Manusia dan Bahasa (1966): Hans-Georg Gadamer,
Thursday, 17. January 2008, 04:31:01
Gesammelte Werke 2. Hermeneutik II.
J.C.B Mohr (Paul Siebeck, Tübingan, 1993, UTB 2115
Aristoteles menyusun definisi klasik tentang hakikat manusia. Menurut definisi tersebut manusia adalah mahkluk hidup yang memiliki logos. Dalam tradisi Barat, definisi itu menjadi baku melalui bentuk pernyataan bahwa manusia adalah animal rationale, mahkluk rasional, yang dengan kemampuannya untuk berpikir yang dibedakan dari semua binatang lain. Dengan itu, definisi tersebut menerjemahkan kata logos sebagai akal atau pemikiran. Namun sesungguhnya makna pertama dari kata ini adalah bahasa. Aristoteles pernah mengembangkan perbedaan antara manusia dan binatang sebagai berikut: binatang dapat mengerti satu sama lain dengan memperlihatkan satu sama lain apa yang membangkitkan hasrat mereka sehingga mereka dapat mencarinya, dan menujukkan apa yang menyakitinya, sehingga mereka dapat menghindar jauh dari hal itu. Hanya sejauh itulah kodrat mereka berfungsi. Untuk manusia sendiri logos juga diberikan, agar mereka dapat mengungkapkan satu sama lain apa yang berguna dan merugikan, dan karena itu apa yang benar dan apa yang salah. Sungguh sebuah tesis yang mendalam. Apa yang memberikan manfaat dan mudarat adalah sesuatu yang tidak diinginkan dalam dirinya. Namun, hal itu diinginkan untuk kepentingan sesuatu yang lain yang belum ada, hal itu perlu untuk memperoleh sesuatu yang belum ada tersebut. Karena itu, ciri-ciri pembeda pada manusia adalah keunggulannya atas apa yang kini ada, cita rasanya akan masa depannya. Artistoteles sekaligus menambahkan bahwa bersamaan dengan cita rasa tersebut diberikan cita rasa akan yang benar dan salah – dan semua semua hal itu terjadi karena manusia, sebagai individu, memiliki logos. Ia dapat berpikir dan dapat berbicara. Melalui pembicaraannya ia dapat mewujudkan sesuatu yang kini tak ada, sehingga orang lain dapat melihat hal itu sebelum dia. Ia dapat mengkomunikasikan segala sesuatu yang ia maksudkan. Bahkan lebih dari ini, berkat kenyataan bahwa ia dapat berkomunikasi maka hanya di kalangan manusia ada makna umum, yakni konsep-konsep umum, teristimewa konsep-konsep yang membuat kehidupan bersama manusia dapat berlangsung tanpa pembunuhan – dalam bentuk kehidupan sosial, suatu konstitusi politis, pembagian kerja yang terorganisir. Semua hal ini terangkum dalam pernyataan sederhana bahwa manusia adalah mahkluk yang memiliki bahasa.
Kita mungkin berpikir bahwa pengamatan yang gamblang dan meyakinkan ini telah sejak lama memberikan tempat istimewa bagi fenomena bahasa dalam pemikiran kita tentang kodrat manusia. Apa yang lebih meyakinkan kita daripada fakta bahwa bahasa binatang – apabila seorang ingin memberikan nama ini pada cara mereka membuat agar diri mereka dapat dimengerti – seluruhnya berbeda dari bahasa manusia, di dalamnya suatu dunia objektif dipahami dan dikomunikasikan? Sesungguhnya, bahasa manusia terungkap lewat tanda-tanda yang tidak kaku, sebagaimana tanda-tanda yang diungkapkan binatang, tetapi selalu beragam, bukan saja dalam arti bahwa ada pelbagai bahasa, namun juga dalam arti bahwa di dalam bahasa yang sama, ungkapan yang sama dapat merancang hal-hal yang berbeda dan ungkapan yang berbeda dapat merancang hal yang sama.
Namun, sesungguhnya pemikiran filosofis Barat tidak menempatkan hakikat bahasa sebagai poros pertimbangannya. Sungguh terasa sangat mencolok bagi kita bahwa dalam cerita penciptaan Perjanjian Lama, Allah melimpahkan penguasaan atas dunia pada manusia pertama, dengan mengizinkannya untuk memberi nama semua barang seturut kebijaksanaannya. Cerita tentang menara Babel juga memperlihatkan peran bahasa yang sangat penting dan mendasar bagi kehidupan manusia. Namun, justru tradisi religius Kristen Barat yang menghalangi kajian serius atas bahasa, sehingga baru pada zaman pencerahan pertanyaan tentang asal-usul bahasa dapat diajukan dengan cara baru. Kemajuan mencolok terjadi ketika jawaban atas pertanyaan tentang asal-usul bahasa dicari dalam kodrat manusia ketimbang dalam cerita penciptaan alkitabiah. Langkah selanjutnya tak terhindarkan: Keasalian kodrati bahasa tidak memungkinkan langkah penelitian lebih jauh tentang suatu kondisi asali ketika manusia tidak berbahasa. Dengan ini pertanyaan inti tentang asal-usul bahasa sama sekali tersingkirkan. Herder dan Wilhelm dari Humboldt memperlihatkan bahwa bahasa dari hakikatnya bersifat manusiawi dan bahwa manusia secara hakiki merupakan mahkluk linguistik, dan mereka mengolah peran penting pandangan ini bagi pandangan manusia tentang dunia. Keragaman struktur bahasa manusia adalah bidang studi Wilhelm Humboldt, tokoh yang pernah menjadi menteri Kebudayaan yang menarik diri dari kehidupan publik – Sang Arif dari Tegel yang menjadi pendiri ilmu linguistik modern melalui karya-karya di usia tuanya.
Namun, filsafat bahasa dan ilmu linguistik rancangan Humboldt tidak membantu pemulihan dari pandangan Aristotelian asali. Dengan menjadikan bahasa bangsa-bangsa sebagai objek penelitiannya, Humboldt mencapai sebuah lorong pengetahuan yang mampu mengklafifikasikan dalam satu cara baru dan menjanjikan baik keragaman suku bangsa dan zaman maupun kodrat umum manusia yang menjadi dasar dari semuanya. Namun prosedur ini sekadar melengkapi manusia dengan satu kemampuan dan menyoroti hukum-hukum struktural dari kemampuan tersebut – apa yang kita sebut sebagai tata bahasa, sintaksis, perbendaharaan kata-kata dalam bahasa – dan hal itu membatasi horizon pertanyaan tentang manusia dan bahasa. Tujuan dari suatu pendekatan seperti itu adalah memahami pandangan dunia dari pelbagai bangsa, bahkan rincian dari perkembangan budaya mereka, melalui cermin bahasa. Satu contoh dari pendekatan ini adalah kajian atas situasi budaya suku bangsa Indo-Jerman yang kita peroleh dari studi cemerlang Viktor Hehn tentang tanaman-tanaman dan ternak-ternak piaraan. prasejarah dari roh manusia jauh lebih dari pengetahuan linguistik prasejarah.
Namun untuk pendekatan ini, fenomena bahasa hanya memiliki makna riil dari suatu perwujudan luar biasa, tempat kita dapat mempelajari kodrat manusia dan perkembangannya dalam sejarah. Meski demikian, pendekatan tersebut tak mampu merasuki posisi sentral pemahaman filosofis, karena karakterisasi Kartesian atas kesadaran sebagai kesadaran diri tetap menjadi latar belakang dari semua pemikiran modern. Dasar yang tak tergoyahkan dari semua kepastian, hal yang paling pasti dari seluruh kenyataan, bahwa saya tahu diri saya, menjadi standar untuk segala sesuatu yang dapat memenuhi persyaratan-persyaratan pengetahuan ilmiah dalam pemikiran modern. Dalam analisis terakhir, penelitian ilmiah bahasa berlandas pada dasar yang sama. Spontanitas subjek memiliki salah satu dari bentuk-bentuk dasarnya dalam energi pembentuk bahasa. Di samping itu, pandangan dunia yang disajikan dalam bahasa dapat ditafsir secara sangat berhasil dalam konteks prinsip ini sehingga teka-teki yang diberikan bahasa kepada pemikiran manusia tidak muncul ke permukaan sama sekali. Karena adalah bagian dari hakikat bahasa bahwa ia memiliki ketaksadaran yang tak terpahami sama sekali terhadap dirinya. Sejauh itu, bukan kebetulan kalau penggunaan konsep “bahasa” merupakan perkembangan yang baru. Adanya konsep “bahasa” mengandaikan kesadaran bahasa. Akan tetapi, hal itu hanyalah hasil dari gerakan reflektif, di dalamnya seorang yang sedang berpikir telah mencerminkan operasi berbicara secara tak sadar dan mengambil jarak dari dirinya. Namun, teka-teki sesungguhnya dari bahasa adalah bahwa kita tidak pernah dapat melakukan hal ini secara sempurna. Lebih dari itu, semua yang berpikir mengenai bahasa sekali lagi sudah masuk kembali kepada bahasa. Kita hanya dapat berpikir dalam satu bahasa, dan justru berumahnya pemikiran ini dalam satu bahasa yang menjadi teka-teki terdalam yang diberikan bahasa kepada pemikiran.
Bahasa bukanlah salah satu dari sarana-sarana yang menjadi perantara antara kesadaran dengan dunia. Bahasa bukan merupakan peranti ketiga bersama tanda dan alat, keduanya secara pasti merupakan hal yang unik dari manusia. Bahasa sama sekali bukan sekadar satu instrumen, sebuah alat. Karena kodrat alat adalah kita mengendalikan penggunaannya, konkretnya kita mengambilnya dengan tangan dan menyimpannya apabila ia telah melakukan pelayanannya. Halnya tidak sama manakala kita mengambil kata-kata dari satu bahasa, meletakkannya di dalam mulut, dan setelah menggunakannya memasukkannya kembali ke dalam lumbung umum kata-kata tempat kita menumpukkannya. Analogi seperti itu salah karena kita tidak pernah menemukan diri kita sebagai kesadaran tentang dunia, dan apabila demikian memahami sebuah peranti pemahaman dalam satu kondisi bebas kata. Namun lebih dari itu, dalam semua pengetahuan kita tentang diri dan tentang dunia, kita sudah selalu diliputi oleh bahasa yang merupakan milik kita sendiri. Kita bertumbuh, dan menjadi akrab dengan manusia dan dalam analisis terakhir dengan diri kita ketika kita belajar untuk berbicara. Belajar untuk berbicara tidak berarti belajar menggunakan sebuah peranti praeksisten untuk merancang sebuah dunia yang dalam arti tertentu sudah akrab dengan kita; hal itu berarti mencapai suatu rasa akrab dan perkenalan dengan dunia itu sendiri dan bagaimana dunia menghadapi kita.
Sebuah proses terselubung yang mendalam dan penuh teka-teki! Sungguh suatu kebodohan untuk mengatakan bahwa seorang anak mengucapkan kata “pertama.” Sungguh gila bahwa orang ingin menemukan bahasa asali manusia dengan membiarkan seorang anak dalam isolasi kedap udara dari pembicaraan manusia dan kemudian, dari raban awal mereka dalam pengucapan kata-kata, mengenal bahasa manusiawi aktual dan memberinya kehormatan sebagai bahasa “asali” ciptaan. Kegilaan dalam gagasan seperti itu adalah bahwa gagasan tersebut ingin menghentikan dengan cara artifisial ketertutupan kita dalam dunia linguistik tempat kita hidup. Dalam kebenaran kita sudah selalu betah dalam bahasa, sebagaimana kita di dalam dunia. Aristoteleslah yang sekali lagi memberikan pelukisan yang paling luas tentang proses di dalamnya seorang belajar untuk berbicara. Apa yang hendak dilukiskan bukan belajar berbicara melainkan terutama berpikir, yakni mencapai konsep-konsep universal. Dalam aliran dari ungkapan dan wujud, dalam aliran tak putus-putus dari kesan-kesan yang terus berubah, bagaimana segala sesuatu seperti permanensi dapat terwujud? Tentu saja pertama-tama kapasitas retensi, yakni ingatan yang memungkinkan kita untuk mengenal sesuatu sebagai hal yang sama, dan itulah prestasi besar pertama abstraksi. Selain aliran wujud-wujud, faktor umum muncul di sana-sini, dan karena itu, setelah tumpukan rekognisi yang kita sebut pengalaman, kesatuan pengalaman perlahan-lahan muncul. Sekarang Aristoteles bertanya: bagaimana persisnya pengetahuan akan keuniversalan ini tercapai? Tentu saja tidak dengan cara bahwa satu hal berlalu setelah yang lain dan tiba-tiba pengetahuan universal diperoleh ketika satu hal khusus tertentu muncul dan diakui sebagai hal yang sama. Satu hal partikular ini tidak dibedakan dari semua hal-hal partikular lainnya oleh sejumlah kekuatan misterius yang mewakili hal universal. Akan tetapi, hal partikular itu juga sama seperti partikular yang lain. Namun juga benar bahwa dalam hal tertentu pengetahuan akan keuniversalan dalam kenyataan terwujud. Di mana pengetahuan akan keuniversalan tersebut berawal? Aritstoteles memberikan satu gambaran ideal tentang ini: bagaimana satu pasukan yang sedang melarikan diri kembali untuk melawan lagi? Tentu saja bukan dengan kenyataan bahwa orang pertama berhenti, atau orang kedua atau ketiga. Kita tidak dapat mengatakan bahwa pasukan melawan ketika sejumlah serdadu yang melarikan diri menghentikan pelariannya, dan juga tentu saja bukan ketika yang terakhir berhenti. Karena pasukan tidak memulai untuk melawan bersamanya; pasukan telah lama mulai untuk datang melawan. Bagaimana pasukan memulai, menyebar dan bagaimana pasukan akhirnya pada titik tertentu melawan lagi (yakni, bagaimana pasukan itu datang lagi untuk mematuhi kesatuan komando) tidak dapat ditentukan secara sadar, dikontrol melalui rencana, atau diketahui secara tepat oleh setiap orang. Meski demikian hal itu pasti terjadi. Justru pengetahuan akan keuniversalan terjadi dengan cara yang sama, karena pengetahuan itu sama dengan pengetahuan ketika masuk ke dalam bahasa.
Kita condong berprasangka dalam pemikiran dan pengetahuan kita karena tafsiran linguistik kita atas dunia. Bertumbuh dalam tafsiran linguistik ini berarti bertumbuh di dalam dunia. Sejauh ini, bahasa adalah ciri sejati dari keterbatasan kita. Bahasa selalu jauh melampaui kita. Kesadaran individual bukan menjadi standar yang dapat mengukur keberadaan bahasa. Sesungguhnya, tak ada kesadaran individual sama sekali di mana sebuah bahasa percakapan benar-benar hadir. Bagaimana bahasa hadir? Tentu saja bukan tanpa kesadaran individual, namun juga bukan dalam satu penjumlahan semata dari banyak pribadi, di dalamnya setiap pribadi memiliki menjadi kesadaran partikular akan dirinya.
Tak ada individu yang memiliki kesadaran riil akan pembicaraannya ketika berbicara. Hanya dalam situasi pengcualian seorang menjadi sadar akan bahasa, yang digunakannya untuk berbicara. Hal itu terjadi, misalnya, ketika seseorang mulai mengatakan sesuatu namun ragu-ragu karena apa yang ia hendak katakan agak aneh atau lucu. Ia heran, “apakah kita sungguh dapat mengatakan hal itu?” Di sini untuk sesaat bahasa yang kita gunakan disadari karena bahasa itu tidak melakukan apa yang aneh terhadapnya? Menurut saya kita dapat membedakan tiga hal:
1. Pertama, lupa diri hakiki yang menjadi bagian dari bahasa. Struktur, tata bahasa, sintaksis bahasa, semua faktor-faktor itu yang dijadikan tema oleh ilmu linguistik – sama sekali tidak sadar akan pembicaraan yang hidup. Namun satu dari penyimpangan-penyimpangan aneh dari kodratnya yang sangat perlu untuk pendidikan modern adalah kenyatan bahwa kita mengajarkan tatabahasa dan sintaksis dalam bahasa ibu kita dan bukannya dalam bahasa mati seperti Latin. Suatu prestasi raksasa dalam hal abstraksi dituntut dari seorang yang akan mengangkat tata bahasa dari bahasa ibunya kepada kesadaran eksplisit. Penerapan dan penggunaan aktual dari bahasa membuat tata bahasa hilang seluruhnya di balik apa yang dikatakan di dalam bahasa tersebut setiap waktu. Dalam mempelajari bahasa-bahasa asing ada satu pengalaman kecil dari fenomena ini yang setiap kita telah alami, adalah kalimat-kalimat paradigma yang digunakan dalam buku-buku pegangan dan kursus-kursus bahasa. Tugas buku-buku tersebut adalah membuat seseorang sadar akan fenomena linguistik khusus dalam satu cara yang abstrak. Pada masa-masa awal, ketika tugas penguasaan yang dituntut untuk belajar tata bahasa dan sintaksis dari satu bahasa masih diakui, kalimat-kalimat paradigma tersebut mengandung kesia-siaan yang mengagumkan yang dan lain cara mengungkapkan satu dan lain hal tentang Caesar atau Paman Karl. Kecenderungan modern untuk mengkomunikasikan banyak informasi yang menarik tentang negara asing melalui kalimat-kalimat paradigma model itu memiliki akibat samping yang tidak direncanakan berupa pengaburan fungsi eksemplarisnya justru sekian sehingga isi dari apa yang dikatakan menarik perhatian. Semakin bahasa digunakan sebagai bahasa hidup, kita semakin kurang menyadarinya. Jadi dampak dari lupa diri bahasa adalah bahwa keberadaan riilnya terletak dalam apa yang dikatakan dalam bahasa tersebut. Apa yang dikatakan dalam bahasa tersebut menentukan dunia bersama tempat kita hidup dan yang mencakup seluruh rantai tradisi yang kita peroleh dari literatur bahasa-bahasa asing, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Keberadaan riil bahasa adalah tempat kita diterima manakala kita mendengarnya – mendengar apa yang dikatakan.
2. Ciri hakiki kedua dari keberadaan bahasa bagi saya adalah nir-Aku (I-lessness). Siapa saja yang menggunakan satu bahasa yang tidak dipahami oleh orang lain ia tidak berbicara. Berbicara berarti berbicara dengan atau pada seseorang. Kata hendaknya merupakan kata yang benar. Namun hal itu bukan hanya berarti bahwa kata tersebut mewakili objek yang dimaksudkan untuk saya, melainkan terutama bahwa kata tersebut menempatkan objek di hadapan pribadi lain mitra biacara kita.
Sejauh itu, berbicara tidak menjadi bagian dari bidang “I” namun dalam bidang “kita”. Benarlah Ferdinand Ebner tatkala dalam karyanya yang cemerlang, The Word and Spiritual Realities, memberikan subjudul, Pneumatological Fragments. Untuk realitas spiritual bahasa, realitas pneuma, roh yang menyatukan Aku dan Engkau. Telah lama orang mengamati bahwa aktualitas pembicaraan terjadi di dalam dialog. Namun dalam setiap dialog, roh yang memegang kendali, entah roh yang jahat atau yang baik, satu roh ketegaran atau keraguan atau satu roh komunikasi dan roh pertukaran yang mudah antara Aku dan Engkau.
Sebagaimana telah saya tunjukkan di mana-mana, bentuk operasi setiap dialog dapat dilukiskan dalam term-term konsep permainan.* Tentu saja kita harus membebaskan diri kita dari gaya pikir yang lazim yang melihat hakikat permainan dari sudut pandang kesadaran pemain. Definisi tentang orang yang bermain, yang menjadi populer melalui karya Schiller, memahami struktrur sejati permainan hanya dalam term-term ciri-ciri subjektifnya. Namun, dalam kenyataan, permainan adalah satu proses dinamis yang mencakup pribadi-pribadi pemain atau permainan apa saja. Namun bukan sekadar suatu metafora apabila kita berbicara tentang “permainan ombak,” atau “lalat-lalat yang bermain” atau “permainan bebas dari bagian-bagian.” Tetapi hal yang paling mengagumkan dari permainan untuk kesadaran yang bermain justru berakar dalam berlangsungnya gerakan yang memiliki dinamikanya sendiri. Permainan terjadi apabila pemain individual mengambil bagian penuh hasrat, yakni ketika ia tidak lagi menahan dirinya sebagai seorang yang sekadar bermain, yang melihat pemainan tersebut sebagai hal yang tidak serius. Mereka yang tidak dapat melakukan hal itu kita sebut sebagai orang-orang yang tidak mampu bermain. Kini, saya puas bahwa aturan dasar permainan, dipenuhi dengan semangat permainan – semangat bouyancy, kebebasan dan kegembiraan akan keberhasilan – dan merasuki orang yang sedang bermain, secara struktural berkaitan dengan aturan dialog di dalamnya bahasa merupakan realitas. Apabila seseorang masuk ke dalam dialog dengan seorang lain dan kemudian larut di dalam dialog, maka yang menentukan bukan lagi kehendak pribadi individual tersebut, menahan dirinya atau membuka dirinya. Melainkan, hukum tentang hal subjeklah yang diperdebatkan dalam dialog dan membangkitkan pernyataan dan pernyataan kontra dan akhirnya memainkan mereka satu ke dalam yang lain. Karena itu, apabila dialog telah berhasil seorang kemudian dipenuhi olehnya, sebagaimana kita katakan. Permainan pernyataan dan kontra-pernyataan, dimainkan terus dalam dialog batin jiwa dengan dirinya, sebagaimana Plato memberinya sebutan yang sekian indah: pemikiran.
3. Ciri ketiga adalah apa yang saya sebut universalitas bahasa. Bahasa bukanlah bidang terbatas dari apa yang dapat dibicarakan, yang diperhadapkan dengan bidang lain yakni apa yang tak dapat dibicarakan. Tetapi, bahasa mencakup segalanya. Tak ada yang secara fundamental tidak dikatakan, sejauh kenyataan bahwa tindakan untuk memberi arti memang bermaksud demikian. Kemampuan kita untuk mengatakan selalu berjalan setara dengan universalitas akal. Karena itu, setiap dialog juga memiliki ketakterbatasan yang melekat dan tidak mengenal akhir. Orang menghentikannya, entah karena kelihatan sudah cukup banyak yang dikatakan atau karena tak ada lagi yang harus dikatakan. Namun setiap penghentian model itu memiliki relasi instrinsik dengan permulaan dialog.
Kita mengalami hal ini, acap kali dalam cara yang sangat menyakitkan, ketika satu pernyataan diminta dari kita. Sebagai satu contoh ekstrem, kita dapat berpikir tentang satu interogasi atau satu pernyataan di hadapan pengadilan. Dalam kasus seperti itu, pertanyaan yang harus kita jawab bak sebuah pembatas yang dibangun terhadap roh berbicara, yang ingin untuk mengungkapkan dirinya dan masuk ke dalam dialog (“saya akan berbicara di sini” atau “jawab pertanyaan saya!”). Apa yang dikatakan tidak pernah memiliki kebenaran hanya dalam dirinya, perkataan itu selalu merujuk ke depan atau ke belakang pada apa yang tak terkatakan. Setiap pernyataan memiliki motivasi, dalam arti, setiap orang dapat mempertanyakan secara pantas apa yang telah dikatakan, “mengapa Anda katakan hal itu?” dan hanya ketika apabila apa yang tak terkatakan dipahami bersama dengan apa yang terkatakan maka sebuah pernyataan dapat dipahami. Kita sudah akrab dengan kenyataan ini khususnya dalam fenomena pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang kita tidak pahami sebagai suatu pertanyaan yang memiliki motivasi dapat tidak memperoleh jawaban. Karena latar belakang motivasional dari satu pertanyaan pertama-tama membuka bidang, darinya sebuah jawaban dapat dibawa dan diberikan. Karena itu dalam kenyataan ada satu dialog tak terbatas dalam bertanya dan juga dalam menjawab, dalam ruang tersebut kata dan jawaban terjadi. Setiap hal yang dikatakan berada dalam ruang tersebut.
Kita dapat menggambarkan gagasan ini melalui sebuah pengalaman yang setiap kita telah miliki. Yang saya maksudkan adalah kegaitan menerjemahkan dan membaca terjemahan dari bahasa-bahasa asing. Penerjemah menghadapi suatu teks linguistik, yakni sesuatu yang dikatakan secara verbal atau tulisan, yang harus ia terjemahkan ke dalam bahasanya sendiri. Ia terikat oleh apa yang ada di sana, namun ia tidak dapat mengalihkan begitu saja apa yang dikatakan dari bahasa asing ke dalam bahasanya, tanpa ia sendiri menjadi seorang yang mengatakan hal itu. Namun ini berarti bahwa ia harus memperoleh untuk dirinya sebuah ruang tak terbatas dalam mengatakan sesuatu, yang setara dengan apa yang dikatakan dalam bahasa asing. Setiap orang tahu betapa sulitnya hal seperti itu. Setiap orang tahu bagaimana terjemahan membawa dampak bahwa apa yang dikatakan dalam bahasa asing terdengar hambar. Apa yang dikatakan dalam bahasa asing tersebut dipantulkan pada satu level, sehingga makna kata dan bentuk kalimat terjemahan mengikuti yang asli, namun terjemahan sendiri tidak memiliki ruang. Ia kekurangan dimensi ketiga, yang menjadi dasar bagi menyusun karya asli dalam cakupan maknanya. Inilah hambatan yang tak terhindarkan dalam setiap terjemahan. Tak ada terjemahan yang dapat menggantikan yang asli. Orang mungkin berpendapat bahwa pernyataan original yang terpantul pada kehambaran tersebut, mestinya lebih mudah dipahami dalam terjemahan, karena banyak hal yang menjadi latar belakang sugestif atau “hal-hal tersirat” dalam aslinya tidak akan dialihkan dan turut terbawa. Karena itu, reduksi hingga ke makna sederhana yang dilakukan dalam terjemahan dapat diterima demi mempermudah pemahaman. Namun argumen ini keliru. Tak ada terjemahan yang sekian dapat dipahami seperti aslinya. Justru makna yang paling inklusif dari apa yang dikatakan – dan makna selalu merupakan arah makna – terungkap dalam bahasa hanya melalui perkataan original dan perlahan-lahan habis dalam semua perkataan dan pembicaraan berikutnya. Karena itu, tugas penerjemah tidak boleh semata-mata menyalin apa yang dikatakan, namun menempatkan dirinya dalam arah apa yang dikatakan (yakni dalam maknanya) agar dapat mengalihkan apa yang harus dikatakan ke arah apa yang dikatakan penerjemah sendiri.
Masalah ini menjadi sangat gamblang dalam terjemahan-terjemahan yang memungkinkan suatu dialog verbal antara orang-orang dari pelbagai bahasa , melalui posisi perantara seorang juru bahasa (penerjemah lisan langsung). Seorang juru bahasa yang hanya menghasilkan kembali kata-kata dan kalimat-kalimat yang diungkapkan oleh seseorang dalam bahasa orang lain mengasingkan percakapan ke dalam suatu yang tak terpahami. Apa yang ia harus reproduksi bukanlah apa yang dikatakan dalam term-term yang tepat, melainkan terutama apa yang orang lain telah ingin katakan dan telah katakan dengan membiarkan banyak hal tak terkatakan.
Ciri terbatas dalam reproduksi penerjemah harus juga mencapai ruang di mana hanya dialog yang diberi peluang, dalam arti, ketakterbatasan batin yang menjadi bagian dari semua pemahaman bersama.
Karena itu, bahasa menjadi medium riil manusia, hanya apabila kita melihat bahasa tersebut dalam bidang yang dipenuh bahasa itu sendiri, ruang bersama manusia, ruang pemahaman bersama, ruang yang selalu diisi kesepakatan bersama – suatu bidang yang tak tergantikan dari kehidupan manusia sebagaimana udara yang kita hirup. Sebagaimana dikatakan Aristoteles, manusia sungguh merupakan mahkluk yang memiliki bahasa. Hendaknya segala yang bersifat manusiawi harus kita katakan.









