PANGILAN DARI LEMBAH
Thursday, February 11, 2010 2:41:55 AM
Dari asap rokok di tanganku yang ku nyalakan itu, tiba-tiba anganku seperti ikut bersama asap melayang ke awan tinggi. Pada akhirnya tiba-tiba aku seperti telah berada jauh di suatu tempat yang sunyi sekali, pohon-pohon tingi dan ngungun terlihat banyak sekali. Apakah ini hutan tropis di indonesia?, tanyaku dalam hati. Aku pikir aku telah tersesat sendirian di hutan ini, mataku masih berputar-putar kesana kemari di rimbun daun-daun muda yang bermekaran di mana-mana, hutan itu tampak sunyi sekali hanya cecuitan burung yang riuh di atas pohon-pohon yang menjulang tinggi-tinggi. Mataku tak henti mencari dan menyusuri jalan-jalan setapak yang membentang di depanku. Ketika tiba-tiba aku terkejut bukan kepalang. Aku menemukan sebuah tulisan pada salah satu dari sekian banyak pepohon di situ, ya tulisan namaku "AJENG", ah, sepertinya aku sangat mengenali pohon ini, tapi apakah aku yang telah membuat tulisan itu atau mungkin antonio kekasihku orang sepanyol yang baru kukenal 3 bulan itu, ya. Sekarang aku berlahan ingat tulisan itu yang membuat goresannya adalah aku. Ini adalah hutan yang terletak di samping kampungku. Tapi mengapa hutan ini sekarang seperti angker sekali. Tapi mengapa di hutan ini aku seperti tak tahu arah kemana aku dapat keluar, padahal hutan ini dulu tempat aku bermain menghabiskan masa-masa indah di tempat ini, bersama teman-temanku yang sekarang entah kemana.
Semak-semak di sebelah utara itu masih ada, di mana dulu setelah dari situ biasanya aku menyebrang sebuah parit kecil setelah melewati jalan setapak dan semak, sebelum akhirnya menuju jalan ke perkampungan. tapi mengapa jalan yang menuju parit itu sekarang seperti tak ada lagi. Semua jalan seakan berputar dan terhubung kembali kearah yang sama
.
Dan lelah juga akhirnya, Setelah aku cukup lama berputar-putar mencari jalan keluar. akhirnya aku menyerah dan pasrah. Aku coba beristirahat sebentar, kusandarkan tubuhku di bawah pohon yang bertulis namaku itu. tapi ketika aku menoleh kebelakang, seketika itu aku di buat kaget bukan kepalang, ku lihat di belakang pohon itu, banyak sekali mayat-mayat bergelimpangan, "agus, ya itu agus.teman bermainku dahulu dan itu didik temanku. sebelah rumah dan masih banyak lagi yang lainnya semuanya mukanya pucat pasi seperti sudah berminggu-minggu ia tergeletak tak bernyawa di sini. Semuanya jumlahnya sekitar dua puluhan mayat. Sekejap itu aku bangun dan menjauhkan tubuhku. Aku seperti ketakutan sekali melihatnya, lalu aku lari sekuat tenaga.menjauh dan menjauh. Seketika tiba-tiba aku tersentak kaget saat disebelahku michaele membangun tidurku. Lalu ku pandangi orang di sekeliling tempatku duduk. si-michaele, menawarkan seporsi roti mentega dengan slada dan daging di tengahnya
"hai ajeng sarapan dulu", tegurnya padaku
"kita berada di man mic",
tanyaku pelan
"di resto prancis" jawabnya. Sementara kulihat arloji menunjukan pukul 07:00 pagi waktu setempat. Tiba-tiba aku jadi ingat ibuku di kampung kecil itu. di sebuah daerah kecil di tepi hutan bima nusa tenggara barat, yaitu tempat kecil yang indah di indonesia.
********
Hari berganti dan minggupun berlalu tak terasa dua bulan telah berlalu. Musimpun telah berganti. Daun daun kini berguguran di mana-mana berserakan memenuhi tiap sudut kota dan udara terasa sangat kencang sekali. kadang aku harus cape-cape membetulkan rambut yang selalu dikibas dari yang semula rapi jadi terjuntai, lerai kemana mana. Dan suara klakson saling berjeritan sepanjang melintasi jalan-jalan kota, suasana yang kadang sangat menyewotkan ketika melintas menyisir sepanjang jalanan-jalan di sini, macet tak henti-heti, sampai-sampai aku harus menyikapi ketika hendak berangkat kekantor dengan berangkat lebih pagi. Dan pulangnya sepanjang kota san-francisco di musim gugur ini mobil seperti sekawanan rayap yang menyusup di kota yang penuh daun, setiap hari aku berkumul dengan orang-orang yang keluar dari rumah dengan keresahan yang mungkin sama denganku.
Seperti Pagi ini ketika aku bersiap-siap hendak berangkat kekantor di mana aku bekerja.
Secangkir kopi di samping masih menyemburkan uap panas dan iba-tiba aku melihat ada sehelai daun yang entah melayang dari mana. daun itu seperti daun rambutan yang sudah kering sekali, seketika itu juga anganku kembali terbang pada sebuah pohon dengan tulisan namaku AJENG itu, kali ini aku di bikin terkesima lagi saat melihat di balik pohon itu kembali, karena kulihat mayat-mayat orang itu lagi. Tapi sekarang seakan mereka bangun dan mengejarku. akupun berlari menjauh. tapi mayat-mayat itu tetap mengejarku bahkan jumplahnya makin banyak dan banyak, tangannya melambai-lambai seperti hendak menangkapku, aku pun berusaha untuk lari dan lari sebisanya. Aku betul-betul dicekam takut yang dalam jangan-jangan mereka hendak mencekik leherku. Tapi tiba-tiba dari arah depanku muncul sesosok tubuh tinggi besar seperti monster, dari tengah lebat dan rerimbunan. Mahluk itu memandangku dengan matanya yang menyala, menakutkan seperti lampu yang memancarkan sinar kemerah-merahan. Sementara dari arah belakang sana aku lihat mayat-mayat hidup itu tiba-tiba berhenti seketika mengejar. Seperti takut terhadap mahluk besar di hadapanku itu. Aku terkesiap ketika tiba-tiba tangannya yang besar dan legam dan kerasnya terayun keatas dan dengan tenaga penuh di hunjamkan ketubuhku seketika itu pula aku jadi terhenyak kaget dan terbangun saat kudengar suara klakson yang seperti memanggilku, rupa-rupanya michaele telah datang menjemput aku.
Dan akupun seketika itu segera beranjak dan pergi turut bersamanya.
Dua bulan ini aku telah dibuat tak mengerti. Mimpi-mimpi itu sering datang padaku. Jika di hitung mungkin sudah lima kali.












