Rumahku

Love Life Live

Subscribe to RSS feed

Princess Ariel and Prince Cockroach 3

Waktu itu senja sudah mulai berpaling meninggalkanku sendiri di pinggir pantai. Aku melihat pelan pelan matahari menenggelamkan batang hidungnya dan pancaran sinarnya. Seolah aku merasa terabaikan olehnya. Tetapi dari matahari aku belajar bahwa esok ia akan kembali lagi dan aku bisa selalu mengharapkan kedatangannya tanpa ragu.
Peter telah menungguku di depan pintu penginapan. Sudah berapa lamakah aku berpacaran sama dia? Sepuluh hari, tetapi ini terasa sudah seumur hidup aku bersamanya. Keromantisannya selalu membuatku mabuk kepayang. Tetapi sayang ada beberapa orang di tempat ini yang menyayangkan hubungan kami. Mereka bilang kami tidak cocok duduk bersama.
"Udah nunggu lama ya?"
"Tidak, baru saja datang. Dari mana saja?"
"Melamun di pinggir pantai" jawabku sambil ketawa.
"Aku punya sesuatu buatmu, tapi kamu harus menutup mata."
Ku terima hadiah dari dia dan aku terkejut.
"Apa ini?"
"Ha? Ini boneka untuk menemanimu tidur."
"Oh, terimakasih. Ini sangat lucu."
"Iya seperti kamu, lucu."
"Ha! Dan apakah itu?"
Peter membawa gitar. Gitar adalah sebuah alat musik. Suaranya sangat indah. Aku semakin terkesima melihat Peter begitu lincah memainkannya.
Dia benar-benar bisa membuatku lupa akan Pangeran Erik.

Esoknya aku berjalan di pinggir pantai dan melihat Flounder temanku.
"Apakah kamu sudah bertemu dengan Pangeran Erick?" aku bingung mau menjawabnya. Namun akhirnya aku jelaskan apa yang terjadi padaku.
"Ariel, kamu harus fokus pada tujuan utamamu." lalu dia pergi meninggalkanku ke dasar laut.
Kenapa Pangeran Erick sulit sekali dicari? Aku mulai meragukannya. Mungkinkan Peter itu Pangeran Erick? Andai saja tapi aku ingat betul wajahnya.
Di sampingku para nelayan pulang dari mencari ikan. Aku merasa sakit melihat ikan yang mereka bawa. Itu adalah sebangsaku. Salah seorang berkata tentang Pangeran yang sedang sakit tangannya karena terjatuh dari kuda, tapi tidak dijelaskan siapa namanya.
"Nona, pacarmu di mana?" seorang tante penjual makanan di pinggir pantai menyapaku.
"Di tempat penginapannya."
"Coba kamu lihat lagi. Kamu terlalu cantik untuk lelaki sepertinya. Aku akan sedih jika kamu mendapatkan lelaki yang salah."
"Oh, ibu terimakasih telah mengingatkan saya. Kami baik-baik saja, kok."
Kenapa banyak orang tidak suka aku dan Peter bersama? Bukankan cinta yang tulus tidak memandang rupa? Namun lagi aku teringat Flounder untuk fokus pada tujuanku.

Sudah hampir 100 hari Peter dan aku pacaran dan selama itu pula banyak orang di negeri ini menyayangkan hubungan kami. Aku mulai ragu dan mencoba mencari tau apakah Peter benar-benar tidak baik. Apakah mungkin dia hanya memanfaatkan keluguanku saja? Pertanyaan bertubi-tubi hinggap di kepalaku. Bagiku dia sangat romantis. Katanya pipiku yang tembem ini membuatku kelihatan lucu. Aku pernah bilang bahwa aku berasal dari suatu negeri yang jauh melewati samudera, katanya dia akan berenang melewati samudera itu hanya untuk bersamaku. Banyak sekali janji-janji manis yang dia ucapkan. Dan aku percaya begitu saja.

Kali ini aku benar-benar bingung. Hatiku meragu. Di manakah Pangeran Erick berada? Aku sudah menelusuri satu-satunya negeri kecil di pinggir pantai ini tetapi tak ku temukan batang hidungnya. Aku ingin mengunjungi ayahku tetapi aku tak berani karena aku belum berhasil menemukan orang yang ku cari dan malah aku menjalin kasih dengan orang lain. Aku bimbang.
Sore itu ku putuskan untuk mencari Peter. Biasanya dia berada di restoran termewah di negeri kecil ini tapi kali ini tak ku temukan dia. Aku beranjak menuju penginapannya yang tidak jauh dari penginapanku.
Gelap menyapaku dengan lembut. Ku lihat bintang di langit mulai bermunculan. Indah.
Peter pasti di rumah karena ku lihat lampu kamarnya nyala. Tetapi saat aku berusaha membuka pintu aku melihat ada sepatu wanita. Pelan ku coba mendekati pintu yang tidak terkunci. Ku mengintip sedikit dan ku lihat pemandangan yang tak pernah ku lihat. Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu saat Peter berusaha melepas bajuku dan aku menolaknya. Aku mulai paham apa itu cinta, apa itu nafsu. Aku beranjak pergi meninggalkan penginapan Peter dan menuju ke tepi pantai.

Princess Ariel and Prince Cockroach 2

Hari berikutnya aku dan Peter sering menghabiskan waktu di restoran. Peter seperti orang kelaparan, dia makan tiada henti. Aku jadi malu dibuatnya. Aku memutuskan untuk pergi ke pantai, berharap pangeran Eric muncul dan membawaku pulang ke kediamannya. Sudah sepuluh hari aku menghabiskan waktuku di dunia manusia namun tak kunjung ku temui dia.
Namun aku pun mulai suka dengan keunikan hidup di dunia manusia. Aku merasa berada di rumah. Rumah yang dulu pernah hinggap di kepalaku waktu kecil, ketika ibuku masih hidup dan rajin mendongengkan cerita-cerita dari darat. Ibuku yang dulu adalah manusia tulen yang dibuang oleh orang tuanya karena mereka tidak punya harta yang cukup untuk menafkahi anak-anaknya.
Kadang aku berfikir mungkin ini adalah takdir Tuhan agar aku hidup di darat meneruskan perjalanan hidup ibuku sebelum dibuang oleh orang tuanya dan dipungut oleh orang tua ayahku.

Tanpa ku rasakan ternyata Peter sudah di sampingku membawa eskrim.
"Oh Ini makanan sungguh aneh!" ku muntahkan eskrim dan tanpa sengaja mengenai bajunya. Peter hanya memandangku kesal. Dia buka baju dan telanjang dada di sampingku. Kekar juga rupanya dia. Ah, tapi tetap aku masih fokus pada misiku yaitu mencari Pangeran Eric lelaki impianku.
"Apakah kamu terintimidasi oleh keberadaanku yang bertelanjang dada?"
"Oh, tidak. Tapi jika diperbolehkan, bolehkah aku menyentuh otot di dadamu untuk memastikan bahwa itu nyata?"
"Silahkan."
Ku sentuh otot dia dan itu memang nyata!
Dan dalam sekejap tangan Peter menguasai tubuhku. Matanya tajam menatapku. Dan lagi aku lumpuh dibuatnya. Dunia serasa berhenti saat wajahnya semakin dekat dan bibirnya hampir melekat di bibirku. Aku seperti patung hidup yang kehilangan otak. Otak yang sangat penting berperan dalam kelangsungan hidup setiap makhluk hidup. Bibir kami bersentuhan dan aku merasa berada di kutub utara telanjang tanpa busana. Aku ingin bicara tetapi suaraku telah hilang. Aku ingin berontak tetapi tenagaku telah lenyap. Sudah berapa lamakah aku terdiam?
"Hey, apakah kamu baik-baik saja?" suara Peter ku dengar samar-samar. Ternyata aku berdiam beberapa menit karena efek ciuman yang diberikan oleh Peter. Ini adalah hal baru bagiku.
"Iya, apa?"
"Kau sedang melamun, Ariel! Kamu sangat cantik dengan muka terkejut seperti itu."
Mungkin aku sudah gila. Pikiranku semakin kacau dan perasaanku untuk Pangeran Erik semakin memudar setelah kejadian itu. Itu adalah ciuman pertamaku!

Aku bertanya pada hatiku apa yang aku lakukan di daratan ini? Apa tujuanku ke sini? Dan aku telah menghianati tujuan utamaku. Mungkin ini karena keegoisanku? Atau ketidaksabaranku untuk segera mengetahui seperti apa itu cinta yang sering aku dengar ketika aku menguping di bawah laut kepada manusia? Aku tidak tau.

"Suatu hari ada seekor Zebra terbang ke bulan." Peter berujar.
"Zebra itu apa?" kataku.
Peter menerangkan apa itu zebra, tetapi aku tidak yakin bahwa zebra bisa terbang ke bulan karena zebra tidak punya sayap.
Perhatian peter membuatku nyaman. Dia mengajariku banyak hal. Tentang cinta, tentang kehidupan, tentang kematian, semuanya di mata manusia.
Ini sangat menyenangkan dan aku paham bahwa dia jatuh cinta kepadaku. Dan sepertinya aku mulai menyukainya.

June 2012
M T W T F S S
May 2012July 2012
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30