Tuesday, January 12, 2010 3:36:30 AM
Aku hanya merepih ujung
merandai segala nyata
entah putih
entah pula hitam
hingga ranting-ranting dedaunan
yang dihinggapi merpati mulai mematah
seketika itu ada..
aku akan mengait
riuh rendah kebahagiaan
dengan patahan-patahan itu
meski warna-warni bunga bermekaran ditanganku
atau hijau padi yang mulai menguning di sekitar rimbaku.
ini tiada dalam prespektif mu?,itulah ragammu..
bahkan mungkin juga "bid'ah dalam percaturan ritual mereka?
itu pula pendapat mereka..
aku hanya ingin menakar mekaran-mekaran itu
aku ingin hijau subur padi itu
beriring merdu
menjalin pilin dengan burung-burung sorga
penuh damai....berbagi.
Monday, January 11, 2010 7:19:10 AM
Oleh: Luqman Hakim*
Sedemikian berderetan kasus/permasalahan bangsa yang hingga sekarang tak kunjung dapat” sembuh “ baik secara parsial ,apalagi total mulai dari yang gencar diberitakan di media-media massa di antaranya adalah ricuh soal Prita Mulyasari,Anggodo,dkk, skandal bank century hingga belakangan kontrofersi buku George Jusuf Aditjondro “Membedah gurita Cikeas”(MBC).Barang kali ini semua merupakan dinamika reaksi politis atau bahkan telah menjadi beban sosial nasional di mana masyarakat dari hari ke hari selalu menjadi korban dan konsumen berita-berita yang beresifat dekadensial yakni moral birokrasi itu sendiri sekaligus dekadensi implementasi demokrasi. Padahal demokrasi adalah ruang warganegara untuk menegosiasikan keadilan dan kekuasaan . Dalam ruang itu, setiap klaim ideologis yang hendak memutlakkan suatu pandangan hidup akan menutup percakapan politik warganegara. Padahal , demokrasi justru hidup dengan cara mengolah perbedaan pikiran warganegara bukannya malah “dibungkam”. Karena dengan demikianlah seharusnya oposisi dapat berjalan sehat untuk membangun sebuah kritik terhadap birokrasi secara umum dalam mencapai sebuah sintesis yang berisi kebijakan setrategis yang seharusnya dapat menjadi bahan rujukan,evaluasi atau paling tidak dipertimbangkan oleh pihak birokrat.
Realitas yang sekarang tak dapat dibantah adalah korupsi yang masih berlanjut, politik feodal yang nampaknya makin meluas, toleransi sosial yang belum melembaga, etika birokrat maupun publik yang cenderung terus melemah , merupakan beban sosial nasional yang menahan laju perubahan politik. Keinginan untuk melembagakan perubahan politik melalui sistem pemilu misalnya, terhalang oleh kultur politik yang masih feodal .Itulah sebabnya sirkulasi elit tidak terjadi berdasarkan kemampuan personal , melainkan sekedar mengikuti selera komunal dan otoritas feodal elit partai. Pada tingkat parlemen , soal ini berpotensi menghasilkan anggota-anggota DPR yang kurang bahkan tidak berinduk pada rakyat, tetapi sekedar menjadi “agen” kekuasaan oligarki partai. Dalam format kultur politik semacam ini, demokrasi sekedar menjadi instalasi politik modern yang dialiri politik komunal.
Pikiran politik komunal mendasarkan konsep kekuasaan pada nilai-nilai fundamental komunitas (agama,tradisi) dan dengan itu ia mendefinisikan politik warga Negara. Dalam konstruksi ide semacam itu, warganegara tidak dipahami sebagai pembawa hak-hak legal. Nilai-nilai komunal justru menghasilkan brikade kultural karena menganggap identitas komunal adalah final.Karena itu transaksi politik liberal tidak diperlukan, karena dianggap membahayakan identitas komunal. Dalam politik publik, pandangan ini akan dipraktekkan sebagai politik intoleran karena ia akan selalu menghindari negosiasi sosial, atas alasan “kesakralan komunitas”. Pandangan ideologis semacam ini tentu saja berbahaya bagi kemajemukan politik demokratis karena ia menghalangi pertumbuhan kebebasan individu .
Reformasi yang diperjuangkan satu dekade ini kelihatannya masih belum berhasil mentrasformasikan etika politik komunal itu. Bahkan anehnya kita justru menguatkannya melalui sistem kepartaian . Sangatlah janggal bila nilai-nilai komunal dijadikan dasar penyelenggaraan demokrasi, karena tidak mungkin nilai-nilai komunal dijadikan dasar penyelenggaraan demokrasi, karena tidak mungkin nilai-nilai itu diuji dan dipertandingkan secara publik. Akibatnya, eksklusifisme ideologi-ideologi komunal mempertebal lagi sekat-sekat sosial masyarakat. Padahal politik modern justru diselenggarakan untuk membuka sekat-sekat itu agar warganegara dapat menyelenggarakan percakapan politik majemuk. Menerima kemajemukan berarti menerima perubahan pandangan hidup melalui argumentasi rasional.Politik mempersiapkan warga Negara untuk masuk dalam kemajemukan pandangan hidup . karena itu partai politik tidak boleh meng-eksklusifkan diri berdasarkan suatu ideologi yang “tertutup” dan “tak-tersalahkan”. Meminjam kalimat Rocky Gerung (dosen Filsafat FIB UI) bahwa Politik adalah “ kesementaraan” kebenaran. Karena itu ia dievaluasi setiap lima tahun. Jadi, politik yang menyelenggarakan “Kebenaran final” (melalui ajaran agama, tradisi, doktrin absolut) adalah bertentangan dengan sifat ruang publik yang bebas dan sekuler. Ruang demokrasi harus terbuka untuk dihuni oleh baerbagai pikiran.
Memang nampaknya diperlukan menegaskan kembali konsep kewarganegaraan (citizenship).Menjadi warganegara berarti hanya terikat dengan hukum publik. Hukum privat dan aturan moral komunitas semestinya tidak layak dijadikan prasyarat pengatur kehidupan publik. Karena itu setiap aturan kebijakan publik harus diorientasikan untuk menjamin keragaman warganegara. Dengan alasan apapun .demikian juga perlu bersama-sama disadari bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang mutlak multikultural ini merupakan anugrah Illahi yang perlu disyukuri dengan pengejawantahan melalui pembenahan-pembenahan dalam berbagai hal diantaranya adalah Pembenahan dalam Implementasi Politik,Demokrasi dan Moral baik di sektor birokrasi maupun publik/masyarakat secara umum. Marilah sejenak kita bersama renungi bahwa rasa cinta kita terhadap bangsa sebetulnya merupakan salah satu peng-ejawantahan kita terhadap wujud keimanan kita sendiri (khubb al-wathon min al-iman),tentu kita mendambakan negeri yang aman, damai dan barokah.Nilai-nilai keimanan dan ketakwaan seperti kejujuran, keadilan, menjaga amanat, keikhlasan dan kecintaan terhadap tanah air adalah suatu keniscayaan sebagai landasan moral dalam mengelola negeri ini. Jangan berharap bangsa Indonesia ini akan makmur dan barokah kalau nilai-nilai moral itu tidak dilaksanakan .Usaha mewujudkan kehidupan yang baik dan negeri yang aman tersebut adalah bukti ketakwaan kepada Tuhan YME sekaligus merupakan suatu jihad (semoga jihad tidak disalah tafsirkan hanya dengan pedang dan darah). Agar senantiasa seimbang antara “kesalehan ritual”(Hablu minallah) dan “kesalehan social”(Hablu minannas) maka Ketaatan menjalankan ketentuan agama, haruslah disertai dengan upaya menjaga negeri dan bangsa ini dari tangan-tangan jahil, yang senantiasa berbuat keonaran dan teror yang berupaya memecah belah bangsa ini,. Demikian pentingnya menjaga kemuliaan suatu bangsa, sehingga para ulama menyatakan bahwa "mencintai suatu bangsadan negara adalah bagian dari iman". kemudian rasa cinta itu seharusnya dapat menghantarkan kita kepada hal -hal yang dapat bermanfaat bagi kemajuan dan keutuhan bangsa kita tercinta bukan malah sebaliknya.
Friday, October 16, 2009 7:05:27 PM
Malam kelam
Kumelihat marak sayu menjelma
Tongkat sang tua yang papa
Mengaduk kali coklat yang keruh
Di sudut sana lampu-lampu kota ricuh bertengkar dengan malam
sang gila termangu memeluk kaki pertiwi
Berani ,tegar menerjang kesunyian dalam bising
Menjuntai harapan yang kosong
Tarian putra-putri jalanan berkubang debu
merayu merajuk sang penguasa yang raya
terkulai acuh melahap jutaan janji
menggenggam erat mimpi-mimpi lama
dengan idealisme mencipta dunia sendiri
sungguh…paradoksal ini
berceceran disana – sini
menyepuh metropolitan entah megapolitan dengan nuansa warna-warni
yang hingga kini bersembunyi atau disembunyikan?
Menyembah di bawah ketiak peradaban
Masa bodoh dan kencing seenaknya diatas duka lingkungan
ada yang terbahak menginjak tangis
sambil menamai diri "kaum aristokrat atau akademisi"
berlaga menyuarakan teori-teori kebenaran
kini berak di atas gemerlap singgasana
menyulap polusi dengan parfum-parfum mahal mereka
ada pula yang iri berdarah-darah mengulum ludah
memendam takdir
merangkak bernyanyi lirih
menidurkan berjuta keinginan
sambil melalaikan rasa lapar yang tak tertahankan
di bawah jembatan itu,
masih kulihat lagi,, wahai manusia-manusia yang kekar
kampung melayu,09
Friday, October 9, 2009 7:21:42 AM
Tubuhku...
muak menatapku kembali
lari mengejar batas bumi
bagai si Pandir yang dikejar topan ganas
atau ombak parangtritis yang bergulung beringas
menggenggam petir
menusuk bumi,merobek langit
bermuka tawas berhias gobang dan keris
menatap liar melempar maut
berbau tembaga dan logam
o...tubuhku
andai kau sedikit mengerti aku
aku tak tahu kemana melepas perih
bersandar membuang letih
aku ringkih terbengkalai
seperti ilalang nan gersang di matamu
atau bulu-bulu halus yang selalu lusuh di hidungku
O...tubuhku...
aku masuh ingat tempo hari kau bilang:
"aku tak lagi bernafsu!
muak dan malu!bersetubuh denganmu!"
samudra peluh menggenang di matamu
yang sembab dan memerah
lalu kuusap dan kuambil selembar tisu untukmu
kemudian kucumbu dengan penuh haru
ah...tak mungkin kau lupa..
demi pori-pori alam yang masih segar tak berdebu
demi kokok ayam yang tiada bosan berulang berdendang
demi matahari yang samar-samar tertawa padaku
kubersaksi!..
tiada malam yang hawatir dengan fajar
atau senja yang skeptis dengan petang
bahkan matahari tak akan iri dengan bulan
kubersaksi!...
O...tubuhku..
aku..
di atas kertas hitam putih
menulis prosa merangkai klausa
memutar warna-warni bejana
menjadi putih saja
O...tubuhku..
dengan ini kutulis permohonan:
jangan kau lari meskipun muak
jangan kau meludah meskipun pahit
jangan kau jatuh meskipun terjal
dari jiwa yang layu berkarat
yang kau kira telah mati
ya...mati sebagai jiwa
tenggelam dalam kubangan candradimuka
yang terus kutelan
dan sulit kumuntahkan!
Depok '09,ketika matahari enggen menungguku"
Monday, October 5, 2009 5:51:18 PM
bening embun menetes memainkan lentik dedaunan
jernih..penuh kagum menyegarkan mata
entah mahoni atau beringin apapun itu
rindang penuh pesona memayungiku
ramah...melahirkan aroma esensi-esensi dewi kesuburan
teduh...menampar panas memecah cadas
disekelilingku,berjuta mawar merekah merah merona, tersenyum
mendeskripsikan nama-namaMu yang memang mempesona, sahaja
seruling manja mendayu mengelus telinga
berkontemplasi bersama udara melantunkan qasidah-qasidah langit
sejenak mengingatkanku tentang nilai-nilai estetika dunia
ya..memang aku sadar bukan ini dunia,
tentu saja jauh berbeda
jauh dari awan-awan suram atap rimbaku
senyum lugas penghuni aras di atas senja, menyapa
membuat tenang akan keberadaanku
sumringah berkaca air mata
kalimat dunia apapun itu kupunya
jelas tak mampu bermain merangkai kata
hanya puisi kucoba lukiskan
tentang kesturi mesopotamia ataupu tentang buah kuldi
mengintip sidratul muntaha ataupun jannatu na'im
yang tak akan terlukiskan dengan cat-cat ataupun konte orang pribumi
merpati putih simbol perdamaian
sejenak denganku bercengkrama, berdialektika
apapun saja tentang Cinta
sembari menyindirku kesana-kemari, tentang mawar juga casablanka prespektif dunia
ah...aku termangu saja lah, sambil senyum kecut menanggapinya
biarlah ia bicara, mencengkram surya menerjang lentera
wahai..... penguasa malam
dengan secawan anggurMu tercipta tawas,menusuk mendung menyingkap tirai
bebas....menimang kalbu menghempas debu
terbang dengan aroma Cinta yang luar biasa
tolong..biarlah kupinta satu, atau beberapa cawan lagi
agar dapat merenda cinta dengan hangat rahmatMu
bersama memaknai makna dan hikmah
di sini,membakar jiwaku kembali..
depok.09'
Monday, September 14, 2009 2:50:43 PM
"DIA ITU ADA
DIA ADA SEBELUM KATA ADA
ITU ADA
DIA ADA
WALAUPUN KATA "ADA" ITU TIADA
KARENA HAKIKAT NYA TIDAK ADA ITU "ADA"
ATAU
TIDAK ADA YANG TIDAK ADA
................
Monday, September 14, 2009 2:49:33 PM
Siapa suruh menetes ia...?
cukupkah membasahi yang diharap sedianya...?
naluri, batin,jiwa dan bla..bla...bla
hakiki plus substansi katanya..
kunjung mengotori mulut dusta hingga berbusa..
seakan perangai benar penentunya dia..
hapus saja tiada guna!
atau barangkali bakar tesis-tesis manjamu..!
kalau memang semua itu tak berlaku bagimu
jangan sebut lagi "Nurul Musthafa"...disampingku dengan mulutmu
siapa tak sendu,haru ingin bersamanya menahan rindu..
cukup sudah biarkanlah aku wahai jiwa-jiwa yang kaku..
hanya tak seorangpun bahkan fatwa MUI
mampu membendung menyumbat peluh mataku..
dalam kalbu keras terucap "Allahumma sholli ala syayyidina Muhammad....!"
Depok,
Monday, September 14, 2009 2:48:53 PM
Lantang berkoar terlontar....
diam saja kau...hingar!
malang melintang berbangga sahaja...
bak pengarung belantara samoedra..
aku bersaksi tiada semua ini
diri memaksa menerjang mengulang
menyodor imaji kosong tiada isi
menelan racun dalam ruangan kedap udara
hanya, aku takut membunuh diri
mati terkapar tiada arti dan jejak histori
dalam ruangan-ruangan apatis kesombongan sendiri...
kulihat sadow serupa diri di ujung sana ...
lamunan hancurkan kesadaran hilangkan makna "kasat" yang ada semestinya..
luapan imaji ter-abstraksi bak realiti
rahasia diri menghantui sendiri
guratan sinar silau mencolok mata
membongkar sisi gelap sekitarnya
Aku ...masih menggigil di sini
di ujung belantara gelap duniawi
murka!amarah!ingin rasa meludah...!
seakan malu dengan pesona materi
kini terkapar dalam diam
memandang bintang pujaan yang sombong...kecut menertawakanku..
Depok,
Monday, September 14, 2009 2:48:08 PM
Berjibun ragam kalimat ada disana
menghias alam imaji tak terbatas
tak sembarangan tuk diucap apalagi dikecap
pun juga karena sulit tuk ditulis dan merangkainya
hiasan-hiasan kaca menggambarkan prestis individual
kebanggaan mulai hadir tanpa mesti dianulir..
hak pribadi pun bukan semua yang rugi
betulkah..?seperti itukah?
kalimat abstrak mencoba mendekati kalam falsafi
tak kunjung dapat ujungnya
hanyalah uap tak kasat diterimanya..
Depok,
Monday, September 14, 2009 2:46:40 PM
"Saya adalah seorang yang meyakini kebenaran agama saya sekaligus pecinta beratnya. Tetapi ini
tidak menghalangi saya untuk merasa bersaudara dengan orang yang
beragama lain di negeri ini, bahkan dengan sesama umat manusia. Sejak
kecil itu saya rasakan, walaupun saya tinggal di lingkungan yang tidak jauh dari hiruk-pikuk pondok
pesantren, hidup di kalangan keluarga Islam yang kuat. Tetapi tidak pernah
sedetik pun saya merasa berbeda dengan yang lain." kita semua adalah ciptaan-Nya yakni manusia yang pada hakikatnya ditempatkan(dilahirkan) dilungkungan-lingkungan dan atmosfer yang berbeda-beda semua itu kehendak dan rencananya karena tentu sebelumnya kita tidak akan bisa request(pesen) sebelumnya untuk dilahirkan dilingkungan tertentu yang kita inginkan namun sebalikknya kita semestinya bersyukur telah diciptakan sebagai manusia yang diberi kesempatan untuk ikut berperan dalam panggung dunia ini dengan karakter dan peran masing-masing ,setidaknya semua itu tak akan menjadi sebuah sekat-sekat pemisah bagi kita semua.Oleh karena itu,saya sebagai pemeluk agama Islam yang Rahmatan li al-alamin ( Agama pembawa kasih sayang bagi seluruh alam), maka selain menjaga hablu mina Allah saya jg harus menjaga hablu mina al-nasuntuk saling hormat menghormati sesama.
Hari ini merupakan hari besar bagi saudara-saudara saya yang beragama nasrani untuk itu saya ucapkan SELAMAT NATAL buat kalian pemeluk agama nasrani*.smoga negara kita dapat terhindar dari segala bencana, segala macam pertentangan antar bangsa,ras,dan golongan.kita semua ini bersaudara oleh karena itu setidaknya hindarkan jauh-jauh rasa saling curiga dan permusuhan-permusuhan(sudah bukan zamannya biarkanlah semua itu menjadi sejarah kelam di masa lalu).bagi saya sendiri Islam adalah agama moral yang dibawa oleh yang mulia baginda Muhammad SAW,yang didasarkan pada wawasan yang terbuka, inklusif, bukan kecurigaan dan kebencian pada agama dan golongan lain. Hanya dengan memperkokoh wawasan semacam itulah, Ia menjadi agama yang membawa rahmat bagi semua kelompok bahkan semesta alam. Kecurigaan hanya akan menimbulkan kecurigaan serupa pada kelompok lain pula, dan akan terus berkelanjutan tanpa ada habis-habisnya seperti kasus-kasus di Ambon dan Poso,tentu kita tidak ingin hal-hal demikian terulang kembali,karena kita sudah bosan dan lelah dengan semua itu ditambah lagi dengan krisis ekonomi serta ulah aparatur-aparatur bangsa yang kelihatannya beragama namun dzalim dan penyakit-penyakit lainnya...untuk itu setidaknya sebagai generasi bangsa marilah kita perbaiki (dandani) NKRI kita ini,buanglah jauh-jauh hal-hal yang bersifat pragmatis,egoistis dan apatis.Biarkanlah kita berjalan dalam rel(dalam hal-amalan ritual) yang berbeda-beda namun marilah dalam hidup ini kita saling berkesinambungan (dalam hal-[/COLOR]amalan sosial )satu sama lain karena inilah "dinamika kehidupan" yang sudah di-design sedemikian rupa oleh sang maha Agung.Dengan berbeda hidup kita tidak akan statis,monoton,pasif dan berwarna, karena dengan perbedaan-perbedaan itu sebaliknya kita dapat saling mengenal(ta'aruf)satu sama lain, bukannya saling meng-klaim "kamu yang salah! dan aku yang benar!",karena bagaimanapun pada dasarnya kita diciptakan berbeda-beda dan untuk membuat seluruh manusia menjadi satu ragam kelihatannya hal itu terlalu utopis dan melampaui kehendak sekaligus wewenang-Nya,lalu siapa yang salah?tidak ada yang salah yang kurang tepat adalah yang tidak dapat menerima pluralitas itu sendiri sebagai realitas dan kodrat illahi. karena pada hakikatnya seandainya saja Tuhan ingin membuat satu macam umat saja di dunia ini,maka sejak dahulu tidak akan sulit bagi-Nya untuk membuatnya demikian,seperti halnya tercermin dalam surat Yunus ayat 99.Demikian curahan yang dapat saya curahkan dan salam yang sampaikan.Hanya Allah yang mengetahui segala hal yang benar.. Wahai Yang Maha Benar, tunjukilah kami jalan kebenaran dan kedamaian, bukan jalan kecurigaan dan kebencian.
Al haqqu min rabbika fa la takunanna min al mumtarin. In uridu illal ishlaha wa ma taufiqi illa billah. Wallahu a’lam bish shawab..... hidup ini indah sahabat......
1 2 Next »