NOBEL PERDAMAIAN: WUJUD KEPEDULIAN SEMESTA
Tuesday, January 8, 2008 10:30:22 AM
1. Pendahuluan
Wajah dunia kita masih dihiasi dengan aneka rupa tindak kekerasan, konflik, pertikaian, peperangan dan sekian bentuk persengketaan lainnya. Keadaan genting dan ketidakharmonisan terjadi di mana-mana. Dunia masih sering dijadikan medan tempur bagi dan oleh sekelompok orang. Keragaman, kemajemukan yang seharusnya menjadi peluang dan kekayaan; masih sering dijadikan ancaman, alasan dan bahkan sumber kehancuran hidup bersama. Perdamaian selalu menjadi aset teramat mahal yang tak mudah ditawar dalam kenyataan krisis seperti ini. Perdamaian sering dilihat sebagai langkah taktis kedua dari sebuah pertikaian. Pepatah tua membahasakaannya demikian: si vis pacem, para bellum. Jika engkau ingin berdamai, berperanglah terlebih dahulu.
Gambaran di atas menyadarkan kita bahwa usaha mewujudkan dan menjaga perdamaian `bukan suatu perkara mudah. Langkah ini menuntut banyak pengorbanan. Sungguh tidak mudah bagi seseorang untuk membawa pesan perdamaian (peace messages) di tengah situasi kemelut. Karena itu, apresiasi yang pantas patut dianugerahkan bagi orang-orang seperti ini. Dalam konteks ini, kita diajak untuk mengkritisi seremoni tahunan berskala internasional: penganugerahan nobel perdamaian sebagai salah satu upaya dan bentuk kepedulian semesta untuk memajukan perdamaian. Pembicaaraan kita di sini bukan sekedar untuk memberi apresiasi bagi agen-agen pekerja perdamaian (peace worker) tapi lebih dari itu, menganalisa, mendalami dan mengkritisi seberapa penting nilai penghargaan ini bagi upaya menciptakan perdamaian dan rasa kepedulian terhadap hidup semesta.
2. Mengenal Nobel Perdamaian
2.1. Apa dan Siapa itu Nobel
Umumnya nobel dikenal sebagai sebuah nama untuk penghargaan yang memiliki nilai prestisius luar biasa besar. The Oxford Dictionary of Contemporary World History mendefinisikan hadiah nobel sebagai “bentuk penghargaan paling bergengsi di dunia yang dianugerahkan untuk orang-orang berjiwa dan berjasa besar.” Penghargaan Nobel dianugerahkan setiap tahun kepada mereka yang telah melakukan penelitian luar biasa, menemukan teknik atau peralatan baru atau telah melakukan kontribusi luar biasa ke masyarakat. Nobel saat ini dianggap sebagai penghargaan tertinggi bagi mereka yang mempunyai jasa besar terhadap dunia.
Penghargaan Nobel pertama kali diberikan berdasarkan wasiat Alfred Benhard Nobel. (1833-1896), seorang industrialis Swedia, dan seorang penemu dinamit. Dia menandatangani wasiat tersebut di Swedish-Norwegian Club di Paris pada tanggal 27 November 1895. Pada saat kematiannya, kerajaan Nobel terdiri dari jaringan sekitar 100 pabrik, dan ia merupakan salah satu orang terkaya di dunia. Nobel tidak memiliki keturunan dan tidak menikah. Ia menulis surat warisan untuk menjual pabriknya dan hasilnya disimpan dalam perserikatan dagang. Bunga dari simpanan tersebut akan dibagikan tiap tahun kepada ”mereka yang dalam tahun sebelumnya telah memberikan sumbangan terbesar bagi kemanusiaan.” Hal ini dilakukan karena ia terkejut melihat hasil penemuannya justru dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang merusak. Dia menginginkan agar penghargaan Nobel diberikan kepada mereka yang berjasa besar terhadap kemanusiaan.
Alfred Benhard Nobel dilahirkan pada tanggal 21 Oktober 1833 di Stockholm, Swedia. Ayahnya bernama Immanuel Nobel dan ibunya bernama Andriette Ahlsell Nobel. Ayah Alfred adalah seorang insinyur yang sering mengadakan percobaan dengan bermacam cara untuk meledakan batu. Alfred memiliki dua orang kakak laki-laki, yakni Robert (lahir 1829) dan Ludvig (lahir 1831). Alfred sangat tertarik di bidang bahasa, kimia, dan fisika. Ia pernah bekerja di Paris, pada laboratorium pribadi Profesor TJ Pelouze, kimiawan terkenal. Di sana, ia juga bertemu kimiawan Italia, Ascanio Sobrero yang menemukan nitrogliserin; cairan berdaya ledak tinggi. Dalam percobaannya kemudian, Alfred menemukan bahwa campuran nitrogliserin dengan tanah halus Kieselguhr akan menjadi sebuah material yang memiliki daya ledak luar biasa. Ia menamakan material penemuannya itu: dinamit.
Dinamit temuan Alfred laku dalam industri pembangunan. Karena itu, Alfred bisa membangun pabrik di 90 tempat berbeda. Ia tinggal di Paris tapi sering bepergian ke pabrik-pabriknya di lebih dari 20 negara. Ia pernah digambarkan sebagai “pengembara terkaya Eropa”. Ia bekerja intensif di San Remo (Italia), Hamburg (Jerman), Ardeer (Skotlandia), Paris dan Sevran (Prancis), Karlskoga dan Stockholm (Swedia). Ia juga mencoba membuat karet dan kulit sintetis serta sutra tiruan. Selain itu, pabrik-pabriknya juga menghasilkan gelatin, balistit, batu permata tiruan, dan lain-lain. Sampai kematiannya pada tahun 1896, ia telah mendapatkan 355 hak paten. Pada tanggal 10 Desember 1896, Alfred meninggal di San Remo, Italia. Dalam surat wasiat dan testamen terakhirnya, ia menulis bahwa banyak dari kekayaannya bisa dipakai untuk memberi hadiah kepada mereka yang telah melakukan usaha kemanusiaan di bidang fisika, kimia, sastra, perdamaian, fisiologi dan obat-obatan.
Pada tahun 1901, hadiah pertama Nobel dalam fisika, kimia, sastra, fisiologi dan obat-obatan dibagikan di Stockholm, Swedia. Penghargaan Nobel di bidang literatur, fisika, kimia dan obat-obatan diberikan oleh institusi Swedia, namun kehormatan memberikan penghargaan kelima, penghargaan Nobel Perdamaian dipercayakan kepada komite independen yang ditunjuk oleh Storting (majelis nasional Norwegia). Penghargaan Nobel dianugrahkan setiap tahunnya pada tanggal 10 Desember, yaitu tanggal Alfred Nobel wafat. Biasanya, nama calon penerima diumumkan pada bulan Oktober oleh komite dan institusi yang berwenang sebagai badan seleksi penerima penghargaan.
2.2. Nobel Perdamaian
Penghargaan Nobel Perdamaian diberikan pada orang atau lembaga yang paling giat melaksanakan hubungan yang bersifat internasional, pendiri pergerakan perdamaian atau yang berusaha mengurangi atau melenyapkan peperangan. Tidak seperti Penghargaan Nobel lainnya, penghargaan Nobel Perdamaian dapat diberikan kepada orang atau organisasi yang masih dalam proses penyelesaian masalah. Karena hadiah ini dapat diberikan kepada seseorang yang terlibat dalam proses perdamaian yang masih berlangsung, beberapa dari penghargaan tersebut sekarang ini tampaknya dipertanyakan, terutama ketika proses ini gagal untuk memberikan hasil. Contohnya penghargaan ini diberikan kepada Theodore Roosevelt yang lumayan kontroversial dan dikritik. Komite Nobel juga menerima kritikan dari grup sayap-kanan yang melihat keputusan mereka berdasarkan bias dari sayap-kiri. Mereka terutama menyalahkan penghargaan ini diberikan kepada Yasser Arafat, yang mereka pandang sebagai pendukung terorisme.
Ada beberapa alasan mengapa Nobel memilih Norwegia sebagai tempat penganugerahan Nobel Perdamaian dan bukannya Swedia. Ketika Nobel menulis surat warisannya, Swedia dan Norwegia saat itu masih bergabung dalam perserikatan (personal union). Pada saat itu, parlemen Swedia bertanggungjawab penuh untuk kebijakan luar negeri dan juga untuk kebijakan domestik Norwegia. Alfred Nobel memutuskan bahwa penghargaan Perdamaian diberikan oleh Norwegia dan bukan Swedia untuk mencegah manipulasi proses pemilihan oleh kekuatan asing. Selain itu pada saat itu, Storting (majelis nasional Norwegia) telah menunjukkan dukungan terhadap ide-ide perdamaian seperti pelucutan senjata dan arbitrasi untuk mencegah konflik meningkat menjadi permusuhan besar. Storting-Norwegia menurutnya merupakan lembaga independen yang cukup netral untuk menentukan siapakah orang yang pantas menerima penghargaan ini.
3. Perdamaian dan Kepedulian Semesta
Argumentasi yang hendak dibangun pada bagian ini adalah bahwa studi tentang perdamaian dan kepedulian semesta tidak terlepas dari pembahasan tentang konflik (kekerasan) dan usaha perdamaian (non-violence). Gagasan ini beranjak dan berfokus pada masyarakat; karena konflik dan upaya perdamaian adalah produk dari interaksi sosial yang didesaki oleh bermacam-macam kepentingan dan ditandai oleh relasi kekuasaan yang tidak berimbang. Masyarakat memainkan peran paling signifikan dalam setiap tindak kekerasan dan juga dalam upaya menyelesaikan kekerasan. Masyarakat adalah aktor yang memulai, menentukan dan menyelesaikan sebuah tindakan kekerasan. Dengan ini mau dikatakan bahwa; kekerasan, kepedulian semesta dan perdamaian hanya terjadi jika manusia berinteraksi. Jika ada masyarakat.
Dalam studi perdamaian, perdamaian dipahami dalam dua pengertian. Pertama, perdamaian adalah kondisi tidak adanya atau berkurangnya segala jenis kekerasan. Definisi ini berorientasi kekerasan; perdamaian adalah negasinya. Perdamaian ada sebagai lawan dari kekerasan. Dalam hal ini, untuk mengetahui tentang perdamaian kita harus mengetahui tentang kekerasan. Kedua, perdamaian adalah transformasi konflik kreatif non-kekerasan. Definisi ini berorientasi konflik; perdamaian adalah konteks bagi konflik-konflik untuk disingkap secara kreatif dan tanpa kekerasan. Untuk mengetahui perdamaian, kita harus mengenal konflik dan bagaimana konflik itu mengalami transformasi. Jalan yang ditempuh dalam hal ini adalah jalan tanpa kekerasan yang dilaksanakan secara kreatif. Dari dua definisi di atas dapat ditarik pengertian bahwa perdamaian adalah apa yang kita miliki ketika transformasi konflik yang kreatif berlangsung secara tanpa kekerasan. Perdamaian selain merupakan sebuah keadaan, juga merupakan suatu proses kreatif tanpa kekerasan yang dialami dalam transformasi (fase perkembangan) suatu konflik.
Umumnya pemahaman tentang kekerasan hanya merujuk pada tindakan yang dilakukan secara fisik dan mempunyai akibat secara langsung. Batasan seperti ini terlalu minimalistis karena rujukannya berfokus pada peniadaan atau perusakan fisik semata. Dewasa ini apa yang menjadi penjelasan bagi pemahaman kita tentang kekerasan adalah hak-hak asasi dan martabat pribadi manusia. Perjuangan atas hak hidup sebagai hak yang paling asasi dipandang sebagai reaksi atau protes atas pengalaman penderitaan manusia . Pengalaman penderitaan itu di banyak tempat pada umumnya diakibatkan oleh kemiskinan, penindasan yang disertai kekerasan dan perlakuan dari struktur yang tidak adil. Di pihak lain, kekerasan sering juga digunakan untuk melindungi atau mengembangkan interese dan nilai-nilai dari kelompok yang kuat.
Bentuk-bentuk kekerasan seperti di atas sering menelorkan banyak korban entah dalam bentuk material mau pun rohaniah. Perang contohnya, selalu membawa petaka kehancuran dan kerugian besar bagi dunia. Hal ini terbukti dalam sejarah dunia, bahwa peperangan di mana-mana berdampak negatif bagi kemanusiaan. Kita melihat bahwa korban akan semakin bertumpuk mana kala setiap persoalan dihadapi dengan tindak kekerasan. Seperti kata uskup Dom Helder Camara, “violence beget violence” - kekerasan yang disusul dengan kekerasan akan semakin meningkatkan jumlah korban. Ini adalah spiral kekerasan yang sekian sering menyeret dunia pada situasi krisis yang tak mudah berakhir. Spiral seperti ini menurutnya hanya dapat diputuskan melalui aksi melawan kekerasan tanpa kekerasan. Jalan tanpa kekerasan inilah yang pada akhirnya melahirkan kedamaian. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa dalam jalan tanpa kekerasan ini terbersit dan terkandung nilai-nilai perdamaian. Jika dalam transformasi kekerasan, kekerasan pertama tidak terus meningkat menjadi kekerasan berikut tetapi diminimalisir oleh upaya tanpa kekerasan di sana ada perdamaian.
Kendati pun demikian, pengertian perdamaian tidak berhenti di situ. Perdamaian bukan sekedar soal ketiadaan kekerasan atau pun situasi yang anti kekerasan. Lebih jauh dari itu perdamaian seharusnya mengandung pengertian keadilan dan kemajuan. Perdamaian dunia tidak akan dicapai bila tingkat penyebaran penyakit, ketidakadilan, kemiskinan dan keadaan putus harapan tidak diminimalisir. Perdamaian bukan soal penggunaan metode kreatif non-kekerasan terhadap setiap bentuk kekerasan, tapi semestinya dapat menciptakan sebuah situasi yang seimbang dan harmoni; yang tidak berat sebelah bagi pihak yang kuat tetapi sama-sama sederajat dan seimbang bagi semua pihak. Karena itu peran seorang peace worker bukan saja untuk menghadapi kekerasan dengan aksi tanpa kekerasan, (karena bisa saja ia menjadi orang bungkam) tetapi bahwa dalam menghadapi suatu kekerasan, konflik, peperangan dan sekian bentuk persengketaan, ia tampil melalui pendekatan non-represif yang konsisten terarah pada penegakan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan dan kemanusiaan.
Dalam perjalanan waktu, pendekatan kekerasan melalui jalan tanpa kekerasan dengan orientasi pada nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan telah dipraktekkan oleh beberapa tokoh. Selain Mahatma Ghandi dengan jalan ahimsa-nya, di sini juga diperkenalkan beberapa tokoh yang pernah menempuh metode serupa. Cornel West menggunakan istilah prophetic criticsm untuk menamakan pendekatan yang dipakainya dalam memperjuangkan hak-hak dasar komunitas kulit hitam di Amerika. Kendati secara konstitusional jaminan perlindungan hak-hak itu ada, tetapi menurut West, bangsa kulit hitam di Amerika masih mengalami berbagai bentuk diskriminasi rasial di dalam kehidupan nyata di masyarakat. Perjuangan serupa pernah ditempuh oleh Martin Luther King, Jr. Sebagaimana Cornel West, Uskup Belo mengunakan pendekatan yang mirip dengan kritik profetik dalam konteks Indonesia. Ia menyuarakan kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaaan dalam pembelaan terhadap nasib rakyat Timor-Timur dengan bertitiktolak pada ajaran moral universal yang dikembangkan oleh Gereja Katolik yang dikaitkannya dengan deklarasi Universal HAM. Tema sentral yang merupakan kepeduliaan utama uskup Belo adalah perlindungan hak-hak dasar rakyat Timor-Timur, khususnya hak-hak kultural, etnis dan agama yang dianggapnya sebagai akar persoalan yang perlu diperhatikan oleh pihak manapun yang ingin adanya kedamaian di Timor-Timur. Dengan demikian Uskup Belo telah menjalani amanat profetik Gereja yakni menjadi suara hati masyarakat untuk menyuarakan apa yang tak dapat disuarakan. Hal ini tentu sejalan juga dengan apa yang telah diamanatkan oleh semangat misi Gereja untuk membebaskan manusia dari semua yang menindas dan yang membuat manusia kurang human (bdk. Luk 7:22-23) dan berusaha untuk menciptakan manusia baru dan masyarakat baru (bdk. Gal 16:15 atau 2Kor 5:17).
4. Perdamaian dan Kepedulian Semesta: Catatan Kritis Terhadap Pemberian Nobel Perdamaian
Dewasa ini orang sangat mendambakan situasi damai. Orang tiba-tiba menyadari betapa berharganya damai itu. Hal ini dapat dimengerti, karena kebanyakan orang semakin menyadari efek dan dampak buruk yang dihasilkan oleh situasi chaos. Lawan kata damai adalah kekerasan dan konflik. Mengupayakan perdamaian berarti mengelola konflik yang ada, meminimalisir kekerasan yang ada demi suatu pencapaian keadilan dan kesejahteraan. Kenyataan kekerasan mendorong lahirnya perjuangan keadilan dan perdamaian. Upaya mengelola konflik dan menciptakan perdamaian merupakan komitmen baru yang “high profile” saat ini. Upaya ini tampak nyata dalam perjuangan menghadapi kekerasan tanpa kekerasan.
Dalam konteks ini upaya perdamaian selalu dikaitkan dengan kenyataan adanya konflik. Mengapa? Karena Pertama, konflik itu memang ada dan akan selalu ada dalam interaksi sosial entah kita menyukainya atau tidak. Kedua, konflik sebenarnya merupakan suatu jalan menuju transformasi sosial. Karenanya, dapat dikatakan bahwa sesungguhnya konflik itu dibutuhkan. Hanya perlu segera ditambahkan bahwa apa yang kita maksudkan di sini adalah konflik yang dikelola atau dipecahkan dengan cara-cara yang beradab bukannya dengan cara-cara brutal yang menegasi hidup dan hak-hak asasi serta martabat pribadi manusia. Karena itu sangat disayangkan bila setiap kali muncul konflik, masing-masing pihak lalu menanggapinya dengan tindak kekerasan. Dengan ini mau ditegaskan bahwa kekerasan bukanlah solusi yang layak dipakai menyikapi setiap persoalan dan konflik. Malah sebaliknya kekerasan merupakan hal yang semestinya dihindari.
Namun kenyataannya, di mana-mana kita masih menemui situasi yang sama. Orang cenderung bertingkah agresif menanggapi konflik yang ada. Aneka bentuk kekerasan mencuat mana kala konflik mengekskalasi. Perdamaian menjadi alternatif berikut setelah tingkat dan jumlah korban meningkat. Jika konflik adalah produk dari interaksi sosial yang disesaki dengan bermacam-macam kepentingan dan ditandai dengan relasi kekuasaan yang tidak berimbang , maka kekerasan dapat dilihat sebagai benturan dari berbagai kepentingan dengan tingkat agresifitas yang tinggi. Terhadap situasi ini perdamaian merupakan saran yang revolusioner. Bukan hanya memerlukan satu kultur perdamaian, namun juga adanya satu struktur perdamaian. Kedua karakteristik sistem perdamaian ini, membentuk para aktornya secara tanpa kekerasan secara kreatif, dan begitu pula sebaliknya.
Dalam konteks ini kita ingin memaknai arti penting penganugerahan Nobel perdamaian bagi tokoh-tokoh atau lembaga-lembaga yang terlibat secara aktif dalam upaya menciptakan perdamaian semesta. Perlu ditandaskan di sini bahwa mereka adalah aktor-aktor yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kehidupan semesta dan harmoni global. Hanya orang-orang yang memiliki kepedulian semesta (baca: keprihatinan terhadap kemanusian dan lingkungan hidup semesta) yang rela berjuang keras untuk menciptakan perdamaian di tengah situasi yang tidak kondusif. Dengan kata lain, berangkat dari keprihatinan yang mendalam terhadap hidup semesta dan kemanusiaan, para penerima nobel perdamaian (baca: peace worker) berani menyerukan pesan-pesan perdamaian walau pun perjuangan ke arah itu menuntut pengorbanan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang berani.
Kiranya tidak terlalu tepat pula bila kita mengatakan bahwa hadiah nobel merupakan ganjaran yang setimpal dengan upaya pejuang-pejuang kemanusiaan itu. Nobel perdamaian bukanlah “gaji” bagi kerja keras setiap orang yang mengupayakan perdamaian. Memang benar bahwa posisi Penghargaan Perdamaian dapat dijelaskan oleh beberapa faktor termasuk penghargaan tersebut dapat memberikan keuntungan finansial yang cukup besar dengan nilai bergengsi di dunia internasional. Namun penghargaan ini bukanlah reward atas setiap kerja keras pejuang kemanusiaan. Hal ini patut ditegaskan di sini agar jangan timbul kecurigaan bahwa hadiah nobel merupakan pamrih yang dikejar oleh penerimanya. Nobel perdamaian pada prinsipnya merupakan simbol kekuatan dan dukungan dunia terhadap upaya yang ditempuh seseorang atau suatu badan untuk mewujudkan perdamaian. Dengan menerima nobel perdamaian, nilai perjuangan seseorang semakin tinggi, begitu pula dengan kredibilitas masyarakat internasional atasnya. Hal ini kelihatannya memberi peluang dan pengakuan yang penuh bagi sang penerima nobel untuk menggapai cita-citanya; mencapai perdamaian.
Kendati pun demikian masih sering terjadi perdebatan dalam soal pemilihan figur yang pantas menerima penghargaan tersebut. Benar bahwa lembaga Storting Norwegia adalah lembaga independen yang dikenal cukup netral. Namun muncul tanggapan bahwa sering keputusan Komite Nobel Norwegia yang nota bene mencerminkan nilai-nilai barat yang liberal tidak selalu diterima secara universal. Ada yang menilai bahwa dalam beberapa kali proses pemilihan dan tokoh terpilih dari hasil pemilihan tersebut merupakan hasil permainan politis di belakang layar. Kita contohkan di sini adalah penganugerahan Nobel perdamaian kepada uskup Belo yang dinilai tak fair oleh sekelompok orang Indonesia.
Tapi hal ini dibantah oleh komite nobel karena menurut mereka, mereka telah menjaga pendekatan fleksibel terhadap konsep perdamaian dan menggunakan interpretasi luas tentang perkataan Alfred Nobel. Dalam beberapa dekade terakhir, Komite telah berfokus untuk memastikan bahwa Penghargaan Perdamaian sungguh global. Bahkan komite juga telah berusaha mempertemukan pihak yang terlibat konflik, sebagai contoh di Timur Tengah dan di Irlandia Utara, dalam upaya memajukan proses perdamaian.
5. Penutup
Perdamaian adalah suatu saran revolusioner menghadapi kenyataan pertikaian yang terjadi. Perdamaian adalah solusi ampuh untuk mengakhiri suatu persengkataan. Perdamaian adalah dambaan setiap orang, apa lagi pada saat krisis makin mencekam. Akhirnya kita sependapat bahwa perdamaian dapat ditempuh dengan aksi-aksi melawan kekerasan tanpa kekerasan. Walau pun perlu ditegaskan lagi bahwa aksi kekerasan tanpa kekerasan itu sendiri bukanlah suatu situasi damai. Perdamaian mencakup juga nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan bersama yang diupayakan berdasarkan kepedulian terhadap harmoni semesta.
Dalam konteks ini, kita sepatutnya mengapresiasi perjuangan para pejuang kemanusiaan yang dengan kegigihannya mengupayakan perdamaian di tengah situasi kemelut. Bukan saja karena perjuangan mereka telah menghasilkan prestise, nama besar dan ganjaran finansial yang besar oleh penganugerahan nobel perdamaian, tetapi karena perjuangan mencapai perdamaian juga merupakan opsi kita di setiap situasi krisis. Kita semestinya bercermin bahwa perjuangan terhadap nilai-nilai kemanusian, keadilan dan perdamaian kendati pun menuntut banyak pengorbanan tapi juga menjadi perhatian dan opsi setiap manusia yang beradab. Berjuanglah demi perdamaian dan yakinlah bahwa semesta ini ada di belakang untuk mendukungmu!
DAFTAR PENERIMA PENGHARGAAN NOBEL PERDAMAIAN
Di bawah ini adalah para penerima hadiah Nobel perdamaian sejak 1901. Mereka adalah:
• 1901 - Jean Henri Dunant (Swiss) dan Frédéric Passy (Perancis)
• 1902 - Élie Ducommun dan Charles Albert Gobat (Swiss)
• 1903 - Sir William Randal Cremer (Inggris)
• 1904 - Institut de droit international (Belgia).
• 1905 - Bertha Sophie Felicitas Baronin von Suttner (Austria-Hongaria)
• 1906 - Theodore Roosevelt (Amerika Serikat)
• 1907 - Ernesto Teodoro Moneta (Italia) dan Louis Renault (Perancis)
• 1908 - Klas Pontus Arnoldson (Swedia)
• Fredrik Bajer (Denmark)
• 1909 - Auguste-Marie-Francois Beernaert (Belgia) dan Paul-Henri-Benjamin d'Estournelles de Constant (Prancis)
• 1910 - Biro Perdamaian Abadi Internasional (Swiss)
• 1911 - Tobias Michael Carel Asser (Belanda) dan Alfred Hermann Fried (Austria-Hongaria)
• 1912 - Elihu Root (Amerika Serikat)
• 1913 - Henri-Marie la Fontaine (Belgia)
• 1917 - Palang Merah Internasional (Swiss)
• 1919 - Thomas Woodrow Wilson (Amerika Serikat)
• 1920 - Léon Victor Auguste Bourgeois (Perancis)
• 1921 - Karl Hjalmar Branting (Swedia) dan Christian Lous Lange (Norwegia)
• 1922 - Fridtjof Wedel-Jarlsberg Nansen (Norwegia)
• 1925 - Austen Chamberlain (Inggris) dan Charles Gates Dawes (Amerika Serikat)
• 1926 - Aristide Briand (Prancis) dan Gustav Stresemann (Jerman)
• 1927 - Ferdinand Buisson (Prancis) dan Ludwig Quidde (Jerman)
• 1929 - Frank Billings Kellogg (Amerika Serikat)
• 1930 - Lars Olof Nathan Söderblom (Swedia)
• 1931 - Jane Addams (Amerika Serikat)
• 1932 - Nicholas Murray Butler (Amerika Serikat)
• 1933 - Norman Angell (Ralph Lane) (Inggris)
• 1934 - Arthur Henderson (Inggris)
• 1935 - Carl von Ossietzky (Jerman)
• 1936 - Carlos Saavedra Lamas (Argentina)
• 1937 - Robert Cecil (Inggris)
• 1938 - Kantor Internasional Nansen untuk Pengungsi, (Swiss)
• 1944 - Komisi Internasional Palang Merah (Swiss)
• 1945 - Cordell Hull (Amerika Serikat)
• 1946 - Emily Greene Balch (Amerika Serikat) dan John Raleigh Mott (AS)
• 1947 - Dewan Pelayanan Persahabatan (Inggris) dan Komite Pelayanan Persahabatan Amerika (Amerika Serikat)
• 1949 - John Boyd Orr (Inggris)
• 1950 - Ralph Bunche (Amerika Serikat)
• 1951 - Léon Jouhaux (Perancis)
• 1952 - Albert Schweitzer (Perancis)
• 1953 - George Catlett Marshall (Amerika Serikat)
• 1954 - UNHCR (Swiss)
• 1957 - Lester Bowles Pearson (Kanada)
• 1958 - Georges Pire (Belgia)
• 1959 - Philip John Noel-Baker (Inggris)
• 1960 - Albert John Lutuli (Afrika Selatan)
• 1961 - Dag Hjalmar Agne Carl Hammarskjöld (Swedia)
• 1962 - Linus Carl Pauling (Amerika Serikat)
• 1963 - Komisi Internasional Palang Merah (Swiss) dan Liga Perkumpulan Palang Merah (Swiss)
• 1964 - Martin Luther King Jr (Amerika Serikat)
• 1965 - UNICEF (Swiss)
• 1968 - René Cassin (Perancis)
• 1969 - ILO (Swiss)
• 1970 - Norman Ernest Borlaug (Amerika Serikat)
• 1971 - Willy Brandt (Jerman Barat)
• 1973 - Henry Alfred Kissinger (Amerika Serikat) dan Lê Ðức Thọ (Vietnam, menolak)
• 1974 - Seán MacBride (Irlandia) dan Eisaku Sato (佐藤榮作) (Jepang)
• 1975 - Andrei Dmitrievich Sakharov (Uni Soviet)
• 1976 - Betty Williams dan Mairead Corrigan (Irlandia Utara)
• 1977 - Amnesti Internasional, London
• 1978 - Mohamed Anwar al-Sadat (Mesir) dan Menachem Begin (Israel)
• 1979 - Bunda Teresa (Albania)
• 1980 - Adolfo Maria Pérez Esquivel (Argentina)
• 1981 - UNHCR (Swiss)
• 1982 - Alva Myrdal (Swedia) dan Alfonso García Robles (Meksiko)
• 1983 - Lech Walesa (Polandia)
• 1984 - Desmond Mpilo Tutu (Afrika Selatan)
• 1985 - IPPNW (Swiss)
• 1986 - Elie Wiesel (Amerika Serikat)
• 1987 - Óscar Rafael de Jesús Arias Sánchez (Kosta Rika)
• 1988 - Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB (Amerika Serikat)
• 1989 - Dalai Lama XIV (Tibet)
• 1990 - Mikhail Sergeyevich Gorbachev (Uni Soviet)
• 1991 - Aung San Suu Kyi (Myanmar)
• 1992 - Rigoberta Menchú Tum (Guatemala)
• 1993 - Nelson Mandela (Afrika Selatan) dan Frederik Willem de Klerk (Afrika selatan)
• 1994 - Yasser Arafat (Palestina), Shimon Peres (Israel) dan Yitzhak Rabin (Israel)
• 1995 - Józef Rotblat (Polandia/Inggris) dan Konferensi Pugwash pada Urusan Ilmu Pengetahuan dan Dunia (Amerika Serikat)
• 1996 - Carlos Filipe Ximenes Belo (Indonesia yang telah memisahkan diri menjadi negara Timor Timur) dan Xanana Gusmao, diterima oleh José Manuel Ramos Horta (Timor Timur)
• 1997 - ICBL dan Jody Williams (Amerika Serikat)
• 1998 - John Hume dan David Trimble (Amerika Serikat)
• 1999 - Médecins Sans Frontières, (Amerika Serikat)
• 2000 - Kim Dae Jung (金大中) (Korea Selatan)
• 2001 - PBB dan Kofi Atta Annan (Ghana)
• 2002 - Jimmy Carter (Amerika Serikat)
• 2003 - Shirin Ebadi (شیرین :عبادی), (Iran)
• 2004 - Wangari Muta Maathai (Kenya)
• 2005 - Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dan Mohamed ElBaradei (Mesir)
• 2006 - Muhammad Yunus (Bangladesh) dan Grameen Bank (Bangladesh)
D A F T A R P U S T A K A
Ali Alatas, A Voice For A Just Peace (Jakarta: Gramedia), 2001.
Christian Feldmann, Pejuang Keadilan dan Perdamaian, (Jakarta: Kanisius dan BPK Gunung Mulia), 1990.
Emanuel J. Embu dan Amatus Woi (eds) Berpastoral di Tapal Batas, Pertemuan Pastoral VI Konfrensi Waligereja Nusa Tenggara, (Maumere: Penerbit Ledalero), 2004.
Frans Ceunfin dan F. Baghi (eds), Mengabdi Kebenaran (Maumere: Penerbit Ledalero), 2005
Frans Sihol Siagan & Peter Tukan (penyunting), Voice of the Voiceless, Suara Kaum Tak Bersuara, (Jakarta: Penerbit Obor), 1997.
Johan Galtung (terj.), Studi Perdamaian: Perdamaian Dan Konflik, Pembangunan Dan Peradaban (Surabaya: Pustaka Eureka), 2003
Guido Tisera, Mengolah Konflik Mengupayakan Perdamaian, (Maumere: LPBAJ), 2002.
Peter Salim, Drs., M.A., (ed.),The Oxford Dictionary of Contemporary World History (terj.) Sixth edition
Nicholas Halasz, Nobel-A Biography (London: Robert Hale ltd), 1960.
Seri Buku VOX no. 49/1/2004, Terorisme dan Peradaban, (Maumere: Seminari Tinggi Ledalero), 2004.
Mingguan HIDUP, no. 33 Thn. LI, 17 Agustus 1997
http://id.wikipedia.org/wiki/Penghargaan_Perdamaian_Nobel/01
http://id.wikipedia.org/wiki/6543-0/sat._nobel/Penghargaan_Perdamaian_Nobel









