Johanes Seran Nahak - KSPP Nitapleat
Thursday, December 13, 2007 11:28:34 PM
TENTANG ALLAH
by. Johanes Seran Nahak
Komunitas Studi Pembebasan dan Pemberdayaan (KSPP Nitapleat) Jl. Soverdi Nita - Maumere - Flores - NTT
I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Penulisan dan Pokok Permasalahan
Manusia sebagai ens rationale selalu saja mempunyai kerinduan mencari sesuatu yang belum atau yang tidak diketahuinya. Ia akan mengerahkan seluruh kemampuan rasionya untuk mencapai tujuan tersebut. Hasil yang dicapainyapun tidak selalu memuaskan karena yang ia ketahui hanyalah objek-objek empiris yang sifatnya terbatas. Sedangkan objek yang tak terbatas tidak mampu dijangkau oleh rasionya. Salah satu objek yang tidak terbatas adalah Allah. Kini muncul pertanyaan: Apakah hanya objek-objek yang dapat dijangkau oleh rasio manusia itu yang benar? Apakah pengetahuan tentang Allah yang tak terbatas dan tak terjangkau secara penuh itu merupakan suatu kekosongan? Jika demikian kita bisa bertanya lebih lanjut apakah Allah itu sungguh ada? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mengganggu para filsuf sehingga mereka berjuang untuk mencari dan menemukan jawabannya.
Pengalaman pergulatan mencari sesuatu yang tak terbatas akhirnya membawa seseorang pada suatu kepasrahan yang total sebab yang dicari tidak menampakkan diri secara sempurna. Nicolaus Cussanus merupakan salah seorang filsuf yang getol mencari tahu siapa itu Allah, dan apakah Allah sungguh-sungguh ada. Seluruh kemampuannya dikerahkan untuk mengetahui dengan sempurna siapa itu Allah. Namun apa yang diperolehnya? Yang ditemukan hanyalah sebuah kesia-siaan atau ketidaktahuan. Karena semakin ia mencari tahu ia semakin tidak tahu. Pengalaman ini akhirnya membawa dia pada suatu kesimpulan bahwa akal budi manusia tidak sanggup untuk menjelaskan secara adekuat siapa itu Allah. Oleh karena itu hal ini dilihatnya sebagai misteri. Menyadari ketaksanggupannya ini ia lalu berkata: pengetahuan tentang Allah adalah pengetahuan tentang ketidaktahuan. Menurutnya hanya imanlah yang membuat orang sampai pada Allah.
Apakah pendapat Cussanus ini disetujui oleh filsuf-filsuf lain? Bagaimana catatan kritis penulis tentang hal ini? Hal-hal inilah yang akan menjadi fokus pembahasan dalam paper mini ini.
1.2 Tujuan Penulisan
Ada beberapa tujuan yang mau dicapai penulis dalam menulis paper mini ini, antara lain:
1.Untuk memenuhi tuntutan akademis dalam Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, dimana seorang mahasiswa harus menyelesaikan satu tulisan ilmiah sebagai pra skripsi sebelum menulis skripsi.
2. Secara khusus untuk lebih mengenal filsuf Nicolaus Cussanus dan ide-idenya tentang Allah yang sampai sekarang masih relevan untuk iman kristiani.
1.3 Metode Penulisan
Untuk menyelesaikan paper mini ini, penulis memilih untuk menggunakan metode studi kepustakaan. Dalam proses studi kepustakaan, penulis mengumpulkan sejumlah referensi berupa buku yang berhubungan dengan tema, kemudian mendalaminya demi menemukan inspirasi untuk mengembangkan pikirannya dan mengeritik pikiran pikirannya yang tidak sesuai dengan ajaran iman Kristen.
1.4 Sistematika Penulisan
Tulisan ini, secara sistenatisa dikelompokan dalam lima bagian pokok:
Bagian I Pendahuluan. Dalam bagian ini penulis menguraikan tentang latar belakang penulisan dan pokok permasalahan, tujuan penulisan, metodologi penulisan dan sistematika penulisan.
Bagian II Mengenal Nicolaus Cussanus. Pada bagian ini penulis menguraikan tentang riwayat hidup Nicolaus Cussanus dan karya-karyanya.
Bagian III Pandangan Nicolaus Cussanus Tentang Allah. Dalam bagian ini penulis menguraikan tentang Allah sebagai Sang Possest, Allah yang Transenden dan sumbangan Cussanus bagi Gereja.
Bagian IV Mengkritisi Pandangan Nicolaus Cussanus Tentang Allah. Pada bagian ini penulis menguraikan pendapat yang mendukung dan yang kontra dengan pandangan Cussanus. Ada pun catatan kritis yang penulis berikan terhadap pandangan Cussanus ini berdasarkan ide dari Immanuel Kant, Thomas Aquinas dan William Ockham.
Bagian V Penutup. Dalam bagian ini penulis membuat rangkuman dan kesimpulan atas seluruh uraian dalam tulisan ini.
II. Mengenal Nicolaus Cussanus
2.1. Siapakah Nicolaus Cussanus?
Nicolaus Cussanus lahir di Kues, di tepi sungai Mosel di Jerman pada tahun 1401.1 Nama aslinya bukan Nicolaus Cussanus tapi Nicolaus Krebs. Karena berasal dari Kues maka ia diberi nama Nicolaus Cussanus (nama Latin), yang artinya Nicolaus dari Kues.2
Ia adalah seorang yang suka bertualang. Studinya di mulai di Padua, Italia dan kemudian pindah ke Koln, Jerman. Setelah menjadi imam beberapa tahun ia kemudian diangkat menjadi uskup Brixen di Italia Utara lalu diangkat lagi menjadi kardinal.
Cussanus adalah seorang pribadi yang sangat komplit karena selain pintar dan cerdas, ia juga pandai memimpin dan sangat rendah hati. Karena keutamaan-keutamaan ini maka tidak heran jika dalam waktu yang relatif singkat ia diangkat menjadi uskup dan kardinal. Cussanus juga sangat berminat dengan ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu alam, sehingga ia disebut sebagai ilmuwan karena kegiatan-kegiatannya dalam bidang ini dan dukungannya terhadap penyebaran ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu alam.
Dalam bidang kepemimpinan ia adalah sosok yang sangat disegani karena kewibawaan spiritual yang dimilikinya. Oleh karena itu ia dipandang sebagai figur teladan bagi para cendekiawan Katolik Jerman saat itu. Ia menutup hidupnya pada umur 63 tahun, tepatnya tahun1464.
Untuk mengenang jasa-jasanya maka salah satu yayasan katolik di Jerman mengambil namanya menjadi nama yayasan tersebut, yayasan Cussanus. Yayasan ini bergerak di bidang pendidikan yakni memberikan beasiswa bagi para mahasiswa dan mahasiswi yang berprestasi.
2.2. Karya-karya Nicolaus Cussanus
Selama hidupnya Cussanus menghasilkan beberapa buku. Ada dua bukunya yang terkenal yakni De dogta ignorantia dan Pembicaraan tantang "Sang-Bisa-Ada.
1. De dogta ignorantia
Buku ini merupakan karya terbesar dalam hidupnya. Terbit sekitar tahun 1440 dan terdiri dari tiga jilid. Intisari dari buku ini adalah bahwa di dalam Allah semua unsur yang berlawanan terdapat dalam koinsidensi. Selain itu pula diuraikan juga tentang arti penting dari paham "ketidaktahuan yang diketahui " (dogta ignorantia) bagi pengetahuan kita tentang Allah. Cussanus seperti yang dikutip Simon Petrus L. Tjahjadi menulis: "Semakin terpelajar seseorang, maka ia semakin mengetahui ketidaktahuannya. Dengan kesadaran ini aku mau berusaha keras untuk menulis beberapa hal tentang ketidaktahuan yang diketahui ini."3
2. Dialogus de Deo Abscondito (Pembicaraan tentang "Sang-Bisa-Ada" )
Karya yang satu ini terbit kira-kira tahun 1460. Dalam buku ini seperti yang dikutip oleh Simon Petrus Tjahjadi ia melukiskan bahwa Allah adalah Sang "Bisa-Ada" atau Sang "Ada-Bisa. Pada diri Allah, kemungkinan dan kenyataan dirangkum, tanpa kontradiksi dan pertentangan. Selain itu ia menulis tentang Allah yang tersembunyi yang tidak mampu digapai oleh pikiran atau rasio manusia. Untuk mengetahui Allah demikian maka manusia harus memiliki iman.4 Tanpa iman semua itu hanya sia-sia belaka.
III. Pandangan Nicolaus Cussanus Tentang Allah
Pembicaraan tentang hakikat Allah merupakan sesuatu yang menarik bagi para filsuf. Mereka akan menggunakan segala kemampuan dan pengalamannya untuk menjelaskan siapa itu Allah. Menarik karena walaupun mereka telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menjelaskan siapa itu Allah, namun capaian mereka tidak sempurna. Mereka tidak mampu menjelaskan secara tuntas Allah dan hakikatNya. Oleh karena itu Allah tetap merupakan misteri bagi mereka dan semua manusia. Kini muncul pertanyaan mengapa manusia tidak mampu berpikir secara tuntas tentang Allah? Manusia adalah mahkluk yang terbatas dan tidak sempurna. Bagaimana mungkin ia yang terbatas bisa berbicara secara tuntas tentang yang tidak terbatas. Allah adalah Ens yang tidak berhingga dan adaNya tidak diadakan oleh yang lain, tapi semua yang ada diadakan olehNya.
Nicolaus Cussanus baru menyadari keterbatasan rasionya ketika ia melewati suatu proses pencarian yang panjang tentang siapa itu Allah. Pengalaman pencarian ini akhirnya menyadarkan dia bahwa rasio manusia tidak sanggup untuk memahami dan menjelaskan siapa itu Allah secara tuntas. Allah sungguh melampaui segala yang ada di dunia ini. Iman merupakan jalan tunggal untuk sampai kepadaNya dan mengenalNya. Iman menuntut kita untuk menyerahkan diri seutuhnya pada penyelenggaraanNya.
3.1. Allah Sebagai Sang Possest
Menurut Cussanus, Allah adalah Sang Possest. "Possest" merupakan suatu istilah yang berasal dari kata bahasa Latin. Kata ini sebenarnya terdiri dari dua kata yaitu posse yang artinya bisa dan esse yang artinya ada. Dari kata esse ini kemudian diturunkan kata est untuk orang ketiga tunggal. Penggabungan kata posse dan est ini kemudian melahirkan kata possest yang secara harafiah berarti "Bisa-Ada atau Ada-Bisa.5
Nicolaus Cussanus menggunakan ungkapan ini dengan maksud ingin menjelaskan bahwa di dalam diri Allah terdapat keseluruhan antara kemungkinan (bisa) dan kenyataan (ada)6. Oleh karena itu kita dapat melihat bahwa didalam diri Allah itu tidak ada pertentangan. Semua hal di dunia yang bertentangan akan menyatu dalam diri Allah. Allah menjadi sumber persatuan dari segala yang bertentangan. Perpaduan hal-hal yang bertentangan inilah yang disebut sebagai coincidentia oppositorum. Allah sebagai yang tak terbatas tidak dapat bertentangan dengan hal-hal yang terbatas, melainkan ia merangkumnya. Jika demikian maka dapat dipahami bahwa perpaduan dari hal-hal yang bertentangan itu tentu menghasilkan sesuatu yang baru. Kita bisa menyebut hal baru tersebut sebagai sesuatu yang netral. Kini muncul pertanyan bagi kita, apakah "yang netral" itu dapat dimasukkan pada salah satu sifat Allah? Dari mana kita dapat mengetahuinya secara pasti?
Cussanus menyadari, bahwa, pasti akan muncul pertanyaan demikian. Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab dengan mengemukakan sekaligus membedakan dua kemampuan manusia. Kemampuan akal (ratio) dan kemampuan budi (intellectus).7 Kemampuan rasio merupakan kemampuan diskursif manusia yakni kemampuan untuk berpikir logis, membuat distingsi dan kesimpulan. Kemampuan ini hanya terbatas pada dunia indrawi saja. Ia selalu bersifat afirmatif, sehingga selalu mengandung prinsip non-kontradiksi. Artinya ia hanya bisa menegaskan sesuatu hal, misalkan ada dan tidak ada. Ia tidak dapat menegaskan kedua hal ini dalam satu waktu. Baginya ada berarti ada dan tidak ada berarti tidak ada. Oleh karena kemampuannya demikian, maka dengan sendirinya akal tidak dapat melampaui hal-hal yang bertentangan. Akal tidak mampu menjawabi pertanyaan di atas secara memadai.
Kemampuan budi (intellectus) merupakan kemampuan yang mengatasi setiap afirmasi dan negasi rasional, menerima perpaduan dari hal-hal yang bertentangan.8 Budi membut manusia mampu melakukan orientasi dan indikasi kabur tentang sesuatu yang tidak ada dan tidak dapat diamati. Objek pengetahuan dari budi meliputi wilayah ketidaktahuan.
Karena objek pengetahuannya melebihi objek pengetahuan akal (rasio) maka pengetahuan budi diyakini sebagai pengetahuan tertinggi pada manusia. Ia mampu mengetahui ketidaktahuannya. Cussanus menyebut ketidaktahuan yang diketahui ini Docta Ignorantia9. Sifat dari pengetahuan ini adalah meta-empiris artinya mengatasi pengalaman indrawi belaka. Dengan demikian menjadi jelas bahwa hanya budi manusia yang bisa sedikit memahami Allah yang mampu mempersatukan di dalam diriNya segala yang bertentangan. Tanpa budi orang hanya akan bergumul dengan prinsip atau-atau. Allah sebagai sang Possest dapat dipahami hanya dalam terang budi, namun hanya bersifat partikular. Pemahaman ini akan mengantar orang pada suatu kebajikan rohani yakni penyerahan diri yang total pada Allah.
3.2 Allah Yang Transenden
Keterbatasan budi untuk memahami Allah membuat suatu reduksi bahwa Allah sungguh jauh dari manusia. Antara Allah dan manusia terdapat jurang yang tak bisa dijembatani. Oleh karena itu menurut Cussanus Allah itu transenden. Transendensi Allah ini bukan suatu halangan bagi manusia untuk berkomunikasi denganNya. Dunia merupakan manifestasi diri Allah, namun perlu disadari bahwa itu hanya bersifat terbatas. Sebab tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang memiliki keserupaan dengan Allah. Allah itu tidak terkatakan dan tidak tergambarkan. Hubungan antara dunia dan Allah dalam pengertian keserupaan dan keberbedaan ini dapat dijabarkan dalam tiga term yakni: pertama, komplikasi, yaitu bahwa Allah merangkum dalam diriNya segala sesuatu; yang kedua adalah eksplikasi, yaitu bahwa Allah berada dalam segala sesuatu, immanen dalam segala mahkluk, dan mereka bergantung padaNya; yang ketiga adalah kontraksi, yaitu bahwa universum merupakan manifestasi diri Allah dalam cara yang terbatas. Oleh karean itu bagi Cussanus Allah tetap merupakan suatu misteri yang tidak dapat disingkapkan secara tuntas oleh intelek manusia.10
Selain melihat Allah sebagai yang transenden, Cussanus juga melihat Allah sebagai pencipta segala sesuatu. Segala yang ada di jagat raya ini merupakan ciptaan Allah. Karena diciptakan oleh Allah maka semua itu berada di dalam Allah dan mengambil bagian dalam Allah. Oleh karena itu ia berkata "Allah ada di dalam dunia sama dengan dunia di dalam Allah."11 Semua yang tercipta dikembangkan dari apa yang sudah ada di dalam Allah. Oleh karena itu bagi Cussanus segala sesuatu harus dilihat dalam perspektif Allah, demikian juga Allah harus dilihat dalam jagat raya. Maka ia menegaskan suatu jalan perbandingan untuk mengenal Allah, membandingkan apa yang sudah dikenal dan ada dengan apa yang tidak dikenal dan tidak ada.
Oleh karena Allah transenden, maka satu-satunya jalan untuk mengenal dan mengalamiNya adalah iman. Tanpa iman maka segala refleksi teologis-filosofis tidak berarti sama sekali. Cussanus menyadari hal ini maka ia menambahkan bahwa walaupun Allah itu transenden namun ia tahu cara bagaimana mendekati manusia ciptaanNya. Manusia tidak mengetahui cara bagiamana Allah mendekatinya. Manusia bersifat pasif sedangkan Allah itu aktif. Oleh karena itu manusia hanya menunggu saja kapan Allah mendekatinya.
3.3 Sumbangan Nicolaus Cussanus Bagi Gereja
Bila mencermati pikiran Cussanus tentang Allah, maka kita akan menemukan banyak pikiran yangmenjadi masukan berharga bagi Gereja baik pada masanya maupun Gereja masa sekarang. Sumbangan-sumbangan itu antara lain:
1. Pandangannya tentang transendensi Allah
Ia mengatakan bahwa Allah itu jauh dari manusia sehingga manusia tidak mampu untuk mengenalNya. Akal budi manusia yang terbatas tidak sanggup untuk menggapaiNya; karena itu manusia harus mengakui dan tunduk padaNya. Pandangan ini sebenarnya mau mempertahankan pandangan mengenai esensi Allah pada zamannya dan eksistensi diri Allah yang jauh dari jamahan manusia. Cussanus merupakan seorang apologet yang sungguh berjasa bagi Gereja.
2. Iman Menjadi jalan tunggal untuk mengenal Allah
Pernyataan ini sebenarnya menjadi suatu oase bagi kehidupan Gereja, karena pada zaman sekarang ini orang mulai mempertanyakan eksistensi Allah dan mempersoalkan iman sebagai hal yang absurd, karena dianggap tidak dapat dibuktikan secara metodis empiris.
Pandangan Cussanus ini sebenarnya sejalan dengan apa yang pernah dikatakan oleh Agustinus tentang misteri Allah. Agustinus menegaskan bahwa "kita perlu percaya agar memahami."12
IV. Mengkritisi Pandangan Nicolaus Cussanus Tentang Allah
Terhadap pandangan Cussanus tentang Allah, sejumlah filsuf yang kemudian mempunyai pandangan kritis yang berbeda. Ada yang mendukung Cussanus, ada pula yang melawannya. Berikut ini adalah dua sikap dan pandangan yang berbeda tersebut.
4.1. Mendukung Ide Cussanus
Pandangan-pandangan Cussanus yang diuraikan di depan sebenarnya mau menegaskan transendensi Allah. Allah itu jauh dan tidak dapat di pikirkan oleh manusia. Docta ignorantia menjadi bukti valid bahwa Allah itu transenden oleh karena itu Ia misteri. Pendapat Cussanus bahwa Allah itu tidak dapat dipikirkan oleh akal manusia, hanya mau melindungi misteri Allah yang akan disentuh oleh pikiran manusia. Dalam hal ini Cussanus percaya pada pengalaman pencariannya akan Allah. Pengalaman ini menjadi guru baginya untuk mengajarkan pada sesamanya tentang ketidaksanggupan akal manusia untuk memahami Allah secara memadai. Dalam hal ini saya sependapat dengan Cussanus. Alasannya bahwa Allah yang esensi dan eksistensiNya dapat dipikirkan oleh manusia itu bukanlah Allah. Bagaimana mungkin Ia yang adalah maha sempurna dapat dipikirkan oleh manusia yang memiliki banyak keterbatasan dihadapanNya. Dasar pemikiran saya ini adalah ide-ide dari filsuf-filsuf lain seperti William Ockham dan Immanuel Kant.
4.1.1. William Ockham
Ia mengakui bahwa Allah itu transenden. Bahkan dalam hal ini ia sangat radikal karena ia menolak sama sekali kemampuan akal budi untuk mengenal Allah. Ia berkata: "melalui akal budi kodrati, tidak dapat dibutikan bahwa Allah adalah sebab yang berdaya guna dari suatu akibat"13. Akal budi hanya berurusan dengan hal-hal yang bersifat empiris sedangkan Allah tidak bersifat empiris.
Karena Allah transenden maka jalan untuk mendekatiNya adalah jalan iman dan ini merupakan jalan tungggal. Iman menurut Ockham adalah pengakuan kepercayaan akan kemahakuasaan Allah yang nyata dalam wahyu di dalam Kitab Suci. Dalam hal iman ini juga Ockham sependapat dengan Cussanus.
4.1.2. Immanuel Kant
Kant merupakan salah seorang filsuf modern yang bisa menjawabi persoalan tentang Allah, yang terjadi pada abad pertengahan. Bagi Kant kehadiran Allah bisa dirasakan jika setiap orang memiliki kesadaran moral dan selalu mendengarkan suara harinya. Ia menegaskan bahwa: "Allah adalah pribadi yang menjamin bahwa manusia yang bertindak baik demi mewajiban moral akan memperoleh kebahagiaan sempurna."14
Kant melihat eksistensi Allah sebagai sesuatu yang postulat. Artinya eksistensi Allah harus diterima oleh manusia, tanpa perlu dibuktikan. Di sini kita bisa melihat bahwa Kant menyadari keterbatasan akal budi manusia untuk membuktikan Allah. Allah itu berada di seberang, Ia transenden sehingga rasio manusia tidak mampu untuk menggapaiNya.
4.2. Ide Yang Kontra Cussanus
Pikiran Cussanus tentang Allah tidak semuanya benar. Ada juga ide yang menurut saya bertolak belakang dengan iman Kristen. Oleh karena itu pada bagian ini saya ingin menyorotinya berdasarkan iman dan pengalaman saya.
Saya tidak setuju dengan cara pembuktian yang dibuat olehnya, karena dalam pembuktiannya itu ia tidak memperhatikan pengalaman harian manusia. Pembuktiannya jauh dari pengalaman manusia sehingga banyak menimbulkan ketidakmengertian. Pada hal menurut hemat saya kehadiran Allah bisa dirasakan lewat pengalaman akan keindahan alam dan melalui sesama di sekitar kita. Pemikiran seperti ini membuat orang tidak perlu dengan susah payah mengerahkan seluruh kemampuan rasionya untuk mencari, siapa itu Allah dan apakah Allah sungguh ada. Dengan demikian saya melihat bahwa Cussanus mengabaikan satu aspek yang paling urgen dalam proses mengenal Allah. Pada zaman sekarang ini justru pengalaman seperti inilah yang menggugah nubari setiap orang untuk merasakan kedekatan Allah.
Saya mengambil pikiran Thomas Aquinas untuk mendukung ide saya ini. Walaupun intelek manusia tidak mampu mengenal Allah secara memadai, Thomas Aquinas berusaha membuktikan pada manusia bahwa Allah sungguh ada. Ia membuktikan adanya Allah melalui pengalaman-pengalaman yang sungguh ada dan dialami oleh manusia secara langsung. Dalam teologi kodrati ia membahas bukti-bukti adanya Allah dan ini yang dikenal dengan lima jalan (Quinque Viae):15 gerak, sebab-akibat, adanya kemungkinan dan keniscayaan segala sesuatu di dunia ini, derajat-derajat kualitas segala sesuatu, dan segala sesuatu di dunia ini terselenggara dengan baik. Lewat pengalaman-pengalaman inilah orang bisa memahami dan menyadari eksistensi Allah.
Pada bagian lain Cussanus sangat menekankan iman. Menurutnya iman merupakan jalan tunggal untuk mengenal dan mencapai Allah. Hal ini memang benar sebagaimana diajarkan agama Kristen. Namun saya berpikir, Cussanus terlalu menekankan hal-hal yang abstrak. Iman seperti ini sangat abstrak bagi orang-orang yang tidak studi filsafat dan teologi. Oleh karena itu orang kadang hanya mengikuti saja tanpa suatu kesadaran. Mereka mengikuti karena telah diajarkan oleh Gereja demikian. Iman seperti ini tentu tidak menyelamatkan karena tidak diwujudkan dalam tindakan konkrit atau memang terwujud namun tidak disertai satu kesadaran dari dalam diri. Maka dalam hal ini saya sependapat dengan Immanuel Kant. Kant menekankan bahwa selain iman, jalan untuk mengenal Allah adalah dengan mendengar suara hati. Bagi Kant suara hati merupakan suara Allah yang bergema dalam hati manusia. Suara hati ini menuntut orang untuk melakukan tindakan moral, yakni tindakan demi bonum commune. Pada bagian ini Kant sangat menghargai kehendak bebas manusia. Dalam kebebasan itu suara hati menjadi rambu bagi tindakan dan perbuatan manusia.16 Sedangkan Cussanus lebih terpaku pada dogma iman kristiani, sehingga ia tidak menghargai kehendak bebas manusia.
V. Penutup
5.1. Kesimpulan
Nicolaus Cussanus merupakan filsuf yang sangat menarik pada penghujung abad pertengahan. Karena idenya selain merupakan sintese dari filsuf-filsuf sebelumnya, pengalaman pergulatannya mencari Allah dengan mengerahkan seluruh kemampuan rasionya telah membawa suatu pengetahuan baru bagi manusia. Dogta ignorantia, pengetahuan tentang ketidaktahuan atau ketidaktahuan yang disadari merupakan hasil pencariannya. Ini berarti usahanya tidak sia-sia. Usaha untuk mencari Allah telah mengajarkan dia untuk mengakui keterbatasannya. Pengakuan akan keterbatasannya ini akhirnya menelurkan satu sikap pasrah yang total pada kehendak Allah. Hanya dengan bersikap demikian orang bisa mengakui bahwa Allah itu melampaui segalanya. Ia transenden, tidak dapat dijangkau oleh akal budi manusia. Jalan satu-satunya untuk mengenal Allah adalah jalan iman. Iman yang menolong budi, indra tidak mencukupi. Iman menjadi tanda penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak Allah. Dalam iman orang membiarkan Allah berkarya dalam dirinya kemudian baru ditanggapi sesuai dengan situasi yang dialami.
Pandangan Cussanus tentang Allah yang transenden, pencipta dan maha kuasa mendapat dukungan dari filsuf-filsuf lain dan terutama membawa angin segar bagi kehidupan Gereja, karena ia mengafirmasi ajaran-ajaran Gereja tentang Allah yang diimani oleh orang Kristen. Selain itu juga ada kritik terhadap pandangannya ini. Dalam proses mencari dan membuktikan adanya Allah, Cussanus tidak bertolak dari pengalaman-pengalaman harian manusia. Hal ini banyak menimbulkan ketidakpahaman. Ia juga tidak menyinggung peran suara hati dalam hidup manusia dalam hubungan dengan kehadiran Allah. Suara hati diyakini sebagai suara Allah. Oleh karena itu manusia bisa merasakan kehadiran Allah dalam dirinya.
Jadi pandangan Cussanus ini menjadi sempurna jika ia menyertakan aspek-aspek pokok di atas. Dunia sekarang ini sangat sulit untuk meyakinkan orang bahwa Allah sungguh ada. Perkembangan yang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat orang memalingkan perhatiannya dari Allah, karena mereka merasa tidak mendapat keuntungan secara langsung dari iman mereka itu. Lagi pula Allah tidak dapat dilihat dan dibuktikan secara empiris. Dengan demikian ini menjadi momen untuk menyadarkan manusia sekarang ini bahwa Allah sungguh ada. Bukti kehadiran Allah adalah eksistensi sesama di sekitar kita dan melalui alam dunia ini. Keindahan alam yang memberi ketenangan, kebahagiaan dan inspirasi merupakan bukti cinta Allah bagi manusia. Allah memang ada, namun untuk membuktikannya secara rasional-empiris sulit, karena Ia melampaui segala yang ada di dunia ini termasuk pikiran manusia. Dalam hal inilah Cussanus benar.
D A F T A R P U S T A K A
Ceunfin, F., Sejarah Pemikiran Modern I (ms), Maumere: Ledalero, 2003.
Kleden, P. B., Sejarah Filsafat Abad Pertengahan (ms), Maumere: Ledalero, 2000.
Smith, L dan William Raeper, Ide-Ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang, Yogyakarta: Kanisius, 2002.
Tjahjadi, S. P. L., Petualangan Intelektual, Yogyakarta: Kanisius, 2002.









Guchek Bennyguchek benny # Sunday, January 6, 2008 12:34:24 PM