My Opera is closing 3rd of March

Jumadhil Qubro

ASyHADU ALLAA ILAAHA ILLALL@@H WA ASyHADU ANNAA MU-cHAMMADAR R@SUWLULL@@H.

BAGAIMANA MENYIKAPI kHILAF

BISMILLAAHIR ROcHMAANIR RO-cHIYM.

ALcHAFIDz IMAM ASSUYUThI (911 M) pernah menyampaikan: "Telah terjadi khilaf mengenai FURU' sejak zaman ShOHABAT RO-DhIYALLOOHUM WA AR-DhOHUM dan mereka adalah sebaik-baik umat, begitu pula dengan para IMAM TABI-'IN setelah mereka beserta para 'ULAMA, diantara mereka belum pernah ada permusuhan, belum pernah menyakiti dan belum pernah menuding yang lainnya lemah".

ASSALAAMU 'ALAYKUM WAROcHMATULLOOHI WA BAROKAATUH.

Dikalangan awam, sering terjadi masalah khilaf fiqih menjadi pemicu pembid'ahan atau hajr (pemutusan silatur@chim), NA-'UDzU BILLAAH MIN DzALIK.. Bahkan mereka menilai permasalahan khilaf (masalah yang diperselisihkan hukumnya oleh 'ulama mu'tabar) sebagai masalah kemungkaran, yang harus ditentang keras, sebagaimana menghadapi masalah-masalah yang telah disepakati kehar@mannya oleh 'ulama.

Dengan sikap demikian, sering timbul perpecahan dan saling membenci antara pengikut madzhab-madzhab yang ada, hingga terjadi bentrok fisik antara mereka, NA-'UDzUBILLAAHI MIN DzALIK.


Penilaian Para 'Ulama mengenai Perbedaab FIQH:
01.a.Alhafidz Imam Assuyuthi (911H),"Telah terjadi khilaf masalah furu' sejak zaman sh@habat R.'A., dan mereka adalah sebaik-baik ummat, begitu pula Imam Tabi-'in setelah mereka beserta Para 'Uama, salah seorang dari mereka tidak memusuhi yang lainnya, tidak menyakiti dan salah satu dari mereka tidak menuding yang lainnya salah atau tidak mampu."
b.Alhafidz Imam Assuyuthi (911H),"Ketahuilah bahwa khilaf madzhab-madzhab dalam satu millah merupakan nikmat yang besar dan kelebihan yang besar, serta memiliki rahasia yang lembut yang diketahui oleh mereka yang'Alim, akan tetapi mereka yang jahil, buta terhadapnya. Sehingga saya mendengar sebahagian orang bodoh mengatakan,"bahwa NABI Sh.'A.W. datang dengan syariat yang satu, joika demikian, darimana datangnya madzhab empat?
c.Alhafidz Imam Assuyuthi (911H),"Dan hal yang tidak kalah mengherankan adalah melebihkan satu madzhab dari madzhab yang lain, pelebihan ini menyebabkan perendahan terhadap madzhab lain, dan bisa jadi itu menyebabkan timbulnya permusuhan antar orang-orang bodoh, dan terciptalah a-sh@biyah yang didasari kebodohan. Adapun Para 'Ulama, mereka terhindar dari itu."
(lihat, Jazil Almawahib fi Ikhtilaf Almadzahib, manuskrip di perpustakaan Al-Azhar).

02. Ibnu Qudamah (620 H),"Sesungguhnya ALLOOH S.W.T. dengan rochmatNYA, kebesaranNYA, ketinggianNYA, serta dayaNYA telah menanggung, bahwa ada sekelompok dari umat iniyang selalu berada didalam alchaq (kebenaran), tidak akan membahayakan mereka, siapa saja yang mencela, hingga datang keputusan ALLOOH S.W.T. dan mereka tetap dalam kondisi yang demikian. Yang menyebabkan kelanggengan mereka adalah keberadaan 'ULAMA' mereka dan mereka menjadikan para imam dan fuqoha itu sebagai suri tauladan. ALLOOH S.W.T. menjadikan umat ini dengan para 'ULAMA'nya, seperti umat yang tidak memiliki rosul dan ALLOOH tampakkan di setiap thobaqot dari para fuqoha' imam-imam yang dijadikan suri tauladan dan semua pendapat merujuk kepadanya. Dan ALLOOH telah menjadikan para salaf dari umat ini sebagai para imam, yang di ambil dari mereka kaidah-kaidah keislaman dan dengan mereka permasalahan bisa tercerahkan. Kesepakatan mereka adalah hujjah qoth'i, sedangkan perselisihan diantara mereka adalah rochmat yang luas." (lihat, muqodimah Almughni).

03. Alchafidz Imam Adz-dzahabi (748 H) menyampaikan: "Kalau seandainya, disaat para Imam terjatuh kepada kesalahan yang dima-afkan dalam IJTIHAD mereka dan kawm bangkit melawan, membid'ahkan atau memutuskan hubungan, maka tidak akan bisa terhindar dari hal itu. Ibnu Na-shir, Ibnu Mandah atau para Imam yang berada diatas mereka, ALLOOH MAHA PEMBERI PETUNJUK hambanya kepada kebenaran, dan DIA MAHA PENGASIH dari mereka yang mengasihi, dan kami berlindung kepada ALLOOH dari hawa nafsu". (lihat Siyar Al-a'lam Annubala 14/40).

04. Ibnu Taymiyah (728 H) menukil dari Imam Achmad, bahwa seseorang telah menulis sebuah buku mengenai khilaf, maka Imam Achmad mengatakan: "Jangan dinamai dengan kitab IkHTILAF, akan tetapi namai dengan kitab ASSA-'AH (kelonggaran)". (lihat Majmu' Alfatawa 14/95).

Bahkan, para salaf rela meninggalkan madz-habnya dalam masalah-masalah MUSTAHAB, dengan demikian, ukhuwah tetap terjaga. Dalam kitab MAJMU' FATAWA, ketika berbicara masalah BASMALAH, Ibnu Taymiyah ditanya (apakah BASMALAH termasuk ayat disetiap suroh? Dan apakah Umat ISLAM perlu dijahr, karena masalah BASMALAH?). Ibnu Taymiyah menjelaskan pendapat beberapa pendapat para 'ULAMA mengenai masalah BASMALAH, beliau mengatakan: " Mustahab buat siapa saja untuk membangun hubungan baik dengan saudaranya, dengan meninggalkan 'amalan-'amalan mustahab itu. Karena maslahat membangun hubungan hati dalam agama lebih besar daripada maslahat melakukan 'amalan-'amalan tersebut".

Ingkar terhadap Masalah kHilaf adalah Sebuah Kesalahan
Para 'ULAMA membuat ka-'idah,

KISAH RAWA PENING TERULANG

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

February 2014
S M T W T F S
January 2014March 2014
1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28