Sajak Perjalanan kepada sesuatu yang tak kau tahu
Wednesday, January 27, 2010 10:57:01 PM
Hari pertama:
PERJALANAN PAGI, panjang, menyusuri bibir pantai "sunyinya'' itu, Yang ku sediakan jiwaku menjadi dinding. Padanya. Bermain dengan ribuan foto, yang terbentuk dari sisa hari kemarin dan ribuan imajenasi yang rimbun, kau pasang dengan bingkai terdalam: paku kalam, Selalu, pada seluruh tubuhku yang berlumur matahari: Dari kaki pagi, hingga ujung rambut senja. Biar sepi itu, tak lelah menggoda. Bahkan menjelma luka yang mermbat; "tapi membuat aku punya alasan untuk jalani rengat nya hidup", dan pergi menelesik pulau jauh. sejauh rasa yang terputus pandangnya pada tepian taman.
"Mereka" yang telah lahir dari punggung matahari. Dan yang mencium sumbu terjauh dari kelana nya, (pada sukma yang tak terlalu kuat, tapi tiada 'kan tertahan larinya) lepasnya, rupai warna malam, hitam. Dan entah kapan?, kulihat pintu itu terbuka, saat dia lari; merobek-robek tiap yang di temuinya.
"Kemungkinan ajing-anjing itu terlalu jalang", menusukkan gigi-giginya yang pisau, di kungkungan luka nan merah. "sehingga cuaca pagi dan angin-angin membatu". Sementara, orang-orang di luar kolam, tapi yang masih ikan, pelan ia menaruh lembaran benci demi benci. Dan menidurkan iba kecil, di ujung mata yang dulu telaga, berpaling, kemana?. Tapi,
terbuatlah, "rindu" Sekepul asap, seperti jeruji menyekat. Ruang lain dariku yang burung. Bersama itu, padamlah, lampu-lampu, malam di jalan dan hatiku, menjadi sumbu terjauh yang siap meledak kesegala penjuru. Sebut saja "aku" sebagai penari mu. Kecil
Hari kedua:
BERBURU, mercumbui hutan,Dimana para tanya menjadi sekawanan binatang.
Pernah. tebidik, sebuah leher nan merah. Yang sombong dari mata panahku, Kau kah itu?, Yang terbang. Selaik burung mengepakkan sayap, di keselaluan mu yang runduk, sampai menjelanga. tertimbun rindu-rindu, 'pun menyublim? pada luka sepasang mata burung di pagi hari. telah MENYEPAH sudah. Di se-"buah" ranumnya: yang kau selipkan sepasang matamu, dan terlalu, kau tusuk hingga belah.
Atau, segelas madu di pintu bibirmu, yang tak sempat mengadu. Terinjak sebuah bahasa, kata-kata, kau dudukan belatimu "di kursi", di atas, di dalam, di tengkorak kepalamu, lalu injak pula, satu-persatu rambu-rambu jalanan. Dan kemacetpun, di mana-mana.
Hari-hari itu, hutan. Yang punya alamat meski samar!, 'pun memanjat pada sebuah kalimat pada sebuah kemelut. Dan kepada resah namanya berpaling.
Lalu kukumurkan di segelas kopi. kepada sebongkah pagi, kepada sebatang rokok, kepada rimbun panjang: ketidak thuanku?, dan di jepit nya. di mana kutu-kutu pun meloncat, dari sepasang mata kuyu. di televisi, di koran, dan di ponsel, atau di mana yang aku tiada tahu. "rupanya telah menjadi tupai". Sebelum sebuah narasi pandir tentang " pelacur suci" terlahir dari mulut-mulut. Dan terlupa, ketika kemarin masih gelap semata.
Dengan langkap, panah-panah asmara-rindu: tegur sapa menyerap. Puja-puji ber "ibu" bidadari raya.
Akan kebarat (tempat sepercik do'a pulang), atau ketimur ; mencari penjuru lain, melalui lelayu musim. Pasrah pada langkah yang selalu gagah bercerita; menguntit elang, menyusuri musim di tiap tepian penjuru pantai. saat kugeletakkan kematian di rumput-rumput savana, yang belum beralamat, jiwaku melacak, mencari!. Satu sungai yang pernah kau cabuli. Ikuti ke arus membawa haus. seperti batu yang lupa pada lumut.meski laut telah memakannya, ikan-ikan bertanya penuh.
hari terakhir:
SESA'AT aku bangun, semua ladang telah mengering kepadamu. lebahpun kau curi madunya, segelas kehidupan yang urung kau minum. Aku menuju kesana dengan mulut yang di rimbuni daun-daun tanya. Apakah nafasnya telah mati sampai di bukit jauh. serupa halimun, erat memeluk birahi, bersama-sama pedang di tanganmu kita arahkan matanya kewarna merah, dengan asa putus terengah-engah, dari tengah labirin, kau goda perawan hayalanmu. ah-kamu ,ambilkan sayap itu. Terbang tingilah kamu.
Atau lafalkan sekecap do'a, di barat lurus pada batu dan merah tanah suci menantimu. Seperti percayamu pada nasehat bapak. Semua, madu akan pahit dirasa, di situ semua malam juga tanpa ujung, karena siang kamu temukan di got-got kota. Dan lelah tergantung.Tak ada lagi elang bagi-bagi sayap. Aku dan kamu sendiri!!
Jakarta:28des2009-9jan2010














