KOMUNITAS NITAPLEAT

Studi Pembebasan dan Pemberdayaan

H. Bhezo, SVD : PANDANGAN ORANG NGADA TENTANG KOSMOS

RELASI MANUSIA DAN ALAM
DALAM KONTEKS PEMIKIRAN ORANG NGADHA
Br. Hendrik P. Bhezo, SVD
1. Pendahuluan
Realitas hidup konkret menunjukkan bahwa manusia ada dan hidup dalam kosmos. Manusia merupakan bagian dari kosmos dan lazimnya disebut mikrokosmos dan makrokosmosnya adalah dunia. Sebagai mahluk mikrokosmos yang hidup dalam makrokosmos, manusia membawa dan membentuk konsep tentang kosmos dalam seluruh aspek kehidupannya. Orang Ngadha (bukan Ngada) sebagai kelompok mahluk mikrokosmos mempunyai pandangan tertentu tentang kosmos ini. Manusia tidak hanya ada dalam dunia tetapi terlibat dalam proses dunia atau mendunia.
Suku bangsa Ngadha yang terletak di Flores bagian tengah memiliki konsep tersendiri tentang alam semesta atau kosmos dalam relasinya dengan manusia. Dalam uraian ini dikedepankan makna relasi antara manusia (kita ata) dalam konteks budaya Ngadha dengan alam semesta (ota ola) yang dihuninya. Alam semesta atau ota ola terdiri dari lizu ne’e tana, langit dan bumi yang membentuk satu kesatuan yang teratur.
Sebelum menjelaskan relasi antara manusia dan alam semesta maka terlebih dahulu memahami arti manusia dan dunia dalam term-term yang digunakan oleh orang Ngadha.
2. Memahami Arti Manusia dan Alam
2.1. Manusia dalam Pemahaman Orang Ngadha
Manusia dalam bahasa orang Ngadha diartikan dengan kata kita-ata. Term kita-ata terdiri dari dua kata yang saling berlawanan, yaitu kita yang artinya kita, orang kita, subjek plural yang membedakan dengan yang lain dan diperlawankan dengan kata ata yang berarti orang lain dalam bentuk plural, di luar dari kelompok kita. Dari analisa dua kata ini makna kata kita ata dalam konteks pemikiran orang Ngadha adalah pribadi yang merangkum yang lain sekaligus hadir dalam dirinya sebagai yang individual dan yang sosial. Kata kita-ata adalah pribadi yang berelasi dengan yang lain di luar dari dirinya. Pemahaman ini mengarah pada manusia dalam relasinya dengan sesama sebagai wujud kodrat manusia sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial seorang manusia adalah mahluk yang mampu membuat relasi dengan sesamanya, seperti ungkapan Gabriel Marcel “esse est co-esse” (ada selalu berarti ada bersama)
Dr. Ozias Fernadez, SVD mengatakan bahwa masyarakat timur adalah manusia yang hanya dapat dipikirkan, bila ia dilihat melalui kacamata kehidupan bersama. Ia dapat bernilai dan berarti apabila ia melibatkan diri ke dalam kehidupan bersama yang stabil, yang utuh dan harmonis. Ia menjadi sungguh-sungguh manusia, kalau ia berpikir dan hidup secara kolektip, sosial bersama dengan manusia lain. Dalam konteks pemahaman orang Ngadha, manusia harus dimengerti sebagai kita-ata yang berarti kita yang disandingkan dengan ata yang berarti “yang lain”.
Lebih jauh pribadi manusia sebagai “kita-ata” terbenam dalam keseluruhan yang lain yaitu kosmis dan sosial. Bentuk-bentuk “yang lain” itu misalnya kekeluargaan, kesukuan, asal, kelompok. Pribadi manusia dapat berarti, jika terlibat ke dalam keseluruhan, one sa’o (dalam rumah), one woe (dalam suku) dan one nua (dalam kampung) yang terikat dalam suatu kesatuan politis ulu-eko . Karena menurut adat kebiasaan, tradisi manusia timur pada umumnya dan orang Ngadha pada khususnya tidak melihat pribadi manusia sebagai sasaran atau tujuan. Ikatan kekeluargaan dalam sa’o (rumpun berdasarkan rumah adat) atau woe (suku) merupakan unsur terpenting dalam hidup manusia dan dalam keseluruhan itu manusia pribadi tidak berarti. Term kita ata mengindikasikan bahwa keseluruhanlah yang menentukan hidupnya. Dalam hal ini aturan adat memainkan peranan penting.

2.2. Alam Semesta dalam Pemikiran Orang Ngadha
2.2.1. Nitu sebagai Ibu Bumi
Dalam mitos orang Ngadha dikatakan bahwa dunia pada mulanya berupa watu boto ne’e tana lala – batu yang mencair dan tanah yang berlumpur. Orang Ngadha meyakini dunia atau alam semesta ini diciptakan oleh Dewa. Ada tiga lapis dunia yang terletak satu di atas yang lain atau semacam tingkat dunia; bumi sebagai tempat diam manusia, lalu dunia di atas yaitu lizu atau langit tempat diam Dewa agung dan dunia di bawah bumi, tempat diam nitu dan jiwa-jiwa yang sudah berpisah dari badan.
Dalam arti yang paling asli, bumi selalu dikaitkan dengan langit. Menurut prinsip oposisi binari Levi Strauss, pemikiran masyarakat pra-modern selalu bertolak dari dua hal yang bertentangan namun memiliki kaitan. Dalam pemikiran asli orang Ngadha menyebut bumi dalam kaitannya dengan langit. Lizu yang berarti langit diperlawankan dengan tana yang berarti bumi sehingga disebut lizu ne’e tana. Pemahaman semacam ini ditemukan juga dalam penamaan dan pemahaman tentang wujud tertinggi. Orang Ngadha menyebut wujud tertinggi sebagai Dewa zeta-Nitu zale. Dewa bertahta di langit (di atas) dan Nitu bertahta di bumi (di bawah). Dewa menjadi bapak leluhur yang pertama dan bumi (nitu) menjadi ibu leluhur yang pertama.
Dalam ceritera mitologi alam dunia sering disimbolkan sebagai ibu yang dari padanya segala sesuatu berpijak. Sebagai ibu dalam dirinya mempunyai kodrat untuk melahirkan. Muncul pertanyaan mengapa ibu dalam dikenakan pada bumi yang berarti nitu? Esensi bumi adalah melahirkan dan memberikan kehidupan. Dalam mitos-mitos masyarakat Flores disinggung mengenai peran bumi. Misalnya mitos Ine Pare sebagai ibu asal mula padi yang menjadi makanan pokok masyarakat di wilayah ini. Karena itu nilai yang terkandung dalam bumi adalah nilai kehidupan sebagai nilai intrinsik yang sudah seharusnya ada dalam dirinya.
Ketika membicarakan tentang bumi yang bertolak dari pemahaman tentang wujud tertinggi, Paul Arndt mengatakan:
“... sekarang orang tidak tahu lagi, bahwa yang dimaksudkan dengan nitu sebenarnya adalah bumi. Ketika mengucapkan kata Nitu orang berpikir akan roh bumi atau juga arwah orang mati, karena mereka ini tinggal bersama roh-roh bumi itu. Sekarang nitu tidak pernah dipakai lagi dalam arti bumi, yang selalu disebut tana.”
Nitu dalam arti pertama adalah bumi. Orang Ngadha memahaminya sebagai tempat berpijak dan tempat yang memberi hidup serta berkat. Dalam pemahaman sesudahnya orang mengerti nitu sebagai roh yang mendiami bumi. Nitu kemudian diartikan secara negatif sebagai “yang jahat” seperti tampak dalam istilah nitu da sange (roh yang mematikan) yang menyebabkan orang sakit dan mati.
Senada dengan Arndt, Dr. Hubert Muda menjelaskan Nitu sebagai personifikasi dari ibu bumi dan alam yang baik.
“Nitu literally means the earth but then it is personified as mother Earth or Earth Goodness...”
Nitu sebagai ibu bumi dikatakan baik karena ia memberikan “yang baik” kepada manusia. Pemahaman tentang nitu sebagai ibu bumi yang baik ini sejalan dengan pemahaman tentang pengertian kosmos yang secara etimologis dipahami sebagai (1) tata atau sistem alam semesta yang mempunyai sistem yang teratur, (2) universum dan (3) keindahan. Ketiga pengertian ini dapat menunjuk pada kosmos sebagai totalitas alam semesta yang mempunyai sistem yang teratur (orde) di dalam dirinya. Karena itu kosmos indah in se, dan memiliki nilai intrinsik serta keharmonisan dengan keseluruhan. Oleh karena itu, kosmos secara ontologis baik adanya.
2.2.2. Dunia sebagai Tempat Hunian Manusia
Dunia sebagai tempat hunian manusia dibahasakan oleh orang Ngadha sebagai ota-ola yang berarti sebagai tempat atau locus yang luas dan jauh sekali. Orang Ngadha sering menyebut ota peta yang berarti tempat yang luas, sunyi dan sedikit seram. Kata ota di sini sebenarnya mau menunjukkan tempat hunian manusia yaitu dunia atau alam semesta. Kata ola sering digunakan dalam frase ola sia atau ola kobe yang berhubungan dengan waktu atau saat. Ola sia berarti siang hari dan ola kobe berarti malam hari. Dari analisa kata ini dunia atau ota-ola menurut orang Ngadha dapat diartikan sebagai tempat atau locus yang luas dan tak terjangkau yang di dalamnya memiliki waktu/ saat. Dari defenisi ini ota-ola diartikan sebagai alam semesta, tempat hunian manusia. Sebagai tempat hunian manusia, alam semesta memiliki relasi dengan manusia. Pada bagian berikut ini akan dijelaskan secara khusus relasi antara manusia dengan alam semesta dalam konteks pemikiran orang Ngadha.
3. Manusia dalam Relasinya dengan Alam dalam Prespektif Pandangan Orang Ngadha tentang Dunia
3.1. Manusia Berpartisipasi dalam Dunia
Manusia aktual sekaligus potensial yang menjadikan alam dunia sebagai medan gerak, jaringan, aktivitas yang saling mempengaruhi yang bisa menimbulkan potensi baru. Dalam terang pemikiran ini manusia tidak hanya ada dalam dunia tetapi terlibat dalam proses dunia atau mendunia. Manusia berada dalam dunia, dan dunia dijadikan sebagai locus tempat manusia hidup dan berkarya. Dunia tak dapat dipahami tanpa manusia dan manusia tak dapat dipahami tanpa dunia.
Dalam pemahaman mengenai manusia dalam relasinya dengan alam menurut pandangan orang Ngadha dapat ditemukan keterkaitan antara keduanya. Manusia memiliki ikatan atau persatuannya dengan alam. Hal ini dapat ditemui dalam kerangka berpikir mistis. Mengambil bagian di dalam kejadian alam di sekitar, oleh van Peursoen disebut “partisipasi”. Bentuk partisipasi terhadap alam tidak selalu sama dalam setiap zaman. Ini merupakan bukti keterbukaan manusia terhadap alam. Mitos-mitos dan ritus-ritus adat yang oleh pengaruh kekristenan dianggap kafir sebenarnya mau menunjukkan relasi antara keduanya.
Mitos–mitos memandang alam secara spiritual. Alam dunia adalah penjelmaan kehadiran sesuatu yang lain, yang lebih ilahi. Oleh karena butuh sikap terbuka manusia terhadap alam. Kalau manusia terbuka terhadap alam maka setiap kejadian alam selalu di lihat dari sudut pandangan rohani. Setiap kejadian alam merupakan hasil campur tangan dewa-dewi atau roh-roh terhadap situasi manusia. Berhadapan dengan realitas sakit dan kematian misalnya, manusia mengaitkan dengan daya-daya kekuatan alam semesta. Berhadapan dengan realitas kematian misalnya, orang Ngadha katakan “Dewa da enga-nitu da niu” (Dewa yang memanggil dan Nitu yang mengundang).Ini membuktikan bahwa berpartisipasi dalam dunia mitis berarti keterlibatan manusia untuk merasakan dan menghayati daya-daya kekuatan alam sebagai kekuatan yang mempengaruhi seluruh hidupnya.
Orang Ngadha merasa dirinya bersatu dengan alam dunia. Lebih dari itu, mereka berpikir bahwa manusia itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari alam semesta. Hubungannya dengan alam semesta harus harmonis selalu. Oleh karena itu manusia dalam menggarap dan mengerjakan alam sekitarnya harus menjaga agar ketertiban alam tidak dirongrong.
Orang Ngadha berpikir secara harmoni-kosmis dan sintetis kosmis. Mereka selalu berpikir totaliter, yaitu selalu dalam hubungan dengan seluruh alam semesta. Jadi ia berpikir secara menyeluruh yaitu bahwa manusia, alam dunia, roh-roh dan para leluhur dan wujud tertinggi membentuk satu kesatuan total, yang satu tidak dapat dipikirkan tanpa dikaitan dengan yang lain. Hubungan yang baik di antaranya akan menciptakan keselarasan dan keseimbangan dan sebaliknya kalau ada relasi yang kurang baik maka akan menciptakan keterpecahan dan keterguncangan. Bencana alam diyakini sebagai bentuk kemurkaan dewa dan nitu dan pengalaman sakit akibat dari kesalahan dalam relasi dengan leluhur, sesama atau dengan alam.
Mitos memberikan arah kepada manusia dalam kelakuannya dan merupakan pedoman untuk kebijaksanaan manusia. Lewat mitos ini manusia dapat turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian sekitar, dapat menanggapi daya-daya kekuatan alam. Maka mitos merupakan kosmogoni karena melalui mitos mereka dapat secara objektif melukiskan suatu kejadian alam yang berlangsung setiap saat dengan mencari sebabnya dalam alam sendiri.
3.2. Nilai-nilai yang dapat Diperoleh
3.2.1. Dunia adalah Kosmos
Kosmos serentak berarti alam semesta dan susunan yang teratur atau keindahan. Alam semesta merupakan kesatuan hidup yang teratur dan indah. Di tengah kosmos semacam ini mempunyai arti dan nilainya bagi keselarasan dan keseluruhan. Karena adanya keselarasan yang mendasar ini maka secara ontologis segala sesuatu adalah baik dan indah.
3.2.2. Kosmos itu Sakral.
Sakral merupakan tertib alam semesta yang terjelma melalui hierophani yaitu pewahyuan diri dari yang kudus yang dipandang sebagai wujud tertinggi.Wujud tertinggi mewahyukan diri melalui creatio dan emanatio. Terjadinya kosmos yang sakral ini, dikisahkan dalam mitologi dan dirayakan dalam ritus atau upacara keagamaan.
Menurut paradigma kebudayaan pra-modern, alam dunia ini terbentuk juga dalam waktu yang bersifat siklis mengikuti siklus ritual kehidupan yang terus-menerus berubah. Manusia hidup dalam kedekatan dengan yang kudus, yang ilahi dan yang tak terjangkau. Inilah dunia sakral yang jauh di atas langit dan disapa sebagai Dewa. Dunia sakral dan dunia profan saling meresapi sehingga membentuk alam ciptaan. Kehadiran Dewa dan Nitu (roh) tidak dipersoalkan karena orang mengalami kehadiran dalam kehidupan setiap hari. Allah ada dimana-mana.
3.2.3. Perwujudan Diri yang Ideal.
Nilai yang dapat dipetik dari pemahaman relasi manusia dan alam ciptaan dalam kaitan dengan perwujudan diri adalah manusia menemukan tempat dalam kosmos yang sakral itu. Harmoni kolektif jauh lebih penting dari hak pribadi. Oleh karena itu, orang tak boleh menonjolkan diri, mencari kepentingan sendiri di luar tata tertib yang sudah berlangsung turun-temurun yang tertuang dalam hukum adat dan kebiasaan. Tingkah laku yang baik dan benar dihayati menurut figur mitologis yang dituturkan.
Masyarakat adalah satu-kesatuan hidup yang dilukiskan sebagai organisme di mana tiap orang mempunyai peranan tertentu. Orang hidup dalam semangat kekeluargaan yang kental. Pada tahap ini manusia pribadi sebagai individu dan otonom belum menonjol.
3.2.4. Dampak Ekologis dari Pemikiran Mitis.
Dalam seluruh pikiran mitis, hidup ini ada, ajaib serta berkuasa, penuh dengan daya-daya dan kekuatan-kekuatan khusus. Manusia dan alam raya saling meresapi dan oleh karena itu, kekuatan manusiawi dan ilahi pun saling terlebur. Gagasan ini ditegaskan oleh van Perursen yang memandang mansia sebagai subjek yang belum memiliki kesadaran akan identitasnya sendiri. Berdasarkan cara pandang terhadap alam dan manusia yang demikian, maka penggarapan terhadap alam selalu didahului dengan upacara-upacara ritual. Seluruh proses penggarapan terhadap alam selalu dijalankan dalam dan melalui ritus. Orang harus lebih dahulu membuat sesajen sebelum menebang pohon atau membuka ladang dan kebun supaya tidak menimbulkan kemarahan pada dewa-dewi ataupun roh-roh terutama nitu sebagai dewi bumi.
Dalam dunia mitis, alam dipandang sakral. Hubungan manusia dengan alam tidak ditempatkan pada kepentingan produksi tetapi lebih lebih ditegaskan tentang keharmonisan. Harmoni merupakan ekspresi dasar manusia yang ditandai dengan solidaritas, sosialitas dan dinamika hidup yang diungkapkan manusia melalui ritus-ritus. Oleh karena itu konsekuensi empiris dari pemikiran mitis dapat dibuktikan melalui jaminan yang kuat bagi kelestarian lingkungan ekologis. Kemungkinan ini bukannya mustahil karena alam tidak sewenang-wenang digarap untuk menjamin kegiatan produksi
4. Penutup
Manusia adalah makhluk yang berkharakter multi-dimensional. Ia adalah homo religious, makhluk kosmologis dan juga menyandang gelar ens sociale. Religiositas manusia terletak pada ketergantungannya pada yang trasendens-Wujud tertinggi. Yang transendens dipandang sebagai pencipta dan pemberi hidup. Manusia dan segala sesuatu yang ada dalam kosmos diyakini sebagai yang terberi dari yang ilahi dan karenanya manusia selalu taat, tunduk, hormat dan takut akan yang transendens.
Manusia dikatakan sebagai mahluk kosmologis karena manusia ada, hidup dan berkembang dalam kosmos. Kosmos adalah ruang gerak manusia, ruang di mana manusia ada, mengadu dan menjadi. Karena itu ia sensntiasa menjalin relasi yang baik dengan kosmos. Konflik dengan kosmos akan mendatangkan bahaya bagi manusia dan oleh karenanya segera dilaksanakan ritus pemulihan kosmos.
Orang Ngadha mewujudkan relasinya dengan wujud tertinggi, alam semesta/ kosmos dan dengan sesama. Perwujudan relasi ini guna menjamin eksistensinya sebagai mahluk sosial, kosmis dan religius. Dengan relasi ini maka terciptalah dunia yang damai, indah dan tenang. ***


D A F T A R P U S T A K A

Paul Arndt, SVD, Agama-agama Orang Ngadha: Dewa, Roh-roh, Manusia dan Dunia (Vol. 1), Maumere: Candraditya, 2006.
_________, Agama Orang Ngadha: Kultus, Pesta dan Persembahan (ms) (Vol. 2), Maumere: Puslit Candraditya, 2007.
___________, Kebudayaan Megalit Suku Bangsa Ngadha (ms.terj. Lukas Lege)
Baghi, Felix, Filsafat Lingkungan Hidup (ms), STFK Ledalero, 2007.
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 2005
Baker, Anton, Kosmologi dan Ekologi: Filsafat tentang Kosmos sebagai Rumah Tangga Manusia, Yogyakarta: Kanisius, 1995.
Fernandez, Ozias, Humanisme: Citra Manusia Budaya Timur dan Barat, Maumere: STFK Ledalero, 1983.
Putu Yarmika, Ida, Pengaruh Hinduisme pada Suku Bangsa Ngadha (ms), Ende: SMU Negri 1 Ende, 1999.
Kebung, Konrad, Filsafat Manusia (ms), Maumere: STFK Ledalero, 2005
Kirchberger, Georg dan John M. Prior (ed), Iman dan Transformasi Budaya,Ende : Nusa Indah dan Redaksi Seri Verbum, 1996.
Sutrisno, Mudji FX. (ed), Manusia dalam Pijar-Pijar Kekayaan Dimensinya,Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Agustinus Benny: Judi, Bola dan Politik PencitraanHIV AIDS: Terorisme Baru

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

June 2012
M T W T F S S
May 2012July 2012
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30