KOMUNITAS NITAPLEAT

Studi Pembebasan dan Pemberdayaan

Kosmologi Orang Ngadha

MEMAHAMI ALAM DUNIA DALAM CARA BERPIKIR TRADISIONAL Belajar dari pandangan orang Ngadha mengenai dunia
Hendrikus Pius Bhezo*)

Realitas hidup konkret menunjukkan bahwa manusia ada dan hidup dalam kosmos. Manusia merupakan bagian dari kosmos dan lazimnya disebut mikrokosmos dan makrokosmosnya adalah dunia. Sebagai mahluk mikrokosmos yaaang hidup dalam makrokosmos, manusia membawa dan membentuk konsep tentang kosmos dalam seluruh aspek kehidupannya. Orang Ngadha (bukan Ngada) sebagai kelompok mahluk mikrokosmos mempunyai pandangan tertentu tentang kosmos ini.
Orang Ngadha menyebut wujud tertinggi sebagai Dewa zeta-Nitu zale yang secara harafiah berarti Dewa di atas dan Nitu di bawah. Dewa menjadi bapak leluhur yang pertama yang ada di atas, di langit yang jauh dan Nitu menjadi ibu leluhur yang pertama. Nitu adalah nama lain dari bumi tempat berpijaknya manusia yang bersama mahluk lain membentuk kosmos. Dewa yang tinggal di tempat yang tinggi ditempatkan pada tingkat yang sama dengan ibu bumi atau nitu. Tentang nitu Paul Ardent mengatakan sekarang orang tidak tahu lagi, bahwa yang dimaksudkan dengan nitu sebenarnya adalah bumi. Ketika mengucapkan kata Nitu orang berpikir akan roh bumi atau juga arwah orang mati, karena mereka ini tinggal bersama roh-roh bumi itu. Sekarang nitu tidak pernah dipakai lagi dalam arti bumi, yang selalu disebut tana. Nitu adalah bumi yang memiliki roh dan karenanya memiliki juga kekuatan.
Dengan demikian nitu dalam arti yang paling pertama adalah bumi. Orang Ngadha memahaminya sebagai tempat berpijak dan tempat yang memberi hidup serta berkat. Ungkapan orang Ngadha katakan, “lobo soi Dewa, kabu role nitu” (pucuk menggapai Dewa dan akar berurat akar di bumi) diartikan sebagai kematangan kepribadian manusia. Kata nitu dalam ungkapan ini mau tegaskan nitu (bumi) sebagai tempat berpijak. Dr. Hubert Muda menjelaskan Nitu sebagai personifikasi dari ibu bumi dan alam yang baik. “Nitu literally means the earth but then it is personified as mother Earth or Earth Goodness...”

Mengambil bagian di dalam kejadian alam di sekitar, oleh van Peursoen disebut “partisipasi”. Bentuk partisipasi terhadap alam tidak selalu sama dalam setiap zaman. Ini merupakan bukti keterbukaan manusia terhadap alam.
Mitos–mitos memandang alam secara spiritual. Alam dunia adalah penjelmaan kehadiran sesuatu yang lain, yang lebih ilahi. Oleh karena sikap terbuka manusia terhadap alam , maka setiap kejadian alam selalu di lihat dari sudut pandnagan rohani. Setiap kejadian alam merupakan hasil campur tangan dewa-dewi atau roh-roh terhadap situasi manusia. Berhadapan dengan realitas sakit dan kematian misalnya, manusia mengaitkan dengan daya-daya kekuatan alam semesta. Ini membuktikan bahwa berpartisipasi dalam dunia mitis berarti keterlibatan manusia untuk merasakan dan menghayati daya-daya kekuatan alam sebagai kekuatan yang mempengaruhi seluruh hidupnya.
Orang Ngadha merasa dirinya bersatu dengan alam dunia. Lebih dari itu, mereka berpikir bahwa manusia itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari semesta. Hubungannya dengan alam semesta harus harmonis selalu. Oleh karena itu manusia dalam menggarap dan mengerjakan alam sekitarnya harus menjaga agar ketertiban alam tidak dirongrong
Dampak ekologis dari pemikiran mitis.
Dalam seluruh pikiran mitis, hidup ini ada, ajaib serta berkuasa, penuh dengan daya-daya dan kekuatan-kekuatan khusus. Manusia dan alam raya saling meresapi dan oleh karena itu, kekuatan manusiawi dan ilahipun saling terlebur. Gagasan ini ditegaskan oleh van Perursen yang memandang manusia sebagai subjek yang belum memiliki kesadaran akan identitasnya sendiri. Berdasarkan cara pandang terhadap alam dan manusia yang demikian, maka penggarapan terhadap alam selalu didahului dengan upacara-upacara ritual. Seluruh proses penggarapan terhadap alam selalu dijalankan dalam dan melalui ritus. Orang harus lebih dahulu membuat sesajen sebelum menebang pohon atau membuka ladang dan kebun supaya tidak menimbulkan kemarahan pada dewa-dewi ataupun roh-roh terutama nitu sebagai dewi bumi.
Dalam dunia mitis, alam dipandang sakral. Hubungan manusia dengan alam tidak ditempatkan pada kepentingan produksi tetapi lebih lebih ditegaskan tentang keharmonisan. Harmoni merupakan ekspresi dasar manusia yang ditandai dengan solidaritas, sosialitas dan dinamika hidup yang diungkapkan manusia melalui ritus-ritus. Oleh karena itu konsekuensi empiris dari pemikiran mitis dapat dibuktikan melalui jaminan yang kuat bagi kelestarian lingkungan ekologis. Kemungkinan ini bukannya mustahil karena alam tidak sewenang-wenang digarap untuk menjamin kegiatan produksi.




*) Penulis Ketua Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa
Asal Ngada di Maumere, tinggal di Nitapleat Maumere




















Pastoral Pembebasan dan Pemberdayaan di Keuskupan Agung EndeRitus Orang Wolowea-Nage Keo

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

June 2012
M T W T F S S
May 2012July 2012
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30