Friday, August 27, 2010 6:54:09 AM
cerita, legenda, sejarah
Pernahkah anda di dustai? Pernah bukan? Bagai mana rasanya saat kita tahu kita dibohongi, sebel bukan? Sakit, marah atau kecewa rasanya.
Tapi jangan salah, ada pula yang dibohongi, justru senang. Anda percaya?
Permainan sulap umpamanya. Sulap adalah permainan tipuan dengan menggunakan trik kecepatan, yang artinya permainan bohong atau membohongi, kita tentu sudah tahu akan hal itu, tapi mengapa kita suka?
Barang_kali; mungkin juga anda secara diam-diam pernah berbohong, menipu seseorang? Dan dengan puasnya "kita" berlalu meninggalkan orang yang kita kibuli tersebut, sambil tertawa kecil dalam hati. Atau barang__kali secara tidak sengaja, kita pernah membohongi diri kita sendiri.
Meski dengan Kecenderungan berbohong___yang sudah kita ketahui "bahwah kita akan kalah" namun kita tidak mau jujur sportif menyerah; menerima kekalahan yang kita sendiri menyadari hal tersebut, atau dengan kata lain memaksakan diri.
Ternyata, memang betul adanya. Bahwa tak semua bohong itu adalah hal yang menyebalkan, tidak semua bohong itu selalu memercikan api kemarahan "asal" bohong tersebut menggunakan seni. Bohong yang menggunakan kearifan justru akan mengenakkan di simak.
Dalam sejarah peradapan manusia di muka bumi dan di indonesia khususnya. Banyak sekali catatan-catatan kebohongan yang tak pernah lekang oleh waktu. Yang selalu___sampai kapanpun masih enak didengar, terutama kalau kita mau menyempatkan diri menengok kedalam sejarah kerajaan-kerajaan masa lampau. Disitu banyak sekali kisah-kisah atau cerita yang sedikit menyimpang. Atau bahkan jauh sekali menyimpang dari diksi, plot dan alur cerita. Tapi, masih saja hal itu enak disimak. Penyimpangan alur sejarah atau bisa dikatakan pe-monopolian sejarah telah berlangsung cukup lama sekali. Baiklah mari kita buka sekarang satu-persatu.
KISAH KEKHARISMATIKAN JAYA-BAYA
Pernahkah anda mendengar kisah "Prabu Jaya Baya" raja besar kediri yang terkenal dengan serat "jongko-joyo boyo," kitab yang bertuliskan tentang ramalan___yang sanggup meramal apa-apa saja yang hendak terjadi di kemudian masa sebelum jaman atau masa itu kita lewati?
"saya yakin anda pasti pernah mendengar".
Dimana pada masa pemerintahan Jaya Baya, kerajaan kediri adalah merupakan kerajaan yang sangat maju sekali. Terutama dalam bidang kesusastraan-nya. Ini dapat di telesik dari banyaknya peninggalan buku-buku sastra yang lahir dari masanya. Contohnya kitab Utarakanda, Harjunasasrabahu, bharata yhuda yang bertahunkan 820-832 caka. Dalam kitab yang terakhir saya sebut tadi, yaitu kitab atau serat Bharata-yhuda banyak dikisahkan kalau raja-raja jawa diturunkan oleh trah Bharata. Terutama Prabu Jaya-baya. Dalam serat-red Jaya-baya dikisahkan adalah cucu parikesit (parikesit sendiri adalah putra tunggal Abimanyu dan Abimanyu putra seorang anggota Pandawa yang terkenal yakni Raden Harjuna) Jaya-Baya merupakan kakek dari raja Angling Dharma.
Artinya Si-Jaya Baya ini adalah keturunan pandawa (yang artinya "bohong besar" karena kitab bharata yhuda sendiri adalah salinan dari kitab Maha Barata dari India yang merupakan kitab tuntunan orang-orang hindu.
Dan yang tak kalah anehnya disini si-Jaya Baya ini, memonopoli kisah perang barata-yudha antara "Kurawa dan Pandawa" menjadi perang lokal antara "kerajaan Panjalu dan Jenggala." dimana antara panjalu dan jenggala adalah dua negara yang berasal dari pecahan negara satau yaitu kerajaan kahuripan yang oleh prabu Air Langga dipecah menjadi dua. Jadi dua kerajaan Panjalu dan Jenggala dalah dua kerajaan yang bersaudara sama persis seperti kurawa dan pendawa, yaitu hastina versus Amarta, dimana antara ayahnya kurawa dan ayahnya pandawa adalah kakak beradik yang artinya sama-sama keturunan Bharata.
Mungkin bisa saja itu sebagai nukilah dari naskah sastra yang penuh dengan pencitraan, yang sampai sekarang pun masih banyak kalangan ahli sejarah menafsirkan bahwah intervensi penulisan serat Bharata-Yhuda adalah wujut sukur atas kemenangan (kediri) panjalu atas Jenggala.
Tetapi jelas dalam hal ini, karya estafet dari empu panuluh dan empu tanaka itu terkesan mendapat intervensi dari yang mermpunyai tujuan tertentu, terutama dari penguasa waktu itu yakni Prabu Jaya Baya:red, lebih dalamnya yaitu untuk mengelabuhi kepada masarakat, yang memang masarakat pada masa itu, masarakatnya masih runtut sekali dan patuh terhadap hal-hal tahayul. Sehingga, waktu itu sepertinya kekuasaan mutlak bukan di tangan raja tapi ada ditangan para ahli kitab maka pendekatan Prabu Jaya Baya terhadap para sastrawan juga merupakan wujut nyata dari kekuasaanya dalam merangkul kaum pujangga untuk membentengi kerajaannya dari rongrongan musuh. Maka, akibat dari yang ditimbulkan oleh cerita-cerita yang dihembuskan para pujangga-pujangganya. Al-hasil masarakat jawa waktu itu sangat mengkultuskan, dan mengelu-elukan kalau Prabu Jaya Baya adalah titisan Wisnu atau Dewa yang terlahir di bumi dengan tujuan membangun peradapan yang stabil. Kemudian yang di dapati pun, betapa pesonanya menjadi luar biasa, dan menyebar jauh seantero kerajaan-kerajaan yang ada pada waktu itu.
Sehingga tokoh ini secara tidak langsung mempunyai derajat yang lebih tinggi di banding manusia biasa atau "titah" atau bahkan wibawanya melebihi raja-raja yang ada lainnya.
JALAN MOKSA DALAM KEMATIAN JAYA-BAYA
Dalam kisah yang berkembang, raja yang konon seorang mualaf ini, menempuh jalan "moksa" dalam kematiannya. Yaitu jalan mati yang tanpa meninggalkan raga (ilang tanpo krono red:bahasa jawa) hilang tanpa sebap.
Kembali ingatan saya seperti ditarik oleh sebuah ceritra wayang purwa yang berjudul "pandawa moksa" dalam kisah ini ceritanya, seusai memenangkan perang bharata yhuda para Pendawa mengikuti petunjuk krisna untuk menebus dosa dengan menempuh jalan kematian "moksa" namun dari kelima pandawa itu, hanya Yhudistira saja yang berhasil memoksakan diri dan yang lainya gagal tak mampu melalui rintangan.
Disini, seakan Jaya Baya pun memaksakan sejarah. Seakan ia berpendapat karena ia titisan Wisnu maka matinyapun harus moksa. Betapa kematian seperti itu adalah hal yang sangat tidak mungkin selain didunia fiktif, sebap manusia mempunyai dua unsur yaitu raga yang khakekatnya tanah dan jiwa yang khakekatnya roh. Keduanya dapat bersatu jika keduanya setabil. namun jika salah satu dari kedua unsur itu rusak maka lepaslah baik raga ataupun jiwa. Dengan kata lain, tak mungkin dapat bersatu lagi. Makanya, sangat jelas dan amat mustahil jika jiwa yang khakekatnya roh mampu menghapus atau mengangkat raganya yang khakekatnya kotoran itu. Karena alam jiwa adalah alam roh bukan alam materi.
Namun meski semua itu adalah kisah fiksi atau cerita rekaan namun selalu enak disimak. Cerita apa saja baik cerita panji dalam wayang ghedong. Yang isinya tentang sepenggal kisah petualangan Candrakirana yang juga lahir dari masa kerajaan kediri, cerita wayang klitik, wayang purwa atau tembang-tembang jenis moco-pat yang unik dan kita tahu serta sadar itu adalah animasi pikiran yang senantiasa asik membawa urat saraf kita kepada sebuah kearifan. kita tak perlu merasa dongkol ataupun marah bila itu semua cerita bohong. Karena semua cerita pasti mengandung sisi baik yang dibawa oleh "misi" dari cerita itu. Yang kiranya secara harafiah dapat kita petik sisi positifnya. Bahkan kalau perlu justru kita merawatnya meskipun tidak patut kita memercayai semuanya di era tekhnologi ini.
Anda setuju? Salam.
Friday, August 13, 2010 12:50:56 PM
sejarah, legenda, cerita, mistis
...
semenjak perang dunia kedua berakhir, negara-negara di dunia makin berlomba-lomba memasang "benteng-pertahanan" terkokohnya. Dengan tujuan agar negaranya senantiasa tidak dipandang lemah dan diserang negara lain. Yakni mereka berlomba-lomba memperkuat militernya dengan persenjataan yang sangat canggih seperti peluru-peluru kendali dan rudal yang hulu ledaknya dapat memusnahkan masa__dalam jumlah banyak, bahkan sampai senjata yang super mutahir seperti senjata nuklir. Semua, semata-mata agar negaranya tidak dipandang sebelah mata, atau agar ditakuti negara-negara lain. dengan kata lain agar negaranya lebih "berwibawa".
****
Sebenarnya, kejadian semacam itu telah lama dilakukan oleh kerajaan-kerajaan di tanah jawa pada tempo dulu. Sebut saja "Mataram-islam" umpamanya. Akan tetapi; tentu sangat berbeda dengan negara-negara masa-kini. Kerajaan-kerajaan ditanah jawa kebanyakan membentengi negaranya dengan cerita-cerita mitos.
Anda tentu pernah mendengar logenda "Nyi-roro Kidul", cerita yang sangat menakutkan dan melogenda di masarakat jawa dan sekitarnya, yang penuh mistik dan sirik tentunya.
Sedemikian terkenalnya logenda tersebut hingga para masarakat umum sampai kinipun masih; melekat dan mempercayai keberadaan-nya. Sampai-sampai "konon" disekitar pantai jogja tak ada yang berani sembarangan berucap apalagi melanggar__dengan memakai pakaian warna tertentu yang disiriki.
Dalam cerita, dikisahkan; Nyi-roro Kidul adalah istri dari semua raja-raja yang hendak bertahta dan berkuasa di tanah jawa. Makanya ada cerita "pangeran Rangga" seorang putra mahkota yang hendak naik tahta di kemudian hari__menjadi gagal naik tahta, gara-gara melihat persetubuhan antara ayahnya yang Raja dengan Nyi-roro Kidul. karena dia melihat, (artinya ia tidak mungkin lagi memperistri bekas istri ayahnya atau secara tidak langsung dia sudah menjadi Anaknya Nyi-roro Kidul :red)
Sedangkan sarat sarat mutlak untuk menjadi raja mataram adalah: harus memperistri sang Ratu-selatan tersebut dan Pangeran Rangga sudah tidak mungkin, tidak mungkin anak memperistri ibu tirinya, maka dia tidak bisa naik tahta menjadi raja. Itu hanya sepenggal kisah dari banyak kisah yang lainnya.
Cerita atau logenda Nyi-roro Kidul ini bermula dari: ketika kerajaan pajang hendak melakukan agresi militer ke kerajaan Mataram. agresi yang di lakukan Sultan Hadi Wijoyo atau Si-karebet alias Joko Tingkir terhadap Negara yang di bangun Sutawijaya alias Senopati ing Alogo atau Panembahan Senopati yang tak lain adalah anak angkatnya sendiri. Dia "Sutawijaya" mendapat hadiah "hutan mentaok" karena keberhasilannya melakukan misi besar kerajaan pajang bersama ayahnya Membunuh Aryo-Penangsang (adipati demak bintoro). Akan tetapi, konon agresi yang dilakukan kerajaan pajang itu menemui kegagalan karena: ketika prajurit pajang sampai di kaki gunung merapi tiba-tiba gunung tersebut meletus mengeluarkan awan-panas dan konon, tentara pajang yang jumlahnya lebih besar dari mataram menemui kekalahan.
Disinilah cerita Nyi-roro Kidul mulai berhembus. Karena tentu sangat tidak mungkin gunung meletus secara tiba-tiba, sudah begitu__tentunya tidak secara kebetulan bukan? Jika meletus pas ketika para prajurit pajang tengah melintas di bawahnya. Maka para masarakat yang mendengar kisah ini akan menyimpulkan pasti ada faktor-X, faktor lain yang menyebabkan gunung itu meletus. Disinilah para penyimpul ditarik__dibawa oleh cerita tersebut. Cerita akan adanya kekuatan gaib yang membantu meledakkan gunung merapi tepat pada waktu itu.
Kisah ini jika kita selidik jelas sangat-sangat menuai banyak kebohongan. Dan sangat diada-adakan dengan tujuan agar Mataram "berwibawa" dan punya keangkeran tersendiri di mata kerajaan-kerajaan lain di tanah jawa.
Mengapa tersimpul bohong? Karena baik Sultan Hadi Wijaya ataupun Ki-Agung Pemanahan(ayah sutawijaya) adalah sama-sama murid Sunan Kali Jaga (dimana "sunan satu ini mahir sekali merangkai cerita mistis" atau bisa dikatakan "sastrawan mistis" yang tiada duanya) anda tentu pernah mendengar cerita kesaktian Wali-Songo yang konon lebih sakti dari para nabi bukan? Cerita bagaimana dengan tangan menjulur beliau dapat memegang kubah masjid demak dan baitull-haram waktu mencari arah kiblat masjid tersebut__tanpa menyadari bahwah bumi itu bulat, dan jika dapat memegang keduanya maka tubuhnya akan melengkung karena mengikuti kebulatan bentuk bumi.
Kedua sedang Suta Wijaya adalah anak angkat Sultan Hadi Wijaya dan anak kandung Ki-Pemanahan jadi sudah pasti tidak mungkin SHW menyerang mataram lagi pula tanah Mataram adalah hadiah darinya.
Ketiga umpama penyerangan betul telah dilakukan tentu kekalahan yang di sebabkan karena kecelakaan gunung merapi itu, pasti akan diulangi menyerang kembali.
Bukti-bukti diatas jelas menunjukkan bahwa kisah atau logenda tersebut tidak mengandung kebenaran adanya. Jika tidak ada kebenaran cerita dari keberadaan tokoh yang sebenarnya tentu ada maksud dibalik cerita tersebut. Yakni demi melindungi atau membentengi kerajaan mataram dari negara atau kerajaan lain yang hendak menguasai kerajaan itu.
Wednesday, March 31, 2010 5:36:48 AM
Babat pekalongan, sejarah, legenda, cerita
Sumber: pini sepuh dan cerita dari mulut kemulut yang di rangkai
(mataram islam 1613-1645)
di kisahkan tentang negri mataram yang damai dan sejahtera pada masa kepemimpinan raja SULTAN AGUNG HANYONGKRO KUSUMO yang kekuasaanya mencakup seluruh pulau jawa, sumatra, bali dan pulau pulau lainnya.
Pada waktu itu bangsa belanda dan portugis telah masuk dan menginjakkan kaki di tanah jawa, karena belanda masuk pada tahun 1596. Yang tepatnya semenjak kerajaan demak belnada sudah ada di tanah jawa.
Babat tanah PEKALONGAN bermula dari kisah seorang pemuda yang bernama JOKO BAHU putra tunggal KI-AGENG CEMPALUK yang ingin mengabdikan diri di kerajaan mataram. Dia "joko bahu" berasal dari sebuah desa kecil yang bernama kesesi atau asal dari kata "kasisian" yang artinya pengasingan. Karena Ki ageng cempaluk adalah punggawa mataram yang karena kesalahan apa lalu dia diasingkan dan membangun padepokan didesa tersebut. Yang letaknya antara lain di hulu kali comal. Konon kesaktian ki cempaluk ini sudah terdengar lama dan menjadi buah bibir di kraton mataram. Maka tanpa banyak pertimbangan sultan agung menerima bakti joko bahu
Namun sudah menjadi sarat mutlak, setiap prajurit yang hendak mengabdi kepada negara harus melalui tiga tahap pendadaran atau uji kesetiaan pada negara terlebih dahulu. Termasuk kemampuan mengatasi masalah dan olah keprajuritannya.
Maka pendadaran tahap pertama yang diberikan sultan adalah: membendung kali sambong, karena setiap musim kemarau selalu saja sawah-sawah rakyat disepanjang aliran sungai itu selalu kekeringan. dan dengan membendung kali sambong di KABUPATEN BATANG diharapkan air dapat naik dan mengairi sawah-sawah disekitar tempat itu sehingga hasil panen akan meningkat. Dan itu adalah salah satu kebijakan raja mataram untuk meningkatkan kemakmuran negrinya di bidang pertanian.
Sedang Kali sambong sendiri terkenal angker, dan sudah beberapa kali di lakukan pembendungan namun selalu gagal dan gagal.
Berangkatlah joko bahu untuk membendung kali sambong, dengan perbolehkan membawa beberapa orang prajurit. Al-kisah setelah pembendungan dimulai sedikit demi sedikit. Ditengah berlangsungnya proyek pembendungan terjadilah keanehan-keanehan yaitu: setiap pagi ketika para prajurit hendak melanjutkan pekerjaannya mereka yang belum selesai itu, ia selalu mendapati tanggul yang mereka kerjakan kemarin telah rontok dan bubar kembali. Kejadian itu terus berulang-ulang sampai tiga hari berturut-turut. Tentu saja hal itu membuat joko bahu menjadi bingung bukan kepalang. Al-kisah joko bahu melakukan tapa brata dan bertemu dengan siluman yang menunggui kali itu, siluman itu konon adalah welut putih.terjadi tawar-menawar kepentingan antara kedua belah pihak namun tak ada mendapat kata sepakat alias buntu, maka terjadilah perkelahian sengit antara dua belah pihak konon akhirnya di menangkan joko bahu.
Keberhasilan joko bahu menjalankan tugasnya ini di sambut gembira oleh sultan agung. Lalu datanglah pendadaran tahap kedua yakni membuka lahan baru di tepi pantai utara sebelah kabupaten batang, yakni alas GAMBIRAN atau sekarang gambaran, Waktu itu alas gambiran adalah alas yang sering dihindari oleh para rombongan pedagang yang melakukan pejalan jauh karena keadaannya yang angker dan tak tersentuh. dulu para rombongan pedagang yang melakukan pejalan jauh lebih memilih lewat daerah sebelah selatan yang lebih aman.
Karena konon setiap orang yang masuk kehutan gambiran pasti dia hanya akan berputar-putar didalamnya dan tak pernah bisa kembali keluar lagi dengan selamat, begitupun yang di alami para prajuritnya joko bahu yang di suruh memasuki hutan itu dan mereka tak kembali lagi. Mereka hanya berputar-putar tak tentu.
Kemudian al-kisah joko bahu melakukan tapa brata yaitu tapa ngidang atau meniru sifat kidang. akan tetapi joko bahu tetap tak mampu untuk mengalahkan raja siluman penunggu hutan itu. maka dengan sigap joko bahu segera pulang ke padepokan kesesi untuk mengadukan hal tersebut pada ki ageng cempaluk dan atas saran ki ageng cempaluk, joko bahu di sarankan untuk melakukan "tapa ngalong" tapa brata yang menirukan posisi kalong, yaitu dengan tidur kaki dengan menggantung di pohon tiap siang selama 40 hari "kemudian tempat dimana joko bahu melakukan tapa ngalong itu kini disebut PEKALONGAN" ( Kata-kata "pe" yang menandakan sebuah tempat kalong adalah dimana joko bahu melakukan tapa kalong)
setelah empat puluh hari berlalu, seselesailah tapa-ngalongnya, singkat cerita joko bahu dapat mengalahkan raja siluman itu dan bisa melanjutkan menebang kayu-kayu disitu tanpa ada satu hambatanpun sampai selesai dan dapat pulang ke mataram dengan membawa hasii.
Tentu saja kabar baik ini membuat hati sultan agung gembira. dan konon setelah joko-bahu sowan ke mataram, dan sultan agung langsung menganugrahkan gelar adipati dengan julukan KI-BAHU REKSO dan sekaligus menetapkan di daerah kendal. mulailah sejak saat itu dia menjabat adi pati kendal.
akan tetapi cerita tak berakhir sampai di situ karena masih ada tugas yang terbengkalai, yaitu pendadaran tahap ke tiga. Maka belumlah sempurna bahu rekso menjadi adi pati kalau belum menjalankan tugas ketiga yaitu ia di tugaskan untuk melamarkan seorang putri cantik dari kali salak yang konon bernama nyi rantang sari.
betapa untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak, nyi rantang sari yang hendak dipersembahkan sultan agung justru jatuh cinta pada bahu rekso dan tak mau dibawa untuk di persembahkan ke mataram.
Maka timbulah inisiatif dari bahu rekso Untuk mengganti dengan seorang putri yang tak kalah cantiknya yaitu endang kalibeluk, seorang putri anak penjual srabi di desa KALI BELUK (sampai sekarang penjual srabi itu masih karena diturunkan secara turun temurun)
akan tetapi sungguh sial, setelah disandingkan dengan sultan agung endang kalibeluk tak kuasa menahan luapan kegembiraannya dan akhirnya dia mengaku kalau dirinya bukan rantang sari yang dimaksud sultan agung. Hal ini tentu membuat sultan marah besar. Dia merasa telah di tipu oleh bahu rekso.
Akan tetapi keputusan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada bahu rekso, dapat di cegah oleh patih SINGARANU dan dia menyarankan agar sultan mengganti saja tugas pendadaran ketigannya dengan tugas yang sangat berat agar bahu rekso terbunuh dengan sendirinya.
Maka sultan agung menugaskan bahu rekso tugas yang sangat berat yaitu menyerang belanda di JAYA KARTA "sekarang jakarta" maka singkat cerita berangkatlah bahu rekso menyiapkan armada perang menuju jayakarta. Dia memilih melewati jalur laut, atas saran ki cempaluk sebap jalan darat konon senjata pusaka apapun akan hilang tuah atau kesaktiannya jika melintasi kali ci-pamali brebes. Bahu rekso mempersiapkan tentaranya di sebuah desa yang bernama KETANDAN namun nama desa itu sekarang lebih di kenal WIRADESA "wira" artinya prajurit , "desa" itu kampung jadi wira-desa adalah perkampungan prajurit dari situlah bahu rekso bertolak ke jayakarta.
Di jayakarta konon pasukannya dikumpulkan di sebuah daerah yang sekarang bernama MATRAMAN yang artinya mataram-man dan membendung sungai ciliwung hingga jendral RAVELES meninggal terserang malaria. Akan tetapi belanda tak kehabisan akal mereka membakar lumbung-lumbung makanan tentara mataram sehingga mereka kehabisan perbekalan dan bahu rekso menderita kekalahan.
dan Kekalahan itu membuat bahu rekso tak berani pulang ke kadipaten kendal dia memilih mendirikan kraton kekadipatenan yang letaknya di sebelah selatan wiradesa tepatnya yang sekarang bernama desa kadipaten (yang artinya di situ pernah akan di jadikan kadipaten) namun kabar tersebut terendus oleh raja mataram dan akhirnya mataram mengutus seorang pendekar dari CHINA yang bernama TAN JIN KWEN yang kemudian diangkat dan di tetapkan sebagai adipati pekalongan yang pertama setelah berhasil menyingkirkan bahu rekso.
Sunday, March 28, 2010 9:32:07 AM
Cerpen
Semua warga kampung sebenarnya agak bingung, tentang sebuah nama jalan di kampungnya itu, jalan itu bernama jalan:SUNYI, padahal jalan itu tak terlalu sunyi. Meskipun di sepanjang jalan itu hanya ada satu rumah saja, kenapa tak sunyi,karena jalan itu amat pendek. Sehingga mata masih dapat memandang dan merasakan suasana keramaian yang lalu-lalang di ujung jalan yang berbeda arah. karena jaraknya hanya beberapa meter saja.
Rumah di jalan sunyi itu memang kelihatan sangat suwung sekali jika di lihat dari luar, tapi jika berani melihat kedalam, apa lagi pada malam hari. Didalamnya itu sangat ramai sekali. Disana tiap malam sering ada pesta besar-besaran yang di adakan penghuninya. dan tak ada yang tahu, entah kapan pesta itu bubar. tiba-tiba saja rumah itu sudah suwung kembali. Tapi meskipun banyak misteri begitu, warga kampung banyak yang tak mau untuk meluangkan waktu dan menelesik, ada permasalahan apa yang terjadi dirumah, di jalan sunyi itu.
Rumah itu adalah rumah seorang penyair. Tapi sejauh ini, tak ada satu wargapun yang pernah melihat mukanya atau tampang si-penyair itu. Semua hanyalah kabar yang menyebar dari mulut-kemulut. Seperti di pemberitaannya, Katanya penyair itu adalah anak orang kaya-raya yang tak cocok dengan kehidupan mewah di keluarganya. Dia tak suka dengan gaya hidup ayah ibunya dan saudara-saudaranya yang selalu mengukur semua permasalahan hanya dari sudut pandang materi, seakan mereka tak akan hidup tanpa materi. Makanya dia memilih tinggal menyendiri di jalan sepi itu. menjalani hari-hari seperti seorang pertapa, berkelahi dengan imajenasi yang seperti air laut, yang tak akan pernah ada habisnya untuk di minum.
dulu penyair itu pernah juga hidup berkeluarga dan mempunyai dua orang anak. Tetapi keluarganya tak bertahan lama, konon katannya, saat dia ingin merasakan penjiwaan tentang aroma kematian. atau, mungkin karena dia ingin menulis sebuah sajak indah tentang kematian. tapi dia selalu gagal meletakkan atau menata imajenasinya. Maka ia dengan sadar menggantung istrinya yang tengah hamil tua, hingga istrinya meninggal seketika dengan mata melotot dan mulutnya menganga terbuka. Tapi itu juga hanya kabar angin yang datangnya sepotong-sepotong, jadi warga kampung juga kurang mengerti apakah ia di hukum atau tidak. Tak ada yang tahu.
Sementara dua orang anaknya diberikan ke orang tuanya, agar ia bisa lebih indah memantul kan cahaya rindunya yang seperti kabut itu kedalam sajaknya, dia sering bergumam semenjak istrinya mati dan anak-anaknya jauh
"begitu indah rindu itu dan sangat nikmat".
Orang-orang kampung yang mendengar kabar dari mulut kemulut, tentang tingkah penyair yang agak ganjil itu, akan mengtakan ia gila.
"dasar gila. Penyair gila". Itulah sebabnya, sebagaian warga kampung merasa enggan untuk tinggal di dekat tempat itu, katanya ngeri, terhadap sikap dan kelakuan aneh penyair itu.
*
pagi itu, Di jalan sunyi sangat ramai sekali, banyak orang berjubal-jubal seperti ada pertunjukan dangdut, semua ingin melihat, berebut mencari tempat paling depan. Lalu tak ketinggalan, datanglah para polisi meski agak terlambat tapi mereka dengan serta merta dapat meredam keadaan. Juga para juru tinta dan wartawan teve saling berdesakan ingin meliput berita besar yang menghebohkan kampung itu.
Pagi itu seorang warga menemukan sebujur mayat yang telah kaku di dalam rumah penyair itu. polisi dengan sok tahu mengabarkan, kalau mayat itu di perkirakan meninggal sudah seminggu lebih.
Dan penyebap kematiannya adalah bunuh diri. menilik dari posisi tubuh nya yang terlentang di lantai dan tertimbun buku-buku yang tebal serta mukanya bersimbah darah, diperkirakan korban sengaja terlentang dan tangannya yang memegangi tali itu, jelas kalau dengan seutas tali yang di ikat ke rak buku kemudian di tarik agar menimpa dirinya, dan mulutnya yang tertujam bolpoin pelikan hingga tembus kepala melewati otaknya sepertinya orang itu sengaja mengulum bolpoin itu tapi agak di cungatkan menghadap keatas, dan saat rak buku itu menerpa maka bolpoin itu menghunjam.
Semua yang menyaksikan bertanya-tanya, mayat siapakah gerangan yang membujur kaku itu?, apakah mayat itu adalah, mayat si penyair yang menghuni rumah itu, atau mayat temannya yang tiap malam datang dan berpesta di rumah itu. Semua orang binggung karena wajahnya bengkak dan tak jelas, bercak-bercak dari semburatan darah yang memacur dari tujaman bekas bolpoin itu membasuh hampir keseluruh mukanya. Tapi kata polisi, menurut dugaan sementara katanya tubuh itu adalah tubuh si penyair.
Setelah seharian ramai di jalan sepi itu, kini berganti malam. Suasananya amat mencekam. Tak ada orang kampung yang berani keluar rumah. Mereka merasa takut dengan kematian si-penyair yang mengerikan itu, mereka takut kalau-kalau mayat itu akan menjadi hantu.
Al-hasil keluarganya yang datang dari jauh karena mendapat kabar kematiannyapun pulang kembali. setelah muter-muter capek namun tak menemui yang di carinya. Karena mau menanya, tak ada satupun pintu yang terbuka.
*
suatu hari. sepuluh tahun kemudian semenjak tragedi di jalan sunyi itu. Seorang ibu marah-marah kepada anaknya dan mengancam akan melakukan bunuh diri, jika permintaannya yang berupa sebuah larangan itu tak dituruti oleh anaknya. Anak itu menangis, karena jauh dilubuk hatinya anak itu sangat menyayangi ibunya. Dan takmungkin baginya untuk melukai apalagi jika ia sampai bunuh diri. akhirnya dengan sangat terpaksa sekali, anak itu menuruti kemauan ibunya untuk tidak mengambil jurusan sastra.
Thursday, February 11, 2010 2:41:55 AM
Cerpen
MALAM terasa sangat dingin sekali, udara seakan menyusup jauh di antara jasku dan menusuk hingga tulang rusukku, dari tadi selalu ku pandangi sepanjang jalanan yang sangat lenggang sekali. Di situ hanya satu dua mobil melintas di antara tumpukan salju yang makin lama makin meninggi. Disampingku duduk menemaniku michaele seorang teman yang baru beberapa minggu kukenal. Namun nampaknya wanita muda itu sudah sangat akrap sekali padaku. Michaele menjalankan mobil dengan sangat pelan pelan sekali seakan dia ingin menunjukanku suasana kota san-farcisco di malam hari, agar dapat terlihat jelas suasana malamnya di musim itu. Berlahan-lahan kota itu, mulai tertidur, meski dari angkasa masih nampak satu dua helai salju yang turun melayang-layang seperti kapas yang di tiup angin, ditambah cahayanya kerlap kerlip lampu-lampu kota seperti kunang-kunang itu berlahan satu persatu mati, meski tak semuanya.
Dari asap rokok di tanganku yang ku nyalakan itu, tiba-tiba anganku seperti ikut bersama asap melayang ke awan tinggi. Pada akhirnya tiba-tiba aku seperti telah berada jauh di suatu tempat yang sunyi sekali, pohon-pohon tingi dan ngungun terlihat banyak sekali. Apakah ini hutan tropis di indonesia?, tanyaku dalam hati. Aku pikir aku telah tersesat sendirian di hutan ini, mataku masih berputar-putar kesana kemari di rimbun daun-daun muda yang bermekaran di mana-mana, hutan itu tampak sunyi sekali hanya cecuitan burung yang riuh di atas pohon-pohon yang menjulang tinggi-tinggi. Mataku tak henti mencari dan menyusuri jalan-jalan setapak yang membentang di depanku. Ketika tiba-tiba aku terkejut bukan kepalang. Aku menemukan sebuah tulisan pada salah satu dari sekian banyak pepohon di situ, ya tulisan namaku "AJENG", ah, sepertinya aku sangat mengenali pohon ini, tapi apakah aku yang telah membuat tulisan itu atau mungkin antonio kekasihku orang sepanyol yang baru kukenal 3 bulan itu, ya. Sekarang aku berlahan ingat tulisan itu yang membuat goresannya adalah aku. Ini adalah hutan yang terletak di samping kampungku. Tapi mengapa hutan ini sekarang seperti angker sekali. Tapi mengapa di hutan ini aku seperti tak tahu arah kemana aku dapat keluar, padahal hutan ini dulu tempat aku bermain menghabiskan masa-masa indah di tempat ini, bersama teman-temanku yang sekarang entah kemana.
Semak-semak di sebelah utara itu masih ada, di mana dulu setelah dari situ biasanya aku menyebrang sebuah parit kecil setelah melewati jalan setapak dan semak, sebelum akhirnya menuju jalan ke perkampungan. tapi mengapa jalan yang menuju parit itu sekarang seperti tak ada lagi. Semua jalan seakan berputar dan terhubung kembali kearah yang sama
.
Dan lelah juga akhirnya, Setelah aku cukup lama berputar-putar mencari jalan keluar. akhirnya aku menyerah dan pasrah. Aku coba beristirahat sebentar, kusandarkan tubuhku di bawah pohon yang bertulis namaku itu. tapi ketika aku menoleh kebelakang, seketika itu aku di buat kaget bukan kepalang, ku lihat di belakang pohon itu, banyak sekali mayat-mayat bergelimpangan, "agus, ya itu agus.teman bermainku dahulu dan itu didik temanku. sebelah rumah dan masih banyak lagi yang lainnya semuanya mukanya pucat pasi seperti sudah berminggu-minggu ia tergeletak tak bernyawa di sini. Semuanya jumlahnya sekitar dua puluhan mayat. Sekejap itu aku bangun dan menjauhkan tubuhku. Aku seperti ketakutan sekali melihatnya, lalu aku lari sekuat tenaga.menjauh dan menjauh. Seketika tiba-tiba aku tersentak kaget saat disebelahku michaele membangun tidurku. Lalu ku pandangi orang di sekeliling tempatku duduk. si-michaele, menawarkan seporsi roti mentega dengan slada dan daging di tengahnya
"hai ajeng sarapan dulu", tegurnya padaku
"kita berada di man mic",
tanyaku pelan
"di resto prancis" jawabnya. Sementara kulihat arloji menunjukan pukul 07:00 pagi waktu setempat. Tiba-tiba aku jadi ingat ibuku di kampung kecil itu. di sebuah daerah kecil di tepi hutan bima nusa tenggara barat, yaitu tempat kecil yang indah di indonesia.
********
Hari berganti dan minggupun berlalu tak terasa dua bulan telah berlalu. Musimpun telah berganti. Daun daun kini berguguran di mana-mana berserakan memenuhi tiap sudut kota dan udara terasa sangat kencang sekali. kadang aku harus cape-cape membetulkan rambut yang selalu dikibas dari yang semula rapi jadi terjuntai, lerai kemana mana. Dan suara klakson saling berjeritan sepanjang melintasi jalan-jalan kota, suasana yang kadang sangat menyewotkan ketika melintas menyisir sepanjang jalanan-jalan di sini, macet tak henti-heti, sampai-sampai aku harus menyikapi ketika hendak berangkat kekantor dengan berangkat lebih pagi. Dan pulangnya sepanjang kota san-francisco di musim gugur ini mobil seperti sekawanan rayap yang menyusup di kota yang penuh daun, setiap hari aku berkumul dengan orang-orang yang keluar dari rumah dengan keresahan yang mungkin sama denganku.
Seperti Pagi ini ketika aku bersiap-siap hendak berangkat kekantor di mana aku bekerja.
Secangkir kopi di samping masih menyemburkan uap panas dan iba-tiba aku melihat ada sehelai daun yang entah melayang dari mana. daun itu seperti daun rambutan yang sudah kering sekali, seketika itu juga anganku kembali terbang pada sebuah pohon dengan tulisan namaku AJENG itu, kali ini aku di bikin terkesima lagi saat melihat di balik pohon itu kembali, karena kulihat mayat-mayat orang itu lagi. Tapi sekarang seakan mereka bangun dan mengejarku. akupun berlari menjauh. tapi mayat-mayat itu tetap mengejarku bahkan jumplahnya makin banyak dan banyak, tangannya melambai-lambai seperti hendak menangkapku, aku pun berusaha untuk lari dan lari sebisanya. Aku betul-betul dicekam takut yang dalam jangan-jangan mereka hendak mencekik leherku. Tapi tiba-tiba dari arah depanku muncul sesosok tubuh tinggi besar seperti monster, dari tengah lebat dan rerimbunan. Mahluk itu memandangku dengan matanya yang menyala, menakutkan seperti lampu yang memancarkan sinar kemerah-merahan. Sementara dari arah belakang sana aku lihat mayat-mayat hidup itu tiba-tiba berhenti seketika mengejar. Seperti takut terhadap mahluk besar di hadapanku itu. Aku terkesiap ketika tiba-tiba tangannya yang besar dan legam dan kerasnya terayun keatas dan dengan tenaga penuh di hunjamkan ketubuhku seketika itu pula aku jadi terhenyak kaget dan terbangun saat kudengar suara klakson yang seperti memanggilku, rupa-rupanya michaele telah datang menjemput aku.
Dan akupun seketika itu segera beranjak dan pergi turut bersamanya.
Dua bulan ini aku telah dibuat tak mengerti. Mimpi-mimpi itu sering datang padaku. Jika di hitung mungkin sudah lima kali.
***+***
Wednesday, March 25, 2009 10:11:30 PM
Puisi
Hatimu itu lautan nan luas yang tak terjangkau oleh semua badi dan riak kecil
Hatimu adalah bentangan kebersahajaan dari kepekaan untuk ikhlas memahami
Hatimu adalah cinta dan safana kasih-sayang yang gemuk kambing-kambing kemaslahatan merumput
Dan hatimu juga gembala bagi butiran kebenaran yang kadang menyalak bagai anjing terluka
Tapi
Kadang pikiran dangkal melingkar pagari
Membangun tembok-tembok dokma yang fanatik dan kecil
Tanpa memberi lubang kebersahajaan dan cinta
Tanpa memberi sedikit cahaya untuk meliriknya
Pikiran kecil yang picik telah mengatup dan berkata: dia lain bangsa,lain suku,lain agama,lain kelas,lain garis dan jutaan lain yang tak pernah habis untuk di gapainya
Betapa pikiran yang kecil kita telah memenjarakan keluasan hati kita kedalam situasi tanpa cinta,kebersahajaan kita yang sesungguhnya ikhlas meneriakkan keindahan
Oh..,hati
Yang maha luas
Oh...,pikiran
Yang sempit dan dangkal
Oh...,hati dan pikiran dapatkah kamu berjalan berduaan senada cinta dan kasih
Atau malah melebarkan awan-awan kebencian yang seperti enceng-gondok di permukaan danau yang makin lama makin mengatup semua permukaan dari cinta
Aku telah membelai semua ladang ,telah menguntit semua badai
Di mana cinta di penjarakan bukan kaum tirani yang membakar ''kota roma''
Juga bukan kaum yahudi yang membombardir kota ''gaza''
Tapi pikiran kerdil manusia yang membangun kepentingannya dan kebencian yang mengikat hatinya
Mereka kadang mahir membicarakan logika
Mereka juga kadang mahir mengolah kata-kata
Kadang mereka juga mumpuni membuka ikatan langit iman dengan agama yang suci
''tapi tak banyak di antara mereka yang mampu bicara dengan hati,tentang hati, tentang cinta yang tanpa mengunci pikirannya dari semua pikiran-pikiran nan picik ''
Pernahkah kita menyayangi saudara kita yang manusia ;hanya dengan kecintaan saja,
Tanpa melihat setatus dan ketebelecenya lainnya
Oh ...,hati
Oh...,pikiran
Oh...,kita
Berjalan dalam cinta
Seiring jiwa nan iklas
Monday, January 12, 2009 1:57:54 PM
Puisi
Tables

Ada api di ujung sana, membakar tubuh-tubuh luka menyusuri kematian sepanjang gaza
Tentang mimpi yang hangus terberangus tertinggal di puing-puing
Tentang mata yang rindunya hinggap pada seorang bocah yang mencari ibu Api itu terpajang sepanjang gaza
kehidupan, yang terkunci teramputasi kepentingan seperti kaki dan tangan mereka
rona merah itu harapan, namun telah penuh darah. orang-orang israel nan srakah
apa ada cahaya, selain api yang tak mati di got-got gaza Kemanusiaan itu teraniaya yang menganiaya manusia tangannya besi. Ada ribuan bisa menyembur Ada yang terbakar
Adalah tangis terdalam yang masih sembunyi dari orang seperti ''barack obama'' Juga sumpah serapah di seluruh kolong buana Ada yang hangus ,dia adalah kemanusiaan Dan tangan-tangan mereka yang berkuasa,katakan dia yang kemarin dan hari ini mati adalah saudara kita,teman kita,dia adalah kita Ada yang hilang dia adalah suara-suara lantang seperti ahmaddinejad,dan penguasa-penguasa yang lain, yang tak kuhafal namanya satu-persatu Dimana kedamaian itu Seperti teriakan histeris ''suminten'' gadis cilacap yang di setrika tubuhnya di timur-tengah Adalah tangisan dan tulisan yang tersesat di kota pertnyaan ,apakah memang sudah tak ada lagi kemanusiaan atau telah hilang kedamaian Ada api di sudut-sudut gaza juga di jiwaku Angin kematian dan tembang kemanusiaan yang makin paruh suaranya Aku bosan.... Muak...
 |
Friday, January 9, 2009 5:22:38 AM
Cinta.1
Cinta adalah mata
Dengan cinta seseorang dapat melihat jauh tentang makna ''makna kehidupan,makna keindahan,makna kearifan dan jutaan makna''
Jika cinta itu kamu taruh di atas gunung kehidupan dengan sembulan awan permasalahan cinta akan memuntahkan lahar kedamaian yang mengalir sepanjang hulu jiwa yang memujanya.
Cinta adalah tembang,suaranya begitu agung membuka cakrawala gelap dan tembangnya adalah kehidupan.
Dengan tembangnya kita dapat mengurai semua warna karena warna adalah kamu,karena warna adalah gejolak dan kesedihan.
Cinta adalah tuhan dan dan lautan yang penuh suka-cita,dan kebencian adalah anak-anak cinta yang di tikam duka nestapa.
Menarilah selayaknya kamu menghitung kenikmatan dan semua warna yang terlahir dari rahim cinta adalah pertanda atas seperti apa kamu mewarnainya.
Ketahuilah warna adalah anak-anak pemikiran yang lahir ketika kamu memberi nama suatu keadaan.
Seperti kamu memuja wanita,jika kecantikan itu ada tentu seperti kamu menafsirkan,
Karena rasa cinta,karena kamu memujanya.
Siapakah kamu,dimana mimpi,dan semua hayalanmu jika kamu dengar tembang cinta dari kedalaman jiwamu tentu kau dekap surga senantiasa,namun jika kebencian melukisnya dengan serpihan warna cinta maka api itu adalah kepedihan dan bagimu telah kau benamkan jiwamu di neraka penderitaan.
Jika semua laut menyanyi,semua taman menemukan jiwamu tiada lagi keindahan kecuali jiwamu yang menyanyikan.
Ketika cinta itu di sembunyikan di antara buah kuldi,adam dan hawa mencarinya karena memang hidup tanpa cinta adalah kesunyian.
Andaikan jauh bumi dan langit 'lah jejaki buah cinta tiada kamu kan temui kecuali dari wanita yang melahirkan bayinya di keningnya ada buah cinta yang ranum dan dahan pepohonannya ada di surga .
Jika cinta itu tiada maka bukan karena ketiadaan yang tak mengadakan tapi kebutaan karena jiwamu yang terkunci untuk tarian kecil yang nadanya telah hilang oleh panas api keinginanmu,
Bukan cinta itu yang tidak ada tapi kecintaanmu telah berubah bahasa.semua yang kamu gali tentu karena kamu mencintainya,semua yang kamu kumpulkan tentu karena kecintaanmu dan betapa keaneka bendaan telah merajai karena memang itu warna cintamu.maka tak lagi kau dendangkan nyanyian surga tentang cinta putih dijiwa.
Oh cinta....
Kamu adalah kamu ,segala bersih tunduk dalam ikhlas,seperti bumi menyintai alam raya,seperti alam memuja penciptaan
Kamu,aku dan semu ada bukan karena materi tapi oleh cinta ,cintailah semua materi tapi hanya cinta putih yang tahtanya paling tinggi dan tak terganti.
1 2 Next »