Indonesia Tuan Rumah Forum Ekonomi Islam Dunia
Tuesday, March 3, 2009 10:13:04 AM
Indonesia menjadi tuan rumah Forum Ekonomi Islam Dunia (World Islamic Economic Forum/WIEF) ke-5 yang diselenggarakan di Jakarta 1-4 maret 2009.
Menurut Waki Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang juga Ketua Panitia Pengarah (Steering Committee) WIEF ke-5, Irman Gusman, di gedung DPD di Senayan Jakarta, Jumat [27/02] , forum kali ini bertema “Food and Energy Security and Stemming The Tide Of Global Financial Crisis?”
Proyek-proyek yang terdaftar di 12 provinsi dipromosikan selama WIEF ke-5, sedangkan fokus pembahasan WIEF ke-5 adalah ketahanan pangan dan energi serta upaya mengatasi krisis keuangan global berbasis “bottom line business”.
Menurut rencana, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka acara tersebut.
Negara-negara di Kawasan Timur Tengah memiliki dana surplus 1,5 triliun dolar AS yang ditampung melalui fasilitas pendanaan bernama Sovereign Wealth Funds (SWF) atau Sovereign Welfare Fund (SWF). “SWF menjadi lembaga keuangan yang dimiliki negara untuk menjadi instrumen investasi di luar negeri,” kata Irman. Negara-negara lain, seperti Singapura, Malaysia, dan China juga membentuk fasilitas pendanaan seperti SWF.
Indonesia dianjurkan memanfaatkan dana lembaga ini untuk menyangga gejolak ekonomi dunia dengan mengajak pemilik dana surplus yang didominasi dari Kawasan Timur Tengah untuk berinvestasi di Indonesia.
Saat ini, kata Irman, China, India, dan Timur Tengah telah mengatasi krisis ekonomi global. Dengan menghubungkan China, Indonesia, India, dan Timur Tengah sebagai raksasa ekonomi dunia yang baru, berarti menghidupkan kembali “jalan sutera”.
Selain pangan dan energi sebagai masalah utama, WIEF ke-5 juga membahas masalah teknologi, bisnis, usaha kecil dan menengah serta perbankan. Bidang yang dikerjasamakan mencakup investasi pertanian, energi, transportasi, keuangan, perbankan, kesehatan, dan ilmu pengetahuan teknologi.
Sebagai negara Islam terbesar di dunia, Indonesia berharap ada saling ketergantungan ekonomi di antara negara Islam yang berpopulasi 1/5 penduduk dunia dengan membuka jalan bagi kemajuan bersama. Apalagi, beberapa tahun terakhir kecenderungan pedagangan dan investasi yang meningkat dapat menjadi alasan negara-negara Islam berperan lebih penting dalam pasar global.
Sejumlah kepala negara dan pemerintahan negara-negara Islam akan menghadiri WIEF ke-5, di antaranya Arab Saudi, Yaman, Oman, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Irak, Kuwait, Jordania, Malaysia dan Senegal.
Pemimpin negara-negara non-Islam seperti Rusia, Swedia, Inggris dan China serta pemimpin usaha yang tertarik menangkap peluang investasi juga akan hadir dalam forum ini.
WIEF adalah satu-satunya wadah kepala pemerintahan dan pemimpin usaha dari negara-negara Islam untuk membicarakan topik penting dan strategis bagi kepentingan umat di seluruh dunia.
WIEF ke-4 di Kuwait City, Kuwait, 28 April-1 Mei 2008, bertema “Negara-negara Islam sebagai Mitra dalam Pembangunan Global.”
Waktu itu, delegasi Indonesia dipimpin Wakil Ketua DPD, Irman Gusman, sekaligus mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Rombongan delegasi Indonesia berjumlah 70 orang, antara lain, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan Djalil, Utusan Khusus Pemerintah Bidang Timur Tengah Alwi Shihab, Sekretaris Jenderal DPD Siti Nurbaya, anggota Dewan International Advisory Panel WIEF Tanri Abeng, dan sejumlah direksi BUMN dan perusahaan swasta nasional.
Berbagai Proyek Di 12 Provinsi
Indonesia menawarkan kerjasama penanganan proyek pembangunan di 12 provinsi dalam Forum Ekonomi Islam Dunia (World Islamic Economic Forum/WIEF) ke-5 yang penyelenggaraannya di Jakarta pada 1-4 Maret 2009.
Menurut Waki Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang juga Ketua Panitia Pengarah (Steering Committee) WIEF ke-5 Irman Gusman di Gedung DPD di Senayan Jakarta, Jumat [27/02]
proyek yang dipromosikan selama WIEF ke-5 berlokasi di Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara serta Bali dan Papua.
Di Jawa Barat, proyek yang ditawarkan, antara lain, pembangunan bandar udara internasional dan Kertajati Aerocity, jalan tol Soreang-Pasir Koja, jalan tol Cileunyi-Sumedang- Dawuan, pusat niaga daging, jalur rel ganda Cicalengka-Tanjungsari-Kertajati, air bersih di Kabupaten Bekasi dan air bersih di Kota Bekasi.
Air bersih di Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Bandung, Kabupaten Karawang, Kabupaten Sukabumi, pabrik pengolahan surimi dan jeli ikan, minyak vertiver, perkebunan teh dan pabrik pengolah teh hijau, area agrowisata (restoran, cottage, factory outlet, tea corner) di Pantai Patimban, pabrik pupuk organik serta pembangkit listrik minihidro di Cisadea.
Di Banten, proyek jalan tol Cilegon-Bojonegoro, pelabuhan laut internasional Bojonegoro, Banten Selatan Airtrip dan resort pariwisata, jalan tol Serang-Panimbang, terminal terpadu supertransit di Bojonegara, energi panas bumi, industri pengapit, industri pengolahan ganggang laut.
Di Jawa Timur, proyek pengolahan tepung dari ketela pohon, pelabuhan laut Tanjung Bulupandan, pengolahan limbah, industri marmer granit, geotermal.
Di Kepulauan Riau, proyek West Point Maritime Integrated Industrial Park, Teluk Lagoi, Bintan Resort, Bintan Island, jembatan Batam-Bintan dan terminal feri internasional Tanjung Tiram-Pongkar-Karimun.
Di Sumatera Barat, proyek Bank Syariah Bukittinggi, Mandeh Tourism Resort, Danau Kembar, jaringan kabel mobile di Kabupaten Agam, area penanaman sayur organik serta area Gambir Marketing.
Di Sumatera Selatan, proyek jaringan jalan Stasiun Simpang-Tanjung Api-Api, pelabuhan laut internasional terpadu Tanjung Api-Api, jalan Palembang?Betung-Indralaya, terminal rel kontener di Musi Rawas dan di Martapura; pembangkit listrik batubara, gas serta energi baru lainnya, pabrik pengolahan biofuel, analisa dan feasibility study pengembangan Coalbed Methane (CBM), industri hilir produk karet alam, industri hilir produk minyak palem dan daerah tujuan wisata.
Di Kalimantan Timur, proyek pembangkit listrik hidro Kutai Kertanegara, jembatan Teluk Balikpapan, jalan Balikpapan-Samarinda-Bontang, bendungan Lambakan, jalan dan terminal batubara, pelabuhan internasional terpadu Maloy serta industri pengalengan nanas.
Di Sulawesi Utara, proyek pabrik semen. Sedangkan di Sulawesi Tengah, proyek pelabuhan udara Bubung, pelabuhan perikanan Donggala, budidaya ganggang laut di Kabupaten Banggai Kepulauan, industri bubuk coklat di Kabupaten Palu, pembangkit tenaga listrik, penggemukan sapi dan pengolahan susu rendah lemak serta pariwisata.
Di Sulawesi Selatan, proyek pelabuhan baru Makassar, jaringan rel Makassar-Parepare, pelabuhan perikanan baru di Untia, kompleks pusat niaga Centrepoint, pabrik pengolahan karet, Kawasan Industri Makassar II, industri pengolah ganggang laut, penggemukan sapi dan pengolahan susu serta resort pariwisata pulau sekitar Teluk Kota Makassar.
Di Sulawesi Tenggara, sentra industri pengolahan ganggang laut dan agar-agar, penggemukan sapi, lahan pertanian dan pabrik coklat. Sedangkan di Bali, proyek jalan Serangan-Tanjung Benoa dan proyek makanan dan energi terpadu di Merauke (Papua Barat).
Agenda WIEF ke-5
WIEF ke-5 diawali preforum pada 1 Maret 2009, yaitu Forum Pengusaha Wanita bertema “Pengusaha Wanita: Memacu Ke Arah Masa Depan yang Lebih Baik” dan Forum Pengusaha Muda bertema “Merencanakan Arah: Memajukan Bisnis dan Keuangan Islam. Selain tu, pameran juga meramaikan WIEF ke-5.
Selanjutnya, agenda pada 2-3 Maret 2009 adalah Rapat Kepemimpinan, Solusi Inovatif untuk Menjawab Tantangan Global, Pertemuan Para Perdana Menteri/Presiden serta Rancangan Economi dan Bisinis Global untuk Dekade Berikutnya.
Sidang paripurna WIEF ke-5 bertema Peranan Bisnis dalam Menjamin Masa Depan Generasi Muda, Dalam Kelangkaan Melewati Kelangkaan, Mengatasi Krisis Pangan Global, Penghijauan Lingkungan, Menciptakan Masa Depan Dengan Energi Ramah Lingkungan, Mengubah Menjadi Kesuksesan Internasional, Mengatasi Krisis Ekonomi Global dan UKM Global, Business Beyond Boundaries. Sidang paripurna diselingi sesi jaringan kerja (network sessions) oleh grup maupun individu.
WIEF ke-5 diakhiri postforum pada 4 Maret 2009, yaitu Perdagangan, Pariwisata dan Investasi Daerah (Regional Trade, Tourism, and Investment RTTI) bertema Indonesia Sebagai Fokus, Penanaman Modal Daerah, Investasi Pariwisata dan Perbankan Syariah.
Sedangkan sesi paralelnya adalah proyek investasi infrastuktur minyak dan gas, pertambangan, pertanian, perikanan, pariwisata dan perbankan di daerah-daerah. Tak ketinggalan, wisata kota (city tours) dan kunjungan lapangan (fields trips) ke tempat wisata dan bisnis di Jakarta, Bogor, Bandung, Banten, Yogyakarta serta beberapa daerah di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan Timur, Sulawesi dan Papua. ( ant )







