Princess Ariel and Prince Cockroach 3
Tuesday, May 15, 2012 12:37:59 AM
Peter telah menungguku di depan pintu penginapan. Sudah berapa lamakah aku berpacaran sama dia? Sepuluh hari, tetapi ini terasa sudah seumur hidup aku bersamanya. Keromantisannya selalu membuatku mabuk kepayang. Tetapi sayang ada beberapa orang di tempat ini yang menyayangkan hubungan kami. Mereka bilang kami tidak cocok duduk bersama.
"Udah nunggu lama ya?"
"Tidak, baru saja datang. Dari mana saja?"
"Melamun di pinggir pantai" jawabku sambil ketawa.
"Aku punya sesuatu buatmu, tapi kamu harus menutup mata."
Ku terima hadiah dari dia dan aku terkejut.
"Apa ini?"
"Ha? Ini boneka untuk menemanimu tidur."
"Oh, terimakasih. Ini sangat lucu."
"Iya seperti kamu, lucu."
"Ha! Dan apakah itu?"
Peter membawa gitar. Gitar adalah sebuah alat musik. Suaranya sangat indah. Aku semakin terkesima melihat Peter begitu lincah memainkannya.
Dia benar-benar bisa membuatku lupa akan Pangeran Erik.
Esoknya aku berjalan di pinggir pantai dan melihat Flounder temanku.
"Apakah kamu sudah bertemu dengan Pangeran Erick?" aku bingung mau menjawabnya. Namun akhirnya aku jelaskan apa yang terjadi padaku.
"Ariel, kamu harus fokus pada tujuan utamamu." lalu dia pergi meninggalkanku ke dasar laut.
Kenapa Pangeran Erick sulit sekali dicari? Aku mulai meragukannya. Mungkinkan Peter itu Pangeran Erick? Andai saja tapi aku ingat betul wajahnya.
Di sampingku para nelayan pulang dari mencari ikan. Aku merasa sakit melihat ikan yang mereka bawa. Itu adalah sebangsaku. Salah seorang berkata tentang Pangeran yang sedang sakit tangannya karena terjatuh dari kuda, tapi tidak dijelaskan siapa namanya.
"Nona, pacarmu di mana?" seorang tante penjual makanan di pinggir pantai menyapaku.
"Di tempat penginapannya."
"Coba kamu lihat lagi. Kamu terlalu cantik untuk lelaki sepertinya. Aku akan sedih jika kamu mendapatkan lelaki yang salah."
"Oh, ibu terimakasih telah mengingatkan saya. Kami baik-baik saja, kok."
Kenapa banyak orang tidak suka aku dan Peter bersama? Bukankan cinta yang tulus tidak memandang rupa? Namun lagi aku teringat Flounder untuk fokus pada tujuanku.
Sudah hampir 100 hari Peter dan aku pacaran dan selama itu pula banyak orang di negeri ini menyayangkan hubungan kami. Aku mulai ragu dan mencoba mencari tau apakah Peter benar-benar tidak baik. Apakah mungkin dia hanya memanfaatkan keluguanku saja? Pertanyaan bertubi-tubi hinggap di kepalaku. Bagiku dia sangat romantis. Katanya pipiku yang tembem ini membuatku kelihatan lucu. Aku pernah bilang bahwa aku berasal dari suatu negeri yang jauh melewati samudera, katanya dia akan berenang melewati samudera itu hanya untuk bersamaku. Banyak sekali janji-janji manis yang dia ucapkan. Dan aku percaya begitu saja.
Kali ini aku benar-benar bingung. Hatiku meragu. Di manakah Pangeran Erick berada? Aku sudah menelusuri satu-satunya negeri kecil di pinggir pantai ini tetapi tak ku temukan batang hidungnya. Aku ingin mengunjungi ayahku tetapi aku tak berani karena aku belum berhasil menemukan orang yang ku cari dan malah aku menjalin kasih dengan orang lain. Aku bimbang.
Sore itu ku putuskan untuk mencari Peter. Biasanya dia berada di restoran termewah di negeri kecil ini tapi kali ini tak ku temukan dia. Aku beranjak menuju penginapannya yang tidak jauh dari penginapanku.
Gelap menyapaku dengan lembut. Ku lihat bintang di langit mulai bermunculan. Indah.
Peter pasti di rumah karena ku lihat lampu kamarnya nyala. Tetapi saat aku berusaha membuka pintu aku melihat ada sepatu wanita. Pelan ku coba mendekati pintu yang tidak terkunci. Ku mengintip sedikit dan ku lihat pemandangan yang tak pernah ku lihat. Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu saat Peter berusaha melepas bajuku dan aku menolaknya. Aku mulai paham apa itu cinta, apa itu nafsu. Aku beranjak pergi meninggalkan penginapan Peter dan menuju ke tepi pantai.














