Filsafat Bahasa 02: Batas-batas Pemahaman
Thursday, 17. January 2008, 04:18:28
Pengalaman Keterasingan
O.F. Bollnow, Mass und Vermessenheit des Menschen, Vandenhoeck & Ruprecht, Göttingen, 1962
Tergerak dan terguncang secara mendalam oleh kepedihan, Mörike bertanya dalam satu puisi kecilnya: “dapatkah seorang manusia, menjadi yang lain sepenuhnya, seperti ia inginkan?” “Dengan itu ia memaksudkan setiap kemesraan kehidupan bersama dan saling pengertian, di dalamnya seorang membiarkan yang lain mengambil bagian hingga ke bagian terdalam jiwanya, dalam perasaan dan pikirannya dan tak sedikit pun yang tersisa untuknya sendiri. Pertama-tama untuk situasi dua orang kekasih yang saling mencintai, ideal hidup penuh kemesraan itu muncul sebagai hal niscaya, namun segera setelah itu bertumbuh pula kesulitan-kesulitan pertama dari batas-batas, yang membebani upaya memahami dan dipahami dalam kemesraan. Pertanyaan menentukan adalah sejauh mana mungkin upaya mengatasi kesepian terdalam dari jiwa melalui sentuhan orang lain. Dari kekhawatiran paling dalam dan kekecewaan paling serius lepaslah jawaban dari mulut Mörikes: “Di malam yang panjang, aku merenung dan harus mengatakan, tidak!” selalu terbentang tembok yang dibangun antara manusia, yang tidak dapat dipanjat manusia, dan hanya dalam hubungan religius dengan keilahian, Mörike menemukan adanya pemahaman dan persatuan tertinggi, namun pemahaman dan persatuan model ini tetap tak dapat dicapai dalam relasi intim manusiawi.
Bagi Mörike dalam kegelapan keraguan yang penuh ketakutan ini muncul pertanyaan hakiki dalam kehidupan bersama manusia, sebuah pertanyaan yang umumnya tetap tersembunyi dalam kehidupan rutin harian kita. Dalam keberadaan rutin tampak bagi kita kehidupan sesama kita sebagai hal yang dengan sendirinya dipahami seluruhnya. Kondisi ini mengiringi kehidupan bersama mereka, dan kehidupan harian berlangsung mulus dan tanpa keraguan. Baik ketika bergaul dengan mereka penuh keakraban maupun ketika merasa diserang atau ketika dari pihak kita menyerang mereka, kita paham, apa yang mereka buat dan apa yang mereka lakukan, apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka rasakan. Tentu saja pemahaman ini lebih baik pada seseorang dan lebih buruk pada yang lain, namun perbedaan ini terletak hanya berlandas pada dekatnya atau jauhnya hubungan seseorang terhadap sesama, dan untuk kasus seorang yang kehilangan minat dan perhatiannya seluruhnya pada seseorang maka pemahaman tersebut juga jatuh ke titik terendah. Namun hal ini berarti hanya sebagai batas faktis, yang ada antara kefanaan kodrat kita dan kebakaan dunia kehidupan yang dapat dipahami; hal itu tidak berarti batas yang ditetapkan bagi kemungkinan pemahaman antar-manusia dalam hakikat terdalamnya. Secara hakiki kemungkinan saling pemahaman penuh antara manusia merupakan pengandaian yang dengan sendirinya ada, dan dalam kedekatan yang memadai tampaknya tak ada batas bagi pemahaman timbal balik.
Hanya sesekali orang sadar, betapa kerap semua pemahaman yang muncul tetap bersifat dangkal dan betapa di baliknya tersembunyi jurang gelap. Akan tetapi, pada umumnya rutinitas kehidupan yang seimbang dengan sendirinya menghapus kembali keraguan yang muncul. Dan sangat jarang, seperti yang terjadi pada Mörike pada malam hari, pengalaman mengguncangkan sungguh muncul dalam terang kesadaran penuh, perihal betapa sempit batas-batas semua pemahaman manusia dan betapa sepinya setiap orang di lubuk jiwanya, tidak saja dalam hubungan luar dengan lingkungan yang dangkal bising, melainkan juga di tempat, di mana ia sendiri merasa berhubungan sangat akrab dekat dalam persahatan dan kasih dengan orang lain. Ya, barangkali, Mörike juga belum dapat menakar kekuatan sepenuhnya dari kesulitan ini, ketika ia dalam keadaan terkejut mulai ragu, entah dua orang dapat memahami dan dipahami sepenuhnya meresap. Ada pengalaman-pengalaman, dengan pemahaman yang sangat mendalam dan pemahaman inti jiwa paling dalam tampak sebagai kebohongan. Dengan itu, soalnya bukan lagi pertanyaan, entah manusia ingin memahami segalanya pada orang lain, melainkan entah ia memang dapat memahami sesuatu dari hakikat terdalam dari satu jiwa asing. Mungkin Mörike sebagian besar masih mendekam dalam kehidupan yang aman di zamannya, dan baru dengan pengalaman yang baru dan sangat drastis dan mendalam ini seluruh perasaan kehilangan manusia dewasa ini mencuat ke permukaan kesadaran dalam dunia Mörike.
Semuanya itu merupakan pengalaman keterasingan yang menyakitkan dan paling mendalam. Dua orang dapat dekat satu sama lain, sejauh yang dapat dilakukan oleh dua orang manusia, dan yakin bahwa mereka sepenuhnya mengenal satu sama lain. Namun mendadak mereka sadar, acap kali karena hal kecil yang tampaknya sepele, seperti ketika mereka berbicara tentang kenangan akan masa lampau bersama, bahwa justru saat itu, ketika mereka yakin telah menjadi sepenuhnya satu, setiap orang telah hidup dari satu dunia yang sama sekali lain, bahwa yang seorang membuat gambaran dari yang lain, bahwa mereka jauh melenceng dalam hakikat, dan bahwa mereka terpisah satu sama lain oleh jurang yang dalam yang tak terjembatani. Apa yang dahulu tampak menjadi pemahaman penuh kemesraan, dalam kenyataan sebenarnya sekadar bergaul satu sama lain, di dalamnya setiap orang hanya menempatkan gambar dambaan dirinya dalam diri orang lain, namun dalam bagian terdalam mereka tak mengenal satu sama lain. Sejarah kehidupan batin mereka, mengapa mereka dekat satu sama lain dan kemudian kembali asing satu terhadap yang lain, tak ada yang mengetahui satu sama lain, dan justru dalam lingkaran sempit hubungan timbal balik mereka, gambaran yang dimilikinya keduanya sekian berbeda, sehingga setiap ikhtiar untuk menyamakan gambaran-gambaran tersebut sia-sia. Manusia tidak pernah merasa sekian pedih dalam hatinya ketika dalam situasi itu disalah mengerti secara sangat buruk. Ketika dalam rasa putus asa satu pihak mencoba untuk bertindak dan memang tidak dapat bertindak hal ini, ia tiba-tiba menyadari bahwa pihak lain hanya melihat upayanya sebagai sikap kebodohan yang gegabah. Ketika misalnya satu pihak karena tenggang rasa yang berlebihan diam dan dalam pengorbanan yang menyakitkan hanya memikirkan kesejahteraan pihak lain, ia tiba-tiba sadar bahwa justru pihak lain melihat sikapnya sebagai sikap tanpa tenggang rasa dan penuh acuh tak acuh. Hampir tak ada gunanya untuk menyusun contoh-contoh terperinci di sini, contoh yang setiap orang dapat penuhi dari pengalaman kehidupan terdalamnya (dan justru pengalaman hidup yang mendalam milik kita sendiri tak terkatakan). Ketika dalam hubungan kehidupan yang paling pribadi dan diandalkan tersingkap keterasingan model itu, maka selalu terjadi petaka hancurnya hubungan. Akan tetapi, hal seperti itu bukanlah pengalaman-pengalaman kebetulan, yang kadang kala karena suatu sebab dari luar menimpa mereka yang bernasib naas dan meluputkan mereka yang bernasib mujur, melainkan pengalaman-pengalaman itu berlandas pada hakikat manusia itu sendiri, dan hanya karena manusia kurang jujur sehingga pengalaman-pengalaman itu tertutup. Hasilnya tetap ada yakni tetap mengalami kesepian dalam intinya yang terdalam dan tak ada peluang untuk mengurangkan dinginnya kesepian ini dengan kehangatan pemahaman.
Peluang-Peluang Untuk Memahami
Namun, apakah arti keterasingan ini dalam perlawanan dengan pemahaman, yang dalam kehidupan rutin kini muncul sebagai kenyataan dan yang digambarkan secara sistematis dalam ilmu humaniora? Seberapa jauh cakupan pemahaman itu? Apa yang dapat dipahami? Jawaban atas pertanyaan ini muncul dari penelitian atas apa sebenarnya yang hendak dipahami? Pemahaman tersebut bukan diarahkan pada inti terdalam manusia, yang telah kita bicarakan, bahkan juga tidak pertama-tama diarahkan kepada sesuatu seperti “jiwa”, itu berarti, kehidupan “batin” manusia, tetapi manusia memahami satu sama lain dalam media yang objektif, di mana pertanyaan tentang “bagian terdalam” jiwa tidak muncul. Hal itu tampak dalam tataran kehidupan sederhana rutin harian. Orang berada di tengah kegiatan yang dilakukan secara bersama, dalam satu karya (seperti saat membangun rumah). Dan memahami yang lain, dalam apa yang dilakukannya, memahami orang lain saat ia sambil saling bahu-membahu bersama orang lain memberikan sumbangan bagi keberhasilan seluruhnya. Namun orang tidak memahaminya bagaimana ia rasakan, apa yang terjadi dalam dirinya “secara batiniah”, orang sama sekali tidak memiliki alasan untuk berminat secara khusus terhadap hal itu. Hal itu terulang kembali pada tataran batiniah yang lebih tinggi. Kita saling memahami dalam suatu dunia rohani. Kita saling bertemu dalam “makna” gambaran jiwa objektif. Dengan itu kita dapt saling mengerti tentang isi satu pengetahuan ilmiah atau sebuah karya seni dan juga gambaran jiwa lainnya (dan selanjutnya di atas dasar ini dibangun seluruh humaniora). Ya, dalam tataran ini sangat mungkin (sebagaimana orang kadang-kadang merumuskan), untuk memahami seorang penulis, sebagaimana ia memahami dirinya. Hal itu tampak sebagai suatu kelancangan, namun akan tampak jelas, apabila orang mencermati secara jeli ke arah mana pemahaman ini diarahkan. Dan jawabannya adalah: pemahaman diarahkan kepada apa yang dimaksudkan penulis bersangkutan dalam karyanya. Upaya memahami hal ini secara lebih baik tidak terlalu berbeda dari kemungkinan yang pasti, untuk membuat sebuah hasil kerajinan – seperti sebuah meja – secara lebih baik daripada satu hasil kerajinan lainnya. Dengan itu, yang dimaksudkan dengan pemahaman lebih baik dalam satu arti objektif: sebagai satu penyampaian lebih lanjut dan pelaporan dari pemikiran yang melintas dalam bayangan penulis tersebut, namun tidak dalam arti batiniah: sebagai penghayatan dan pendalaman rangsangan jiwa yang berkecamuk dalam batinnya. Apa yang terjadi secara kejiwaan dalam dirinya, hal itu sama sekali tidak dipermasalahkan. Karena itu kita menelaah lebih dalam ke isi makna karya, sebagaimana disadari oleh penciptanya, namun tidak lebih dalam pada kehidupan jiwa pencipta sendiri. Kehidupan jiwa tetap gelap seperti sedia kala dan hanya sebuah metode yang dipsikologisasi secara keliru telah menjanjikan penyingkapan untuk memahamai karya-karya itu dengan bertitik tolak dari kehidupan jiwa pencipta.
Lebih dari pemahaman yang objektif ini, ada juga pemahaman kedua yang sungguh rohaniah. Pada ungkapan dan tanda-tanda kita mengenal bagaimana perasaan manusia lain. Dalam tawanya kita memahami keadaan lucunya dan dalam tangisannya kita memahamai rasa sedihnya, dalam kepalan tinjunya kita memahami amarahnya. Umumnya: dalam ungkapan tubuh kita memahami keadaan jiwa. Kaitan internal antara pengalaman, ungkapan dan pemahaman inilah yang dengan cara yang sangat berbeda diteliti oleh Dilthey dan Klages dan disebarluaskan. Adalah jati diri dari yang batiniah (jiwa) dan yang indrawi (raga), yang diandaikan dalam penelitian mereka – filsafat hidup yang unik – dalam kenyataan hal itu memungkinkan pemahaman atas kehidupan jiwa yang sangat diperluas. Tercakup di sini tidak saja ungkapan tubuh yang kelihatan dalam mimik dan isyarat dan penyampaian verbal (bahasa dengan cara lain melampaui bidang ungkapan murni), tetapi sekaligus juga setiap pengolahan pengalaman langsung dalam kata-kata tertulis dan karya seni. Puisi liris dalam arti tentu merupakan fenomena purba dari ungkapan yang dipahami dalam artian ini. Namun apabila kini orang yakin, dapat memahami kehidupan rohaniah dalam cara ini, maka orang salah mengerti batas-batas yang harus ditetapkan sejak awal karya ini. Jati diri – bersifat filsafat hidup - dari jiwa dan ungkapan menyangkut sebagian besar, namun bukan seluruh kenyataan manusia dan karena itu belum merupakan segalanya. Di balik bidang dari hal-hal yang dapat diungkapkan dan dilukis yang dipahami secara tepat dengan cara ini masih ada satu bidang rohaniah lain dari keberadaan manusiawi, yang pada dasarnya tak terlukiskan, tempat sesungguhnya terdapat batas-batas bagi pemahaman.
Ketertutupan Akses Eksistensial
Pertama-tama, suatu permenungan sederhana memperlihatkan bahwa semua yang dapat saya pahami dalam ungkapan fisis, suatu perasaan, suatu suasana batin, afeksi dan yang serupa, umumnya: merupakan suatu keadaan emosional. Keadaan ini merupakan tataran luas dan mendasar jiwa, namun belum merupakan seluruh jiwa. Saya tidak dapat mengenali kehendak dan pikiran dalam ungkapannya, atau lebih tepat: dalam ungkapan asali, saya mengenal penggunaaan kehendak dan kumpulan pemikiran, saya juga mendengar, apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya, melihat apa yang ia lakukan, dan dari situ menyimpulkan pendapat dan maksudnya, namun apa yang sungguh dipikirkan orang lain di balik benaknya dan apa yang ia inginkan, tidak dapat dapat saya lihat, paling banter saya dapat menyimpulkannya dari apa yang saya amati dari perilakunya, dan dalam hal itu saya harus selalu tetap sadar akan ketakpastian dari kesimpulan saya; karena apa yang ia katakan dapat ia bohongi dan apa yang ia lakukan dapat menyesatkan. Akhirnya saya tidak pernah merasa pasti, apa yang sesungguhnya terjadi “di balik“ benaknya. Dan pada galibnya hal itu juga tidak berbeda untuk kelompok yang sudah disebutkan terdahulu menyangkut keadaan emosional. Saya mungkin mengerti keadaan suka dan duka dalam ungkapannya. Namun mengapa yang lain bergembira atau sedih, lagi-lagi tetap dihinggapi kektidakpastian sebagaimana sebelumnya terjadi pada isi pemikiran atau kehendaknya. Tambahan pula, sejumlah afeksi, seperti kebencian, lebih banyak tersembunyi dan sangat kurang kentara pada ungkapan fisik daripada yang lain seperti kemarahan dan rasa jengkel.
Lebih dari itu ada hal lain: setiap ungkapan sebagai ungkapan selalu dwimakna, dan saya hanya dapat melihat - dengan syarat - kekuatan perasaan yang ada di baliknya. Sangat terbatas kebenarannya apabila Jakobus menandaskan bahwa orang dapat meningkatkan atau menahan penguatan atau pengurangan ungkapan seturut kesukaannya. Suatu perasaan tetap tak tersentuh hingga pada tingkatan tertentu. Justru manusia dapat menahan perasaan yang paling dalam, dan ada tahap-tahap antara keterbukaan dan ketertutupan, ya di sini juga masih terdapat kemungkinan penipuan dan upaya untuk secara sadar menyembunyikan hal sebenarnya, yang lagi-lagi tidak dapat dikenal pada ungkapan luarnya. Dan hal ini masuk dalam tali temali dengan tipuan-tipuan tak sadar yang lebih dalam, yang tersembunyi bagi manusia sendiri di lubuk jiwanya. Jadi hanya ada suatu pemahaman yang jelas dan tuntas dalam kasus-kasus yang relatif dangkal. Namun semakin orang turun ke kedalaman jiwanya, semakin semuanya kacau dalam dwimakna yang tak berujung. Bukan baru dalam keadaan dipahami oleh orang lain, melainkan sudah dalam pemahaman diri sudah ditemui kesulitan sesungguhnya (namun hendaknya tentang itu tidak dibicarakan di sini).
Akan tetapi, hal ini mengarah pada kaitan terakhir dan terdalam, yang sekaligus berarti batas upaya filosofis kehidupan untuk pengetahuan dalam situasi ini: setiap jati diri yang diandaikan dari jiwa dan raga tidak pernah dapat mencapai bidang yang paling dalam dari jiwa. Ada satu kedalaman, yang kita tidak ingin ungkapkan dan di hadapanya jiwa selalu diam. Schiller sudah menyentuh masalah ini dengan ayat terkenal: “Jiwa berbicara, maka jiwa tidak lagi berbicara! (I 313); karena ada bidang, di dalamnya setiap ungkapan berarti suatu pengalihan dan penodaan sesuatu yang dirasakan sebagai yang suci. Tak seorang pun yang telah mengungkapkan - secara lebih memahami - daripada Hölderin perihal keniscayaan untuk diam yang suci dari lubuk paling dalam manusia. Dan lebih jauh, ada bidang terakhir dalam diri manusia, di mana ketertutupan dan diam yang berkiblat pada kemungkinan untuk pengungkapan tetap lemah, karena pada dasarnya di sini tak ada peluang lagi untuk pengungkapan. Berkaitan dengan satu hal lain, Kierkegaard pernah merenungkan bagaimana tampang Kristus yang baru, seandainya Ia datang dewasa ini; dari ciri-ciri fisik mana manusia dapat mengenalnya, dan ia menjawab: misalnya mirip seorang tukang pos kecil. Ia sama sekali tidak bersikap gegabah ketika berkata demikian; dengan itu ia ingin mengatakan bahwa segala hal pada manusia yang membuatnya “berarti” ke luar, kejeniusan dan bakat dsb. – seluruh tataran, di mana terdapat keselarasan antara jiwa (dalam) dan badan (luar) – tetap merupakan hal-hal lahiriah berhadapan dengan inti sejati religius manusia. Inti religius tersebut tetap (tidak saja relatif) bersifat batiniah, dalam arti luput dari kemungkinan ungkapan yang terukur. Karena itu, tak ada tanda-tanda, dengannya seseorang dapat mengenal kedalaman religius manusia (misalnya dalam bentuk proses psikodiagnostik). Inti religius selalu muncul secara hakiki dan dalam konteks demikian ia tidak terungkap. Tentangnya manusia hanya dapat berbicara terbata-bata. Namun, tergagap-gagap adalah sesuatu yang sama sekali lain daripada ungkapan yang tepat. Tergagap-gagap adalah upaya terakhir, setelah sadar akan ketakberdayaan, untuk menyatakan sesuatu yang tak terkatakan, apabila tak ada lagi yang dapat dikatakan, namun dengan suatu cara lain untuk paling tidak membangkitkan perhatian atas hal itu.
Hal itu terutama terjadi, ketika menyangkut lubuk terdalam hakikat manusia, apa yang akhir-akhir ini dilukiskan dengan konsep Eksistensial. Dan dengan itu kita dapat mengatakan secara umum: Hal yang eksistensial terletak di luar kemungkinan pemahaman sesungguhnya. Situasi batas, yang secara kena direfleksikan Jasper sebagai tanda eksistensial, batas-batas yang ditakuti, padanya orang terbentur dan tidak dapat melintasinya, muncul pada titik ini: pada batas yang tak terlintasi dari kemungkinan suatu ungkapan yang terukur dan pemahaman yang terukur berhadapan dengan inti eksistensial pengalaman. Orang ingin membuat dirinya agar dipahami orang lain dan membiarkan yang lain mengambil bagian, orang ingin memahami manusia lain dan mengambil bagian dalam kehidupannya, dan selalu gagal dalam pengalaman-pengalaman yang membuatnya menderita, yang menjadi titik tolak puisi Mörike. Apa yang terungkap, selalu hanya jiwa, bukan eksistensi. Peluang-peluang lain mana untuk pemahaman yang masih ada di sini, suatu peluang yang meski pada dasarnya tidak memadai namun membantu, tetap merupakan objek permenungan. Peluang-peluang itu berguna untuk memberikan petunjuk-petunjuk tertentu, menuntun orang lain dalam mewujudkan pengalaman yang tepat, namun peluang-peluang tersebut sama sekali tidak hendak menghilangkan kesepian jiwa yang paling dalam. Apa yang terjadi di sini dengan pelbagai perjuangan dan keputusan, apa yang dipertahankan di tengah pelbagai kesusahan dan penderitaan, apa yang mendesak manusia dalam keputusasaan paling pahit dari manusia, hal itu terletak di luar kemungkinan untuk dipahami secara hangat. Di sini manusia sungguh berdiri sendiri.










adrisare # 19. January 2008, 23:05
Komunitas Nitapleat # 10. February 2008, 23:52