Agustinus Benny: Judi, Bola dan Politik Pencitraan
Friday, December 14, 2007 1:25:05 AM
Oleh : Agustinus Benny
Baru-baru ini menyongsong HUT Golkar ke-42, DPD II aGolkar Kabupaten Sikka mengadakan pertandingan sepak bola antar klub memperebutkan GOLKAR CUP 2006. Walaupun tidak diliput media masa, namun kegiatan ini cukup menarik bagi ribuan mata masyarakat kota Maumere dan sekitarnya. Apalagi pertandingan ini di gelar di lapangan terbuka, tanpa dipungut karcis masuk.
Pada waktu yang hampir bersamaan dengan pagelaran sepak bola ini, media masa lokal (Folores Pos dan Pos Kupang) memuat berita tentang seorang anggota DPRD Kabupaten Sikka yang harus berurusan dengan polisi dan Kejaksaan gara-gara tertangkap “sedang basah” bermain judi. Belakangan anggota DPRD yang ditangkap polisi itu ketahuan berasal dari sebuah partai politik besar di Kabupaten Sikka.
Dari dua peristiwa ini tampak kontras, masing-masing dari dua partai besar di tanah air, yang satu sedang mencari simpati dan yang lain agaknya akan kehilangan simpati. Yang satu sedang berusaha meraih image yang baik dari masyarakat pemilih yang lainnya harus kehilangan citra. Tetapi yang jelas, kedua-duanya tersangkut dalam politik pencitraan.
Lantas muncul pertanyaan: Apa makna di balik kedua peristiwa ini? Lantas kita turut bertanya, apa itu judi dan apa itu pertandingan sepak bola dan apa hubungannya dengan politik? Dan terutama bagaimana kaitannya dengan politik pencitraan yang ujung-ujungnya bertengger pada politik kekuasaan?
Keberadaan manusia dalam lingkungan sosial adalah keberadaan politis. Politik kekuasaan berurusan dengan cara untuk memperoleh kekuasaan dan mempertahankannya. Untuk memperoleh kekuasaan perlu menjaga citra dengan mencari simpati dari publik pemberi kuasa yang dalam tatanan demokrasi ada dalam tangan rakyat. Politik kekuasaan ini diperlawankan dengan politik kepedulian sosial sebagai tanggungjawab orang-orang yang tidak terlibat dalam politik kekuasaan. Antara politik kekuasaan dan politik kepeduliaan sosial ini tersirat esensi keberadaan manusia sebagai mahluk sosial.
Politik dalam arti sempit berarti segala perilaku, tindakan pemerentah, para wakil rakyat, partai politik dan organisasi untuk meraih suatu tujuan. Di dalamnya terdapat langkah-langkah hidup yang taktis, penuh perhitungan untuk mencapai suatu tujuan secara maksimal dan efektif. Dengan demikian politik adalah segala daya upaya atau strategi untuk mendapat kekuasaan secara legitim. Otto von Bismark mendefenisikan politik bukan sebagai teori tetapi sebuah pilihan dari banyak kemungkinan untuk mencapai suatu perjuangan. Di satu sisi politik berbicara tentang sesuatu yang menyangkut umum dan berpautan dengan publik.
Dari pemahaman akan politik ini, ada jawaban atas intensi sebuah pagelaran pertandingan sepak bola. Ada relasi antara actus saat ini dan tujuan yang mau dicapai. Dengan demikian menjadi jelas, buat apa Partai Golkar repot-repot merancang sebuah ajang akbar untuk mengundang simpati rakyat. Pasti ada udang di balik batu. Namun inilah cara-cara partai politik modern merebut simpati pemilihnya.








