KOMUNITAS NITAPLEAT

Studi Pembebasan dan Pemberdayaan

Agustinus Benny: Teologi Pastoral: Regang Wi'it

PASTORAL DIALOGAL:
DARI MENGINJILI KEPADA TERINJILI
Refleksi Atas Pengalaman Regang Wi’it di Kota Maumere
Oleh: Agustinus Benny
Anggota KSPP Nitapleat Ledalero

-------------------------------------------
Dalam hidup ini setiap orang tentu ingin dihargai dan dicintai seperti manusia yang lain. Keberadaan manusia yang selalu ingin dicintai menjadikan manusia sebagai makhluk yang berkasih sayang. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah. Allah mengutus putraNya datang ke dunia bukan untuk menyapa mereka yang tak berdosa dan mereka yang sehat melainkan mereka yang berdosa dan dipinggirkan.
Selama beberapa bulan terhitung sejak September yang lalu saya telah dan sedang mengikuti suatu kegiatan yang disebut Regang Wi’it (RW), dimana saya berjumpa dan bertemu langsung dengan anak-anak pinggiran atau anak-anak gelandangan yang dianggap nakal di kota Maumere. Kegiatan ini diadakan dengan maksud hanya untuk duduk bersama dengan anak-anak yang`dipinggirkan tersebut, masuk ke dalam hidup mereka yang pada akhirnya menarik mereka untuk membangkitkan semangat mereka dan menguatkan mereka bahwa pada dasarnya mereka juga sangat berguna. Dalam hal ini saya melakukan suatu misi yang di sebut misi Going in dan mission in reverse. Kegiatan ini juga dilakukan dengan maksud untuk berdialog dengan orang-orang sederhana dan yang terpinggirkan yang merupakan matra khas SVD. “Anak gelandangan” oleh kebanyakan orang dianggap sebagai anak-anak yang nakal dan tak berguna. Mereka juga dianggap selalu melakukan keonaran. Berangkat dari asumsi masyarakat tentang mereka ini, P. Simeon Bera Muda, SVD melakukan kegiatan ini agar mereka yang merasa diri tak berguna dan tak dihargai oleh masyarakat dapat didengarkan oleh orang lain dan merasa bahwa mereka pada dasarnya berguna.
Pada awalnya memang tak sulit untuk dapat masuk ke dalam kehidupan mereka yang selalu penuh dengan ‘warna’ alkohol, rokok, dan hura-hura. Bagi saya ini adalah hal yang biasa karena ketiga hal tersebut sering juga saya lakukan. Karena itu dengan mudah bagi saya untuk dapat membaurkan diri saya di dalamnya. Kegiatan yang saya lakukan ini dilaksanakan di berbagai tempat. Namun yang mau saya soroti kini dan yang menjadi pusat perhatian saya adalah anak-anak gelandangan yang berlokasi di Kabor (depan dealer Yamaha).
Beranjak dari hal-hal di atas, muncul pertanyaan, apa yang saya petik dari kegiatan ini? Apa yang dapat saya refleksikan sebagai pegangan saya? Ada beberapa hal yang dapat saya petik dan saya refleksikan sebagai bahan pegangan dan kekuatan bagi saya. Namun sebelum berangkat lebih jauh dapat saya katakan bahwa pada dasarnya sangat sulit bagi manusia untuk dapat mengembalikan kepercayaan yang ada dalam masyarakat. Setelah melakukan kegiatan ini saya melihat bahwa pada dasarnya setiap orang punya potensi masing-masing. Setiap orang mempunyai kelebihan yang mungkin tak ada pada pribadi yang lain.
Anak-anak gelandangan yang ada di Kabor dianggap tak berpotensi dan tak mempunyai sesuatu yang dapat diandalkan namun pada kenyataannya apa yang dikatakan oleh kebanyakan orang itu tidak benar. Pada dasarnya setiap orang diberi talenta yang berbeda-beda. Hal ini dapat saya jumpai pada diri mereka yang dianggap tak berguna namun mereka punya suatu kelebihan yang saya rasa tak ada pada orang lain. Mereka yang dianggap hina oleh manusia, dalam refleksi saya ternyata lebih mulia dari manusia yang mengaku dirinya sebagai manusia yang baik.
Dilihat sepintas memang, kelihatan bahwa mereka jahat, “sangar”, suka memukul, memerkosa, mencuri dan lain sebagainya seperti dalam pengakuan mereka. Namun bila ditelusuri lebih jauh dalam kedalaman hati mereka terdapat suatu pengabdian dan suatu ketulusan yang sungguh tulus ketimbang orang yang mengaku diri sebagi orang yang kudus, sok suci dan merasa diri benar. Iman bukan dilihat dari tampang luarnya tapi jauh di kedalaman hatinya ternyata mereka punya hati yang tulus, iman yang teguh walau dalam pengakuan mereka bahwa mereka kurang aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani, ibadat bersama dan misa. Hal ini hanya dikarenakan oleh gambaran masyarakat kepada mereka sehingga merekapun merasa minder. Iman adalah pengalaman. Iman bukan jeritan dan suara yang berteriak. Allah bukan membutuhkan teriakan yang menyatakan bahwa manusia itu tak berdosa namun Allah membutuhkan suatu pernyataan konkrit lewat tindakan nyata dan ketulusan hati kepada-Nya. Dengan itu Allah akan menganugerahkan rahmat terindah kepada manusia. Manusia juga dituntut untuk bertobat walau ia dicap sebagai orang yang berdosa.
Iman adalah harta yang terdalam dalam lubuk hati. Dengan melihat dan merasakan pengalaman mereka, saya merasa bahwa Allah juga telah mengetuk diri saya. Dengan pengalaman mereka saya disadarkan bahwa iman bukanlah sesuatu yang nampak di luar saja. Iman tak dapat diukur dari kegiatan seorang saja. Iman lebih mengacu pada hati yang tulus kepada Allah. Iman bukan perkataan saja. Iman selalu menyangkut diri pribadi yang kemudian mempertanggungjawabkan setiap perbuatan yang ada kepada Allah. Namun dalam penghayatan pribadi, iman ternyata memiliki dampak sosial yang memancarkan siapa yang diimani, karena dalam diri orang-orang sederhana tampaklah wajah Allah.
Kesadaran baru justru muncul saat pertemuan dengan mereka yang biasa-biasa, yang dianggap hina, yang dianggap tak berguna. Dari pengalaman regang wi’it iman yang dimiliki dihayati lebih kontekstual dan lebih sosial. Bertolak dari pengalaman Yesus dalam pertemuan-Nya dengan perempuan Samaria di Sumur Yakub (lih. Yoh 4:1-42), saya sadar bahwa keselamatan diperuntungkan bagi semua orang. Seorang Samaria yang dianggap rendah oleh bangsa Yahudi, namun karena iman akan Allah dapat memperoleh keselamatan. Yesus sendiri dalam dialog di sumur Yakub mau belajar dari perempuan Samaria. Sebagai agen pastoral saya pun dituntut untuk belajar dari orang lain yang saya layani. Pastoral dialogal gaya Yesus ini mendorong saya untuk bertobat dari “menginjili” orang lain kepada “terinjili” oleh pengalaman orang lain . ***

Ritus Orang Wolowea-Nage KeoTragedi Berdarah: Refleksi HAM

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

June 2012
M T W T F S S
May 2012July 2012
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30