Berjumpa Dengan Imigran Burung Air Di Pulaun Enggano Bengkulu, Sumatera Indonesia
Wednesday, August 20, 2008 2:12:33 AM
Oleh R.Tri .Prayudhi
Sekelumit tentang Pulau Enggano Bengkulu
Letak dan Cakupan WilayahPulau Enggano, dengan luas sekitar 400 km2 adalah Derah Burung Endemik (DBE) terkecil di Indonesia. Pulau, yang terletak 96 km di sebelah Barat Daya Sumatera (dari Manna) dan diduga tidak pernah bersambungan dengan Pulau Sumatera (Whitten, et al., 1987b) ini, berdasarkan administratif pemerintahan termasuk Kabupaten Bengkulu Selatan, Propinsi Bengkulu.
HabitatEnggano adalah pulau yang relatif datar dengan puncak tertinggi 300 m dpl. Suhu udara dan curah hujan di pulau ini relatif tinggi (Ditjen PHPA, 1990). Kedua species burung sebaran-terbatas hidup di beberapa habitat berhutan dan lahan pertanian, terutama perkebunan kelapa, dan lahan-lahan terbuka di sekitar perkampungan. Burung Kacamata Enggano dilaporkan banyak dijumpai dan Celepuk Enggano dijumpai beberapa kali pada kunjungan singkat ke pulau ini pada tahun 1983 (van Marle dan Voous, 1998).
Kawasan Konservasi Satu-satunya kawasan konservasi di Pulau Enggano saat ini adalah Taman Buru Gunung Nanu?ua (10.000 ha) yang terletak di sebelah selatan pulau kecil ini.
Situasi Saat IniHutan alam di Pulau Enggano umumnya masih dalam kondisi baik. Hal ini erat kaitannya dengan relatif sedikitnya penduduk (1.435 jiwa) dan masih lambatnya pembangunan akibat sangat terbatasnya prasarana transportasi antara Enggano-Sumatera (Sutaryadi dan Haspiran in litt., 1995)Sebagian besar masyarakat berpencaharian sebagai nelayan, dan membuka lahan pertanian di daerah pesisir pada saat musim badai. Konversi hutan cukup besar terjadi pada tahun 1990-an saat pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit yng hingga saat ini terbengkalai (Sutaryadi dan Haspiran in litt., 1995).
Berjumpa Dengan Imigran Burung Air Di Enggano
Perlu diakui bagi para aktivis satwa liar bahwa mengamati burung memanglah bukanlah hobi yang populer bagi anak muda jaman sekarang yang doyannya cuman dugem, setidaknya ada banyak orang masih bertanya-tanya ngapain ngitip burung, apaan sih birdwatching, untuk menjelaskan pertanyaan tersebut butuh waktu yang panjang agar dapat jelas setidaknya 3 SKS jam kuliah baru bisa paham, namun yang pasti jawaban para bird whatcher mengamati burung adalah adalah hobi yang mengasyikan dan penuh petualangan.
Setiap lokasi pengamatan burung pasti punya ciri khas tersendiri bagi pengghuni, sedikit pengalaman yang benar-benar mengasikan adalah mengamati burung migrasi, banyak pakar bilang burung bermigrasi disebabkan perubahan musim dan ada juga yang percaya karena bermigrasi untuk mencari makanan, yang perlu diherankan adalah dengan tubuh kecil, tanpa perlindungan, perlengkapan safety prosedur dan GPS (Global Positioning System)sebagai alat navigasi untuk menetukan arah kompas, burung migrasi dapat menyeberang antar pulau bahkan antar benua, tidak seperti maskapai penerbangan di Indonesia yang setiap saat kecelakaan karena onderdil atau alat navigasi yang error atau rusak.
Burung-burung migrasi biasanya terbang tidak langsung mencapai tujuannya, ada yang transit dulu untuk istirahat dan makan. Nah Pulau Enggano yang letaknya di pesisir barat pulau Sumatera mungkin salah satu lokasi transit bagi para migransi burung pantai dari sekian banyak lokasi yang menjadi jalur migrasi, sebelum melakukan perjalanan menuju belahan bumi bagian utara maupun selatan. Namun ini pertama kali saya mengamati burung migrasi di pulau Enggano, awal yang tanpa sengaja mengamati burung migrasi karena perjalanan ke pulau Enggano kali ini adalah untuk melakukan survey dan mapping terumbu karang bersama beberapa rekan, Zia dari IPB, Rangga dan Samsul dari Kelompok Pecinta Alam FAPERTA Univ-Bengkulu “KAMPALA”, dan ternyata berakhir dengan hiburan mengamati burung migrasi. Untungnya buku panduan Mac kinnon, binocular dan kamera SLR yang super manual selalu ada dalam daypack setiap perjalanan yang berbau wild life, jadi tidak sia-sia perjalanan kali ini bisa mengidentifikasi ketika bertemu burung yang baru atau belum pernah berjumpa sebelumnya.
Bertemu Ardeea pururea
Saat itu, 7 Desember 2005 cuaca di pelabuhan kahyapu Enggano sedikit berawan, maklum jika di bulan Oktober sampai dengan Januari merupakan musim angin barat laut atau angin barat, kata para nelayan setempat biasanya sering terjadi badai yang tiba-tiba, namun saya, dan teman-teman lainnya bukan menjadi halangan untuk melakukan perjalanan kali ini. Ketidak sengajaan pertama kali ketika melihat sekelompok burung-burung diantara tepian pantai yang ditumbuhi oleh tanaman mangrove Rhizhopora, karena sangat jauh kelompok burung tersebut, rasa ingin tahu datang sehingga mencoba mendekati burung-burung itu, dengan sepatu bot yang kubawa dan camera SLR super manual, aku berhasil mendekati dan mengambil beberapa jepretan, ternyata gerombolan itu adalah Cangak Merah (Ardeea pururea), namun ada yang membuat aku penasaran diatara gerombolan burung itu, yaitu kelompok kuntul karang (Ergeta sacra) yang tak jauh dari kelompok Cangak Merah, dimana kuntul karang yang terlihat terdapat dua warna yang berbeda dengan populasi yang sama, apa benar meraka satu spesies, atau beda spesies, untungnya keterang di Fied guid burung Mac Kinnon sangat jelas, jadi memang satu spesies dangan warna yang hitam dan putih.
Bertemu keluarga Parrot (Psittacula haemotodus.)
Tujuan kegiatan pertama kali ke Pulau Satu yang lokasinya di balik pulau Enggano tepatnya mengelilingi setengah pulau yang ombaknya lumayan besar karena langsung menghadap Samudra Hindia, 4 Jam perjalanan dengan sampan kalau lewat jalan darat kira-kira 2 hari perjalanan karena harus menyusuri hutan tropis, dan mangrove yang lumayan banyak buayanya.Karena kegitan kami yang selalu moving untuk menyelam dari pulau ke pulau, dari teluk ke teluk, jadi sangat banyak kesempatan bertemu burung-burung pantai, bahkan tidak saja burung pantai yang ketemu namun burung-burung penghuni hutan yang bervegetasi dataran tinggi juga ketemu, pertemuan ini terjadi saat nge-camp di pinggir pantai Pulau Satu, dimana sore itu, saya dengan pak Arif nelayan yang mengantarkan kami dengan sampannya, mencari sumber mata air dekat kualo ( muara sungai yang bervegatasi mangrove). Karena masuk semak dan hutan dengan jarak 300 meter dari pinggir pantai, daypack beserta perlengkapan camera dan field guide tak pernah ketinggalan, dan ternyata memang tak sia-sia, diantara tanaman melinjo yang tumbuh liar ada sepasang Betet Ekor Panjang, sedang menari dan bercumbu, sayang cameraku tak dapat menjangkau, untung saja masih sagat jelas melihat seluk beluk warna di tubuhnya yang cantik, walau suaranya sedikit melengking menggangu burung-burung lainya namun perjumpaan 5 menit membuat saya benar benar terkesima. Awalnya saya mengira burung betet biasa, karena ekor panjang tak terlihat, namun dengan warna ciri khas pipi yang merah dan dada hijau saya bisa memastikan bahwa itu adalah Psittacula haemotodus. Benar-benar indah saya bisa melihat langsung keluarga parrot di hutan secara langsung, bukan dalam sangkar ataupun ke wilayah Indonesia Timur. Mungkin ini satu satunya jenis parrot yang terdapat di wilayah Sumatera, namun sayang di Enggano burung betet sering diburu, karena menjadi hama bagi tanaman melinjo, dari beberapa informasi masyrakat tidak hanya betet namun beo menjadi sasaran perburuan pada bulan Mei - Agustus karena di musim kemarau biasanya melakukan breeding dan populasi meningkat, lain Maluku lain Papua dan lain juga cara berburu parrot di Enggano, masyarakat memantau pohon-pohon tinggi yang terdapat lubang, biasanya pohon tersebut dijadikan sarang, dengan menunggu waktu yang tepat, maka dipanjatlah pohon tersebeut untuk mengambil anakan dari betet dan beo untuk dijual atau dipelihara.
Tak hanya Betet Ekor Panjang, saat berjalan diatara semak perdu , terlihat ada gerakan yang mencurigakan diatara semak-semak rumput dan perdu tak jauh dari posisi kami berdiri, aku pikir itu pasti ular, namun dengan hati -hati saya dan pak Arif mengendap ngendap penasar dengan gerakan tersebut, sebilah parang keluar dari balik pinggang pak Arif , wah serem juga nih sebelumnya memang sudah di bilang dekat kualo masih banyak ular sawah dan buaya. Duh serem banget. ……kecurigaan kami akan ular dan buaya ternyata tidak tepat, sekelebat tiba-tiba seekor burung dengan warna hitam yang ukurannya sedang seperti burung kutilang melesat dari balik semak tersebut hinggap pada sebuah ranting. Sedikit lega yang sebelumnya membuat dag dig dug jantung, kalau buaya lari kemana gak ada pohon yang bisa di panjat semuanya pohon berdiameter besar . tak sulit mengditifikasi burung hitam itu ternyata burung penghuni lantai bawah hutan, Zoothera andromedae, (Anis hutan) warnanya hitam sedikit keabuan dengan dada abu dan bagian perut putih ada sedikit totol putih pada pangkal kaki sampai dengan sayap, tak hanya sekali bertemu dengan burung hitam dengan totol potih tersebut, sehingga aku yakin itu adalah Anis Hutan.
Tanggal 8 Desember 2005 pagi aktivitas kami melakukan penyelaman di 4 titik di Pulau Satu, sebuah pulau yang telah hancur akibat pemboman oleh nelayan yang bisa dibilang biadab, jadi sekarang hanya tampak atol yang hanya terlihat hamparan pasir di tengah laut, bila laut surut dataran tersebut terlihat kira kira luasannya ada 2 Ha, hasil penyelamanpun hanya terdapat karang lunak itupun tak ada setengah centimeter, rata-rata baru tumbuh dan lainya berwarna hitam. Di sela waktu penyelaman ada kesempatan melihat dataran pulau tersebut dengan binocular, ada sekelompok burung dengan ukuran seperti merpati dengan warna coklat, sesekali terbang mengelilingi pulau, sesekali hilang di balik semak-semak yang tumbuh di pasir gosong. Sayang binocularku tak jelas menangkap warna-warna burung tersebut, setelah selesai menyelam, kami mendaratkan sampan di Pulau Satu melihat hamparan karang dan pasir yang gosong akibat bom, tak ada pohon yang tumbuh hanya semak-semak rumput dan anakan mangrove itupun bisa di hitung dengan jari, mati tak mau hidupun segan, semoga saja bisa mangrove itu tumbuh dan membentuk daratan baru karena proses pengendapan, aku tak melihat sekelompok burung-burung tadi, sejak sampan didaratkan, mungkin saja suara bising mesin sampan yang mengerang seperti mesin bajai membuat terusik sekolompok burung itu. Suasana panas yang sangat terik membuat kepala sedikit pusing akhirnya kami kembali ke camp. Ranga dan Samsul yang dapat giliran nunggu camp dan dapur umum ternyata telah siap menyajikan makan siang dengan ikan taji-taji yang dibakar. Wah bener-bener seperti anak seribu pulau, mandi dengan air laut makan pake ikan laut. Hahahaha.......
Lokasi kami membuat camp benar-benar indah untuk pengembangan wisata pantai apalagi buat berjemur dengan pasir putih tanaman hutan pantai yang tumbuh berbaris dan ombak yang sedikit tenang karena pecah di tengah dengan adanya karang tepi yang mengelilingi Pulau Satu membuat kami tambah betah, bila berjalan menyusuri pantai ada banyak burung yang bisa diamati, burung paling sering terlihat adalah raja udang biru, cangak merah dan kuntul arang, sering juga teramati trinil pantai, namun sedikit berhati-hati saat berjalan bila ingin melihatnya, karena burung ini sagat pemalu, trinil pantai lebih sering terlihat di antara lumpur pantai, sambil berjalan dan mengkais-kais pasir. Tringa hypoleus atau trinil pantai merupakan migrasi yang menetap dan sangat umum walau tak dapat mendokumentasikan namun ini adalah pertama kali melihat secara langsung jadi bener-bener puas.
Diterpa badai Bara laut
Sayang waktu kami tak lama di Pulau Satu karena kami harus menuju ke lokasi lainya, kali ini kami kembali ke pelabuhan Kahyapu, karena lokasi penyelaman besok di pulau Merbau, teluk harapan dan pulau Bangkai tak jauh dari pelabuhan kahyapu, dalam perjalanan sampan kami sengaja melewati pinggiran pantai sesekali masuk ke muara sungai sehingga tampak sangat jelas burung burung pantai yang terbang ketika mendengar raungan suara mesin sampan kami. kecerian kamipun hilang saat berada di teluk borneo tiba-tiba langit gelap di arah depan menuju ke arah kami, tak ada senyum satupun terpancar dari wajah kami, aku hanya mengenakan pelampung dan jas hujan untuk menutupi daypac dari basahnya hujan, ombakpun semakin keras menghantam sampan, jarak pandangpun hanya 4 meter kedepan, semuanya gelap seperti diselimuti kabut, inilah yang dibilang bara laut, badai yang tiba-tiba. Untung saja pak Arif nahkoda kami ternyata sangat handal mengemudikan sampan walau tak terlihat pandangan kedepan namun laju sampan tak salah arah, dua jam melawan rasa dingin dan terombang ambing ombak, untung saja tak lama langitpun cerah di arah timur, tampak biru dan awan hitam di belakang kami, dan saat itulah hal terindah, banyak burung meneyerupai bangau terbang rendah sambil sesekali manuver ke laut yang sudah tenang.sayang sekali aku tak tahu jenis dari burung burung tersebut yang pasti diantarnya terlihat kuntul karang dan cangak merah.
Enggano surga bagi burung
Tak ragu bila menyebut Pulau Enggano surga bagi para burung, karena hutan mangrove, dan hutan tropis yang menyediakan tempat tinggal bagi burung burung ini sehingga dapat berkembang biak dengan alami, ada sekitar 10 burung yang berhasil saya identifikasi dari burung pantai sampai burung pengghuni hutan, diantaranya, pergam hijau, pergam laut, uncal koran, kacamata enggano, tangkar kambing, kacamata biasa, tuwur asia, punai gading, beo / tiung emas, raja udang biru, cangak merah., kuntul karang, trinil antai dan terik asia.
Ada sedikit sulit membedakan burung kacamata biasa dengan kacamata enggano yang ternyata tak jauh berbeda, hanya warna yang sedikit kusam keabuan pada dadanya, burung ini ditemukan di kebun penduduk disebuah pohon jambu air, merupakan salah satu burung endemik Pulau Enggano, sayang saya sama sekali tak bertemu celupuk enggano / burung hantu yang juga salah satu burung endemik pulau ini.
Glareola maldivrum dari Asia Timur
Dalam buku Mac Kinno tecatat bahwa burung migrasi yang pernah terlihat adalah Petrel barau (Pterodroma baui) dan Petrel Palsu ( Bulveria fallax), namun sayang saya sama sekali tak menemukan, mungkin butuh waktu dan alat yang lebih lengkap agar bisa bertemu dengan burung-burung migrasi tersebut, namun tak sia-sia karena ternyata saya juga menemukan terik asia yang merupakan burung migrasi.
Terik asia, merupakan burung migrasi yang ternyata sebelumnya pernah saya lihat di pulau satu, saat bertemu kedua kalinya saya langsung jatuh hati dengan bentuk tubuh dan warnanya dan yakin bisa mengeditifikasi karena perjumpaan yang sering di sekitar pelabuhan, awalnya saya tak yakin bila ini adalah burung migrasi namun keterangan pada buku field guide benar-benar menambah keyakinan maklum saja pengamat pemula butuh kehati-hatian dalam menentukan jenis, warna khas cokat muda dan kalung yang melingkar di lehernya menambah keyakinan bahwa ini adalah Glareola maldivrum yang merupakan burung migrasi yang berbiak di Asia Timur dan bermigrasi keselatan pada musim dingin melewati Indonesia dan Australia, walaupun dalam buku Mac Kinnon dijelaskan sangat jarang di jumpai di P.Sumatera, namun ternyata di Pulau Enggano bisa ditemukan dan kelompok burung ini ternyata sangat sering dijumpai, hal yang menghibur kami adalah berburu foto terik asia, dengan berjalan mengedap-endap, kadang jongkok, ataupun tiarap, bahkan sampai berpuluh-puluh menit menanti datangnya kembali sang burung, akhirnya saya dapat mendokumentasikan dari berbagai sisi, maklum saja kameranya super manual dan lensanya pendek jadi mengambil gambarnya harus berhati hati dan dari dekat selain itu butuh kesabaran.
Anak Seribu Pulau Yang terdampar
Rencana yang hanya 4 hari tenyata harus menambah 6 hari karena satu satunya kapal fery, tak dapat berangkat karena terkena badai di Pelabuhan Pulau Baii Bengkulu, tak ada sinyal HP, Wartelpun yang bisa memberikan informasi pada orang-orang tercinta, ada wartelpun di desa Malkoni ibu kota kecamatan itupun harus ditempuh dengan sepeda motor sekitar 2 jam perjalan atau 25 km jalan berlumpur, tidak masuknya KMP Raja enggano satu-satunya fery ternyata melumpuhkan perekonomian, besin yang biasanya dijual Rp 5000/L naik membumbung menjadi Rp 10.000, banyak nelayan terpaksa tak melaut, persedian ES untuk membekukan ikan mengandalkan datangnya kapal. Sehingga banyak ikan tangkapan yang di asinkan ataupun busuk dalam box. Bird whatching dan foto-foto ataupun mancing, sesekali menyelam disekitar pelabuhan menjadi hiburan untuk mengisi waktu seperti anak seribu pulau.
Glareola maldivrum Jack®.Tri Prayudhi's Site
Sekelumit tentang Pulau Enggano Bengkulu
Letak dan Cakupan WilayahPulau Enggano, dengan luas sekitar 400 km2 adalah Derah Burung Endemik (DBE) terkecil di Indonesia. Pulau, yang terletak 96 km di sebelah Barat Daya Sumatera (dari Manna) dan diduga tidak pernah bersambungan dengan Pulau Sumatera (Whitten, et al., 1987b) ini, berdasarkan administratif pemerintahan termasuk Kabupaten Bengkulu Selatan, Propinsi Bengkulu.
HabitatEnggano adalah pulau yang relatif datar dengan puncak tertinggi 300 m dpl. Suhu udara dan curah hujan di pulau ini relatif tinggi (Ditjen PHPA, 1990). Kedua species burung sebaran-terbatas hidup di beberapa habitat berhutan dan lahan pertanian, terutama perkebunan kelapa, dan lahan-lahan terbuka di sekitar perkampungan. Burung Kacamata Enggano dilaporkan banyak dijumpai dan Celepuk Enggano dijumpai beberapa kali pada kunjungan singkat ke pulau ini pada tahun 1983 (van Marle dan Voous, 1998).
Kawasan Konservasi Satu-satunya kawasan konservasi di Pulau Enggano saat ini adalah Taman Buru Gunung Nanu?ua (10.000 ha) yang terletak di sebelah selatan pulau kecil ini.
Situasi Saat IniHutan alam di Pulau Enggano umumnya masih dalam kondisi baik. Hal ini erat kaitannya dengan relatif sedikitnya penduduk (1.435 jiwa) dan masih lambatnya pembangunan akibat sangat terbatasnya prasarana transportasi antara Enggano-Sumatera (Sutaryadi dan Haspiran in litt., 1995)Sebagian besar masyarakat berpencaharian sebagai nelayan, dan membuka lahan pertanian di daerah pesisir pada saat musim badai. Konversi hutan cukup besar terjadi pada tahun 1990-an saat pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit yng hingga saat ini terbengkalai (Sutaryadi dan Haspiran in litt., 1995).
Berjumpa Dengan Imigran Burung Air Di Enggano
Perlu diakui bagi para aktivis satwa liar bahwa mengamati burung memanglah bukanlah hobi yang populer bagi anak muda jaman sekarang yang doyannya cuman dugem, setidaknya ada banyak orang masih bertanya-tanya ngapain ngitip burung, apaan sih birdwatching, untuk menjelaskan pertanyaan tersebut butuh waktu yang panjang agar dapat jelas setidaknya 3 SKS jam kuliah baru bisa paham, namun yang pasti jawaban para bird whatcher mengamati burung adalah adalah hobi yang mengasyikan dan penuh petualangan.
Setiap lokasi pengamatan burung pasti punya ciri khas tersendiri bagi pengghuni, sedikit pengalaman yang benar-benar mengasikan adalah mengamati burung migrasi, banyak pakar bilang burung bermigrasi disebabkan perubahan musim dan ada juga yang percaya karena bermigrasi untuk mencari makanan, yang perlu diherankan adalah dengan tubuh kecil, tanpa perlindungan, perlengkapan safety prosedur dan GPS (Global Positioning System)sebagai alat navigasi untuk menetukan arah kompas, burung migrasi dapat menyeberang antar pulau bahkan antar benua, tidak seperti maskapai penerbangan di Indonesia yang setiap saat kecelakaan karena onderdil atau alat navigasi yang error atau rusak.
Burung-burung migrasi biasanya terbang tidak langsung mencapai tujuannya, ada yang transit dulu untuk istirahat dan makan. Nah Pulau Enggano yang letaknya di pesisir barat pulau Sumatera mungkin salah satu lokasi transit bagi para migransi burung pantai dari sekian banyak lokasi yang menjadi jalur migrasi, sebelum melakukan perjalanan menuju belahan bumi bagian utara maupun selatan. Namun ini pertama kali saya mengamati burung migrasi di pulau Enggano, awal yang tanpa sengaja mengamati burung migrasi karena perjalanan ke pulau Enggano kali ini adalah untuk melakukan survey dan mapping terumbu karang bersama beberapa rekan, Zia dari IPB, Rangga dan Samsul dari Kelompok Pecinta Alam FAPERTA Univ-Bengkulu “KAMPALA”, dan ternyata berakhir dengan hiburan mengamati burung migrasi. Untungnya buku panduan Mac kinnon, binocular dan kamera SLR yang super manual selalu ada dalam daypack setiap perjalanan yang berbau wild life, jadi tidak sia-sia perjalanan kali ini bisa mengidentifikasi ketika bertemu burung yang baru atau belum pernah berjumpa sebelumnya.
Bertemu Ardeea pururea
Saat itu, 7 Desember 2005 cuaca di pelabuhan kahyapu Enggano sedikit berawan, maklum jika di bulan Oktober sampai dengan Januari merupakan musim angin barat laut atau angin barat, kata para nelayan setempat biasanya sering terjadi badai yang tiba-tiba, namun saya, dan teman-teman lainnya bukan menjadi halangan untuk melakukan perjalanan kali ini. Ketidak sengajaan pertama kali ketika melihat sekelompok burung-burung diantara tepian pantai yang ditumbuhi oleh tanaman mangrove Rhizhopora, karena sangat jauh kelompok burung tersebut, rasa ingin tahu datang sehingga mencoba mendekati burung-burung itu, dengan sepatu bot yang kubawa dan camera SLR super manual, aku berhasil mendekati dan mengambil beberapa jepretan, ternyata gerombolan itu adalah Cangak Merah (Ardeea pururea), namun ada yang membuat aku penasaran diatara gerombolan burung itu, yaitu kelompok kuntul karang (Ergeta sacra) yang tak jauh dari kelompok Cangak Merah, dimana kuntul karang yang terlihat terdapat dua warna yang berbeda dengan populasi yang sama, apa benar meraka satu spesies, atau beda spesies, untungnya keterang di Fied guid burung Mac Kinnon sangat jelas, jadi memang satu spesies dangan warna yang hitam dan putih.
Bertemu keluarga Parrot (Psittacula haemotodus.)
Tujuan kegiatan pertama kali ke Pulau Satu yang lokasinya di balik pulau Enggano tepatnya mengelilingi setengah pulau yang ombaknya lumayan besar karena langsung menghadap Samudra Hindia, 4 Jam perjalanan dengan sampan kalau lewat jalan darat kira-kira 2 hari perjalanan karena harus menyusuri hutan tropis, dan mangrove yang lumayan banyak buayanya.Karena kegitan kami yang selalu moving untuk menyelam dari pulau ke pulau, dari teluk ke teluk, jadi sangat banyak kesempatan bertemu burung-burung pantai, bahkan tidak saja burung pantai yang ketemu namun burung-burung penghuni hutan yang bervegetasi dataran tinggi juga ketemu, pertemuan ini terjadi saat nge-camp di pinggir pantai Pulau Satu, dimana sore itu, saya dengan pak Arif nelayan yang mengantarkan kami dengan sampannya, mencari sumber mata air dekat kualo ( muara sungai yang bervegatasi mangrove). Karena masuk semak dan hutan dengan jarak 300 meter dari pinggir pantai, daypack beserta perlengkapan camera dan field guide tak pernah ketinggalan, dan ternyata memang tak sia-sia, diantara tanaman melinjo yang tumbuh liar ada sepasang Betet Ekor Panjang, sedang menari dan bercumbu, sayang cameraku tak dapat menjangkau, untung saja masih sagat jelas melihat seluk beluk warna di tubuhnya yang cantik, walau suaranya sedikit melengking menggangu burung-burung lainya namun perjumpaan 5 menit membuat saya benar benar terkesima. Awalnya saya mengira burung betet biasa, karena ekor panjang tak terlihat, namun dengan warna ciri khas pipi yang merah dan dada hijau saya bisa memastikan bahwa itu adalah Psittacula haemotodus. Benar-benar indah saya bisa melihat langsung keluarga parrot di hutan secara langsung, bukan dalam sangkar ataupun ke wilayah Indonesia Timur. Mungkin ini satu satunya jenis parrot yang terdapat di wilayah Sumatera, namun sayang di Enggano burung betet sering diburu, karena menjadi hama bagi tanaman melinjo, dari beberapa informasi masyrakat tidak hanya betet namun beo menjadi sasaran perburuan pada bulan Mei - Agustus karena di musim kemarau biasanya melakukan breeding dan populasi meningkat, lain Maluku lain Papua dan lain juga cara berburu parrot di Enggano, masyarakat memantau pohon-pohon tinggi yang terdapat lubang, biasanya pohon tersebut dijadikan sarang, dengan menunggu waktu yang tepat, maka dipanjatlah pohon tersebeut untuk mengambil anakan dari betet dan beo untuk dijual atau dipelihara.
Tak hanya Betet Ekor Panjang, saat berjalan diatara semak perdu , terlihat ada gerakan yang mencurigakan diatara semak-semak rumput dan perdu tak jauh dari posisi kami berdiri, aku pikir itu pasti ular, namun dengan hati -hati saya dan pak Arif mengendap ngendap penasar dengan gerakan tersebut, sebilah parang keluar dari balik pinggang pak Arif , wah serem juga nih sebelumnya memang sudah di bilang dekat kualo masih banyak ular sawah dan buaya. Duh serem banget. ……kecurigaan kami akan ular dan buaya ternyata tidak tepat, sekelebat tiba-tiba seekor burung dengan warna hitam yang ukurannya sedang seperti burung kutilang melesat dari balik semak tersebut hinggap pada sebuah ranting. Sedikit lega yang sebelumnya membuat dag dig dug jantung, kalau buaya lari kemana gak ada pohon yang bisa di panjat semuanya pohon berdiameter besar . tak sulit mengditifikasi burung hitam itu ternyata burung penghuni lantai bawah hutan, Zoothera andromedae, (Anis hutan) warnanya hitam sedikit keabuan dengan dada abu dan bagian perut putih ada sedikit totol putih pada pangkal kaki sampai dengan sayap, tak hanya sekali bertemu dengan burung hitam dengan totol potih tersebut, sehingga aku yakin itu adalah Anis Hutan.
Tanggal 8 Desember 2005 pagi aktivitas kami melakukan penyelaman di 4 titik di Pulau Satu, sebuah pulau yang telah hancur akibat pemboman oleh nelayan yang bisa dibilang biadab, jadi sekarang hanya tampak atol yang hanya terlihat hamparan pasir di tengah laut, bila laut surut dataran tersebut terlihat kira kira luasannya ada 2 Ha, hasil penyelamanpun hanya terdapat karang lunak itupun tak ada setengah centimeter, rata-rata baru tumbuh dan lainya berwarna hitam. Di sela waktu penyelaman ada kesempatan melihat dataran pulau tersebut dengan binocular, ada sekelompok burung dengan ukuran seperti merpati dengan warna coklat, sesekali terbang mengelilingi pulau, sesekali hilang di balik semak-semak yang tumbuh di pasir gosong. Sayang binocularku tak jelas menangkap warna-warna burung tersebut, setelah selesai menyelam, kami mendaratkan sampan di Pulau Satu melihat hamparan karang dan pasir yang gosong akibat bom, tak ada pohon yang tumbuh hanya semak-semak rumput dan anakan mangrove itupun bisa di hitung dengan jari, mati tak mau hidupun segan, semoga saja bisa mangrove itu tumbuh dan membentuk daratan baru karena proses pengendapan, aku tak melihat sekelompok burung-burung tadi, sejak sampan didaratkan, mungkin saja suara bising mesin sampan yang mengerang seperti mesin bajai membuat terusik sekolompok burung itu. Suasana panas yang sangat terik membuat kepala sedikit pusing akhirnya kami kembali ke camp. Ranga dan Samsul yang dapat giliran nunggu camp dan dapur umum ternyata telah siap menyajikan makan siang dengan ikan taji-taji yang dibakar. Wah bener-bener seperti anak seribu pulau, mandi dengan air laut makan pake ikan laut. Hahahaha.......
Lokasi kami membuat camp benar-benar indah untuk pengembangan wisata pantai apalagi buat berjemur dengan pasir putih tanaman hutan pantai yang tumbuh berbaris dan ombak yang sedikit tenang karena pecah di tengah dengan adanya karang tepi yang mengelilingi Pulau Satu membuat kami tambah betah, bila berjalan menyusuri pantai ada banyak burung yang bisa diamati, burung paling sering terlihat adalah raja udang biru, cangak merah dan kuntul arang, sering juga teramati trinil pantai, namun sedikit berhati-hati saat berjalan bila ingin melihatnya, karena burung ini sagat pemalu, trinil pantai lebih sering terlihat di antara lumpur pantai, sambil berjalan dan mengkais-kais pasir. Tringa hypoleus atau trinil pantai merupakan migrasi yang menetap dan sangat umum walau tak dapat mendokumentasikan namun ini adalah pertama kali melihat secara langsung jadi bener-bener puas.
Diterpa badai Bara laut
Sayang waktu kami tak lama di Pulau Satu karena kami harus menuju ke lokasi lainya, kali ini kami kembali ke pelabuhan Kahyapu, karena lokasi penyelaman besok di pulau Merbau, teluk harapan dan pulau Bangkai tak jauh dari pelabuhan kahyapu, dalam perjalanan sampan kami sengaja melewati pinggiran pantai sesekali masuk ke muara sungai sehingga tampak sangat jelas burung burung pantai yang terbang ketika mendengar raungan suara mesin sampan kami. kecerian kamipun hilang saat berada di teluk borneo tiba-tiba langit gelap di arah depan menuju ke arah kami, tak ada senyum satupun terpancar dari wajah kami, aku hanya mengenakan pelampung dan jas hujan untuk menutupi daypac dari basahnya hujan, ombakpun semakin keras menghantam sampan, jarak pandangpun hanya 4 meter kedepan, semuanya gelap seperti diselimuti kabut, inilah yang dibilang bara laut, badai yang tiba-tiba. Untung saja pak Arif nahkoda kami ternyata sangat handal mengemudikan sampan walau tak terlihat pandangan kedepan namun laju sampan tak salah arah, dua jam melawan rasa dingin dan terombang ambing ombak, untung saja tak lama langitpun cerah di arah timur, tampak biru dan awan hitam di belakang kami, dan saat itulah hal terindah, banyak burung meneyerupai bangau terbang rendah sambil sesekali manuver ke laut yang sudah tenang.sayang sekali aku tak tahu jenis dari burung burung tersebut yang pasti diantarnya terlihat kuntul karang dan cangak merah.
Enggano surga bagi burung
Tak ragu bila menyebut Pulau Enggano surga bagi para burung, karena hutan mangrove, dan hutan tropis yang menyediakan tempat tinggal bagi burung burung ini sehingga dapat berkembang biak dengan alami, ada sekitar 10 burung yang berhasil saya identifikasi dari burung pantai sampai burung pengghuni hutan, diantaranya, pergam hijau, pergam laut, uncal koran, kacamata enggano, tangkar kambing, kacamata biasa, tuwur asia, punai gading, beo / tiung emas, raja udang biru, cangak merah., kuntul karang, trinil antai dan terik asia.
Ada sedikit sulit membedakan burung kacamata biasa dengan kacamata enggano yang ternyata tak jauh berbeda, hanya warna yang sedikit kusam keabuan pada dadanya, burung ini ditemukan di kebun penduduk disebuah pohon jambu air, merupakan salah satu burung endemik Pulau Enggano, sayang saya sama sekali tak bertemu celupuk enggano / burung hantu yang juga salah satu burung endemik pulau ini.
Glareola maldivrum dari Asia Timur
Dalam buku Mac Kinno tecatat bahwa burung migrasi yang pernah terlihat adalah Petrel barau (Pterodroma baui) dan Petrel Palsu ( Bulveria fallax), namun sayang saya sama sekali tak menemukan, mungkin butuh waktu dan alat yang lebih lengkap agar bisa bertemu dengan burung-burung migrasi tersebut, namun tak sia-sia karena ternyata saya juga menemukan terik asia yang merupakan burung migrasi.
Terik asia, merupakan burung migrasi yang ternyata sebelumnya pernah saya lihat di pulau satu, saat bertemu kedua kalinya saya langsung jatuh hati dengan bentuk tubuh dan warnanya dan yakin bisa mengeditifikasi karena perjumpaan yang sering di sekitar pelabuhan, awalnya saya tak yakin bila ini adalah burung migrasi namun keterangan pada buku field guide benar-benar menambah keyakinan maklum saja pengamat pemula butuh kehati-hatian dalam menentukan jenis, warna khas cokat muda dan kalung yang melingkar di lehernya menambah keyakinan bahwa ini adalah Glareola maldivrum yang merupakan burung migrasi yang berbiak di Asia Timur dan bermigrasi keselatan pada musim dingin melewati Indonesia dan Australia, walaupun dalam buku Mac Kinnon dijelaskan sangat jarang di jumpai di P.Sumatera, namun ternyata di Pulau Enggano bisa ditemukan dan kelompok burung ini ternyata sangat sering dijumpai, hal yang menghibur kami adalah berburu foto terik asia, dengan berjalan mengedap-endap, kadang jongkok, ataupun tiarap, bahkan sampai berpuluh-puluh menit menanti datangnya kembali sang burung, akhirnya saya dapat mendokumentasikan dari berbagai sisi, maklum saja kameranya super manual dan lensanya pendek jadi mengambil gambarnya harus berhati hati dan dari dekat selain itu butuh kesabaran.
Anak Seribu Pulau Yang terdampar
Rencana yang hanya 4 hari tenyata harus menambah 6 hari karena satu satunya kapal fery, tak dapat berangkat karena terkena badai di Pelabuhan Pulau Baii Bengkulu, tak ada sinyal HP, Wartelpun yang bisa memberikan informasi pada orang-orang tercinta, ada wartelpun di desa Malkoni ibu kota kecamatan itupun harus ditempuh dengan sepeda motor sekitar 2 jam perjalan atau 25 km jalan berlumpur, tidak masuknya KMP Raja enggano satu-satunya fery ternyata melumpuhkan perekonomian, besin yang biasanya dijual Rp 5000/L naik membumbung menjadi Rp 10.000, banyak nelayan terpaksa tak melaut, persedian ES untuk membekukan ikan mengandalkan datangnya kapal. Sehingga banyak ikan tangkapan yang di asinkan ataupun busuk dalam box. Bird whatching dan foto-foto ataupun mancing, sesekali menyelam disekitar pelabuhan menjadi hiburan untuk mengisi waktu seperti anak seribu pulau.
Glareola maldivrum Jack®.Tri Prayudhi's Site



