Skip navigation.

Kasmui's Ideas (Percikan Permenunganku)

Semoga Allah menjadikan kita mampu meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Mampu mencari aqidah yang lurus hanya kepada Allah SWT. dan mampu mengorbankan yang selain Allah SWT demi mendapatkan ridlo Allah SWT

Paket Program Herbal

Untuk membantu saudara-saudara yang membutuhkan informasi ttg herbal, saya telah menyusun paket program komputer ttg herbal dengan format html. Bagi yg membutuhkan silahkan hubungi saya untuk pengiriman CD Paket Program Herbal.

Menjual Agama dengan Harga Murah

Satu pernyataan yang banyak kenyataan. Seseorang atau komunitas yang menggunakan nama agama untuk kepentingan duniawiyah. Entah dengan cara yang kelihatan berbentuk amaliah ataupun tampak penipuan. Sebagai contoh ada yayasan yatim piatu atau yayasan anak asuh fiktif yang mencari dana katanya untuk membantu yatim piatu atau anak asuh kurang mampu. Dia hanya sebagai broker saja, mengumpulkan uang dari para dermawan kemudian dia bagikan/gunakan entah kemana tanpa pertanggungjawaban yang jelas, karena pada umumnya para penderma tidak perduli uangnya/shodaqohnya disalurkan dengan cara yang benar atau tidak. Atau juga dengan kegiatan lain yang mengatasnamakan 'membantu perkembangan dakwah/syiar Islam' tetapi dengan cara meminta-minta derma dari orang atau lembaga, kemudian dia kumpulkan uangnya dan dia gunakan terserah dia. Tanpa pertanggungjawaban yang jelas.

Menyedihkan memang dalam umat ini ...."banyak musang berbulu sapi".

Alhamdulillah, selesai

Alhamdulillah, di awal tahun 2008 saya selesai memegang amanah jabatan sebagai Kepala Laboratorium Kimia FMIPA UNNES. Lego atiku, sebab jalan ke depan lebih lapang, insya Allah. Banyak pekerjaan yang selama ini tertunda, mudah-mudahan bisa di-handle lagi.

File BEKAM

Assalamu 'Alaikum Wr. Wb.
Karena banyak ikhwan yang membutuhkan informasi tentang Thibbun Nabawi, khususnya Hijamah (Bekam), Ruqyah dan Herbal, maka saya telah upload file ringkasan dari draft buku yang telah saya susun. Silahkan bagi yang membutuhkannya dapat download di: http://my.opera.com/Kasmui/files/
Assalamu 'Alaikum Wr. Wb.

IDUL ADHA 1428 H. DAN PROBLEMATIKANYA, KONTROVERSI DZUL HIJJAH 1428 H. SAUDI ARABIA

Oleh : Ibnu Zahid Abdo el-Moeid

21 Desember 2007

Dalam menetapkann 1 Dzul hijjah 1428 H. Kerajaan Saudi mengacu pada keputusan Majelis Qadha' Al-A'la (Mahkamah Agung) Saudi Arabia. Keputusan Mahkamah agung Saudi Arabia itu berdasarkan laporan beberapa orang yang menyatakan melihat hilal pada hari Ahad sore 30 Dzul Qo'dah 1428 H./ 9 Desember 2007 M. Keputusan Majelis Qadha' Al-A'la ini bisa dilihat di situs departemen penerangan kerajaan Saudi Arabia; http://www.spa. gov.sa/details. php?id=507991



Yang menjadi persoalan di sini adalah dasar rukyat yang menjadi acuan keputusan tersebut. Karena secara ilmiah pada hari Ahad 9 Desember 2007 di Makkah Al-Mukarromah matahari terbenam pada jam 17:41:16 WSA, sedangkan bulan terbenam pada jam 17:15:12 WSA. Jadi bulan terbenam 26 menit sebelum matahari terbenam. Tinggi bulan pada saat maghrib di Makkah adalah -4° 50' yakni masih dibawah horison/ufuk. Ijtimak baru terjadi pada pukul 20:41 WSA.



Perhitungan hisab dibangun berdasarkan pengamatan estafet 500 tahun lebih dengan beberapa kali mengalami koreksi sehingga menghasilkan algoritma yang akurat, dengan toleransi kesalahan yang semakin rendah. Ini terbukti dengan akurasinya dalam memprediksi gerhana, baik bulan maupun matahari dengan kesalahan perhitungan tidak lebih dari 2 menit. Keakurasian hisab ini penulis buktikan sendiri ketika gerhana matahari total 11 Juni 1983. Kemudian 18 maret 1988, 11 September 1988, 24 Oktober 1995, 22 Agustus 1998, 16 Februari 1999, Kemudian gerhana 11 Juni 2002 walaupun terlihat akhirnya saja. Kemudian 04 Desember 2002 serta puluhan kali gerhana bulan. Bahkan sejak tahun 2000 M. beberapa kali gerhana bulan terdokumen dalam rekaman video.



Yang menjadi pertanyaan : "Benarkah hari Ahad sore 30 Dzul Qo'dah 1428 H./ 9 Desember 2007 M. Hilal bisa dilihat dari wilayah Saudi?".



Mungkinkah perhitungan hisab yang semakin akurat, teranulir oleh kesaksian rukyat hilal di wilayah Saudi Arabia, sementara wilayah yang lainnya dengan bantuan teleskop dan peralatan yang memadai tidak berhasil melihat hilal?.



Pertanyaan ini perlu diajukan, karena secara ilmiah, kedudukan bulan pada hari itu masih dibawah horison. Asumsi ahli hisab ini diperkuat dengan observasi dari ahli hisab yang tergabung dengan ICOP (Islamic Crescent' Observation Project) yang melakukan rukyat hilal satu hari berikutnya yakni pada hari Senin 10 Desember 2007. Dari anggota ICOP yang tersebar di seluruh dunia tidak ada yang berhasil melihat hilal kecuali Tanzania dan Afrika Selatan yang berhasil melihat hilal dengan bantuan teleskop binocular.



Mestinya kalau hilal benar-benar terlihat di Saudi pada hari Ahad malam Senin 9 Desember 2007 maka malam Selasa, 10 Desember 2007 adalah malam kedua dan tentunya ketinggian hilal lebih dari 12 derajat. Dengan ketinggian hilal diatas 12 derajat tentu hilal mudah dilihat walupun dengan mata telanjang, tapi kenyataannya hilal hanya terlihat di benua Afrika, itupun dengan menggunakan teleskop, bukan dengan mata telanjang seperti di Saudi Arabia. Walaupun tinggi hilal pada hari Senin secara hisab 05° 08' akan tetapi relatif silau untuk bisa diamati dengan mata telanjang karena elongasi bulan dengan matahri yang hanya 4° dengan iluminasi hilal 0,6%.



Kalau memang saksi yang melihat hilal di Saudi itu bisa dipercaya maka kemungkinan besar obyek yang terlihat itu bukan hilal yang menjadi bagian dari bulan/qomar, akan tetapi potongan awan yang terbias oleh sinar matahari sehingga membentuk seperti hilal. Karena terobsesi oleh keinginannya yang tinggi untuk melihat hilal, akhirnya terhalusinasi oleh potongan awan dan menyimpulkannya sebagai hilal.



Kontroversi awal bulan Hujriah di Saudi tidaklah sekali ini, dalam catatan sejarah puluhan kali Saudi menetapkan awal bulan berdasarkan rukyat yang salah secara ilmiah. Seperti keputusan Saudi atas 1 Romadlon 1403 H. yang jatuh pada hari Sabtu 11 Juni 1983 dengan berdasarkan kesaksian rukyat hilal pada hari Jum'at malam Sabtu 10 Juni 1983.

Pada malam Sabtu matahari terbenam pada pukul 19:05 WSA dan bulan terbenam pada pukul 18:22 WSA jadi hilal terbenam 43 menit sebelum matahari terbenam. Tinggi hilal pada saat maghrib -8° 53' alias jauh dibawah ufuq.



Kesalahan rukyat Saudi itu terbukti dengan terjadinya gerhana matahari total di Indonesia esok harinya pada pukul 09:55-13:17 WIB. Kita semua tahu bahwa gerhana adalah proses ijtimak bulan, matahari dan bumi. Gerhana matahari terjadi karena sinar matahari tertutup oleh bulan pada saat ijtimak/konjungsi. Lalu hilal yang terlihat di Saudi pada malam Sabtu itu hilal yang mana. Sementara ijtimak baru terjadi esok harinya dengan bukti terjadinya gerhana matahari di wilayah Indonesia.





HISAB VERSUS RUKYAT



Hilal atau bulan bukanlah sesuatu yang ghaib dan beredarnya juga tidak serampangan, bulan beredar dengan teratur didalam garis edarnya dan tidak meloncat kesana-kemari.

Firman Allah dalam Al-Qur'an :



t�yJs)ø9$#ur çm»tRö‘£‰s% tAΗ$oYtB 4Ó®Lym yŠ$tã Èbqã_ó�ãèø9$%x. ÉOƒÏ‰s)ø9$# (39) Ÿw ß§ôJ¤±9$# ÓÈöt7.^tƒ !$olm; br& x8Í‘ô‰è? t�yJs)ø9$# Ÿwur ã@ø‹©9$# ß,Î/$y™ Í‘$pk¨]9$# 4 @@ä.ur ’Îû ;7n=sù šcqßst7ó¡o„ (40)

Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yaasin 39-40)



Dalam ayat lain disebutkan :

ß§ôJ¤±9$# ã�yJs)ø9$#ur 5b$t7ó¡çt¿2 (الرحمن 5)

Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (Al-Rochman 5)



Kesalahan dalam menyimpulkan hilal itu tidak hanya terjadi di Saudi Arabia saja. Halusinasi hilal, beberapa kali mewarnai rukyat di tanah air. Awal Syawal 1428 H. yang barusan berlalu, tim rukyat dari AL-FITHROH Surabaya mengklaim melihat hilal di pantai Metenteng/Petenteng Bangkalan. Menurut hisab tinggi hilal saat maghrib 11 Oktober 2007 M. Dari markas tersebut -0° 27' alias piringan bagian bawah bulan sudah dibawah ufuq. Klaim ini terbantah, karena esoknya tanggal 12 Oktober 2007 tim rukyat NU Gresik berhasil melihat hilal dan terrekam dengan kamer digital. Hilal teramati sekitar pukul 17:31 akan tetapi belum sempat mencatatnya. Data hilal baru bisa dicatat pada pukul 17:33:03 WIB ( 8 menit 30 detik setelah maghrib) posisi hilal saat itu, Azimut 254° 38' 53" Tinggi dari zenit 82° 04' 40" atau 7° 55' 20" dari ufuk haqiqi (bukan ufuk mar'i). Dengan tinggi hilal tersbut maka satu hari sebelumnya berarti hilal masih dibawah ufuk.



Kenapa hasil rukyat sering kali berbeda dengan perhitungan hisab?.

Rukyat yang cermat tidaklah akan berbeda dengan hisab yang akurat. Akan tetapi kenyataan dilapangan, pelaku rukyat yang cermat tidak lebih dari 10%. Berbedanya rukyat dengan hisab karena kenyataan dilapangan, rukyat dilakukan dengan 'asal rukyat' yakni tidak didukung dengan alat-alat pendukung yang memadai, misalnya jam, alat ukur ketinggian dan azimut, ini mengakibatkan rukyat tidak fokus ke sasaran sehingga pandangan kemana-mana, sehingga awanpun dianggap hilal.



Bagaimana dengan hadits berikut ini?.



جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا (سنن أبو داود 1993, سنن الترمذي 627,مسند أحمد 188, سنن الدارمي 1745)

Seorang badui (orang pedalaman) datang menghadap Nabi kemudian berkata: "Saya telah melihat hilal" maka nabi bertanya "Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah?". Maka badui menjawab, "Ia". Kemudian nabi memerintah sahabat Bilal untuk memberitahukan kepada umat untuk berpuasa esok harinya.



Pada saat itu tingkat kebohongan seseorang cukup rendah sehingga dalam mengukur Al-Adalah seseorang, Nabi hanya mempertanyakan aqidah orang tersebut, Iman atau tidak?. Karena pada saat itu iman terhadap Allah serta rosulnya sudah cukup dijadikan dalil kredibelnya seseorang.



Dalam rana fiqh yang ada sa’at ini, syarat untuk bisa diterima kesaksiannya dalam melihat hilal hanyalah Al-Adalah (Kredibel). Syarat tunggal ini mengakibatkan banyaknya kasus rukyat hilal tidak bisa diterima kalangan cendikiawan karena tidak adanya bukti empirik yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Pada saat ini tingkat kebohongan seseorang cukup tinggi dibanding pada zaman Nabi. Menganggap seseorang itu adil tidak cukup untuk dijadikan patokan untuk menerima mentah-mentah hasil rukyatnya. Jika kesaksiannya tidak sesuai dengan sains maka wajib ditolak.



Contoh : Klaim seseorang yang telah melihat hilal, padahal menurut hisab hilal jauh dibawah ufuk.

Atau melihat hilal di ufuk timur. Walaupun secara tekstual syarat-syarat itu tidak ada didalam hadits, tetapi sudah menjadi sunnatullah bahwa hilal akhir bulan, posisinya tidak di ufuk timur, akan tetapi di ufuk barat. Siapapun orangnya kesaksian tersebut tidak bisa diterima, karena tidak bisa dinalar dengan akal sehat. Al-Qur'an dan Al-Hadits tidak mungkin bertolak belakang dengan sains dan teknologi.





PUASA ARAFAT



Ketentuan awal bulan, termasuk bulan Dzul Hijjah menurut Islam adalah terlihatnya hilal/crescent, bukan munculnya planet maupun bintang. Firman Allah dalam Al-Qur'an :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ 3 (البقرة 189)

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji" (Al-Baqoroh 189).



Rosululloh bersabda :

عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا (سنن أبي داود)



Rasulullah saw. telah berpesan kepada kami agar kami menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilal Dzulhijjah). Jika kami tidak bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya) , maka kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka. (HR Abu Dawud)

رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ ، وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّونَ ، وَعَرَفَتُكُمْ يَوْمَ تَعْرِفُونَ.(الكساني فى بدائع الصنائع فى ترتيب الشرائع, 4/374),( تبيين الحقائق, 5/172),(فتح القدير,6/209)

"Puasa kalian adalah hari di mana kalian berpuasa, Idul Adha kalian hari di mana kalian beridul Adha dan 'Arafah kalian hari di mana orang wukuf di 'Arafah.", (Bada'i' as-Shana'i' [juz 4: No.374]; Tabyinul Haqooiq [juz 5: No. 172]; Fathul Qodir [Juz 6, no. 209])

Ijmak ulama sepakat bahwa penentuan awal bulan hijriyah termasuk bulan Dzul Hijjah adalah dengan adanya hilal seperti termaktub dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits. Kita semua juga sepakat bahwa hari Arafah adalah ketika jama'ah haji melakukan wuquf di Arafah yakni tangal 9 Dzul Hijjah seperti tersirat dalam hadits fi'liyah nabi yang ketika melakukan wuquf di Arafah adalah tanggal 9 Dzul Hijjah



Bagaimana kalau jamaah haji wuquf di Arafah tidak pada tanggal 9 Dzul Hijjah?. Misalnya wuquf di Arafah pada tanggal 7 Dzul Hijjah.



Maksud dari hadits diatas tidaklah bisa disederhanakan dengan "Puasa Arafah adalah ketika jamaah haji wuquf di padang Arafah", dengan tanpa mengindahkan tanggal hijriyah secara syar'i.



Karena keadaan bumi yang bundar maka penentuan awal bulan, termasuk bulan Dzul Hijjah adalah sesuai dengan mathla'nya masing-masing. Jadi bukan karena posisi jamaah haji saat di padang Arafah, karena kalaupun kita mengacu pada saat jama'ah haji di padang Arafah, pada kenyataannya kalau posisi kita berada di Hawai maka saat kita mulai berpuasa, jamaah haji mulai meninggalkan padang Arafah.



Misalnya kita mengikuti ketetapan Saudi, maka waktu wuquf di Arafah adalah hari Selasa, tanggal 18 Desember 2007. Itu berarti mulai jam 12:22 WSA (awal waktu dhuhur) sampai tengah malam waktu Saudi yakni jam 23:39 WSA. Kemudian pada saat jamaah haji memasuki padang Arafah, di Hawai hari Senin jam 23:22 kemudian pada saat umat islam di Hawai mulai puasa Arafah jakni jam 06:26, jam di Saudi menunjukkan jam 19:26 WSA dan jamaah haji mulai meninggalkan Arafah, jadi saa't umat islam di Hawai masih menjalankan ibadah puasa, jamaah haji sudah meninggalkan padang Arafah.





KOMITE HILAL



Diantara tempat-tempat ibadah milik umat islam sebagian besar berada di wilayah Saudi Arabia . Kesalahan kebijakan pemerintah Saudi Arabia yang menyangkut hal-hal peribadatan sedikit banyak mempengaruhi umat islam pada umumnya. Termasuk kebijakannya dalam menentukan awal bulan hijriah. Perlu kiranya dibentuk sebuah komite khusus untuk melakukan klarifikasi ke pemerintah Saudi Arabia , untuk mempertanyakan definisi-definisi hilal serta metode rukyat yang dijadikan patokan mereka. Dan kalau perlu kita mendesak pemerintah Saudi Arabia untuk membuka diri dalam penentuan awal bulan hijriah dengan melibatkan negara-negara islam laninya.





RUKYAT GLOBAL



Persatuan Islam adalah dambaan semua orang islam. Termasuk dalam rangkah persatuan tersebut, akhir-ahir ini berkembang wacana penyeragaman puasa dan hari raya. Ide ini pada intinya sangat bagus, namun sayangnya, penyeragaman kadang tak difahami hakikatnya., yang seolah-olah perbedaan hanya beda waktu antara satu tempat dan tempat lain yang menjadi faktor penentu dalam bedanya penampakan hilal. Bila itu yang terpikirkan, solusinya pun hanya mendasarkan pada masalah beda waktu. Keadaan bumi kita yang bulat dan adanya batas tanggal Internasional sehingga mengakibatkan perbedaan hari kadang luput dari perhatian.



Misal: Anggaplah klaim rukyat di Saudi pada hari Ahad 9 Desember 2007 itu benar, kemudian seluruh dunia mengikuti rukyat di Saudi, maka bagaimana dengan umat islam yang di Hawai yang pada saat itu masih hari Sabtu pagi. Apakah mengikuti Saudi juga dengan konsekwensi bulan sebelumnya hanya 28 hari?.



Dengan rukyat global maka hampir dalam setiap 1 bulan selalu ada wilayah yang umur bulannya kurang dari 29 hari karena awal bulan berikutnya mengikuti rukyat wilayah lain yang berhasil rukyat dan secara hisab di wilayah lain tersebut memang hilal sudah wujud.



Dengan realitas bumi yang bundar ini mustahil kita bisa menyatukan hari raya dalam hari dan tanggal yang sama. Itu baru bisa terrealisikan ketika bumi kita ini didatarkan sehingga terbit atau terbenam matahari dan bulan terjadi dalam priode waktu yang sama. Dengan perbedaan hari raya bukan berarti perpecahan diantara umat Islam. Perbedaan itu wajar karena bumi yang kita tempati ini adalah bundar adanya.



Akhirnya perbedaan puasa, hari raya fitri dan Adha adalah sebuah keniscayaan. Kita tidak bisa memungkiri perbedaani ini. Kita berharap berbedaan ini tidak menyebabkan perpecahan umat islam. Tasamahna Fimahtalafna, Saling menghargai didalam perbedaan kita, alias, sepakat untuk berbeda. Perbedaan itu indah, seperti taman yang beraneka bunganya. Semakin banyak ragam bunganya, semakin indah dipandangnya,







Ibnu Zahid Abdo el-Moeid

Staf Lajnah Falakiyah NU Gresik;

Anggota Rukyat Hilal Indonesia ( RHI )

Pergantian Pejabat Baru di Lingkungan Jurusan Kimia UNNES

Alhamdulillah, pada hari Rabu, tanggal 19 Desember telah ditunjuk oleh Ketua Jurusan Kimia yang baru, Drs. Sigit Priatmoko, M.Si, semua pejabat baru di lingkungan Jurusan Kimia UNNES Semarang. Susunannya sebagai berikut:

Ketua Jurusan : Drs. Sigit Priatmoko, M.Si
Sekretaris Jurusan : Dra. Woro Sumarni, M.Si
Ka Prodi Pendidikan Kimia : Drs. Jumaeri, M.Si
Kepala Laboratoium Kimia : Agung Tri P. S.Si, M.Si

Penanggungjawab :
1. Lab Kimia Dasar : Dra. Sri Nurhayati
2. Lab Kimia Anorganik : F. Widhi Mahatmanti, S.Si, M.Si
3. Lab Kimia Analitik : Dra. Wisnu Sunarto, M.Si
4. Lab Kimia Fisika : Ir. Sri Wahyuni, M.Si
5. Lab Kimia Bioorganik : Drs. Kusoro Siadi, M.Si
6. Lab PBM : Dra. Saptorini, M.Pi
7. Lab Kimia Komputasi : Drs. Kasmui, M.Si
8. Layanan Masyarakat : Ir. Winarni, M.Si
9. Perpustakaan Jurusan : Tri Astuti, S.Si. M.Si
10.Paguyuban Keluarga Kimia : Drs. Warlan Sugiyo, M.Si

Semoga dapat memajukan jurusan kimia.

Ubuntu User

The Ubuntu Counter Project - user number # 19613

PELATIHAN LINUX UBUNTU BASIC UNTUK DOSEN KIMIA FMIPA UNNES SEMARANG

Kembali pihak Unnes menunjukkan keseriusannya dalam mendukung OpenSource, dengan diadakannya pelatihan Ubuntu basic untuk para dosen Mipa Kimia pada 29 November 2007. Acara dimulai pukul 9.15WIB dihadiri oleh 30 dosen dan mahasiswa Mipa dimulai dengan presentasi apa itu OpenSource, apa itu Linux, Ubuntu dan BlankOn.

Berikutnya adalah demo installasi Ubuntu 7.10 Gutsy Gibbon (karena yang disediakan peserta Ubuntu) versi LiveCD. Pada sesi ini sempat ada hambatan dikarenakan laptop yang digunakan demo mengalami masalah pada pembacaan cdrom (kemungkinan kotor), namun alhamdulillah setelah diganti Laptop lain acara demo instalasi berjalan lancar.

Pada demo ini kita tunjukkan bagaimana memulai menjalankan LiveCD dengan pengesetan prioritas boot ke cdrom drive, kemudian instalasi dengan meng-klik shortcut “install” pada desktop, demo mengubah ukuran partisi drive d pada windows sehingga ada partisi kosong baru sampai instalasi selesai. Acara instalasi ini tentunya dirasakan dag dig dug oleh Ibu Sri Wardani sebagai pemilik laptop yang digunakan demo… karena di drive D itu banyak data penting beliau.

Alhamdulillah setelah di restart semuanya berjalan dengan baik dan data data lama tidak mengalami masalah. Beberapa pertanyaan muncul pada acara ini diantaranya adalah “bagaimana memulai menjalankan ubuntu karena kalo di windows itukan ada tombol start”, “apakah ubuntu bisa membuka dokumen dari flashdisk yang selama ini dibuat kerja di lingkingan windows”, “apakah ubuntu/linux bisa terkena virus yang ada pada flasdisk” dll. Seru… dan benar benar masih awam itu bapak bapak dan ibu ibu dosen…. salut buat Pak Kasmui selaku koordinator acara ini sehingga linux bisa dikenalkan kepada para dosen lainnya… dan pekerjaan berikutnya menanti bagi pak kasmui karena terlihat antusiasme ibu ibu dosen untuk mencoba menginstall dan menggunakan linux di laptop mereka…yaa karena pada acara tersebut mereka masih belum berani menginstall sendiri….go go…!!

Dicopy dari: http://hakim.smartikon.com/2007/11/30/pelatihan-ubuntu-basic-untuk-dosen-mipa-unnes/

FOTO-FOTO

Foto-foto di RT 2 - RW 2 Patemon, Gunungpati, Semarang , 50228

lihat di http://www.panoramio.com/user/1191992

"Al-Quran Edisi Kritis"

Selasa, 11 Desember 2007
Orientalis Yahudi-Kristen berusaha meruntuhkan otoritas Al-Quran. Kini, muridnya sudah banyak di Indonesia. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-215

Oleh: Adian Husaini

Seperti kita bahas dalam dua kali catatan sebelumnya, dalam acara Konferensi Tahunan tentang Studi Islam (ACIS) VII di Riau, 21-24 November 2007, kepada para peserta dibagikan buku murid Nasr Hamid Abu Zaid, yaitu Dr. Nur Kholish Setiawan, yang berjudul Orientalisme, Al-Quran, dan Hadis. Buku ini sebenarnya merupakan kumpulan karangan sejumlah akademisi di UIN Yogya, antara lain Dr. Sahiron Syamsuddin, yang juga alumnus salah satu studi Islam di Jerman.
Dalam buku ini, dimuat artikel pembuka oleh Dr. Nur Kolish yang berjudul “Orientalisme Al-Quran: Dulu, Kini, dan Masa Datang.” Dalam tulisan inilah, kita bisa menikmati pandangan berbagai orientalis terhadap Al-Quran. Dengan sangat bagus dan artikulatif, Nur Kholish menguraikan pemikiran-pemikiran para orientalis Al-Quran, seperti Abraham Geiger, Theodore Nöldeke, Christoph Luxenberg, Reiner Brunner, dan sebagainya. Tapi, sayang sekali, hampir tidak ada kritik yang diberikan terhadap pemikiran para orientalis tersebut. Bahkan, pada beberapa bagian, dia menekankan gagasannya, bahwa Al-Quran yang sekarang dipegang oleh kaum Muslimin masih bermasalah dan perlu dikritisi.
Karena itulah, Nur Kholish mempromosikan gagasan perlunya diterbitkan Edisi Kritis Al-Quran yang telah digagas oleh para orientalis Jerman. Ia menulis:
”Apparatus criticus zum Koran, rencana penerbitan edisi kritis Al-Quran yang digagas oleh Gotthelf Bergsträsser serta dilanjutkan oleh Otto Pretzl merupakan indikator akan perhatian terhadap edisi kritis teks Al-Quran, meski upaya tersebut belum bisa terwujud. Munculnya gagasan riset Bergsträsser dilandasi oleh terbitnya cetakan mushaf al-imam edisi Cairo pada tahun 1923 yang menjadi panduan baku umat Islam di seluruh dunia. Sementara, menurut Bergsträsser, penyeragaman baik cara baca, qira’ah, maupun ortografi Al-Quran meniadakan keragamannya, tanpa disertai dengan alasan-alasan akademis yang jelas. Dengan demikian, riset yang belum tuntas tersebut berkeinginan memberikan rekonstruksi terhadap keragaman cara baca dan ortografi Al-Quran yang ”dihilangkan” dalam mushaf edisi Cairo 1923.” (hal. 9).
Sebagaimana dalam tradisi orientalis, dalam tulisannya ini, murid kesayangan Nasr Hamid Abu Zaid ini juga rajin mengungkap data-data pinggiran yang seolah-olah menunjukkan bahwa masih ada masalah dalam Al-Quran. Dia menulis panjang lebar pendapat Brunner yang mengutip sebagian penulis Syiah, bahwa Utsman bin Affan telah melakukan perubahan (tahrif) terhadap Al-Quran. Nur Kholish menulis dengan nada bersemangat untuk menggugat otoritas Al-Quran:
“Data-data yang ditampilkan Brunner mengenai wacana tahrif dalam Syi’ah semenjak abad ke-16 sampai dengan 19 menunjukkan bahwa “perlawanan” kaum Syi’ah terhadap dominasi mushaf Utsman seakan tidak pernah henti. Karya-karya kesarjanaan yang dilahirkan, baik dalam wilayah tafsir, hadits, maupun disiplin keislaman lainnya menjadi pengokoh, bahwa ada something wrong dalam penyusunan, unifikasi dan kodifikasi mushaf yang dilakukan pada kekhalifahan Utsman ibn ‘Affan.”
Karena itulah, pada bagian berikutnya, dosen UIN Yogya ini kemudian menekankan, bahwa proyek untuk mewujudkan Edisi Kritis Al-Quran tersebut masih tetap berjalan hingga kini. Dia menulis:
”Meski demikian, tidaklah berarti bahwa proyek riset mengenai sejarah teks dan ortografinya telah selesai. Sejak tahun 2006, telah muncul proyek penelitian baru yang disponsori oleh Berlin Brandenburgische Akademic der Wissinchaft , sebuah lembaga riset milik pemerintah negara bagian Berlin-Brandenburg, mengenai edisi kritis teks Al-Quran. Proyek ini dilandasi kenyataan bahwa Al-Quran edisi kritis sampai saat ini belum ada. Sedangkan tujuan dari proyek ini bukanlah untuk menggantikan teks Al-Quran edisi cairo 1923 yang sampai sekarang menjadi satu-satunya mushaf yang beredar di seluruh penjuru Muslim. Sebaliknya, proyek dimaksudkan untuk menampilkan dokumentasi teks yang dijadikan sebagai pijakan dimungkinkannya melakukan kritik teks. Disamping itu, ia juga dimaksudkan dijadikan pijakan telaah sejarah teks, khususnya dalam kaitannya dengan keragaman tradisi lisan dan tulisan. Sedangkan tujuan yang ketiga adalah menjadikan dokumentasi teks tersebut sebagai pijakan melakukan sesuatu yang “belum lazim” dalam kesarjanaan Muslim, yakni proses kesejarahan dan proses perkembangan teks Al-Quran itu sendiri.” (hal. 38-39).
Lebih jauh dijelaskan oleh Nur Kholish, bahwa pijakan riset yang digunakan oleh proyek ini adalah upaya yang telah dilakukan oleh Otto Pretzel, Bergsträsser dan Arthur Jeffery yang telah mengumpulkan qira’ah syadz dalam pembacaan Al-Quran serta jenis tulisan yang beragam dalam manuskrip Al-Quran.
“Uraian di atas menunjukkan bahwa kajian Al-Quran dalam kesarjanaan non-Muslim cukup dinamis dan berkesinambungan. Temuan-temuan sarjana pendahulu semisal Geiger, Noldeke, dan beberapa nama lain terus-menerus dielaborasi oleh para sarjana berikutnya. Terlepas dari motif yang melatarbelakangi, nuansa akademik yang bisa ditangkap adalah penggunaan pelbagai metode dan pendekatan dalam melakukan pengkajian terhadap Al-Quran. Dalam wilayah ini, Al-Quran tidak ditempatkan pada wilayah yang “sakral” dan sarat dengan pelbagai nilai keutamaan religius, seperti yang diyakini oleh umat Muslim, melainkan ditempatkan sebagai sesuatu yang bisa disentuh dengan pendekatan sosial-humaniora, sejarah pada khususnya. (hal. 38-40).
Begitulah uraian Dr. Nur Kholish Setiawan tentang gagasan Al-Quran Edisi Kritis, atau Edisi Kritis Al-Quran. Seperti kita ketahui, ide membuat Edisi Kritis Al-Quran di Indonesia, pernah dilontarkan oleh Taufik Adnan Amal, dosen UIN Makasar yang juga pernah kuliah di Jerman. Di dalam buku Wajah Liberal Islam di Indonesia terbitan Jaringan Islam Liberal (2002:78) dimuat sebuah tulisan berjudul “Edisi Kritis Alquran”, karya Taufik Adnan Amal. Tulisan itu memberikan gambaran bahwa masih ada persoalan dengan “validitas” teks Alquran yang oleh kaum Muslim telah dianggap tuntas.
Rencana penulisan Al-Quran Edisi Kritis itulah yang kemudian dikritik oleh Dr. Ugi Suharto, melalui dialog langsung dengan saudara Taufik Adnan Amal. Dalam soal qiraat, misalnya, Taufik mengajukan pemikiran tentang perlunya digunakan qiraat pra-Utsmani. Dalam emailnya kepada Dr. Ugi, Taufik menulis:
“Kenapa qiraat di luar tradisi utsmani digunakan? Alasannya sederhana sekali: kiraat pra-utsmani terkadang memberikan makna yang lebih masuk akal dibanding Idalam tradisi teks utsmani. Saya ingin mengulang kembali contoh yang pernah dikemukakan Luthfi dalam postingnya yang terdahulu: Bacaan "ibil" (unta, 88:17) dalam konteks 88:17-20, sangat tidak koheren dengan ungkapan "al-sama'" (langit), "al-jibal" (gunung-2), dan "al-ardl" (bumi). Dalam bacaan Ibn Mas'ud, Aisyah, Ubay, kerangka grafis yang sama dibaca dengan mendobel "lam", yakni "ibill" (awan). Bacaan pra-utsmani ini, jelas lebih koheren dan memberikan makna yang lebih logis ketimbang bacaan mutawatir ibil. Demikian pula, bacaan Ubay dan Ibn Mas'ud "min dzahabin" untuk 17:93, memiliki makna yang lebih tegas dibanding bacaan "min zukhrufin" dalam teks utsmani. Masih banyak contoh lainnya yang bisa dielaborasi untuk butir ini.”
Lalu, terhadap gagasan ini, Dr. Ugi menjelaskan kepada Taufik Adnan Amal:
”Contoh-contoh qira'ah yang Anda kemukakan untuk dijadikan Quran Edisi Kritis itu sudah diketahui oleh para sarjana. Mereka tidak keliru seperti Anda, dengan mencampur-adukkan antara qira'ah dan Al-Quran. Contoh "ibil" dengan "ibill" yang Anda pilih juga sudah diketahui lama oleh mereka. Lihat saja dalam tafsir al-Qurtubi yang bagi Anda menterjemahkannya itu sama dengan status quo alias mandeg. Saya akan buktikan bahwa Anda belum melampaui apa-apa dari Imam al-Qurtubi itu dan Anda mungkin belum membacanya juga mengenai "ibil" (takhfif) dan "ibill" (tatsqil) disitu. Dalam tafsir itu dikatakan oleh imam al-Mawardi bahwa perkataan "ibil" (takhfif) mempunyai dua makna: pertama unta, dan yang kedua awan yang membawa hujan. Dari sini kita berkesimpulan bahwa rasm "ibil" itu bisa memuat makna unta dan awan sekaligus, sedangkan apabila ditulis "ibill" (tatsqil) ia hanya memuat makna awan semata-mata. Jadi mana yang lebih komprehensif menurut "akal" Anda? Satu lagi, menurut al-Qurtubi perkataan "ibil" itu mu'annats (feminin) oleh itu sesuai dengan ayatnya "khuliqot". Bagaimana dengan "ibill"?”
Demikianlah, kita bisa melihat, bahwa gagasan untuk membuat Al-Quran Edisi Kritis yang dimunculkan oleh para orientalis Jerman dan murid-muridnya di Indonesia ternyata masih terus disebarkan. Jika dulu gagasan seperti ini hanya tersimpan di buku-buku orientalis Yahudi-Kristen di pusat-pusat studi Al-Quran Barat, kini gagasan itu mulai diusung secara resmi dalam ruang kuliah di kampus Islam dan forum Konferensi Tahunan Studi Islam di Indonesia. Kita patut kagum terhadap para orientalis yang telah berhasil mendidik kader-kadernya dengan baik, sehingga menjadi penyambung lidah mereka.
Sebenarnya, kita yakin, para murid orientalis Yahudi-Kristen ini tidak akan mampu mewujudkan Al-Quran Edisi Kritis. Barangkali, mereka juga sadar akan hal itu, karena untuk ini mereka sangat tergantung kepada ”tuan-tuan” mereka di Barat. Hanya saja, sepak terjang mereka sepertinya lebih ditujukan untuk menebar virus keraguan (tasykik) terhadap otentisitas Al-Quran.
Kepada penggagas Al-Quran Edisi Kritis, Dr. Ugi Suharto juga mengingatkan nasehat Abu ‘Ubayd yang pernah berkata: “Usaha Utsman (r.a.) mengkodifikasi Al-Quran akan tetap dan sentiasa dijunjung tinggi, karena hal itu merupakan sumbangannya yang paling besar. Memang di kalangan orang-orang yang menyeleweng ada yang mencelanya, namun kecacatan merekalah yang tersingkap, dan kelemahan merekalah yang terbongkar.”
Mushaf Utsmani adalah satu-satunya Mushaf Al-Quran yang telah disepakati seluruh kaum Muslim, sejak awal, hingga kini, dan sampai akhir zaman. Para sahabat, termasuk Ali r.a. pun semua menyepakati otoritas Mushaf Utsmani. Dalam bukunya, Metodologi Bibel dalam Studi Al-Quran: Kajian Kritis (2006), Adnin Armas, telah banyak mengklarifikasi pemikiran-pemikiran para orientalis yang meragukan otentisitas Al-Quran. Sayyidina Ali sendiri menyatakan: ”Seandainya Utsman belum melakukannya, maka aku yang melakukannya.”
Kita bisa memahami jika para orientalis Yahudi-Kristen berusaha meruntuhkan otoritas Al-Quran, karena Al-Quran adalah satu-satunya Kitab yang memberikan kritik secara mendasar terhadap Kitab mereka. Karena itu, meskipun mereka bertahun-tahun mendalami Al-Quran, tetap saja mereka tidak beriman kepada Al-Quran. Tetapi, kita tidak mudah memahami, mengapa ada orang dari kalangan Muslim yang berhasil dicuci otaknya sehingga menjadi penyambung lidah para orientalis untuk menyerang Al-Quran. Kita patut kasihan, jauh-jauh belajar Al-Quran ke luar negeri akhirnya pulang ke Indonesia justru menjadi ragu dan menyebarkan keraguan tentang Al-Quran. Mudah-mudahan kita semua terhindar dari ilmu yang tidak bermanfaat; yakni ilmu yang tidak membawa kepada keyakinan dan ketaqwaan. Amin. [Jakarta, 7 Desember 2007/www.hidayatullah.com]

Catatan akhir pekan Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
Download Opera, the fastest and most secure browser
December 2009
M T W T F S S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31