SEJARAH PENYUSUNAN HADItS (edisi baru)
Friday, February 25, 2011 4:59:54 AM
ASSALAAMU 'ALAYKUM WA ROcHMATULLOOHI WA BAROKAATUH.
BISMILLAAHIR ROcHMAANIR RO-cHIYM.
Diantara Shohabat R.'Anhum, tidak semuanya bergaul dengan Nabi Sh.'A.W., ada yang sering menyertai atau ada yang hanya beberapa kali saja bertemu Nabi Sh.'A.W., oleh sebab itu, hadits yang dimiliki setiap Shohabat R.'A. itu tidak selalu sama banyaknya atau macamnya. Demikian pula ketelitiannya.
BISMILLAAHIR ROcHMAANIR RO-cHIYM.
Diantara Shohabat R.'Anhum, tidak semuanya bergaul dengan Nabi Sh.'A.W., ada yang sering menyertai atau ada yang hanya beberapa kali saja bertemu Nabi Sh.'A.W., oleh sebab itu, hadits yang dimiliki setiap Shohabat R.'A. itu tidak selalu sama banyaknya atau macamnya. Demikian pula ketelitiannya.
Sebagian orang atau kelompok meragukan otentisitas hadits, karena menganggap kitab terssebut ditulis jauh setelah meninggalnya ROSUWLULLOOH Sh.'A.W., pendapat ini persis seperti yang dilontarkan oleh para orientalis yang tidak mengetahui tradisi keilmuan dalam ISLAM.
Tulisan dibawah ini menjawab keragu-raguan tersebut, dengan harapan kaum muslimin yang berfikir jernih, tidak terpengaruh pendapat-pendapat yang menyesatkan tersebut.
Pada masa Nabi Sh.'A.W. hidup, hadits tidak ditulis dan masih berupa hafalan yang ada dibenak para Shohabat R.'Anhum. Para Shohabat R.'Anhum tidak merasa ada urgensi untuk melakukan penulisan, mengingat Nabi Sh.'A.W. masih mudah dihububungi untuk diminta keterangan-keterangan mengenai segala sesuatu.
Diantara Shohabat R.'Anhum, tidak semuanya bergaul dengan Nabi Sh.'A.W., ada yang sering menyertai atau ada yang hanya beberapa kali sajabertemu Nabi Sh.'A.W., oleh sebab itu, hadits yang dimiliki setiap Shohabat R.'A. tidak selalu sama banyaknya ataupun macamnya. Demikian pula ketelitiannya. Namun demikian, diantara para Shohabat R.'Anhum sering bertukar berita (hadits), sehingga perilaku Nabi Sh.'A.W. banyak yang diteladani, dita-ati dan dikerjakan Shohabat R.'Anhum, bahkan umat ISLAM pada umumnya pada waktu Nabi Sh.'A.W. masih hidup.
Dengan demikian, pelaksanaan hadits dikalangan umat ISLAM pada sa-at itu selalu berada dalam kendali dan pengawasan Nabi Sh.'A.W. baik secara langsung atau tidak langsung. Oleh karenanya, para Shohabat R.'Anhum tidak mudah berbuat kesalahan yang berlarut-larut. Hadits yang telah dikerjakan atau dita-ati oleh umat ISLAM dimasa Nabi Sh.'A.W. masih hidup, oleh ahli hadits ROcHMATULLOOH 'ALAYHIM (ROcH.'Alayhim) disebut sebagai Sunnah Muttaba-'ah Ma'rufah. Itulah setinggi-tinggi kekuatan kebenaran hadits.
Meski pada masa itu hadits berada pada ingatan para Shohabat R.'Anhum, namun ada Shohabat R.'Anhum yang menuliskannya untuk kepentingan catatan pribadinya (bukan untuk kepentingan umum). Diantaranya ialah: 'Abdullooh bin 'Umar bin 'Ash (dalam himpunan Ash-shodiqoh) dan 'Ali bin Abi Tholib (dalam shohifahnya mengenai hukum-hukum diyat yaitu soal denda atau ganti rugi).
Periode Periwayatan Hadits dengan Lisan dan Menjaganya dengan Hafalan (abad ke-I H)
Pada periode ini (Shohabat R.'Anhum dan Tabi-'in Roch.'Alayhim) hadits tidak dibukukan melainkan dijaga didalam hafalan dan pelaksanaan, karena Nabi Sh.'A.W. pernah melarang mereka menulis hadits-hadits Beliau Sh.'A.W. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Roch.'Alayh: "Bahwa ROSUWLULLOOH Sh.'A.W. BERSABDA: '
"Janganlah kalian menulisi dariku selain ALQUR-AN, dan barang siapa yang telah menulis sesuatu selain ALQUR-AN, maka ia harus menghapusnya". Tetapi pada sa-at penaklukan Makkah, ROSUWLULLOOH Sh.'A.W. BERSABDA dihadapan para Shohabat R.'Anhum: "Tulislah apa yang aku sampaikan untuk Abu Syah". Dan Beliau Sh.'A.W. membolehkan 'Abdullooh bin 'Amr bin Ash menulis hadits-haditsnya.
Periode Penulisan dan Pembukuan Hadits (abad ke-II H)
Dengan tersebarnya ISLAM, tersebarnya Shohabat R.'Anhum dan sebagian wafat, maka mulai terasa pentingnya pembukuan hadits. Hal ini mengilhami kHolifah 'Umar bin 'Abdul-aziz (menjabat tahun 99H - 101H) menggerakkan para 'Ulama' RO-cHIMAHULLOOH 'ALAYHIM (Roch.'Alayhim), diantaranya:
01. Abu Bakar bin Muchammad bin 'Amr bin Hazm (Qodhi Madinah).
02. Mu-chammad bin Muslim bin 'Ubaydillaah bin 'Abdullooh bin Syihab Azzuhri Almadani (Tokoh 'Ulama' Hijaz dan Syam 124 H).
Setelah kedua tokoh ini, maka mulailah banyak yang mengikuti, diantaranya: Di Makkah: Ibnu Juraij (150 H), Ibnu Ischaq (151 H); Di Yaman: Ma'mar (153 H); Di Syam: Al auza-'i (156 H); Di Madinah: Malik (179 H), Abu Arubah (156 H), Hammah bin Salamah (176 H); Di Kuffah: Syufyan Ats-tsawri (161 H); Di kHurosan: 'Abdullooh bin Mubarok (181 H); Di Wasith: Hu-syaim (188 H); Di Roy: Jarir bin 'Abdulchamid (188 H). Mereka juga menulis a-tsar Shohabat R.'Anhum dan Tabi-'in Roch.'Alayhim.
Kitab-kitab hadits yang masyhur sa-at itu adalah: Mu-shonnaf oleh Syu'bah bin Alhajjaj (160 H), Mu-shonnaf oleh Al-laits bin Sa-'ad (175 H), Almuwath-tho' oleh Malik bin Anas Almadani, Imam Darul Hijroh (179 H), Mu-shonnaf oleh Syufyan bin Uyaynah (198 H), Almusnad oleh Asy-syafi-'i (204 H) dan Jami' Al-imam oleh 'Abdurrozaq bin Hammam Ash Shon'ani (211 H).
Periode Penyaringan Hadits dari Perkataan para Shohabat R.'Anhum dan Tabi-'in Roch.'Alayhim (abad ke-III H)
Yaitu tidak ditulis, kecuali hadits-hadits Nabi Sh.'A.W. saja, sehingga mulai disusun kitab-kitab musnad yang bersih dari fatwa-fatwa, seperti musnad Imam Achmad bin Hanbal. Walaupun demikian, masih tercampur dengan hadits-hadits dho-'if bahkan mawdhu', sehingga pada pertengahan abad ke-III, para 'Ulama' membuat kaidah-kaidah dan syarat-syarat hadits shohih. Sehingga muncul ide-ide untuk mengumpulkan yang shohih-shohih saja yang dipelopori oleh Imam Mu-chammad bin Isma-'ilbin Ibrohim bin Bardizbah Albu-khori (Imam Bu-khori) dengan karyanya Jami-'ush Shohih dan disusul oleh muridnya, Imam Muslim bin Hajjaj bin Muslim Alqu-shoyri An-naysaburi (Imam Muslim), sehingga pada abad ke-III merupakan abad keemasan bagi hadits dengan munculnya para ahli hadits terkemuka dan disusunnya kutubus sittah (6 kumpulan hadits) yang memuat hampir seluruh hadits-hadits shohih.
Diantara kitab-kitab hadits yang tersusun: Mu-shonnaf Sa-'id bin Manshur (227 H), Mu-shonnaf Ibnu Abi Syaybah (235 H), Musnad Imam Achmad bin Hanbal, Shohih Albu-khori (251 H), Shohih Muslim (261 H), Sunan Abu Dawud (273 H), Sunan Ibnu Majah (273 H), Sunan Attirmi-dzi (279 H), Sunan Annasa-'i (303 H), Almuntaqo Fil Ahkam Ibnu Jarud (307 H), Tandzibul A-tsar Ibnu Jarir Ath-thobari (310 H).
Periode Penyempurnaan (abad ke-IV H)
Yaitu pemisahan antara 'Ulama mutaqoddimin (salaf) yang metode mereka adalah berusaha sendiri dalam meneliti perawi, menghafal hadits sendiri serta menyelidiki sendiri sampaipada tingkat Shohabat dan Tabi-'in. Sedangkan 'Ulama muta-'akhirin (kholaf) ciri mereka dalam menyusun karyanya adalah dengan menukil dari kitab-kitab yang telah disusun oleh salaf, menambahkan, mengkritik dan mensyarohnya (memberi ulasan mengenai isi hadits-hadits tersebut.
Kitab-kitab hadits yang termasyhur pada abad ini diantaranya adalah: Shohih Ibnu kHuzaimah (311 H), Shohih Abu Awwanah (316 H), Shohih Ibnu Hibban (354 H), Mu'jamul Kabir, Awsath dan Shoghir oleh Ath-thobroni (360 H), Sunan Daroquthni (385 H).
Periode Klasifikasi dan Sistemisasi Penyusunan Kitab-kitab Hadits (abad ke-V H)
Yaitu dengan menklasifikasikan hadits, cara pengumpulan, kandungan dan tema yang sama. Juga mensyaroh dan meringkas kitab-kitab hadits hukum: Sunanul Qubro oleh Albaychaqi (384 H - 458 H); Muntaqol Akhbar oleh Majduddin Alharroni (652 H); Bulughulmarom Min Adillatil Ahkam oleh Ibnu Hajar Al-asqolani (852 H).
Dan berbagai kitab Targhib Wa Tarhib (kitab yang berisi berbagai chal untuk menggemarkan dalam ber'ibadah dan mengancam buat yang melalaikan 'ibadah), yaitu: Attarghib Wa Tarhib oleh Imam Almundziri (656 H); Riyadhush Sholihin oleh Imam Annawawi (767 H).
Demikianlah periodesasi penyusunan hadits untuk diketahui, agar kawm muslimin tidak terpengaruh dengan pendapat kelompok yang berusaha menafikkan adanya hadits.
Atas pentingnya 'ilmu ini, marilah kita NIAT didalam HATI (mengerjakan dan menyampaikan serta mengajak orang lain buat mengerjakan dan menyampaikan) dengan LILLAAHI TA-'AALAA, INSyAA ALLOOH, AAMIN.
Akhirul kalam.
BILLAAHIT TAWFIQ WAL HIDAYAH WAR RIDhO WAL INAYAH.
WASSALAAMU 'ALAYKUM WA ROcHMATULLOOHI WA BAROKAATUH.










