Kadang ilalangpun bernyanyi

Gemersik memekak langit , dalam jalin kisah yang tak sepadan resah "HIDUP SEPERTI YANG KAMU PILIH"

Subscribe to RSS feed

Sajak Perjalanan kepada sesuatu yang tak kau tahu

: serupa mukamu?

Hari pertama:
PERJALANAN PAGI, panjang, menyusuri bibir pantai "sunyinya'' itu, Yang ku sediakan jiwaku menjadi dinding. Padanya. Bermain dengan ribuan foto, yang terbentuk dari sisa hari kemarin dan ribuan imajenasi yang rimbun, kau pasang dengan bingkai terdalam: paku kalam, Selalu, pada seluruh tubuhku yang berlumur matahari: Dari kaki pagi, hingga ujung rambut senja. Biar sepi itu, tak lelah menggoda. Bahkan menjelma luka yang mermbat; "tapi membuat aku punya alasan untuk jalani rengat nya hidup", dan pergi menelesik pulau jauh. sejauh rasa yang terputus pandangnya pada tepian taman.

"Mereka" yang telah lahir dari punggung matahari. Dan yang mencium sumbu terjauh dari kelana nya, (pada sukma yang tak terlalu kuat, tapi tiada 'kan tertahan larinya) lepasnya, rupai warna malam, hitam. Dan entah kapan?, kulihat pintu itu terbuka, saat dia lari; merobek-robek tiap yang di temuinya.

"Kemungkinan ajing-anjing itu terlalu jalang", menusukkan gigi-giginya yang pisau, di kungkungan luka nan merah. "sehingga cuaca pagi dan angin-angin membatu". Sementara, orang-orang di luar kolam, tapi yang masih ikan, pelan ia menaruh lembaran benci demi benci. Dan menidurkan iba kecil, di ujung mata yang dulu telaga, berpaling, kemana?. Tapi,

terbuatlah, "rindu" Sekepul asap, seperti jeruji menyekat. Ruang lain dariku yang burung. Bersama itu, padamlah, lampu-lampu, malam di jalan dan hatiku, menjadi sumbu terjauh yang siap meledak kesegala penjuru. Sebut saja "aku" sebagai penari mu. Kecil

Hari kedua:
BERBURU, mercumbui hutan,Dimana para tanya menjadi sekawanan binatang.
Pernah. tebidik, sebuah leher nan merah. Yang sombong dari mata panahku, Kau kah itu?, Yang terbang. Selaik burung mengepakkan sayap, di keselaluan mu yang runduk, sampai menjelanga. tertimbun rindu-rindu, 'pun menyublim? pada luka sepasang mata burung di pagi hari. telah MENYEPAH sudah. Di se-"buah" ranumnya: yang kau selipkan sepasang matamu, dan terlalu, kau tusuk hingga belah.
Atau, segelas madu di pintu bibirmu, yang tak sempat mengadu. Terinjak sebuah bahasa, kata-kata, kau dudukan belatimu "di kursi", di atas, di dalam, di tengkorak kepalamu, lalu injak pula, satu-persatu rambu-rambu jalanan. Dan kemacetpun, di mana-mana.

Hari-hari itu, hutan. Yang punya alamat meski samar!, 'pun memanjat pada sebuah kalimat pada sebuah kemelut. Dan kepada resah namanya berpaling.

Lalu kukumurkan di segelas kopi. kepada sebongkah pagi, kepada sebatang rokok, kepada rimbun panjang: ketidak thuanku?, dan di jepit nya. di mana kutu-kutu pun meloncat, dari sepasang mata kuyu. di televisi, di koran, dan di ponsel, atau di mana yang aku tiada tahu. "rupanya telah menjadi tupai". Sebelum sebuah narasi pandir tentang " pelacur suci" terlahir dari mulut-mulut. Dan terlupa, ketika kemarin masih gelap semata.
Dengan langkap, panah-panah asmara-rindu: tegur sapa menyerap. Puja-puji ber "ibu" bidadari raya.

Akan kebarat (tempat sepercik do'a pulang), atau ketimur ; mencari penjuru lain, melalui lelayu musim. Pasrah pada langkah yang selalu gagah bercerita; menguntit elang, menyusuri musim di tiap tepian penjuru pantai. saat kugeletakkan kematian di rumput-rumput savana, yang belum beralamat, jiwaku melacak, mencari!. Satu sungai yang pernah kau cabuli. Ikuti ke arus membawa haus. seperti batu yang lupa pada lumut.meski laut telah memakannya, ikan-ikan bertanya penuh.

hari terakhir:
SESA'AT aku bangun, semua ladang telah mengering kepadamu. lebahpun kau curi madunya, segelas kehidupan yang urung kau minum. Aku menuju kesana dengan mulut yang di rimbuni daun-daun tanya. Apakah nafasnya telah mati sampai di bukit jauh. serupa halimun, erat memeluk birahi, bersama-sama pedang di tanganmu kita arahkan matanya kewarna merah, dengan asa putus terengah-engah, dari tengah labirin, kau goda perawan hayalanmu. ah-kamu ,ambilkan sayap itu. Terbang tingilah kamu.

Atau lafalkan sekecap do'a, di barat lurus pada batu dan merah tanah suci menantimu. Seperti percayamu pada nasehat bapak. Semua, madu akan pahit dirasa, di situ semua malam juga tanpa ujung, karena siang kamu temukan di got-got kota. Dan lelah tergantung.Tak ada lagi elang bagi-bagi sayap. Aku dan kamu sendiri!!


Jakarta:28des2009-9jan2010

Tersesat

Entah yang keberapa kali mataku jadi juling sendiri, mencari dan menelusuri di tiap ngungun rimbun dedaunan dan semak-semak yang makin rimbun. tapi mataku tak juga menemui jejak kaki. Hanya bekas tapak babi hutan saja yang menyisakan guratan-guratan di tanah yang agak lembap.
Hutan kecil ini sebenarnya tak seberapa lebat pepohonannya jarang tapi karena tinggi-tinggi saja jadi kadang menghalangi pandang, apalagi lampu-lampu rumah dekat hutan situ. Pasti susah sekali di lihat dari sini meski letak hutan ini tak jauh dari perkampungan bahkan kalau di itung-itung hutan kecil ini masih ikut wilayah kampungku .aku sendiri tak tahu kenapa malam ini aku bisa tersesat tak tahu jalan pulang .apa mungkin karena aku masuk kehutan terlalu jauh, dan malam. suasana jadi sunyi dan gelap.padahal dulu aku hapal tiap jalan retapak di hutan ini ',kecilku dulu banyak waktuku habis di sini meski hanya sekedar bermain atau mencari kayu bakar buat ibu.
Tak jarang kuhabiskan waktu bermain di tengah hutan iniCerpen tapi mengapa jalan-jalan yang mestinya kuhafal jadi tak terbaca.
*
Sebelum kelelawar itu pulang. dimeja tempat aku biasa memilih, menikmati suasana pagi dengan segelas kopi dan sebatang rokok, lalu membaca koran dan sebagainya. Malam ini aku di sini tersekat sepi, jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Tiba-tiba hayalku datang kembali aku seperti di usik daun-daun dan gelombang angin tapi tetap aku tak pernah hafal hutan ini. Pagi datang aku pandang semua rimbun masih anggun burung-burung pun masih akrab. Sekejap mataku terhenyak menemukan pakaian lusuh dan sarung kumal. Kucoba mendekati karena aku hafal itu sarung ayahku dan baju baju ibuku. Tapi tiba-tiba aku terjaga dari hipnotik lamunan itu yang seakan masuk ke alam bawah sadarku tiba-tiba itu, ketika sekawanan ayam bercengrama dan orang-orang lalu lalang berangkat kerja. Oh.., ternyata sudah jam 07 pagi
*
Perasaan yang takmau berdusta ,akhirnya aku putuskan pulang kampung dengan pesawat jam 10 pagi.

Di mengapaku

Sekenapanya kenapa rindu ku itu.
Musim seperti lelah melucuti semua lendir pada gundukan
yang masih mencengang mengamati. dalam gontai dan kepak tangan yang labil. sekuncup bunga hatikupun layu?
Aih, rindunya makin matang dalam keterasingan. dan terhimpit malam itu di dua paha seperti kemaluanku yang membatu.
Tapi jemarimu lupakan jarak, berkejaran mengeja laut. Mengejarku sampai batu!

Mengalirlah kelangit pada apaku itu.
Di kalam malam yang liuk bersama dingin
sungai pun dingin. dan tak berlahan
Kalau-kalau yang di biarkan menyumbat labirin.
kumencari ibunya dirumah sendiri.
Mengendus langit
sepanjang musim, demikian sepotong bayangan yang meloncat-loncat
Beradu di luka-luka yang kunjung tulangku, membusuk karena keinginan
Aku harus haus ataukah selamanya tirus,
Mencari
Merindu
Mengendus

Di meengapaku
jiwanya menjadi sungai liku, dan ini
Tak sebap apapun, luka dan kehadiran, atau sekecil pekik remuknya ,sebesar gunung serindu-rindu.

Beberapa pertanyaan pelik ''tentang ketuhanan'' dalam dunia filsafat

,

Sekian lama saya mempelajari,membaca dan tak urung pula memikirkannya ,dari sejak pertama kenal filsafat alias dunia nalar-menalar .yang sampai kini senantiasa nyelip di benak dan tak pernah lupa karena memang saya sengaja mengingatnya.tetapi karena dari sekian banyak karya tulis dan buku atau artikel pendek yang saya baca ,saya kurang begitu hafal dengan penulisnya,karena menurut saya itu tidak terlalu penting ,karena yang penting maksud dari karya tsb.atau mungkin saking banyaknya atau karena rentang waktu yang lama jadi secara diktatis saya tidak hafal referensinya ,atau tentang tulisan siapa?, begitulah hal tersebut cuma saya ingat di ingatan saya
'adalah masalah pelik tentang ketuhanan, yang kadang menyeret pikiran kita untuk menyerah menghadapi realitas pertanyaan yang absurd ,karena sudah jelas 'sifat dari ilmu itu '' yang pada dasarnya adalah ilmu bertanya yang tak pernah habis ,al-hasil kita di pucuk KENISBIAN atau menilai ,menyimpulkan sesuatu makalah yang tak dapat di ambil benang merahnya alias nisbi, yaitu menjadi tidak ada menurut realitas.

SJUMLAH PERTANYAAN TENTANG KETUHANAN

contoh

1

: ''tuhan maha kuasa, tuhan juga maha pencipta,[dalam artian yang seluas-luasnya tentunya] pertanyaanya adalah: apakah tuhan mampu menciptakan batu yang besar, yang dia sendiri tidak kuat mengangkat?

Keterangan

: tentu pertanyaan seperti ini, akan menjadi super sulit untuk di jawab sebap bila kita jawab 1)bisa menciptakan batu tsb
maka artinya dia tidak kuasa mengangkatnya, dengan tidak kuat mengangkatnya berarti dia bukan maha kuasa ''yaitu tidak kuasa mengangkat''
2) Dan jika dia kuat mengangkatnya artinya dia ''tuhan'' tentu akan menjadi bukan maha mencipta'' karena tidak bisa mencipta batu yang dia tidak kuat mengangkat.

2

: TUHAN (tentu yang dimaksud dzat yang maha tingi dalam masing-masing agama) itu ada berapa?

Keterangan

: pertanyaan seperti ini juga tidak bisa di anggap sepele dengan menjawab “satu”
Karena menurut ahli filsafat atau ahli mate-matika, kalau satu berarti bukan tuhan karena satu itu bilangan, “ingat!! gunanya bilangan adalah untuk membilang dan sudah tentu sesuatu bisa dibilang satu itu karena bisa di tempati bilang dan ada yang membilang, atau meng hitungnya” dan jika tak ada yang membilang atau meng hitung tentu tidak di sebut bilangan, lalu pertanyaanya “siapa adanya yang telah menghitung tuhan? dan jika belum ada yang membilang atau meng hitung, tentu tuhan itu tidak terbilang alisas bukan satu apalagi dua, tentu sangat absurt jika di buat menaruh bilangan, dalam artian tuhan satu itu salah besar karena belum ada orang yang menghitung atau membilang.

3

: (ini mungkin sebuah pertanyaan yang membawa IBNU RUSYD ketiang gantungan) “tuhan seru sekalian alam, artinya semua ke-mahaan yang ada di jagad-raya ini ,adalah punyaNYA ,dia akan lebih suci dari kota mekah ,yaitu kota yang paling suci, dia akan lebih mulia atau maha mulia dari semua raja yang paling mulia ,dia akan lebih agung atau maha agung dari semua gunung-gunung” dan pertanya anya adalah:
adakah tuhan menciptakan anjing yang di-cipta dalam kenajisannya dan adakah dia maha najis dari semua anjing yang ia ciptakannya, atau adakah semua kotoran yang ada di muka bumi ini adalah ciptaan tuhan sehingga dia akan maha kotor dari semu kotoran ciptaanya tersebut?

keterangan

: sungguh jelas hal tersebut sangat dilema ,jika jawabnya “ya” berarti kita membelai kenistaan yang naiff, tapi jika tidak “tidak menciptakan” kata “tuhan” menjadi sangat jauh dari kata-kata sang pencipta, dan andai kata dia menciptakan tapi tidak maha atas najis dan kotor itu artinya dia bukan maha segalanya atau dengan kata lain “segala puji baginya seru tuhan sekalian alam, kecuali najis dan kotoran?”

4


sesungguhnya dia “tuhan” itu bergerak atau diam?

Keterangan

hal ini juga pertanyaan yang tak lebih susah,sebab alasan bergerak bukan jawaban yang tepat karena gerak atau lawan dari diam itu artinya perubahan,atau tidak menetap dan kata perubahan atau tidak menetap adalah menjadi mahluk karena perubahan adalah evolusi dan pertumbuhan tentunya,dan jika berevolusi artinya tidak kekal,sudah pasti hal tersebut adalah ciptaan bukan pencipta, karena tidak kekal dan berubah.
*tapi jika kita menyimpul kan dia “tuhan” itu diam lalu bagai mana dia mencipta, karena kata-kata mencipta adalah gerak atau perubahan, yaitu :dari tidak mencipta menjadi mencipta, adalah perubahan atau gerak,dan gerak seperti di atas tadi yaitu perubahan dan arti dari perubahan adalah tidak kekal atau abadi
jelas semua pertanya an mencari jeda pada daya nalar kita yang memang jauh dari kata sempurna.
Tapi jika kita mampu menyelami juga tidak mustahil segenap pertanyaan dapat kita jawab dengan tuntas, bukan sifat orang yang punya integritas dan intlek tual yang tinggi ,mana kala belum melangkah dengan kedalaman fikiran kita(karena memang bahwasanya pertanyaan macam di atas memang memerlukan pergulatan permenungan yang dalam) hanya membidikkan fonisnya ,menghakimi tanpa menelaah dengan menyimpulkan bahwa hal atau pertanyaan macam itu mengada-ada.
sebenarnya saya ingin mengajak anda sekalian untuk mencoba bersama memecahkan masalah yang berkaitan hal tsb di atas dengan realitas dan pemikiran yg dalam. dan saya akan mencoba memberi semple jawaban yang sangat minim sekali dan masih membutuhkan penyempurnaan
-jawabannya akan di sambung ke tulisan berikutnya(kalau sempat)
Dan untuk waktu ini kiranya cukup dulu

aku ingin bebas

buat:priyo wahyu
Sejuknya hembus angin
Telah redakan
Segala amarah dalam hatimu

Terkadang kau sendiri tak mengerti
Begitu mudah engkau kecewa
Oh..dan ini seringkali terjadi
setiap harapanmu tak terpenuhi

Kau coba menyendiri dan membisu
Tuk memahami isi jiwamu
Lalu tercipta sebuah lagu merdu
Tempat curahan segala resah

Dan kau ceritakan pada dunia
Oh..tentang harapan dan angan-anganmu

Oh..aku ingin dapat bebas lepas

Aku ingin senantiasa merasa bahagia
Aku ingin dapat terbang jauh
Bila tiada yang peduli

Oh..aku ingin dapat mengungkapkan
Segala yang kurasakan dalam hati ini
Aku ingin dapat terbang jauh
Bila tiada yang mengerti


lirik lagu aku ingin bebas:indra lesmana

Klik DI sini untuk mengunduh lagunya

Sajak.3

Puisi ini ku tulis pada tahun 1997 di ci-limus cirbon

senja di kaki gunung cermai



Mengendus langit jauh, di senja yang jauh, lebih sembunyi. Seperti petir, kehilangan hujan, senja melepaskan panah, ke: jantungku ''senja dikaki gunung cermai'' Satu-satu ku gedor pintu. malam dengan lawatan 'miskinnya hatiku. Ketika jauh dan tak pantas aku meribakan rindu Apalagi pada mu? Di langit tempat kusembunyikan seluruh senja,''ci-limus'' masih kepingan dingin. apalagi untuk kecil jiwaku nan luka. Harimu yang ku kubur. tiada lagi di sini, Senja di kaki gunung cermai Ku hidangkan sajak "terindah di teraniayanya kematian" segala resah, Pastipun rembulan. hilang terhalang. pastikan ini adalah awal saat ku tebang. pohon dan ranting masalah Dan esoknya, aku melihat sesuatu yang baru. Senja, tikam sajakku. lampu-lampu "miskin" akan sinar, Dan gelap susuri sunyi, agar lebih terang aku melihat rusuk segundah-gundahnya. Langit ''lingarjati'' masih merah melingkar Sa'at semua rumah telah di terangi. Selamat malam jiwaku Bernyanyi di rimbun sunyi pagut malam Dingin Sepi Jauh

bayangan yang habis

Urut; malam dan serpihan. pilu 'menyapa, meraih aku.
di aliran nya.

darah; masa-lalu berpendar-pendar. Ciptakan anak sungai. kepedihan,
mengalir di jantung, pada sepi yang terkulai, di piring. makan,

dewi cinta; Telah habis, luluh-lantak. Jalan itu batu, dan masih, seperti saat kau sodorkan sunyi. jiwamu semai. sehelai benang dari kusut. hanya bisa berkata ''sutradara masa lalu !!
,rajut di warna lalu kasat dan naif''

Dari mana ide itu datang?

Kau berlabuh, karang yang pernah hancurkan.
Dari mana?, Pintu akan kau buka 'kunci telah kau patahkan. Simpan saja semua; malammu, aku
Kubur. Dalam-dalam di bumi, penderitaan, aku. Pulang, dan kejar; gelanyut bayangan, aku.

Atau tidur; 'dekap semua, lukamu. Seperti kamu menyayatnya.


Sajak jatuh cinta



sajak jatuh cinta

Ku kecup ujung bumi Ku cumbu semua malam Ku daki semua mimpi Ku gapai semua renungan Ku gagahi selaksa lamunan Ku ukur segenap urat di jantungku Sebagai mana cinta dan keindahan menyusup di jantungku Pernah ku tikam ribuan bayang Pernah ku ikat jutaan rindu Pernah kusentuh lusinan kisah Segenapnya indah ,tapi bukan denganmu ''dan aku benar-benar telah mabuk sekarang ada di pelukmu'' Begitu rapuh untuk bertarung dengan waktu Begitu lemah di sisimu.