Kematian penyair
Sunday, March 28, 2010 9:32:07 AM
Rumah di jalan sunyi itu memang kelihatan sangat suwung sekali jika di lihat dari luar, tapi jika berani melihat kedalam, apa lagi pada malam hari. Didalamnya itu sangat ramai sekali. Disana tiap malam sering ada pesta besar-besaran yang di adakan penghuninya. dan tak ada yang tahu, entah kapan pesta itu bubar. tiba-tiba saja rumah itu sudah suwung kembali. Tapi meskipun banyak misteri begitu, warga kampung banyak yang tak mau untuk meluangkan waktu dan menelesik, ada permasalahan apa yang terjadi dirumah, di jalan sunyi itu.
Rumah itu adalah rumah seorang penyair. Tapi sejauh ini, tak ada satu wargapun yang pernah melihat mukanya atau tampang si-penyair itu. Semua hanyalah kabar yang menyebar dari mulut-kemulut. Seperti di pemberitaannya, Katanya penyair itu adalah anak orang kaya-raya yang tak cocok dengan kehidupan mewah di keluarganya. Dia tak suka dengan gaya hidup ayah ibunya dan saudara-saudaranya yang selalu mengukur semua permasalahan hanya dari sudut pandang materi, seakan mereka tak akan hidup tanpa materi. Makanya dia memilih tinggal menyendiri di jalan sepi itu. menjalani hari-hari seperti seorang pertapa, berkelahi dengan imajenasi yang seperti air laut, yang tak akan pernah ada habisnya untuk di minum.
dulu penyair itu pernah juga hidup berkeluarga dan mempunyai dua orang anak. Tetapi keluarganya tak bertahan lama, konon katannya, saat dia ingin merasakan penjiwaan tentang aroma kematian. atau, mungkin karena dia ingin menulis sebuah sajak indah tentang kematian. tapi dia selalu gagal meletakkan atau menata imajenasinya. Maka ia dengan sadar menggantung istrinya yang tengah hamil tua, hingga istrinya meninggal seketika dengan mata melotot dan mulutnya menganga terbuka. Tapi itu juga hanya kabar angin yang datangnya sepotong-sepotong, jadi warga kampung juga kurang mengerti apakah ia di hukum atau tidak. Tak ada yang tahu.
Sementara dua orang anaknya diberikan ke orang tuanya, agar ia bisa lebih indah memantul kan cahaya rindunya yang seperti kabut itu kedalam sajaknya, dia sering bergumam semenjak istrinya mati dan anak-anaknya jauh
"begitu indah rindu itu dan sangat nikmat".
Orang-orang kampung yang mendengar kabar dari mulut kemulut, tentang tingkah penyair yang agak ganjil itu, akan mengtakan ia gila.
"dasar gila. Penyair gila". Itulah sebabnya, sebagaian warga kampung merasa enggan untuk tinggal di dekat tempat itu, katanya ngeri, terhadap sikap dan kelakuan aneh penyair itu.
*
pagi itu, Di jalan sunyi sangat ramai sekali, banyak orang berjubal-jubal seperti ada pertunjukan dangdut, semua ingin melihat, berebut mencari tempat paling depan. Lalu tak ketinggalan, datanglah para polisi meski agak terlambat tapi mereka dengan serta merta dapat meredam keadaan. Juga para juru tinta dan wartawan teve saling berdesakan ingin meliput berita besar yang menghebohkan kampung itu.
Pagi itu seorang warga menemukan sebujur mayat yang telah kaku di dalam rumah penyair itu. polisi dengan sok tahu mengabarkan, kalau mayat itu di perkirakan meninggal sudah seminggu lebih.
Dan penyebap kematiannya adalah bunuh diri. menilik dari posisi tubuh nya yang terlentang di lantai dan tertimbun buku-buku yang tebal serta mukanya bersimbah darah, diperkirakan korban sengaja terlentang dan tangannya yang memegangi tali itu, jelas kalau dengan seutas tali yang di ikat ke rak buku kemudian di tarik agar menimpa dirinya, dan mulutnya yang tertujam bolpoin pelikan hingga tembus kepala melewati otaknya sepertinya orang itu sengaja mengulum bolpoin itu tapi agak di cungatkan menghadap keatas, dan saat rak buku itu menerpa maka bolpoin itu menghunjam.
Semua yang menyaksikan bertanya-tanya, mayat siapakah gerangan yang membujur kaku itu?, apakah mayat itu adalah, mayat si penyair yang menghuni rumah itu, atau mayat temannya yang tiap malam datang dan berpesta di rumah itu. Semua orang binggung karena wajahnya bengkak dan tak jelas, bercak-bercak dari semburatan darah yang memacur dari tujaman bekas bolpoin itu membasuh hampir keseluruh mukanya. Tapi kata polisi, menurut dugaan sementara katanya tubuh itu adalah tubuh si penyair.
Setelah seharian ramai di jalan sepi itu, kini berganti malam. Suasananya amat mencekam. Tak ada orang kampung yang berani keluar rumah. Mereka merasa takut dengan kematian si-penyair yang mengerikan itu, mereka takut kalau-kalau mayat itu akan menjadi hantu.
Al-hasil keluarganya yang datang dari jauh karena mendapat kabar kematiannyapun pulang kembali. setelah muter-muter capek namun tak menemui yang di carinya. Karena mau menanya, tak ada satupun pintu yang terbuka.
*
suatu hari. sepuluh tahun kemudian semenjak tragedi di jalan sunyi itu. Seorang ibu marah-marah kepada anaknya dan mengancam akan melakukan bunuh diri, jika permintaannya yang berupa sebuah larangan itu tak dituruti oleh anaknya. Anak itu menangis, karena jauh dilubuk hatinya anak itu sangat menyayangi ibunya. Dan takmungkin baginya untuk melukai apalagi jika ia sampai bunuh diri. akhirnya dengan sangat terpaksa sekali, anak itu menuruti kemauan ibunya untuk tidak mengambil jurusan sastra.












