama. Kawah itu memang "disediakan'' bagi wisatawan yang ingin mengabadikan namanya di kawah tersebut sebagai tanda pernah mencapai tempat itu. Lebih baik dan lebih ramah lingkungan daripada mengabadikan nama dengan menggoreskan pada batang pohon atau menuliskan pada batu dengan cat semprot. Hanya, memang perlu nyali sedikit ekstra untuk meluncur di lereng miring dari bibir kawah menuju bagian berpasir tersebut. Puas menikmati kawah, perjalanan dilanjutkan ke puncak gunung. Jika beruntung dan tidak sedang berawan, wisatawan bisa menikmati detik-detik matahari terbit. Juga Gunung Sinabung di arah barat puncak Sibayang. Perjalanan turun dari puncak pun tidak kalah menarik. Beberapa objek wisata bisa ditemukan di lereng gunung tersebut. Salah satunya adalah sumber air panas Lau Debuk-debuk di Desa Daulu di lereng gunung itu. Pancaran air dengan suhu sekitar 35 derajat Celsius tersebut muncul dari retakan-retakan aliran lava di lereng gunung itu. Aliran itu lantas ditampung di kolam pemandian. Biasanya, para pendaki yang baru saja turun gunung memanfaatkan kolam air panas tersebut untuk melepas penat dan mengembalikan kebugaran tubuh dengan berendam di dalamnya. Jika penat sudah hilang dan tenaga sudah pulih, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke Bukit Gundaling. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari titik awal pendakian Gunung Sibayak. Yang masih memiliki cukup tenaga bisa menempuhnya berjalan kaki. Yang ingin bersantai seraya menikmati perjalanan bisa mencapai bukit tersebut dengan sado. Bukit alami tersebut sudah disulap menjadi taman beristirahat seraya menikmati markisa atau jeruk segar yang langsung dipetik dari kebun di dekat taman itu. Sumber: Jawa Pos