<font color="#000080" size="2"> Penyandang Ransel Memasuki Kafe, Dan...Boom!</font>
Sunday, October 2, 2005 4:43:52 PM
Seorang pemuda dengan menyandang ransel memasuki R.AJA`s Bar and Restaurant di Kuta Square, Denpasar, Bali. Dia berjalan dengan tenang di kafe yang saat itu sedang dipadati pengunjung, baik wisatawan lokal maupun asing. Meja-meja dipenuhi pelancong, mereka sedang menikmati hidangan masing-masing sembari ngobrol. Seiring keriuhan itu, lelaki berpakaian hitam tersebut kemudian berbelok ke kanan, tepat di tengah kafe. Dan, boom..., bom berdentum dengan kerasnya.
Itulah suasana menjelang bom mengguncang di salah satu kafe di kawasan pertokoan dan restoran tersebut, kemarin malam. Detik-detik mencekam itu berhasil direkam seorang kamerawan amatir. Rekaman ini sekaligus membuktikan dugaan penyidik bahwa pengeboman di salah satu kafe di bilangan Kuta Square itu sebagai aksi bom bunuh diri. Pemuda yang terekam kamera itu membawa ransel. Jika benar pria ini yang membawa bom, maka perkiraan bahwa bahan peledak dipasang dalam jaket dan ransel bisa jadi benar.
Tak seorang pun yang dapat mendeteksi adanya pembawa bom masuk ke kafe tersebut. Ini mengingat Kuta Square adalah kawasan deretan toko dan restoran yang terbuka. Serta dipenuhi para pejalan kaki yang menikmati suasana pertokoan, terutama di waktu malam. Tiba-tiba petaka itu muncul. Kafe Raja terguncang dan menghancurkan banyak tempat di sana. Pengeboman di Kuta Square tepat pukul 19.33 WITA.
Seluruh pengunjung yang berada di Kuta Square berhamburan keluar. Itu bagi mereka yang berhasil menyelamatkan diri. Saat itu, seluruh penerangan mati, jaringan komunikasi tersendat, dan potongan tubuh sudah berserakan di lokasi kejadian
Nyaris bersamaan, dua bom juga membuncah di Pantai Muaya, Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali. Adapun detik-detik menjelang bom meledak di kawasan restoran pantai yang terkenal dengan sajian makanan laut itu juga terlihat dalam sebuah rekaman kamerawan amatir. Dia bernama Gus Fionil, pekerja sebuah perusahaan sekuritas di Jakarta yang sedang mengikuti pertemuan antarkaryawan di Jimbaran.
Malam itu menjelang pukul 19.30 WITA, sejumlah tamu kafe sedang mengikuti suatu kegiatan sambil menikmati makan malam. Jimbaran adalah kawasan pantai dengan jejeran restoran yang menyajikan hidangan laut. Salah satu restoran pinggir pantai di Jimbaran itu adalah Kafe Nyoman. Kafe ini selalu dipadati pengunjung, terutama pada hari libur.
Sebelum ledakan terjadi, kawasan wisata ini sedang dipenuhi para pengunjung baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Mereka tampak bersuka ria.
Tiba-tiba, terdengar sebuah ledakan, blar! Kendati terdengar bunyi ledakan pada pukul 19.32 WITA, kepanikan belum tampak di sekitar kafe tersebut. Agaknya, saat itu pengunjung masih belum menduga bunyi ledakan itu berasal dari bom meski terdengar ada tangisan bocah.
Tak lama berselang, ledakan kedua terjadi tepat pada pukul 19.34 WITA. Bom kedua ini meledak di Kafe Manage. Saat itulah, para pengunjung baru menyadari bahwa ada aksi teroris yang menggunakan bahan peledak sebagai alat terornya. Korban pun berjatuhan.
Kepanikan pun terjadi di sana. Orang-orang berlarian dan berteriak histeris. Sejumlah kendaraan bermotor pun membunyikan klakson yang memekakkan telinga. "Hati-hati jangan dekat bungkusan," ucap seorang pengunjung mengingatkan kepada orang banyak. Seluruh pengunjung di tepi Pantai Muaya, Jimbaran pun mulai menyelamatkan diri. Mereka berhamburan menghindar dari kemungkinan terkena ledakan.
Pihak kepolisian memastikan, terdapat dua bom yang meledak di Jimbaran. Sementara lima bom lainnya tidak sampai meledak dan ditemukan personel Brigade Mobil. Adapun di Jimbaran, para korban tewas adalah mereka yang dekat dengan si pembawa bom. Ini seperti yang terjadi pada Ratih Tejoyanti. Putri ketiga anggota Komisi XI DPR Soekardjo Hardjosoewirjo ini meninggal saat berada di tempat pemilihan ikan, sesaat sebelum memesan makanan.
Seperti halnya di Kuta Square, dua bom yang meledak di Pantai Jimbaran hampir dapat dipastikan sebagai aksi bom bunuh diri. Bahan peledak itu dibawa si pelaku dengan cara diletakkan dalam ransel atau rompinya.
Serangkaian pengeboman di Kuta dan Jimbaran itu jelas membuat Bali kembali berduka, setelah dihajar aksi terorisme serupa pada 12 Oktober 2002. Para korban cedera pun tak menyangka kegembiraan mereka pada malam itu berubah menjadi suatu petaka.
Kini, duka mendalam pun menyelimuti sejumlah keluarga korban, baik yang meninggal maupun cedera. Malam itu juga, sebagian besar korban meninggal dan cedera akibat ledakan di Jimbaran dan Kuta segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Kota Denpasar, Bali.
Sehari seusai ledakan bom, keluarga korban terus mengalir ke rumah sakit tersebut. Namun, mereka yang hendak menjemput jenazah keluarganya masih harus menunggu. Soalnya, pihak rumah sakit masih memeriksa para korban meninggal, terutama untuk proses identifikasi. Sedangkan para keluarga korban yang datang ke RSUP Sanglah, tempat rujukan korban Bom Bali II berasal dari berbagai kota di Tanah Air. Di antaranya, Jakarta, Bandung, dan Kudus, selain warga Bali.
Hingga petang tadi, korban tewas dilaporkan mencapai 25 orang. Namun jumlah ini mungkin saja bertambah mengingat banyak korban dalam kondisi kritis. Bahkan, beberapa jenazah korban ditemukan dalam keadaan tidak utuh.
Sejauh ini, sebanyak 16 dari 25 korban meninggal itu telah dikenali. Kendati demikian, belasan jenazah korban tersebut masih berada di rumah sakit. Para petugas forensik masih belum selesai mengidentifikasi para korban.
Don't Ever Jugde Me @TopengGas 2005
Itulah suasana menjelang bom mengguncang di salah satu kafe di kawasan pertokoan dan restoran tersebut, kemarin malam. Detik-detik mencekam itu berhasil direkam seorang kamerawan amatir. Rekaman ini sekaligus membuktikan dugaan penyidik bahwa pengeboman di salah satu kafe di bilangan Kuta Square itu sebagai aksi bom bunuh diri. Pemuda yang terekam kamera itu membawa ransel. Jika benar pria ini yang membawa bom, maka perkiraan bahwa bahan peledak dipasang dalam jaket dan ransel bisa jadi benar.
Tak seorang pun yang dapat mendeteksi adanya pembawa bom masuk ke kafe tersebut. Ini mengingat Kuta Square adalah kawasan deretan toko dan restoran yang terbuka. Serta dipenuhi para pejalan kaki yang menikmati suasana pertokoan, terutama di waktu malam. Tiba-tiba petaka itu muncul. Kafe Raja terguncang dan menghancurkan banyak tempat di sana. Pengeboman di Kuta Square tepat pukul 19.33 WITA.
Seluruh pengunjung yang berada di Kuta Square berhamburan keluar. Itu bagi mereka yang berhasil menyelamatkan diri. Saat itu, seluruh penerangan mati, jaringan komunikasi tersendat, dan potongan tubuh sudah berserakan di lokasi kejadian
Nyaris bersamaan, dua bom juga membuncah di Pantai Muaya, Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali. Adapun detik-detik menjelang bom meledak di kawasan restoran pantai yang terkenal dengan sajian makanan laut itu juga terlihat dalam sebuah rekaman kamerawan amatir. Dia bernama Gus Fionil, pekerja sebuah perusahaan sekuritas di Jakarta yang sedang mengikuti pertemuan antarkaryawan di Jimbaran.
Malam itu menjelang pukul 19.30 WITA, sejumlah tamu kafe sedang mengikuti suatu kegiatan sambil menikmati makan malam. Jimbaran adalah kawasan pantai dengan jejeran restoran yang menyajikan hidangan laut. Salah satu restoran pinggir pantai di Jimbaran itu adalah Kafe Nyoman. Kafe ini selalu dipadati pengunjung, terutama pada hari libur.
Sebelum ledakan terjadi, kawasan wisata ini sedang dipenuhi para pengunjung baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Mereka tampak bersuka ria.
Tiba-tiba, terdengar sebuah ledakan, blar! Kendati terdengar bunyi ledakan pada pukul 19.32 WITA, kepanikan belum tampak di sekitar kafe tersebut. Agaknya, saat itu pengunjung masih belum menduga bunyi ledakan itu berasal dari bom meski terdengar ada tangisan bocah.
Tak lama berselang, ledakan kedua terjadi tepat pada pukul 19.34 WITA. Bom kedua ini meledak di Kafe Manage. Saat itulah, para pengunjung baru menyadari bahwa ada aksi teroris yang menggunakan bahan peledak sebagai alat terornya. Korban pun berjatuhan.
Kepanikan pun terjadi di sana. Orang-orang berlarian dan berteriak histeris. Sejumlah kendaraan bermotor pun membunyikan klakson yang memekakkan telinga. "Hati-hati jangan dekat bungkusan," ucap seorang pengunjung mengingatkan kepada orang banyak. Seluruh pengunjung di tepi Pantai Muaya, Jimbaran pun mulai menyelamatkan diri. Mereka berhamburan menghindar dari kemungkinan terkena ledakan.
Pihak kepolisian memastikan, terdapat dua bom yang meledak di Jimbaran. Sementara lima bom lainnya tidak sampai meledak dan ditemukan personel Brigade Mobil. Adapun di Jimbaran, para korban tewas adalah mereka yang dekat dengan si pembawa bom. Ini seperti yang terjadi pada Ratih Tejoyanti. Putri ketiga anggota Komisi XI DPR Soekardjo Hardjosoewirjo ini meninggal saat berada di tempat pemilihan ikan, sesaat sebelum memesan makanan.
Seperti halnya di Kuta Square, dua bom yang meledak di Pantai Jimbaran hampir dapat dipastikan sebagai aksi bom bunuh diri. Bahan peledak itu dibawa si pelaku dengan cara diletakkan dalam ransel atau rompinya.
Serangkaian pengeboman di Kuta dan Jimbaran itu jelas membuat Bali kembali berduka, setelah dihajar aksi terorisme serupa pada 12 Oktober 2002. Para korban cedera pun tak menyangka kegembiraan mereka pada malam itu berubah menjadi suatu petaka.
Kini, duka mendalam pun menyelimuti sejumlah keluarga korban, baik yang meninggal maupun cedera. Malam itu juga, sebagian besar korban meninggal dan cedera akibat ledakan di Jimbaran dan Kuta segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Kota Denpasar, Bali.
Sehari seusai ledakan bom, keluarga korban terus mengalir ke rumah sakit tersebut. Namun, mereka yang hendak menjemput jenazah keluarganya masih harus menunggu. Soalnya, pihak rumah sakit masih memeriksa para korban meninggal, terutama untuk proses identifikasi. Sedangkan para keluarga korban yang datang ke RSUP Sanglah, tempat rujukan korban Bom Bali II berasal dari berbagai kota di Tanah Air. Di antaranya, Jakarta, Bandung, dan Kudus, selain warga Bali.
Hingga petang tadi, korban tewas dilaporkan mencapai 25 orang. Namun jumlah ini mungkin saja bertambah mengingat banyak korban dalam kondisi kritis. Bahkan, beberapa jenazah korban ditemukan dalam keadaan tidak utuh.
Sejauh ini, sebanyak 16 dari 25 korban meninggal itu telah dikenali. Kendati demikian, belasan jenazah korban tersebut masih berada di rumah sakit. Para petugas forensik masih belum selesai mengidentifikasi para korban.





