Kisah Cinta Penguasa Politis dengan Rakyat
Sunday, 10. February 2008, 23:54:32
Sebuah Refleksi di Hari Kasih Sayang
Oleh: Agustinus Beni & Hendrik P. Bhezo
Pertanyaan seputar siapakah sesamaku manusia, mendorong sikap proaktif dalam relasi antarpribadi. Pertanyaan yang sama menjadi gugatan bagi setiap orang yang mendengarnya dan kemudian menjadi bahan refleksi bagi setiap orang yang mau berelasi dengan sesama yang lain. Siapakah sesamaku manusia adalah pertanyaan universal bagi siapa saja untuk menjawabnya bukan hanya dengan kata-kata tetapi terutama dengan tindakan nyata.
Ketika ada relasi antara penguasa politis dengan rakyat, muncul pertanyaan yang sama, siapakah sesamaku manusia bagi seorang pejabat atau penguasa politis? Di sisi lain muncul pertanyaan bagaimanakah relasi cinta antara penguasa politis dengan rakyatnya? Cinta model apakah yang bisa disalurkan oleh penguasa politis atau calon penguasa politis terhadap rakyat yang dipimpinnya dan yang akan dipimpinnya?
Erich Fromm dalam bukunya The Anatomy on Human Destructiveness berpendapat bahwa segala tindakan manusia (termasuk mencinta) berkutat pada dua energi psikis. From mengemukakan ide ini untuk meneruskan konsep Freud tentang “thanatos”, “death instinct” (naluri kematian) dan “eros”, “life-instinct” (naluri kehidupan). Energi psikis ini yaitu pertama, necrophilia yakni dorongan destruktif, yang mengarah kepada kesakitan, perusakan dan kematian serta kebusukan. Dominasi energi ini akan sering tampak dalam mimpi, bahasa dan tindakan sehari-hari. Seorang necrophilis cendrung bermimpi mengenai kekerasan, kekejaman, perusakan bahkan pembunuhan. Dalam tindakan misalnya gairah necrophilis bisa muncul dalam diri anak kecil yang kegemarannya menangkap serangga lalu mempreteli sayap-sayapnya atau mengadu kalajengking dengan kepiting. Dalam percakapan seorang necrophilis mudah meluncurkan umpatan dan wacana kekerasan. Kondisi seperti ini lebih banyak dilakukan oleh kaum pria, From menyebut tokoh seperti Hitler dan Stalin sebagai manusia dengan keperibadian yang didominasi oleh energi necrophilia.
Kedua, biophilia yaitu dorongan konstruktif, yang mengarah kepada sikap memelihara, mencintai dan menumbuhkan kehidupan. Kalau diamati seorang gadis kecil sudah biasa melakukan tindakan yang lebih banyak diwarnai oleh energi psikis ini.
Di sisi lain, filsuf eksistensialis Jerman, Karl Jaspers menegaskan bahwa eksistensi manusia yang sejati tidak direalisasikan sendiri-sendiri dan tanpa ikatan eksistensial dengan yang lain. Ikatan ini disebut komunikasi, yaitu hubungan objektif antarmanusia sebagai das sein, yang terjadi di dalam percakapan atau diskusi di tengah ikatan sosial. Di sana setiap manusia membuka diri bagi yang lain. Sumber komunikasi ini adalah cinta untuk saling menyerahkan diri. Komunikasi memang tidak sama dengan cinta, namun komunikasi harus mendasarkan diri pada cinta sebab komunikasi pada dasarnya adalah pertarungan cinta. Kita tidak dapat sampai kepada diri kita, jikalau kita tidak bersama dengan orang lain.
Sealur dengan gagasan tentang cinta, Gabriel Marcel katakan bahawa “ada manusia adalah ada bersama” (esse est co-esse). Keharmonisan hidup bersama terjadi bila terpatri dimensi cinta. Cinta mampu mempersatukan manusia yang berbeda sekaligus mengarahkan manusia kepada integritas pribadi. Proses cinta yang kreatif dijamin oleh relasi antarpribadi yang bebas. Dalam relasi interpresonal, aku mengakui orang lain sebagai subjek seperti aku. Di sana cinta menggiring seseorang untuk keluar dari egoismenya dan menggerakkannya menjadi pribadi yang berkemauan untuk memberi dan menerima.
Relasi interpersonal dengan buah terindahnya cinta adalah pertemuan Aku-Engkau. Dalam pertemuan Aku-Engkau, hanya cintalah yang sesuai dengan eksistensi manusia. Dalam cinta manusia akan menyelami sesamanya sebagai suatu panggilan yang memanggilnya supaya keluar dari diri sendiri tanpa pernah membalik lagi. Dalam relasi cinta ini selalu ada keterbukaan yang resiprokal dan dinamika yang mengarah kepada kesempurnaan. Di sini pada prinsipnya cinta mengadopsi kriteria undangan dan respon, yang satu dengan penuh kerendahan hati dan jujur mengundang yang lain untuk “be with me”. Yang lain dengan bebas dan kesediaan hati yang tulus menyambut yang satu ke dalam dirinya.
Cinta dalam relasi Aku-Engkau tidak pernah dibangun di atas motivasi kalkulasi rugi-laba dan kualifikasi persoanal (ganteng, cantik, pintar, elok). Kualifikasi dan kategori hanya memenggal kepribadian manusia lantas mengaburkan aspek misteri dalam diri manusia. Motivasi intrinsik dan fundamental dalam cinta adalah “Engkau”. Aku mencintai Engkau sebagaimana Engkau ada. Cinta atas pijakan dasariah ini akan mendapat kemurnian dalam beberapa tanur cobaan berupa sikap-sikap yang lahir sebagai konsekuensi logis cinta.
Pertama, sikap mendengar dan disponsibilitas yang tulen (keterbukaan hati tanpa pamrih). Manusia mengosongkan seluruh dirinya sehingga dalam keadaan siap mau mengisinya kembali dengan apa yang didengarnya. Keterbukaan ini bukan untuk menelan yang lain, tetapi membiarkan yang lain mewartakan diri apa adanya. Di dalam kebersamaan dengan Aku, Engkau dibimbing menuju kedalaman diri dan sebaliknya. Dengan saling membuka diri, Aku-Engkau menemukan jati diri sebagai pribadi pencinta.
Kedua, kesetiaan (fidelity, bukan loyalty) yang kreatif. Kesetiaan dalam tataran ini tak kenal waktu apriori dan bersifat eternitas. Kekeruangan dan kelemahan partner ditilik dalam neraca harapan tanpa putus asa dan dengan tabah menghayati yang lain sesuai dengan pengakuan semula. Dalam kesetiaan otentik ini kematian fisis tidak dilihat sebagai akhir penghayatan “ada”. Di sana selalu bergaung afrimasi: “Engkau tidak akan mati”.
Ketiga, harapan sebagai motor kesetiaan. Cinta harus dihayati dalam semangat harapan sejati. Cinta bukanlah sesuatu yang sekali jadi, bukan gabe, tetapi terlebih sebagai aufgabe bagi setiap subjek yang terlibat. Menurut Marcel, harapan yang sejati ada dalam rumusan;”Aku berharap padamu bagi kita”.
Dewasa ini selalu diulang bahwa kita harus melayani artinya kita memberi cinta dan perhatian kita dan “tidak boleh dilayani”. Menjadi pertanyaan siapakah yang akan dilayani. Di sini mau ditekankan bahwa dalam diri manusia serentak ada analog kekayaan dan kemiskinan. Dalam relasi antara penguasa politis dengan rakyat J. Pieniazek mengatakan bahwa kekayaan penguasa adalah wewenang dan kuasa sedangkan kemiskinannya adalah ketergantungannya pada dukungan rakyat. Kalau rakyat tidak mendukung maka ia tidak akan terpilih menjadi penguasa. Di pihak lain kekayaan rakyat adalah suara atau dukungan yang dapat ia berikan kepada penguasa politis. Suaranya dalam PEMILU nasional maupun lokal menjadi berarti bagi calon penguasa, tetapi kemiskinannya rakyat hanya menerima kemungkinan dari penguasa. Pengalaman membuktikan bahwa sekian sering rakyat tertipu dengan janji-janji penguasa politis selama masa kampanye.
Ketika rakyat memilih pemimpinnya itu semua dilandasi karena rakyat jatuh cinta pada pemimpinnya. Rakyat memberikan dirinya untuk dipimpin oleh pemimpin pilihannya karena dilandasi oleh kepercayaan, harapan dan cinta. Dalam masa-masa menjelang pemilihan kepala daerah ditemukan banyak calon pemimpin yang berbuat “cinta” dengan tebar pesona dan harta di mana-mana. Apakah ini tandanya bahwa pemimpin jatuh cinta pada rakyatnya? Rakyat butuh didengarkan, rakyat butuh kesetiaan pada janji-janji dan yang ada pada rakyat hanya harapan agar janji ditepati. Harta yang dibagikan dan tebar pesona yang ditunjukan adalah kiasan hidup semata, tetapi hujanilah dengan kasih sayang.
Tentang para penulis:
1.Agustinus Beni: lahir di Atambua, 16 Oktober 1984, sedang studi Flisafat dan Teologi di STFK Ledalero, aktif dalam Komunitas Studi Pembebasan dan Pemberdayan (KSPP) Nitapleat.
2.Hendrik P. Bhezo: Lahir di Ngorabolo – Ngada, 21 September 1979. Sedang Studi Filsafat Teologi di STFK Ledalero. Alumnus SMU Negri I Ende tahun 1999. Aktif sebagai Koordinator Komunitas Studi Pembebasan dan Pemberdayaan (KSPP) Nitapleat.








