My Opera is closing 3rd of March

Freedom Area

Amnesia Yang Menyusahkan

Amnesia Yang Meyusahkan
Oleh : Deisy Madelberta Kasihiuw

Bosan, mungkin itu yang sedang dirasakan Siska. Seorang remaja yang baru duduk di bangku SMA. Siska yang dikenal cukup pandai ini ternyata memiliki sifat pelupa yang lumayan parah. Pernah di hukum oleh guru karena tidak mengerjakan tugas. Sebenarnya Siska bukannya tidak mau atau sengaja melupakan tugas-tugas dari gurunya tapi dia benar-benar lupa. Sifatnya ini yang membuat teman-temannya sering merasa jengkel. Melihat sifat pelupa anaknya, sang ibu menyarankan supaya Siska membuat sebuah ‘Kalender Kegiatan’. Di kalender itu Siska menulis semua kegiatan yang harus dilakukannya selama sebulan juga semua tugas-tugas dari guru tidak lupa tanggal ulang tahun teman serta keluarganya. Bisa dibilang hampir setiap hal ditulisnya di Kalender itu, karena hampir setiap hal dilupakannya. Dan ternyata kalender itu cukup membantu.
Tapi sudah hampir dua minggu Kalender itu tidak diisinya, bahkan untuk dilihat saja sudah tidak sempat. Merasa tidak ada tugas dan juga bosan tentunya, Siska yang sedang membaca sebuah novel di kamarnya memutuskan untuk chatting lewat computer yang sudah tersambung dengan internet yang kebetulan ditaruh di kamarnya.
“Hi Ndri! Gi ngapain?” Sebuah kalimat standar dalam sebuah percakapan yang dipilih Siska sebagai pembuka percakapan dengan teman baiknya Indri.
“Gi dengerin music, lu ndiri?” balas Indri hanya dalam waktu tiga puluh detik.
“Wuih…..cepat amat balasnya. Tangan apa robot tuh? Gue lagi browsing nih habis bosan banget ga ada kerjaan” Balas Siska kemudian.
“Oooow……berarti tugas mengarang dah selesai lu kerjain ya?” Tanya Indri.
“Itu sih belum…..Lagian kan batas akhir pengumpulan tugasnya masih dua hari lagi. Sekarang lagi ga ada inspirasi buat nulis.” Balas Siska.
“Dua hari apanya Sis? Besok kan harus dikumpul tugasnya…….Ya ampun kumat lagi deh tu penyakit .“ Balas Indri.
Membaca balasan dari Indri membuat Siska langsung tersadar akan tugas yang sudah hampir dua minggu ini diberikan.
“Mati deh gue…..baru ingat kalau tugasnya harus dikumpul besok. Gimana nih mau ngerjainnya? Sekarang sudah jam sepuluh lewat, kalau mau dikerjakan sekarang bisa-bisa gak tidur deh semalaman.” Kata Siska sambil menepuk jidatnya sendiri.
“Sialan……baru nyadar gue kalau tugasnya harus dikumpulkan besok. Ya udah deh kalau gitu sekarang gue mau ngerjain tugasnya. Thanks ya Ndri dah mau ngingetin gue tentang tugasnya. See u.” Balas Siska kemudian langsung menutup jendela chattingnya tanpa menunggu balasan dari Indri.
Sekarang Siska hanya mondar-mandir di kamarnya sambil memikirkan judul yang bagus untuk karangannya. Komputer yang masih menyala sengaja dia biarkan agar sewaktu mendapat ide bisa langsung diketik tanpa harus dilupakannya terlebih dahulu. Dalam hati dia mengutuk penyakit pelupanya yang selama ini sering menyusahkan dirinya. Tanpa dia sadari waktu terus berputar tanpa sedikitpun berhenti untuk membantunya. Suara angin, cahaya bulan yang kian terang perlahan membawanya kepada suasana yang hening. Suasana yang sangat diinginkannya. Tapi saat ini suasana hening yang selalu didambakannya tidak sedikitpun memberi kan inspirasi untuk judul tugasnya.
“Tini gadis kecil si peminta-minta. Tidak…….bukan itu….judul itu pernah ku gunakan untuk tugas mengarang yang lalu.” Ucapnya.
“Andai saja Kalender itu selalu ku isi pasti tidak akan seperti ini.” Gumamnya penuh sesal.
Siska berbalik arah untuk sekedar melayangkan pandangan ke arah sebuah jam berwarna coklat berbentuk sepeda ontel yang diletakkan di atas meja berwarna putih yang berada tepat di sebelah tempat tidurnya. Siska terkejut ketika melihat jam tersebut. Sudah jam sebelas sekarang. Karena tidak percaya dengan jam tersebut Siska pun menuju ke ruang keluarga dimana terdapat sebuah jam dinding berukuran besar. Ketika melihat jam di ruang keluarga itu Siska terpaku, karena jam itu menunjukkan angka yang sama dengan jam di kamarnya. Otaknya mulai dipacu untuk semakin cepat berpikir sebelum waktu bertambah larut, keringat mulai bercucuran dari keningnya walau di kamarnya dipasang sebuah AC. Dalam keadaan terjepit akhirnya otak Siska mulai mendapat ide-ide segar untuk tugasnya. Komputer yang sejak tadi dibiarkan nganggur mulai disentuhnya. Perlahan tapi pasti sejumlah kata mulai muncul di layar komputernya. Awalnya kata-kata itu membentuk sebuah kalimat lalu menjadi sebuah paragraf. Dengan tekun dan penuh semangat Siska terus memainkan jari-jarinya di atas keyboard.
“Fiuhhh…….akhirnya selesai juga ni tugas.” Ucap Siska sambil menyeka keringat dari keningnya.
Terlihat sebuah senyum penuh kemenangan di wajah Siska. Tapi senyum itu tidak bertahan lama di wajahnya ketika tugas tersebut hendak dicetaknya ke dalam kertas agar dapat dikumpul keesokan harinya. Saat itulah Siska baru menyadari bahwa printer yang selama ini dia gunakan sedang dibawa oleh kakaknya. Rasa-rasanya Siska ingin menangis dan teriak sekuat-sekuatnya namun itu tidak mungkin karena pasti seisi rumah akan bangun. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua dinihari membuatnya semakin gila. Mau menelpon kakaknya untuk membawa kembali printernya adalah sebuah ide konyol, karena kakaknya saat ini berada di luar kota. Mau numpang print di temannya lebih tidak mungkin lagi, bisa-bisa dia diusir karena mengganggu jam istirahat malam.
Senyum yang tadi terpampang di wajahnya kini telah lenyap seiring dengan semangatnya yang kian pudar. Berbaring di tempat tidurnya sambil menatap hiasan yang tergantung di langit-langit kamar tampaknya tidak dapat menghapuskan kesedihannya atau untuk sekedar membangkitkan semangatnya yang kian merosot. Namun tiba-tiba dahinya berkerut disertai sebuah senyuman kecil persis seperti seorang detektif yang berhasil memecahkan sebuah kasus. Siska baru tersadar kalau ada sebuah printer yang disimpan dekat lemarinya. Printer itu tidak pernah disentuhnya lagi sejak dia dibelikan sebuah printer baru oleh sang ayah sebagai hadiah ulang tahunnya. Dengan semangat dia mulai memasang printer tersebut dan…………..dengan mata yang berbinar-binar seperti baru melihat sebuah keajaiban Siska pun mulai mencetak tugas-tugasnya tersebut.
“Kali ini tugasnya benar-benar selesai. Aman deh gue. Coba kalau kemarin gue ingat tugasnya pasti sekarang nggak perlu repot-repot kayak gini……sekarang waktunya mengistirahatkan mata dan pikiran walau hanya beberapa jam.”
Sebuah senyum indah kembali terpampang di wajahnya dan kali ini senyum itu tidak hilang malah senyum itu mengantarnya ke dalam mimpi yang indah(pasti itu yang diharapkan Siska setelah malam yang berat).

Harapan Dan Kekecewaan

Write a comment

New comments have been disabled for this post.

February 2014
S M T W T F S
January 2014March 2014
1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28