Belajar dari Prabu Jaya-Baya (membangun kharisma dengan merangkul para Pujangga)
Friday, August 27, 2010 6:54:09 AM
Tapi jangan salah, ada pula yang dibohongi, justru senang. Anda percaya?
Permainan sulap umpamanya. Sulap adalah permainan tipuan dengan menggunakan trik kecepatan, yang artinya permainan bohong atau membohongi, kita tentu sudah tahu akan hal itu, tapi mengapa kita suka?
Barang_kali; mungkin juga anda secara diam-diam pernah berbohong, menipu seseorang? Dan dengan puasnya "kita" berlalu meninggalkan orang yang kita kibuli tersebut, sambil tertawa kecil dalam hati. Atau barang__kali secara tidak sengaja, kita pernah membohongi diri kita sendiri.
Meski dengan Kecenderungan berbohong___yang sudah kita ketahui "bahwah kita akan kalah" namun kita tidak mau jujur sportif menyerah; menerima kekalahan yang kita sendiri menyadari hal tersebut, atau dengan kata lain memaksakan diri.
Ternyata, memang betul adanya. Bahwa tak semua bohong itu adalah hal yang menyebalkan, tidak semua bohong itu selalu memercikan api kemarahan "asal" bohong tersebut menggunakan seni. Bohong yang menggunakan kearifan justru akan mengenakkan di simak.
Dalam sejarah peradapan manusia di muka bumi dan di indonesia khususnya. Banyak sekali catatan-catatan kebohongan yang tak pernah lekang oleh waktu. Yang selalu___sampai kapanpun masih enak didengar, terutama kalau kita mau menyempatkan diri menengok kedalam sejarah kerajaan-kerajaan masa lampau. Disitu banyak sekali kisah-kisah atau cerita yang sedikit menyimpang. Atau bahkan jauh sekali menyimpang dari diksi, plot dan alur cerita. Tapi, masih saja hal itu enak disimak. Penyimpangan alur sejarah atau bisa dikatakan pe-monopolian sejarah telah berlangsung cukup lama sekali. Baiklah mari kita buka sekarang satu-persatu.
KISAH KEKHARISMATIKAN JAYA-BAYA
Pernahkah anda mendengar kisah "Prabu Jaya Baya" raja besar kediri yang terkenal dengan serat "jongko-joyo boyo," kitab yang bertuliskan tentang ramalan___yang sanggup meramal apa-apa saja yang hendak terjadi di kemudian masa sebelum jaman atau masa itu kita lewati?
"saya yakin anda pasti pernah mendengar".
Dimana pada masa pemerintahan Jaya Baya, kerajaan kediri adalah merupakan kerajaan yang sangat maju sekali. Terutama dalam bidang kesusastraan-nya. Ini dapat di telesik dari banyaknya peninggalan buku-buku sastra yang lahir dari masanya. Contohnya kitab Utarakanda, Harjunasasrabahu, bharata yhuda yang bertahunkan 820-832 caka. Dalam kitab yang terakhir saya sebut tadi, yaitu kitab atau serat Bharata-yhuda banyak dikisahkan kalau raja-raja jawa diturunkan oleh trah Bharata. Terutama Prabu Jaya-baya. Dalam serat-red Jaya-baya dikisahkan adalah cucu parikesit (parikesit sendiri adalah putra tunggal Abimanyu dan Abimanyu putra seorang anggota Pandawa yang terkenal yakni Raden Harjuna) Jaya-Baya merupakan kakek dari raja Angling Dharma.
Artinya Si-Jaya Baya ini adalah keturunan pandawa (yang artinya "bohong besar" karena kitab bharata yhuda sendiri adalah salinan dari kitab Maha Barata dari India yang merupakan kitab tuntunan orang-orang hindu.
Dan yang tak kalah anehnya disini si-Jaya Baya ini, memonopoli kisah perang barata-yudha antara "Kurawa dan Pandawa" menjadi perang lokal antara "kerajaan Panjalu dan Jenggala." dimana antara panjalu dan jenggala adalah dua negara yang berasal dari pecahan negara satau yaitu kerajaan kahuripan yang oleh prabu Air Langga dipecah menjadi dua. Jadi dua kerajaan Panjalu dan Jenggala dalah dua kerajaan yang bersaudara sama persis seperti kurawa dan pendawa, yaitu hastina versus Amarta, dimana antara ayahnya kurawa dan ayahnya pandawa adalah kakak beradik yang artinya sama-sama keturunan Bharata.
Mungkin bisa saja itu sebagai nukilah dari naskah sastra yang penuh dengan pencitraan, yang sampai sekarang pun masih banyak kalangan ahli sejarah menafsirkan bahwah intervensi penulisan serat Bharata-Yhuda adalah wujut sukur atas kemenangan (kediri) panjalu atas Jenggala.
Tetapi jelas dalam hal ini, karya estafet dari empu panuluh dan empu tanaka itu terkesan mendapat intervensi dari yang mermpunyai tujuan tertentu, terutama dari penguasa waktu itu yakni Prabu Jaya Baya:red, lebih dalamnya yaitu untuk mengelabuhi kepada masarakat, yang memang masarakat pada masa itu, masarakatnya masih runtut sekali dan patuh terhadap hal-hal tahayul. Sehingga, waktu itu sepertinya kekuasaan mutlak bukan di tangan raja tapi ada ditangan para ahli kitab maka pendekatan Prabu Jaya Baya terhadap para sastrawan juga merupakan wujut nyata dari kekuasaanya dalam merangkul kaum pujangga untuk membentengi kerajaannya dari rongrongan musuh. Maka, akibat dari yang ditimbulkan oleh cerita-cerita yang dihembuskan para pujangga-pujangganya. Al-hasil masarakat jawa waktu itu sangat mengkultuskan, dan mengelu-elukan kalau Prabu Jaya Baya adalah titisan Wisnu atau Dewa yang terlahir di bumi dengan tujuan membangun peradapan yang stabil. Kemudian yang di dapati pun, betapa pesonanya menjadi luar biasa, dan menyebar jauh seantero kerajaan-kerajaan yang ada pada waktu itu.
Sehingga tokoh ini secara tidak langsung mempunyai derajat yang lebih tinggi di banding manusia biasa atau "titah" atau bahkan wibawanya melebihi raja-raja yang ada lainnya.
JALAN MOKSA DALAM KEMATIAN JAYA-BAYA
Dalam kisah yang berkembang, raja yang konon seorang mualaf ini, menempuh jalan "moksa" dalam kematiannya. Yaitu jalan mati yang tanpa meninggalkan raga (ilang tanpo krono red:bahasa jawa) hilang tanpa sebap.
Kembali ingatan saya seperti ditarik oleh sebuah ceritra wayang purwa yang berjudul "pandawa moksa" dalam kisah ini ceritanya, seusai memenangkan perang bharata yhuda para Pendawa mengikuti petunjuk krisna untuk menebus dosa dengan menempuh jalan kematian "moksa" namun dari kelima pandawa itu, hanya Yhudistira saja yang berhasil memoksakan diri dan yang lainya gagal tak mampu melalui rintangan.
Disini, seakan Jaya Baya pun memaksakan sejarah. Seakan ia berpendapat karena ia titisan Wisnu maka matinyapun harus moksa. Betapa kematian seperti itu adalah hal yang sangat tidak mungkin selain didunia fiktif, sebap manusia mempunyai dua unsur yaitu raga yang khakekatnya tanah dan jiwa yang khakekatnya roh. Keduanya dapat bersatu jika keduanya setabil. namun jika salah satu dari kedua unsur itu rusak maka lepaslah baik raga ataupun jiwa. Dengan kata lain, tak mungkin dapat bersatu lagi. Makanya, sangat jelas dan amat mustahil jika jiwa yang khakekatnya roh mampu menghapus atau mengangkat raganya yang khakekatnya kotoran itu. Karena alam jiwa adalah alam roh bukan alam materi.
Namun meski semua itu adalah kisah fiksi atau cerita rekaan namun selalu enak disimak. Cerita apa saja baik cerita panji dalam wayang ghedong. Yang isinya tentang sepenggal kisah petualangan Candrakirana yang juga lahir dari masa kerajaan kediri, cerita wayang klitik, wayang purwa atau tembang-tembang jenis moco-pat yang unik dan kita tahu serta sadar itu adalah animasi pikiran yang senantiasa asik membawa urat saraf kita kepada sebuah kearifan. kita tak perlu merasa dongkol ataupun marah bila itu semua cerita bohong. Karena semua cerita pasti mengandung sisi baik yang dibawa oleh "misi" dari cerita itu. Yang kiranya secara harafiah dapat kita petik sisi positifnya. Bahkan kalau perlu justru kita merawatnya meskipun tidak patut kita memercayai semuanya di era tekhnologi ini.
Anda setuju? Salam.












