<font color="#000080" size="2">Tersangka Kedua Dikenali Sebagai Pembuat Onar</font>
Monday, October 3, 2005 3:26:19 PM
Ida, mengaku mengenali satu di antara tiga tersangka pengebom di Bali yang gambarnya diungkapkan polisi. Wajah tersangka yang berada di tengah diketahui sebagai pembuat onar di Kafe Santa Fe di Jalan Dhyana Pura, Bali. "Orang ini terus mengganggu para turis di situ," kata Ida
Ida mengaku, cukup lama berada di Kafe Santa Fe bersama tiga temannya. Belakangan, usai menikmati alunan musik yang dibawakan band pengisi di kafe itu, Ida berniat pindah ke Diskotek Dejavu, Bali. "Saat itulah saya melihat lelaki ini. Saya tak sempat menanyakan namanya. Tapi dia mengenakan rompi dan membawa ransel," ungkap Ida
Ida kemudian bergegas menuju sepeda motor sewaan yang terparkir di halaman kafe. Di luar, tersangka menegur Ida menanyakan tujuannya. Ida mengaku, sempat kesal karena tak kenal tapi lelaki itu bersikap sok ramah. "Saya bilang, saya mau pindah ke Dejavu," kata wanita yang berlibur di Bali selama seminggu ini. Dia mengaku, pulang ke Jakarta sehari sebelum ledakan.
Perempuan penelepon ini menambahkan, dari logat bicaranya, lelaki itu kemungkinan besar bukan orang Bali. "Dia juga sempat bicara bahasa Inggris ke saya," ujar Ida. Pria itu, tambah Ida, sempat melarangnya ke Diskotek Dejavu karena sedang sepi. Tersangka menyuruh Ida ke tempat yang lebih ramai: ke Diskotek Kamasutra, Pantai Kuta.
Sebelum menutup sambungan telepon, Ida sempat memberikan informasi, kalau saat itu tersangka selalu berada berdekatan dengan dirinya. Lelaki itu juga tak pernah meninggalkan jauh-jauh ranselnya. "Mungkin karena saya berdekatan sama orang asing ya. Ransel berada di bawah kaki saya," beber Ida
Don't Ever Jugde Me @TopengGas 2005
Ida mengaku, cukup lama berada di Kafe Santa Fe bersama tiga temannya. Belakangan, usai menikmati alunan musik yang dibawakan band pengisi di kafe itu, Ida berniat pindah ke Diskotek Dejavu, Bali. "Saat itulah saya melihat lelaki ini. Saya tak sempat menanyakan namanya. Tapi dia mengenakan rompi dan membawa ransel," ungkap Ida
Ida kemudian bergegas menuju sepeda motor sewaan yang terparkir di halaman kafe. Di luar, tersangka menegur Ida menanyakan tujuannya. Ida mengaku, sempat kesal karena tak kenal tapi lelaki itu bersikap sok ramah. "Saya bilang, saya mau pindah ke Dejavu," kata wanita yang berlibur di Bali selama seminggu ini. Dia mengaku, pulang ke Jakarta sehari sebelum ledakan.
Perempuan penelepon ini menambahkan, dari logat bicaranya, lelaki itu kemungkinan besar bukan orang Bali. "Dia juga sempat bicara bahasa Inggris ke saya," ujar Ida. Pria itu, tambah Ida, sempat melarangnya ke Diskotek Dejavu karena sedang sepi. Tersangka menyuruh Ida ke tempat yang lebih ramai: ke Diskotek Kamasutra, Pantai Kuta.
Sebelum menutup sambungan telepon, Ida sempat memberikan informasi, kalau saat itu tersangka selalu berada berdekatan dengan dirinya. Lelaki itu juga tak pernah meninggalkan jauh-jauh ranselnya. "Mungkin karena saya berdekatan sama orang asing ya. Ransel berada di bawah kaki saya," beber Ida





