My Opera is closing 3rd of March

SHARING IS CARING

Let Sharing be My Life Style

Listrik Mati Tak Membuat Japan Lumpuh.

Pemadaman listrik bergilir yang dilakukan oleh TEPCO (PLN Jepang) sehubungan dengan penghematan listrik besar-besaran di kawasan Kanto Chiho (Tokyo, Saitama, Kanagawa, Ibaraki, Gunma, Tochigi) memang sempat membuat panik masayarakat pada awalnya. Bagaimana tidak, Jepang yang serba modern dan nyaman dengan hampir seratus persen kehidupan di dalamnya bergantung kepada listrik. Pengematan listrik dan pemadaman listrik memamng tidak nyaman bagi wilayah yang sedang terkena giliran pemadaman tersebut. Belum lagi di sebagian besar tempat dan fasilitas umum, banyak sekali dilakukan penghematan listrik di antaranya hanya menyalakan lampu neon seperlunya, eskalator dan lift di beberapa departemen store dan eki (stasiun) juga tidak dioperasikan, penerangan di gerbong kereta lebih banyak dipadamkan keculai subway sedang `ngerong` di bawah tanah, bila subway sudah melintas sesaat di atas, pasti dengan sendirinya penerangan dalam gerbong kereta pada waktu siang akan padam. Di waktu sore dan malam pun, penerangan dalam gerbong tidak menyala terang seperti biasanya.

Boleh percaya boleh tidak, semua lapisan masyarakat sangat kooperatif dan tidak larut dalam rasa sebal akibat gelap. Mereka sadar bahwa pemadaman bergilir dan penghematan listrik dilakukan untuk perbaikan sambungan listrik di Japan bagian timur yang rusak parah setelah reaktor nuklir (pembangit listriknya) terbakar. Meskipun pada hari-hari pertama pemadaman listrik dilakukan.......lilin, korek api, korek gas, senter dan lampu kecil bahkan battery semuanya terjual habis dan hilang di pasaran dengan cepat. Saya bahkan harus menunggu dua minggu untuk mendapatkan senter kecil.

Semula saya berpikir....waduh...kondisi ini kalau berlangsung terus-terusan bisa gawat.

Ternyata tidak demikian dengan kondisi nyata yang ada di lapangan dan di pasaran (baca : toko). Selang dua minggu pasca gempa dan tsunami, muncul alat bantu penarangan mulai dari senter berbagai ukura, lampu LED, lampu baca, yang sebenarnya semuanya sudah ada sejak dulu. Yang membedakan adalah : barang yang ada setelah terjaid gempa dan tsunami yang berimbas pada pemadaman listrik, lebih bervariasi dan tepatnya barang-barang tersebut muncul dengan desain multi fungsi.

Salah satu yang saya beli untuk antisipasi adalah senter solar (dengan tenaga matahari) dan dapat juga diputar dengan tenaga tangan untuk membangkitkan cahaya. jadi tak perlu lagi di-charge atau diisi battery. Sambil menunggu, sambil duduk di kereta, saya selalu memutar (ngengkol) senter solar tersebut untuk mengumpulkan energi.

Dan satu lagi yang menarik perhatian saya dan memang saya harus memilikinya adalah: SENTER MULTI FUNGSI.

Tidak menggunakan tenaga listrik, tidak menggunakan tenaga battery, cukup dengan diengkol (diputar dengan tangan) semua fasilitas di dalamnya berjalan dengan normal. SENTER MULTI FUNGSI tersebut memang unik dengan fungsinya sebagai berikut :

1) senter dengan lampu LED

2) radio AM, FM (cocok untuk mengikuti berita pasca gempa saat kita berada di luar ruangan)

3) alarm tanda bahaya

4) charger multi fungsi yang bisa digunakan oleh semua provider HP yang berlaku di Japan yaitu ; softbank, NTT Docomo, au-kdd, Tuka, oma, VGS.

Yang ingin saya garis bawahi adalah:

1) Di saat kepepet dengan cepat alat tersebut muncul untuk menolong masyarakat.

2) Dan yang lebih menggembirakan lagi, barang tersebut sangat terjangkau dan tidak dijual semata-mata untuk meraup keuntungan besar di tengah penderitaan orang lain.

4) Dalam fungsinya sebagai charger HP di saat darurat, dia sangat fleksibel bisa digunakan oleh semua jenis provider HP(catatan : setiap provider HP di Jepang memegang monopoli atas jenis HP yang dipasarkan. Misalnya : IPhone hanya bisa diisi oleh provider dari Softbank, Blackbery dimonopoli oleh NTT Docomo, dll yang semuanya sudah ada pembagian dan pemasaran yang jelas) .

Kalau banyak berita di luar Jepang mengatakan bahwa Tokyo menjadi kota mati setelah diserang gempa dan tsunami, itu adalah bohong besar. Bukti nyata, bahwa saya masih bisa memainkan nyala lilin dengan sinar yang lebih eksotik seperti yang sering saya intip dari balik lensa. Kegelapan suasana kota tak dapat membuat gelap hati kami, karena gelap berarti mati. Kegelapan pasca gempa justru memacu manusia Jepang untuk berkarya lebih, memecahkan misteri dan menjawab tantangan jaman dengan berbagai polemik yang ada.

Kesimpulan yang saya dapatkan : inovasi tak akan membuat kita (baca: situas dan kehidupan i) menjadi mati. Inovasi untuk hidup dan hidup untuk terus melakukan inovasi dengan kemampuan kita masing-masing.

Rose Garden, akhir pekan, Jumat malam angin ribut, 15 April 2011
Tulisan ditulis oleh Anis Karya Sang Pemahat, Tokyo - Jepang. http://on.fb.me/G4M34TE lol cheers love

Farhan Craft Kotagede YogyakartaKASIH IBU SEPANJANG MASA

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

February 2014
M T W T F S S
January 2014March 2014
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28