My Opera is closing 3rd of March

Jack®.Tri Prayudhi's Site

Catatan Perjalanan Anak Bangsa

Ngamatin Burung-burung di Kampus Universitas Bengkulu

Keberadaan burung ditengah kampus yang terletak di pinggiran kota Bengkulu merupakan sebuah keunikan bagi para penghuni isi kampus, namun hal ini menjadi biasa-biasa saja bagi para mahasiswa yang ada umunya enggan mengenal isi kampusnya, dan ini menjadi hal yang sangat menakjubkan bagi mahasiswa yang gemar ngintip burung atau akan membuat kita terkagum-kagum akan kemampuan hidup yang dimiliki burung-burung kampus ini, namun keberadaan burung tersebut tidak terlepas adanya hutan rawa dan hutan sekunder serta vegetasi tanaman pantai yang tertata unik didalam kampus alias berantakan, sehingga kemampuan hidup burung-burung tersebut dapat didukung di tengah hiruk pikuknya kehidupan kampus, beberapa burung terlihat mampu beradaptasi. Burung selain memberikan nilai estetika dengan warna maupun suaranya juga diyakin sebagai salah satu komponen komunitas yang menjadi faktor penujang penting dalam proses ekologi di Hutan kampus Universitas Bengkulu (UNIB). karena burung memiliki kemapuan dalam penyerbukan, penyebaran biji dan mencegah kerusakan tanaman dari serangan hama.
Sayangnya Burung-burung yang hidup liar dikampus ini sampai saat ini belum banyak menjadi perhatian dari para pengamat burung dan para aktivis pecinta alam ataupun himpunan mahasiswa yang berkutat dengan ilmu lingkungan yang suka berpetualang.

Di siang hari (6/09/05) selagi suntuk ngadapin setumpuk tugas, sembari pulang ke kost yang juga tak jauh dari kampus, saya berjalan di tengah rimbunan pohan, tanpa disadari sekeliligku banyak aneka ragam burung yang berkicau, rasa ingin tahupun datang, berbekal binokuler yang selalu ada di tas. Satu persatu mulai tampak burung itu terlihat didepan mata, menari dan bernyanyi pada sebuah pohon sengon, wah banyak juga, dari kutilang Bentet, bahkan sempat terlihat juga merubah
Tanpa disadari rasa ingin tahu ini menjadi sebuah ketertarikan, bahwa mengamati burung memiliki beberapa keuntungan, dilihat dari segi biaya dan waktu yang relatif sedikit dibutuhkan bila dibanding dengan berpergian ke luar kota, dengan menggunakan waktu luang disela-sela rutinitas harian, artinya tak memerlukan waktu khusus, dengan sering melakukan pengamatan di beberapa lokasi di dalam kampus, kita dapat mengetahui jenis-jenis burung yang ada dilingkungan kita selain itu dapat mengetahui daerah-daerah utama yang merupakan habitat, dan ini dapat dijadikan tempat latihan mengamati burung sekaligus sarana edukasi pengenalan praktek mengamati burung. Ada sebuah tempat yang menjadi langganan mengamti burung di kampus yaitu di sebuah kantin berbentuk shelter yang sekelinginya terdapat danau buatan, dimana hampir setiap kali nongkrong dikantin sambil menghirup secangkir kopi, selalu saja sepasang bentet bertengger disebuah pohon kering di tengah danau, dan seekor élang laut yang tampat titik di kejauhan melayang, walaupun elang itu tidak selalu hadir untuk diamati saat nonggkrong dikantin ini.


Cekakak sungai Vs Lutung

Di hari minggu (11/09/05) aku berusaha bangun pagi walau wekerku belum berdetang keras melengking ditelinga, tampak dari balik candela kamar kostku, matahari sudah bersinar dengan warna khas paginya kuning keemas, oh ternyata masih jam 5.30. aku bergegas meraih daypacku yang terisi paduan pengamatan burung yang disumbangkan oleh teman-teman dari anggota ProFauna Kaltim untuk F.A Bengkulu, tak lupa kamera, binocukeler dan sebotol air mineral, aku berjalan kekampus sendiri, baru beberapa meter di depan gerbang antara gedung Ekonomi dan Hukum tampak di Beringin bertengger sekelompok Lutung (Trachypithecus auratus cristatus), bercengkrama. Warna khas hitam dengan ekor panjang dan rambut hitam yang sedikit jigrak mirip anak punk, terlihat dari binokulerku ada beberapa induk yang menggedong anaknya yang berwarna orange atau agak sedikit kuning jingga. Satwa ini merupakan satwa yang dilindung, teranam punah karena perburuan dan rentan karena gangguan habitat yang terus terdesak oleh manusia karena berbagai kepentingan. Tak jauh dari pohon beringin tempat si lutung ada seekor cekakak sungai yang juga bertengger, burung ini tampak warna punggung dan perut yang mecolok perpaduan biru dan ungu , membuat aku mengeluarkan kamera SLR, namun belum sempat mengabil gambar karena terusik para gerombolan lutung tersebut sang cekakakpun terbang…………wah sial. Akhirnya akupun berjalan keliling lagi, kali ini aku tak sendiri di temani oleh RIci. Hasil pengamatan memang tak banyak namun kami puas, mengamati satu persatu burung yang hidup dikampus, ada 15 burung yang tercatat antara lain, kipasan mutiara, cinemen merah, pelatuk muka kait, punai, tekukur, bondol hijau, gereja erasia, tuwur asia, Merbah cerucuk, empeluh paruh kait, Cucak Kutilang, Kacamata Biasa, Elang laut, Cekakak Sungai, Bentet Kelabu, Cabai Merah, Kancilan Bakau, dan yang terakhir berhasil ditemukan adalah paruh kodok bintang

Bertemu Paruh Kodok Bintang

Bagi para pengamat burung yang masih baru mendengar nama Paruh Kodok Bintang mungkin sedikit awam, namun bagi pakar yang sudah terbiasa mengamati burung, dapat saja dengan mudah menemukan burung ini. Bentuk tubuh yang hampir sama dengan Cabak, karena merupakan satu kerabat. Burung ini merupakan burung malam yang kelihatan sangat aneh, dapat ditemukan di Asia Tenggara sampai dengan Pulau Irian. Hidup berdaptasi di dalam hutan, selain Paruh Kodok Bintang ada enam jenis yang terdapat disunda besar pada suku Podargidae atau sering disebut paruh kodok.



Pertemuan dengan Paruh Kodok Bintang di bulan Januari 2006 saat habis ujian semesteran, Rici dan saya dengan mudah menemukan burung ini, awal yang hanya iseng saat melakukan WAW didalam kampus sambil mengisi waktu luang disore hari, namun ke iseng kami membuat penasaran karena tiba-tiba sepasang burung terbang melesat, dengan warna tubuh coklat ukuran yang gempal dan kecil, hinggap dari ranting ke rangting, namun akhirnya kami dapat menemukan kembali burung itu. Paruh Kodok Bintang burung yang tak banyak ulah diam, cengak cenguk kekiri kadang ke kanan dan sering kali memutar kepalanya 1800, untung saja kamera masih terisi penuh film asa 100 tak sadar jeprat jeprit 1 rol habis juga, saat mengamati tampak acuh diam dengan keberadaan kami, sehingga kamipun tak kuasa membuat ulah untuk mendapatkan gambar yang bagus tanpa menggagu aktivitas sang burung.awal yang sulit untuk mengidentifikasi burung malam ini karena ada banyak jenis burung yang menyerupai warna dan postur badan, bila melihat buku Mc Kinnon sangat tak yakin burung ini adalah Paruh Kodok Bintang, untung saja ada Field Guide Bird Of Borneo G.W.H Davidson yang dengan jelas menyajikan photo asli dalam fild guide tersebut. Walau bahasa Inggris namun sedikit terbata kami bisa menerjemahkan ciri dan bentuk yang tertulis, Paruh Kodok Bintang (Batrachostimus stellatus), atau sering disebut juga Goul’d Frogmouth hidupnya berpasangan dan bertelur satu butir pada sarang yang berbentuk mangkuk, tubuhnya agak kecik berwarna coklat kemerahan dengan totol putih kelam, biasa hidup hutan dataran rendah, walau tak umum hidup di bawah ketinggian 500 m namun kampus unib kira kira hanya berketingggian 250 MDPL (meter diatas permukaan laut),

Lomba burung kicau hobby orang sakit

Dengan sering melakukan pengamatan burung dan memperkenalkan hobby kepada masyarakat dapat menjadi sebuah alternative juga bagi para penggemar, pemelihara burung berkicau atau para eksploitator burung. lomba burung kicau biasa disposori oleh instasi pemerintah seperti bahkan ada sebuah ajang yang menjadi langganan penyelenggaran lomba burung saat peringatan hari Bhayangkara di bulan juli, dari piala Kapolda, sampai piala kapolsek, padahal para pemelihara burung kicau ini awalnya adalah kepicut melihat burung karena suaranya merdu, bentuk tubuh , warna yang indah serta gerakan yang lincah. Sangking kepicutnya mereka ini memburu dan menjualnya untuk dipelihara dan dilombakan dalam sangkar agar pesonanya dapat dinikmati setiap saat. Kecintaan yag salah kaprah ini menjadi sebuah komoditas bisnis beromzet miliaran , Perburuan untuk diperdagangkan Justru mengancam keberadaan dialam, coba lihatlah gara-gara hoby itu, burung cicak rowo menjadi lagu Faforit yang sering dinyanyikan salah satu artis dangdut dengan goyang pinggulnya. Saat ini keberadaan cicak rowo hilang di habitat dan bahkan sudah sangat jarang sekali tampak ( Apa hubungan goyang pinggul sama penurunnan populasi cicak rowo…hahahaha) karena diburu dan diperdagangkan dan dilombakan, kalau dihitungan-hitungan dengan statistik mungkin saja jumlah poupulasi di pasar burung pramuka lebih banyak dibanding jumlah populasi di alam……..gilakan !......jadi punya peliharaan burung dirumah dalam sangkar sama saja hobbynya orang sakit atau stress. Mana menariknya burung dalam sangkar yang kotor penuh veses, dibanding burung dialam bebas apalagi saat ini ada virus “Flue Burung” yang pandemic penyebaran ke manusia hanya melalu ungas yang terkurung.
Dengan mengamati burung kita dapat mendengarkan suaranya, tingkah lakunya, bentuk warna bulunya yang tak kusam seperti dalam sangkar. Dan hobby mengamati burung merupakan hobby yang masih sangat langgka di Indonesia apalagi di Bengkulu kota yang jauh terpelosok di Sumatera lets to WAW, satwa liar lebih indah di alam bukan dikurung dalam sangkar.(triprofauna.org)




]

Berjumpa Dengan Imigran Burung Air Di Pulaun Enggano Bengkulu, Sumatera Indonesia

Comments

Muchammadbashori Sunday, December 28, 2008 1:05:56 PM

Menarik sekali tulisanmu ini jack.
dibukukan aja ya
eh....
posisimu dimana jack?

Muchammadbashori Monday, March 16, 2009 5:14:54 PM

Sosek angkatan berapa?
Aku sekarang tugas di fakultas pertanian
ada juga alumni agro yang di malang lho!

julihernadi Thursday, August 11, 2011 4:45:51 PM

Mantap....

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

February 2014
M T W T F S S
January 2014March 2014
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28