My Opera is closing 3rd of March

Subscribe to RSS feed

Pak kades, sang bisu dan buta huruf

Dalam rangka pemberantasan buta aksara.
Di kumpulkanya masyarakat di balai kelurahan dan pak kades tidak mau ketinggalan.
Sebenarnya bukan mau ngumpul dgn masyarakat,
Tapi takut warganya tidak bisa menjawab.

Singkat kata terjadilah inter aktif di antara penilik dari depdikbud dan masyarakat.

Di papan tulis sang penilik mulai mengambar buletan kecil di sisi atas ada gambar permata.

Diam-2 pak kades pindah tempat, tumben2-nya mau duduk di belakang warganya.

Penilik : bapak-2 ibu-2 yang di papan tulis itu gambar apa?

Warga :

Tuna aksara : ciinciin...

Tuna wicara : (dgn memakai peraga'an) jari di bentuk bulat, jari yang lain di masukan.

Penilik : (dgn sedikit senyuman sembari menyatakan) betuul...

Gambar ke dua bulatan agak tebal di sisi atas ada bulat sebesar uang logam di titik pusat ada 3 garis kecil.
Penilik : yang ini gambar apa?

Tuna aksara : Jam tangan

Tuna wicara : (berlaga lagi, sebenarnya agak binun) Di angkatnya lengan, dan jari-jari di lingkar-kan-nya tepat unjung lenganya.

Di gambar ketiga, sebuah jam dinding klasik yang ada gantungan ning nong (gw sndr binun,
Apa namanya)

Penilik : yang ini gambar apa?

(Pak kades agak kebingungan mau memberi kode semacam apa lagi, setelah pertanya'an 1 dan 2 sukses bisa menyalurkan kode akses jawaban ke warganya)

Tuna wicara : ???

Tuna aksara : alat vital kudaaa...

Serentaklah mereka tertawa...
lol lol lol lol lol lol


Ternyata repot juga mendapingi masyarakat yang buta aksara.


Thanx for all...