Skip navigation.

Log in | Sign up

photo of siebelius

The siebelius Of angle of the saying

Di kecilnya warna jiwa,ada kedalaman semesta raya, Apa kata jiwa itulah kenyataan Sebesar apapun kamu ,sekecil apapun jiwa Sanggup melumat kebesaranmu

Sajak buat lelaki penenun badai

Dengan seutas angin yang kutiup di semua malam, jemari masalalu yang kuat semakin erat
lelaki tua itu telah menenun badai menjadikannya petir,menjadikan badai
dengan seutas angin yang ku tiup di kupingnya ,lelaki itu bangkit saat gemuruh menaruh cambuk petir tapi terjatuh dua nafas lagi
begitu erat masa lalu memasung semua lagu dan gerimis menjadi jubah malam lamunan
lelaki itu anak naga yang terluka semua samudra menangis ketika panah kematian menarik jiwanya
lelaki itu telah menjadi batu seperti tugu di tengah kota ,dia memang lelaki
senja melipat segenap langit tempat kelaki itu menyabung pedang ,semua senja meraup malam dan kerikil-kerikil mimpi.
Semua senja semayam di kuil-kemashuran saat bintang baru tergantung menjadi pedoman bagi pengembara muda.
Lelaki itu tersenyum dan melambai
senyumnya taufan dan lambaiannya api
menyandra pada hati lelaki memuja petualang
izinkan aku memajang fotomu di dinding hatiku.

Hati nan luas

Hatimu itu lautan nan luas yang tak terjangkau oleh semua badi dan riak kecil
Hatimu adalah bentangan kebersahajaan dari kepekaan untuk ikhlas memahami
Hatimu adalah cinta dan safana kasih-sayang yang gemuk kambing-kambing kemaslahatan merumput
Dan hatimu juga gembala bagi butiran kebenaran yang kadang menyalak bagai anjing terluka
Tapi
Kadang pikiran dangkal melingkar pagari
Membangun tembok-tembok dokma yang fanatik dan kecil
Tanpa memberi lubang kebersahajaan dan cinta
Tanpa memberi sedikit cahaya untuk meliriknya
Pikiran kecil yang picik telah mengatup dan berkata: dia lain bangsa,lain suku,lain agama,lain kelas,lain garis dan jutaan lain yang tak pernah habis untuk di gapainya
Betapa pikiran yang kecil kita telah memenjarakan keluasan hati kita kedalam situasi tanpa cinta,kebersahajaan kita yang sesungguhnya ikhlas meneriakkan keindahan
Oh..,hati
Yang maha luas
Oh...,pikiran
Yang sempit dan dangkal
Oh...,hati dan pikiran dapatkah kamu berjalan berduaan senada cinta dan kasih
Atau malah melebarkan awan-awan kebencian yang seperti enceng-gondok di permukaan danau yang makin lama makin mengatup semua permukaan dari cinta

Aku telah membelai semua ladang ,telah menguntit semua badai
Di mana cinta di penjarakan bukan kaum tirani yang membakar ''kota roma''
Juga bukan kaum yahudi yang membombardir kota ''gaza''
Tapi pikiran kerdil manusia yang membangun kepentingannya dan kebencian yang mengikat hatinya
Mereka kadang mahir membicarakan logika
Mereka juga kadang mahir mengolah kata-kata
Kadang mereka juga mumpuni membuka ikatan langit iman dengan agama yang suci
''tapi tak banyak di antara mereka yang mampu bicara dengan hati,tentang hati, tentang cinta yang tanpa mengunci pikirannya dari semua pikiran-pikiran nan picik ''
Pernahkah kita menyayangi saudara kita yang manusia ;hanya dengan kecintaan saja,
Tanpa melihat setatus dan ketebelecenya lainnya
Oh ...,hati
Oh...,pikiran
Oh...,kita
Berjalan dalam cinta
Seiring jiwa nan iklas

kemana cinta itu

Tables



cinta mengapa kamu
merambah hutan jiwa nan-perawan
seperti gelinjang angin datangmu menampar mengikat lelah di meja pengembaraan
Cinta mengapa jejakmu terasa sungguh gemanya,
Tak ketika-pun ku dekap rajutan bimbang
kamu jauh dalam rinduku tersemayamkan,
Tak ketika-pun aku sulam ,baju batin nan-masih pertama
jauh sebelum kamu mencoreng medan kecil di praharanya hatiku dan cinta.
kemana?
Jika sekarang semua kaki di ikatnya
Diamku dan lariku takcukup membaca,mengurai sepercikpun
Terdalam dari ruang kebingunganku, mengutuk ?
talinan jemalin-nan kokoh.
Lihat semesta tidur dalam peluk-mu semalam .
cinta-pun terbata di kamar sunyi dari sebuah tanya,
tunjukkan kemana?
Tunjukkan sekarang!!!




Jika ada jalan kecuali di kamar ini sekecil sayapnya
di semua sunyinya warna mu Dan semua dekapnya.
ada apa dengan mu api telah nyala
bendera pantang turun.