GAUL MELANDA GENERASI MUDA: POTRET SEBUAH ALIENASI BUDAYA?
Tuesday, January 8, 2008 10:32:52 AM
I. Sekilas Pengantar
Sebuah gejala yang tengah mewabah dalam situs kultural masyarakat dewasa ini adalah fenomena kelahiran trend-trend baru. Masyarakat terobsesi untuk menghadirkan tren-tren revolusioner dalam menanggapi gejolak perubahan jaman. Fenomena ini hakikatnya merupakan implementasi dari dinamika kebudayaan. Dimana kebudayaaan bersifat terbuka untuk mengalami perubahan.
Konsep diatas rupanya relevan dengan ikhwal kemunculan tren gaul dalam kantong terminus generasi muda. Realitasnya kaum muda abad ini tergiur untuk membangun pola persahabatan dalam nuansa yang populer dinamakan gaul. Tren gaul merujuk pada gaya hidup up to date yang menjadi ciri generasi muda kini. Di sini tampak jelas bahwa gaul bukanlah sekedar term picisan belaka. Gaul menampilkan potret pembudidayaan nilai-nilai baru dalam diri individu. Dengan demikian gaul dapat dipandang sebagai sebuah bentuk kebudayaan baru.
Prospek gaul sebagai bentuk kebudayaan baru merupakan sebuah wacana menarik untuk mengkaji fenomena perjumpaannya dengan kebudayaan yang telah ada. Profil kebudayaan baru disini mengandaikan adanya suatu bentuk kebudayaan terdahulu; yang telah ada sebelumnya. Kebudayaan tersebut berupa tradisi-tradisi, adat istiadat, norma-norma dan tatanan hidup lainnya yang dikenal sebagai bentuk artistik ekspresi masyarakat. Jika demikian maka perjumpaan ‘gaul’ dengan tradisi-tradisi memiliki kekuatan yang dapat saling mempengaruhi. Keduanya bisa saling menjebak, mendepak bahkan menggusur satu sama lain. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji momentum perjumpaan tersebut. Gaul versus tradisi budaya, adakah terjadi “perebutan kekuasaan” dalam diri generasi muda?
II. Mengendus Kiprah Gaul Generasi Muda
2.1 Memahami Fenomena Gaul Generasi Muda
Secara leksikal gaul diartikan sebagai suatu sistem berteman. Gaul merupakan sebuah cara menjalin relasi akrab antar-individu. Dari pengertian ini gaul jelas tidak bermasalah. Justru gaul merupakan indikator manusia sebagai ens sociale; makhluk sosial yang secara kodrati membutuhkan orang lain. Term gaul menandaskan hakikat individu yang harus berelasi dengan sesamanya. Ia mendobrak individualisme sempit dan membuka dirinya untuk sesama.
Fenomena gaul yang terjadi secara de facto berbeda dari pengertian diatas. Istilah ini lantas dikonotasikan sebagai sebuah model, pola atau gaya hidup yang cenderung mengarah pada budaya kosmopolitan. Budaya kosmopolitan merupakan sebuah bentuk budaya yang dikarakterisasikan oleh mentalitas perkotaan (urban mentality) yakni mentalitas yang memiliki kecenderungan bergaya hidup mewah, matre, konsumtif dan hedonistis. Lebih jauh gaul menarik interese individu akan “produk-produk” yang dihasilkan kemajuan jaman. Segala sesuatu bernuansa baru diminati sementara yang telah lama ada dianggap kolot, usang dan ketinggalan jaman. Fenomena gaul merupakan reaksi terhadap pengaruh perkembangan jaman.
Gaya hidup seperti ini sangat mudah merasuki mental watak, peringai dan perilaku kaum muda. Kaum muda rentan terhadap temperamen gaul, bahkan merekalah aktor perintisnya. Kaum muda adalah pionir yang menghadirkan gaya hidup gaul dalam kancah kultural negeri ini. Mengapa? Hal tersebut dapat dilihat dari faktor-faktor berikut: Pertama, secara psikologis kaum muda masih sangat labil. Kaum muda berciri dinamik, penuh emosi dan sangat meluap-luap. Jiwa muda berada dalam situasi strum und drang yakni situasi ‘topan dan nafsu’. Sigmund Freud sebagai mana dikutip errickson mengomentari bahwa pada masa ini kaum muda sedang mengalami krisis identitas; Situasi krisis dalam mencari identitas dirinya. Mereka tengah bergulat untuk mencapai sebuah identitas diri ideal; yang mampu mendongkrak popularitasnya. Oleh karena itu gaya gaul dianggap sebagai opsi yang tepat. Kedua, orang muda bertumbuh dalam kondisi jurang pembedaan generasi (generation gap) dalam hubungan relasionalnya dengan orang tua. Penilaian dan harapan generasi terdahulu yang diembankan ke atas pundak mereka dirasakan sebagai sebuah hal yang membebankan. Kecenderungan umum di kalangan muda bahwa di balik pandangan ideal orang tua tersebut bercokol tuntutan yang tak kalah kuatnya yaitu rasa kesebayaan. Oleh karena itu kaum muda gemar mencari suaka perlindungan dari teman-teman sebayanya.
2.2 Karakteristik Anak Gaul
Kawula muda yang ketularan sindrom gaul memiliki karakteristik tersendiri. Ada ciri-ciri tertentu yang mengkategorikan seorang muda sebagai anak gaul. Teguh Adrianto dari Harian Umum Kompas, menyebutkan beberapa karakteristik sebagai berikut:
Wawasan luas “Smart”
Identitas seorang anak gaul dicirikan oleh kecakapannya mengetahui banyak informasi. Smart tidak hanya mengandaikan pengetahuan yang diperoleh dari ilmu-ilmu sekolahan. Lebih dari itu, karakter smart menuntut ketrampilan dan pengetahuan luas akan informasi aktual. Penekanan utamanya adalah mengetahui tren-tren terbaru yang sedang laku pasaran, model-model baru, info-teiment dari dunia selebriti dan term-term khusus yang diorbitkan bahasa Slan (bahasa rekayasa kaum muda) yang lantas dipahami sebagai bahasa gaul.
Kelompok sebaya “Peer Group”
Sangat absurd bahwa seorang anak gaul tidak memiliki teman sebaya sebagai partnernya. Ganjil seandainya seorang muda disebut anak gaul padahal kawan-kawannya adalah orang tua dan anak-anak. Mereka dituntut untuk memiliki peer group tertentu sebagai wahana berkreasi sekaligus ajang jalin kontak. Anak gaul biasanya tergabung dalam kelompok-kelompok tertentu yang oleh mereka dinamakan gank-gank.
Selera “Up To Date”
Tendensi utama karakteristik anak gaul terletak pada ciri ini. Anak gaul merupakan kelompok muda yang menyukai segala sesuatu yang berbau aktual. Apapun isinya kemasan jaman penentunya. Anak gaul memiliki kecenderungan menikmati aneka tawaran dan tren terbaru. Kepuasan mereka terletak pada dimensi sensasional. Sensasi-sensasi baru digandrungi sementara situasi “apa adanya” kurang diminati. Singkatnya Anak gaul peduli akan temuan-temuan inovatif tapi tidak berselera pada hal yang biasa-biasa saja.
Performa menawan “Fashion”
Anak gaul sangat berkompoten dari segi penampilan. Mode terbaru didewakan sebagai sarana ekspresi diri yang ideal dan lulus “fit and proper test”. Aksentuasi penampilan diri tampak dalam tren penggunaan berbagai aksesoris entah sebagai perias tubuh maupun sebagai perias setiap perlengkapan (barang) yang digunakan. Muncul rumor di kalangan ini bahwa seandainya tidak berbusana sesuai tren terbaru maka akan mengalami keguncangan perasaan, kurang percaya diri dan minder. Selain doyan pada model-model dan produk-produk terbaru, kaum ini terobsesi juga untuk menunjukan gesture style yang impresif. Tingkah laku dan gerak-gerik dimodifikasikan sedemikian rupa guna menimbulkan pesona menawan. Tingkah ini pula disebut gaul.
2.3 Penyebab Munculnya Trend Gaul
Trend gaul yang merebak di awal abad XXI disinyalir tercipta oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dapat disebutkan sebagai berikut:
Globalisasi
Pengaruh globalisasi dunia tidak terbatas pada bidang ekonomi. Bagaimana pun juga gebyar globalisasi telah merambah ke setiap dimensi kehidupan dan kebudayaan salah satunya. Dunia di tengah konteks globalisasi tak lebih dari sebuah kampung besar atau global village. Setiap orang bebas berkomunikasi tanpa dibatasi kendala berarti. Hal ini memungkinkan terbukanya kesempatan untuk memperluas jangkauan relasi. Gaul tercipta dalam atmosfir ini. Arus globalisasi memungkinkan timbulnya seperangkat budaya kosmopolitan baik elit maupun pop, ilmiah maupun artistik yang dihubungkan dengan pengantar bahasa internasional. Maka tercipta pula tren penggunaan bahasa internasional dalam kehidupan sehari-hari. Tren ini diminati kaum muda. Tren penggunaan istilah –istilah asing menghasilkan kosakata-kosakata baru dalam bahasa anak gaul. Sebagai contoh; funky, punk, trendy, dll.
Kemajuan IPTEK di bidang Telekomunikasi
Factum ad miranda est, sebuah kenyataan yang patut dibanggakan bahwa dunia kini sedang mengalami kemajuan yang teramat pesat. Kemajuan dan kemutakhiran IPTEK mendominasi pangsa peradaban dunia memungkinkan terciptanya situasi kondusif dalam berkomunikasi lintas batas. Jarak bukan lagi kendala berkomunikasi. Di pelosok manapun dan situasi apapun komunikasi dapat tercipta. Pengaruh kemajuan di bidang telekomunikasi memacu minat masyarakat untuk menjalin relasi komunikatif. Fenomena gaul dapat dilihat dari konteks ini. Situasi serba mudah ini membuat anak muda yang menggauli sarana telekomunikasi berpeluang menjajaki dunia ‘gaul’.
Pengaruh media masa
Pesan-pesan yang ditawarkan media masa sangat mempengaruhi mentalitas dan pola hidup masyarakat. Tanpa sikap selektif, tawaran media masa dapat saja mencekik kreativitas kultural asli. Akibatnya muncul gaya-gaya hidup baru. Muncul gejala snobisme masyarakat yang condong mengikuti gaya tertentu tanpa malu-malu. Kaum muda rentan terhadap gejala snobisme ini agar diterima dalam lingkup pergaulan yang luas. Tak segan kaum muda meniru gaya yang sedang ngetren dan yang disajikan media masa demi menghindari cap “KuPer” (kurang pergaulan) dan kampungan. Walaupun konsekuensinya harus mengeluarkan banyak uang.
Aneka krisis yang melanda
Situasi global saat ini tidak saja ditandai oleh krisis cadangan energi tapi krisis dalam keseluruhan tata kehidupan. Suatu krisis ekosferis. Profil krisis tersebut terimplisit dalam sinyalemen krisis nilai, krisis konseptual atau ketidaksepakatan tentang hidup yang baik dan erosi kredibilitas. Kaum muda terjebak dalam situasi penuh krisis ini. Generasi muda tumbuh di saat merosotnya dasar-dasar kepercayaan lama. Suatu gambaran yang meresahkan. Keresahan lainnya muncul karena kecenderungan instingtuil untuk bergaya hidup hedon alias asal nikmat. Konsekuensi lanjutnya mereka terperangkap dalam gaya hidup matre yang mengutamakan materi di atas segala-galanya.
III. Kebudayaan
3.1 Pengertian
Kata kebudayaan memiliki padanan arti dengan kata latin cultura yang selanjutnya diadopsikan menjadi culture dalam bahasa Inggris. Culture hakikatnya mengambil bentuk dari kata latin colere yang berarti ‘mengolah tanah’. Istilah colere kemudian diartikan sebagai segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan mengubah alam. Secara etimologis, kata kebudayaan berasal dari kata sanksekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Kebudayaan bisa berarti hal-hal yang berkaitan dengan akal budi. Budaya sendiri merupakan perkembangan majemuk dari “budi daya” yang berarti daya dari budi.
Konsep di atas terlalu menekankan akal budi sebagai sumber pemerkaya manusia. Dalam perkembangan selanjutnya kebudayaan mendapat arti yang lebih seimbang dimana manusia dilihat dalam keseluruhannya. Cliffort Geertz mendefinisikan kebudayaan sebagai kompleksitas kreatifitas manusia meliputi pengetahuan, kepercayaan, nilai moral, hukum adat istiadat yang diperoleh manusia dalam perkembangannya. Penekanan Geertz disini adalah kebudayaan masyarakat diperoleh dalam perkembangannya. Dengan demikian kebudayaan dapat berubah sesuai perkembangan manusia.
3.2 Wujud-Wujud Kebudayaan
J.J Honingmann dalam bukunya the world of man membedakan tiga wujud kebudayaan yaitu pola pikir (ideas), kegiatan (Activities) dan hasil karya (artifacts).
Pertama, kebudayaan sebagai kompleks ide-ide, gagasan, nilai, norma, peraturan, dsb. Gagasan ini memberikan sumber inspirasi dan pedoman yang diyakini kebenarannya serta berfungsi sebagai jiwa kelompok masyarakat. Kompleksitas gagasan itu saling berkaitan satu dengan yang lain dan menjadi sistem terpola (habit of thinking). Kebudayaan ideal ini mengatur dan mengarahkan kelompok masyarakat dalam memahami masalah hakiki kehidupan manusia. Meski tidak memiliki wujud fisik, ide-ide tersebut mempengaruhi ekspresi manusia.
Kedua, kebudayaan sebagai kompleks aktifitas atau tindakan terpola sekelompok masyarakat (habit of doing). Aktivitas ini membentuk dam mempengaruhi pola tertentu yang kemudian menetap dan mempengaruhi tata perilaku. Wujud sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi dari waktu ke waktu.
Ketiga, kebudayaan sebagai hasil karya fisik manusia dalam sekelompok masyarakat (artifact). Ini merupakan ungkapan pola pemikiran dan perilaku kelompok masyarakat. Artifact merupakan cerminan dari kedua wujud kebudayaan sebelumnya. Melalui artifact orang membaca sejauh mana perkembangan suatu kebudayaan.
Berkenaan dengan konsep gaul, gaul dapat dipahami sebagai suatu bentuk kebudayaan. Fenomena gaul memiliki tiga wujud kebudayaan seperti yang dipaparkan di atas. Gaul merupakan sebuah aktifitas kreatif (habit of doing) yang berasal dari ide-ide (habit of thinking) demi pe-‘mekar’-an relasi. Gaul menciptakan fenomena baru dalam masyarakat yang dapat dipahami sebagai hasil aktivitas kreatif (artifact) tersebut. Gaul memiliki seperangkat “norma” tertentu yang dipaparkan sebagai karakteristik anak gaul.
IV. Momentum Perjumpaan Gaul Dalam Konteks Sosio-Budaya
Jauh sebelum gaul dipraktikan kaum muda, masyarakat telah lama hidup di dalam tradisi-tradisi budaya. Tanpa terkecuali, kaum muda pun hidup dalam sebuah identitas budaya. Namun kebudayaan bersifat dinamis. Dinamika kebudayaan selalu saja terjadi dan menyebabkan perubahan sosial. Dalam situasi perubahan ini, perjumpaan antarbudaya tak dapat dielakkan. Momentum perjumpaan antarbudaya jelas mempengaruhi eksistensi budaya asli. Tidak dapat ditawar-tawar bahwa dalam perjumpaan kebudayaan segera setelah terjadi kebobolan betapa kecilnya pun dalam pertahanan masyarakat yang terancang, yang satu membuyarkan yang lain. Penerimaan gaya hidup baru mengancam keberadaan pola-pola hidup tradisional. Kehadiran sebuah gaya hidup mempengaruhi kelansungan eksistensial kebudayaan yang telah lama diwariskan.
Generasi muda sekarang bukan hanya suatu generasi yang hidup dalam perubahan. Lebih dari itu; sebuah generasi yang berpotensi menciptakan perubahannya dengan sengaja. Gaya hidup gaul yang marak digandrungi generasi muda tidak tercipta di luar dirinya dan dengan sendirinya. Ini merupakan respon terhadap pengaruh yang tengah melanda peradaban. Pengaruh perkembangan di satu sisi dan pengaruh krisis di sisi lainnya. Terhadap kedua pengaruh tersebut generasi muda cenderung menciptakan gerakan-gerakan hippies yang ujung-ujungnya bermuara pada satu tren Gaul.
Efek domino dari pentradisian budaya baru dalam diri generasi muda adalah munculnya berbagai bentuk pola hidup konsumtif, hedonistis materialistis dan snobistis. Manifestasi keempat pola ini terlihat dari peniruan terhadap mode pakaian terbaru, pemakaian aksesoris-aksesoris serba mewah dan mencolok, kegemaran menikmati barang-barang bagus yang serba menggiurkan dan peniruan gaya (lain) tanpa malu-malu. Acap kali peniruan tersebut dilakukan secara berlebihan dan lebih merupakan sebuah ajang pamer diri atau ajang demonstratif dari pada pencerminan ekspresi diri yang sesungguhnya. Orang ikut arus tanpa memahami dan menyadari alasan pantas untuk melakukannya. Mentalitas ini secara tidak lansung mendewakan perubahan sosial dan melecehkan eksistensi kebudayaan asli.
Panorama gaul yang sedang melanda peradaban akhirnya menjumpai kenyataan ini. Gaul menceburkan kaum muda dalam euforia pembudidayaaan budaya kosmopolitan. Sebuah budaya yang mengagung-agungkan kemutakhiran dan modernisasi. Sebuah trend yang berpijak pada penggunaan produk-produk non-lokal. Trend ini menciptakan sebuah alienasi budaya. Orang merasa asing dengan budayanya sendiri. Kaum muda tidak lagi at home dengan kebudayaan yang telah membentuk identitas sosialnya. Bahkan lebih parah lagi tidak mengenal budayanya sendiri. Tren gaul menggiring masuk kaum muda dalam kubangan peng-’acuh’-an nilai-nilai terstruktur masyarakat. Dalam konteks gaul, tidak mengherankan jika anak muda tidak lagi mengenal tradisi atau adat-istiadatnya. Bawaan lama membesar-besarkan nama leluhur dan adat tradisional terkubur gengsi yang meremehkan setiap modul warisan leluhur. Singkatnya Gaul yang bergaung dalam khazanah budaya tradisional berpotensi untuk mengasingkan kaum muda dari tradisi budaya lokalnya.
V. Penutup
Kiprah gaul dalam horison tradisi budaya melahirkan sikap yang tidak diharapkan. Gaul yang mulanya merupakan ajang dan kans jalin kontak malah berakibat fatal dengan menunjukan hasil yang tidak proporsional. Alienasi budaya. Kaum muda terperangkap dalam sebuah pola ‘pengerdilan’ tatanan tradisi budaya yang pernah dimilikinya. Insan-insan muda yang dinobatkan sebagai generasi penerus dikuatirkan tidak dapat meneruskan “amanah luhur” untuk mewariskan budaya turun-temurun. Sebuah pelecehan terhadap citra kebudayaan.
Bercermin pada situasi ini maka sudah sepantasnya tren gaul diposisikan pada porsinya yang benar. Gaul hakikatnya merupakan konsep membangun relasi yang fair tanpa mendiskreditkan tradisi yang telah ada. Bila gaul merupakan sebuah bentuk kebudayaan baru maka sewajarnya dia tidak menggeser posisi tradisi yang telah lama dipegang masyarakat. Di sini terbersit harapan akan suatu kelanggengan setiap elemen kebudayaan dalam masyarakat; termasuk gaul dalam tren kawula muda.
PUSTAKA
Erickson, E. H. Jatidiri, Kebudayaan dan Sejarah. Terj. A. Cremers. Maumere: LPBAJ, 2001.
Geertz, C. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius, 1992.
Hasan, A. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III. Jakarta: Balai Pustaka, 2002.
Haryono, P. Pemahaman Kontekstual Tentang Ilmu Budaya Dasar. Yogyakarta: Kanisius, 1996.
Hirst, P. dan Grahane, T. Globalisasi Adalah Mitos. Jakarta: Obor, 2001.
Mangunwijaya, Y. B. (Ed.) Teknologi Dan Dampak Kebudayaanya. Vol. I. Jakarta: Obor, 1993.
Tangdilintin, P. Pembinaan Generasi Muda Visi Dan Latihan. Jakarta: Obor, 1984.
Taufik, A. (Ed.). Pemuda Dan Perubahan Sosial. Jakarta: LP3S, 1982.
Teguh, A. “Muda”. Dalam: Kompas. Jumat, 9 Januari 2004. Kol 1.










Henry PioKomunitas Nitapleat # Friday, January 18, 2008 1:11:27 PM