Politik arus bawah
Sunday, January 4, 2009 7:07:36 AM
Mengapa para tokoh parpol hanya itu-itu saja ,apa yang mampu cuma dia,apa tidak ada kesempatan bagi pemula,atau negara ini milik mereka.
Pernahkah mereka ''para wakil rakyat'' mendengar kabar banyak kejadian golput di beberapa pilkada akhir-akhir ini contoh:pilkada semarang yang di menangkan golput dan mungkin banyak contoh lain lagi.sebap apa? mengapa sampai begitu?
Karena mereka itu :
1 .tidak tau wakilnya ,wakil yang mampu mewakili keluhnya,siapa-siapa dia tidak tau misinya juga tidak tau juntrung orangnya.pidatonya ,agitasi murahannya,yang sudah di kemas semanis mungkin jelas masarakat sudah pintar terhadap aksi panggung para orator.jadi bagai mana mau memilih tau juga tidak ,ya mending golput.
2.
Bisa jadi masarakat sudah muak dan jemu dengan janji palsu.milih dia palsu milih ini palsu karena kebanyakan mereka muka lama semua mending golput
3.
Mereka-mereka yang mengakar yang wajah-wajahnya makin hari makin di hafal rakyat ''suka ngeyel meski salah ,sok heroik,pernah di partai sana terus kok kesini masih jadi wakil rakyat juga. rakyat butuh yang baru yang segar.atau frustasi dan melawan dengan golput
Mestinya jika para wakil rakyat benar-benar introspeksi bahwa partai yang ia tumpangi tidak di hati rakyat,tidak membumi,dan tidak mengakar jika mereka ingin partai yang membumi mestinya mereka meggagas sebuah partai yang berasal dari bawah dan partainya di bangun oleh rakyat
Bukan ''punya banyak duit bikin partai'' tapi amanat rakyat dan betul-betul rakyat.
Bagai manakah partai yang dari bawah itu?
Kalau selama ini sebuah partai di bangun dari atas atau pusat kemudian berkembang kebawah ,ke-provinsi dan kabupaten. Sehingga par-pol tidak punya akar dan sering kita jumpai di suatu TPS dan mungkin kecamatan atau kabupaten mungkin tidak dapat suara sama-sekali dan praktik macam ini adalah orang pusat memperalat atau mencari simpati orang daerah ,jelas politik macam itu ,politik yang menguntungkan orang pusat dan orang-orang par-pol tidak pernah ada wajah baru isinya itu-itu melulu.
Jika yang terjadi ,atau kenyataan nya seperti itu jelas orang-orang borjuis dan berduit serta punya ilmu ''politik'' yang
Telah memanfaatkan kita mempertebal pundi-pundi hartanya dengan mengeruk uang negara dan ''wakil rakyat'' sebagai kedoknya .
Jika benar mereka ingin memakmurkan rakyat mestinya mereka bisa membikin undang-undang kepartaian yang di mana partai tersebut mengakar,partai yang di bangun rakyat bukan partai yang di buat para cukong dan borjuis ,partai yang ada di hati yaitu: partai arus bawah partai yang di bikin dari daerah paling bawah sebut saja kabupaten, Karena bukan tidak mungkin atau tidak bisa tereallisasi jika para dewan mau dan mencoba menerapkannya.
''Politik arus bawah''
Jadi tiap orang bisa membikin partai karena penyelenggaranya adalah daerah tingkat kabupaten yang dari hasil pemilunya memperebutkan kursi DPRD2 plus beberapa orang yang telah di seleksi lewat propertes untuk di kirim menjadi DPRD1 demikian pun kuota dprd-1 harus plus berapa orang untuk mewakili daerahnya untuk di kirim ke pusat.
Betapa efektifnya jika penyelenggara pemilu di percayakan kepada otonomi suatu daerah karena sudah pasti partai di suatu daerah akan lain dengan daerah lain.












