Filsafat Bahasa: Jurgen Habermas
Thursday, 17. January 2008, 04:26:57
(1996)
Herbert Schnädelbach telah mengajukan keberatan serius terhadap ikhtiar saya untuk menganalisis konsep rasionalitas dalam term-term daya pembenaran dan daya kritis dari ungkapan-ungkapan, dan dengan itu memberikan sumbangan kunci pada rasionalitas prosedural dalam praktik-praktik argumentatif. Menurut hematnya, orang dapat mengakui bahwa semua ungkapan rasional tersebut pada galibnya dapat dipertahankan dalam menanggapi kesangsian-kesangsian (dengan mengaitkan secara argumentatif dengan gaya linguistika penyajiannya); namun dari sini tidak dapat disimpulkan bahwa hal yang dengannya argumentasi dikaitkan, tidak dengan sendirinya mengambil bentuk argumentatif atar dapat dianggap rasional; rasionalitas argumentatif atau diskursif (Habermas) hanyalah salah satu komponen akal. Fiksasi pada model pembenaran rasional menggoda kita untuk menganggap segala sesuatu sebagai irasional sejauh itu tidak sepenuhnya tidak dipertahankan secara argumentatif atau diskursif – yang berarti bahwa bidang irasionalitas mengklaim proporsi yang nyaris besar. Kemampuan-kemampuan rasional yang lain mencakup kemampuan untuk menguji realitas (Freud), untuk belajar dari kekeliruan dan kesalahan ( Popper), untuk memecahkan pelbagai masalah dalam konteks-konteks aksi dengan feed-back yang terawasi (Gehlen), untuk memilih tujuan-tujuan dengan maksud tertentu (Weber) – banyak contoh unggul lainnya dapat kita tambahkan dalam daftar ini; hal-hal yang telah saya singgung tidak dapat begitu saja disesuaikan dalam sebuah skema “pembenaran” atau “pertahaman diskursif dari klaim-klaim keabsahan” (Habermas).
Schnädelbach sendiri memahami rasionalitas sebagai satu disposisi untuk akal pada pihak subjek-subjek yang memiliki pengetahuan, pembicaraan dan aksi yang dapat ditangkap secara deskriptif. Apa yang dirancang dalam menghadapi rasionalitas diskursif bukan sekadar suatu (secara umum dilukiskan) rasionalitas pribadi, yang dapat diidentifikasi dengan bantuan ekspresi-ekspresi yang selaras, namun sebenarnya lebih “ciri refleksif” dari ekspresi-ekspresi tersebut. Karena, tentu saja apa yang kita tahu, lakukan dan katakan hanya akan rasional apabila kita paling tidak secara implisit sadar perihal mengapa keyakinan-keyakinan kita benar, tindakan-tindakan kita benar, dan ungkapan-ungkapan linguistik kita sah (memperlihatkan janji keberhasilan dari satu sudut pandang yang tidak lokusioner, atau efektif dari hal yang perlokusioner): bentuk metamoforsis dari ‘refleksivitas’ sebagai ciri fundamental dari rasionalitas umumnya, karena itu dapat terjemahkan secara lebih tepat dengan bantuan tematisasi rujukan diri dari … prestasi-prestasi dalam perspektif orang pertama singular atau plural; hanya ia yang dapat mengatakan “saya” atau “kita:, dan dalam mentematisasi apa ia, apa yang dilakukannya, dan mampu mengenakannya pada dirinya, adalah rasional.” Dengan ini Schnäderl bach menempatkan dirinya dlam tradisi filsafat kesadaran. Namun, karena perubahan linguistik, kita memiliki alasan-alasan yang bail untuk mengikuti satu saran dari G.H. Mead dan menjelaskan relasi diri dari subjek yang mengetahui, bertindak, dan berbicara – yakni, relasi pribadi dengan “dirinya” – di atas dasar pengangkatan sudut pandangan dari pribadi kedua “pada saya.” Selaras dengan itu, relasi diri yang direfleksikan dibedakan oleh Schnädelbach seabgai ciri fundamental dari rasionalitas akan tergantung pada relasi antara partisipan dalam argumentasi: tak ada refleksi yang tidak dapat direkonstruksi sebagai satu wacana batin. Sikap refleksif terhadap ekspresi seseorang terjadi menurut model sikap partisipan lain dalam argumentasi atas keabsahan probelmatis dari ekspresi-ekspresi seseorang. Refleksi juga, disebabkan dari satu relasi dialogis lebih dahulu dan tidak mengambang dalam vacuum dari batin yang ditakdirkan bebas dari komunikasi. Tematisasi yang diskursif atas klaim-klaim keabsahan, dalam term-term yang menguktu rasional eksrepsi-eksrepsi kita, dan ciri refleksif dari ungkapan-ungkapan ini berada dalam relasi yang saling melengkapi: mereka merujuk satu sama lain. Saya tidak melihat anjuran itu meredusir rationalitas hingga disposisi ###.
Namun, hal ini tidak membuat tidak berlakunya keberatan Schnädelbach terhadap pemberian privilese saya terhadap rasionalitas diskursif yang terwujud dalam praktik-praktik argumentatif. Saya akan menerima point kritisisme Schnädelbach dan, pada gilirannya mengandaikan bahwa kita menggunakan predikat “rasional” dalam contoh pertama untuk merujuk pada keyakinan-keyakinan, tindakan-tindakan dan ungkapan-ungkapan linguistika karena, dalam strktur proposisional pengetahuan , dalam struktur teleologis tindakan, dan dalam struktur komunikatif pembicaraan, kita tiba pada pelbagai akar rasionalitas. Hal ini, pada pihak mereka, tampaknya memiliki akar-akar yang sama, paling tidak dalam struktur diskursif dari praktik-praktik pembenaran, tidak dalam struktur refleksif dari relasi diri dari satu subjek yang berpartisipasi dalam wacana-wacana. Lebih mungkin hal itu bahwa struktur wacana membangun satu relasi antara struktur-struktur yang saling merajut (struktur pengetahuan, tindakan dan ucapan) dengan, dalam arti tertentu, memadukan akar-akar proposisional, teleologis dan komunikatif. Menurut model seperti itu dari struktur-struktur inti yang saling membentuk jaringan, rasionalitas diskursif memiliki posisi khusus bukan karena peran fundasional melainkan karena peran integratifnya.
Sebagai awal, apabila kita membiarkan diri kita dituntun oleh gambar ini, akan muncul konsekuensi penting. Karena praktik-praktik argumentatif merupakan, kalau kita dapat berbicara demikian, suatu bentuk refleksif dari tindakan komunikatif, rasionalitas pembuktian terwujud dalam wacana benar-benar berada – dalam arti tertentu – pada rasionalitas komunikati yang terwujud dalam aksi setiap hari; meski demikian rasionalitas komunikatif tetap tidak berada pada satu level dengan rasionalitas epistemik dan teleologis. Rasionalitas komunikatif tidak menetapkan struktur yang rasionalitas memayungi tetapi lebih salah satu dari tiga struktur inti yang bagaimanapun saling merajut dengan rasionalitas diskursif yang muncul dari rasionalitas komunikatif. Namun, gambaran ini hendaknya tidak disalahpahmi dalam cara seorang mentalis. Persis sebagaimana rasionalitas komunikatif tidak boleh disejajarkan dengan rasionalitas yang terwujud secara linguistik pada umumnya, rasionalitas epistemik dan teleologis tidak memiliki satu hakikat pralinguistik.
Pertama-tama saya ingin membentangkan struktur kompleks rasionalitas ini, yang telah saya perkenalkan dengan cara intuitif, dengan sejumlah catatan lebih lanjut. Saya akan menjelaskan bagaimana pelbagai struktur rasionalitas saling merajut dalam media linguistik dengan rujukan pada pelbagai modalitas penggunaan bahasa dan pada tipe-tipe tindakan yang selaras. Akhirnya, saya akan mencermati relasi kompleks antara bahasa dan rasionalitas komunikatif. Sebagai apendiks, saya akan memperlihatkan dua implikasi untuk satu teori praktis tentang makna yang muncul dari pertimbangan-pertimbangan ini.
Tiga Akar Rasionalitas
Dalam rangka menyajikan pandangan yang sementara, saya akan berbicara tentang relasi komplementer antara struktur diskursif dan refleksi (atau referensi diri sebagai satu kondisi bagi rasionalitas pribadi), kemudian diteruskan dengan mencermati struktur inti rasional pengetahuan, aktivitas purposif dan komunikasi.
Rasionalitas Diskursif dan Refleksi
Rasionalitas dari seorang pribadi seimbang dengan kemampuannnya untuk mengungkapkan dirinya secara rasional dan kemampuannya untuk menjelaskan ungkapannya dalam keadaan refleksif. Seorang yang mengungkapkan dirinya secara rasional sejauh ia berkiblat secara performatif kepada klaim keabsahan: kita mengatakan bahwa ia tidak saja bertindak rasional tetapi ia sendiri rasional apabila ia mempertanggungjawabkan kiblatnya kepada klaim-klaim keabsahan. Kita juga menyebut rasionalitas model ini sebagai akuntabilitas (kemampuan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya).
Akuntabilitas mengandaikan suatu relasi diri yang terfleksi pada pihak pribadi itu terhadap apa yang ia yakini, katakan dan lakukan; kemampuan ini terajut dengan struktur-struktur inti rasional pengetahuan, kegiatan yang mengandung tujuan, dan komunikasi dengan cara relasi-relasi diri yang selaras. Relasi diri epistemik mengandaikan suatu perilaku refleksif pada pihak subjek yang bertindak terhadap kegiatan bertujuan itu sendiri, entah itu terhadap intervensi instrumentalnya sendiri atau sikapnya yang berkiblat sukses dengan subjek-subjek lain yang dijumpai sebagai lawan-lawan dalam dunia objektif (saya memahami “dunia objektif” sebagai suatu totalitas dari entitas, dan proposisi menyangkut hal itu adalah mungkin). Relasi diri praktis moral dari aktor yang bertindak secara komunikatif menuntut suatu sikap yang refleksif terhadap tindakan-tindakan menurut norma-normanya sendiri; relasi diri eksistensial menuntut dari sang aktor suatu sikap refleksif terhadap proyek kehidupannya sendiri dalam konteks sejarah hidup seseorang yang, tentu saja, terajut dengan bentuk-bentuk kehidupan kolektif terberi sebelumnya. Lebih jauh, kemampuan seseorang untuk mengambil jarak dengan cara ini dari dirinya dan ekspresi-ekspresinya dalam pelbagai dimensi merupakan suatu persyaratan bagi kebebasannya.
Kebebasan dibedakan menurut relasi diri yang berbeda dari subjek yang mengetahui dan bertindak. Kebebasan refleksif dalam arti keterbukaan kognitif (Unbefanengenheit) menuntut pembebasan dari sudut pandang egosentris dari seorang partisipan yang terlibat secara mendalam dalam konteks-konteks aksi; inilah kemerdekaan yang secara tradisional diasosiasikan dengan posisi teoretis. Kemerdekaan memiliki (Willkürfreiheit) adalah kemampuan untuk memilih secara rasional dalam bertindakan dengan cara ini atau itu, atau melakukan suatu start baru dalam rantai peristiwa. Bersama Kant, kita merujuk pada kemampuan untuk mengikat kehendak sendiri atas basis pandangna moral sebagai kebebasan kehendak (Willensfreiheit), atau otonomi. Akhirnya, kebebasan etis memungkinkan proyek kehidupan yang terencana dan stabilitas jati diri ego. Tentu saja, bentuk-bentuk kebebasan ini adalah disposisi-disposisi yang dapat dianggap berasal dari satu pribadi; namun relasi diri yang menyertai dalam setipa kasus disebabkan oleh pengenaan dan penginternasilisai satu dut pandang atas diri saya dari partisipan-partisipan yang lain dalam argumentasi: dalam relasi diri epistemik dan dalam pelbagai relasi-relasi diri praktis, saya , sebagai orang pertama, mengenakan sudut pandang orang kedua di dalamnya para interlocutor – yakni para partisipan lain dalam wacana-wacana (empiris atau teoretis, pragmatis, moral atau etis) – berfokus pada ekspresi-ekspresi saya. Jadi, dalam refleksi dari pribadi rasional yang mengambil jarak dari dirinya, rasionalitas melekat dalam struktur dan dalam prosedur argumentasi tercemin secara umum. Namun, menjadi jelas pada saat yang sama bahwa pada tataran integratif refleksi dan wacana, tiga unsur rasionalitas – mengetahui, bertindak dan berbicara – berpadu, yakni, membentuk satu sindrom.
Rasionalitas Epistemik
Pengetahuan kita dibangun dari proposisi atau penilaian-penilaian – unit-unit elementer tersebut yang dapat benar atau salah; atas dasar struktur proporsiaonl, pengetahuan secara instrinsik merupkan satu hakikat linguistik. Struktur ini dapat dianalisis dengan bantuan kalimat-kalimat proposisional. Namun, saya tidak akan mencermati semantik kalimat-kalimat proposisional atau makna pragmatis dari tindakan-tindakan referensi atau predikasi.
Dalam rangka mengetahuai sesuatu dalam satu makna eksplisit, tentu saja tidak cukup hanya mengakrabi fakta-fakta yang dapat terlihat dalam penilaian-penilaian yang benar. Kita mengetahui fakta-fakta dan memiliki satu pengetahuan tentang mereka hanya berguna untuk kita apabila kita pada saat bersamaan mengetahui mengapa penilaian-penilaian yang selaras benar. Kalau tidak kita berbicara tentang pengetahuai intuitif atau implisti – tentang suatu pengetahuan “praktis” bagaimana seorang melakukan sesuatu. Seorang dapat tahu dengan sangat baik bagaimana melakukan sesuatu tanpa mengetahui apa yang membuatnya memiliki kompetensi ini. Sebaliknya, “mengetahui apa” secara eksplisit terikat secara implist dengan “mengetahui mengapa” dan sejauh itu menunjuk kepada pembenaran-pembenaran potensial. Siapa saja yang yakin bahwa ia memiliki pengetahuan yang berguna baginya mengandaikan kemungkinan diskursif dari klaim-kalim kebenaran yang selaras. Dengan kata lain, hal itu adalah bagian dari tata bahasa ungkapan “mengetahui” bahwa segala sesuatu yang kita tahu dapat dikritik dan dibenarkan.
Tentu saja, hal ini tidak berarti, bahwa keyakinan-keyakinan atau kepercayaan-kepercayaan rasional selalu terdiri dari penilaian-penilaian yang benar. Siapa saja yang berpandangan bahwa menjadi tidak benar tidak berarti eo ipso irasional. Seseorang irasional apabila ia mengemukakan keyakinan-keyakinannya secara dogmatis, tergantung pada keyakinan-keyakinan tersebut meski ia melihat bahwa ia tidak dapat membenarkannya. Agar dapat mengkualifikasi suatu keyakinan sebagai rasional, cukup bahwa hal itu dapat dianggap benar di atas basis alasan-alasan yang masuk akal yang dalam konteks relevan yustifikasi – yakni, bahwa hal itu dapat diterima secara rasional. Dalam masyarakat-masyarakat pascatradisional, atau di bawah kondisi-kondisi pemikiran-pemikiran pascametafisik, semua pengetahuan – drai posisi orang ketiga – dianggap sah (hal ini juga bagian dari tata bahasa kata “mengetahui” dewasa ini), meski dalam posisi performatif, yakni dari sudut pandangan satu partisipan, kita tidak dapat menghindari secara tanpa syarat menyangkut pengetahuan yang ditegaskan sebagai benar. Meski hakikat “platonis” pengetahuan ini, rasional dari suatu penilaian tidak mengandaikan kebenarannya tetapi hanya aseptabilitas yang dibenarkan dalam konteks yang telah ada.
Tentu saja, ciri refleksif dari penilaian yang benar tidak bakal mungkin apabila kita tidak dapat menampilkan pengetahuan kita, yakni apabila kita kita tidak dapat mengungkapkannya dalam kalimat, dan apabila kita tidak dapat memperbaikinya dan memperluasnya; dan hal ini berarti: apabila kita juga tidak dapat belajar dari penanganan praktis kita atas suatu realitas yang ada.
Tentu saja, ciri refleksif dari penilaian sejati tidak bakal mungkin manakala kita tidak dapat menampilkan pengetahuan kita, yakni, manakala kita tidak dapat mengungkapkan kalimat-kalimat, dan manakala kita tidak dapat memperbaikinya dan memperluasnya; dan hal ini berarti: apabila kita juga tidak mampu untuk belajar dari penanganan praktis atas realitas yang menentang kita. Saya berbicara tentang inti struktur epistemik karena struktur proposisional tergantung pada perwujudannya dalam bahasa dan aksi: hal itu bukan struktur swadaya. Hal itu adalah tampilan linguistik dari apa yang diketahui, dan konfrontasi pengetahuan dengan suatu realitas terhadapnya suatu harapan pembenaran dapat hancur, yang pertama memungkinkannya untuk berhadapan dengan pengetahuan secara rasional.
Di pihak lain, kita dapat menangani pengetahuan kita secara operatif – yakni, membuatnya lebih tepat, mengolahnya, merancang ulang, mensistematisasi, mengujinya dalam hal konstensi dan koherensi – hanya apabila mengambil bentuk secara simbolis. (Pada tataran refleksif pengetahuan, yang merupakan bagian dari teori-teori konstruksi, kebutuhan untuk mengorganisir pengetahuan secara linguistik – seperti dalam kasus menggunakan bahasa formal – muncul). Di pihak lain, sebagaimana secara kena ditekankan oleh Peirce dan pragmatisme, kita harus menggunakan pengetahuan kita dalam praktis, menerapkannya dalam tindakan-tindakan mengarah ke tujuan yang dikontrol dalam term-term keberhasilan, agar dapat belajar dari pengalaman-pengalaman negatif. Kita dapat belajar dari kekecewaan-kekecewaan dengan memproses pelbagai kejutan melalui penilaian yang tiba-tiba, dan dengan mengkaji ulang pengetahuan yang menciptakan masalah. (Pada tataran refleksif pengetahuan, kekecewaan-kekecewaan model ini, yang harus diproses secara produkti, dihasilkan secara metodis; relasi dengan aksi pemalsuan fakta – yakni, dari kekecewaan-kekecewaan – disingkapkan, khususnya, dalam tindakan eksperimental).
Rationalitas Teleologis
Semua aksi mengandung tujuan (intensional); suatu aksi mungkin dipahami sebgai menjalankan niat untuk aktor yang memilih dan memutuskan secara bebas. Tindakan memiliki struktur teleologis, karena setiap intensi-intensi bersasarkan perwujudan satu set tujuan. Sekali lagi, rasionalitas satu aksi adalah seimbang bukan pada kenyataan entah keadaan yang sedang terjadi dalam dunia merupakan satu hasil dari tindakan yang kebetulan dengan keadaan yang dimaksudkan dan memuaskan kondisi-kondisi sukses yang selaras, namun lebih pada entah pelaku telah mencapai hasil ini pada basis sarana-sarana yang terpilih dan terlaksana secara sadar (atau dalam situasi-situasi yang dipahami secara tepat, dapat berbuat demikian secara normal). Seorang pelaku yang berhasil telah bertindak secara rasional hanya apabila ia (i) tahu mengapa ia berhasil (atau mengapa ia sudah dapat menyadari tujuan yang ditetapkan dalam situasi-situasi yang normal) dan apabila (ii) pengetahuan ini mendoro pelaku (paling tidak sebagian) sedemikian sehingga ia dapat melaksanakan tindakannya untuk alasan-alasan yang pada saat yang sama menjelaskan sukses-sukses yang mungkin.
Dalam kasus yang paling sederhana, pertimbangan-pertimbangan yang dapat secara serempak membenarkan dan mendorong satu tindakan rasional mengambil bentuk satu kesimpulan praktis. Diberikan pilihan tertentu, A berniat dalam sitausi S untuk mewujudkan keadaan P; Dalam lingkungan yang ada A menganggap perwujudan sarana-sarana M sebagai pemuasan dari satu kondisi yang perlu – atau bahkan niscaya – dalam rangka mewujudkan P dengan probabilitas tertentu; untuk alasan-alasan ini A menjalankan tindakan yang dapat menyebarkan sarana-sarana yang terpilih. Kita telah melihat pengetahuan dalam arti yang sempit menuntut “pemilikan” pengetahuan yang refleksif yang merujuk pada pembenaran-pembenaran yang mungkin; sepadan dengan itu, tindakan rasional bermuatan tujuan menuntut “pemilikan” refleksif – cocok untuk pembenaran-pembenaran yang mungkin – intensi aksi menentukan, yakni, suatu perhitungan keberhasilan dalam tindakan. Sekali lagi, ada relasi rujukan timbal balik antara rasionalitas tindakan dan forum wacana di mana alasan-alasan penentu pelaku untuk membuat putusan – ex ante ditentukan – dapat diuji. Teori pilihan rasional berkaitan dengan aspek-aspek masalah dalam pembuatan keputusan dari subjek-subjek yang berkeberatan, yang dituntun secara egosentris oleh preferensi-preferensi dan harapan-harapan mereka untuk sukses masing-masing pribadi mereka, yang dapat digunakan untuk menyusun model-model.
Rasionalitas kegiatan bertujuan, juga terajut dalam jaringan dengan dua inti struktur pengetahuan dan pembicaraan yang lain. Karena pertimbangan-pertimbangan praktis dengannya suatu rencana aksi rasional dijalankan tergantung dari input informasi-informasi yang dapat dipercayai (tentang peristiwa-peristiwa yang diharapkan di dunia, atau tentang tingkah-laku dan intensi-intensi para pelaku) – bahkan apabila, umumnya para aktor yang bertindak secara rasional bertujuan harus puas dengan informasi yang sangat tidak lengkap. Di pihak lain, informasi seperti itu dapat diproses secara inteligen – yakni, merujuk pada aksioma-aksioma dan tujuan-tujuan yang untuk pihak mereka telah diseleksi dalam terang pilihan kesukaan personal – hanya dalam medium representasi linguistik. Hal ini jelas dalam kasus perlakuan teroretis atas masalah-masalah kompleks dalam pengambilan keputusan. Namun niat tindakan elementer dan kesimpulan praktis yang sederhana juga, secara distruktur secara linguistik. Sebagaimana pengetahuan proposisional tergantung pada penggunaan kalimat-kalimat proposisional, demkian tindakan intensional tergantung secara hakiki pada penggunaan kalimat-kalimat intensional.
Rasionalitas Komunikatif
Ada suatu rasionalitas aneh, yang melekat bukan dalam bahasa itu sendiri melainkan dalam penggunaan komunikatif ungkapan-ungkapan linguistik yang tidak dapat direduksi baik kepada rasionalitas pengetahuan yang epistemik (sebagaimana diandaikan semantik kebenaran-kebenaran bersyarat klasik). Rasionalitas komunikatif ini diungkapkan dalam kekuatan berbicara yang menyatukan yang berkiblat kepada upaya mencapai pemahaman, yang menjamin bagi pembicara yang berpartisipasi dengan dunia kehidupan antar subjek, karena itu pada saat yang sama menjamin horizon dalam mana setiap orang dapat merujuk pada dunia objektif yang satu dan sama.
Penggunaan komunikatif ekspresi-ekspresi linguistik tidak saja berguna dalam mengungkapkan niat-niat satu pembicara tetapi juga mewakili keadaan masalah-masalah (atau mengandaikan eksistensi mereka) dan membangun relasi-relasi antar pribadi dengan pribadi kedua. Di sini, tiga aspek dari (a) satu pelaku yang mencapai pemahaman (b) dengan seseorang (c) tentang sesuatu yang direfleksikan. Apa yang ingin dikatakan pembicara dalam suatu ungkapan terkait baik dengan apa yang dikatakan secara harfiah dan dengan tindakan dengannya ungkapan itu dapat dipahami. Jadi, ada tiga relasi dimensi antara makna satu ungkapan linguistik dan (a) apa yang dimaksudkan dengannya, (b) apa yang dikatakan di dalamnya dan (c) cara ia digunakan dalam tindakan berbicara. Dengan tindakan berbicara ini, pembicara mengejar tujuann dalam rangka mencapai pemahaman dengan satu orang pendengar tentang sesuatu. Tujuan yang telah ditentukan, sebagaimana yang akan kita rujuk, yang bertingkat: tindakan berbicara pertama-tama diyakini dipahami oleh pendengar dan kemudian – sedapat mungkin – diterima. Rasionalitas dari penggunaan bahasa yang berkiblat kepada pencapaian pemahaman tergantung pada entahkah tindakan berbicara cukup dipahami dan diterima untuk pembicara agar mencapai keberhasila yang telah pasti dengan mereka (atau bagi dia untuk dapat melakukan hal demikian dalam lingkungan-lingkungan yang normal). Sekali lagi, kita tidak saja menyebut tindakan-tindakan berbicara sah yang sebagai rasional, namun justru semua tindakan berbicara yang dapat dipahami deminya seorang pembicara mengambil suatu jaminan yang dapat dipercayai dalam lingkungan yang ada hingga mendatangkan dampak bahwa klaim-klaim keabsahan yang dapat muncul dapat, apabila perlu, dibenarkan secara wacana. Jadi, di sini juga, ada kaitan internal antara rasionalitas tindakan berbicara dan pembenarannya yang mungkin. Hanya dalam argumentasi-argumentasi klaim-klaim validitas yang muncul secara implisit bersama saut tindakan berbicara dapat ditematisasi sebagai hal demikian dan diuji dengan alasan-alasan.
Tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tidak boleh dilukiskan sebagai keadaan yang dapat diwujudkan melalui campur tangan dalam dunia objektif. Karena alasan ini, kita hendaknya tidak memahami tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam mencapai pemahaman (yang, kalau kita boleh berbicara demikian, imanen dalam bahasa) sebagai efek-efek perlokusioner yang dihasilkan pembicara dalam diri pendengar dengan tindakan berbicaranya dengan cara penggunaan pengaruh yang kausal. Di sini, saya ingin membuat tiga pengamatan. Pertama, tujuan-tujuan ilocusioner tidak dapat didefinisikan secara terpisah dari sarana-sarana linguistik dalam mencapai pemahaman; sebagaimana ditandaskan secara jelas oleh Wittgenstein, tujuan mencapai pemahaman melekat dalam medium linguistik itu sendiri. Kedua, pembicara tidak dapat menginginkan tujuannya sebagai sesuatu yang dihasilkan secara kasual, karena “ya” atau “tidak” dari pendengar adalah posisi dimotivasi secara rasional; para partisipan dalam komunikasi menikmati kebebasan untuk mampu mengatakan “tidak”. Akhirnya, pembicara dan pendengar memperhadapkan satu sama lain dalam suatu sikap performatif sebagai pribadi pertama dan kedua, bukan sebagai lawan atau objek di dalamnya dunia entitas tentang-nya mereka berbicara. Ketika ingin mencapai pemahaman satu sama lain tentang sesuatu, tujusan mereka yang telah ditetapkan terleka di luar dunai objektif di dalamnya mereka dapat campur tangan secara sengaja sebagai pelaku-pelaku yang mengamati. Namun, sebagai peristiwa-peristiwa yang dapat dilokalisasi dalam ruang dan waktu, tindakan berbciara serempak juga bagian dari dunia objektif di dalamnya, sebagaimana semua tindakan teleologis, mereka dapat juga mewujudkan hal-hal, yakni dapat juga mewujudkan dampak-dampak perlocusioner.
Pembicara ingin alamat yang dituju menerima apa yang dikatakan sebagai yang sah; hal ini diputuskan oleh jawabaan “ya” atau “tidak” dari si alamat terhadap klaim keabsahan atas apa yang dikatakan bahwa pembicara bangkitkan dengan tindakan berbicara. Apa yang membuat hal yang ditawarkan tindakan berbicara dapat diterima adalah, terutama, alasan-alasan bahwa pembicara dapat menyediakan dalam konteks terberi demi validitas dari apa yang dikatakan. Rasionalitas yang melekat dalam komunikasi bahwa berada dalam kaitan internal antara (a) syarat-syarat yang membuat satu percakapan sah, (b) klaim bangkit oleh pembicara bahwa syarat-syarat dipenuhi, dan (c) kredibilitas dari jaminan yang diberikan oleh pembicara berdampak bahwa ia dapat, apabila perlu, mempertahankan dalam wacana klaim validitas.
Dalam rangka menutup seluruh spektrum dari klaim-klaim validitas yang mungkin, adalah hal yang bermakna untuk memulai dengan mengajui pertanyaan menyeluruh: dalam arti apa tindakan berbicara dapat dinegasikan sebagai suatu keseluruhan? Dalam menjawabi pertanyaan ini kita menemukan secara telak tiga jenis klaim validitas: klaim kebenaran dalam konteks pelbagai kenyataan yang kita tegaskan dengan rujukan pada objek-objek dalam dunia objektif; klaim-klaim terhadap ketulusan (Wahrhaftigkeit) ungkapan-ungkapan yang mewujudkan pengalaman-pengalaman (Erlebnisse) terhadapnya pembicara memiliki akses privilese; dan akhirnya, klaim-klaim akan kebenaran dari norma-norma dan perintah-perintah yang diketahui dalam dunai sosial yang dimiliki secara bersama antar subjektif.
Modalitas Penggunaan Bahasa
Keberhasilan ilocusioner dari suatu tindakan berbicara seimbang dengan pengakuan antarsubjektif selaras dengan klaim validitas yang muncul bersamanya. Di sini, suatu situasi komunikatif diandaikan di dalamnya para partisipan dapat mengambil peran-peran respektif pembicara dan pendengar (dan, apabila perlu, peran pihak ketiga ada) – yakni, dapat mengambil peran-peran orang pertama, kedua dan ketiga. Distribusi peran-peran tersebut, yang dibangun dalam logika sistem pronoun, hakiki bagi rasionalitas komunikatif yang terwujud dalam proses-proses mencapai pemahaman. Kita dapat melihat secara jelas hal ini manakala kita membandingkan penggunaan bahasa yang berkiblat kepada pencapaian pemahaman dengan penggunaan ungkapan-ungkapan linguistik yang tidak sesuai dengan komunikasi. Dampak dari distingsi ini antara penggunaan bahasa komunikatif dan nonkomunikatif, saya akan melakukan pembedaan dalam konsep “mencapai pemahaman” (Verständigung) itu sendiri.
Penggunaan Bahasa Komunikatif dan Penggunaan Nonkomunikatif
Penggunaan epistemik dan teleologis bahasa tidak tergantung pada relasi antarpribadi antara pembicara dan pendengar dalam situasi komunikatif. Tindakan ilocusioner – dan klaim-klaim validitas yang berkaitan dengannya, yang telah memiliki kiblat terpasang terhadap pengakuan intersubjektif – tidak memainkan suatu peran fundamental baik dalam penggunaan epistemik bahasa, yang terutama berguna untuk menampilkan pengetahuan, atau dalam kalkulasi terhadap dampak-dampak aksi; dalam kasus-kasus ini, pengguna bahasa tidak mengejar tujuan-tujuan ilocusioner. Meskipun, dalam setiap kasus bahasa harus digunakan secara komunikatif, ekspresi-ekspresi linguistik dapat digunakan secara monologis dalam contoh-contoh seperti itu – yakni tanpa rujukan pada pribadi kedua. Bahwa aspek-aspek pragmatis tidak relevan dalam kasus penggunaan bahasa yang murni epistemik atau teleologis jelas dari struktur kalimat-kalimat proporsisional dan intensional yang terutama digunakan dalam setiapnya. Tidak sebagaimana, misalnya, pertanyaan-pertanyaan atau kalimat-kalimat imperatif, proposisional dan intensional tidak secara fundamental terikat dengan alamat-alamat; isinya yang bermakna tergantung dari tindakan ilokusioner di dalamnya mereka dapat ditanam – hal yang menjadi alasan mengapa mereka dapat dianalisis secara habis-habisan dengan peranti-peranti semantik formal.
Orang memahami secara epistemik kalimat-kalimat yang digunakan secara proporsisional apabila ia tahu syarat-syarat kebenaran mereka, yakni, apabila seorang tahu entah mereka benar; inilah kasus istimewa terhadapnya tesis semantika kebenaran bersyarat diterapkan. Lebih dari itu, adalah hal yang bermakna di sini untuk berbicara tentang “nilai-nilai” kebenaran yang ditetapkan (sebagaimana biasa dalam logika), karena daya penegasan dari tindakan penegasan secara intrinsik terkait dengan kalimat-kalimat monologis yang diterapkan seperti itu. Untuk tujuan representasi murni, kita mengambil abstrak dari bagaiaman kalimat proposisional lekat dalam tindakan berbicara; dengan kata lain, kita tidak menghiraukan situasi komunikatif yang mungi di dalam nya seorang pembicara akan menegaskan proposisi “p” dengan tujuan menemukan kesepakatan dengan alamat. Kalimat proporsisional yang digunakan secara epistemis bermanfat untuk mewakili suatu keadaan atau urusan atau suatu kenyataan. Untuk tujuan model representasi ini, cukup apabila pengarang cenderung (entah kepada siapa saja) untuk memahami bahwa ia sedang mempertimbangkan “p” atau menganggapnya sebagai benar. Sebaliknya, dengan penegasan suatu kenyataan, seorang pembicara yang sedang berkomunikasi tidak saja ingin agar alamat tahu bahwa ia sendiri menganggap “p” benar; tetapi lebih, ia mengejar tujuan ilocusioner untuk memiliki pengetahuan bahwa “p” benar.
Hal yang sama dengan kalimat-kalimat intensional yang digunakan untuk merencanakan aksi secara monologis. Seorang memahami kalimat-kalimat intensional yang menyusun kegiatan-kegiatan bertujuan apabila ia tahu persyaratan keberhasilan, yakni, manakala seseorang tahu dalam sitausi dan kondisi mana keberhasilan tersebut berhasil dilakukan. Persyaratan sukses adalah persyaratan kebenaran yang ditafsirkan dengan satu cara aktor-relative. Sebagaimana dalam kasus kalimat-kalimat yang digunakan secara proposisional, relasi kalimat-kalimat dengan sesuatu dalam dunia objektif – yakni, pengetahuan tentang keadaan urusan-urusan dan arah fit – cukup untuk memahamai kalimat-kalimat intensional yang digunakan secara pragmatis. Suatu dorongan ilocusioner belum terhubungkan dengan hal-hal ini per se; mereka memperoleh daya ini hanya ketika aktor menyampaikan niat-niatnya dalam satu situasi yang komunikatif, yakni ketika aktor itu mendesakkan niat-niatnya dengan tujuan-tujuan ilocusioner agar orang lain menanggapi mereka secara serius dan mengandalkan pelaksanaannya.
Namun, penggunaan non-komunikatif bahasa untuk tujuan presentasi murni atau untuk suatu rancangan aksi yang diselesaikan secara mental disebabkan oleh suatu prestasi abstraksi yang semata-mata menyingkirkan rujukan – yang selalu tampil secara maya – proposisi-proposisi terhadap kebenaran, atau terhadap niat-niat untuk keseriusan dari apa yang diputuskan. Hal ini jelas segera setelah representasi atau rencana-rencana aksi dipertanyakan. Apabila hal ini terjadi, pengarang diharapkan untuk membenarkan terhadap orang lain secara wacana apa yang ia pikirkan secara monologis, yakni dalam forum publik argumentasi. Tentu saja, argumentasi-argumentasi seperti itu juga, dapat diberikan in foro interno, mirip dengan cara kita mengalamatkan perintah kepada diri kita sendiri. Namun, argumen-argumen dan perintah-perintah dari hakikatnya bersifat pragmatis dan karena alasan ini, tidak seperti kalimat-kalimat proposisional dan intensi-intensi, dapat diinternalisasi hanya bersama dengan relasi-relasi antarpribadi yang melekat pada makna mereka. Proposisi-proposisi dan intensi-intensi dapat dilepaskan dari makna-makna ilocusioner dari tindakan-tindakan penegasan dan penyampaian tanpa kehilangan makna, di mana bahkan in foro interno suatu perintah tanpa komponen ilocusioner tidak lagi menjadi suatu imperatif (karena bahkan di sini, Aku, dalam peran sebagai pribadi pertama, mengarahkan perintah kepada diri saya sebagai pribadi kedua fiktif). Rasionalitas komunikatif pertama-tama hanya terwujud dalam suatu proses mencapai pemahaman yang berlangsung melalui klaim-klaim validitas manakala pembicara dan pendengar, dalam suatu sikap performatif ditujukan kepada orang kedua, (ingin) mencapai pemahaman satu sama lain tentang sesuatu di dunia. Perbedaan antara hal ini dan penggunaan bahasa secara non-komunikatif berasal dari penambahan dari suatu klaim validitas dengannya pembicara memperhadapkan seorang pendengar. Di sini, tujuan ilocusionernya tidak terdapat dalam membiarkan sang alamat tahu intensi gandanya, yakni bahwa ia mengganggap “p” sebagai hal yang benar (atau hendak mewujudkan “p”) dan bahwa ia menghendakinya untuk mengetahui hal ini (intensi-intensi); lebih, ia berhasrat untuk mengkomunikasikan kenyataan (atau tujuan) “p” kepada alamat dengan cara sedemikian sehingga ia sendiri yakin “bahwa p” (menanggapi secara serius intensi pembicara “untuk mewujudkan p). Makna ilocusioner dari satu ungkapan bukan bahwa pendengar harus memperhatikan keyakinan (intensi) S namun lebih agar ia hendaknya sampai pada anggapan yang sama seperti S (atau bahwa ia semestinya menanggapi secara seirus pengumuman S). Bagi S, untuk mencapai tujuan ilocusionernya, tidak cukup bagi H untuk mengetahui kebenaran persyaratan-persyaratan (atau kondisi-kondisi keberhasilan) dari “p”, H juga diyakini untuk memahami makna ilocusioner dari penegasan (atau deklarasi intensi) dan, sejauh mungkin, menerima klaim-klaim validitas yang selaras dengan itu.
Dalam hal satu penegasan, pembicara mengajukan satu klaim kebenaran untuk apa yang ia katakan. Pendengar akan mengambil posisi afirmatif atas hal ini (tak jadi soal betapa pun implisit) hanya apabila ia menganggap apa yang dikatakan dibenarkan atau paling tidak menganggap pembicara sebagai dapat dipercayai hingga berdampak sekian sehingga ia dapat, apabila perlu meyakinkan pendengar akan kenyataan yang ditandaskan atas dasar akal sehat. Dalam kasus klaim validitas yang diajukan dengan satu pemakluman intensi, pendengar akan menanggapi secara serius intensi yang disampaikan dan memiliki alasan yang masuk akal untuk keinginan agar menjadikannya penyampaiannya benar: ia mengandaikan bahwa desakan itu serius apabila ia menganggap niat S harus dibenarkan (dari sudut pandangnya).
Penggunaan Bahasa Yang Berkiblat Kepada Kesepakatan Terhadap Penggunaan Bahasa Yang Berkiblat Kepada Pencapaian Pemahaman
Sekarang, tentu saja, adalah hal yang berbeda entahkah persetujuan (Einverständnis) menyangkut satu fakta yang ada antara para partisipan atau entahkah keduanya semata-mata mencapai satu pemahaman (sich verständigen) satu sama lain menyangkut seriusnya maksud pembicara. Kesepakatan dalam arti sempit hanya dapat dicapai apabila para partisipan mampu menerima suatu klaim validitas untuk alasan-alasan yang sama, sementara pemahaman timbal balik (Verständigung) hanya dapat terjadi apabila seorang partisipan melihat bahwa yang lain, dalam terang preferensi, memiliki alasan-alasan yang masuk akal dan lingkungan yang ada untuk intensinya – yakni, alasan-alasan yang masuk akal untuknya – tanpa harus membuat alasan-alasannya sendiri dalam terang preferensinya. Alasan-alasan yang tidak tergantung dengan aktor memungkinkan cara yang lebih kuat dalam pencapaian pemahaman dari pada alasan-alasan yang berkaitan dengan aktor. Berikut saya akan membandingkan (i) pemakluman-pemakluman intensi dan perintah-perintah sederhana dengan (ii) janji-janji, deklarasi, dan perintah-perintah dalam rangka membuat suatu perbedaan di dalam penggunaan komunikatif bahasa antara suatu modus “yang lemah” dan “yang kuat” dalam mencapai pemahaman.
Sebagaimana telah kita lihat, klaim validitas yang disampaikan dengan suatu tindakan penegasan untuk suatu proposisi “p” mencapai pengakuan antarsubjektif hanya apabila semua partisipan yakin “bahwa p” untuk alasan-alasan yang sama. Selama pembicara dan tujuan pembicara menerima proposisi “p” benar untuk masing-masing alasan berbeda, dan keduanya tahu berkaitan dengan yang lain bahwa alasan-alasan ini menegaskan untuk satu atau yang lain dari mereka, klaim kebenaran yang dinyatakan untuk “p”, yang tergantung pada pengakuan antarsubjektif, tidak diterima sebagai hal demikian. Karena suatu kompetisi diskursif demi mencapai argumen yang lebih baik, karena alasan-alasan konseptual, bertujuan kesepakatan dan bukan kompromi, pernyataan diskursif dari klaim validitas tetap terbuka hingga alasan-alasan yang tidak berkaitan dengan aktor membuat klaim kebenaran yang diperjuangkan para prinsipnya diterima secara rasional oleh semua peserta. Adalah hal yang berbeda dengan pernyataan berat sebelah tentang satu aksi yang berlandas pada pilihan bebas sewenang-wenang (“saya akan pergi besok”) atau dengan perintah-perintah sederhana (“duduk!”). Meskipun ungkapan-ungkapan ini, tak pelak lagi, merupakan tindakan-tindakan ilocusioner, adalah hal yang kontra intuitif untuk meyakinkan bahwa seorang pembicara ingin mewujudkan setiap “konsensus” bersama mereka. Pembicara tidak dapat memperhitungkan kesepakatan akan ungkapan kehendak berat sebelah. Dalam kasus-kasus seperti ini, sama sekali tidak diizinkan untuk berbicara dalam satu makna yang lemah tentang “pemahaman timbal balik” antara para partisipan. Karena di sini juga, klaim validitas yang terlibat bahwa satu partisipan bangkit dan yang lain dapat menerima atau menolak.
Dalam kasus pernyataan-pernyataan atau pemakluman intensi, sang pelaku dapat mencapai penerimaan dengan memperlihaktan tindakan yang dimaksukdan untuk menjadi satu tindakan yang rasional dalam terang preferensinya (dalam lingkungan-lingkungan yang adan dan dengan sarana-sarana yang tersedia). Untuk saling pemahaman model ini, rasionalitas teleologis memainkan peran mediasi. Dalam kasus-kasus seperti itu, pendengar memiliki alasan-alasan yang masuk akal untuk menanggapi pernyataan tersebut secara serius, bahkan manakala ia tidak menerika sebagai alasannya sendiri untuk intensi yang dimaklumkan. Umumnya, seorang memahamai isi proporsisional dari sebuah pengumuman manakala seorang tahun kondisi sukses untuk “p”; namun, seorang hanya memahami makna ilocusionernya, apabila ia tahu mengapa seorang menanggapi seharusnya menanggapi maksud yang ditandaskan secara serius sebagai sebuah pemakluman, yakni, mengapa seorang harus memperhitungkan tentang pelaksanaannya. Tentu saja, seorang pendengar, dalam kasus yang ada, boleh menerima pemakluman sebagai suatu ungkapan untuk ditanggapi serius karena alasan-alasan yang sama seperti pelaku; namun, diandaikan bahwa hal-hal ini adalah alasan-alasan yang berkaitan dengan pelaku (actor-relatif) yang memperlihatkan bahwa tindakan yang dimaklumkan rasional untuk pelaku dari sudut pandangnya – dan karena itu, dari sudut pandangan alamat, kemungkinan besar akan dijalankan. Tak akan ada pertanyaan tentang “kesepakatan” di sini karena alasan-alasan yang mendukung kejujuran intensi aktor hanya dapat dikualifikasikan sebagai satu alasan yang yang masuk akal menurut premisa-premisa yang sah untuk pelaku namun tidak untuk alamat. Kita mungkin dapat menyebut alasan-alasan seperti itu – untuk membedakan mereka dari alasan-alasan yang umumnya diterima – alasan-alasan yang “dipahami secara publik.” Apakah alasan-alasan yang masuk akal di balik niat untuk menjalankan satu tindakan bagi pelaku, adalah alasan-alasan yang masuk akal bagi alamat untuk tidak meragukan intensinya.
Hal itu berbeda – meski dalam efeknya mirip – dengan perintah-perintah. Taka penggunaan non-komunikatif dari kalimat-kalimat perintah, karena perintah secara intrinsik bersifat pragmatis. Makna ilocusioner terletak dalam kenyataan bahwa pembicara ingin memotivasi sebuah alamat – yakni, pribadi lain – untuk melaksanakan “p”. Seorang memahami isi proposisional dari perintah apabila ia tahu syarat-syarat bagi keberhasilan dari tindakan yang berkenaan dengan tindakan itu. Namun, dalam rangka memahamai makna ilocusionernya, seorang harus mengetahui (sebagaimana dalam kasus deklarasi intensi) mengapa pembicara, secara jujur memaksudkan apa yang dikatakannya, di atas dan tentang ini, mengapa ia yakin ia mungkin mengharapkan alamat untuk patuh pada perintahnya. Sebuah perintah rasional hanya apabila (terlepas dari kelangsungan hidupnya) pelaku memiliki alasan-alasan yang masuk akal untuk mengira bahwa alamat memiliki alasan-alasan untuk tidak melawan perintahnya. Alasan-alasan tambahan ini, bersifat actor-relative: dalam hal ini, sekali seorang pembicara (mungkin secara salah) dihubungkan dengan alamat sebagai alasan-alasan yang masuk akal untuknya; pembicara mengandaikan adanya, entah sangsi-sangsi, seandainya tindakan-tindakan yang diinginkan gagal untuk dijalankan, atau ganjaran/hadiah, apabila dilaksanakan. Sebagaimana halnya dengan pernyataan intensi, dalam hal tindakan-tidnakan imperatif juga, konsekuensi-konsekuensi tindakan yang diharapkan secara rasional dilihat sebagai bagian dari alasan-alasan actor-relative yang membuktikan rasionalitas ungkapan-ungkapan seperti itu (meskipun kini alasan-alasan tersebut dinilai secara positif atau negatif dari sudut pandang pendengar).
Pernyataan dan perintah-perintah tidak bertujuaan untuk kesepakatan (dalam arti sempit). Namun, mereka sama sekali tidak bergerak dalam horizon dari saling pemahaman yang berlandas pada klaim-klaim validitas dan karena itu masih berada dalam wilayah rasionalitas komunikatif. Benar bahwa aseptabilitas klaim-klaim validitas diantarai melalui rasionalitas bertujuan yang dimiliki pemecahan untuk pelaku yang sikapnya berkiblat pada keberhasilan; namun, keberhasilan ilocusioner mereka pada gilirannya diukur dalam term-term klaim kebenaran dan keadaan yang sesungguhnya bahkan apabila hal ini hanya dengan rujukan pada preferensi-preferensi pembicara (atau dalam kaitan dengan perferensi yang dihubungkan oleh pembicara kepada pendengar). Pendengar mengandaikan bahwa pembicara memaksudkan apa yang dikatakan dan menganggapnya sebagai benar. Karena alasan ini, pemakluman intensi dan perintah-perintah secara karakteristik dapat diragukan dalam dua aspek keadaan yang sesungguhnya (bandingkan 1’ dan 2’) dan ketepatan atau kebenaran dari persangkaan eksistensial (bandingkan 1” dan 2”).
(1) Saya akan menandatangani kontrak besok di Tokyo
(1’) Anda sedang menarik kaki saya
(1”) Agaknya Anda tidak bisa berada di Tokyo sebelum esok (karena perbedaan waktu)
(2) Berikan kepada saya uang yang saya butuh saat ini
(2’) Pada dasarnya Anda sama sekali bukan sedang mencari uang melainkan sesuatu yang sama sekali lain (yakni afeksi).
(2”) Saya tidak dapat memperolah uang dalam jumlah itu secepatnya
ii. Tentu saja, modus penggunaan bahasa harus berubah segera setelah kebenaran penegasan yang diandaikan dengan pernyataan atau perintah-perintah itu ditematisasi sendiri. Perubahan seperti itu dalam topik meniscayakan transisi dalam suatu kiblat terhadap satu “kesepakatan” yang melampaui “pencapaian pemahaman”. Suatu perpindahan model itu dari penggunaan bahasa yang berkiblat kepada pencapaian pemahaman kepada penggunaan bahasa yang berorientasi kesepakatan dapat juga digambarkan secara lain dengan bantuan contoh-contoh yang diberikan di atas, karena dalam kasus itu ada jalan lain yang mungkin di dalamnya hal itu dapat ditolak.
Anda ketiadaan kehendak baik yang dibutuhkan untuk mengemban komitmen yang berat.
Anda tidak memiliki otoritas hukum untuk hal itu.
Tidak, Saya tidak berhutang sedikit pun kepada Anda
Namun, di sini tindakan berbicara dianggap memiliki satu makna ilocusioner yang berbeda. Karena sekarang, negasi (1) dan (2) merujuk pada klaim-klaim validitas normatif yang turut dalam permainan hanya manakala kalimat-kalimat intensional dan imperatif “melekat: dalam konteks-konteks normatif dan “dibenarkan” oleh latar belakang normatif. Pernyataan penandatanganan kontrak dapat menjadi suatu tindakan berbicara komisif – misalnya, suatu janji dengannya aktor mengabdikan diri pada sesuatu – atau kalau tidak suatu tindakan berbicara deklaratif, dengannya pembicara menunaikan suatu tugas institusional (misalnya, kewajiban dari sebuah dewan perwakilan untuk memberikan informasi kepada publik). Perintah untuk meneruskan uang dapat mengandung permohonan seorang teman, perintah pemimpin, tuntutan kreditor dan sebagainya.
Meski latar belakang model ini, pemakluman intensi dan perintah-perintah diubah ke dalam ungkapan kehendak yang disahkan secara normatif seperti janji-janji, deklarasi-deklarasi dan perintah-perintah. Dengan ini, makna ilocusioner dan basis keabsahan dari ungkapan-ungkapan berubah. Alasan-alasan normatif tidak menentukan penilaian bijaksana subjek-subjek pengambil keputusan yang memilih secara sewenang-wenang dan karena itu mampu untuk masuk ke dalam kewajiban. Berlawanan dengan kasus pemakluman-pemakluman intensi “telanjang” dan perintah-perintah “sederhana”, alasan-alasan normatif bukanlah alasan-alasan actor-relative untuk suatu tingkah rasional bertujuan sendiri (atau orang lain) melainkan – sebagaimana dalam kasus penengasan-penegasan – alasan-alasan actor-independent; namun, tidak seperti alasan-alasan untuk eksistensi keadaan urusan-urusan tetapi lebih pemenuhan harapan-harapan yang mengikat secara normatif. Bertautan dengan tindakan-tindakan berbicara regulatif seperti janji-janji, deklarasi-deklarasi, dan perintah-perintah adalah satu bentuk klaim validitas yang memiliki satu kiblat yang terbangun terhadap pembenaran-pembenaran dalam wacana-wacana praktis. Dalam rangka memahami makna ilocusioner dari jenis tindakan berbicara ini, orang harus tahu konteks normatif yang menjelaskan mengapa seorang aktor merasa disahkan atau diwajibkan untuk menjalankan suatu tindakan tertentu dan mengapa, sejauh menyangkut alamat, ia boleh memperhitungkan kepatuhan terhadap perintah. Sejauh para partisipan mengetahui secara antar-subjektif suatu latar normatif (misalnya, di dalam kerangka dari satu dunia kehidupan bersama), mereka dapat menerima tindakan-tindakan berbicara regulatif dengan alasan-alasan yang sama.
Namun, bertentangan dengan konsensus yang secara epitemik dicapai, latar belakang normatif ini harus bukan terutama dipahami sebagai suatu hasil, daripada sebuah titik tolak. Dalam hal tindakan-tindakan berbicara regulatif, kesepakatan sebagai latar belakang normatif yang diandaikan berfungsi sebagai satu gudang untuk alasan-alasan bersama, di mana dalam hal tindakan-tindakan berbicara konstatif, alasan-alasan mereka sendiri berfungsi sebagai saut kendaraan untuk mencapai kesepakatan yang didorong secara rasional. Bagaimanapun juga, satu analogi tertentu dengan kesepakatan yang dicapai secara epistemik dibangun di atas tataran pascatradisional dari yustifikasi di mana satu konsensu dari model di atas tidak lagi dilihat hal yang dengan sendirinya terjadi, dengan hasil bahwa norma-norma membenarkan itu sendiri menuntut yustifikasi. (Pada titik ini, saya ingin sekadar menyinggung bahwa apa yang lazimnya kita tangani di bawah judul “alasan praktis: bukanlah fenomena elementer, melainkan lebih pada kembali kepada suatu rajutan jalinan – berhasil dalam kerangka interaksi sosial – rasionalitas epistemik dan teleologis dengan rasionalitas komunikatif).
Tindakan Komunikatif Vs Tindakan Strategis
Saya telah membandingkan pemakluman-pemakluman dan perintah-perintah “telanjang” dan “sederhana” dengan pemakluman serta perintah yang ditanamkan agar mengadakan suatu pembedaan di dalam dimensi mencapai pemahaman dan menyoroti dua jenis penggunaan bahasa komunikatif. Kini kita harus melihat bagaimana pembedaan-pembedaan tersebut berdampak pada fungsi kordinasi tindakan. Hingga sekarang kita telah mempertimbangkan hanya tindakan-tindakan berbicara, yakni, ekspresi-ekspresi linguistik, termasuk aspek darinya mereka sendiri menampilkan tindakan-tindakan. Namun, rasionalitas komunikatif yang terwujud dalam tindakan-tindakan ilocusioner meluas melampaui ungkapan-ungkapan verbal hingga kepada aksi-aksi atau juga interaksi-interaksi. Namun, rasionalitas komunikatif yang terwujud dalam tindakan-tindakan ilocusioner. (satu kelas khusus dari hal-hal ini – tindakan-tindakan sosial yang diatur secara normatif). Bersama Max Weber, kita dapat mendefinisikan tindakan-tindakan sosial secara umum sebagai tindakan-tindakan di mana pelaku-pelaku, dalam mengejar rancangan aksi pribadi mereka, juga dituntun oleh tindakan yang diharapkan dari orang lain. Kita akan berbicara tentang tindakan komunikatif di mana para pelaku mengkoordinasi rencana aksi mereka satu sama lain melalui proses mencapai pemahaman linguistik, yakni dengan cara yang sedemikian sehingga mereka memperolah daya rekat dan daya ikat (bindungskraft) dari tindakan berbicara untuk koordinasi. Dalam aksi strategis, potensi ini untuk rasionalitas komunikatif tetap tak tereksploitasi, bahkan di mana interakis-interaksi secara linguistik termediasi. Karena para partisipan dalam tindakan strategis mengkoordinasikan rancangan-rancangan aksi mereka satu sama lain melalui pemberian pengaruh secara timbal balik, bahasa digunakan bukan secara komunikatif, dalam arti disosorti, namun dengan orientation toward consequences. Untuk analisis tentang penggunaan terakhir bahasa, apa yang disebut menyiapkan satu kunci yang cocok.
Dua Jenis Tindakan Komunikatif
Saya akan berbicara tentang tindakan komunikatif dalam arti lemah manakala pencapaian pemahaman diterapkan pada kenyataan-kenyataan dan alasan actor-relative untuk ungkapan-ungkapan yang berat sebelah; saya akan berbicara tentang tindakan komunikatif dalam arti kuat, segera setelah pencapaian pemahaman meluas ke alasan-alasan normatif untuk seleksi tujuan-tujuan oleh mereka sendiri. Dalam kasus terakhir, para partisipan merujuk pada kepada kiblat nilai bersama antarsubjektif yang – melampaui preferensi-preferensi personal mereka – mengikat kehendak mereka. Dalam tindakan komunikatif yang lemah pelaku-pelaku berkiblat semata-mata kepada klaim-klaim akan kebenaran dan keadaan yang sesungguhnya; dalam tindakan aksi komunikatif yang kuat, diandaikan bukan sekadar kebebasan memilih yang sewenang-wenang namun otonomi dalam arti kemampuan untuk mengikat kehendak seseorang pada basis pandangan-pandangan normatif.
Dalam hal kedua contoh yang dilihat sebagai ungkapan kehendak yang tidak tersimpan secara normatif, kalimat-kalimat imperatif dan intensional sudah digunakan secara komunikatif, yakni dengan tujuan ilokusioner membawa pendengar kepada kesepakatan yang dimotivasi secara rasional. Namun, dalam kasus-kasus tersebut, para aktor yang berkiblat kepada kesuksesan, hanya dapat mengkoordinasi rencana-rencana mereka apabila salah satu dari mereka menerima keseriusan intensi-intensi atau perintah-perintah yang diucapkan oleh orang lain (juga kebenaran keyakinan yang diterapkan olehnya). Dituntut dua klaim validitas: kejujuran dari keteguhan hati atau keputusan dan kebenaran dari apa yang diyakini. Pada tataran ini, mencapai pemahaman belum meluas kepada klaim-klaim validitas normatif. Ciri untuk kordinasi aksi dalam arti lemah sebuah kiblat menuju pencapaian pemahaman adalah hakikat terbatas dari kesepakatan, yang tak dapat berkaitan dengan intensi-intensi dan preferensi-preferensi itu sendiri, namun hanya berkaitan dengan rasionalitas bertujuan. Dalam kaitan dengan ini, mencapai pemahaman di sini berarti semata-mata bahwa pendengar memahami isi deklarasi intensi atau perintah dan tidak meragukan keseriusannya (dan viabilitas). Basis bagi pemahaman timbal balik yang efektif dalam kordinasi tindakan adalah semata-mata penerimaan klaim akan kebenaran yang dinyatakan bagi pemakluman intensi atau bagi suatu imperatif, terhadapnya rasionalitas yang dapat dipindai dari keteguhan hati atau dari keputusan tersebut dibuktikan/diperlihatkan.
Basis umum tersebut merintangi pilihan bebas para aktor untuk beraksi secara komunikatif dalam suatu kiblat menuju keberhasilan hanya sejauh mereka mengharap satu sama lain untuk menolak semua niat untuk berbohong (yang diperbolehkan dalam aksi strategis). Dalam tindakan komunikatif lemah para pelaku tidak belum telampau mengharapkan satu sama lain untuk dituntun oleh norma-norma dan nilai-nilai umum dan mengakui kewajiban-kewajiban timbal balik. Saya akan berbicara tentang aksi komunikatif yang kuat hanya apabila suatu tindakan ilokusioner dapat dikritik berkaitan dengan semua tiga klaim validitas, tanpa memperhatikan entahkah klaim-klaim validitas normatif dinyatakan secara eksplisit, sebagaimana dalam tindakan-tindakan berbicara regulatif (perintah-perintah, janji-janji), atau tetap tidak dapat ditematisasi. Bahkan pernyataan-pernyataan tegas atau pengakuan-pengakuan, dengannya klaim-klaim eksplisit akan kebenaran dan keadaan sesungguhnya dikatakan, dapat dikritik dengan mempertenggangkan konteks normatif dari pernyataan seperti “tidak pada tempatnya”, “kurang ajar”, “memalukan”, dan sebagainya – singkatnya, sebagai tidak pantas secara normatif. Dalam kasus-kasus seperti itu, mereka melanggar relasi antarpribadi yang diatur secara sah dalam dunia sosial, di dalamnya para partisipan komunikasi menjadi bagian.
Dari konteks-konteks normatif seperti ini, tindakan-tindakan berbicara regulatif, asal kondisi-kondisi di bawahnya pembicara menganggap dirinya sebagai memiliki otoritas untuk petunjuk-petunjuk, perintah-perintah, imperatif-imperatif, nasihat, permohonan-permohonan, janji-janji, kontrak-kontrak, negosiasi-negosiasi, pengumumuman-pengumuman, dan sebagainya. Untuk klaim-klaim tulus yang luas ini, dengan dengannya tindakan-tindakan ilokusioner jenis ini terhubungkan, mengandalkan sesuatu dalam dunia sosial dalam suatu cara yang analog dengan klaim-klaim kebenaran yang terkait dengan tindakan-tindakan berbicara konstatif yang mengandalakan sesuatu di dunia objektif (bahkan apabila norma-norma bersifat “kontroversial” dalam suatu cara lain daripada fakta-fakta dan sebagai entitas-entitas yang kita rujuk ketika kita menengaskan fakta-fakta tentangnya). Bagaimanapun juga, di bahwa persyaratan pemikiran pasca-metafisik, klaim-klaim akan kebenaran normatif dari ucapan-ucapan – seperti klaim-klaim kebenaran – mungkin dibuktikan secara diskursif, yang berarti atas dasar alasan-alasan yang merupakan alasan-alasan yang sama untuk semua anggota dunia sosial dalam hal tersebut. Tujuan dalam kasus-kasus seperti itu adalah suatu kesepakatan normatif. Tidak seperti suatu pemahaman timbal balik menyangkut keseriusan (dan kelangsungan hidup) dari keteguhan hati dan keputusan, kesepakantan normatif seperti itu meluas tidak sja kepada premis-premis actor-relative dari mengejar tujuan-tujuan aksi yang dipilih atas basis pilihan bebas sewenang-wenang, namun juga cara actor-independent dalam memilih tujuan-tujuan yang sah. Dalam tindakan komunikatif yang kuat, para partisipan mengandaikan tidak saja bahwa mereka dipandu oleh fakta-fakta dan mengatakan apa yang dianggap benar dan apa yang mereka maksudkan, tetapi juga bahwa mereka mengejar rancangan-rancangan akdis mereka hanya di dalam batas-batas norma-norma dan nilai-nilai yang dianggap sah.
Tindakan komunikatif yang mendasar dalam arti lemah adalah pengandaian dari sebuah dunia objektif yang sama untuk semua; dalam tindakan komunikatif yang kuat para partisipan tidak perlu disinggung perhitungana tentang suatu dunia sosial yang dimiliki mereka secara intersubjektif. Tentu saja, kesepakatan turut diperhitungkan dalam kasus pernyataan-pernyataan yang tandas tuntas sebagaimana juga dalam kasus pertanyaan-pernyataan normatif; pernyataan-pernyataan tentang fakta dan kalimat-kalimat “seharusnya” harus dijadikan dapat dipahami bagi semua semua partisipan dengan alasan-alasan yang sama Namun, sebuah kesepakatan kognitif tentang fakta-fakta menuntut para partisipan dalam komunikasi untuk untuk mempertimbangkan fakta-fakta yang disepakati ini dalam selama interaksi mereka selanjutnya. Bertentangan dengan sebuah kesepakatan normatif, sebuah kesepakatan koginitif tidak mempengaruhi cara para pelaku memilih dan mengejar tujuan-tujuan tindakan mereka; hal itu tidak mempengaruhi entah mereka mereka dituntun secara eksklusif oleh pilihan-pilihan pribadi mereka atau entah mereka dipandu oleh norma-norma yang mengikat (dan nilai-nilai yang dihormati oleh semua anggota). Kalau dalam tindakan komunikatif lemah hanya pembicaraan yang konstatif yang beraksi dan biasanya hanya ungkapan-ungkapan kehendak yang tidak terotorisasi yang berperan, tindakan komunikatif yang kuat menuntut penggunaan bahasa yang juga merujuk pada sesuatu dalam suatu dunia sosial. Secara sambil lalu, hal ini juga berlaku untuk tindakan berbicara ekspresif yang – tidak seperti deklarasi-deklarasi niat dan perintah-perintah – tidak merujuk pada tindakan-tindakan (masa depan), misalnya ungkapan-ungkapan perasaan.
Perlokusi, penggunaan bahasa yang berkiblat kepada konsekuensi-konsekuensi dan aksi strategi
Rationalitas komunikatif terwujud dalam pemainan-permainan bahasa di dalamnya para partisipan mengambil suatu posisi atas dasar klaim-klaim validitas yang dapat dikritik. Dalam bentuk-bentuk yang “lemah” dari penggunaan bahasa yang komunikatif dan tindakan komunkatif, rasionalitas komunikatif terjaring dengan rasionalitas bertujuan dari para pelaku dalam suatu sikap yang berkiblat kepada keberhasilan – meskipun masih ddngan cara sehingga tujuan-tujuan ilokusioner mendominasi efek-efek “perlocusioner” sehingga dalam situasi-situasi tertentu mungkin diperjuangkan. Tentu saja, “perlokusioner” adalah nama yang kita berikan kepada efek-efek tindakan berbicara sehingga, apabila dibutuhkan, secara kasual dapat juga diwujudkan oleh tindakan-tindakan nonlinguistik. Selanjutnya, saya tertarik pada (i) tindakan-tindakan berbicara dan (ii) interaksi-interaksi di dalamnya relasi ketergantungan yang lazimnya ada antara tujuan-tujuan dan efek-efek ilokusioner dan perlokusioner dibalikkan. Dalam kasus-kasus seperti itu, rasionalitas komunikatif mundur, meninggalkan gap-gap yang menegaskan suatu bentuk kontras atau hal bertentangan untuk daya ikat dan padu dari tindakan-tindakan ilokusioner.
Saya ingin memulai dengan membedakan tiga golongan efek perlokusioner. Efek-efek perlokusioner sebagai dampak secara gramatikal dari isi tindakan ilokusioner yang berhasil – seperti ketika sebuah perintah sah dilaksanakan, sebuah janji ditepati, suatu niat yang dimaklumkan dijalani, atau ketika penegasan-penegasan dan pengakuan-pengakuan selaras secara konsisten dengan jalannya interaksi selanjutnya. Di sini, tujuan ilokusioner mengendalikan tujuan perlokusioner. Sebaliknya, efek-efek2 perlokusioner secara gramatis tidak teratur, yakni, konsekuensi-konsekuensi dari suatu tindakan berbicara yang, bagaimanapun juga, terjadi hanya sebagai suatu hasil dari suatu keberhasilan ilokusioner – seperti ketika suatu potong berita, tergantung pada konteks, menyenangkan atau mengejutkan penerima, atau ketika suatu suatu perintah ditantang, suatu pengaku membangkitkan keraguan, dan sebagainya. Akhirnya, efek-efek3 perlokusioner hanya dapat dicapai apabila dalam suatu cara yang tidak kentara sejauh menyangkut alamt; keberhasilan dari jenis aksi strategis ini – suatu bentuk yang tetap tersembunyi untuk pihak lain – juga tergantung pada sukses yang gamblang dari suatu tindakan ilokusioner.
Apa yang disebut perlokusi menentukan suatu suatu kasus istimewa yang menarik untuk tujuan analisis. Hal-hal ini juga menuntut tindakan-tindakan ilokusioner yang berhasil sebagai kendaraannya; namun, dalam kasus perlokusi-perlokusi, bahkan dominasi gamblang dari tujuan ilokusioner – masih perlu untuk golongan terakhir dari efek perlokusioner yang saya singgung – hilang.
Tindakan ilokusioner menegaskan
(3) Anda bersikap seperti babi
mengambil beberapa bentuk dalam terang tujuan perlokusioner yang dikejar secara terbuka dalam menyerang pendengar, karena kemudian penegasan dilihat sebagai cercaan, atau sebagai celaan atau sebagai umpatan. Dalam cara yang sama, setiap tindakan ilokusioner apa saja dapat, tergantung konteks, dilihat sebagai suatu ungkapan cemoohan atau ejekan karena makna ilokusioner yang diungkapkan secara harfiah dihilangkan dan ditafsir ulang melalui tujuan perlokusioner yang sudah ditetapkan untuk menunjukkan alamat (atau dengan efek yang telah terjadi dari hal ini).
Ancaman-ancaman memperlihatkan suatu jenis perlokusi istimewa. Tindakan ilokusioner memaklumkan suatu sangsi negatif bersyarat menuntut cita rasa ancaman melalui rujukan eksplisit terhadap efek-efek2 untuk menghalangi alamat. Makna perlokusionernya sebagai suatu halangan mengatasi makna ilokusionernya sebagai suatu pernyataan. Karena alasan ini ini, ancaman seperti
(4) Kalau Anda tidak memberi Peter uang saya akan menyampaikan kepada pimpinan Anda
diragukan bukan saja sebagai suatu pernyataan yang secara harfiah berarti “telanjang” dari dua sudut pandangan akan kekurangan kesungguhaan dalam pernyataan niat dan kekurangan kebenaran dari pengandaian eksistensial; hal itu juga bisa diragukan berkenaan dengan kondisi-kondisi kontekstual dari efek-efek2 perlokusioner yang dimaksudkan. (4) mungkin disangkal tidak saja dengan bantuan dari klaim-klaim validitas yang dinyatakan secara gamblang dengan tindakan ilokusioner ini, seperti dalam
(4’) Apa kau serius dengan ucapanmu
(4’’)Anda tidak punya apa-apa untuk melawan saya
Tambahan pula, konteks yang diandaikan oleh pembicara, di dalamnya (4) yang pertama-tama menjadi suatu ancaman bagi suatu alamat khusus, dapat juga digugat:
(4’’’) Anda tidak bisa menakut-nakuti saya dengan hal itu – ia telah lama mengetahuinya.
Dalam kasus seperti itu tindakan berbicara tidak dapat berbicara dalam arti sempit digugat; tetapi terutama hal itu sekadar dijelaskan mengapa hasil yang dimaksudkan tidak akan terjadi dan mengapa perlokusi tetap tidak efektif. Hanya tindakan-tindakan ilokusioner yang dapat sah atau tidak sah dapat diperjuangkan.
(Namun, perlokusi jenis ini dapat tanam kembali dalam suatu konteks normatif dalam cara yang sekunder tentu saja, karena hukuman atas pelanggaran ringan dalam arti moral atau legal naik banding ke suatu konsensus latar belakang normatif dan sejauh ini, meski konotasi peyoratifnya, ditujukan terhadap pemerintah. Karena alasan ini, celaan-celaan yang ditanam secara normatif - tidak seperti tindakan-tindakan yang sungguh-sungguh tidak dimaksudkan untuk mengatakan sesuatu, namun, dalam mengatakan sesuatu, berniat untuk menyerang seseorang – dapat ditolak atas dasar alasan-alasan. Sesuatu yang mirip dengan apa yang dianggap sebagai celaan-celaan moral, hukuman, dan sebagainya juga dianggap, misalnya, sebagai ancaman hukuman legal; karena konsensus latar belakang yang disahkan tentang norma-norma hukuman itu sendiri, hukuman yang diancam dilihat sebagai sebuah konsekuensi dari suatus sistem legal untuknya diandaikan adanya kesepakatan).
ii. Dalam konteks aksi strategis, fungsi-fungsi bahasa umunya menurut pola perlokusi. Di sini, komunikasi linguistik disubordinasi pada prasyarat aksi rasional bertujuan. Interaksi strategis ditentukan oleh keputusan-keputusan para pelaku dalam suatu sikap yang berkiblat pada keberhasilan yang diamati secara timbal balik satu sama lain: mereka berhadapan satu sama lin di bahwa persyarata kontingensi ganda sebagai para lawan yang, dalam kepentingan rancangan aksi pribadi mereka, memiliki pengaruh satu sama lain (biasanya pada sikap-sikap seimbang dari orang lain). Mereka menangguhkan sikap-sikap performatif dari para partisipan dalam komunikasi sejauh mereka menerima peran pembicara dan pendengar yang berpartisipasi, dari sudut pandang pribadi ketiga. Dari posisi akhir yang menguntungkan, tujuan-tujuan ilocusioner kini hanya relevan sebagai persyaratan untuk efek-efek perlokusioner. Jadi, tidak seperti dalam penggunaan bahasa secara komunikatif, subjek-subjek yang bertindak secara strategis yang berkomunikasi satu sama lian tidak mengejar tujuan-tujuan ilocusioner dengan terus terang.
Dengan ini, bahkan basis sempit kebenaran yang diandaikan secara timbal balik kini hilang: semua tindakan-tindakan berbicara dirampok daya ikat dan padu ilokusionernya. Tidak saja – sebagaimana dalam tindakan komunikatif yang lemah – konteks normal yang sama dan klaim yang selaras dengan itu akan kebenaran normatif di sini kurang/tidak ada, bahkan klaim-klaim kebenenaran dan kenyataan sesungguhnya yang muncul bersama tindakan-tindakan berbicara non-regulatif tidak lagi ditujukan secara langsung pada motivasi rasional dari pendengar namun pada memperoleh alamat untuk menarik kesimpulan-kesimpulannya dari apa yang secara t








