a place I called home

Maafkan Aku Bila Aku Mengeluh

Hari ini, di sebuah bus, aku melihat seorang remaja tampan dengan rambut sedikit ikal. Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan aku sangat ingin memiliki gairah hidup yang sama. Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan. Dia mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu. Namun ketika dia lewat .... ia tersenyum. Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua kaki. Dunia ini milikku.

Aku berhenti untuk membeli sedikit kue. Anak laki-laki penjualnya begitu mempesona. Aku berbicara padanya. Dia tampak begitu gembira. Seandainya aku terlambat sampai di kantor, tidaklah apa-apa. Ketika aku pergi, dia berkata, 'Terima kasih. Engkau sudah begitu baik.
Menyenangkan berbicara dengan orang sepertimu. Lihatlah, aku buta.' Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.

Lalu, sementara berjalan. Aku melihat seorang anak mirip bule dengan bola mata biru. Dia berdiri dan melihat teman-temannya bermain sepak bola. Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya. Aku berhenti sejenak, lalu berkata, 'Mengapa engkau tidak bermain dengan yang lain, Nak ?' Dia memandang ke depan tanpa bersuara, lalu aku tahu dia tidak bisa mendengar. Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku.

Dengan dua kaki untuk membawaku ke mana aku mau. Dengan dua mata untuk memandang mentari dan bukit-bukit. Dengan dua telinga untuk mendengar desir angin dan segala bunyi.
Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh.

Tradisi Menguji Keperawanan

Comments

ulan庵 :Dhazuran Friday, September 24, 2010 8:30:49 AM

Karangannya bagus Kyo!
Humm..

Namun ketika dia lewat .... ia tersenyum.


Hal itu juga yang saya lakukan beberapa tahun belakangan ini.
Saya mencoba mengajak tersenyum orang-orang yang berpapasan yang menatap aneh cara berjalan saya. Sebagian dari mereka akhirnya jengah atau mungkin juga malu dengan sikap mereka. Tapi saya tau, saya menang. Saya serasa menemukan kekuatan dibalik 'kelemahan' saya :Dv

KyoKyoamakusha Tuesday, September 28, 2010 1:51:41 PM

Yap itu baru namanya ulan.. Slalu tegar dan terus menuju arah sinar mata hari..

ulan庵 :Dhazuran Tuesday, September 28, 2010 2:03:41 PM

Pastinya dong.. wkwkwk.. Duh jadi tersandung.. p

Write a comment

New comments have been disabled for this post.