PUISI: Festival Ledalero 2006
Saturday, 5. January 2008, 10:59:45
Paulus Bonniek Renggo
Di jeda tangismu, kulihat
matahari mengupas geliat.
Lalu kau terbakar dan pekat,
menyelam ke liang lahat.
Aku berontak,
berteriak sampai koyak.
Aku berjarak,
mengukur tanah retak.
Di jeda pergimu, kusambut
tangis mentari.
Air matanya membasahi rambut.
Lalu meresap ke nubari.
Aku terdiam. Tertunduk dalam-dalam.
Pergi ke jalan menganyam malam jadi pagi yang temaram.
Aku pingsan. Terjerat kebisuan mencekam.
Di sana kutemukan kau sedang kaku dalam diam.
Saat tersadar, kutengadah
dan bertanya pada-Nya: “Apa benar damai sudah tiada???”
Aku terbang dan pergi ke entah.
Mengajak angin berlari sampai lelah.
Mendaki puncak lalu turun ke lembah.
Di keasingan, kutersadar,
kemudian....wah!!!
Ada yang memantulkan cahaya.
Menyilaukan, bahkan bisa bikin buta.
Sorot bertubi-tubi tak lelah,
terus menyerang seperti enggan menyerah.
Lagi, aku ter-wah!!!!
Tak terkira sudah di bibir sebuah kawah.
Amarah magna bikinku terpana.
Geloranya mengusirku: Pergi saja kau!!!! Ini Inferno!!!!
Kembali dari keasingan, aku terjaga.
Seekor belalang hinggap di mata.
Di pundaknya terpikul berita.
Setelah kubaca, ternyata isinya duka.
Seperti tak percaya, aku ternganga. Seperti tak terjaga, aku dibuat lelap.
Seperti tak punya kata, aku dibuat senyap. Seperti kobaran api, aku menyala.
Berita duka berita derita, berita luka berita nestapa.
Api di dada tak mau redup, padahal segentong air telah ia hirup.
Api di dada tetap menyala seiring degup, padahal sudah kuperintahkan untuk cukup.
Seperti apa berita duka berita derita, berita luka berita nestapa.
Kupu-kupu sibuk mencari tempat berteduh. Ia bingung kenudian luruh.
Kura-kura pusing mengadu, ia kesana kemari kemudian rubuh.
Tersayat, angin palingkan muka. Tergugat, air percikkan bisa.
Tergagap, api tak mau padam. Terlelap, tanahku tinggal muram.
Dalam muram, kutengadah
dan bertanya pada-Nya :”Apa benar damai sudah tiada???”
Tak di lembaga-lembaga pemerintahan, tak di ruang-ruang pertemuan,
tak di jalan-jalan ibu kota, tak di pelosok yang menawan,
kapal bertemu kapal
sepak betemu sepak
bebal bertemu bebal
jejak bertemu jejak
terpatri duka
terpatri luka
terpatri air mata
terpatri meminta
ada yang dibuat tiada
(damai yang sesungguhnya ada,
kenapa dibuat tiada???)
Cakar tak jenuh membaca cakar,
sepak tak jenuh membaca sepak
Ledak tak jenuh membaca ledak, bakar tak jenuh membaca bakar
Semuanya ramai berteriak,
sampai ada bom yang meledak
bikin semua telinga gatal, bikin semua mata terpental.
Ada yang menanjak menuju puncak.
bukan adap dupa harum mewangi.
Bukan!!!! Bukan !!!! Bukan!!!!
Itu hanya semerbak bangkai.
Hanya???? Hanya???? Hanya????
Sunyi, sunyi, lelap .....
Senyap, senyap berlari ....
Gegap, gegap, tiarap .....
Sembunyi, sembunyi menari .......
Wahai JAHANAM!!!!
dasar bangsat
dasar laknat
dasar bejat
dasar biadab!!!!
Usai sajalah kau!!! Untuk apa hidup
kalau ternyata bau bangkai dan enggan untuk cukup.
***
P e s a n S u a r a
Paulus Bonniek Renggo
Begitu banyak mata cairkan darah.
Begitu banyak luka alirkan darah.
Begitu banyak harapan tergolek di selokan.
Begitu banyak pengorbanan bersolek di kesia-siaan.
Di antara ranggas kelopak-kelopak jiwa,
lahir kata-kata
menjelma suara
“wahai kalian,
jiwa-jiwa gundah
jiwa-jiwa yang ragu melangkah
jiwa-jiwa yang enggan merekah
jiwa-jiwa yang lunglai menyerah
Jangan pernah lontarkan “kami kalah”
Jangan pernah orasikan “suara kami hanya sampah”
Ingatlah bahwa
hidup masih panjang
jalan masih terbentang
cahaya masih benderang
akal masih cemerlang
suara masih lantang.
buatlah agar
berdiri tetap tegak
berlangkah tetap serentak
berkerah tetap gagah
bersuara tetap indah
hingga di kemudian
apabila
gertak si wajah garang cuatkan galak
perintah atasan menyalak-nyalak
peluru tertawa ngakak
mortir meronta berontak
dan
porak poranda semakin marak
sedikitpun kalian tak
pasrah
lelah
lemah
menyerah
goyah
luluh
luruh
rubuh
dalam
adu tatap
adu pendapat
adu hebat
adu mantap
Dikrengkeng bagaimanapun,
kebebasan masih punya sayap untuk terbang tinggi meleset.
Jangan patahkan sayap-sayapmu dengan bilah-bilah janji palsu.
Disekat bagaimanapun,
suara masih punya lorong untuk keluar dan didengar.
Jangan tutup lorong-lorong sempitmu dengan tanah keputusasaan.
Di tiup bagaimanapun,
keberanian masih punya udara untuk menyala dan menerangi.
Jangan pernah redup nyalamu oleh hembusan angin-angin kosong.
Demi sebuah kebenaran, berteriaklah!!!
Jangan takut pada matahari, karena ia hanya memanas-manasi.
Jangan takut pada mendung sepanjang hari, karena ia hanya menyelubungi.
Jangan takut pada astroid-astroid yang katanya mampu meluluhlantahkan bumi.
Takut hanya pada Satu yang kuasa-Nya, dapat menghentikan waktu,
memotong sayap-sayap jiwamu, membungkam suaramu,
dan menggelapkan penglihatanmu.
Ia sanggup berbuat begitu bukan karena ia bengis
melainkan bagiNya waktu telah habis.
Wahai kalian, bersuaralah senantiasa karena Ia sendiri adalah suara
dari suara-suara yang tak henti bersuara
menyuarakan suara kaum-kaum tak bersuara.
Belajarlah dari pada-Nya untuk tetap bersuara.
***










PioRego # 6. June 2008, 21:34
ada salam nih dari engko puung kae Pian di Togo. Dia aman-aman saja, cuman dia masih pikiran dengan gerejanya yang baru-baru ini diterpa angin kencang. untung sja pastorannya tidak turut hancr diterpa angin. Saat itu kae sementara tidur nyenyak.
Dia beri salam banyak utnuk mu dan harapannya: siapkan diri baik-baik untuk kaul kekal tahun depan dan baru saat itu kae datang libur khusus untuk ikut kaul kekalmu dan tahbisan Tono sepupumu.
salam dari Togo
Pius